NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 4 Chapter 2

Chapter 2

Menginap di Rumah Mari, Bro!

Bagiku, libur musim panas hanyalah tentang dikejar tugas sekolah, bersantai sepuasnya, bermain dengan teman, atau sekadar menjadi lawan bicara kakak perempuanku.

Kalaupun ada kesalahan dalam hidupku, bermain dengan anak perempuan—apalagi sampai pergi ke rumahnya—adalah sesuatu yang mustahil. Hal itu tidak berubah sedikit pun sejak aku SD, SMP, hingga SMA.

Namun, hukum alam itu hancur berantakan tahun ini.

"...Akhirnya aku datang juga."

Aku bergumam pelan sambil berdiri di depan rumah Matsuri.

"………………"

Pada akhirnya, aku mengiyakan tawaran Matsuri yang memintaku datang menginap.

Tentu saja awalnya aku sempat ragu dan berpikir apakah menginap itu keputusan yang tepat, tapi aku tidak bisa berkutik saat Matsuri mendesakku dan bilang kalau dia kesepian dan ingin aku ada di sampingnya. Begitu lewat tengah hari, aku langsung berangkat dan akhirnya sampai di sini.

"...Gawat. Jantungku berdebar kencang sekali."

Padahal aku sudah sering mengalami hal-hal yang memacu jantung, tapi kalau urusannya menginap, ceritanya jadi lain.

Buktinya, saat aku menempelkan tangan di dada kiri, jantungku berdegup sangat kencang hingga terasa berisik... Sial! Rasanya aku bisa gila karena gugup, tapi di saat yang sama, aku tidak bisa memungkiri kalau ada bagian dari diriku yang merasa bersemangat membayangkan malam seperti apa yang akan kami lalui nanti.

Jujur saja! Saat ini, isi kepalaku hanya dipenuhi hal-hal mesum.

"...Tapi serius, panas sekali ya."

Tiba-tiba aku kembali sadar dan menyeka keringat yang mengalir di dahi.

Karena sudah masuk libur musim panas, berarti ini adalah puncak musim panas yang sesungguhnya. Beberapa hari terakhir ini, hampir tidak ada hari di mana aku tidak menyalakan AC.

Dalam perjalanan ke sini, punggungku juga sedikit berkeringat. Kuharap baunya tidak tercium, tapi sepertinya sudah terlambat untuk mencemaskan hal itu.

"Mari... kita berangkat!"

Aku membulatkan tekad dan menekan bel pintu.

Bagaimana kalau orang tua Matsuri yang muncul... Aku sempat memikirkan kemungkinan mustahil itu, tapi sepertinya kekhawatiran itu tidak perlu.

Terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru, dan sosok yang menampakkan wajah dari pintu depan tentu saja adalah Matsuri.

"Selamat datang, Kai-kun!"

"O-Oh... Aku datang berkunjung, begitu kiranya."

Ah... karena saking gugupnya, cara bicaraku jadi aneh.

Mungkin ekspresi wajahku juga kaku sekali, tapi Matsuri yang sepertinya sudah bisa membaca segalanya hanya terkekeh pelan. Dia menyentuh tanganku dengan lembut dan mengajakku masuk ke dalam rumah.

(...Erotis sekali.)

Penampilan Matsuri... Bukankah ini terlalu mesum?

Selain belahan dadanya yang montok, dia memakai kaus yang memperlihatkan pusarnya dengan berani... Terlebih lagi, tali bra yang dia kenakan di balik kaus itu terlihat jelas. Karena bawahannya adalah celana hot pants, keberadaan paha mulusnya benar-benar luar biasa.

(...Apa aku baru saja menjadi protagonis komik dewasa?)

Singkatnya, Matsuri terlihat persis seperti pahlawan wanita dalam komik dewasa. Seperti gyaru mesum yang menggoda sang protagonis... Pokoknya, pakaiannya begitu terbuka sampai membuatku berpikiran begitu.

Yah, mungkin ini gaya berpakaian terbaik untuk menghalau panasnya musim panas, tapi kalau dia berani keluar rumah dengan pakaian seperti ini, pasti ada banyak bajingan cabul yang akan mencoba menggodanya.

"...Fufu."

"A-Apa?"

"Bukan apa-apa~"

Tiba-tiba Matsuri berhenti dan menatapku sambil menyeringai.

Setiap kali Matsuri memasang wajah seperti itu, biasanya dia berniat menggodaku.

"Entah kenapa ya... aku bisa tahu, lho. Aku tidak tahu apakah ini karena kita sedang berpegangan tangan, tapi aku tahu apa yang sedang Kai-kun pikirkan."

"Apa yang kupikirkan?"

"Kamu berpikir kalau aku keluar dengan pakaian seperti ini, aku akan dalam masalah... Benar, kan?"

"!? "

Kenapa dia bisa tahu dengan begitu jelas... Tidak, ini juga bukan hal baru.

Matsuri, Saika, Emu... dan juga kakakku, intuisi mereka semua memang tajam sekali. Sebenarnya, hal seperti pikiran yang terbaca bukanlah sesuatu yang aneh di antara kami... Aku memang tidak bisa membaca pikiran mereka, tapi itu sama sekali bukan hal yang membuatku tidak nyaman.

"Tenang saja. Aku hanya memakai ini saat di rumah kok."

"Begitu ya... Kalau begitu syukurlah."

"Iya♪ Yang boleh melihatku dalam kondisi seperti ini hanya Kai-kun."

"………………"

Apakah hari ini aku akan terus-menerus dibuat deg-degan seperti ini ya?

Tapi debaran jantung ini terasa sangat menyenangkan, rasanya aku ingin segera menggunakan Rekan dan berbuat sesuka hati pada Matsuri yang sekarang. Aku ingin melakukan hal-hal mesum pada payudara besarnya yang kalau tidak diremas rasanya malah tidak sopan! Tapi... tapi menghabiskan waktu dengan Matsuri dalam kondisi sadar seperti ini juga sangat menyenangkan sampai-sampai aku tidak bisa menahannya.

"Kalau begitu, aku akan mengantar Kai-kun ke kamarku!"

Tanpa membuang waktu, aku pun dibawa menuju kamar pribadi Matsuri.

Di dalam ruangan terasa sejuk berkat AC, seolah meniup pergi rasa panas yang kurasakan di luar tadi.

Saat aku meletakkan tas di sudut ruangan, Matsuri melihatnya dan mengangguk puas.

"Hmm, hmm. Bagus, bagus."

"Apanya?"

"Kamu sudah menyiapkan perlengkapan menginap dengan benar ya."

"...Meskipun sudah terlambat untuk bertanya, tapi apa benar tidak apa-apa?"

"Tentu saja tidak apa-apa. Terima kasih ya sudah mau menuruti keegoisanku?"

Aku tidak berpikir dia akan menolakku setelah sampai di sini, tapi aku tetap merasa lega. Begitu aku duduk di atas bantal yang sudah disediakan, Matsuri juga duduk tepat di sampingku hingga bahu kami bersentuhan.

Dia terus menatapku dengan senyuman yang tidak pernah hilang, seolah dia sangat senang aku ada di sini... Bukannya canggung, tapi suasananya terasa agak asing bagiku.

"Hei, kamu gugup ya?"

"Eh? A-Ah..."

Dan sepertinya rasa gugupku itu tersampaikan dengan jelas pada Matsuri.

"Lemaskan tubuhmu. Ayo, kita coba ambil napas dalam-dalam."

"O-Oh... tarik... embus... tarik... embus..."

Aku mengikuti perintahnya dan perlahan-lahan mengambil napas dalam.

Bukannya tubuhku sedang tidak sehat, tapi entah kenapa Matsuri sampai mengelus punggungku karena khawatir... Masalahnya adalah, setiap kali aku menarik napas, aroma khas Matsuri yang sudah sering kucium masuk ke dalam tubuhku, membuatku merasa bahagia yang tak terlukiskan.

"Sudah tenang?"

"Ah... Terima kasih, Matsuri."

"Sama-sama. Ah... Kai-kun imut sekali ya♪"

"………………"

Ugh... Sedari tadi Matsuri terus memegang kendali.

Cara tercepat untuk merebut kembali kendali adalah dengan menggunakan kekuatan Rekan... Tapi, pada akhirnya aku cukup menikmati interaksi kami yang sekarang ini!

Sambil mengkhawatirkan apakah wajahku terlihat mesum atau tidak, Matsuri melakukan tindakan selanjutnya.

"Sebenarnya, aku tidak berniat pergi ke mana-mana hari ini. Aku hanya ingin bersantai berdua dengan Kai-kun. Belanjaan untuk makan malam juga sudah kusiapkan semua."

"Begitu ya..."

"Jadi mari kita bersantai sepuasnya. Kamu boleh rebahan juga kalau mau."

"Kalau begitu, aku pasti akan mengantuk."

"Memangnya kenapa? Ah, tapi kalau mau begitu, pasti akan lebih enak kalau aku berikan pangkuan!"

"O-Oi, Matsuri!?"

"Ayo ayo! Sini, Kai-kun!"

Tubuhku ditarik dengan kuat hingga aku dipaksa berbaring.

Begitu kepalaku diletakkan di atas paha yang lembut dan halus, pandanganku langsung tertutup oleh payudara besar Matsuri... Pemandangan yang luar biasa indah.

(Kalau melihat ke depan ada 'kantong payudara' yang agung, kalau melihat ke samping ada pusar yang imut... Fuh.)

Benar-benar... ini adalah momen yang terbaik.

Saat ini Matsuri dalam kondisi sadar, dan meskipun kami sudah sangat akrab, jarak ini benar-benar terlalu dekat... Ah!

Daripada mencemaskan hal itu, lebih baik aku menikmati situasi ini!

"Fun fun fun~♪"

Matsuri bergumam sambil bersenandung dengan riang.

"Wah... santai sekali ya."

"Iya, santai ya."

Aku merenung dalam hati betapa waktu bersantai seperti ini tidaklah buruk.

Omong-omong, aku selalu berpikir kenapa tidur di pangkuan itu terasa sangat enak? Bantal yang kupakai di rumah dipilihkan oleh kakakku, bantal yang cukup mahal agar rasa lelah hilang dan bisa tidur nyenyak, tapi tidur di pangkuan ini memberikan rasa nyaman yang tidak kalah dengan itu.

"Tidak apa-apa lho kalau mau tidur."

Maaf, Matsuri. Seperti yang kupikirkan tadi, aku sama sekali tidak merasa mengantuk... Begitulah pikiranku, namun tanpa sadar aku menyadari kalau cahaya senja sudah mulai masuk dari jendela.

Sepertinya aku benar-benar tertidur lelap.

"...Serius?"

"Kamu tidur nyenyak sekali ya."

Sepertinya aku tidur siang terlalu lama...

Sepertinya aku berada dalam posisi yang sama selama dua jam, apa Matsuri tidak merasa lelah?

"Anu... maaf, Matsuri."

"Eh? Kenapa minta maaf?"

"Yah, aku berada di posisi yang sama selama dua jam, kan? Sepertinya kamu sama sekali tidak bergerak agar aku tidak terbangun."

"Memang benar begitu, tapi aku merasa sangat senang bisa memberikan pangkuan untuk Kai-kun... lagipula."

"Lagipula?"

Matsuri menyeringai dan melanjutkan kata-katanya.

"Tahu tidak, Kai-kun sempat berguling ke arah sini beberapa kali. Kamu membenamkan wajah ke perutku, bahkan sampai meneteskan air liur... fufu♪"

"Apa!?"

Tunggu, tunggu!? Apa aku benar-benar melakukan hal itu saat tidur!?

Selain membenamkan wajah ke perutnya, aku bahkan sampai ngiler dengan nikmatnya... Memang terasa sangat enak sih! Tapi apa benar aku melakukan hal seperti itu saat sedang tidur!?

"Bukannya aku benar-benar harus minta maaf!? Pasti kotor, kan!?"

"Tidak kotor kok. Lagipula, mengingat betapa akrabnya kita berdua, hal seperti itu bukan masalah besar, kan?"

Anu... apa aku yang aneh ya?

Tapi karena Matsuri bilang begitu... kupikir meminta maaf terus-menerus juga tidak tepat, jadi lebih baik aku mengalihkan topik ini saja.

Baru saja aku berpikir begitu, Matsuri yang hendak berdiri tiba-tiba kehilangan keseimbangan.

"Ah..."

"Matsuri!?"

Aku mencoba menangkap Matsuri yang jatuh sambil tetap dalam posisi duduk, namun aku malah berakhir tertindih olehnya.

"Ugh... Matsuri!? Ada apa!?"

Punggungku sedikit terbentur lantai, tapi keselamatan Matsuri lebih penting.

Siapa pun orangnya, kalau tiba-tiba jatuh di depan mata pasti akan membuat terkejut, apalagi aku sangat mengkhawatirkan kalau terjadi sesuatu pada Matsuri.

"Ba-Bahaya, Kai-kun..."

"Ada apa!? Apa yang terjadi!?"

Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, Matsuri menunjuk ke arah kakinya.

"Ada apa dengan kakimu!?"

"Kesemutan..."

"Kesemutan... eh?"

"Kakiku kesemutan... karena terus-terusan memberimu pangkuan."

Kakinya... kesemutan?

Melihat Matsuri yang tertawa malu-malu, ketegangan di tubuhku langsung mengendur dalam artian positif.

Ternyata... bukannya dia sakit atau semacamnya.

Aku sempat panik karena dia tiba-tiba jatuh, tapi kalau dipikir-pikir, wajar saja kalau kakinya kesemutan setelah memberikan pangkuan dalam waktu yang lama.

"Apa kamu... tidak apa-apa? Benar-benar maaf ya."

"Uuh... padahal aku sudah berusaha agar tidak ketahuan."

Untuk sementara, mari kita biarkan begini sampai kesemutannya hilang.

Tentu saja aku merasa bersalah karena telah menyebabkan ini, tapi tiba-tiba muncul rasa jahil dalam diriku terhadap Matsuri.

Aku mengunci target pada kaki indahnya yang sepertinya masih sangat kesemutan, lalu mencoba menusuk-nusuknya dengan jari telunjuk.

"Fumyayaaaaaaaa!?"

Jeritan imut bergema di dalam ruangan, namun aku terus melanjutkan serangan tusukan jariku.

"Su-Sudah, Kai-kun!"

"Tusuk-tusuk... tusuk-tusuk."

"Fumyu!? Anh!?"

Mendengar jeritan yang merupakan perpaduan antara imut dan sensual itu, aku mulai merasa semakin asyik.

Pasti wajahku sekarang terlihat seperti penjahat, tapi biarpun begitu aku tetap mengincar untuk menjadi orang bejat... Eh, apa aku masih berambisi menjadi orang bejat?

...Yah, sudahlah, mari lanjutkan menjahili Matsuri!

"Tusuk-tusuk... tusuk-tusuk!"

"Ugh... unyanyanyanyanyaaaa~~!!"

Matsuri yang mengeluarkan suara seperti kucing karena berusaha menahan serangan tusukanku itu sangat imut.

Tapi saat aku sedang menjahili Matsuri seperti ini, tiba-tiba terlintas di benakku sosok gadis berambut perak yang pasti akan merajuk dan bertanya kenapa aku tidak melakukannya padanya juga. Tapi kalau aku melakukannya pada gadis itu, suasananya pasti akan langsung berubah menjadi sangat seksual.

"Tusuk-tusuk... tusuk-tusuk."

"………………"

Lho... Matsuri berhenti bersuara...?

Karena tidak ada reaksi, aku mulai merasa firasat buruk. Sambil gemetaran aku mengarahkan pandanganku ke arah Matsuri...

"Fufu... fufufufufufu!"

"Hiegh!?"

Dia sedang memasang senyuman yang sangat mengerikan!

Sepertinya kesemutan di kakinya sudah hilang. Matsuri yang telah mendapatkan kembali kebebasannya perlahan mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik pelan.

"Karena sudah melakukan kejahilan seperti itu, kamu sudah siap menerima balasannya, kan?"

"...I-Iya."

Matsuri berkata begitu, tapi setelahnya dia tidak melakukan sesuatu yang khusus padaku.

Namun setelah beberapa lama, aku bahkan sampai lupa kalau Matsuri mungkin sedang merencanakan sesuatu. Dia menyuruhku mandi duluan, jadi aku pun menikmati giliran mandi pertama.

"...Fuih~"

Mandi di rumah Matsuri... tentu saja aku merasa gugup, tapi rasa gugup itu luruh bersama sabun saat aku mencuci tubuh dan rambutku. Sekarang aku sedang bersantai di dalam bak mandi seperti bapak-bapak tua.

(Mandi di rumah anak perempuan ya... tak kusangka aku akan mengalami hal seperti ini.)

...Eh, omong-omong, aku sama sekali belum menggunakan Rekan pada Matsuri.

Meskipun aku ingin menghabiskan waktu dengannya dalam kondisi sadar, tapi melakukan hal sesuka hati menggunakan Rekan juga sulit untuk dilewatkan.

Baiklah, mumpung ada kesempatan, sayang sekali kalau tidak dilakukan... kan!

"Kai-kun, bagaimana suhu airnya?"

"!? A-Ah... sudah pas kok!"

Aku menjawab dengan terburu-buru suara Matsuri yang terdengar dari balik pintu.

"Begitu ya! Syukurlah!"

Setelah berkata begitu, Matsuri... apa yang dia lakukan?

Aku hanya bisa melihat sedikit bayangannya saja. Matsuri tidak pergi dari ruang ganti dan sedang melakukan sesuatu... Jangan-jangan!?

Tepat saat aku membuat satu prediksi yang kusangka tidak mungkin terjadi, pintu terbuka.

"Permisi ya~♪"

"Hah!?"

Melihat Matsuri muncul hanya dengan handuk yang melilit tubuhnya, aku langsung tersentak kaget sampai tubuhku terjengkang ke belakang.

"Tu-Tunggu, apa yang kamu lakukan!?"

"Memangnya kenapa? Aku pikir aku mau mandi bareng."

Matsuri mulai membasuh kepalanya dengan shower sambil memasang wajah seolah hal itu adalah sesuatu yang wajar.

"………………"

Tunggu, kenapa Matsuri terlihat santai sekali saat mandi!?

Meskipun aku sangat ingin merekam pemandangan luar biasa di depan mataku ini ke dalam ingatan, namun tubuhku secara alami bergerak seolah ingin segera keluar dari kamar mandi.

"Hei, tidak boleh kabur."

Namun, gerakan tubuhku dihentikan oleh suara Matsuri.

Padahal pandangannya tertutup karena sedang menggunakan shower, tapi sepertinya Matsuri tahu persis gerakan tubuhku.

"Tadi kamu sudah menjahiliku, kan? Sebagai balasannya, bukankah seharusnya kamu menerima saja untuk mandi bersamaku?"

Sepertinya ini adalah balasan untuk kejadian tadi.

Karena dia sudah bilang begitu, aku tidak punya pilihan selain menurut... Aku kembali merendam tubuh sampai bahu ke dalam bak mandi, dan berusaha tetap tenang sambil sebisa mungkin tidak melihat ke arah Matsuri.

Namun, sekeras apa pun aku berusaha untuk tidak melihat, pandanganku tetap saja terarah padanya.

Karena dia sedang membersihkan tubuh, tentu saja handuknya sudah dilepas, sehingga kulit cantik dan lekuk tubuh Matsuri yang memikat terlihat jelas olehku.

(Ooh... OOOH!!)

Matsuri sedang membuat busa sabun dan membersihkan tubuhnya dengan lembut menggunakan handuk kecil!

Seluruh tubuhnya dilumuri busa, rasanya benar-benar seperti melihat sebuah adegan dalam komik... UOOOOOH!?

Akhirnya dia mulai membersihkan dadanya!

Dari sudut pandang ini aku tidak bisa melihat seluruh bagiannya, tapi selain guncangannya yang mengikuti gerakan tangan Matsuri, dia juga memasukkan tangannya ke belahan dada dan juga bagian pangkal payudaranya—atau bagian bawahnya!?

Dia sedang membersihkannya dengan saksamaaaaa!




Rasanya seolah-olah aku menjadi seorang komentator siaran langsung, tapi yah, begitulah saking tingginya semangatku saat ini.

"……ugh!"

Sesaat, pangkal hidungku terasa panas sehingga aku buru-buru menutupinya dengan tangan.

Aku sempat khawatir kalau aku mimisan, tapi setelah melihat telapak tanganku tidak ternoda darah segar, aku pun merasa lega…… Namun tepat pada saat itu, Mari yang sudah selesai membersihkan diri masuk ke sebelahku.

"Aku masuk juga ya~"

"O-oh……"

Dengan bunyi kecipak air yang lembut, Mari duduk di bak mandi tepat di hadapanku.

Rasanya cukup memalukan dipandangi dari depan seperti ini, tapi tidak ada jalan keluar di dalam bak mandi ini……

"……Ehehe♪"

"Ugh……"

Mari tersenyum riang, dan aku pun menurunkan pandanganku untuk menghindari tatapannya.

Namun, apa yang terjadi jika aku menurunkan pandangan dalam situasi seperti ini…… yang masuk ke bidang penglihatanku adalah dada besar Mari yang mengapung di atas air.

Aku pernah dengar kalau payudara besar itu punya berat yang lumayan, tapi tampaknya memang benar kalau mereka bisa mengapung di air.

"Hei, Kai-kun."

"……Ya?"

"Sekali lagi, terima kasih buat hari ini ya. Berkat kamu, aku sama sekali nggak merasa kesepian."

"A-ah…… aku juga sama kok, aku merasa senang banget menghabiskan waktu hari ini."

"Benarkah? Kalau begitu aku senang, deh."

Aku sudah tidak tahu lagi harus bicara apa, tapi perasaan senang itu memang tulus dari lubuk hatiku.

Lagipula, aku merasa bahagia karena dia mengandalkanku saat merasa kesepian, dan aku merasa bangga karena keberadaanku menjadi sesuatu yang besar bagi Mari.

"Ini adalah kenakalanku, tapi apa kamu menyukainya?"

Mari berucap demikian sambil meletakkan tangannya dengan lembut di kakiku. Ini sih bukan sekadar kenakalan lagi, tapi sudah level hadiah…… Tapi tunggu, tangan Mari yang mengelus kakiku pelan itu terasa sedikit sensual, lho!?

Ngomong-ngomong, uap yang mengambang di sekitar kami tidak sampai menghalangi pandangan, tapi berkat garam mandi, bagian dalam air hampir tidak terlihat.

"Kai-kun kan laki-laki juga, ya? Pasti senang, kan? ♪"

"……I-iya."

Di sini aku sebaiknya jujur saja dan mengangguk. Tampaknya Mari puas dengan jawabanku, karena dia kemudian menggenggam tanganku dengan lembut.

"Aku rasa mandi itu momen di mana kita paling bisa melepas penat. Soalnya, kita membasuh semua kelelahan hari itu."

"Begitu…… ya."

"Kai-kun, apa kamu suka mandi?"

"Aku……"

Apakah aku suka mandi atau tidak…… aku tidak pernah benar-benar memikirkannya.

Sejak dulu, aku selalu disuruh masuk kalau air mandi sudah siap, dan kalaupun aku sedang sendirian, kegiatan mandi sudah menjadi hal yang lumrah, jadi rasanya lebih seperti rutinitas atau kewajiban.

Tapi yah, aku suka membersihkan tubuh dan berendam dengan nyaman di bak mandi…… Kalau begitu, kurasa itu artinya aku suka.

"Yah…… mungkin aku suka? Rasanya nyaman juga."

"Kan! Mandi itu emang rasanya paling mantap, ya!"

Sepertinya itu jawaban yang dicari oleh Mari.

"Soal mandi itu,"

"Ya?"

"Kadang persiapan sebelum masuknya terasa merepotkan, tapi begitu sudah masuk, kita nggak akan pernah menyesal, kan?"

"Itu benar banget…… dalam juga ya maknanya."

Ngomong-ngomong, itu sebenarnya kata-kata yang aku dengar dari kakak perempuanku.

Persis seperti kata Mari yang bilang itu bermakna dalam, saat kakakku mengatakannya dulu, aku pun bergumam dalam hati betapa dalamnya hal itu.

"Omong-omong, Kai-kun tahu nggak?"

"Tahu apa?"

"Lihat nih."

Sambil berkata begitu, Mari sedikit melengkungkan tubuhnya ke belakang. Karena posisinya menjadi seperti membusungkan dada, dua bola lembut yang mengapung di atas air itu…… Payudara!?

"Woi, apa yang kamu lakukan!"

"Bukankah sudah terlambat buat malu? Lihat nih, lihat~"

Meskipun dia tidak mengatakannya, dia seolah-olah menyuruhku untuk melihat lebih banyak lagi.

"Dada anak perempuan itu mengapung seperti ini, lho~?"

Dengan nada suara yang ceria, Mari menggerakkan tubuhnya dan mengguncang permukaan air.

Tepat saat aku tidak bisa melepaskan pandangan dari dada besarnya yang bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya, tiba-tiba Mari mulai panik.

"Tu-tunggu, Kai-kun! Mimisan! Kamu mimisan!"

"……Hah?"

Tampaknya tubuhku sudah mencapai batasnya lebih dulu. Karena tidak mungkin aku membiarkan bak mandi berubah menjadi merah pekat, aku buru-buru mengungsi ke ruang ganti.

Mari mengikutiku seolah mengejar, tapi tentu saja karena dia benar-benar telanjang, bagian-bagian penting atas dan bawahnya terlihat jelas.

"!? "

"Wah wah!? Pendarahan hebat!?"

Meskipun kepalaku sudah mulai terbiasa, sepertinya tubuhku tetap tidak bisa berkompromi…… Ya.

Setelah menyumbat hidungku dengan banyak tisu, aku pun berkata pada Mari dengan ketenangan hati layaknya seorang Buddha.

"Mari-san…… aku memang berpikir kalau ini sebuah keberuntungan, tapi…… jujur saja, rangsangannya terlalu kuat."

"Ugh…… tapi, kamu senang, kan?"

"……Tentu saja."

Yah, tidak akan ada laki-laki yang tidak senang dengan pengalaman seperti itu, sudah pasti.

Setelah itu, karena dia bilang aku harus istirahat karena mimisan, semua persiapan makan malam dilakukan oleh Mari.

"Itu…… karena aku terlalu semangat, isinya jadi gorengan semua!"

"Nggak apa-apa, ini kelihatan enak banget kok!"

Sebagian besar masakan yang berjejer di meja memang gorengan, tapi semuanya terlihat lezat. Tentu saja bukan hanya gorengan, dia juga membuat sup miso dan salad, jadi rasanya keseimbangannya cukup bagus.

Satu hal yang pasti, semuanya adalah makanan favoritku.

"Selamat makan!"

"Silakan dinikmati♪"

Tentu saja aku melahap semuanya tanpa sisa. Setelah itu, aku membantu membereskan piring-piring, dan sisanya tinggal tidur saja, tapi…… sepertinya aku akan tidur di kamar Mari.

"Tidur di kamar yang sama dengan teman sekelas perempuan…… tidak mungkin tidak terjadi apa-apa, kan?"

Situasi ini benar-benar terasa sangat mendukung sampai-sampai aku berpikir begitu.

"………………"

Gawat…… jantungku berdegup kencang bukan main.

Dalam kondisi seperti itu, aku menunggu beberapa menit sampai Mari kembali dari kamar mandi.

Dia muncul kembali dengan piyama pink yang imut. Aku mencoba untuk tidak memperhatikannya, tapi Mari melepas kancing di bagian dadanya seolah itu hal biasa…… Yah, dengan ukuran sebesar itu, mungkin memang sudah sewajarnya kancingnya dilepas agar tidak sesak.

"Maaf membuatmu menunggu."

"Ah, ya."

"………………"

"………………"

Kami saling menatap dalam diam untuk beberapa saat, tapi jantungku masih saja berisik. Untuk menghilangkan suasana ini, sekaligus berpikir tidak ada salahnya memanfaatkan situasi ini, aku mengambil ponselku dan mengaktifkan 'sang partner'.

"Hypnosis!"

Baiklah…… kalau begitu, izinkan aku melakukan sesukaku!

Meskipun aku ingin menghabiskan waktu dengan Mari dalam kondisi aslinya, tetap saja ini adalah identitas utamaku. Jika ada mangsa di depan mata, akan tidak sopan jika tidak menyantapnya!

"Kai-kun…… ada apa? Kenapa kamu bergaya begitu?"

"……Eh?"

Gaya itu karena aku sedang bersemangat, tapi…… lho?

"……Eh?"

"Kai-kun?"

Mari…… tidak terkena hipnotis?

Tatapannya bukan tatapan kosong khas saat terhipnotis, melainkan mata yang mempertahankan kesadaran penuh…… lhooo?

"Apa yang……"

Karena kejadian mendadak ini, aku segera memeriksa layar ponselku. Si partner sudah aktif…… seharusnya sudah aktif, tapi Mari tidak dalam kondisi terhipnotis…… Ini pertama kalinya hal seperti ini terjadi.

"Apa yang terjadi…… Hypnosis!"

Meskipun Mari yang asli ada di depanku, aku tidak punya ruang untuk memedulikannya. Ada apa denganmu, partner…… apa yang terjadi padamu!?

"Kenapa……"

"………………"

"……Mari?"

Dan tiba-tiba, aku menyadari Mari menjadi diam. Saat aku melihatnya sambil berpikir 'mungkinkah', dia sudah dalam kondisi terhipnotis, menunjukkan bahwa kekuatan sang partner telah aktif dengan benar.

"……Apa yang sebenarnya terjadi?"

……Ada hal yang membuatku penasaran, tapi kalau sudah mempan, ya sudahlah. Seolah sudah tahu apa yang ingin kulakukan, Mari duduk di tempat itu dan merentangkan tangannya seolah mengajakku mendekat.

"Haha! Kalau begitu, izinkan aku menyerbuuu!"

Meskipun aku bilang menyerbu, aku memeluk dan menjatuhkannya dengan lembut. Aku membenamkan wajahku di celah dadanya yang lembut, menikmati elastisitas dan aromanya sepuas hati…… Ini benar-benar tindakan bejat dan sesat.

Tentu saja Mari tidak menolakku, dia justru mengelus kepalaku dengan lembut.

"Kamu benar-benar suka ya sama dadaku."

"Suka banget! Lagipula Mari, melepas kancing itu kan curang. Kalau aku nggak menyentuhnya, rasanya malah tidak sopan."

"Rasanya nggak jauh beda sama waktu pakai seragam, sih."

"Tetap saja!"

Tapi serius deh…… aku memang ingin melakukan ini setidaknya sekali sehari. Aku membiarkan diriku tenggelam dalam sensasi luar biasa yang tidak pernah membosankan ini, menikmati kebahagiaan saat didekap oleh seluruh keberadaan Mari.

"……Sip, segini saja cukup."

Melakukan ini memang menyenangkan, tapi sepertinya aku lebih bisa menemukan kesenangan dengan menghabiskan waktu bersama Mari yang asli untuk saat ini, jadi aku melepaskan kekuatan sang partner.

Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, Mari kembali normal dan duduk di sampingku.

"Waktu yang menyenangkan itu berlalu cepat banget ya…… sudah malam saja."

"Iya ya, banyak hal yang terjadi hari ini."

Banyak hal terjadi…… benar-benar banyak hal. Sepertinya aku dan Mari memikirkan hal yang sama; entah siapa yang memulai, wajah kami memerah secara bersamaan tapi kemudian kami tertawa bersama.

Lalu, Mari terdiam sambil menatapku lekat-lekat.

Pada saat itu, suasana berubah total, dan aku tidak bisa mengalihkan pandangan dari Mari sedikit pun…… Saking merahnya pipi Mari saat menatapku, aku merasa dia sangat imut dan cantik.

"Kai-kun."

"Apa……?"

"Aku ingin lebih mesra lagi…… ingin lebih merasakan Kai-kun."

Sambil berkata begitu, Mari bersandar padaku. Agresivitasnya sampai membuatku berhalusinasi apakah dia masih terhipnotis, tapi Mari yang sekarang pastinya dalam kondisi sadar.

"Aku juga ingin dipeluk oleh Kai-kun, lho?"

"O-oh…… oke."

Sesuai permintaannya, aku memeluk Mari dengan kedua tanganku. Aku tidak tahu kenapa bisa jadi begini, tapi situasi di mana aku memeluk erat sambil dipeluk balik ini memberikan rasa aman dan kepuasan yang luar biasa.

"Mari……"

"Kai-kun……"

Kami saling memanggil nama, tapi hanya itu…… benar-benar hanya itu. Tanpa membicarakan topik apa pun, tanpa mengalihkan pandangan ke mana pun…… aku hanya terus memeluk Mari, dan waktu berlalu begitu saja saat dia terus memelukku.

Di tengah keheningan yang berlanjut, Mari menjauhkan tubuhnya. Aku merasa kesepian saat kehangatan yang kurasakan di dada tadi menghilang, tapi Mari menggenggam tangan kiriku…… dan menekannya ke dadanya sendiri.

"Mari……?"

"………………"

Mari yang pipinya memerah tidak mengatakan apa pun, dia hanya menatapku lagi. Suasana apa ini…… aura apa ini…… tapi saat ini, aku benar-benar merasa terdorong oleh suasana ini.

Karena ingin merasakan elastisitas yang merambat di telapak tanganku lebih dalam, aku memberikan tenaga pada jari-jariku.

"Nngh……♪"

Kelima jariku masing-masing tenggelam ke dalam daging yang empuk itu. Sensasi yang ditangkap jari-jariku bukan hanya kelembutan; saat jariku menyentuh bagian yang sedikit keras dan menonjol, tubuh Mari tersentak gemetar.

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika lebih dari ini. Tetap saja, karena Mari memelukku dengan melingkarkan kakinya di pinggangku, sepertinya aku tidak akan bisa lepas sama sekali.

"……ugh."

Dalam situasi seperti ini, mustahil bagi laki-laki untuk tidak bergairah. Apalagi karena Mari menggerakkan pinggangnya sedikit demi sedikit seolah sengaja, rangsangannya merambat ke bagian bawah tubuhku…… Dan, perubahan yang terjadi karena gairah itu disadari oleh Mari.

"Kai-kun…… kamu jadi keras, ya?"

Bisikan di telingaku itu membuat giliranku yang gemetar. Sambil mengarahkan tatapan yang jauh lebih panas dari sebelumnya, Mari mendekatkan wajahnya…… Dan tepat saat wajah kami hampir bersentuhan.

"!? "

"Apa!?"

Terdengar suara 'brak' yang keras dari luar. Suara itu cukup untuk mengembalikan kesadaran kami, dan secara refleks kami berdua menjauh satu sama lain.

"E-eh……"

"A-ahaha……"

Gawat…… suasananya benar-benar hancur lebuuur!

Tapi…… tapi tapi tapi! Kalau saja tadi tidak ada gangguan…… apa yang akan terjadi pada kami!? Jangan-jangan aku…… bisa melepas masa perjaka!?

……Eh bukan begitu, tenang dulu diriku!

"Kai-kun!?"

Mari berseru kaget melihatku menepuk kedua pipiku sendiri dengan keras. Benar…… saat ini, ada hal yang harus aku lakukan dulu…… menenangkan diri juga penting, sih.

"Aku keluar sebentar. Mau memastikan suara tadi."

"Eh?"

Sambil berkata begitu, aku berdiri. Masalahnya, suara tadi cukup keras dan jelas-jelas terdengar seperti suara sesuatu yang jatuh, dan kalau aku memasang telinga, masih ada suara-suara yang terdengar dari luar.

"Yah…… kurasa nggak akan ada hal yang aneh-aneh, sih."

Pencuri atau semacamnya…… kurasa tidak mungkin, tapi mari kita pastikan. Berbeda dari pola pikirku yang tadi, sekarang aku hanya berpikir ingin melindungi Mari jika terjadi sesuatu. Tentu saja aku tidak akan keluar sembarangan tanpa persiapan, tapi aku merasa tidak tenang kalau tidak mencari tahu identitas suara itu.

"Tunggu Kai-kun! Aku juga mau ikut di sampingmu!"

"Nggak, biar aku saja──"

Aku baru mau bilang biar aku saja, tapi Mari yang memeluk lenganku sepertinya tidak mau lepas.

"Jangan jauh-jauh dariku ya, Mari."

"A…… iya."

Sambil berpikir apakah aku terlalu berlagak keren, kami turun ke lantai satu. Semua pintu masuk katanya sudah dikunci, tapi suara yang terus terdengar itu terus menebarkan kesan mistis.

"……Kai-kun, kamu nggak takut?"

"Aku merasa ini aneh, tapi nggak takut sih. Karena ada Mari, aku malah jadi berani karena berpikir harus melindungimu kalau ada apa-apa."

Aduh, aku berlagak keren lagi. Tapi berkat itu, Mari yang tadinya terlihat cemas jadi tersenyum, jadi baguslah.

"Suaranya dari sini ya."

Sumber suaranya adalah taman…… sepertinya bisa dilihat dari jendela ruang tamu. Saat aku mengintip dari celah gorden, aku bertemu pandang dengan mata kecil yang berkilat tajam, tapi ternyata identitas suara itu──adalah seekor kucing.

"Ku-kucing……?"

"Ah…… ternyata cuma kucing ya."

Aku sempat berpikir untuk menggunakan sang partner kalau-kalau itu pencuri, tapi karena ternyata cuma kucing, aku tidak perlu melakukannya. Saat aku bertepuk tangan pelan dari balik jendela, kucing itu tersentak kaget dan lari menjauh.

Setelah kucing itu pergi, suara-suara tadi benar-benar hilang, dan Mari di sampingku menghela napas lega.

"Untung cuma kucing…… kalau orang pasti seram banget."

"Yah, kalau orang sih sudah jadi kasus kriminal. Baiklah, ayo kembali ke kamar."

"Iya!"

Dengan begini harusnya bisa tidur dengan tenang…… tapi.

"Maaf, aku pinjam toilet sebentar ya."

"Ah, iya. Sampai nanti."

Aku membiarkan Mari pergi ke kamar duluan, dan sekali lagi aku memasang telinga. ……Sip, sepertinya benar-benar sudah aman.

"Aku kembali."

"Selamat datang kembali~…… sudah mau tidur?"

"Iya…… sepertinya aku sudah mengantuk."

Meskipun aku jadi malu saat mengingat apa yang kami lakukan tadi, tapi rasa kantuk ini memang nyata. Malam kita baru saja dimulai! Aku merasa masih bisa bersikap energik begitu, tapi kalau aku lengah sedikit saja, sepertinya aku bisa langsung berangkat ke dunia mimpi saking mengantuknya.

"Kalau begitu, aku juga bakal tidur di sebelahmu ya."

"Tempat tidurnya?"

"Kamu pikir buat apa aku menyiapkan dua kasur lantai?"

"I-iya juga ya……"

Jadi…… aku pun tidur bersama Mari. Menyadari keberadaan gadis gal berdada besar yang berbaring tepat di sebelahku, anehnya aku malah merasa tenang alih-alih bergairah. Kalau dipikir-pikir, menghabiskan malam bersama seperti ini baru pertama kali lagi sejak dengan kakakku…… ini bukan pengalaman yang biasa terjadi, tapi ternyata berada di samping seseorang itu memberikan rasa aman yang luar biasa ya.

"Mari, kamu sudah tidur?"

"Belum kok."

"Begini ya…… selama ini aku kan biasanya tidur sendirian di malam hari. Tapi aku jadi ingat lagi kalau tidur bersama seseorang itu ternyata bikin tenang."

"Fufu, kamu memikirkan hal yang sama denganku, ya."

Tampaknya Mari juga memikirkan hal yang sama. Merasa tenang dengan Mari yang berada dalam jarak jangkauan tangan berarti aku sudah benar-benar membuka hati padanya.

Saat pergi ke kolam renang, aku bilang pada mereka bahwa aku ingin terus bersama mereka selamanya…… dan mereka pun mengatakan hal yang sama.

"……?"

"……Ehehe♪"

Tiba-tiba, aku mengalihkan pandangan padanya. Mari sedang menatapku lekat-lekat, dan dia tersenyum senang karena mata kami bertemu…… Manis banget sih, sialan.

Saat diperlihatkan senyum seperti itu, aku jadi terpana dan tidak bisa memalingkan muka. Tapi aku merasa senang karena aku terpantul di matanya…… itu pasti karena aku menyukai Mari.

(Suka…… ya.)

Suka…… tentu saja suka dalam artian romantis. Tapi itu adalah hal yang sudah jelas sejak lama…… bahkan sebelum aku bilang ingin bersama Mari dan yang lainnya, aku sudah menyukai mereka dan ingin terus bersama selamanya.

Hanya saja, fakta bahwa wajah Saika dan Emu juga terlintas di benakku selain Mari membuatku merasa agak tidak punya pendirian atau bahkan merasa diriku ini payah.

"Kai-kun."

"Ada apa?"

"Boleh aku lebih mendekat ke sana?"

"……Silakan."

"Terima kasih♪"

Keluar dari kasurnya sendiri, Mari menyusup masuk ke kasurku. Jaraknya bukan lagi sekadar bahu yang bersentuhan, tapi wajah Mari begitu dekat sampai hembusan napasnya terasa di pipiku.

"Gimana ya…… rasanya tenang banget."

"Benarkah? Itu juga sama denganku♪"

Dan terlebih lagi, Mari menempelkan tubuhnya padaku. Dekat…… ini terlalu dekat, tahu!

Aku ingin meneriakkan itu keras-keras, tapi karena aku merasa akan sayang sekali jika Mari menjauh, akhirnya aku tidak mengatakan apa pun. Aku tersipu…… aku malu. Namun, perasaan yang mendominasi hatiku melebihi emosi apa pun adalah kedamaian yang dibawa oleh keberadaan Mari di sampingku.

"……Ka-Kai-kun……!"

Maaf, Mari. Untuk hari ini, cukup sampai di sini saja…… selamat tidur.

◆◇◆

"……Ka-Kai-kun……!"

Sambil mengumpulkan keberanian dari kehangatan dia──Kai-kun──yang kurasakan di sebelahku, aku mencoba mengucapkan kata-kata yang ingin kusampaikan…… padahal sudah mau kuucapkan……!!

"Zzz…… zzz…… munya munya."

"……Malah tidur, ih!"

Tentu saja aku tidak berteriak keras, aku hanya membenamkan wajah ke bantal dan berteriak kecil.

"……Uuu."

Senyum Kai-kun…… imut banget. Padahal harusnya aku merasa kesal karena dia malah tidur, tapi melihat wajah tidur Kai-kun yang damai tepat di sebelahku…… hanya dengan begitu saja hatiku terasa hangat, dan aku merasa diriku ini memang sederhana sekali.

"Kai-kun…… nggak mau menyentuhku ya."

Sambil mencolek-colek pipi Kai-kun yang tertidur, aku menggumamkan keluhan itu. Padahal di sebelahnya ada anak perempuan yang imut dan menggoda secara seksi begini, tapi Kai-kun malah nggak menyentuhku!

"Tapi…… ehehe♪"

Tentu saja ada sedikit rasa tidak puas, tapi ini adalah waktu yang lebih dari sekadar membahagiakan. Buktinya, kalau aku lengah sedikit saja pipiku akan mengendur dan aku nggak bisa mengatur ekspresi wajahku. Kalau teman-temanku lihat, mereka pasti bakal bilang 'kamu lagi membayangkan apa sih', saking anehnya wajahku sekarang, menurutku.

"Mufufu…… aku ingat-ingat lagi kejadian hari ini, ah."

Lagipula aku nggak bisa tidur karena terlalu bersemangat, jadi mendingan aku ingat-ingat lagi kejadian hari ini…… termasuk hal-hal seksi itu. Dipangku oleh Kai-kun, menyajikan makan malam untuknya…… aku sangat senang karena dia menyukai semuanya, tapi yang lebih terukir di ingatanku adalah kejadian di kamar mandi dan tadi…… saat kami berpelukan.

"Nngh…… daripada soal mandi, kejadian tadi itu…… kalau tadi nggak ada gangguan kucing, bakal jadi gimana ya…… waaaaaaaaaaaaaa!!"

Di kamar mandi juga hebat…… tapi lebih dari itu, saat kami berpelukan tadi itu benar-benar luar biasa!

"Aaah…… tubuhku jadi panas lagi."

Hanya dengan berpelukan saja rasanya nggak cukup, jadi aku menuntun tangan Kai-kun ke dadaku. Padahal hanya dengan tangannya menyentuhku saja hatiku sudah terpenuhi, tapi begitu diremas pelan saja tubuhku langsung gemetar tersentak, dan perasaan sukapada Kai-kun seolah meluap nggak terbendung lagi…… nggak, emang nggak bisa dihentikan.

Keinginan yang meluap seperti arus deras itu mencari Kai-kun. Aku ingin melakukan lebih banyak hal lagi…… ingin lebih banyak bersentuhan dengannya…… ingin lebih banyak mengukir dirinya ke dalam tubuh ini.

Saat aku berpikir begitu, Kai-kun memberikan rangsangan pada bagian dadaku yang mengeras…… meskipun hanya rangsangan ringan, rangsangan dari Kai-kun itu langsung menjalar ke seluruh tubuhku, sampai-sampai pakaian dalamku sedikit lembap……!

"Sensasi itu…… aku suka…… nggak bisa lupa…… rasanya enak banget♪"

Gawat nih…… kalau mengingat itu, tubuhku makin panas. Di samping Kai-kun yang sedang tidur nyenyak, aku mencoba melakukan hal yang benar-benar nggak boleh dilakukan…… nggak, aku sedang melakukannya.

"Wah…… basah banget."

Gara-gara disentuh Kai-kun, pakaian dalam yang tadinya cuma sedikit lembap sekarang sudah basah kuyup. Itu menunjukkan kalau tubuhku sedang sangat bergairah…… dan aku sedang menghibur tubuhku sendiri karena menginginkan Kai-kun. Tangan kiriku di dada, tangan kananku di selangkangan…… meskipun pelan, tapi semakin aku menggerakkannya, rasanya semakin enak dan membuat perasaan bahagia meluap-luap.

"Nngh…… mungkin rasanya lebih enak dari biasanya……!"

Tentu saja…… soalnya ada Kai-kun di sampingku.

"……Uuun? Sup…… sirip hiu…… munya."

"!? "

Aku nggak tahu apa maksudnya, tapi aku tersentak kaget karena igauannya yang sangat spesifik itu. Kai-kun……? Igauan macam apa itu…… mimpi apa sih kamu? Daripada memimpikan aku, kamu malah lebih pilih sup sirip hiu!?

"Benar-benar ya Kai-kun ini…… dasar!"

Saking gemasnya karena merasa dipermainkan, aku mencolek pipinya lagi. Tapi aku lupa satu hal…… jari-jariku sedang basah, dan pipi Kai-kun jadi basah kuyup gara-gara jariku.

"A-aduh…… wah."

Aku segera menyekanya pelan dengan tisu. Karena kejadian barusan aku jadi benar-benar tenang, lalu aku merapikan piyamaku yang berantakan dan menatap wajah tidur Kai-kun dari samping.

"………………"

Hal yang aku pikirkan soal Kai-kun bukan cuma hal-hal mesum saja. Meskipun penyebab suaranya ternyata kucing, tapi sosok Kai-kun yang mencoba keluar kamar untuk memastikan identitas suara itu benar-benar keren banget. Dengan ekspresi gagah, dia mencoba melindungiku…… padahal Kai-kun pasti punya rasa takut juga, ya.

"Aku merasa seperti menjadi seorang putri, lho."

Begitulah besarnya kepercayaanku pada Kai-kun, dan betapa tenangnya aku saat ada dia.

Aku selalu berpikir, seberapa besar sih rasa suka dan sayangku pada Kai-kun. Tapi itu bukan cuma aku saja, Saika dan Emu-chan juga begitu, kan.

Kai-kun itu laki-laki yang penuh dosa, ya? Bisa-bisanya membuat kami tergila-gila seperti ini…… benar-benar laki-laki penuh dosa!

"Tapi…… aku jadi jatuh cinta setengah mati sama laki-laki itu…… baik di dunia nyata saat ada Kai-kun di sini, maupun di ruang mimpi yang seperti mimpi itu……"

Aku masih belum tahu identitas mimpi bahagia yang sesekali aku lihat itu. Mimpi itu membawa kebahagiaan dan sosok Kai-kun yang imut…… kalau boleh berharap, aku ingin terus terhanyut dalam mimpi itu.

"……Nggak, bukan begitu."

Aku menggelengkan kepala seolah meralat pemikiranku. Aku memang suka sekali saat Kai-kun bersikap manja di mimpi itu, tapi aku tetap jauh lebih suka menghabiskan waktu bersama Kai-kun di dunia nyata seperti ini.

"Aku bakal nempel banget-banget, ah."

Padahal sekarang pun jaraknya sudah cukup dekat, tapi aku bakal lebih mendekat lagi.

Hari ini cuma ada aku dan Kai-kun…… di sekitar nggak ada siapa pun, ruang di mana cuma ada kami berdua tanpa ada yang mengganggu.

"……Kai-kuuun♪"

Aku menempel erat pada Kai-kun yang sedang tidur. Karena ini musim panas, biasanya kalau menempel begini bakal panas, tapi malam ini sangat sejuk jadi nggak terasa sesak. Oh iya, ini adalah kenakalan kecil dariku, lho♪

Kira-kira apa ya yang bakal dipikirkan Kai-kun besok pagi saat dia bangun dan melihatku ada di sampingnya seperti ini?

Apa dia bakal kaget dan berteriak keras?

Apa dia bakal tetap diam sambil terkejut?

Apa dia bakal membangunkanku dengan lembut seperti seorang pangeran?

Apa dia bakal melakukan kenakalan seksi sesuka hatinya padaku yang sedang tidur? Atau…… atau Kai-kun bakal melakukan sesuatu yang nggak aku bayangkan?

"……Fufu, jadi nggak sabar, deh."

Nah Kai-kun, apa yang bakal kamu lakukan padaku!? Sambil memendam harapan itu di dalam hati, aku memejamkan mata sambil merasakan keberadaan Kai-kun.

◆◇◆

Ngomong-ngomong, apa yang terjadi keesokan paginya adalah……

"Hah…… hah…… fyuuh…… aku pikir aku bakal mati tadi……!"

"A-ahaha…… maaf, Kai-kun!"

Aku yang masih mengantuk memeluk wajah Kai-kun yang sedang tidur ke dadaku, dan hampir saja membuatnya mati lemas.

Aduh…… mohon maaf ya…… ehehe.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close