Chapter 16
Perpisahan
Begitu aku
membuka pintu, pemandangan mengejutkan menyambutku. Count Beetle bersama
seluruh pasukan ksatria berlutut dengan satu kaki di hadapanku.
"Maafkan
aku, Mars-kun. Jujur saja, kami sempat sedikit mencurigaimu."
Setelah Count
berkata demikian, beliau dan para ksatria menundukkan kepala dalam-dalam.
"Eh,
ada apa ini? Aku tidak begitu mengerti situasinya..."
"Kami
sudah tahu jauh-jauh hari bahwa Baron Dames berencana melakukan pemberontakan.
Karena ada kemungkinan Mars-kun terlibat, kami melakukan pengawasan. Tentu saja
kami ingin mempercayaimu, tapi pengawasan itu adalah bentuk jaga-jaga. Perasaan
janggal dan tatapan yang kamu rasakan itu wajar, karena kamu diawasi oleh dua
pihak sekaligus: orang-orang Baron Dames dan pihak kami. Per pagi hari ini,
kecurigaan kami sudah hilang sepenuhnya, tapi kami tidak sempat
memberitahumu."
"Aku
juga punya tanggung jawab karena tidak bisa menjelaskan banyak hal tentang
diriku. Jadi, aku menerima permintaan maaf Anda."
Aku
meraih kedua tangan Count Beetle dan membantunya berdiri.
"Pertama-tama,
bolehkah aku menyampaikan laporanku?"
"Benar juga.
Mari dengarkan laporanku di kediaman pribadiku. Ada hal yang ingin kubicarakan
juga denganmu di sana. Bagaimana?"
"Baik, aku
mengerti."
Atas saran Count
Beetle, kami menuju kediaman pribadinya menggunakan kereta kuda. Di tengah
perjalanan, aku menyadari Baron Dames juga ikut dibawa, tentu saja dengan
pergelangan tangan yang terikat tali.
Tak butuh waktu
lama untuk sampai di kediaman pribadi sang Count. Kupikir rumah seorang Count
akan sangat mewah, tapi ternyata tidak juga. Kediaman keluarga Bryant di
Ilgusia bahkan terasa lebih besar.
Kami dipandu
masuk ke sebuah ruangan luas. Di sana, selain Baron Dames, ada enam orang lain
yang juga terikat. Selain itu, ada dua orang dari keluarga Lampard—Gray dan
Erna.
Karena mereka
berdua tidak terikat, sepertinya mereka di sini bukan karena melakukan
kesalahan. Clarice
yang menyadari keberadaan orang tuanya langsung berlari menghampiri dengan
gembira.
Gray dan
Erna yang semula tampak tegang langsung luluh begitu melihat putri mereka. Mereka menangis haru; jelas sekali mereka
sangat mengkhawatirkannya.
"Ayah, Ibu,
aku pulang."
"Syukurlah
kamu selamat. Nanti kami akan dengarkan ceritanya, ya."
Melihat
pemandangan itu, aku memberi hormat pada keluarga Lampard sebelum melapor pada
sang Count.
"Hari ini
kami telah menaklukkan Ruang Bos. Bosnya adalah dua ekor Goblin King. Ini
adalah Magic Stone milik mereka."
Aku menyerahkan Magic
Stone Goblin King yang telah kuambil kepada Count Beetle.
"Terima
kasih, Mars-kun. Nona Clarice juga sudah bekerja keras. Sekali lagi, aku
meminta maaf. Aku sempat curiga kamu bekerja sama dengan Baron Dames di sana
untuk merencanakan sesuatu yang buruk."
Si Dames ini, isi
kepalanya benar-benar kacau. Tatapan matanya pun terasa seperti orang yang
sudah kehilangan kewarasan.
"Namun, pagi
ini Mars-kun datang satu jam lebih awal ke titik pertemuan. Jika kamu
berkomplot dengan Baron Dames, hal itu tidak mungkin dilakukan karena akan
merusak seluruh rencana. Sebenarnya sejak awal aku tidak begitu curiga, tapi
memang benar ada sedikit keraguan. Maafkan aku."
"Iya.
Seperti yang kukatakan tadi, aku menerima permohonan maaf Anda."
"Terima
kasih. Nah, mari beralih ke soal imbalan. Apa ada sesuatu yang kamu
inginkan?"
"Tidak, aku
belum memutuskan apa pun..."
"Begitu ya.
Kalau begitu, izinkan aku menyampaikan keputusan yang sudah ditetapkan.
Pertama, keluarga Baron Barker resmi dibubarkan! Selain itu, registrasi
petualang keenam anggota Barkers dicabut, dan bersama dengan Dames
Barker, mereka semua akan dijadikan budak!"
Oho, keputusan
yang cukup drastis, pikirku. Seketika komplotan si Dames pembuat masalah itu
mulai ribut. Karena sudah tidak ada urusan lagi dengan mereka, para ksatria
menyeret mereka keluar dengan kasar.
"Nah,
setelah orang-orang berisik itu pergi, ada satu hal lagi. Gray Lampard! Mulai
hari ini, aku mengangkatmu menjadi Baron!"
Aku
sangat terkejut sampai tidak sengaja mengeluarkan suara. Gray sendiri
sepertinya sudah diberitahu sebelumnya, jadi dia tidak terlalu kaget. Pantas
saja dia tampak tegang sejak tadi.
Tapi, diangkat menjadi bangsawan karena ini... Memang benar
Clarice telah menyembuhkan warga kota dengan Heal dan berkontribusi
besar dalam penaklukan Dungeon Granzam.
Namun,
kupikir Gray tidak melakukan sesuatu yang spesifik... Mungkin dia punya jasa
lain yang tidak kuketahui, atau Count Beetle punya rencana tertentu. Yah, bukan
urusanku juga untuk terlalu memikirkannya.
Tanpa
memedulikan kebingunganku, Clarice memberikan ucapan selamat dengan mata
berbinar.
"Hebat!
Ayah, Ibu! Mulai sekarang, berjuanglah demi rakyat, ya!"
"A-ah, iya.
Rasanya agak rumit karena Ayah merasa belum melakukan apa-apa."
"Gray,
jangan bicara begitu. Nona Clarice bisa tumbuh menjadi sehebat ini pastinya
berkat kalian berdua sebagai orang tuanya. Pengangkatan resmi akan dilakukan
nanti, tapi mulai hari ini kamu diizinkan menyandang gelar Baron. Jika boleh,
aku ingin kamu mempertimbangkan permintaanku yang tadi, apa kamu sudah
memutuskan? Tentu saja ini bukan perintah, jadi kamu boleh menolaknya."
Sepertinya ada
sesuatu yang ditawarkan sebelumnya. Aku jadi penasaran.
"Ya, saya
masih belum bisa memutuskannya."
"Begitu ya.
Tapi seperti yang kamu tahu, waktu kita tidak banyak. Aku akan menghubungimu
lagi nanti. Hari ini pulanglah ke rumah, habiskan waktu bertiga bersama Nona
Clarice setelah sekian lama, dan bicarakanlah hal ini. Untuk Mars-kun, hari ini
kamu akan menginap di kediaman ini. Bagaimana?"
"Baik. Mohon
bantuannya."
"Saya
mengerti. Saya akan pulang dan mendiskusikannya dengan keluarga."
Setelah aku
menjawab, Gray membungkuk pada Count Beetle lalu berbicara padaku.
"Mars-kun,
terima kasih sudah menjaga Clarice hari ini. Aku selalu berhutang budi padamu.
Aku belum bisa membalas apa pun, tapi tolong tunggulah sebentar lagi."
"Tidak
perlu, Tuan. Mengizinkanku menumpang dan memberiku waktu yang menyenangkan saja
sudah lebih dari cukup."
Yah, meski aku
mulai membayar uang sewa di tengah jalan, tapi itu karena ada "gadis
maskot" yang menemaniku, kan? Rasanya berapa pun yang kubayar tidak akan
pernah cukup.
"Kalau
begitu, kami mohon pamit."
Gray dan Erna pun
melangkah keluar. Clarice juga berkata "Sampai nanti, ya" sambil
mengekor di belakang mereka.
"Nah,
Mars-kun. Banyak hal yang ingin kubicarakan, tapi mari kita mandi dan makan
malam dulu."
"Terima
kasih banyak."
Setelah mandi,
aku menuju ruang makan dan disambut oleh hidangan yang melimpah.
Beberapa ksatria
juga diundang, membuat suasana makan malam menjadi sangat ramai dan
menyenangkan. Untuk berjaga-jaga, aku memeriksa setiap bahan makanan dengan Appraisal,
tapi tidak ada racun.
Di sela-sela
makan, seorang ksatria berkata,
"Maafkan
kami karena terus mengawasimu. Tolong maafkan kami. Tapi berkat itu, terbukti
bahwa kamu adalah orang yang luar biasa. Kamu menyalurkan Potion dan ingot
dengan harga normal atau bahkan lebih murah, sehingga kami para ksatria dan
banyak warga kota sangat berterima kasih. Benar-benar terima kasih
banyak."
Satu per satu
laporan dari mereka yang mengawasiku bermunculan. Ternyata semua ksatria di
sini adalah orang-orang yang pernah mengintaiku.
Aku
benar-benar harus mengasah kemampuanku mendeteksi bahaya... Payah sekali aku
ini, sudah diawasi sebanyak ini tapi hanya merasa "janggal" saja.
Setelah itu, aku
terus menerima ucapan terima kasih dan pujian dari para ksatria. Rasanya agak
malu, tapi aku senang melihat mereka bahagia. Para ksatria kemudian kembali ke
pos masing-masing karena masih ada tugas yang harus diselesaikan.
Begitu tinggal
berdua dengan sang Count, beliau pun melontarkan pertanyaan inti.
"Mari kita
bicara serius, Mars Bryant-kun."
Akhirnya ketahuan juga... Identitas asliku seharusnya hanya
diketahui oleh Clarice, Gray, dan Erna. Apa ada yang membocorkannya? Clarice
pasti tidak... berarti antara Gray atau Erna...
"Melihat reaksimu, sepertinya memang ada orang yang
tahu asal-usulmu, ya. Sebenarnya, aku tahu kamu adalah putra kedua Viscount
Siegfried Bryant dari Kerajaan Balcus itu murni karena ketidaksengajaan. Aku
bingung imbalan apa yang pantas untukmu, jadi aku terpikir untuk mendaftarkanmu
ke Serikat Petualang. Tentu saja, pendaftaran saja tidak cukup sebagai imbalan,
tapi aku meminta Victo, si Master Serikat yang kamu temui tempo hari, untuk
mendaftarkanmu. Karena aku tidak tahu nama belakangmu, aku hanya menyebut nama
Mars. Lalu Victo bilang, ada nama Mars yang terdaftar di Kerajaan Balcus tiga
tahun lalu saat berusia empat tahun. Aku yakin itu orang yang sama, dan saat
aku mencoba memancingmu tadi, ternyata dugaanku benar. Tentu saja aku tahu Mars-kun tidak punya niat
jahat. Tapi, bolehkah aku tahu kenapa kamu ada di sini?"
Aku merasa malu
karena sempat mencurigai Gray dan Erna.
"Baiklah.
Seperti dugaan Anda, aku adalah Mars Bryant dari Kerajaan Balcus. Kedatanganku
ke sini murni kecelakaan. Aku terlempar dari Dungeon Ilgusia karena
sihir pemindahan dan tiba-tiba sampai di Granzam yang sedang mengalami Monster
Overflow."
"Hmm. Begitu ya... Bagi Granzam, itu adalah kebetulan
yang sangat kami syukuri... Apa kamu punya cara untuk pulang?"
"Tidak, aku tidak punya. Aku sempat terpikir untuk
mencoba apakah bisa berpindah lewat Dungeon Granzam dengan cara yang
sama, tapi... tidak ada jaminan aku bisa kembali ke Ilgusia meskipun berhasil
berpindah. Bisa saja aku malah
terlempar ke benua yang sama sekali berbeda..."
"Fumu.
Bagaimana kalau aku yang mengatur kepulanganmu? Jika kamu membawa surat resmiku
saat menyeberangi perbatasan, mungkin kamu bisa lewat dengan mudah. Yah, karena
sedang perang, mungkin tidak akan semudah itu meski membawa surat... tapi layak
dicoba."
"A-ah,
terima kasih banyak! Mohon bantuannya!"
"Baiklah.
Aku akan menyiapkannya secepat mungkin. Beri aku waktu seminggu. Selain itu,
jika kamu menulis surat, aku bisa mengirim kurir berkuda cepat untuk
menyampaikannya ke Ilgusia lebih dulu. Bukankah lebih baik memberitahu
keluargamu bahwa kamu selamat?"
"Terima
kasih atas segalanya. Kalau begitu, besok aku akan segera menulis
suratnya."
"Umu. Kalau
begitu, istirahatlah yang cukup hari ini. Kita bicara lagi besok. Kerja bagus
untuk hari ini."
Sang Count pun
kembali ke kamarnya. Syukurlah, meskipun identitas asliku terbongkar, aku tidak
mendapat hukuman. Aku pun kembali ke kamar dan tertidur dengan tenang.
Karena tidak suka
hanya berdiam diri menunggu waktu seminggu berlalu, aku memutuskan untuk masuk
ke Dungeon sendirian. Aku sempat mengajak Clarice, tapi sejak hari
penaklukan Dungeon Granzam, dia terasa agak menjaga jarak.
Dia memang tampak
senang saat bertemu denganku, tapi aku bisa merasakan bahwa dia lebih
memprioritaskan Gray, Erna, dan anak-anak lain di kota ini.
Di antara
anak-anak itu, ada anak laki-laki yang tingginya hampir sama denganku, dan
melihat Clarice tampak bersenang-senang dengan mereka membuat dadaku serasa
sesak.
Rasanya
seperti sedang patah hati... tidak, ini memang patah hati... Di kehidupan
sebelumnya aku selalu berjuang sendirian, tapi setelah datang ke dunia ini, Ike
selalu bersamaku.
Dan belakangan ini, ada Clarice. Saat bersama Clarice...
Sudahlah, berhenti memikirkannya.
Hanya saat membantai para Goblin di Ruang Bos dan 'Spawn
Room' sajalah aku bisa fokus sepenuhnya dan melupakan soal Clarice.
Berkat itu,
levelku naik dan kemampuanku bertambah. Aku bahkan menginap di Safe Zone
dan berusaha tidak kembali ke kota Granzam, karena bertemu Clarice hanya akan
membuat berbagai perasaan berkecamuk kembali.
Untungnya, para
ksatria Beetle bersedia mengantarkan barang-barang yang kubutuhkan sampai ke Safe
Zone, jadi aku tidak mengalami kesulitan.
Namun, setiap
kali menaklukkan Ruang Bos, aku selalu mendapatkan perlengkapan bagus.
Seolah takdir
ingin aku terus mengingat Clarice, perlengkapan yang kudapat adalah
perlengkapan khusus untuknya. Akan kuberikan ini padanya sebagai
kenang-kenangan saat berpisah nanti.
Akhirnya, pagi
hari keberangkatanku dari Granzam tiba. Inilah hasil dari kegiatanku menyendiri
di Ruang Bos Dungeon Granzam.
[Name] Mars Bryant
[Status] Human / Putra Kedua Keluarga Viscount Bryant
[Level] 21 (+2)
[HP] 130/130
[MP] 7832/7832
[Strength] 83 (+10)
[Agility] 88 (+11)
[Magic] 124 (+9)
[Dexterity] 111 (+12)
[Endurance] 81 (+8)
[Unique Ability] Gifted (Lv MAX), Heaven's Eye (Lv 7),
Lightning Magic S (Lv 0/20)
[Special Ability] Spearmanship B (Lv 6/17), Fire Magic F
(Lv 5/8), Wind Magic A (Lv 13/19), Holy Magic C (Lv 6/15)
[Equipment] Mithril Silver Sword, Sylph Dagger, Bracelets
of Disguise
Seiring
bertambahnya usia, statistikku juga naik pesat. Begitu nilai Dexterity-ku
melewati 100, aku akhirnya bisa merapal sihir angin selain Wind Cloak
sambil mengayunkan pedang.
Namun, hanya
sihir angin yang bisa. Sepertinya ini juga dipengaruhi oleh nilai bakat.
Mengenai nilai
bakat tersebut, level sihir apiku naik mencapai batas maksimal bakat G yaitu
level 5, dan secara mengejutkan bakatku naik menjadi F sehingga aku bisa
merapal Fireball.
Aku tidak tahu
apakah ini karena Dexterity-ku yang naik atau bakat sihir apiku yang
meningkat, tapi saat aku mencoba apakah bisa menggunakan sihir api bersamaan
dengan sihir angin, murni karena kebetulan, aku bisa menggunakan sebuah teknik
baru.
Aku tidak bisa
melepaskan Fire saat sedang merapal Tornado, tapi aku bisa
melepaskan Tornado dan Fire secara bersamaan.
Aku sempat
mencoba berbagai hal dengan sihir petir, berpikir mungkin itu juga bergantung
pada Dexterity, tapi tetap tidak ada respon sama sekali. Namun, usaha
tidak akan mengkhianati hasil. Aku akan terus berusaha.
Sambil memikirkan
hal itu, aku berjalan melintasi kota hingga sampai di gerbang barat Granzam.
Aku berniat
mampir ke rumah keluarga Lampard untuk berpamitan dan memberikan hadiah pada
Clarice, tapi seluruh keluarga sedang tidak ada di rumah sehingga keinginan itu
tidak tercapai. Mungkin mereka tidak tahu kalau aku berangkat hari ini.
Sebagai gantinya,
di dekat gerbang barat, Count Beetle, para ksatria, dan warga kota berkumpul
untuk mengantarku.
Aku menerima
banyak kata-kata hangat seperti "Terima kasih, Tuan Master Pedang"
dan "Datanglah lagi kapan saja". Count dan Komandan Ksatria Blair
kabarnya akan mengantarku sampai ke luar kota.
Aku mengucapkan
selamat tinggal pada warga dan melangkah meninggalkan kota Granzam.
Air
mataku tidak berhenti mengalir saat menyadari aku benar-benar akan pergi.
Sambil
berjalan mengenang bulan-bulan yang telah berlalu, aku melihat tiga sosok
manusia di kejauhan, sekitar satu kilometer dari kota. Saat mendekat, ternyata
itu adalah keluarga Lampard.
Bertemu
Clarice setelah sekian lama membuat dadaku sesak lagi, tapi ada juga rasa
nyaman yang menyelinap.
"Mars-kun.
Terima kasih atas segalanya. Berkatmu, keluarga Lampard... tidak, seluruh
Granzam telah terselamatkan."
"Bukan hanya
karena aku, tapi karena perjuangan kalian semua. Jika kalian menyerah, Granzam
pasti sudah jatuh sebelum aku sampai di sini."
Setelah menjawab
Gray, aku menatap lurus ke arah Clarice yang matanya tampak sembap, sepertinya
dia habis menangis.
"Clarice
juga, terima kasih ya. Tiga
bulan yang kuhabiskan bersamamu sangat menyenangkan. Ini hadiah ulang tahun
untukmu. Aku belum pernah memberi hadiah seperti ini pada siapa pun sebelumnya,
jadi aku tidak tahu kamu akan suka atau tidak, tapi aku akan senang jika kamu
mau memakainya."
Gray
pernah memberitahuku kalau ulang tahun Clarice sama denganku, yaitu tanggal
satu Januari.
"...Eh!?"
Mata Clarice kembali berkaca-kaca.
"...Warna merah muda bunga... anggrek bulan ini... lalu
batu sihir berbentuk hati? Cantik sekali... terima kasih..."
Begitu menerima hadiah itu, Clarice langsung melepas ikat
rambut putihnya dan memasang ikat rambut bermotif bunga merah muda pemberianku.
Setitik air mata mengalir di pipinya, namun dia mengibaskan
rambutnya dan berpose dengan ceria sambil bertanya, "Bagaimana? Cocok
tidak?".
Aku sempat
terpesona dan kehilangan kata-kata, tapi sepertinya perasaanku tersampaikan
padanya. Wajah Clarice juga merona malu.
Syukurlah, aku
bisa bertemu dengannya untuk terakhir kali dan dia menyukai hadiahku. Dengan
perpisahan yang layak seperti ini, rasa pedih saat mengenang kota ini mungkin
akan sedikit berkurang.
"Kalau
begitu, aku berangkat ya."
Suaraku
tanpa sadar bergetar saat menyadari ini benar-benar saat terakhir, tapi...
"...Tunggu
sebentar."
Clarice
menahanku saat aku hendak berbalik.
"...Count
Beetle, Komandan Blair, lalu Ayah, Ibu... terima kasih atas segalanya..."
Mendengar
kata-kata Clarice, Gray dan Erna memeluknya sambil menangis tersedu-sedu, dan
Clarice pun ikut menangis sejadi-jadinya. Aku hanya bisa berdiri terpaku
melihat pemandangan itu.
Beberapa
saat kemudian, Clarice berhenti menangis dan melangkah ke sampingku.
"Ayo, mari kita berangkat," ucapnya sambil menggenggam tanganku erat-erat.
"Eh?"
"Ayo, mari
kita berangkat."
"Eh? Tapi...
tidak..."
Saat aku masih
mematung karena belum bisa mencerna situasi, Count Beetle memberikan penjelasan
padaku.
"Saat kami
kembali ke Granzam untuk membereskan urusan Dames sementara kalian masih
menaklukkan Dungeon, aku bicara pada Gray. Aku bertanya padanya, apakah
dia bersedia menitipkan Nona Clarice kepadamu, Mars-kun?"
"Mengenai
hal itu, Count Beetle berniat memberi waktu bagi keluarga Lampard untuk
berpikir, dan beliau ingin memulai diskusi tanpa kehadiran Mars-kun. Tapi
sebelum agenda dimulai, Clarice sendiri yang menyatakan ingin pergi bersamamu.
Awalnya aku benci menganggap Clarice seolah-olah dia adalah imbalan atau benda,
tapi karena Clarice sendiri yang memintanya..."
"Aku pun
terkejut saat mendengar hal itu. Padahal aku yang mengusulkannya, tapi hatiku
sendiri merasa berat."
Kata-kata Count Beetle dan Gray seolah hanya lewat di
kepalaku. Namun, satu hal yang pasti
kupahami sekarang; Clarice sama sekali tidak berniat memanfaatkanku.
Selama seminggu
ini, dia bersikap dingin karena ingin menciptakan kenangan sebanyak mungkin
sebelum harus berpisah dengan keluarga dan teman-temannya!
"Mars-kun,
kutitipkan Clarice padamu, ya. Aku yakin dia akan baik-baik saja selama
bersamamu, tapi tolong berhati-hatilah di perjalanan. Di luar sana banyak
bandit..."
Erna berujar
sambil terisak, sementara Gray berusaha sekuat tenaga menahan air matanya dan
tersenyum untuk mengucapkan selamat tinggal pada Clarice.
"Kalau
terjadi sesuatu, kamu boleh pulang kapan saja. Ayah dan Ibu akan selalu berada
di pihakmu, Clarice."
Clarice yang
sejak tadi menahan diri, akhirnya tidak sanggup lagi membendung air matanya
setelah mendengar ucapan mereka. Gray dan Erna segera berlari memeluk Clarice untuk terakhir kalinya.
Setelah
akhirnya memahami seluruh situasinya, aku pun tak sanggup lagi menahan tangis. Sang Count dan Komandan Ksatria juga ikut
menitikkan air mata melihat perpisahan keluarga itu.
Hari itu, sebuah pelangi kecil yang indah menghiasi langit di pinggiran kota Granzam.



Post a Comment