NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Te ni Ireta Saimin Appli de Yume no Harem Seikatsu o Okuritai Volume 4 Chapter 3

Chapter 3

Emu Datang ke Rumahku, Bro!


"Hei, Ibu, bagaimana menurutmu?"

"Yah... sepertinya ada sesuatu yang baik yang terjadi, ya?"

"Yah, kurasa juga begitu. Kira-kira, apa yang sudah dilakukan adik laki-lakiku ini, ya?"

"Dia sudah cukup umur, jangan terlalu banyak bertanya."

"Iya, iya~"

 "........"

Berisik, ah...! Sejak tadi, tatapan kakak dan ibuku yang terus menatapku sambil nyengir itu terasa hangat-hangat kuku dan sangat menyebalkan!?

"Jangan menatapnya seperti itu. Kai juga pasti punya satu atau dua hal yang ingin dia rahasiakan, kan?"

 "A, Ayah...!"

My Father!!

Aku benar-benar terharu karena Ayah membelaku. Meski pada dasarnya kekuasaan di rumah ini dipegang Ibu dan Kakak, Ayah adalah tiang penyangga rumah sekaligus bos kami, jadi wajar saja kalau dia memihakku seperti ini, kan!?

"Berisik, Ayah."

"...... Baik."

Ayah!?

Kalau Ibu yang mengatakannya sih masih mending, tapi kenapa Ayah langsung ciut saat ditekan oleh Kakak... tidak, aku sudah tahu sih!

Aku tahu kalau para wanita di rumah kami terlalu kuat dan kami ini tidak berdaya!!

"Ayah... payah banget."

"Benar sekali."

"Ugh..."

Ibu mengangguk setuju dengan ucapanku, membuat Ayah menerima kerusakan tambahan.

Reaksinya seolah-olah ada panah yang menancap di dadanya, tapi yah, karena akan merepotkan jika mereka terus mendesakku, lebih baik aku mengatakannya saja secara tersirat.

"Yah, ada kejadian yang menyenangkan kok. Sama teman."

"Oh, begitu ya."

"...... Hmmm?"

Ibu yang tampak puas sih tidak masalah, tapi kenapa Kakak malah terlihat curiga?

Seolah melarikan diri dari tatapan Kakak yang menyipitkan mata, aku segera menghabiskan sarapan dan kembali ke kamar.

"...... Fuhe... fuhehehehe."

Gawat... ini benar-benar gawat. Aku berpikir begitu, tapi aku tidak bisa menahan sudut bibirku yang melonggar, dan sekat hidungku pun ikut memanjang seolah membuktikan kalau aku sedang memikirkan hal-hal mesum... wajahku yang terpantul di cermin terlihat sangat buruk rupa.

Penyebab aku menjadi seperti ini adalah kejadian bersama Matsuri. Itu karena aku terus memikirkan kejadian di kamar mandi, sebelum tidur, hingga saat bangun pagi.

Malam saat aku menginap... jika tidak ada keributan kucing itu, apa yang akan terjadi padaku dan Matsuri? Aku tidak bisa tidak memikirkannya.

"Lagipula... aku memang tidak ingin mati, tapi jika mati seperti itu, mungkin itu adalah impianku?"

Puncaknya adalah saat bangun pagi. Di tengah sesak yang seolah-olah membuatku tenggelam di dalam air, perlahan-lahan aroma manis dan elastisitas lembut membuatku merasa nyaman... itu benar-benar mengundangku ke surga.

"Jika bisa mati di dalam pelukan dada Matsuri, maka itu tidak bisa dihindari... atau semacamnya."

Mengesampingkan lelucon itu, aku mengambil ponsel dan mengaktifkan Partner.

Layar menampilkan diagram korelasi yang akhirnya terlihat seluruh gambarannya. Benang hitam yang mengancamku beberapa waktu lalu telah sepenuhnya lenyap, dan sekarang hanya ada benang merah muda yang menjulur ke namaku.

Benang merah muda dari Matsuri, Saika, dan Emu... bukti dari rasa suka.

"Hei, Partner... ini berarti warna Matsuri dan yang lainnya terlalu kuat, sehingga tidak ada celah bagi warna hitam untuk masuk, kan?"

Jawabannya tentu saja... tidak ada. Aku tidak merasa kecewa akan hal itu, lalu meletakkan ponsel di samping dan menatap langit-langit dengan diam.

"...... Fuwah."

Bersamaan dengan menguap yang tidak tertahankan, rasa kantuk yang hebat menyerang.

 Ngomong-ngomong, semalam aku tidur larut karena terlalu bersemangat, dan karena aku bangun mengikuti waktu sarapan keluarga, waktu tidurku tentu saja sedikit.

"Tidur lagi, ah... mumpung liburan musim panas!"

Apa gunanya liburan musim panas kalau tidak menghabiskannya dengan cara yang disukai. Meskipun aku sempat mencoba bertahan dengan mata terbuka, akhirnya pandanganku menjadi gelap.

Dan kemudian──.

"Kai-Senpai."

Tiba-tiba, kesadaranku terbangun oleh suara yang berbisik di telingaku. Sambil mengucek mata, aku perlahan-lahan bangun... eh, suara tadi jangan-jangan...? Saat aku menoleh dengan rasa tidak percaya, di sana ada Emu.

"...... Lho?"

Ini... kamarku, kan? Itu tidak salah, jadi aneh kalau ada Emu di sini... artinya, aku masih berada di dalam mimpi?

"Selamat pagi, Kai-Senpai──"

"Apa, ternyata cuma mimpi ya."

"Anu... Kai-Senpai?"

Tentu saja begitu. Kenapa juga Emu ada di rumahku, dan jika dipikir dengan tenang, aku pasti langsung tahu kalau ini bukan kenyataan.

Junior cantik berambut perak yang terlihat bingung... aku sudah tahu sih, tapi ekspresinya sangat imut.

Tapi bermanja-manja pada junior yang imut seperti ini justru hanya bisa dilakukan karena ini adalah mimpi.

"Emuuu...!"

"Wa-wah!?"

Aku mendekati Emu yang sedang duduk, lalu memeluknya seolah-olah melakukan dive ke perutnya.

Emu mengeluarkan suara terkejut tapi tetap menerimaku, dan tidak mencoba melepaskanku. Hmm... biasanya aku membenamkan wajahku di payudaranya karena hipnotis, tapi memeluknya erat seperti ini juga tidak buruk, ya.

"Aduh, Kai-Senpai ini... padahal Kak Miyako sedang melihat, lho."

"Kenapa memangnya kalau Kakak melihat. Aku tidak peduli hal semacam itu."

Benar, benar. Peduli setan kalau Kakak melihat! Sudah kubilang berkali-kali, ini kan di dalam mimpi? Masa di dalam mimpi saja aku harus sungkan pada Kakak!

"Hee? Bagus sih kalau kalian sedang mesra, tapi beraninya kamu bicara begitu padaku, ya?"

Sambil tetap memeluk Emu, aku hanya menolehkan wajah ke arah suara itu.

Kakak yang sedang bersantai di atas tempat tidurku menatapku tajam sambil membunyikan buku-buku jarinya.

"Muncul juga kau, Raja Iblis sialan... sampai berani-beraninya menyusup ke mimpi orang. Baca situasi dong, baca situasi!"

"...... Hoo~?"

"A, Anu, Kai-Senpai...?"

Jangan takut, Emu. Lagipula, wanita bertubuh mungil yang sedang melotot itu hanyalah bayangan mimpi, dia pasti tidak memiliki ancaman seperti Kakak yang asli!

"Keberanian yang bagus."

"Hah! Maju sini kalau berani!"

Mendengar provokasiku, Kakak melompat dari tempatnya. Kakak yang sudah berpindah ke depanku mengayunkan tinjunya, lalu menjatuhkan bogem mentah ke atas kepalaku yang masih duduk.

"SAKIIIIIIITTTTT!?"

Padahal aku meremehkannya karena mengira ini mimpi, tapi rasa sakit yang merambat ke ubun-ubun jauh melampaui imajinasiku. Rasa sakit yang lebih parah dari biasanya saat dipukul Kakak... eh, padahal ini mimpi, tapi kenapa aku merasakan sakit yang senyata ini!?

Meski sadar mataku mulai berkaca-kaca, aku tetap melotot ke arah Kakak. Maaf pada Emu yang terlihat cemas sambil menatapku dan Kakak bergantian, tapi ada pertarungan yang tidak boleh dihindari oleh seorang pria!

"Akan kuhajar kau, Kak!"

"Hari ini kamu benar-benar keras kepala ya, adik bodoh. Tapi biar kuberitahu satu hal."

"Apaan."

"Kamu sepertinya mengira ini mimpi, tapi ini bukan mimpi, lho?"

"...... Hah?"

Bukan mimpi... katanya!?

"Emu-chan, tolong cubit pipi Kai."

"Eh? Ah, baik... permisi ya, Kai-Senpai."

Emu mencubit pipiku yang sedang terpana dengan ragu-ragu. Meski dia bertanya dengan ragu-halus, ternyata dia memberiku cubitan dengan tenaga yang lumayan.

"Sakit sedikit..."

"Ma, maafkan aku!"

"Kan sudah kubilang? Ini bukan mimpi."

"...... Memang benar begitu adanya."

Situasi ini bukanlah mimpi, melainkan kenyataan tanpa keraguan lagi.

"...... Hm?"

Tapi tunggu dulu...? Artinya tadi, saat aku memeluk Emu dengan sekuat tenaga itu juga kenyataan, dan disaksikan oleh Kakak juga kenyataan... begitu!?

"Maaf ya, Emu-chan. Adikku ini mendadak jadi bodoh."

"Tidak apa-apa kok! Interaksi Kai-Senpai dan Miyako-senpai sangat menyenangkan, sebenarnya sejak tadi aku terus menahan tawa!"

"Oh... kalau begitu syukurlah."

Emu dan Kakak sepertinya tidak keberatan... sebaiknya aku diam saja dan tidak membahas masalah ini lagi. Hanya saja, ada satu hal yang sangat ingin kutanyakan.

"Sebenarnya kenapa Emu ada di sini?"

Pertanyaan yang sangat wajar itu dijawab oleh Kakak.

"Aku tidak sengaja bertemu Emu-chan saat sedang belanja."

"Hee?"

"Dulu kan Matsuri-chan dan Saika-chan pernah datang, kan? Tapi Emu-chan belum pernah, dan lagipula aku ingin mempererat keakraban dengan Emu-chan, jadi aku langsung mengajaknya ke rumah."

"...... Begitu ya."

Begitu rupanya kronologinya.

"Lagipula kamu tidurnya kelamaan. Sudah hampir jam makan siang, lho?"

"...... Wow."

Seperti yang Kakak katakan, jam hampir menunjukkan pukul dua belas.

Meskipun aku bermaksud tidur lagi dengan gaya liburan musim panas, kalau sampai tidur empat jam, sepertinya aku akan kesulitan tidur malam ini.

"Anu... apa aku mengganggu?"

"Mana mungkin begitu. Lagipula, apa menurutmu aku akan mengatakan hal semacam itu?"

"...... Fufu, kurasa tidak."

Dari ekspresi cemas, Emu langsung tersenyum lega. Memang aku terkejut karena tiba-tiba ada Emu, tapi tidak mungkin aku merasa terganggu, malah sebenarnya aku sangat senang dari lubuk hatiku karena Emu ada di kamarku.

"Tapi syukurlah. Sejak mendengar cerita dari Kak Matsuri dan Kak Saika sebelumnya, aku memang ingin berkunjung jika ada kesempatan."

"Hou."

"Lagipula... selain dengan Kai-Senpai, tentu saja aku juga ingin lebih akrab dengan Miyako-senpai."

Emu yang pipinya memerah menatapku dan Kakak bergantian. Kakak sepertinya tertembak hatinya melihat ekspresi Emu, sang Ratu Es yang menyandang gelar gadis cantik tipe cool itu, sehingga dia langsung memeluknya erat.

"E-Emu-chan, kamu terlalu imut! Kamu, mau tidak jadi adikku!?"

"E, Eeeeeeehhhh!?"

Ah... Kakak sudah mulai lepas kendali.

Hanya saja Emu sepertinya juga tidak keberatan, dia membalas pelukan Kakak dengan malu-malu dan terlihat sedikit bersemangat.

"...... Tapi,"

Kalau dilihat-lihat, Kakak malah terlihat lebih seperti sang adik. Interaksi antara Emu dan Kakak benar-benar menyejukkan mata, pemandangan yang menyembuhkan, tapi... posisi adik sudah pasti dipegang oleh Kakak di sini.

"Apa orang sepertiku boleh jadi adiknya?"

 "Jangan bilang 'orang sepertiku' dong. Kalau Emu-chan jadi adikku, aku bisa menyayangimu bersamaan dengan Kai!"

"Disayangi... Kak Miyako mau menyayangiku, ya."

"Tentu saja dong! Ah, sudahlah... benar-benar imut, Emu-chan."

Dalam percakapan itu, dia secara tidak langsung mengatakan kalau dia juga menyayangiku, yang sebagai adik sejujurnya membuatku senang.

Tapi makna sebenarnya dari kata-kata Emu pasti hal itu... kan?

Kakak yang polos pasti tidak akan menyadari preferensi seksual Emu, tapi kuharap dia tidak akan pernah menyadarinya seumur hidup... dan Emu, tolong jangan sampai ketahuan.

Aku tidak ingin melihat Kakak merasa kecewa pada Emu... yah, tapi ada kemungkinan juga Kakak malah akan menerimanya karena menganggap itu imut... tidak, kalau itu Kakak, pasti kemungkinan kedua yang terjadi.

"Sebenarnya aku ingin terus memanjakan Emu-chan, tapi karena waktunya sudah pas, mari kita makan siang."

Kakak melepaskan pelukannya dari Emu, lalu berkata begini saat keluar kamar.

"Karena panas, kita makan somen saja. Kalau sudah siap akan kupanggil, jadi kalian berdua tunggu di sini sampai saat itu."

Setelah Kakak pergi, Emu perlahan mendekat ke sampingku.

"Sekali lagi, permisi sudah bertamu hari ini."

"Yo... tapi aku benar-benar kaget lho."

"Fufu! Aku sempat panik karena ada Kak Miyako di samping, tapi saat Kai-Senpai tiba-tiba memelukku, jantungku jadi berdebar, lho?"

"...... Benar-benar maaf."

Aku menangkupkan kedua tangan, meminta maaf karena sudah merepotkan. Meski begitu, Emu tidak menunjukkan ekspresi tidak suka, malah tersenyum dan berkata begini padaku.

"Tidak, aku sangat senang kok... kalau Kai-Senpai melakukannya seperti itu, aku sama sekali tidak benci."

"──"

Mendengar kata-kata yang diucapkan sambil tersenyum itu, pipiku terasa panas.

Tanpa sadar aku membuang muka, tapi Emu sengaja berpindah ke arah tatapanku itu dan menatapku dari bawah sambil tersenyum lebar.

"A-Apaan sih..."

"Aku cuma berpikir kalau Kai-Senpai sangat imut."

"Jangan terlalu sering menggoda orang yang lebih tua."

"Bukankah hubungan di mana kita bisa saling menggoda itu hebat? Ataukah, kalau aku pelakunya Kakak merasa tidak suka?"

"Bukannya begitu... tapi tetap saja." "Kalau begitu tidak masalah, kan?"

Kuh... betapa tidak berwibawanya aku ditekan oleh kata-kata juniorku sendiri... meski sejak awal memang tidak punya sih!

Terhadapku yang tidak bisa membalas, Emu mulai bergumam kecil menyebutku imut, yang lagi-lagi membuatku malu.

"Kai-Senpai, bolehkah aku melihat-lihat kamar sebentar?"

"Eh? Silakan saja."

"Terima kasih ♪"

Emu mengalihkan pandangannya dariku dan mulai mengamati seisi ruangan.

Karena ada tamu yang datang tanpa kuketahui, kamarku sedikit agak berantakan, tapi seharusnya tidak sampai dibilang kotor.

Meskipun tidak ada barang yang langka atau pajangan khusus, ekspresi Emu yang penuh rasa ingin tahu tidak berubah.

"Apa sebegitu anehnya?"

"Begitulah... selain karena ini kamar Kai-Senpai, ini pertama kalinya aku masuk ke kamar lawan jenis selain keluargaku. Jadi rasanya sangat segar."

"...... Oh?"

"Kai-Senpai adalah yang pertama bagiku."

Tolong berhenti bicara dengan cara seperti itu, Emu-san.

Setelah itu Emu terus mengamati kamarku, terkadang mengambil manga karena penasaran, sepertinya kamar lawan jenis yang seumuran memang terasa sangat baru baginya.

"...... Imut juga ya."

Mungkin karena tubuhnya lebih mungil dibanding Matsuri dan yang lainnya, atau karena dia junior yang lebih muda, setiap gerakan Emu terasa imut dan membuatku tersenyum.

"Kalian berdua, somen-nya sudah siap."

"Okee~"

"Baik!"

Kami turun ke ruang tengah dan menyantap somen buatan Kakak. Ngomong-ngomong, Ayah dan Ibu sedang pergi keluar, jadi di sini hanya ada kami berdua kakak beradik dan Emu.

"Churu... hm. Enak sekali ♪"

"Wah, terima kasih ♪ Tapi ini cuma somen biasa kok, aku tidak melakukan hal yang spesial."

Seperti yang Kakak katakan, ini adalah somen tanpa ada yang spesial.

Hanya mencelupkan mie ke dalam kuah dan menyedotnya dengan semangat... tapi entah kenapa somen selalu terasa sangat enak, ya.

Benar... justru karena tidak ada yang spesial, rasanya terjamin.

Tapi memang suasana juga mempengaruhi rasa... sejak dulu saat Ibu dan yang lainnya tidak ada di rumah, Kakak terkadang memasak untukku, dan semudah apa pun masakannya, rasanya selalu enak.

"Beneran enak lho, Kak."

"Kai juga... kan sudah kubilang ini biasa saja."

"Bukan cuma somen-nya. Semudah apa pun masakannya, apa yang dibuatkan Kakak itu enak."

".................."

Aku merasa malu karena mengatakan hal yang bukan gayaku, jadi aku menyedot mie dengan suara keras.

Tapi karena suasananya jadi terlalu sunyi, mau tidak mau aku menatap Kakak. Ternyata Kakak sedang menatapku dengan mata yang lembut, lalu dia tersenyum kecil dan bicara pada Emu.

"Lihat, kan? Adikku ini terkadang memujiku seperti ini. Sebagai kakak, ini bisa bikin ketagihan lho... benar-benar deh, sesering apa pun kami bertengkar, kami akan langsung baikan. Habisnya, anak ini anak yang baik sih."

...... Makanya, Kak. Jangan mengatakannya dengan serangan mendadak begitu... meski aku adiknya yang mengatakannya, tapi nanti ketahuan lho kalau Kakak sebenarnya brocon?

"Hebebat ya. Melihat pemandangan seperti ini, membuatku merasa kesepian menjadi anak tunggal."

Ah, kalau dia mengatakan hal itu dalam situasi seperti ini...

"Emu-chan!"

"Wapu!?"

Tuh kan, benar. Karena Emu mengatakan hal itu dengan nada kesepian, Kakak tidak tahan dan langsung memeluknya. Kakak yang biasanya tidak berdiri saat sedang makan sampai melakukan ini, artinya ekspresi kesepian Emu benar-benar menusuk hati Kakak.

"Benar-benar ya, selama kamu di sini, anggap saja aku ini kakak perempuanmu. Malah, anggap saja Kai sebagai kakak laki-lakimu juga boleh."

"Kakak perempuan... dan kakak laki-laki?"

"Iya!"

Apa yang dipikirkan Emu saat menatapku dan Kakak bergantian?

Terlepas dari ucapan Kakak yang tiba-tiba, jika Emu benar-benar memanggilku kakak... hoho, mungkin tidak buruk juga.

Tepat saat aku berpikir Emu akan mengangguk jika aku memintanya memanggilku begitu.

"Saat di kolam renang aku memanggil Kak Miyako 'Onee-san', tapi saat aku ingin bermanja-manja, bolehkah sesekali aku memanggil 'Onee-chan'?"

Emu merangkai kata-katanya sambil terlihat malu-malu.

Kakak benar-benar dibuat bertekuk lutut oleh Emu. Setelah selesai makan somen, dia terus menempel pada Emu tanpa mau lepas.

Bagi Kakak, mungkin dia merasa sedang memanjakan Emu, tapi di mataku yang hanya menonton, justru Kakak yang terlihat sedang bermanja-manja pada Emu. Aku harus berjuang keras menahan tawa melihat pemandangan itu.

Lalu, saat waktu sudah melewati pukul tiga sore. Mungkin karena terlalu lelah setelah bersenang-senang, Kakak bilang dia ingin tidur siang sebentar dan pergi ke kamarnya. Aku pun kembali berduaan saja dengan Emu.

"Emm... tadi itu melelahkan, ya?"

"Tidak kok, ini sangat menyenangkan. Miyako-san sangat imut... dan juga sangat baik."

Meskipun dia yang dimanjakan, Emu terus meladeni Kakak sedari tadi. Aku bertanya karena khawatir dia merasa lelah, tapi sepertinya kekhawatiran itu tidak perlu.

"Kai-senpai."

"Ya?"

"Boleh aku duduk tepat di sebelahmu?"

"Yah... kalau itu sih, tidak masalah."

Begitu aku mengangguk setuju, Emu langsung duduk di sampingku. Jarak di antara kami menjadi sangat dekat hingga nyaris tidak ada celah, lalu Emu mendongak menatapku sambil tersenyum malu-malu.

Sosok Emu yang seperti itu benar-benar menggemaskan. Aku sudah tidak tahu sudah berapa kali aku memikirkan hal itu tentangnya hari ini... tapi tetap saja, Emu yang hari ini seolah ingin bermanja—mirip seperti saat dia sedang dalam pengaruh hipnosis—membuat jantungku berdebar kencang.

"Anu..."

"Ada apa?"

"Sesekali... tidak apa-apa hanya sesekali, bolehkah aku memanggil Kai-senpai dengan sebutan 'Kakak' juga?"

Emu mengajukan pertanyaan itu sambil memiringkan kepalanya sedikit. Bagaimana ya menyampaikannya... Emu yang hari ini benar-benar jauh lebih imut dari biasanya, sampai-sampai tanpa sadar aku mengulurkan tangan untuk mengelus kepalanya.

Saat aku mengelus rambut peraknya yang indah dan terawat, helaiannya terasa halus mengalir di sela jemariku tanpa tersangkut sedikit pun.

"...Kakak."

Mungkin karena merasa nyaman saat dielus, Emu bergumam pelan sambil menyipitkan matanya. Jarang sekali melihat Emu yang tampak begitu rileks dan lengah seperti ini, apalagi ditambah dengan panggilan 'Kakak' yang daya hancurnya luar biasa. Rasanya aku ingin benar-benar jadi kakaknya... tidak, malah tolong jadikan aku kakaknya sekarang juga.

"Aku harap kamu tidak menganggap ini menjijikkan, ya."

"Iya?"

"...Aku merasa dipanggil 'Kakak' itu tidak buruk juga. Malah, aku merasa itu sangat luar biasa."

Di hadapan Emu yang sekarang, aku bahkan tidak punya keinginan untuk berpura-pura lagi. Begitu aku menyampaikan perasaanku yang jujur, Emu menunduk, namun dia terus melirik ke arahku lalu membuang muka berulang kali.

Kemudian, sambil memainkan rambut dengan jemarinya, Emu bergumam lirih.

"Kakak... andai Kai-senpai benar-benar kakakku, betapa bahagianya aku."




...Yah, sebaiknya aku diam saja soal kenyataan bahwa aku bisa mendengar gumamannya tadi. Namun, karena suasana saat ini terasa agak sulit dijelaskan, aku akan meminjam kekuatan "Partner"-ku dan menikmati waktu luang sesuka hati sejenak.

"Partner, saatnya hipnosis."

Bagaimanapun juga, menenangkan diri dengan kekuatan Partner adalah cara yang paling ampuh!

"......?"

Tapi, di sini keanehan kembali terjadi. Aku yakin sudah mengaktifkan Partner, tapi Emu yang ada di depanku──.

"Kai-senpai...? Ada apa?"

".................."

Emu tidak masuk ke dalam kondisi hipnosis. Karena ini sudah kedua kalinya, aku tidak sepanik saat kejadian Matsuri dulu, tapi tetap saja, kenapa kekuatan Partner tidak aktif dengan lancar lagi?

"Eks... tidak ada apa-apa. Maaf ya, Emu."

"......Kalau begitu, syukurlah."

...Untuk saat ini, lupakan dulu soal Partner. Meski begitu, aku ingin menenangkan diri sedikit. Setelah berpamitan singkat pada Emu, aku keluar kamar menuju ruang tengah. Keringat dingin mulai bercucuran, jadi lebih baik aku makan es krim untuk mengalihkan pikiran.

"Aku kembali. Ayo, kita makan es krim."

"Ah! Terima kasih banyak!"

Sambil tersenyum, Emu menerima es krim itu dan mulai menikmatinya perlahan.

"Dingin dan enak sekali♪"

"Syukurlah kalau begitu."

Aku merasa puas melihat Emu menjilati es krimnya dengan riang, lalu aku pun mulai makan. Teman terbaik di musim panas yang terik adalah es krim! Aku dan Kakak sangat menyukainya, terutama es krim rasa soda.

"......Enak ya."

"Enak sekali ya♪"

"Emu, rasa apa yang paling kamu suka?"

"Es krim? Begitu ya... rasa soda tentu saja suka, tapi aku juga suka rasa Matcha dan sejenisnya."

"Wah, selera yang dewasa ya. Tapi aku juga suka Matcha... Ah, omong-omong, Kakak tidak bisa makan rasa Matcha."

"Eh, benarkah?"

"Iya. Lidahnya masih seperti bocah, sih."

"......Pffft!"

Oh, dia tertawa.

"Jangan bilang-bilang ya?"

"Tidak akan, kok."

Tanpa diminta pun aku tidak berniat mengadukannya. Lagipula kalau aku mengadu, ujung-ujungnya aku yang akan dihajar, jadi aku tidak akan sengaja menginjak ranjau seperti itu.

"Tapi, alasanku tertawa itu karena aku merasa Miyako-san sangat imut, lho. Aku sama sekali tidak memikirkan hal buruk tentangnya."

"Aku tahu. Aku bilang dia bocah juga karena aku merasa Kakak itu imut. Anggap saja itu bentuk kasih sayang dari seorang adik."

"Benarkah?"

"Benar, tahu!"

Tidak, ini serius, aku tidak berbohong. Ini tulus, lho. Menyebut Kakak sebagai bocah sebagai bentuk perlawanan kecil maupun menganggapnya imut, semuanya adalah bentuk kasih sayangku padanya.

"Baiklah, aku anggap begitu saja."

"Hei, aku serius... Emu-san? Apa menggoda seniormu ini sebegitu menyenangkannya?"

"Entah menyenangkan atau tidak, tapi melakukan percakapan seperti ini dengan Kai-senpai memang sangat menyenangkan bagi saya."

".................."

Lagi-lagi dia mengatakannya dengan senyuman tulus tanpa kepura-puraan. Benar juga... aku pun suka mengobrol dengan Emu seperti ini, dan tentu saja, aku sangat senang berada di sisinya. Dalam situasi seperti ini, aku kembali menyadari—bahwa aku memang sangat menyukai Emu.

"......Aduh, payah sekali ya aku."

"Apa kamu mengatakan sesuatu dengan suara berat tadi?"

"Bukan apa-apa."

Benar-benar... aku merasa ingin berkonsultasi pada seseorang tentang apa yang harus kulakukan. Sambil menahan perasaan gelisah, aku menghabiskan es krimku. Tulisan "Hadiah" yang ada di stik kayu es krim itu bahkan tidak kupedulikan sekarang. Di tengah kegelisahanku itu, tiba-tiba Emu berkata begini:

"Kai-senpai, bolehkah aku minta kamu memejamkan mata sebentar?"

"Eh? Ah, iya."

Ada apa tiba-tiba? Meski penasaran, aku memejamkan mata sesuai permintaannya... Karena penglihatanku tertutup, indra pendengaranku menjadi lebih tajam. Aku merasa bisa menangkap setiap gerakan Emu dengan sempurna. Lalu, tepat saat aku merasa dia sudah berada di depanku, tiba-tiba dia memelukku dari depan.

"Silakan buka matamu."

"......Ah."

Begitu membuka mata, tentu saja pandanganku dipenuhi oleh wajah Emu. Karena dia duduk di atas pangkuanku yang sedang bersila, posisi mata kami berada di ketinggian yang hampir sama.

"Sebentar lagi waktunya pulang... jadi untuk terakhir kalinya, bolehkah aku bermanja pada Kakak?"

"Tentu saja!"

Sudahlah, hari ini aku berhenti berpikir saja. Tidak mungkin aku menolak permintaan Emu yang sekarang, dan lagipula aku sendiri senang bisa bersentuhan dengannya seperti ini. Jadi, pokoknya begini saja sudah cukup.

"......Jika Kai-senpai mau menerimaku seperti ini, menjadi karakter adik ternyata tidak buruk juga ya."

"Malah menyebut diri sendiri karakter adik."

"Untuk saat ini, ini adalah hak istimewaku sendiri. Matsuri-senpai maupun Saika-senpai sudah terlalu 'tumbuh' di berbagai bagian untuk dipanggil adik."

"......Memang sih, mereka besar."

Di berbagai bagian... ya, berbagai bagian. Setelah itu Emu tidak mengatakan apa-apa lagi, dia hanya diam tenang di dalam dekapanku.

"Kakak belum kembali juga, ya."

"......Benar juga."

"Dia benar-benar sudah masuk mode tidur siang."

"......Fufu, dia benar-benar imut."

"......?"

Tiba-tiba aku memiringkan kepala karena merasakan keanehan pada gelagat Emu. Jangan-jangan... Begitu aku mengintip wajah Emu, ternyata pada saat inilah dia baru masuk ke dalam kondisi hipnosis.

"......Baru sekarang?!"

Aku refleks melontarkan protes dalam hati. Emu yang sedang terhipnosis hanya menatapku dengan mata hampa, namun dia juga tampak seolah bertanya-tanya 'ada apa' melalui ekspresinya. Tapi... yah, karena Partner sudah aktif, lebih baik aku bersenang-senang dulu dengan Emu! Memang sudah hampir pasti ada keanehan pada Partner, tapi kemampuanku untuk langsung beralih fokus pada nafsu di depan mata adalah salah satu kelebihanku.

"Emu, dada."

"Baik♪"

Apa-apaan dengan "dada" itu? Bukannya "dada" itu aneh, tapi tiba-tiba minta "dada" itu yang aneh... sudahlah, aku pun tidak paham diriku sendiri. Emu menyodorkan dadanya, dan aku membenamkan wajahku di sana. Tadi Emu bilang kalau Matsuri dan Saika terlalu besar, tapi tetap saja, meski tidak menandingi mereka berdua, Emu punya volume yang lumayan juga.

"Memang ini yang terbaik."

"Kalau Kai-senpai senang, aku juga ikut bahagia."

"Terima kasih ya, Emu."

"Sama-sama♪"

Emu yang tetap merasa senang meski diperlakukan mesum atau pun aneh benar-benar seperti malaikat. Walaupun dia seorang masokis. Emu sendiri sebenarnya juga cabul kelas berat.

"......Nona Emu."

"Ada apa?"

"Aku... menyukai kalian semua."

Sambil merasakan rasa aman yang hanya ada saat kondisi hipnosis, aku mengatakannya. Tepat saat aku bilang suka, aku merasakan pelukannya mengerat, dan karena itulah kata-kataku tidak berhenti.

"Ini pemikiran yang bimbang karena menyukai semua orang... saat kita bicara di kolam renang, aku bilang aku ingin terus bersama kalian semua. Dan saat kalian bilang merasakan hal yang sama, aku sangat senang."

"Iya."

"Aku ingin bertanya langsung pada Emu yang sekarang... kamu menyukaiku, kan?"

"Aku menyukaimu. Mencintai... benar... aku mencintaimu."

"Oh......"

Mencintai... itu artinya, dalam konteks romansa.

"Aku juga... begitu. Aku pun tentu saja merasakan hal yang sama."

Ya, dan aku pun merasakan hal yang sama. Namun, aku mengarahkan perasaan itu kepada mereka semua... itulah diriku yang sekarang.

"......Benar-benar ya, aku jadi berpikir kenapa orang sepertiku bisa disukai oleh kalian semua."

"Mengingat latar belakang kami, wajar saja jika menjadi seperti ini. Bagi Matsuri-senpai dan Saika-senpai, Kai-senpai bahkan sudah seperti penyelamat nyawa mereka."

".................."

"Aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi jika masalah itu berlarut-larut... karena itu, aku pun merasa diselamatkan oleh Kai-senpai."

"......Begitu ya."

"Setelah itu pun kamu selalu mengkhawatirkanku, memberiku kata-kata yang baik... dan selalu tulus dengan hati yang hangat... Jika kamu bisa membuatku begitu percaya dan ingin selalu berada di sisimu, tentu saja aku akan jatuh cinta."

Bersamaan dengan kata-kata yang meluncur deras itu, Emu mendekatkan wajahnya. Tanpa berhenti, jarak di antara kami menjadi nol dan bibir kami pun bersentuhan... Setelah ciuman singkat itu berakhir, Emu menyunggingkan senyum.

"Entah itu di dalam mimpi atau kenyataan, entah aku yang sekarang atau pun bukan, aku tetap berharap untuk bisa bersama Kai-senpai."

"Emu......"

"Fufu, aku mungkin membuatmu kesulitan... tapi ketahuilah bahwa perasaan ini adalah nyata, ya?"

"......Ya."

"Ah, tapi karena aku sudah mendapatkan posisi untuk memanggilmu 'Kakak', berarti aku selangkah lebih maju, ya! Kalau begitu, aku harus meminta permainan hukuman yang kejam dari Kakak untuk adik yang nakal ini!"

"Semua momen indahnya jadi hancur total, tahu!!!"

Saat aku menyentil dahinya pelan, Emu langsung menunjukkan ekspresi ekstasi. Dia bergumam memintaku untuk melakukannya lebih kasar, lebih sakit, dan lebih kuat lagi... Tak perlu dikatakan lagi, aku kembali melayangkan protes "momennya jadi hancur total" untuk kedua kalinya.

Yah, tapi aku kembali diingatkan bahwa tidak ada tempat untuk melarikan diri. Saat di kolam renang dulu, Kakak pernah memberitahuku sesuatu. Hadapi mereka dengan jujur, dan jangan pernah memberikan kepura-puraan yang aneh... itulah garis yang harus kujaga.

"Terima kasih ya, Emu."

"Tidak perlu berterima kasih. Justru aku yang berterima kasih karena bisa bermesraan dengan Kai-senpai... ah, sekarang panggilannya 'Kakak' ya. Terima kasih ya, Kakak♪"

"......Dasar, kamu ini benar-benar imut!"

"Iyaan♪"

Padahal kata-kataku sama sekali tidak kasar, tapi dia malah menggeliatkan tubuhnya dengan senang. Hanya saja, dilakukan saat kami sedang menempel erat seperti ini membuatku merasakan seluruh bagian tubuh lembut Emu di sekujur tubuhku... Gadis ini pun benar-benar gadis penggoda, pikirku.

Setelah itu, karena aku mendengar suara langkah kaki Kakak dari luar kamar, aku segera melepaskan kondisi hipnosisnya.

"Lho...? Aku..."

"Emu-chaaaan! Gooood morniiiing!!"

"Wa-wawa!? Miyako-san!?"

Kakak yang muncul kembali langsung memeluk Emu dengan erat. Ini... kalau seandainya Emu punya hubungan buruk dengan keluarganya, Kakak pasti bakal bilang kalau dia yang akan mengadopsi Emu. Mungkin saja ada garis dunia di mana hal itu terjadi, tapi tetap saja, melihat Kakak berteman baik dengan Emu seperti ini membuat perasaanku tenang.

"......Aku juga penasaran soal Partner, tapi aku juga harus lebih teguh."

Aku tidak bisa melakukan hal yang setengah-setengah... tidak, aku tidak mau. Walaupun tidak sekarang, momen di mana aku harus menghadapi mereka dan memberikan jawaban pasti akan tiba. Saat itu terjadi, aku tidak akan melarikan diri. Aku bersumpah dengan teguh di dalam hati bahwa setidaknya hal itu tidak akan pernah kulakukan.

"Lihat lihat, Emu-chan imut sekali ya!"

"Miyako-san... Kakak♪"

"Offh!?"

"Kakak, imut sekali ya♪"

"Oh-hoo!!"

"......Haaah."

Melihat pemandangan yang begitu berisik ini membuatku merasa bahwa kekhawatiranku mungkin hanyalah hal sepele. Benar juga... untuk saat ini, daripada memikirkan hal yang sulit, lebih baik aku menikmati pemandangan di depan mataku saja.

"......Tapi kalau dilihat-lihat begini, Kakak memang lebih seperti bocah atau malah terlihat seperti yang lebih muda ya."

"Ah? Kamu bilang sesuatu?"

"Tidak bilang apa-apa!"

"Hmph!"

"Adaaaw!? Kan aku sudah bilang tidak bicara apa-apa!"

"Aku dengar tahu, dasar bodoh."

"Kalau begitu jangan didengarkan!"

......Sepertinya suatu saat nanti aku memang harus menaklukkan Kakak.

"Fufu♪"

Sambil ditonton oleh Emu yang tampak senang, aku pun mengukir janji itu di dalam hati.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close