Chapter
3
Misha
" Mars! Kamu baik-baik saja?"
Meski matanya sembap karena air mata, gadis cantik
itu berlari menghampiriku. Sekali lihat pun, orang tahu kalau dia
adalah seorang gadis yang sangat rupawan.
"Ya. Apa Clarice yang melindungiku tadi?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya melakukannya sekuat
tenaga. Ada yang luka? Kamu benar-benar tidak apa-apa?"
"Aku benar-benar baik-baik saja. Tapi
memalukan sekali, sekarang tubuhku malah gemetaran..."
Sebagai buktinya, saat ini aku terduduk lemas di tanah
dan tidak bisa berdiri.
"Tidak, kok. Kamu terlihat sangat keren, sama
seperti waktu itu."
"Hahaha. Terima kasih."
Clarice selalu menerimaku meski aku menunjukkan sisi yang
memalukan. Tidak ada alasan bagiku untuk tidak jatuh cinta padanya.
"Ngomong-ngomong, di mana anak Elf itu?"
"Eh, dia sedang berlindung di dalam kereta. Dia
mungkin masih ketakutan, jadi ayo kita segera kembali."
Clarice mengulurkan tangannya yang putih bersih dan
lembut. Aku menyambut tangan itu, memungut batu sihir dari Hell Snake,
lalu kembali ke kereta.
"Kamu baik-baik saja? Tidak ada luka, kan?"
"Petualang? Apa kalian disuruh pedagang itu untuk
menangkapku kembali? Aku tidak akan pernah mau kembali!"
"Kami memang petualang, tapi kami tidak akan
menyerahkanmu pada pedagang itu. Kamu berasal dari mana? Kami mau menuju ke
arah barat, kalau tujuanmu sama, mau pergi bersama kami sampai tengah
jalan?"
Saat Clarice berbicara dengan suaranya yang manis dan
lembut, kewaspadaan gadis Elf itu sedikit mencair. Dia bertanya dengan suara
yang penuh harapan.
"Kalian benar-benar tidak akan membawaku ke tempat
pedagang itu? Sungguh?"
"Sungguh. Kami tidak akan melakukan hal seperti itu.
Jadi beritahu kami, kamu mau ke mana? Kami akan membantumu sebisa
mungkin."
Aku meniru nada bicara Clarice yang lembut, dan akhirnya
dia mulai membuka diri padaku.
"Te-terima kasih banyak. Benar-benar... terima kasih
sudah menolongku..."
Gadis Elf itu melanjutkan ceritanya sambil terisak.
"Aku tidak tahu harus pergi ke mana... Aku datang bersama Ibu... tapi
kami terpisah di kota... Lalu seorang pedagang bilang dia tahu tempat Ibu dan
menyuruhku ikut..."
"Modus
klasik, ya... Kapan kamu terpisah dari Ibumu? Kamu tahu
di mana lokasinya?"
"Mungkin tiga hari yang lalu. Aku
tidak tahu nama tempatnya, tapi dia bilang itu Kota Labirin."
"Baiklah. Kita akan mencari informasi soal Kota
Labirin di kota depan. Namaku Mars, salam kenal."
"Aku Clarice. Salam kenal, ya."
"Aku Misha. Mohon bantuannya untuk sementara
waktu."
Aku
segera menggunakan Appraisal pada Misha.
[Name]
Misha Februant
[Ras]
Elf (Rakyat Jelata)
[Status]
Good
[Age]
7
[Level]
3
[HP]
15/18
[MP]
2/52
[Strength]
6
[Agility]
8
[Magic]
9
[Dexterity]
8
[Endurance]
4
[Luck]
10
[Special]
Spearman B (Lv 0/17)
[Special]
Water Magic C (Lv 1/15)
[Special]
Wind Magic C (Lv 1/15)
Hah!?
Bakatnya luar biasa. Jika bicara soal potensi murni, dia hampir setara dengan
Ike.
Biasanya
Elf identik dengan kemahiran memanah seperti Clarice, tapi anak ini ternyata
berbakat dalam ilmu tombak.
Statistiknya
sesuai dugaan; Strength dan Endurance-nya rendah. Meski begitu,
dia hanya terpaut satu tahun dariku... tapi dia terlihat sangat mungil.
Seingatku,
bangsa Elf tumbuh dengan kecepatan yang sama dengan manusia sampai usia lima
belas tahun... Apa ini karena perbedaan individu?
"M-Mars-san?
Aku merasa ada tatapan yang aneh?"
Eh? Apa
dia sadar aku sedang meng-Appraisal? Namun, Clarice sepertinya salah
paham.
"Mars.
Jangan-jangan...?"
Clarice
menggembungkan pipinya dengan lucu sambil menatapku dengan tatapan sinis. Apa
mungkin dia cemburu?
"Tidak,
maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya terkejut karena dia ternyata
hanya selisih satu tahun dari kita."
"Eh? Misha tujuh tahun?"
Clarice ikut terkejut, namun kata-kata Misha berikutnya
jauh lebih mengejutkan lagi.
"Lho? Apa aku sudah bilang usiaku? Benar, sekarang
aku tujuh tahun, tapi sebentar lagi delapan tahun..."
"Eeeh!? Tahun ini jadi delapan? Kita seumuran
dong!"
Clarice menjawab dengan penuh semangat, membuat Misha
ikut kaget.
"Eh!? Mars-san dan Clarice-san seumuran? Tapi tadi kalian bilang kalian petualang? Bukannya baru bisa jadi
petualang di usia dua belas tahun? Kalian berdua besar sekali, bahkan
Clarice-san dadanya sudah mulai menonjol..."
Misha bergantian menatap dadanya sendiri dan dada
Clarice berkali-kali.
"Tunggu!? Jangan bicara yang aneh-aneh!? Kami
benar-benar delapan tahun dan sudah petualang Peringkat E. Nih, lihat
ini."
Begitu Clarice menunjukkan kartu petualang
tembaganya, Misha akhirnya percaya.
"—Benar...
Aku sudah ke banyak kota dan melihat anak seumuran, tapi baru kali ini melihat
orang sebesar ini."
Meski berkata begitu, tatapan Misha masih terpaku pada
"bagian itu" milik Clarice.
"Ngomong-ngomong, Misha, bagaimana kalau kamu
membersihkan diri dulu? Bajumu sudah kotor, mungkin kamu bisa meminjam baju
Clarice?"
Kali ini bukan hanya Clarice, Misha pun ikut menatapku
dengan tajam.
"Mars, kamu tidak sedang memikirkan hal mesum,
kan?"
"Mars-san...?"
"Mana
mungkin... T-tolong percayalah padaku..."
Aku
menggunakan Earth Magic untuk membuat ember kayu, mengisinya dengan air,
lalu menghangatkannya dengan Fire Magic sebelum menyerahkannya pada
Clarice. Aku pun menjauh dari kereta untuk berjaga-jaga di sisi
selatan.
Di kejauhan, hutan itu tampak diselimuti kabut atau
semacam selubung tipis. Jadi itu Hutan Iblis. Sesuai namanya, auranya memang
terasa mencekam.
Sekitar dua puluh atau tiga puluh menit kemudian,
kudengar suara memanggilku dari dalam kereta.
Saat aku mengintip ke dalam gerbong, seorang gadis cantik
mengenakan tudung... bukan, jubah suci yang kedodoran, tampak duduk manis di
sana.
Matanya yang besar berwarna cokelat kemerahan. Hidungnya
tidak semancung dugaanku, dengan bibir yang tipis.
Telinganya panjang meruncing, dan rambut hijau zamrudnya
yang berkilau diikat dua. Benar-benar penampilan yang mempertegas bahwa bangsa
Elf itu memang rupawan.
Tega-teganya menjadikan anak seperti ini sebagai budak.
Aku tidak akan pernah menyerahkannya pada pedagang mana pun.
◆◇◆
Setelah Misha selesai berganti baju, kami segera
meninggalkan tempat itu. Bukan hal yang lucu jika kami masih berleha-leha lalu
diserang lagi oleh Hell Snake lainnya.
Sambil memacu kereta dengan cepat, kulihat kedua gadis di
dalam gerbong sudah mulai akrab.
Mungkin karena mereka seumuran, atau mungkin karena latar
belakang mereka yang serupa. Aku ingin ikut mengobrol, tapi aku harus duduk di
kursi kusir, dan sepertinya mereka akan lebih asyik jika bicara sesama
perempuan.
Selain itu, ada hal yang menggangguku... sesuatu yang
harus kuwaspadai.
Aku sepenuhnya memercayai Count Beetle, dan menurutku
beliau orang yang layak dipercaya. Namun, kami sekarang justru menuju kota yang
sengaja beliau hindari dalam peta.
Sebenarnya aku ingin kembali ke Kota Polo yang tadi, tapi
jika kembali sekarang, hari akan gelap sebelum kami sampai. Itu membawa bahaya
dalam bentuk lain.
Karena sekarang aku harus melindungi Misha juga selain
Clarice, kewaspadaanku harus ditingkatkan berkali-kali lipat.
Untuk itu, aku sekali lagi meng-Appraisal diriku
sendiri. Aku harus memantau sisa MP dan memutuskan apakah harus
bertarung atau kabur jika bertemu musuh kuat.
[Name]
Mars Bryant
[Titles]
Wind King / Goblin Slayer
[Rank]
Human / Anak kedua Viscount Bryant
[Status]
Good
[Age]
8
[Level]
21
[HP]
130/130
[MP]
5254/7845
[Strength]
83
[Agility]
88
[Magic]
125 (+1)
[Dexterity]
111
[Endurance]
81
[Luck]
30
[Inherent]
Gifted (Lv MAX), Sky Eye (Lv 8) (7→8), Lightning Magic S (Lv 0/20)
[Special]
Swordmanship B (Lv 6/17), Fire Magic F (Lv 5/8), Water Magic G (Lv 3/5), Earth
Magic G (Lv 2/5), Wind Magic A (Lv 13/19), Holy Magic C (Lv 6/15)
Meskipun sudah mengalahkan Hell Snake yang
sangat mengancam, levelku tidak naik. Hasil yang didapat hanyalah status Magic yang naik 1
poin dan level Sky Eye yang naik ke level 8.
Aku
berniat mencoba apa yang bisa dilakukan Sky Eye yang baru nanti,
sekaligus memantapkan tekad untuk menguasai Lightning Magic bagaimanapun
caranya.
Selama
ini aku bisa selamat dengan sihir angin dan ilmu pedang, tapi menghadapi
monster level ancaman tinggi saja aku sudah kesulitan. Sihir angin mungkin
tidak akan mempan pada monster yang lebih kuat lagi. Masalahnya, meski sudah
mencoba setiap hari, aku masih belum bisa mengeluarkan sihir petir.
Berikutnya,
aku memeriksa Clarice yang sedang asyik mengobrol dengan Misha di dalam
gerbong.
[Name]
Clarice Lampard
[Rank]
Human / Putri sulung Baron Lampard
[Status]
Good
[Age]
8
[Level]
21 (+1)
[HP]
103/103
[MP]
245/562
[Strength]
43 (+4)
[Agility]
46 (+4)
[Magic]
63 (+6)
[Dexterity]
68 (+7)
[Endurance]
44 (+4)
[Luck]
20
[Inherent]
Barrier Magic G (Lv 1/5) (0→1)
[Special]
Swordmanship C (Lv 3/15), Archery B (Lv 5/17) (4→5), Water Magic C (Lv 2/15),
Holy Magic A (Lv 6/19)
Kenapa
levelku tidak naik tapi level Clarice malah naik?
Yah,
sudahlah. Yang terpenting, akhirnya Clarice mempelajari Barrier Magic!
Ternyata suara seperti kaca pecah tadi memang sihir pelindung Clarice yang
memental balik Hell Snake! Jika dia bisa mengendalikan sihir itu
secara sadar, itu akan menjadi pertahanan yang tak tertembus.
Sisa MP-ku masih cukup banyak. Meski MP
Clarice mulai menipis, asalkan aku yang berdiri di depan saat melawan monster
kuat, harusnya tidak ada masalah.
Dalam perjalanan menuju kota tetangga, kami sempat
bertemu beberapa monster, tapi tidak ada yang berbahaya. Hanya Kobold dan
Goblin, jadi aku membiarkan Clarice menghabisi mereka dengan Defender.
Saat Clarice kembali dari pertarungan, Misha tampak
sangat antusias.
"Clarice kuat banget ya, padahal kita seumuran. Aku
juga ingin jadi kuat sepertimu."
"Aku masih belum apa-apa. Mars jauh lebih kuat
dariku."
"Aku tahu Mars kuat karena melihat pertarungan tadi.
Eh, boleh tanya satu hal lagi? Apa Mars itu pelayanmu, Clarice?"
"Bukan, aku dan Mars itu... teman. Untuk
sekarang."
Tanpa sadar, Misha mulai memanggilku tanpa sebutan
hormat, dan suasana di dalam gerbong selalu dipenuhi tawa. Citra bangsa Elf
yang tadinya kupikir pendiam dan sulit didekati ternyata benar-benar meleset,
tapi aku jauh lebih suka suasana yang seperti ini.
Sambil tetap waspada, aku menjadikan obrolan mereka
sebagai musik latar dan terus memacu kereta.
Tepat sebelum matahari terbenam, Ganal—kota tetangga yang dihindari dalam rute Count Beetle—akhirnya mulai terlihat di cakrawala.



Post a Comment