Chapter 7
Masa Muda Itu yang Paling Mantap!
♡ ♡ ♡
Tidak ada
kebahagiaan yang menanti orang yang menggunakan aplikasi hipnosis.
Sebab, sang pengguna akan mengikat target hipnosis dengan mengabaikan perasaan
mereka.
Namun, kekuatan
aplikasi ini tidaklah berlaku selamanya.
Semakin sering digunakan, efeknya akan semakin menipis──dan pada akhirnya,
kebencian akan menggelembung, membawa malapetaka bagi sang pengguna.
♡ ♡ ♡
"...?"
Entah kenapa, ada
perasaan aneh seolah seseorang baru saja berbisik di dekat telingaku.
Karena itu, aku
melirik ke sekeliling dengan waspada, tapi tak terlihat siapa pun yang
tampaknya akan melakukan hal seperti itu padaku... malah kalau ada, itu justru
bakal menyeramkan.
"Haa... yah,
akhirnya datang lagi juga, ya."
Sepulang sekolah,
tempat yang kudatangi adalah kafe maid itu.
"Hari
ini yang terakhir, soalnya."
Benar.
Hari ini benar-benar hari terakhirku datang ke sini.
Masalah
penguntit memang sudah terselesaikan dan tak ada lagi ancaman yang bisa disebut
berbahaya, tapi meskipun begitu, keputusan Honma untuk berhenti bekerja di sini
tetap tidak berubah.
"Maaf ya,
Shougo, aku jalan duluan."
Awalnya memang
semacam janji tak tertulis kalau aku akan datang lagi bersama Shougo, tapi
karena hari ini hari yang spesial, tolong maklumi saja.
"Baik,
berangkat!"
...Meski begitu,
ini baru kali pertama aku datang sendirian, dan juga baru kunjungan kedua, jadi
jujur saja aku gugup.
Aku menepuk kedua
pipiku dengan plak! seolah menyuntikkan semangat, lalu melangkah masuk
ke dalam... dan kemudian—
"Anda
datang, ya, Senpai."
"Yo."
Tentu
saja, maid yang kupilih adalah Honma.
Kami
tidak pernah berjanji sebelumnya, bahkan tidak membicarakannya sama sekali,
tapi sepertinya dia berpikir kalau mungkin aku akan datang karena ini hari
terakhirnya.
(Meski
pembicaraan itu sebenarnya terjadi saat Honma sedang dalam kondisi terhipnosis,
sih...)
Sebenarnya,
belakangan ini aku sering memikirkan sesuatu.
Saat
menggunakan partner-ku, mereka menjadi begitu patuh—tidak pernah membantah, dan
setelahnya, mereka tak mengingat apa pun dari interaksi itu.
Namun
meskipun begitu, entah kenapa terpikir kemungkinan bahwa ingatan itu mungkin
masih tersisa... atau mungkin tertinggal dalam bentuk lain... seperti mimpi,
misalnya. Pikiran sepele
semacam itu.
"...Haa."
Aku menggelengkan
kepala. Ya, ini jelas terlalu kupikirkan.
"Ada apa,
Senpai?"
"Ah, maaf.
Aku cuma lagi melamun sedikit."
Aku sudah datang
ke kafe maid, masa iya malah tenggelam dalam pikiran? Harusnya aku menikmati
momen ini... kemungkinan besar setelah Honma berhenti, aku juga jarang datang
ke tempat seperti ini lagi, kecuali kalau Shougo mengajakku.
"Kalau
begitu, sekali lagi—selamat datang kembali, Tuan."
"...Tetap
aja rasanya agak malu."
"Fufu, kalau
begitu silakan pesan."
Honma tersenyum
cerah.
Aku melirik menu
sekilas, lalu karena masih sore, aku tidak memesan makanan dan memilih es kopi
seperti sebelumnya.
"Baik,
akan segera saya siapkan."
"Di
luar panas banget."
"Iya...
membayangkan musim panas yang sebenarnya saja sudah bikin malas."
Tak lama
kemudian, es kopi yang dingin menusuk tenggorokan pun tersaji.
Aku kembali
mengucapkan mantra memalukan itu bersama Honma, tapi karena ini sudah kali
kedua, aku melakukannya dengan cukup penuh semangat—mungkin karena sudah
terbiasa.
"...Akhir-akhir
ini gimana?"
Aku bertanya
sambil memastikan keadaan sekitar.
Ini pertama
kalinya aku berbincang dengan Honma dari jarak sedekat ini sejak hari aku
memanggilnya ke ruang kelas kosong itu... jadi wajar kalau aku ingin memastikan
keadaannya.
"Tak
apa-apa. Sejak saat itu, benar-benar tidak terjadi apa-apa."
"Maaf ya,
aku selalu nanya tiap ketemu. Aku tahu ini menyebalkan, tapi tetap saja aku
khawatir."
"Sama sekali
tidak menyebalkan. Saya senang Senpai mengkhawatirkan saya... malah justru saya
yang ingin berterima kasih."
"Begitu
ya... syukurlah. Tapi ya, kita ini ketemu dengan cara yang jelas nggak normal.
Sebagai senpai, setidaknya biarkan aku mengkhawatirkanmu."
Lagipula, aku
merasa sudah menerima balasan yang lebih dari cukup.
"Senpai
itu... orangnya aneh."
"Masa?"
"Biasanya,
orang yang menolong akan menjadikannya alasan untuk memaksa ini-itu, atau
mengancam supaya dituruti."
"Honma, bisa
nggak kamu sadar dulu kalau cara berpikirmu itu agak menyimpang?"
Honma tertawa dan
berkata itu cuma bercanda, tapi karena aku tahu kecenderungan pribadimu, aku
sama sekali nggak bisa mempercayai senyuman itu, tahu?
"Kalau
terjadi sesuatu lagi... apakah Senpai akan menolong saya?"
Pertanyaan itu
meluncur begitu saja dari mulut Honma.
Tanpa
ragu sedikit pun, aku langsung mengangguk.
"Tentu
saja."
"Terima
kasih banyak...!"
"Siap."
Soalnya
aku punya partner. Aku bisa melakukan hal-hal yang orang biasa nggak bisa!
"Senpai, mau
tambah minum?"
"Boleh."
"Baik...
eh?"
Saat itu, Honma
memiringkan kepalanya dengan heran.
Pandangan matanya
tertuju ke arah pintu masuk kafe. Awalnya kukira hanya tamu biasa, tapi
reaksinya jelas berbeda.
Dan saat aku ikut
menoleh, aku benar-benar terkejut melihat siapa yang berdiri di sana.
"Kenapa..."
"Selamat
datang, Nona!"
‘Nona’—artinya
tamu yang datang adalah perempuan.
Biasanya ‘Tuan’
bisa dipakai untuk siapa saja, tapi di kafe ini, perempuan dipanggil ‘Nona’...
bukan itu masalahnya!
Alasan aku
terdiam adalah karena tamu yang masuk ternyata adalah Mari dan Saika.
"Aisaka-senpai
dan Wagatsuma-senpai...?"
"Oh, kamu
kenal?"
"Iya... kami
masih satu sekolah. Dan entah kenapa, rasanya saya tahu cukup banyak."
"??"
Reaksi Honma
menggelitik rasa penasaranku, tapi Mari dan Saika menatapku tanpa berkedip.
Seorang maid lain
mendekati mereka yang menarik perhatian seperti itu, tapi Honma dengan sigap
menghampiri, lalu membawa keduanya ke mejaku.
"Karena ini
pertama kalinya untuk mereka, bagaimana menurutmu, Senpai?"
"Hah?
Maksudmu duduk bareng?"
"Sebenarnya
ini tidak diperbolehkan, tapi hari ini hampir semua keinginan saya
dituruti."
Ah... iya. Benar
juga.
Aku sempat lupa
karena terlalu fokus pada Honma. Dan meski aku tak punya hak untuk protes,
tetap saja rasanya sedikit sedih.
"Eh... hai,
Kai-kun."
"Kami lihat
Kai-kun masuk ke kafe ini."
Aku tak
menyangka dilihat, dan wajahku langsung memanas.
Tapi... kalau Kai
yang dulu, pasti aku sudah mencari-cari alasan. Katanya kebetulan, atau karena
ada kenalan.
Tapi sekarang aku
berbeda. Kata-kata yang keluar dari mulutku sendiri membuatku menyadari sedikit
perubahan dalam diriku.
"Honma
berhenti hari ini, jadi aku datang buat lihat terakhir kalinya. Meski kafe maid
bukan tempat biasa, suasananya enak banget. Ini toko yang bagus."
"Oh, begitu.
Ini pertama kalinya aku ke kafe maid."
"Aku
juga."
Kalau begitu,
kita bisa menikmatinya bersama.
Mari dan Saika
duduk mengapitku, sementara Honma menjelaskan aturan kafe... tapi di situ aku
justru merasa aneh.
(Kok... mereka
kelihatannya akrab banget?)
Aura yang
tercipta di antara mereka bertiga membuatku berpikir begitu.
Mereka mungkin
tahu nama satu sama lain, tapi karena beda angkatan, biasanya tidak sampai
sedekat ini... saat bersama partner-ku mereka memang ngobrol biasa, tapi dalam
kondisi normal seharusnya mereka bukan kenalan dekat...
"Hm?"
"Ada
apa?"
"Kai-kun?"
"Senpai?"
Karena melamun,
aku ditanya bersamaan oleh tiga orang, dan aku pun mengutarakan keganjilan
itu... namun jawabannya malah makin membingungkan.
"Ah... iya
juga, ya. Rasanya bukan pertama kali ketemu Honma-san."
"Entah
kenapa... aku juga merasa begitu."
"Saya juga
merasakan hal yang sama. Padahal ini pertama kalinya saya berbicara dengan
Aisaka-senpai dan Wagatsuma-senpai, tapi rasanya seperti sudah lama saling
mengenal."
Meski ekspresi
mereka tampak ragu, tatapan yang mereka berikan satu sama lain benar-benar
seperti sahabat dekat.
"Honma-san
juga... apa kamu pernah ditolong Kai-kun?"
"Bagaimana
kamu tahu...?"
"Kukira
begitu... entah kenapa aku sudah merasa begitu."
Tunggu... ini
mulai jadi pembicaraan yang berat.
"Kalau
begitu... pengalaman Senpai menolong seorang gadis yang pernah diceritakan
itu... mereka berdua?"
"Ah...
iya."
Sampai sejauh
ini, tak ada gunanya menyembunyikan.
"Begitu ya... Honma-san juga."
"Berarti
kita... sama?"
"Sepertinya...
kita ini semacam rekan."
Tanpa
menghiraukanku, mereka saling menatap, lalu mengulurkan tangan dan berjabat
satu per satu.
(Apa yang
sebenarnya terjadi...?)
Ya, mereka akur
itu hal yang bagus.
Sesama perempuan,
wajar saja kalau cocok atau punya hobi yang sama... tapi ada sesuatu yang
terasa lebih dari itu. Sebuah ikatan yang aneh.
(...Apa pikiranku
tadi benar?)
Interaksi mereka
tetap membuatku mengernyit.
Dari percakapan
dan kata-kata mereka... mungkinkah interaksi saat menggunakan partner-ku
tertanam jauh di dalam hati mereka? Meski tak diingat, seolah tubuh mereka
mengingatnya...
Pikiran itu
membuatku gelisah, tapi segera lenyap. Aku memang punya kebiasaan melamun
berlebihan kalau terlalu banyak berpikir.
"Kalau
begitu, Mari-senpai dan Saika-senpai juga, mohon bantuannya."
"Baik!"
"Iya."
"Moe-moe~
kyun♡"
"Moe-moe~
kyun♡"
"Moe-moe
kyun."
Obrolan pun makin
seru, sampai mereka saling memanggil nama.
Aku juga mendapat
izin memanggil Honma dengan nama depannya—Emu.
"Emu?"
"...Entah
kenapa, rasanya tidak buruk."
Hei, kenapa
wajahmu terlihat melayang gitu...?
"...Maaf,
aku ke toilet sebentar."
Aku ingin
memastikan sesuatu, jadi aku pergi ke toilet.
Tentu saja, bukan
buang air yang jadi tujuanku.
"........."
Aku
mengeluarkan ponsel, menyalakan partner, dan membuka diagram hubungan... dan
dugaanku benar.
"Nama Emu...
makin dekat."
Sama seperti Mari
dan Saika, nama Emu juga mendekat.
Aku
memang tidak melihat prosesnya langsung, tapi ini sudah cukup. Layar ini jelas
menunjukkan hubungan antara aku dan mereka yang terhipnosis.
"Aku
sadar aku tersenyum melihat ini... tapi kalau dipikir-pikir, bukankah mungkin
jaraknya juga bisa menjauh? Bahkan benang merah muda ini bisa berubah jadi
hitam—"
Saat itu,
bayangan mimpi itu muncul lagi.
Mereka
yang tak bisa melawan perintah, dengan mata kosong menerima apa pun yang
kulakukan... tapi entah kenapa, pikiranku tak bisa membayangkan lebih jauh.
Aku tak
bisa membayangkan Mari, Saika, atau Emu menatapku dengan kebencian.
"...Yah,
tapi tetap saja, aku bakal terus melakukannya."
Dan pada
akhirnya, tekadku tidak goyah.
Masih banyak yang
mengganjal, tapi setiap masalah selalu kalah di hadapan hawa nafsu... aku akan
terus mengerjai mereka!
Setelah
meneguhkan hati, aku kembali ke mereka.
Tak lama
kemudian, waktu berbincang dengan Emu pun hampir habis, dan kami semua keluar
dari kafe bersama.
"Kafe maid
ternyata seru, ya!"
"Sesekali
mungkin boleh."
"Haha! Sama persis kayak yang aku dan
Shougo bilang."
Justru
karena jarang datang, jadi terasa menyenangkan.
"Hei,
Kai-kun?"
"Hm?"
"Kai-kun
suka maid?"
"Hah? Ya...
nggak benci sih. Pakaiannya lucu."
Kata ‘maid’
sendiri saja sudah terdengar menyenangkan... penampilan Emu tadi, juga maid
lainnya—cantik dan enak dipandang.
"Oh ya?
Kalau begitu, bagaimana kalau kami pakai kostum maid?"
"...Oh?"
Itu
terdengar seperti tantangan.
Tatapanku menajam
saat membayangkan Mari dan Saika memakai baju maid.
Entah kenapa,
yang terlintas di kepalaku cuma hal-hal mesum... kenapa!?
"Eh,
hidungmu berdarah."
"Kai-kun,
dasar!"
"Eh!?"
Aku buru-buru
menyentuh hidungku—dan benar saja, darah menempel. Tubuhku ini jujur banget,
sial!
"Tunggu,
Senpai! Saya juga sudah selesai, jadi kita bisa jalan bersama—eh!? Tangan
Senpai berdarah!? Ada kejadian apa!?"
Tolong jangan
dibesar-besarkan!
Tak lama,
darahnya berhenti, tapi mimpi mesum sampai mimisan itu benar-benar memalukan!
"Kai-kun
mimisan gara-gara membayangkan kami pakai baju maid!"
"Sebenernya
boleh saja."
"Kalau
begitu, mau saya pinjamkan? Tapi bagian dada mungkin sempit..."
"Nanti
kancingnya lepas terus paan?"
"Iya."
"Kai-kun?
Kamu mimisan lagi..."
Obrolan mereka
justru memperparah imajinasiku, dan darah yang tadi berhenti kembali mengalir
deras.
Karena darah tak
kunjung berhenti, aku pun melakukan pertolongan pertama dengan menyumbat
hidungku menggunakan tisu.
Yah, setidaknya
masalah sudah teratasi... tapi aku merasa sangat depresi karena penampilanku
yang terlihat begitu payah. Alhasil, justru aku yang berakhir dihibur oleh
mereka.
(Oi, Partner...
kita sudah melangkah sangat jauh, ya.)
Gadis-gadis
cantik berkumpul mengelilingiku.
Pertemuanku
dengan Partner-lah yang menyuguhkan momen seperti ini untukku... Berkat
kedatangan Partner, aku tidak hanya bisa menjadi dekat dengan mereka, tapi aku
juga memiliki kekuatan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang mereka hadapi
dengan caraku sendiri.
(Sungguh...
terima kasih, ya.)
Aku memang punya
niat mesum... aku ingin melakukan hal-hal yang lebih erotis lagi, dan jika
boleh berharap, aku punya ambisi untuk segera melepas masa perjaka!
Tapi...
menghabiskan waktu bersama mereka secara murni seperti ini tanpa harus
menggunakan kekuatan Partner pun sama sekali tidak buruk... Malah, ini sangat
menyenangkan.
Aku bahkan sampai
berpikir betapa indahnya jika waktu yang menyenangkan ini bisa terus berlanjut
selamanya.
(Wahai
Partner—aku ingin melakukan banyak hal erotis! Tapi di saat yang sama, aku ingin melindungi
mereka semampuku. Jadi, tolong terus pinjamkan kekuatanmu padaku, ya!)
Masih banyak hal
yang tidak kupahami, dan pada akhirnya, aku masih berada dalam situasi di mana
aku tidak tahu pengaruh apa yang akan diberikan oleh benang hitam itu kepadaku.
Karena itu, aku
ingin menyelidiki banyak hal... Tentu saja, melakukan hal-hal mesum tetap
menjadi prioritas utamaku!
"Kai-kun,
ayo pulang~?"
"Ayo pulang,
Kai-kun."
"Senpai,
mari kita pulang?"
"Oh!"
Tapi... tapi ya,
Partner!
Ke depannya,
mungkin aku akan berpikir untuk mendekati berbagai wanita lagi, tapi di saat
itu nanti, tolong hentikan aku jika mereka adalah orang-orang yang punya
masalah berat seperti mereka bertiga ini, ya?
Kalau yang itu,
tolong ampuni aku karena itu sangat melelahkan!
Akan kulakukan
apa pun! Aku akan melakukan apa pun, jadi biarkan targetku berikutnya adalah
orang yang normal! Biarkan aku menyasar orang yang normal saja sejak awal!
Benar-benar kumohon padamu, Partner. Aku percaya padamu!!
Previous Chapter | ToC | End V2



Post a Comment