Chapter 1
Menuju Ilgusia
Aku dan
Clarice pergi menuju Ilgusia dengan menaiki kereta kuda. Karena barang bawaan
akan bertambah jika Clarice ikut, diputuskan bahwa menggunakan kereta kuda
adalah pilihan terbaik.
Namun,
yang duduk di kursi kusir adalah aku.
Dulu,
saat masih tinggal di Almeria dan pergi ke Ilgusia, Siegfried selalu duduk di
kursi kusir untuk mengendalikannya. Karena waktu itu aku duduk di sampingnya,
aku sedikit banyak tahu cara mengendalikannya.
Mungkin berkat pengalaman itu, aku bisa mengendalikan
kuda-kuda ini tanpa kesulitan. Bisa jadi karena Count Beetle juga sudah
menyiapkan kuda yang sangat berkualitas.
"Kurasa Count Beetle memikirkan banyak hal sebelum
meminta Ayah dan Ibu untuk menitipkanku padamu, Mars."
Clarice berbicara dari dalam kereta.
"Aku kan sudah telanjur terang-terangan bilang
bisa menggunakan Holy Magic, ya? Ternyata itu jauh lebih berbahaya dari
yang kukira. Katanya, ada kemungkinan aku diperjualbelikan kepada bangsawan
tinggi dengan harga yang gila. Selama
aku di Granzam, risiko penculikan akan selalu ada... Memang penduduk yang
sekarang semuanya orang baik, tapi ke depannya pasti akan ada orang-orang yang
datang untuk menculikku... Jika tertangkap oleh petualang jahat, nasibku bisa
jadi lebih buruk lagi..."
"Iya."
"Tapi,
meskipun ada Mars, mengirim anak perempuan usia delapan tahun ke negara musuh
kan hal yang di luar nalar, bukan? Makanya menurutku sang Count memberikan
gelar Baron kepada keluarga Lampard."
"Maksudnya?"
"Seandainya
aku tertangkap dan jadi tawanan, perlakuan terhadap rakyat jelata dan bangsawan
itu berbeda. Aku kurang tahu detailnya, tapi kalau bangsawan, meski di negara
musuh, katanya tidak akan dijadikan budak. Asalkan kemampuan Holy Magic-ku
tidak ketahuan, sih. Lagipula, sang Count sudah mengirim kurir cepat untuk
menyampaikan suratmu kepada orang tuamu, kan? Di dalam surat itu, beliau
menulis agar orang tuamu bersedia menerima dan menjagaku jika aku ikut
bersamamu. Katanya anak perempuan yang ikut ini... anu..."
"Ah, sepertinya aku paham..."
Count Beetle benar-benar sangat memperhatikan kami.
Selain itu, Clarice juga pasti merasa cemas.
Pergi ke negara musuh sendirian, bagaimana kalau keluarga
Mars atau penduduk Ilgusia tidak menerimanya, bagaimana kalau kami
bertengkar... Suaranya tidak seceria biasanya.
"Clarice, dengarkan aku. Aku tidak akan pernah
membiarkanmu menjadi tawanan Kerajaan Balcus. Lagipula, setelah menaklukkan Dungeon
sampai saat kita berangkat dari Granzam, aku merasa sangat menderita karena
tidak bisa bertemu denganmu. Aku merasa dihindari, atau mungkin
dibenci..."
"Mana mungkin..."
"Iya, aku tahu. Tapi aku merasa cemas. Saat di
Granzam, berada di samping Clarice adalah hal yang wajar bagiku, lalu tiba-tiba
kamu menghilang dari depanku tepat setelah Dungeon tuntas. Rasanya
seperti sedang patah hati..."
Eh, baru sadar setelah mengucapkannya! Itu kan hampir
seperti pernyataan cinta!
Aku merasa wajahku memanas. Bukan hanya wajah, seluruh
tubuhku rasanya seperti sedang mengeluarkan keringat dingin.
"Maafkan aku ya. Aku juga memikirkan banyak hal dan
terlalu sibuk dengan perasaanku sendiri... Saat memikirkan bahwa waktu bertiga
bersama Ayah dan Ibu akan segera berakhir..."
Syukurlah dia mengabaikan ucapanku. Mungkin dia tidak
sadar?
Untungnya Clarice ada di dalam kereta dan aku di atas
kursi kusir, jadi dia tidak bisa melihat wajahku.
Bagaimanapun, aku bersumpah akan melindungi Clarice yang
datang ke Ilgusia sendirian. Setidaknya sampai usia dewasa, lima belas tahun.
Jika keluarga atau penduduk tidak bisa menerimanya, aku
sudah siap untuk meninggalkan rumah.
◆◇◆
Perjalanan
bersama Clarice berlangsung lancar.
Ada beberapa alasan kenapa bisa selancar ini. Pertama,
Count Beetle menulis surat sakti agar kami berdua yang masih anak-anak bisa
menginap di penginapan. Cukup dengan menunjukkan surat itu pada pemilik
penginapan, mereka mengizinkan kami menginap tanpa bertanya macam-macam. Meski
tentu saja, kami tetap harus membayar.
Alasan terbesarnya adalah kami berdua bisa menggunakan Holy
Magic.
Jika kuda-kuda mulai kelelahan, cukup rapalkan Heal
dan stamina mereka akan pulih. Kami bisa berangkat jam delapan pagi dan hanya
butuh istirahat saat makan siang sebelum sampai di tempat tujuan berikutnya.
Jika butuh minum di tengah jalan, aku tinggal
mengeluarkan air dengan Water Magic.
Rute yang dipilihkan Count Beetle juga sangat bagus.
Beliau menyiapkan rute yang dihitung dengan cermat agar tidak mendekati ibu
kota, tidak terlalu ke pelosok, dan tidak melewati daerah rawan kriminal.
Meskipun jadi sedikit memutar, itu jauh lebih aman.
Melewati daerah rawan tentu dilarang, tapi beliau juga
menyarankan untuk menghindari ibu kota. Beliau tidak memberitahu alasannya.
Setiap sampai di sebuah kota, kami mampir ke Serikat
Petualang untuk mengambil misi kurir sambil terus menuju ke arah barat.
Mengingat kami ke Serikat Petualang di usia delapan
tahun, aku sudah menduga akan ada adegan klise diganggu orang, tapi ternyata
tidak ada yang mengusik.
Yah, bagi kami yang merupakan pengguna Holy Magic
dan memiliki pertumbuhan fisik lebih cepat dari anak seusia kami, sepertinya
tidak ada yang mengira kami masih delapan tahun.
Meski begitu, terkadang ada yang menyapa karena peralatan
mewah yang dipakai Clarice.
Defender, belati perak Mithril, Magic
Arrow, Mysterious Anklet, Saint Robe, dan terakhir adalah
'Hiasan Rambut Sumpah Kasih' yang kuberikan saat berangkat dari Granzam.
Karena merasa akan berpisah, aku memberikannya secara
impulsif. Hiasan rambut dengan batu sihir merah muda kecil di tengah bunga itu
adalah aksesori yang sedikit meningkatkan Luck, tapi ada satu efek lagi.
[Name]
Hiasan Rambut Sumpah Kasih
[Special]
—
[Value]
—
[Detail]
Luck +1. Kebahagiaan akan datang jika bersatu dengan orang yang memberikannya.
Apa
maksudnya 'bersatu' itu? Jika perasaan kami saling terbalas? A-apa jika kami
berciuman? Atau lebih dari itu...? Bagaimanapun, bagi para petualang, aksesori
ini termasuk barang langka.
Memang ada yang bertanya bagaimana cara mendapatkannya
atau dari siapa, tapi tidak pernah ada yang sampai menyerang kami.
Sedangkan peralatanku hanyalah pedang perak Mithril
dengan hiasan berlebihan, Sylph Dagger, dan Bracelets of Disguise.
Pedang Mithril memang perlengkapan yang bagus,
tapi jika dibandingkan dengan milik Clarice, sih... Di mata petualang lain, aku
pasti terlihat seperti pelayan Clarice.
Omong-omong,
Clarice juga sudah didaftarkan sebagai petualang. Dia
menyandang peringkat E agar bisa masuk ke Dungeon. Yah, aku sudah
menduga hal ini karena ini adalah alasan Count Beetle menyadari asal-usulku.
"Perjalanan itu menyenangkan ya. Sepertinya aku suka
bepergian."
"Aku juga senang. Tapi kalau aku sendirian, pasti
akan sangat membosankan. Ini karena aku bersamamu, Clarice."
Saat itulah, ketika kami sedang mengobrol sambil
mengambil misi kurir di Serikat Petualang, pintu serikat terbuka dengan keras. Seorang pria berpakaian pedagang berteriak.
"Aku ingin mengajukan misi darurat! Budak yang
akan dipersembahkan kepada Duke melarikan diri di dekat Hutan Iblis, tapi kami
tidak berani masuk ke sana! Aku akan membayar berapa pun, tolong seseorang
terima misi ini!"
Ada sepuluh petualang lebih selain kami di dalam
serikat, tapi tidak ada satu pun yang mau menerima misi itu. Jika tidak ada
yang mengambilnya, bukankah nyawa budak itu dalam bahaya?
"Bisakah Anda memberitahu ciri-ciri orang yang
harus dilindungi?" tanya staf serikat dengan lembut, mencoba menenangkan
pedagang yang panik itu.
"...B-budak Elf... Aku tidak bisa bicara lebih
dari itu. Tapi
imbalannya sepuluh keping emas... Tidak, seratus keping emas! Kumohon!
Seseorang, terimalah!" jawab pedagang itu dengan terburu-buru.
"Seratus
keping emas adalah bayaran yang luar biasa. Tapi Hutan Iblis adalah tempat di
mana party yang seluruhnya berisi petualang peringkat B pun bisa mati,
tahu? Uang itu penting, tapi nyawa tidak ada gantinya. Sayang sekali, tapi
menyerahlah."
Sepertinya
Hutan Iblis adalah tempat yang sangat berbahaya.
Seingatku,
Siegfried pernah bilang kalau statistik petualang peringkat B, meski ada
pengecualian, rata-rata totalnya melebihi 400. Jika party yang berisi
orang-orang sekuat itu saja bisa musnah, berarti tempat itu memang sangat
mengerikan.
Aku
memang penasaran soal budak Elf itu, tapi aku tidak boleh membiarkan Clarice
dalam bahaya.
Tanpa
beradu pandang dengan pria pedagang itu, kami pun melangkah meninggalkan
Serikat Petualang.



Post a Comment