Chapter 3
Pertemuan
Begitu
melewati gerbang utama Akademi Nasional Lister, bangunan pertama yang akan
menyambutmu adalah Gedung Staf yang megah, mengingatkan siapa pun pada Istana
Versailles.
Di dalam
gedung ini, tentu saja ada ruang guru, kamar penginapan bagi para staf, pos
penjagaan Ksatria Regan, bahkan ruang kepala sekolah milik Duke Regan sendiri.
Kabarnya,
kediaman pribadi Duke Regan berada jauh di bagian dalam area sekolah.
Tepat di
belakang Gedung Staf, seolah tersembunyi dari gerbang utama, berjejer
gedung-gedung sekolah untuk kami, para murid.
Ada
lima gedung sekolah yang saling terhubung. Gedung yang paling dekat adalah
milik kelas lima, sedangkan yang paling jauh adalah milik kami, kelas satu.
Kami akan menggunakan gedung yang sama sampai lulus nanti.
Mereka
yang baru akan masuk tahun depan akan menempati gedung yang saat ini digunakan
oleh murid kelas lima.
Di sisi kanan
dan kiri gedung sekolah tiap angkatan, berdiri asrama putri dan asrama putra.
Ini pun
dibagi berdasarkan angkatan. Jika dilihat dari gerbang utama, asrama putra
berada di sisi kanan, sedangkan asrama putri di sisi kiri.
Struktur
asrama putra dan putri itu identik, dengan lantai lima yang difungsikan sebagai
kantin untuk sarapan dan makan malam.
Mungkin
kalian akan bertanya, "Lalu kalau siang makan di mana?".
Ternyata, di
belakang gedung sekolah kelas satu, ada gedung kantin tiga lantai yang
ukurannya hampir sebesar Gedung Staf. Di sanalah kami akan makan siang.
Karena murid
dari seluruh angkatan akan menyerbu gedung kantin ini secara bersamaan,
kabarnya suasana makan siang akan sangat padat dan ramai.
Lalu, di
bagian terdalam dari kompleks kantin itu, terdapat banyak arena dan gimnasium.
Bahkan lebih
jauh lagi, ada Koloseum dengan kapasitas lebih dari lima ribu orang, tapi
biarlah itu aku ceritakan di lain waktu.
"Maaf
ya. Sudah menunggu lama?"
Clarice dan
Elie tiba di gerbang utama sekolah tepat sesuai waktu perjanjian.
"Tidak,
aku juga baru saja sampai. Kalau begitu, ayo pergi."
Hari ini kami
bertiga berencana jalan-jalan ke pusat kota Regan.
Katanya,
setelah periode ujian ini berakhir, murid dari kelas reguler tidak akan bisa
keluar area sekolah dengan bebas.
Yang dimaksud
kelas reguler di sini adalah murid-murid dari Kelas A sampai Kelas E.
Sedangkan
bagi Clarice dan Elie yang sudah dipastikan masuk Kelas S, mereka bebas pergi
ke kota Regan asalkan mematuhi jam malam.
Artinya,
begitu sekolah dimulai, hanya aku—yang kemungkinan masuk Kelas E—yang tidak
bisa keluar.
Karena itu,
kami sepakat untuk berwisata keliling kota Regan sebelum masa itu tiba.
Ngomong-ngomong,
saat ini di sekolah sedang berlangsung ujian tahap kedua. Aku sudah dibebaskan
dari ujian itu oleh Lorenz, dan Clarice serta Elie pun ternyata mendapatkan
dispensasi yang sama.
Kota Regan
masih tetap ramai seperti sebelumnya.
Mungkin
karena peserta yang tidak lulus masih menetap di sini, banyak remaja seumuran
kami yang tampak sedang berwisata.
Di
tengah langkah kami menembus kerumunan orang, Elie berbisik tepat di telingaku.
"……Ada
yang memperhatikan……"
Jarang
sekali Elie mengatakan hal itu, padahal biasanya dia tidak peduli meski menarik
perhatian banyak pria.
"Itu
karena kalian berdua cantik, jadi……"
"……Bukan…… terus mengikuti sejak
dari sekolah……"
Elie langsung membantah perkataanku.
Sejak dari sekolah? Berarti orang
dalam?
Tapi
kenalanku di sekolah hanya Sasha dan Cyrus……
"Aku
mengerti. Mari kita sedikit waspada. Kalian berdua, jangan jauh-jauh
dariku."
"Iya."
Clarice
menggenggam tanganku dengan erat, sementara Elie merangkul lengan kiriku.
Dalam
posisi begini, saat kami melakukan window shopping, kami dihujani
tatapan tajam dari para pria seolah-olah mereka ingin meneriakkan
"Enyahlah kau, pasangan bahagia!".
Bahkan
ada beberapa yang memancarkan niat membunuh yang cukup kuat.
Setelah
berkeliling kota Regan selama sekitar satu jam, aku pun mulai bisa merasakan
kehadiran seseorang yang terus mengikuti kami.
Selama mereka
tidak berniat mencelakai, sebenarnya tidak masalah. Namun, aku tidak tahu kapan
bahaya akan mengancam mereka berdua.
Demi
menghilangkan kekhawatiran, aku memutuskan untuk mengambil tindakan.
"Clarice,
Elie. Ayo masuk
ke gang di sebelah kanan itu. Kita akan tangkap penguntitnya."
"Eh? Aku
sama sekali tidak menyadarinya."
Sepertinya Clarice memang belum sadar.
"……Oke…… satu laki-laki…… satu
perempuan…… yang perempuan…… mungkin ahli…… langkah kakinya tidak
terdengar……"
Eh? Dua
orang? Aku hanya bisa merasakan satu.
Kalau
sampai Elie menyebutnya ahli, berarti dia bukan orang sembarangan.
"Baiklah,
tetap waspada ya."
Sesuai
rencana, kami masuk ke gang tersebut dan segera bersembunyi di balik bayangan
benda-benda di sana. Tak lama, seorang pria dan wanita masuk ke gang itu sambil
mengamati sekeliling dengan ragu.
"Lho?
Mereka hilang?"
Suara si
wanita menggema pelan di gang, tampaknya mereka kehilangan jejak kami.
Sekarang!
Aku melompat
keluar di depan mereka untuk menyergap.
Wanita itu
sangat terkejut melihat kemunculan kami yang tiba-tiba sampai tidak bisa
berkata-kata.
Namun, aku
pun tidak kalah terkejut saat melihat sosok mereka berdua.
"Misha?!"
Orang yang
menguntit kami ternyata adalah Misha, gadis yang aku dan Clarice selamatkan di
Hutan Iblis tiga tahun lalu.
Dan di
belakang Misha, entah bagaimana, ada sosok Dame-zu itu.
Namun, Elie
yang tidak mengenal mereka berdua segera berpindah ke belakang Misha dan dengan
cekatan mengunci lengannya.
"Elie,
dia kenalan kami. Jadi, tolong jangan sakiti dia."
Elie pun langsung patuh mendengar
ucapan Clarice.
"Misha? Ada apa? Apa kamu yang mengawasi kami sejak tadi?"
Ditanya oleh
Clarice, Misha hanya bisa menunduk dalam-dalam.
"Rasanya
tidak enak bicara di sini. Bagaimana kalau kita bicara sambil makan
siang?"
Meski ini
hanya sebuah gang, aku tetap merasa tidak nyaman diperhatikan orang lewat.
Akhirnya, aku, Clarice, Elie, dan Misha masuk ke sebuah restoran.
"……Maafkan
aku. Aku melihat Mars dan yang lainnya di sekolah dan ingin menyapa, tapi…… itu……
aku penasaran dengan gadis yang ada di sampingmu……"
Begitu duduk,
Misha segera meminta maaf kepada kami.
Kalau
dipikir-pikir, dulu Sasha pernah bilang kalau Misha itu sangat pemalu. Ternyata
itu benar adanya.
Padahal dulu
saat pertama kali bertemu denganku dan Clarice, dia tidak sepemalu ini.
"Begitu
ya. Sasha-san memang pernah bilang kalau Misha itu pemalu. Kalau begitu Elie,
silakan perkenalkan dirimu."
"……Salam kenal…… Elie Leo……
tunangan Mars……"
Entah kenapa
Elie memasang wajah penuh kemenangan.
"T-tunangan?! Eh? Terus? Clarice
bagaimana?!"
Misha
tampak terguncang mendengar ucapan Elie.
"Aku
juga sudah jadi tunangannya. Misha, ayo perkenalkan dirimu pada Elie."
Didorong oleh
Clarice, Misha berdiri dengan sopan dan membungkukkan kepalanya.
"I-iya…… namaku Misha Febland. Mohon bantuannya."
Namun,
ekspresi Misha tetap terlihat muram.
Kenapa Misha
yang dulu begitu ceria sekarang tampak sangat sedih begini…… Ah! Aku tahu!
Misha juga bilang ingin masuk ke Akademi Nasional Lister, jangan-jangan dia
tidak lulus!
"Misha.
Hidup itu memang penuh rintangan. Tapi kamu tidak boleh menyerah! Di mana ada
kemauan, di situ ada jalan! Paham?! Kamu tidak boleh berputus asa!"
Aku
memberikan semangat dengan sekuat tenaga semampuku.
"Benarkah?
Apa masih ada kesempatan kalau aku tidak menyerah?"
Misha
mendongak dengan mata berkaca-kaca, menatapku seolah sedang memohon harapan.
"Tentu
saja! Jadi ayo berjuang! Aku akan mendukungmu semampuku!"
Sepertinya
kata-kataku sampai ke hatinya.
"Iya!
Aku akan berusaha!"
Ekspresi muramnya sirna, digantikan dengan senyuman ceria tanpa beban seperti dulu lagi.
Memang, Misha
itu paling cocok saat sedang tersenyum.
"Kalau
begitu, maaf ya Misha, boleh aku melakukan Appraisal padamu?"
Saat aku
bertanya karena ingin tahu seberapa tinggi statistik Misha yang sekarang, dia
langsung mengiyakan tanpa ragu sedikit pun.
[Nama]
Misha Febland
[Title]
-
[Status
Sosial] Kaum Elf, Putri sulung keluarga Baroness Febland
[Kondisi]
Baik
[Usia]
11 Tahun
[Level]
14(+11)
[HP]
73/73
[MP]
224/224
[Strength]
36(+30)
[Agility]
43(+35)
[Magic
Power] 50(+41)
[Dexterity]
50(+42)
[Endurance]
26(+22)
[Luck]
10
[Special
Ability] Spearmanship B(Lv4/17)(0→4)
[Special
Ability] Water Magic C(Lv4/15)(1→4)
[Special
Ability] Wind Magic C(Lv5/15)(1→5)
[Equipment]
Gale Spear
[Equipment]
Phantom Robe
Eh?
Dengan statistik begini dia tidak lulus?
Rasanya
tidak jauh berbeda dengan statistik Clarice yang sudah dipalsukan... Oh iya,
Elie tadi bilang wanita yang menguntit itu cukup kuat.
"Misha.
Menurutku, sepertinya kamu juga cuma tidak dinilai dengan benar saat Appraisal.
Sebaiknya kamu
bilang pada Sasha-san dan minta supaya diizinkan ikut ujian ulang!"
Aku refleks
berdiri karena terlalu bersemangat, sementara Misha hanya menatapku dengan
wajah bengong.
"Lebih
cepat lebih baik! Ayo pergi sekarang! Mungkin masih sempat!"
Saat
aku hendak menarik tangan Misha yang masih terpaku, dia buru-buru menarik
tangannya kembali.
"Eh?
Kamu mengira aku gagal ujian?!"
Dalam
situasi begini, aku harus menjawab apa?
Kalau
aku mengangguk, takutnya akan melukai perasaannya... Di tengah keraguanku, Misha melanjutkan perkataannya.
"Aku ini
kaum Elf, jadi aku bisa masuk sekolah tanpa perlu ikut ujian, tahu?"
"Eh?
Benarkah? Jadi kamu murung bukan karena gagal ujian?"
Mendengar
pertanyaanku, raut wajah Misha kembali mendung, tapi Clarice segera memberikan
bantuan.
"Misha,
maaf ya. Tapi ada alasan kenapa Mars sampai salah paham. Sepertinya Mars tidak
dinilai dengan benar saat Appraisal sampai dia dinyatakan gagal."
"Eh?!
Mars gagal?!"
Mungkin
saking tidak menyangkanya, Misha sampai menggebrak meja dan berdiri condong ke
arahku.
Suaranya
bergema di dalam restoran sampai-sampai pelanggan lain menertawakannya.
"Ma-maaf.
Tapi aneh kalau sampai Mars gagal! Karena, karena... Mars
itu..."
Perlahan aku bisa melihat air mata
mulai menggenang di mata Misha. Misha benar-benar anak yang baik ya, sampai
menangis untukku.
"Tidak apa-apa kok. Berkat bantuan
Sasha-san, aku sudah dinyatakan lulus dan bebas dari ujian tahap kedua."
"Benarkah?"
"Iya, benar. Aku benar-benar
berutang budi pada Sasha-san."
Mengetahui aku lulus dan Sasha dipuji,
senyum pun kembali ke wajah Misha.
Meskipun
alasan kenapa Misha sempat murung masih misteri, kalau aku tanya sekarang
mungkin dia akan sedih lagi. Jadi, aku memutuskan untuk mengalihkan
pembicaraan.
"Misha?
Kenapa kamu bersama si 'Dame-zu' itu?"
Tanyaku
sambil melirik ke luar restoran, ke arah Dame-zu yang sejak tadi terus memantau
ke arah sini.
"Oh itu.
Sepertinya Dame-zu sudah tidak bisa lepas dari Ibu."
Jawaban yang
sulit dipercaya meluncur begitu saja.
"Eh?
Bukankah itu namanya penguntit?"
Clarice
langsung menimpali dengan tajam.
"Penguntit?
Apa itu? Tapi kata Ibu, karena Dame-zu itu auranya agak menyeramkan, Ibu
menjadikannya budak supaya tidak ada pria yang berani mendekat saat dia ada di
dekat Ibu. Kalau jadi
budak kan dia harus patuh pada perintah, ya?"
Misha
menjawab seolah-olah tidak ada yang aneh dengan hal itu.
Inilah saat
di mana aku merasakan perbedaan nilai norma antara Jepang dan dunia lain.
Kami masuk ke
restoran itu sebelum jam makan siang, tapi saat keluar, matahari sudah mulai
terbenam.
Aku
benar-benar kewalahan menghadapi obrolan beruntun dari Misha yang sudah kembali
ceria selama enam jam, tapi itu adalah waktu yang menyenangkan.
"Hei,
hei. Besok kita berempat jalan-jalan lagi, yuk!"
Usul Misha
dengan suara riang dalam perjalanan kembali ke sekolah. Sepertinya dia masih
belum puas mengobrol meski sudah bicara sepanjang itu.
"Boleh
saja. Mumpung mumpung masih masa ujian, ini kesempatan terakhir untuk bisa
keluar bersama Mars. Ngomong-ngomong, Misha masuk kelas mana?"
"Eh?
Aku? Aku kelas S. Tapi kenapa Mars tidak bisa keluar lagi?"
Ternyata dia
kelas S.
Yah, kalau
mengingat Misha punya statistik tertinggi di antara peserta ujian yang
kulihat—selain Clarice dan Elie—itu cukup masuk akal.
"Aku ada
di peringkat paling bawah di Kelas E. Jadi kabarnya aku tidak bisa keluar
sekolah selain di periode ini."
"Mars di
Kelas E?! Padahal beberapa tahun lalu saja kamu sudah lebih kuat dariku yang
sekarang, itu aneh!"
Mendengar aku
di Kelas E, wajah Misha kembali memerah karena geram.
"……Eum…… aneh…… Mars…… nomor
satu……"
Elie pun setuju.
Sepertinya Elie dan Misha tidak akan
puas jika aku bukan yang nomor satu dalam segala hal. Mereka berdua terus
membicarakan hal itu dengan berapi-api sampai kami tiba di sekolah.
◆◇◆
29 Desember 2031, pukul 09.00.
Seluruh tes di Akademi Nasional Lister
telah berakhir. Setelah pengumuman kelas sementara, pembagian kamar asrama pun
ditentukan.
Di sekolah ini, banyak hal yang
dibedakan berdasarkan kelas.
Mulai dari
ukuran kamar, makanan yang disajikan, materi pelajaran... dan lain-lain.
Kelas E yang
aku tempati sayangnya berada di hierarki terbawah, dengan jumlah murid
terbanyak yaitu sekitar 200 orang per angkatan.
Kamarku
dialokasikan di lantai satu asrama, di mana satu ruangan berukuran sekitar
delapan tatami dihuni oleh dua orang.
Namun, jumlah
murid laki-laki Kelas E tahun ini ganjil, bukan genap.
Akibatnya,
ada satu ruangan yang harus diisi tiga orang, dan akulah yang menempati
peringkat terbawah yang mendapat "hadiah utama" itu. Karena itulah
hanya kamar kami yang terasa sangat padat.
Meski aku
berpikir seharusnya mereka bisa memberiku kamar kosong yang tersisa, sepertinya
sekolah sengaja melakukan ini untuk menanamkan semangat pantang menyerah.
Katanya, jika
naik ke Kelas D atau C, kamar akan menjadi lebih luas.
Bahkan untuk
Kelas S, mereka mendapat kamar di lantai teratas asrama, satu orang satu kamar,
lengkap dengan fasilitas tipe 1LDK.
Dan hari ini
adalah hari di mana dua orang murid lain akan masuk ke kamar yang sudah
kugunakan sejak kemarin.
"Aku
Gon. Kelas E, tapi angkatan murni. Salam kenal."
"Aku
Karl. Sama seperti Gon, aku angkatan murni, jadi mohon bantuannya."
Keduanya
mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
"Aku
Mars. Sama seperti kalian, angkatan murni. Mohon bantuannya."
Aku menjabat
tangan mereka, tapi keduanya tampak tidak percaya kalau aku angkatan murni.
"Eh?
Rasanya mustahil mengaku sebagai angkatan murni dengan badan sebesar itu,
kan?"
"Kebanyakan
murid Kelas E itu angkatan lama, jadi tidak usah malu meski jujur kok."
Sepertinya
mereka tidak menganggapku seumuran karena perawakan tubuhku.
"Tidak,
ini serius. Ada orang yang mengenalku sejak kecil, jadi kalau kalian ragu,
tanya saja padanya. Oh ya Karl, apa maksudnya Kelas E kebanyakan angkatan
lama?"
Sepertinya
mereka berdua masih setengah percaya.
"Kamu
tidak tahu? Jika statistik hampir sama, pembagian kelas akan mempertimbangkan
status sosial, usia, dan level. Hasilnya, angkatan murni biasanya lebih mudah
masuk kelas atas."
Hm? Padahal
kupikir mereka akan menghormati yang lebih tua dan memasukkannya ke kelas atas.
Melihat
tanda tanya besar di atas kepalaku, Gon pun berucap.
"Yang
lebih muda kan punya potensi pertumbuhan lebih besar? Sesederhana itu."
Begitu
ya. Konsep senioritas berdasarkan umur ternyata tidak berlaku di sini.
"Ngomong-ngomong,
kalian dengar tidak? Katanya
tahun ini dibentuk Kelas S!"
"Iya!
Tahun ini benar-benar panen talenta langka. Katanya hampir menyamai angkatan
tiga tahun lalu yang disebut-sebut terbaik sepanjang sejarah Akademi Nasional
Lister!"
Wajah
keduanya tampak bersemangat.
"Ada
Pahlawan dari Utara kebanggaan Federasi Lister, lalu Master Pedang dari
Kerajaan Suci Deador!"
"Bukan,
bukan! Tahun ini yang paling utama tentu saja Karen-sama, putri kedua dari
keluarga Duke Utama, Flesvaldt!"
"Pasti
Karen-sama yang akan menempati peringkat pertama. Katanya Pahlawan dari Utara
pun tidak sanggup menandinginya."
"Yah,
karena mereka punya hubungan pertunangan, mereka tidak mungkin bertarung dengan
sungguhan."
Pahlawan
dari Utara dan Master Pedang? Lalu gadis bernama Karen itu kuat ya.
Kalau dia
kuat, berarti kemungkinan dia menjadi "Perampok Minimarket" alias
reinkarnator juga tinggi.
Sebab meski
kriminal, ada kemungkinan mereka menerima bonus reinkarnasi dari para Demi-God.
Ada alasan
kenapa aku tetap masuk ke sekolah ini meski harus menghadapi risiko seperti
itu.
Pertama,
daripada terus lari dan merasa waswas, aku ingin segera menyelesaikannya agar
bisa tenang.
Alasan kedua
adalah karena sepertinya ada pengetahuan yang hanya bisa didapatkan di sini.
Pengetahuan
yang kumaksud tentu saja pengetahuan bertarung.
Selama
beberapa tahun di Almeria, aku bertanya ke sana kemari soal skill pedang kepada
para petualang, tapi meski ada yang pernah melihat atau mendengarnya, tidak ada
yang benar-benar menguasainya.
Kesimpulan
aku dan Clarice adalah bahwa datang ke sini merupakan cara tercepat untuk
menjadi kuat.
Yah, meski
itu juga merupakan kebijakan Sieg, jadi mungkin keinginan kami sendiri tidak
ada hubungannya.
"Hei!
Setelah menaruh barang, ayo kita ke gedung sekolah bertiga! Mulai jam sebelas
hari ini kita sudah boleh masuk ke gedung sekolah kelas satu!"
"Ide
bagus! Sebenarnya aku juga berencana ke sana!"
Karl
menyetujui usulan Gon. Tapi karena aku sudah punya janji sebelumnya...
"Maaf
ya. Hari ini aku sudah ada janji dengan orang lain untuk melihat-lihat gedung
sekolah. Ajak aku lagi lain kali."
Aku
mengenakan seragam putih bersih lalu meninggalkan kamar.
Seragam ini
juga dibedakan berdasarkan kelas.
Meskipun
semua kelas menggunakan warna dasar putih, garis pada seragam dan warna lambang
buku keluarga Duke Regan di dada kiri berubah tergantung kelasnya.
Kelas A: Ungu (Sekitar 30 orang)
Kelas B: Biru (Sekitar 50 orang)
Kelas C: Hijau (Sekitar 100 orang)
Kelas
D: Hitam (Sekitar 150 orang)
Kelas
E: Putih (Sekitar 200 orang)
Karena seragamnya berbasis warna putih,
seragam Kelas E hampir terlihat putih polos secara keseluruhan. Terasa agak
sepi jika dibandingkan dengan seragam kelas lain.
Setelah berjalan sepuluh menit dari
asrama, aku tiba di depan gedung sekolah kelas satu. Di sana sudah berkumpul
banyak murid baru yang menunggu gedung dibuka.
Di tengah
keramaian itu, ada satu tempat yang sangat dikerumuni orang.
Di pusat
kerumunan itu, terlihat Clarice, Elie, dan Misha yang mengenakan seragam dengan
garis merah, sedang menjadi pusat perhatian.
Sepertinya
hanya Kelas S yang diperbolehkan memilih warna garis seragam dengan bebas, dan
tahun ini warnanya adalah merah.
Melihat
mereka bertiga menjadi pusat perhatian, aku tidak punya nyali untuk menyapa.
Saat aku
masih ragu, Elie segera menyadariku dan berlari menghampiri.
"Mars!"
Wajah Elie
yang tadinya datar langsung berbinar cerah, kemudian disusul oleh Clarice dan
Misha.
"Siapa
sih dia?"
"Kenapa
cowok Kelas E bisa bersama gadis-gadis Kelas S?"
"Satu
orang sama tiga gadis? Tidak bisa dimaafkan."
Murid-murid
laki-laki mulai gaduh.
Aku sudah
menduga akan jadi begini, makanya aku sempat ragu untuk menyapa. Lain kali aku
harus lebih memperhatikan tempat pertemuan.
"Maaf ya
aku terlambat. Bagaimana kalau kita bicara di sana sampai gedung sekolah
dibuka?"
Rasanya tidak
tenang bicara di bawah tatapan tajam begini.
Setelah kami
berempat pindah ke tempat yang agak jauh dari gedung sekolah, Clarice
menunjukkan senyum nakalnya sambil berputar sekali di tempat.
"Gimana?
Seragam ini? Cocok tidak?"
Sebenarnya
ini pertama kalinya aku melihat Clarice berseragam, dan singkatnya: sangat
cocok! Serius, benar-benar cocok sekali.
Tapi ada satu
hal yang mengganjal.
Rok Clarice
terasa lebih pendek daripada murid perempuan lainnya.
Bahkan
barusan saat dia berputar, sekilas terlihat paha putihnya.
"Iya, sangat cocok dan cantik.
Tapi rasanya roknya agak kependekan..."
Saat aku
mengutarakan kesan jujurku...
"Benarkah?
Padahal ini sudah lebih panjang dari yang dulu..."
Tentu saja
"dulu" yang dimaksud adalah di kehidupan sebelumnya.
Jangan-jangan
Clarice di kehidupan sebelumnya itu gadis yang sangat gaul.
Berlawanan
dengan Clarice, rok Elie justru lebih panjang daripada murid perempuan lainnya.
Karena di
wajah Elie tertulis "Bagaimana denganku?", aku pun memberikan kesan
jujur padanya.
"Aku
suka karena ini terasa sangat pas untuk Elie."
Kalau panjang
begini memang agak disayangkan, tapi sampai mati pun aku tidak akan
mengatakannya.
"Hei?!
Kenapa cuma Clarice dan Elirin yang dipuji, sedangkan aku diabaikan?!"
Wajah Misha
yang sedang cemberut benar-benar mirip dengan Sasha.
Dalam
beberapa hari terakhir, jarak antara Elie dan Misha menyempit dengan cepat,
bahkan Misha mulai memanggil Elie dengan sebutan Elirin.
Sepertinya
Elie juga menyukai Misha yang sangat akrab padanya, terlihat dari
ketertarikannya yang mulai muncul.
Tentu saja
Misha juga cocok dengan seragamnya, tapi aku tidak bisa dengan santai memujinya
cantik atau cocok seperti kepada Clarice dan Elie.
Bagaimanapun,
Clarice dan Elie adalah tunanganku, kami sudah tinggal bersama dan
berkomunikasi selama beberapa tahun terakhir. Jadi aku tahu batasan apa yang
membuat mereka senang.
Tapi Misha
berbeda.
Kalau aku
bilang dia cantik atau cocok, aku takut dianggap menjijikkan, jadi aku
mengabaikannya. Namun, karena Misha sendiri yang bertanya, aku tidak punya
pilihan selain menjawab.
"Cocok
kok, kamu jadi terlihat lebih dewasa."
Mendengar
kata-kataku, Misha berputar berkali-kali di tempat dengan wajah yang tampak
sangat senang.
Tak
lama kemudian, tibalah saatnya gedung sekolah untuk murid baru dibuka, dan para
murid mulai membanjiri masuk ke dalam.
Kami menunggu
beberapa saat sebelum akhirnya ikut masuk.
Pertama, kami
menuju ruang kelas E. Sudah banyak murid yang masuk ke sana, semuanya tampak
penuh harapan akan kehidupan sekolah yang dimulai lusa.
Setelah
melihat kelas-kelas lain, yang tersisa hanyalah ruang Kelas S.
Saat kami
berempat menuju ruang Kelas S, di depan kelas terlihat beberapa murid yang
sedang mengintip ke dalam. Di antara mereka ada Gon dan Karl.
"Gon,
Karl? Ada apa? Kenapa di sini?"
Saat aku
bertanya, mereka dengan panik menempelkan telunjuk di bibir masing-masing.
"Mars,
lihat sendiri deh. Itu Karen-sama dari keluarga Duke Flesvaldt. Seperti
rumornya, dia cantik sekali. Tidak sangka bisa melihatnya tiap hari... Eh,
kamu?! Sini ikut!"
Setelah bicara dengan menggebu-gebu,
Gon tiba-tiba membentak dan menarik lenganku, lalu bertanya dengan volume suara
yang hanya bisa kudengar.
"Oi! Siapa gadis-gadis cantik di
belakangmu itu?! Katanya
kamu sudah punya janji?!"
Ekspresi
Gon tampak galak, seolah dia sedang marah.
"Mars?
Ada apa? Temanmu?"
Mungkin
karena merasa curiga, Clarice bertanya dari belakang. Di belakangnya ada Elie
dan Misha.
"Ah, ini
teman sekamarku..."
Saat aku
hendak memperkenalkan mereka, Gon memotong perkataanku.
"Salam
kenal. Aku Gon. Sebelas tahun, anak sulung, dan tidak punya pacar. Mohon
bantuannya."
Dia
memperkenalkan diri dengan suara yang dibuat seberat mungkin sambil mengulurkan
tangan.
"Ah,
terima kasih atas kesopanannya. Aku Clarice Lampard,
juga sebelas tahun. Karena
aku adalah tunangan Mars, mohon bantuannya untukku dan juga Mars mulai
sekarang."
Clarice
menjabat tangan yang diulurkan itu dengan kedua tangannya sambil tersenyum
lembut.
"Eh?
Hah? Tunangan?"
Gon tampak
kebingungan mendengar kata tunangan yang muncul tiba-tiba, lalu menatapku
meminta penjelasan.
"Iya.
Aku dan Clarice sudah berjanji untuk menjalin masa depan bersama."
Gon
langsung mematung mendengar kata-kataku. Aku memutuskan lebih baik sekalian
memperkenalkan Elie juga, jadi aku menarik tangan Elie agar berdiri di
sampingku.
"Ini
Elie. Dia juga tunanganku, jadi mohon bantuannya."
Elie
hanya mengangguk kecil sebagai salam lalu merangkul lenganku.
Dalam
situasi ini, kalau aku tidak memperkenalkan Misha, bisa-bisa kejadian yang tadi
terulang lagi.
"Satu
lagi. Ini Misha. Dia putri dari Sasha-sensei yang mulai mengajar di sekolah ini
tahun ini."
"Salam
kenal ya, Gon."
Misha
menyapa dengan santai. Gon tampak seperti sedang kehilangan jiwanya setelah
mendengar rentetan perkenalan itu.
Aku
membiarkan Gon dan mulai mengintip ke dalam ruang Kelas S.
Di
dalam kelas, terlihat seorang pria dengan rambut all-back berwarna
cokelat kemerahan sedang berdiri, meletakkan tangannya di bahu seorang gadis
berambut merah panjang dengan tatapan mata yang tampak tangguh, sambil
membisikkan sesuatu.
Seketika,
gadis itu menyadari tatapan kami dan menoleh secara mendadak. Tak sengaja,
tatapanku dan tatapannya pun bertemu.
Inilah kontak pertamaku dengan Karen—.



Post a Comment