Chapter 6
Mimpi Aneh Juga
Nggak Perlu Dipikirin, Bro!
"Lagi...
mimpi ini lagi, ya?"
Mungkin terdengar
berlebihan jika menyebutnya sudah lama, tapi aku kembali memimpikan apa yang
pernah kulihat sebelumnya.
"Kekeke!
Tubuh wanita memang yang terbaik! Biasanya orang sepertiku tidak akan pernah
dilirik, tapi bisa melakukan apa pun yang kusuka begini benar-benar membuatku
bahagia!"
Seorang
pria tampak menindih wanita yang sedang terbaring. Meski jaraknya agak jauh,
adegan itu membuatku mudah membayangkan apa yang sedang mereka lakukan.
"...Sial,
kenapa aku harus diperlihatkan mimpi seperti ini?"
Kalau menonton
konten hipnotis di manga atau anime sih lain cerita, tapi seperti sebelumnya,
meski ini hanya mimpi, aku tidak sudi melihatnya dengan visual serealistis
ini... Tapi ya sudahlah, ini kan cuma mimpi.
Kalau tidak ada
cara untuk memaksa diriku bangun, mau bagaimana lagi.
"Haa..."
Di dalam ruangan
gelap yang mengerikan itu, aku menatap perbuatan mereka seolah sudah pasrah.
Namun saat itulah, benang-benang hitam muncul kembali seperti waktu itu.
Benang hitam itu
merembes keluar dari tubuh si wanita dan mulai menelan si pria... Namun kali
ini, si pria menunjukkan perlawanan yang panik.
"A-apa ini... Hentikan! Lepaskan aku!!"
Pria yang panik
itu mencoba menjauh dari si wanita, namun dia tidak bisa lepas. Di tengah
perlawanannya yang terasa sia-sia itu, sesuatu yang tak terduga terjadi—mata
kami bertemu.
"To-tolong
aku!"
"Eh..."
Aku tidak
menyangka keberadaanku akan disadari. Sudah kukatakan berulang kali kalau ini
adalah mimpi... Aku tahu itu, tapi keputusasaan dalam suara yang memanggilku
itu terlalu nyata hingga aku tidak bisa memalingkan muka.
"Kumohon!
Kau pun sama denganku, kan!? Kita ini rekan yang menggunakan aplikasi hipnotis
untuk mempermainkan wanita sesuka hati! Kumohon, bantu aku!"
"A-aku..."
Aku tidak bisa
menggapai tangan yang terulur itu... Bahkan, aku sama sekali tidak berniat
mengulurkan tanganku. Pria yang kian terjerat benang hitam itu menatapku dengan
tajam... lalu dia lenyap.
Di samping tempat
pria itu menghilang, wanita yang sebelumnya ditindih mulai bergerak.
"Menghipnotis
wanita lalu memerkosanya dengan paksa... Kalian semua adalah sampah."
"Tidak, aku
belum sampai ke tahap itu, lho..."
Mendengar
ucapanku, sorot mata wanita itu menajam. Dia mengulurkan tangannya ke arahku...
dari ujung jarinya, benang hitam menjalar dan melilit tubuhku seperti pria
tadi.
"Sial...
apa-apaan ini!"
Ah, ini
benar-benar mimpi terburuk, keparat! Meski tahu ini mimpi, sensasi lilitan
benang dan kebencian wanita itu yang seolah meresap ke dalam tubuhku...
semuanya terasa menjijikkan hingga aku hanya bisa berdoa agar segera terbangun.
"Terimalah
kutukan sampai mati, sama seperti pria itu!"
Tepat saat aku
berpikir sudah berakhir karena suara teriakan wanita itu—tiba-tiba, benang
hitam yang melilitku tercerai-berai. Oleh benang merah muda itu.
"Ini..."
Berbeda dengan
benang hitam yang menyeramkan, ini adalah benang merah muda yang sempat kupikir
terlihat mesum. Tentu saja dalam situasi begini aku tidak bisa berpikir mesum,
tapi secara insting, rasa lega muncul karena aku merasa telah diselamatkan.
"Masaki-kun."
"Kamu tidak
apa-apa?"
"Apa Senior
baik-baik saja?"
Bersamaan dengan
benang merah muda itu, sosok Aisaka, Aguma... dan juga Honma muncul di depannya
seolah melindungiku.
Wanita yang
mengendalikan benang hitam itu tampak gentar dan mundur selangkah, namun benang
merah muda segera melilit wanita itu dan merampas kebebasannya.
"Kalian
bertiga... kenapa?"
Mimpi ini...
sebenarnya apa yang terjadi sih. Di tengah gumamanku yang terpana, mereka
bertiga tersenyum, dan saat itulah aku akhirnya terbangun.
◆◇◆
"...Haa."
Helaan napas
keluar sebagai tanda bahwa ini bukanlah bangun pagi yang menyenangkan.
Sama seperti
sebelumnya, aku mengingat hampir seluruh isi mimpi itu.
Mulai dari pria
yang terjerat benang hitam... sampai saat aku terpojok oleh si wanita dan
diselamatkan oleh Aisaka serta yang lainnya... aku ingat semuanya.
"Benang
hitam dan benang merah muda... ya."
Benang
hitam yang terasa mengerikan, dan benang merah muda yang memberikan rasa aman.
Sambil memikirkan kedua jenis benang itu, tanpa sadar aku mengambil ponsel,
menyalakan Partner, dan membuka layar diagram hubungan.
"...Eh?"
Saat melihat
layar itu, mataku membelalak. Sebab, berbeda dari sebelumnya, terjadi perubahan
dengan bentuk yang sangat mudah dipahami.
"Kenapa...
nama Aisaka dan yang lainnya...?"
Benar... awalnya
di sini hanya ada namaku saja. Namun sekarang, nama-nama seperti Aisaka
Matsuri, Aguma Saika, dan Honma Emu—gadis-gadis yang tidak hanya akrab denganku
belakangan ini, tapi juga kupermainkan dengan kekuatan Partner—muncul
dengan jelas.
"...Tunggu,
mungkinkah ini..."
Bisa saja ini
cuma kebetulan atau aku terlalu banyak pikiran... tapi dari apa yang kupahami
di mimpi itu, benang hitam yang mengincarku ini adalah pihak yang menerima
pengaruh buruk dari Partner... Di mimpi tadi wujudnya wanita, tapi dalam
kasusku, bukankah ini berasal dari orang-orang yang kuhukum dalam proses
menolong Aisaka dan yang lainnya?
"Partner...
Mungkinkah emosi negatif terhadap pengguna aplikasi hipnotis itu berwarna
hitam, dan emosi positif berwarna merah muda...?"
Jika dipikir
seperti itu, semuanya terasa masuk akal... Persamaan antara wanita di dalam
mimpi dengan orang-orang yang kupaksa mengakui dosa mereka adalah, meski
ingatan mereka tidak ada, tidak aneh jika mereka menyimpan kebencian di alam
bawah sadar.
"...Begitu
ya."
Sudah kubilang
berulang kali, aku tidak tahu apakah jawaban ini benar. Meski begitu,
sensasinya terasa sangat pas... rasanya tidak apa-apa jika aku mempercayai
intuisi ini untuk sekarang.
"Tapi soal
mimpi tadi... apa benar-benar ada orang lain yang punya aplikasi hipnotis
selain aku?"
Apakah pria itu
gagal... lalu menerima hukuman? Jika aku bertindak tanpa pikir panjang...
mengabaikan perasaan lawan bicara dan menginjak-injak hati mereka, apa aku juga
akan mengalami nasib yang sama...?
Meski rasanya
menusuk telinga, aku sudah tidak bisa berhenti... Lagipula, apa menyenangkan
mempermainkan wanita yang matanya sudah mati karena sangat membenciku seperti
itu?
"...Aku juga sudah berubah, ya."
Padahal dulu aku begitu bersemangat ingin mempermainkan
siapa pun sesuka hati, bahkan beberapa hari lalu aku masih bersikap arogan...
tapi rasanya mustahil bagiku untuk menyerang mereka seperti pria tadi.
"Yah, meski begitu, aku tidak akan berhenti mendapatkan
asupan ketenangan dari payudara mereka, sih!"
Apa kau bilang ini perbuatan terburuk? Habisnya... Aisaka,
Aguma, bahkan Honma tidak keberatan... malah mereka dengan senang hati
membiarkanku menyentuhnya? Jadi aku tinggal menerima tawaran mereka dan
menikmatinya, kan?
"Ngomong-ngomong, rasanya ada yang kulupakan... apa
ya?"
Alasanku bisa
santai tenggelam dalam lautan pikiran setelah bangun tidur adalah karena hari
ini hari libur. Karena hari Sabtu, aku tidak punya rencana apa pun... hmm?
Sabtu...?
"...Ah!?"
Seketika, aliran
listrik menyambar otakku dan aku teringat segalanya.
"Hari ini
jadwal Aisaka dan Aguma datang ke rumah...!!"
Ini bukan
waktunya memikirkan soal mimpi! Waktu kedatangan mereka yang sudah dijanjikan
tinggal sebentar lagi... Ah, ini semua gara-gara mimpi itu!
"Lho,
selamat pagi, Kai—"
"Aku
kesiangan, kesiangan! Aku sedang buru-buru!!"
"...Kau
pasti lupa, kan?"
Aku berpapasan
dengan Kakak saat keluar kamar, tapi kuabaikan saja!
Dari situ aku
fokus bergerak cepat untuk merapikan diri... karena akan menyambut gadis-gadis,
mencuci muka dan sikat gigi tentu tidak boleh dilewatkan. Meski terus diomeli
Kakak karena tidak bangun lebih awal, akhirnya aku berhasil menyiapkan diri
dengan sempurna.
"Fuu."
"Pasang
tampang sok puas segala."
Berisik
ah. Ngomong-ngomong, meski tidak mengakuinya, sepertinya Kakak juga menantikan
hari ini. Katanya waktu yang dia habiskan bersama Aisaka sebelumnya sangat
menyenangkan, apalagi dia juga ingin mengobrol dengan Aguma yang belum pernah
dia temui. Mungkin dia malah lebih antusias dariku?
"Tak
kusangka aku bakal menantikan bertemu teman perempuan adikku sendiri... Ini sih
rasanya kayak ikut deg-degan nunggu pacar adiknya datang."
"Mereka
bukan pacarku, lho."
"Iya, aku
tahu kok. Aku baru kenal Aisaka-chan sih, tapi gadis sehebat dia mana mungkin
mau sama orang sepertimu... Eh, aku tidak bilang begitu, lho? Bagiku kau itu
adik yang membanggakan, jadi tidak aneh kalau gadis cantik dan perhatian
seperti dia jadi pacarmu."
"..............."
Bisa tidak,
berhenti mengatakan hal-hal memalukan seperti itu sesekali...
"...Ah."
"Oh, mereka
sampai."
Bel berbunyi, aku
dan Kakak segera menuju pintu depan. Seperti dugaan kami, yang datang adalah
Aisaka dan Aguma. Keduanya tampak memasang wajah yang agak tegang.
"Ha-halo!"
"...Halo."
"Yo, kalian
berdua."
Tapi tenanglah
kalian berdua... aku sepuluh ribu kali lebih tegang daripada kalian. Meski ada
insiden saat itu, kedatangan Aisaka ke rumah saja sudah jadi peristiwa besar,
apalagi kali ini berdua.
"Selamat datang Aisaka-chan, dan kau yang namanya
Aguma-chan?"
"A-ah,
iya...! Permisi... apa Anda kakaknya Masaki-kun?"
"...Manisnya."
Hmm hmm...
sepertinya Kakak langsung menyukai Aguma dalam sekali lihat. Ngomong-ngomong,
saat Aguma menundukkan kepala, aku mendengar Kakak bergumam
"Besarnya" dengan jelas, lho? Memang besar sih, bahkan saking
besarnya, Kakakku sendiri pun tidak ada apa-apanya!
(...Wah, boleh
juga.)
Ini bukan pertama
kalinya aku melihat mereka berpakaian bebas, tapi tetap saja ada pesona yang
berbeda dari seragam sekolah... apalagi ini baju musim panas, bagian kulit yang
terlihat cukup luas.
Untuk Aisaka,
meski aku tahu itu bagian dari gaya fashionnya, belahan dadanya yang sedikit
terlihat itu benar-benar seksi. Aguma memang tidak seberani itu, tapi karena
ukurannya lebih besar dari Aisaka, daya tempurnya saja sudah terlalu kuat.
"Mari kita
mengobrol panjang lebar di ruang tamu."
Tidak mungkin
kami terus berdiri di depan pintu, jadi aku mengajak mereka ke ruang tamu dan
menyajikan teh dingin.
Aisaka dan Aguma
yang meminum teh untuk membasahi tenggorokan mereka yang kering terus menatapku
tanpa mengucapkan sepatah kata pun... Mungkin karena tegang, tapi gara-gara itu
aku jadi ikut-ikutan tegang.
"Tapi
benar-benar ya... tak menyangka hari di mana Kai mengundang dua gadis sekaligus
ke rumah akan benar-benar tiba. Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan
terjadi."
"Kau cuma
bilang itu saja dari tadi... tapi, aku juga merasa begitu."
"A-ahaha..."
"...Aku juga
kaget."
Mungkin yang
paling kaget atau merasa ini tidak nyata adalah aku sendiri. Setelah itu,
ketegangan di antara kami masih sulit mencair, namun berkat keberadaan Kakak
yang perlahan membantu mencairkan suasana, obrolan kami jadi tidak terputus.
"Jadi,
begitulah Masaki-kun menolongku. Kakek dan Nenekku sampai bilang—mereka belum
pernah melihat pemuda seperti itu, pemuda yang memikirkan keadaanku dengan
begitu serius."
"Begitu ya!
Aku sudah dengar selentingan ceritanya sih, tapi mendengar langsung dari
Aguma-chan rasanya bobot kata-katanya berbeda!"
"A-anu... Kak?"
"Benar-benar
ya, bobotnya beda!"
Kakak
mendengarkan cerita Aguma dengan wajah senang, tapi dia memanfaatkan posisinya
yang duduk di sebelah Aguma untuk menyentuh payudaranya yang melimpah itu.
Bukannya
meremas, dia lebih seperti mengangkatnya dari bawah. Dia melakukan sesukanya
mentang-mentang sesama wanita...!
(Sialan...
padahal aku di sini menahan diri untuk tidak menggunakan Partner!)
Benar...
sedari tadi aku menahan diri dari keinginan untuk berbuat sesuka hati. Bukannya aku jadi ciut gara-gara mimpi
itu, tapi sesederhana aku dan Kakak sama-sama menantikan hari ini... Jadi
menurutku sangat buruk jika aku menggunakan kekuatan Partner dan
merampas waktu berharga Kakak.
"Saika
kelihatannya senang ya."
"Apakah
itu... terlihat senang?"
Di saat obrolan
Aguma dan Kakak semakin seru, aku dan Aisaka memperhatikan mereka dari tempat
yang agak jauh.
"Kelihatannya
sangat senang kok... Karena ini kakaknya Masaki-kun, Saika memang sangat ingin
bertemu dengannya."
"Hee."
"Tapi...
memang kakaknya Masaki-kun, ya. Bagian yang pandai memikat orang atau mudah
disukai orang itu mirip sekali."
"Hmm? Kalau
begitu terdengar seolah aku ini orang yang mudah disukai, lho?"
"Memang
itu yang kukatakan, kan? Buktinya aku dan Saika sekarang bisa sangat akrab
dengan Masaki-kun begini."
"..............."
Aku
segera memalingkan muka dari Aisaka. Ini murni untuk menutupi rasa maluku, tapi sepertinya Aisaka menyadarinya
karena dia tertawa kecil sambil menyikut bahuku.
"Ciyee, ada
yang malu nih?"
"Berisik..."
"Fufu♪"
Dia terus
menyikut bahuku berulang kali. Apa-apaan interaksi ini... momen manis apa
ini... rasanya benar-benar seperti satu halaman dalam masa muda.
(...Sialan...
fakta bahwa aku merasa senang dan bahagia dengan interaksi begini pasti karena
efek samping kurang pergaulan dengan gadis-gadis... aku benar-benar terlalu
sederhana.)
Tapi kesederhanaan itu mungkin ada bagusnya untuk
sekarang... karena rasa senang diperlakukan begini membuat rasa takut dari
mimpi itu menghilang.
"Kalau begitu! Empat anak muda cuma berdiam diri di
dalam rumah saja kan membosankan. Karena sudah masuk libur musim panas, kalian
pasti bakal pergi ke laut atau kolam renang, kan? Jadi, ayo kita semua pergi
beli baju renang!"
"Hubungannya apa coba!?"
Meski aku yang mengatakannya sendiri, tapi di tengah momen
emosional dengan Aisaka, tiba-tiba Kakak melontarkan hal yang tidak masuk akal.
Bukan cuma aku dan Aisaka yang melongo, Aguma yang duduk di
sampingnya juga tampak terbengong-bengong... Dasar, sebagai adik aku harus
menenangkan situasi dan menghentikan kelakuan konyol kakakku.
"Ide bagus! Tahun ini aku sudah berteman dengan
Masaki-kun, Saika, dan juga Kakak, jadi ayo kita pergi bareng!?"
"Wah, aku diajak juga? Aku senang sekali!"
"Tuh kan,
Saika! Mumpung ada kesempatan, kau ingin menunjukkan baju renang yang manis,
kan?"
"Iya, benar
juga."
"..............."
Eee... alur ini,
jangan-jangan benar-benar bakal beli baju renang? Mengabaikan diriku yang
kebingungan, pembicaraan terus berlanjut ke sana kemari... dan akhirnya, kami
pun tiba di area penjualan baju renang di sebuah toko serba ada yang ramai
dengan pengunjung.
"...Kenapa
jadi begini."
Di depan mataku,
Aisaka, Aguma, dan Kakak sedang melihat-lihat baju renang. Sosok mereka yang
bersenang-senang sangatlah gaduh, tapi melihat mereka dan Kakak bisa seakrab
itu membuatku merasa terharu.
(...Guehehe.)
Fuu... meski
begitu, sedari tadi sulit sekali menjaga ekspresi wajahku.
Aku memang sempat
berpikir kenapa jadi begini, tapi Aisaka dan Aguma bilang mereka sangat ingin
aku melihat mereka memakai baju renang, jadi memikirkan itu saja membuat
senyumku tak bisa berhenti.
"Ini...
tali?"
"Kalau ini
bukannya terlalu seksi?"
"Kalau pakai
ini malah kelihatan kayak bintang AV."
Aku mendengar
beberapa kata yang tidak boleh diabaikan, tapi karena untuk saat ini aku tidak
ada kerjaan, aku menghabiskan waktu dengan melamun.
(Baju renang
wanita ternyata macam-macam ya...)
Bukannya baju
renang pria tidak ada jenisnya, tapi jenis baju renang wanita sangatlah
melimpah... mulai dari bentuk yang berbeda hingga desain yang bermacam-macam,
pokoknya penuh sesak.
Karena aku
biasanya tidak pernah mengunjungi tempat seperti ini dan jarang melihat baju
renang sebanyak ini, aku jadi terlalu fokus hingga tidak menyadari ada
seseorang yang mendekat sampai bahuku ditepuk.
"Serius amat
lihatnya."
"...Habisnya
aku jarang ke sini, jadi tidak sengaja melihatnya."
"Iya deh,
kita anggap begitu saja ya."
Sialan Kakak
ini... ingin rasanya kubilang kalau tubuh bocah sepertimu itu cukup pakai baju
renang sekolah saja!?
"Ah?"
"Aku tidak
sedang memikirkan apa-apa kok~"
...Benar-benar
tidak bisa memikirkan hal buruk sedikit pun.
Tanganku ditarik
oleh Kakak yang sedikit melotot, lalu aku dipaksa berdiri di depan ruang
ganti... Dan akhirnya, waktunya pertunjukan!
"Ta-da!"
"...Bagaimana?"
"Ooh...!"
Melihat Aisaka
dan Aguma yang muncul, aku memberikan reaksi yang jujur.
Keduanya memakai
baju renang tipe bikini, memperlihatkan kulit mereka yang tanpa noda dan bagian
dada mereka yang melimpah tanpa ragu.
Aisaka tampak
percaya diri sementara Aguma terlihat gugup dan malu-malu.
Karena sudah
diperlihatkan seperti ini, sebagai laki-laki aku harus memberikan komentar yang
lugas tanpa menutup-nutupi.
"...Sangat
luar biasa."
Sesaat setelah
mengucapkannya, aku merasa malu dengan komentarku yang dangkal.
"Dangkal
sekali..."
Kata-kata Kakak
yang menatapku dengan mata dingin menusuk tepat ke jantungku.
"Fufu,
terima kasih ya, Masaki-kun♪"
"......Aku
pilih yang ini saja."
"Bagus, kan?
Sangat cocok untuk kalian, benar-benar memancarkan pesona kalian berdua.
Terutama Aguma-chan...... luar biasa ya, dugaanku tepat."
"A,
au......"
Mendengar pujian
Kakak, Aguma mencoba menutupi dadanya dengan lengan, tapi tentu saja hal itu
sama sekali tidak menolong...... malah, karena lengannya, bentuknya jadi
terhimpit dan terlihat semakin sensual, membuatku secara refleks memalingkan
muka.
(Tapi, kerja
bagus, Kak! Aku akan memujimu karena telah berhasil memancing sisi Aguma yang
seperti ini!)
Yah, meski hanya
sekejap, baju renang mereka berdua langsung diputuskan.
Berikutnya,
dengan semangat tinggi, Kakak masuk ke ruang ganti, tapi bagiku ini hanyalah
formalitas belaka...... Habisnya, ya begitu, kan?
Seperti yang
kukatakan tadi, selain karena fisiknya yang seperti anak kecil, dia itu kakak
kandungku...... Aku tidak merasakan apa pun melihat kakak sendiri memakai baju
renang.
"Nah,
bagaimana, Kai!"
"Wah!
Manisnya!"
"......Sangat
manis."
Melihat Kakak
dalam balutan baju renang penuh rumbai, Aisaka dan Aguma bertepuk tangan dengan
antusias. Yah, bagaimanapun juga, jika Kakak bertanya, akulah yang harus
menjawab.
Setelah
memperhatikannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, aku mengacungkan jempol
dan berkata dengan penuh percaya diri.
"Serius, Kakak terlihat sangat manis seperti anak
kecil...... Ah."
GAWAAAAAAAT!
Kata-kata jujur
itu malah keluar begitu saja! Karena lawannya adalah Kakak, hatiku malah
menjawab dengan jujur tanpa filter sama sekali!!
Aku segera mundur
dari tempat itu untuk melarikan diri dari Kakak yang menunduk hingga poni
menutupi matanya, sementara bahunya bergetar hebat!
"Jangan
harap bisa lari!"
"Oh
nooo!!"
"Tu-tunggu,
kalian berdua, ini di dalam toko, lho!?"
"Fufu, tidak
apa-apa, Pelanggan. Apakah mereka kakak dan adik? Manis sekali ya."
"Mbak
Pelayan...... kata-katamu barusan itu malah menyiram bensin ke api."
"Eh......?"
Pasyi! Kakak melompat ke punggungku, menggunakan
lengan dan kakinya untuk melilitku sekuat tenaga.
"Jangan
bergerak."
"......Baik."
Ah...... aku
sudah tidak bisa lari lagi...... Karena berada di dalam toko, Kakak tidak
melakukan hal yang macam-macam, tapi dia berbisik di telingaku bahwa dia akan
membunuhku jika aku menyebutnya "anak kecil" lagi.
"Karena ada
Aisaka-chan dan Aguma-chan, kali ini aku lepaskan."
"Terima
kasih atas kemurahan hati Anda yang luar biasa."
Di sana, aku
melanjutkan kata-kataku.
"Tapi
soal aku bilang Kakak manis itu beneran, lho?"
Soal anak
kecil itu memang jujur dan tidak sengaja terucap, tapi soal manis itu juga
bukan bohong, jadi aku harus menyampaikannya dengan benar.
Mata
Kakak membelalak sejenak, lalu dia tersenyum dan bilang kalau begitu tidak
apa-apa. Sepertinya
kata-kataku barusan menjadi penentu, karena setelah berganti pakaian, Kakak
membawa baju renang itu ke kasir.
"......Haa."
"Lelah ya,
Masaki-kun."
"Aku sudah
dengar ceritanya, tapi kakakmu benar-benar luar biasa......"
Mungkin karena
wajahku terlihat sangat lelah, Aisaka dan Aguma menghiburku. Mereka berdua
sudah selesai membayar baju renang mereka, dan di dalam tas kertas yang mereka
bawa pasti berisi baju renang yang kulihat tadi.
"Masaki-kun."
"Ya?"
"Meski
awalnya dari Kakakmu, tapi kita sudah terlanjur beli baju renang, kan? Pas
libur musim panas nanti, ayo kita pergi ke laut bareng-bareng."
"Anu......
apa boleh?"
"Tentu saja!
Saika juga setuju,
kan?"
"Iya......
ayo pergi bareng?"
Ya, ya sudahlah
kalau kalian memaksa......! Karena tidak ingin terlihat terlalu bersemangat, aku mengangguk pelan.
"Sudah
diputuskan, ya."
"Aku
tidak sabar."
Aku
sempat heran melihat mereka begitu senang, tapi...... aku menyadari bahwa
diriku sendiri pun sebenarnya merasa sangat gembira.
Kalau dipikir-pikir, sampai kelas tiga SMA begini, aku tidak
punya pengalaman berkencan dengan gadis atau sekadar pergi bermain bersama
mereka...... Dan sekarang aku! Ke laut bersama gadis-gadis seumuran, apalagi
yang cantik dan punya bentuk tubuh luar biasa!?
(Aku harus ikut dalam ombak besar ini!)
Begitulah! Terlepas dari apakah itu akan benar-benar
terwujud atau tidak, rencana pergi ke laut bersama Aisaka dan yang lainnya
sudah diputuskan!!
"......Tapi,
ah~"
"Ada
apa?"
"???"
Pergi ke
laut...... aku memang ingin pergi. Sebenarnya jika pergi dengan teman laki-laki
seperti Akira atau Shogo pun aku pasti sudah puas.
Bagiku, siapa pun
temannya, tidak ada perbedaan status selama mereka adalah teman. Tapi...... ada
satu hal yang mengganjal jika pergi ke laut bersama gadis——yaitu tubuhku
sendiri.
"Aku rasa
aku harus mulai olahraga dan melatih tubuhku sedikit."
Tubuhku memang
tidak gemuk atau terlalu kurus, tapi jika harus memperlihatkannya, aku ingin
punya bentuk tubuh yang layak, kan......?
"Ahaha!
Tidak perlu dipikirkan sampai segitunya, kan?"
"Kami tidak
keberatan...... tapi kalau soal itu, aku malah lebih......"
Aguma merona sambil mencubit bagian pinggangnya, dan aku
tidak cukup tumpul untuk tidak memahami maksud dari tindakannya itu. Karena itulah, aku bertanya dengan heran.
"Jangan-jangan
Saika...... merasa dirimu agak gemuk?"
"Aku
tidak bilang begitu dan tidak mau mengakuinya...... tapi jika dibandingkan
Matsuri-san, aku punya lebih banyak lemak."
"Apa yang
kau katakan, Saika! Itu malah bukti kalau kau sehat, tahu?"
Dalam hal ini,
aku setuju sepenuhnya dengan Aisaka. Karena aku sudah mengenal seluk-beluk
tubuhnya, aku bisa bilang bahwa Aguma sama sekali tidak gemuk...... Lagi pula,
lemak sebanyak itu tidak bisa disebut gemuk, kan?
Malah tekstur
kenyal-kenyalnya itu yang terbaik, dan sensasi saat memeluknya pasti luar biasa
nikmat.
"Tuh,
Masaki-kun saja sampai mengangguk-angguk begitu. Tidak ada yang perlu
dikhawatirkan, Saika!"
"......Masaki-kun,
aku tidak gemuk?"
"Tidak, kok!
Aku rasa ukuranmu itu sudah sangat pas!"
Mungkin sebutan
"sangat pas" terdengar agak aneh, tapi intinya itulah yang
kupikirkan.
"Kalau begitu...... syukurlah."
"Kalian sedang bicara apa?"
Tepat saat Aguma menunjukkan wajah lega, Kakak kembali. Saat
aku memberi tahu kalau kami sedang bicara soal berat badan, Kakak juga
menenangkan Aguma dengan berkata hal yang sama denganku dan Aisaka.
Tapi Kak, tolong berhenti melihat dada Aguma dengan tatapan
sangat iri begitu?
"Nah, sekarang waktunya makan siang."
"Benar juga...... ah."
Kruuukk. Perut Aisaka berbunyi nyaring.
"......~~!"
Mendengar suara
yang cukup keras itu, kami semua serempak menatap Aisaka.
Gadis yang
tadinya begitu bersemangat memamerkan baju renang itu kini wajahnya memerah
padam karena malu, dia menunduk dan bersembunyi di balik punggung Aguma.
"Fufu, kalau
begitu ayo kita makan."
"Benar."
"Matsuri-san,
perut bunyi itu hal biasa, jadi jangan dipikirkan."
"I-iya, aku
tahu......!"
Setelah itu kami
meninggalkan area baju renang dan berjalan sambil berdiskusi ingin makan
apa...... saat itulah, aku mendengar suara yang tidak kukenal.
"Lho,
bukankah ini Masaki-san?"
"......Geh."
Berbeda denganku
yang kebingungan, Kakak menunjukkan reaksi seolah dia sangat mengenal orang
itu. Di sana berdiri seorang wanita yang penampilannya sangat mencolok......
dan jujur saja, bau parfumnya sangat menyengat.
"Kak...... kenalanmu?"
"Tidak bisa dibilang kenalan dekat. Dia cuma perempuan
dari universitas yang sama."
"Aduh, dingin sekali cara bicaramu."
......Begitu
ya, jadi dia orang yang tidak disukai Kakak. Aku pernah mendengar cerita
tentang kuliah dan teman-teman Kakak...... buktinya teman-temannya sering
datang ke rumah, jadi aku tahu kalau Kakak punya banyak teman.
Aku
jarang mendengar soal orang yang dia benci...... yah, Kakak memang bukan tipe
orang yang sengaja membicarakan orang yang dia benci di rumah.
"Rasanya
tidak enak."
"Iya......"
Aisaka
dan Aguma bergumam pelan. Bagiku,
aku tidak tahu wanita ini siapanya Kakak...... tapi melihat Kakak terlihat
tidak nyaman, sebagai adik aku merasa ingin membantunya!
"Kak, aku
sudah lapar, ayo cepat pergi."
"Ah......
iya, benar."
Aku menggandeng
tangan Kakak dan mengajak Aisaka serta yang lainnya pergi dari sana...... tapi,
wanita itu melanjutkan kata-katanya.
"Hee......
jadi dia adik yang sering kau ceritakan itu? Ternyata cuma laki-laki yang
penampilannya biasa saja ya."
Kenapa malah aku
yang kena semprot! Meskipun dibilang biasa saja, aku tidak merasa tersinggung,
mungkin karena menurutku wanita ini sama sekali tidak menarik...... meski aku
tidak akan pernah mengatakannya.
Meskipun
kata-katanya menyebalkan, jujur saja aku merasa tidak peduli, jadi aku tetap
berjalan...... namun, Kakak menghentikan langkahnya.
"Aku tidak
peduli apa yang kau katakan padaku, tapi coba saja berani bicara buruk lagi
tentang adikku——akan kubuat kau menyesal."
"......"
Melihat ekspresi
serius Kakak, wanita itu tampak gemetar.
Aku yang berada
di sampingnya saja merasa ngeri, apalagi Aisaka dan Aguma yang juga ikut
ketakutan. Benar-benar hebat Kakakku ini. Aku pikir wanita ini akan
mundur...... tapi ternyata dia malah membuka mulutnya kembali untuk menggertak.
"Benar-benar......
benar-benar sombong
ya kau! Padahal punya tubuh yang menyedihkan tapi gayamu selangit! Tidak punya
daya tarik sama sekali tapi sok mencolok!"
"......Yah,
aku tidak tahu harus bilang apa soal itu...... tapi kata-kata 'tubuh menyedihkan' itu
keterlaluan!"
Jadi bagian itu
yang membuat Kakak tersinggung......? Tapi, aku ingin mengatakan satu hal——aku
tahu pertengkaran Kakak dan wanita ini tidak ada hubungannya denganku. Tapi aku
bukan anak manis yang akan diam saja saat Kakakku dihina sampai seperti itu.
"..............."
"A-apa......"
"Kai?"
Aku tidak
bermaksud berkelahi atau menggunakan kekerasan. Setelah memberi kode pada Kakak
agar dia tenang, aku menatap wanita itu.
"Mungkin
menurut Anda adik yang ikut campur itu tidak sopan, tapi mendengar Kakak saya
dihina sampai seperti itu membuat suasana hati saya jadi buruk——Bagi saya, dia
adalah kakak yang terbaik. Kakak yang selalu melindungiku sejak dulu...... dia
sangat memesona dan lebih bisa diandalkan daripada siapa pun."
Aku
melirik ke arah Kakak. Kakak tampak melongo kaget, tapi kemudian dia tersenyum
kecut seolah ingin bilang "dasar adik ini". Saat itu aku juga
bertatapan dengan Aisaka dan Aguma, dan mereka berdua memberiku semangat seolah
berkata "berjuanglah".
"Yah,
intinya...... selain karena aku kesal Kakakku dihina, aku hanya...... hanya
ingin melindungi Kakakku."
"......"
Meski lawan bicaraku lebih tua, aku akan bicara jika harus.
Saat aku menatapnya tajam dengan tatapan seperti itu, wanita itu menggigit
bibirnya dengan ekspresi penuh kekesalan.
"Terima
kasih ya, Kai."
"Bukan
apa-apa, kok."
"Yah, kita
anggap saja begitu. Tapi punya adik yang sangat menyayangi kakaknya itu
membahagiakan sekali ya?"
"......Benar-benar
menyebalkan kau yaaaa!!"
Wanita itu
berteriak karena kalah telak dan langsung pergi dari sana.
"......Eee."
Memang berlebihan
jika dibilang dia kembali menjadi anak kecil, tapi melihat sikapnya yang
membuang jauh-jauh aura yang dia tunjukkan di awal membuatku refleks melihat
kepergiannya.
"Yah, kami
memang punya hubungan seperti itu tapi sebenarnya bukan apa-apa. Dia juga punya
adik laki-laki yang sepertinya sedang dalam masa pemberontakan. Makanya dia
merasa iri karena adikku...... yaitu Kai, adalah anak yang terlalu baik."
"Eh, cuma
karena itu?"
"Cuma karena
itu."
Halah......
alasannya tidak ada apa-apanya. Padahal aku pikir ada drama yang lebih
kelam, ternyata alasannya cuma itu...... tapi tetap saja, aku tidak bisa
memaafkan dia yang bilang kalau Kakakku tidak menarik.
"Aku mau ke
toilet sebentar. Tolong bawakan barang-barangnya ya."
Setelah
menitipkan barang bawaannya padaku, Kakak menuju toilet.
"......Fuu."
Meski keributan
tadi sudah selesai, aku merasa sedikit lelah. Saat aku duduk di bangku
terdekat, Aisaka dan Aguma masing-masing duduk di kedua sisiku.
"Masaki-kun,
tadi keren sekali."
"Saat kau
bicara tegas demi melidungi Kakakmu...... itu sangat keren."
"O-oh......"
Mendengar
kata-kata mereka, aku menunduk karena malu. Tapi kalau dipikir-pikir, tanpa
kekuatan Partner, dikelilingi oleh mereka berdua seperti ini adalah hal
yang langka, kan......?
"Sebenarnya
aku juga ingin membalas kata-kata wanita tadi. Berani-beraninya dia bilang
Masaki-kun biasa saja padahal dia tidak tahu apa-apa."
"Iya......
iya! Aku kesal dia bilang begitu padahal tidak tahu apa-apa...... aku sangat
kesal."
Sepertinya mereka
berdua ikut marah demi aku. Yah, tapi karena aku hanya kesal soal Kakak, aku
minta mereka tidak perlu memikirkannya...... namun, aku tetap berterima kasih
karena mereka sudah ikut marah demi aku.
"......Memang
ya, Masaki-kun itu sangat baik...... keren, dan bisa diandalkan."
"Anu......
tiba-tiba kenapa?"
Entah kenapa
suasana jadi terasa emosional, dan Aisaka mengatakan itu dengan ekspresi wajah
yang menawan.
"Aku......
akhir-akhir ini sering memimpikan hal aneh."
"Mimpi?"
"Iya——mimpi
menghabiskan waktu bersama Masaki-kun. Bagaimana ya menjelaskannya...... itu
Masaki-kun yang kukenal, tapi Masaki-kun yang sedikit manis."
"......Mimpi macam apa itu."
Memangnya seru ya memimpikan menghabiskan waktu bersamaku?
Aku sempat bingung kenapa dia tiba-tiba membicarakan hal itu, tapi aku sedikit
tertarik ingin tahu seperti apa diriku di dalam mimpinya...... saat aku ingin
bertanya lebih lanjut pada Aisaka, tiba-tiba Aguma juga ikut bicara.
"Aku
setuju dengan Matsuri-san. Aku juga sering mimpi...... Bagiku Masaki-kun adalah
orang yang sangat bisa diandalkan, yang sudah menyelesaikan masalah
keluargaku...... tapi."
"Tapi?"
"Di dalam
mimpi kau itu manis sekali."
"Jadi soal
mimpi dan manis itu maksudnya apa sih!?"
Sebenarnya mimpi
macam apa yang kalian lihat!? "Kau benar-benar ingin tahu?" mereka
berdua menatapku dengan tatapan menantang yang membuatku terintimidasi, tapi
kalau sudah dibilang begitu siapa pun pasti akan penasaran.
"Anu, jadi
begini."
"Masaki-kun
itu......"
Lalu, mereka
berdua berkata secara bersamaan.
"Sangat suka
payudara ya?"
"Sangat suka
sekali dengan payudara."
"!!?"
Goncangan batinku
saat itu sungguh luar biasa, dan itu pasti terpancar jelas di ekspresi dan
sikapku.
Suka
payudara...... begitu mereka mengatakannya, hal yang terlintas di pikiranku
adalah semua perbuatan yang telah kulakukan pada mereka...... Tentu saja aku
tidak berniat berhenti dan akan terus melanjutkannya, tapi aku benar-benar
terkejut.
"Goncangannya kelihatan banget!"
"Eii...... siapa pun pasti kaget kalau tiba-tiba
dibilang begitu!"
Sial! Jika mereka terus menggodaku seperti ini, rasanya aku
ingin segera menggunakan Partner untuk membawa mereka ke tempat gelap
dan berbuat sesuka hati sekarang juga!?
(Tapi
karena sekarang aku sedang dalam mode pria budiman, aku tidak akan
melakukannya!)
Tapi sebagai
gantinya, ingat ya kalian berdua nanti di sekolah...... Tepat saat aku
memikirkan itu, Kakak kembali, jadi hasrat mesumku terpaksa aku simpan dulu.
Setelah itu kami pergi makan siang, lalu kembali ke rumah. Habisnya aku
capek...... selain karena berjalan di bawah terik matahari, aku, Kakak, Aisaka,
dan Aguma juga sudah terlalu bersemangat hari ini.
"Enak sekali ya!"
"Rasanya menyegarkan sekali di tubuh yang panas
begini!"
"Enak."
Karena baru saja berjalan di bawah terik matahari, rasa
dingin dari es krim yang kami beli di minimarket benar-benar meresap ke dalam
tubuh.
(......Memang ya, melihat gadis yang sedang berkeringat
itu pemandangan yang bagus.)
Aku tidak suka
berkeringat karena panas, tapi melihat helaian rambut yang menempel di kulit
karena sedikit keringat itu rasanya seksi sekali...... Dulu aku tidak pernah
berpikiran seperti ini, tapi karena lawannya adalah Aisaka dan Aguma, aku jadi
tidak bisa berhenti memperhatikannya. Kakak?
Kalau Kakak sih
sama sekali tidak seksi.
Dari situ kami
menghabiskan waktu dengan santai seperti tadi pagi, dan saat sore tiba, Aisaka
dan Aguma berpamitan untuk pulang.
"Waktu
yang menyenangkan itu terasa sangat singkat ya."
"Kau
merasa senang?"
"Senang
banget. Memangnya tidak
kelihatan dari raut wajahku?"
"......Tidak,
kalau begitu syukurlah."
Saat Aguma
tersenyum, Aisaka menepuk tangannya seolah baru ingat sesuatu.
"Hei
Masaki-kun, ada yang ingin aku dan Saika bicarakan."
"Hmm?"
"Kalau
terus-terusan memanggil dengan nama marga rasanya ada jarak, ya. Karena kita
sudah seakrab ini, bagaimana kalau mulai sekarang kita panggil dengan nama
depan saja?"
"Nama
depan......"
Begitu ya......?
Karena tidak ada alasan untuk menolak, aku pun mengangguk.
"Kalau
begitu...... Kai-kun."
"Kai-kun......"
"O-oh......
Matsuri, Saika."
Meski masih agak
terbata-bata, aku tidak merasa keberatan atau malu memanggil nama mereka......
mungkin karena kami sudah seakrab itu, atau karena bagiku mereka adalah
orang-orang yang bisa kupermainkan sesuka hati?
(Aku bahkan
sudah melakukan banyak hal yang lebih memalukan daripada sekadar memanggil
nama...... tentu saja begitu.)
Memanggil nama
depan dan bukan nama marga...... Anehnya ini membuatku merasa jarak kami jadi
jauh lebih dekat.
Bahkan bagi orang
luar pun, pandangan mereka akan berubah tergantung apakah kita memanggil nama
depan atau tidak...... Aku ingat saat SMP dulu, aku sempat merasa kagum pada
laki-laki yang bisa memanggil nama gadis populer.
"Ah, Kakak!
Jika boleh, apakah kami juga boleh memanggil Kakak dengan nama depan?"
"Boleh saja.
Sebagai gantinya aku akan memanggil kalian Matsuri-chan dan Saika-chan
ya?"
"Tentu saja!
Miyako-san!"
"Miyako-san......
uuh, ini agak memalukan."
Melihat Aguma
yang tersipu malu itu sangat manis, Kakak langsung memeluknya.
Setelah itu,
sebagai ucapan terima kasih karena sudah berkunjung, aku mengantar mereka
sampai dekat rumah mereka, dan hari ini pun berakhir.
Hari yang
menyenangkan bagiku dan juga Kakak...... Aku akan sangat senang jika mereka juga merasakan hal yang sama.
"......Ternyata
benar."
Dan malam
harinya. Meski belum pasti, aku melihat pergerakan krusial pada diagram
hubungan itu. N
ama
Aisaka dan Aguma kini posisinya lebih dekat denganku daripada sebelumnya.
Benang merah muda yang menjulur dari nama mereka juga menyentuh namaku, seolah
ini adalah hasil dari kejadian hari ini.
"Jadi ini benar-benar...... tingkat kesukaan (Affection
Rate), ya."
Nama Honma posisinya sedikit lebih jauh dibanding mereka
berdua, sementara benang hitam masih terus menggeliat seolah menunggu
kesempatan...... Sepertinya benang hitam ini adalah emosi negatif, dan aku
berencana untuk segera menguji hal ini dalam waktu dekat.
......Yah,
lupakan dulu soal itu.
"Tingkat
kesukaan dari para gadis tinggi...... tidak buruk juga!"
Jika kami semakin
akrab, mungkinkah Aisaka atau Aguma akan menjadi pacarku...... mungkinkah masa
depan seperti itu benar-benar ada!?
Bayangan itu membuatku merasa sangat bersemangat sampai tidak bisa tidur.



Post a Comment