NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 2 Chapter 3

Chapter 3

Misha


" Mars! Kamu baik-baik saja?"

Meski matanya sembap karena air mata, gadis cantik itu berlari menghampiriku. Sekali lihat pun, orang tahu kalau dia adalah seorang gadis yang sangat rupawan.

"Ya. Apa Clarice yang melindungiku tadi?"

"Aku tidak tahu. Aku hanya melakukannya sekuat tenaga. Ada yang luka? Kamu benar-benar tidak apa-apa?"

"Aku benar-benar baik-baik saja. Tapi memalukan sekali, sekarang tubuhku malah gemetaran..."

Sebagai buktinya, saat ini aku terduduk lemas di tanah dan tidak bisa berdiri.

"Tidak, kok. Kamu terlihat sangat keren, sama seperti waktu itu."

"Hahaha. Terima kasih."

Clarice selalu menerimaku meski aku menunjukkan sisi yang memalukan. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak jatuh cinta padanya.

"Ngomong-ngomong, di mana anak Elf itu?"

"Eh, dia sedang berlindung di dalam kereta. Dia mungkin masih ketakutan, jadi ayo kita segera kembali."

Clarice mengulurkan tangannya yang putih bersih dan lembut. Aku menyambut tangan itu, memungut batu sihir dari Hell Snake, lalu kembali ke kereta.

"Kamu baik-baik saja? Tidak ada luka, kan?"

"Petualang? Apa kalian disuruh pedagang itu untuk menangkapku kembali? Aku tidak akan pernah mau kembali!"

"Kami memang petualang, tapi kami tidak akan menyerahkanmu pada pedagang itu. Kamu berasal dari mana? Kami mau menuju ke arah barat, kalau tujuanmu sama, mau pergi bersama kami sampai tengah jalan?"

Saat Clarice berbicara dengan suaranya yang manis dan lembut, kewaspadaan gadis Elf itu sedikit mencair. Dia bertanya dengan suara yang penuh harapan.

"Kalian benar-benar tidak akan membawaku ke tempat pedagang itu? Sungguh?"

"Sungguh. Kami tidak akan melakukan hal seperti itu. Jadi beritahu kami, kamu mau ke mana? Kami akan membantumu sebisa mungkin."

Aku meniru nada bicara Clarice yang lembut, dan akhirnya dia mulai membuka diri padaku.

"Te-terima kasih banyak. Benar-benar... terima kasih sudah menolongku..."

Gadis Elf itu melanjutkan ceritanya sambil terisak.

"Aku tidak tahu harus pergi ke mana... Aku datang bersama Ibu... tapi kami terpisah di kota... Lalu seorang pedagang bilang dia tahu tempat Ibu dan menyuruhku ikut..."

"Modus klasik, ya... Kapan kamu terpisah dari Ibumu? Kamu tahu di mana lokasinya?"

"Mungkin tiga hari yang lalu. Aku tidak tahu nama tempatnya, tapi dia bilang itu Kota Labirin."

"Baiklah. Kita akan mencari informasi soal Kota Labirin di kota depan. Namaku Mars, salam kenal."

"Aku Clarice. Salam kenal, ya."

"Aku Misha. Mohon bantuannya untuk sementara waktu."

Aku segera menggunakan Appraisal pada Misha.


[Name] Misha Februant

[Ras] Elf (Rakyat Jelata)

[Status] Good

[Age] 7

[Level] 3

[HP] 15/18

[MP] 2/52

[Strength] 6

[Agility] 8

[Magic] 9

[Dexterity] 8

[Endurance] 4

[Luck] 10

[Special] Spearman B (Lv 0/17)

[Special] Water Magic C (Lv 1/15)

[Special] Wind Magic C (Lv 1/15)


Hah!? Bakatnya luar biasa. Jika bicara soal potensi murni, dia hampir setara dengan Ike.

Biasanya Elf identik dengan kemahiran memanah seperti Clarice, tapi anak ini ternyata berbakat dalam ilmu tombak.

Statistiknya sesuai dugaan; Strength dan Endurance-nya rendah. Meski begitu, dia hanya terpaut satu tahun dariku... tapi dia terlihat sangat mungil.

Seingatku, bangsa Elf tumbuh dengan kecepatan yang sama dengan manusia sampai usia lima belas tahun... Apa ini karena perbedaan individu?

"M-Mars-san? Aku merasa ada tatapan yang aneh?"

Eh? Apa dia sadar aku sedang meng-Appraisal? Namun, Clarice sepertinya salah paham.

"Mars. Jangan-jangan...?"

Clarice menggembungkan pipinya dengan lucu sambil menatapku dengan tatapan sinis. Apa mungkin dia cemburu?

"Tidak, maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya terkejut karena dia ternyata hanya selisih satu tahun dari kita."

"Eh? Misha tujuh tahun?"

Clarice ikut terkejut, namun kata-kata Misha berikutnya jauh lebih mengejutkan lagi.

"Lho? Apa aku sudah bilang usiaku? Benar, sekarang aku tujuh tahun, tapi sebentar lagi delapan tahun..."

"Eeeh!? Tahun ini jadi delapan? Kita seumuran dong!"

Clarice menjawab dengan penuh semangat, membuat Misha ikut kaget.

"Eh!? Mars-san dan Clarice-san seumuran? Tapi tadi kalian bilang kalian petualang? Bukannya baru bisa jadi petualang di usia dua belas tahun? Kalian berdua besar sekali, bahkan Clarice-san dadanya sudah mulai menonjol..."

Misha bergantian menatap dadanya sendiri dan dada Clarice berkali-kali.

"Tunggu!? Jangan bicara yang aneh-aneh!? Kami benar-benar delapan tahun dan sudah petualang Peringkat E. Nih, lihat ini."

Begitu Clarice menunjukkan kartu petualang tembaganya, Misha akhirnya percaya.

"—Benar... Aku sudah ke banyak kota dan melihat anak seumuran, tapi baru kali ini melihat orang sebesar ini."

Meski berkata begitu, tatapan Misha masih terpaku pada "bagian itu" milik Clarice.

"Ngomong-ngomong, Misha, bagaimana kalau kamu membersihkan diri dulu? Bajumu sudah kotor, mungkin kamu bisa meminjam baju Clarice?"

Kali ini bukan hanya Clarice, Misha pun ikut menatapku dengan tajam.

"Mars, kamu tidak sedang memikirkan hal mesum, kan?"

"Mars-san...?"

"Mana mungkin... T-tolong percayalah padaku..."

Aku menggunakan Earth Magic untuk membuat ember kayu, mengisinya dengan air, lalu menghangatkannya dengan Fire Magic sebelum menyerahkannya pada Clarice. Aku pun menjauh dari kereta untuk berjaga-jaga di sisi selatan.

Di kejauhan, hutan itu tampak diselimuti kabut atau semacam selubung tipis. Jadi itu Hutan Iblis. Sesuai namanya, auranya memang terasa mencekam.

Sekitar dua puluh atau tiga puluh menit kemudian, kudengar suara memanggilku dari dalam kereta.

Saat aku mengintip ke dalam gerbong, seorang gadis cantik mengenakan tudung... bukan, jubah suci yang kedodoran, tampak duduk manis di sana.

Matanya yang besar berwarna cokelat kemerahan. Hidungnya tidak semancung dugaanku, dengan bibir yang tipis.

Telinganya panjang meruncing, dan rambut hijau zamrudnya yang berkilau diikat dua. Benar-benar penampilan yang mempertegas bahwa bangsa Elf itu memang rupawan.

Tega-teganya menjadikan anak seperti ini sebagai budak. Aku tidak akan pernah menyerahkannya pada pedagang mana pun.

◆◇◆

Setelah Misha selesai berganti baju, kami segera meninggalkan tempat itu. Bukan hal yang lucu jika kami masih berleha-leha lalu diserang lagi oleh Hell Snake lainnya.

Sambil memacu kereta dengan cepat, kulihat kedua gadis di dalam gerbong sudah mulai akrab.

Mungkin karena mereka seumuran, atau mungkin karena latar belakang mereka yang serupa. Aku ingin ikut mengobrol, tapi aku harus duduk di kursi kusir, dan sepertinya mereka akan lebih asyik jika bicara sesama perempuan.

Selain itu, ada hal yang menggangguku... sesuatu yang harus kuwaspadai.

Aku sepenuhnya memercayai Count Beetle, dan menurutku beliau orang yang layak dipercaya. Namun, kami sekarang justru menuju kota yang sengaja beliau hindari dalam peta.

Sebenarnya aku ingin kembali ke Kota Polo yang tadi, tapi jika kembali sekarang, hari akan gelap sebelum kami sampai. Itu membawa bahaya dalam bentuk lain.

Karena sekarang aku harus melindungi Misha juga selain Clarice, kewaspadaanku harus ditingkatkan berkali-kali lipat.

Untuk itu, aku sekali lagi meng-Appraisal diriku sendiri. Aku harus memantau sisa MP dan memutuskan apakah harus bertarung atau kabur jika bertemu musuh kuat.


[Name] Mars Bryant

[Titles] Wind King / Goblin Slayer

[Rank] Human / Anak kedua Viscount Bryant

[Status] Good

[Age] 8

[Level] 21

[HP] 130/130

[MP] 5254/7845

[Strength] 83

[Agility] 88

[Magic] 125 (+1)

[Dexterity] 111

[Endurance] 81

[Luck] 30

[Inherent] Gifted (Lv MAX), Sky Eye (Lv 8) (7→8), Lightning Magic S (Lv 0/20)

[Special] Swordmanship B (Lv 6/17), Fire Magic F (Lv 5/8), Water Magic G (Lv 3/5), Earth Magic G (Lv 2/5), Wind Magic A (Lv 13/19), Holy Magic C (Lv 6/15)


Meskipun sudah mengalahkan Hell Snake yang sangat mengancam, levelku tidak naik. Hasil yang didapat hanyalah status Magic yang naik 1 poin dan level Sky Eye yang naik ke level 8.

Aku berniat mencoba apa yang bisa dilakukan Sky Eye yang baru nanti, sekaligus memantapkan tekad untuk menguasai Lightning Magic bagaimanapun caranya.

Selama ini aku bisa selamat dengan sihir angin dan ilmu pedang, tapi menghadapi monster level ancaman tinggi saja aku sudah kesulitan. Sihir angin mungkin tidak akan mempan pada monster yang lebih kuat lagi. Masalahnya, meski sudah mencoba setiap hari, aku masih belum bisa mengeluarkan sihir petir.

Berikutnya, aku memeriksa Clarice yang sedang asyik mengobrol dengan Misha di dalam gerbong.


[Name] Clarice Lampard

[Rank] Human / Putri sulung Baron Lampard

[Status] Good

[Age] 8

[Level] 21 (+1)

[HP] 103/103

[MP] 245/562

[Strength] 43 (+4)

[Agility] 46 (+4)

[Magic] 63 (+6)

[Dexterity] 68 (+7)

[Endurance] 44 (+4)

[Luck] 20

[Inherent] Barrier Magic G (Lv 1/5) (0→1)

[Special] Swordmanship C (Lv 3/15), Archery B (Lv 5/17) (4→5), Water Magic C (Lv 2/15), Holy Magic A (Lv 6/19)


Kenapa levelku tidak naik tapi level Clarice malah naik?

Yah, sudahlah. Yang terpenting, akhirnya Clarice mempelajari Barrier Magic! Ternyata suara seperti kaca pecah tadi memang sihir pelindung Clarice yang memental balik Hell Snake! Jika dia bisa mengendalikan sihir itu secara sadar, itu akan menjadi pertahanan yang tak tertembus.

Sisa MP-ku masih cukup banyak. Meski MP Clarice mulai menipis, asalkan aku yang berdiri di depan saat melawan monster kuat, harusnya tidak ada masalah.

Dalam perjalanan menuju kota tetangga, kami sempat bertemu beberapa monster, tapi tidak ada yang berbahaya. Hanya Kobold dan Goblin, jadi aku membiarkan Clarice menghabisi mereka dengan Defender.

Saat Clarice kembali dari pertarungan, Misha tampak sangat antusias.

"Clarice kuat banget ya, padahal kita seumuran. Aku juga ingin jadi kuat sepertimu."

"Aku masih belum apa-apa. Mars jauh lebih kuat dariku."

"Aku tahu Mars kuat karena melihat pertarungan tadi. Eh, boleh tanya satu hal lagi? Apa Mars itu pelayanmu, Clarice?"

"Bukan, aku dan Mars itu... teman. Untuk sekarang."

Tanpa sadar, Misha mulai memanggilku tanpa sebutan hormat, dan suasana di dalam gerbong selalu dipenuhi tawa. Citra bangsa Elf yang tadinya kupikir pendiam dan sulit didekati ternyata benar-benar meleset, tapi aku jauh lebih suka suasana yang seperti ini.

Sambil tetap waspada, aku menjadikan obrolan mereka sebagai musik latar dan terus memacu kereta.

Tepat sebelum matahari terbenam, Ganal—kota tetangga yang dihindari dalam rute Count Beetle—akhirnya mulai terlihat di cakrawala.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close