NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 1 Chapter 10

Chapter 10

Reuni


Sudah lebih dari tujuh tahun berlalu sejak aku datang ke dunia ini.

Meski hidupku singkat, aku sudah berjuang sekuat tenaga. Aku tidak berniat menyerah, tapi aku cukup sadar diri dengan situasi yang kuhadapi sekarang.

Aku tidak mungkin melarikan diri sendirian. Di situasi seperti ini, kalaupun Ksatria bantuan datang, butuh waktu satu jam bagi mereka untuk sampai ke sini. Lagipula, menghadapi gerombolan sebanyak ini, para Ksatria pun mungkin akan...

Kenapa bisa jadi begini...

Belakangan ini, aku memang sering mendengar kabar kalau monster sedang marak bermunculan.

Karena itulah, Count Beetle terus mengirimkan Ksatria ke Kota Labirin Granzam ini. Pasukan Ksatria Beetle berjumlah lebih dari seratus dua puluh orang, dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil beranggotakan dua puluh orang yang melakukan rotasi setiap hari untuk masuk ke Dungeon.

Para Ksatria masuk untuk memangkas jumlah monster, tapi mereka tidak seahli para petualang dalam urusan penjelajahan Dungeon.

Lalu di mana para petualang itu? Ternyata, para petualang peringkat D ke atas semuanya sudah pergi ke arah barat demi mencari nama dalam peperangan melawan Kerajaan Barcus.

Dungeon di sini baru muncul sesaat sebelum aku lahir, dan isinya hanya dihuni oleh Goblin.

Oleh karena itu, banyak petualang peringkat E berkumpul di sini dan membuat kota ini menjadi sangat ramai.

Kabarnya Dungeon ini sangat mudah, tapi katanya lantai tiga berubah menjadi area yang mengerikan.

Di sana ada yang namanya 'Spawn Room', tempat di mana Goblin General terus-menerus muncul tanpa henti.

Kekuatannya setara dengan musuh yang baru bisa dikalahkan oleh party peringkat C, sehingga tidak ada satu pun party di kota ini yang sanggup menaklukkannya. Dulu, pernah ada party peringkat B terkenal dari kota lain yang datang ke Dungeon Granzam ini. Mereka berhasil melewati 'Spawn Room', namun mereka tidak pernah kembali dari ruangan yang diduga adalah ruang bos.

Setelah itu, Ksatria Beetle juga sempat mencoba menyerang Dungeon ini, tapi mereka sudah kepayahan hanya untuk menangani 'Spawn Room' dan belum pernah sampai ke ruang bos.

Para petualang peringkat E yang tersisa di kota ini juga tetap masuk ke Dungeon, tapi mereka hanya berani sampai ke Safe Zone lantai dua. Melewati itu, terkadang beberapa Goblin General muncul sekaligus dan nyawa mereka bisa terancam.

Jadi, para Ksatria bertugas memangkas jumlah monster hingga sebelum 'Spawn Room' di lantai tiga.

Situasi itu terus bertahan hingga bulan lalu. Namun baru-baru ini, sebuah kejanggalan terjadi.

Monster mulai sering muncul bahkan hingga ke pinggiran Kota Labirin Granzam. Monster yang muncul adalah Kobold. Seharusnya bagi Granzam yang punya banyak petualang peringkat E, mereka bukan ancaman besar, tapi jumlahnya sangat banyak.

Setiap hari mereka harus membunuh sekitar seratus ekor agar Kobold tidak merangsek masuk ke Granzam, sehingga para Ksatria lebih banyak menghabiskan waktu membasmi Kobold daripada mengurus Dungeon.

Mengirim dua puluh Ksatria setiap hari ke Granzam ternyata menjadi beban yang berat. Ada kota-kota lain selain Granzam, dan lonjakan jumlah monster tidak hanya terjadi di sekitar sini saja. Masalah keamanan wilayah juga harus dipertimbangkan.

Meski begitu, Count Beetle tetap konsisten mengirimkan pasukannya.

Namun, kejadian itu pecah sekitar tiga jam yang lalu.

Monster Overflow. Sejumlah besar Goblin meluap keluar dari dalam Dungeon.

Seluruh petualang di Granzam belum pernah berpengalaman menghadapi Monster Overflow. Begitu juga dengan kami. Jadi awalnya, karena hanya sedikit Goblin yang muncul, kami pikir ini bukan masalah besar.

Itu adalah kesalahan fatal. Seandainya saat itu kami langsung bersiap melarikan diri...

Untuk menangani Monster Overflow, para petualang segera pergi memburu para Goblin. Butuh waktu sekitar satu jam setelah luapan dimulai untuk menghabisi seratus ekor Goblin yang naik ke permukaan.

Kurasa ada sekitar lima puluh petualang yang ikut, dan untungnya tidak ada korban luka berat.

Aku sendiri bertugas mengobati para petualang dengan Heal. Ya... aku bisa menggunakan Sihir Suci yang langka. Kurasa MP-ku juga tergolong sangat banyak.

Setelah selesai mengobati para petualang, gelombang kedua datang. Karena kupikir sudah berakhir, aku menggunakan Heal untuk memulihkan semuanya, tapi mungkin itu adalah sebuah kesalahan.

Gelombang kedua yang keluar dari Dungeon berjumlah dua kali lipat, sekitar dua ratus ekor. Apalagi kali ini ada banyak Goblin Mage dan Hobgoblin.

Para petualang dipaksa bertahan total. Aku terus membantu dengan Heal, tapi MP-ku bisa habis kapan saja.

Melihat gelombang kedua, para penduduk mulai mengungsi. Aku berpikir, jika orang-orang yang mengungsi meminta bantuan pada Ksatria yang berada di luar kota, semuanya akan baik-baik saja... setidaknya sampai saat itu.

Penduduk kota melarikan diri keluar melalui pos pemeriksaan barat. Para Goblin mengejar mereka, dan seketika pos pemeriksaan barat dibanjiri oleh Goblin.

Penduduk yang terlambat mengungsi mati-matian berlari ke arah barat daya. Ke arah tempat kami berada.

Mungkin kami sudah membunuh seratus ekor, sisa seratus lagi... akhirnya titik terang mulai terlihat. Tapi karena masih ada beberapa Hobgoblin dan Goblin Mage, kami belum bisa lengah.

Di saat itulah, gelombang ketiga datang. Jumlahnya mungkin mencapai tiga ratus ekor. Dan semuanya, tiga ratus ekor itu, hanya berisi Hobgoblin dan Goblin Mage.

Bukan hanya penduduk yang mengungsi ke sini, para petualang pun ikut putus asa.

Aku berdoa agar ayah dan ibuku saja yang melarikan diri. Ayah dan ibu yang sangat baik padaku sejak aku datang ke dunia ini. Ayah dan ibu keduaku.

Namun doaku sia-sia, sebuah suara yang tidak ingin kudengar justru tertangkap oleh telingaku.

"Syukurlah! Clarice! Kamu selamat! Ayah pasti akan melindungimu di sini! Kamu akan baik-baik saja, tenanglah!"

"Syukurlah! Clarice, kamu aman! Biar kami yang menangani mereka, kamu tenang saja ya!"

Ayah dan ibu terlambat mengungsi. Tidak, mungkin mereka tidak sanggup melarikan diri dengan meninggalkanku di sini.

Ayah dan ibu berdiri di depanku. Garis depan memang ditangani oleh para petualang, tapi pertahanan itu hampir jebol. Sudah ada beberapa orang yang luka parah dan mundur ke belakang.

Seiring mundurnya para petualang, kami mulai terkepung oleh Goblin. Dan tidak sampai tiga puluh menit, kami sudah terkepung sepenuhnya.

Petualang yang masih sanggup bertarung hanya tersisa dua puluh orang. Sisi utara dijaga oleh petualang, sementara sisi timur dijaga oleh penduduk.

Ayah dan ibu juga berada di garis depan penduduk. Di belakangku, ada lebih dari seratus orang yang terluka.

Lalu, di sisi timur yang dijaga penduduk, muncul korban luka berat. Itu Ayah! Lengan kanan Ayah patah. Dan darah mengucur dari perutnya.

"Ayah! Ayah tidak apa-apa!? Tunggu, aku akan segera mengobatimu!"

"Berhenti... orang yang harus kamu pulihkan sekarang adalah para petualang... Kalau kamu mengutamakan petualang, kamu akan selamat. Penduduk juga akan selamat..."

Sambil menekan lukanya, Ayah berusaha meyakinkanku dengan suara pelan dan lembut agar aku tidak khawatir. Kemudian Ibu juga mundur dengan darah yang mengalir dari perutnya.

Tampaknya para Goblin sudah merasa menang, mereka berniat menyiksa kami perlahan-lahan sampai mati. Buktinya, mereka menyerang sambil tertawa dengan ekspresi menjijikkan, "Gya gya gya."

Tanpa ragu aku merapalkan Heal pada ayah dan ibu, dan luka di perut mereka pun sembuh. Lengan kanan Ayah memang belum sembuh, tapi karena nyawanya sudah tertolong, aku menghentikan Heal setelah satu kali rapal. Namun, seorang petualang yang melihat pemulihan itu berteriak.

"Kalau kamu masih bisa pakai Heal, tolong obati kami para petualang juga!"

Mendengar itu, para penduduk mulai ikut berteriak.

"Luka saya lebih parah, obati saya dulu!"

"Aku duluan!"

"Jangan bercanda! Aku dulu!"

Mata mereka berubah gelap dan mulai membuat keributan. Aku sudah tahu akan jadi begini. Tapi, aku tidak mungkin bisa mengabaikan ayah dan ibuku.

Selagi kekacauan terjadi, orang-orang mulai bertengkar satu sama lain. Bahkan ada yang mencoba memaksaku menggunakan Heal dengan kekerasan.

Seorang bangsawan. Pria itu mengaku sebagai seorang Baron dan bilang kalau mengobati dirinya adalah prioritas utama. Setelah melihat kalau pria itu hanya menderita luka gores, aku memutuskan dia baik-baik saja dan menggunakan sisa MP-ku yang tinggal sedikit untuk para petualang.

Seketika, pria bangsawan itu menampar pipiku.

"Jangan main-main! Aku akan mengeksekusimu atas tuduhan penghinaan!"

Pria itu mencabut pedangnya dan hendak menebasku. Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal itu di situasi seperti ini. Aku hanya bisa terpaku di tempat, menutup mata rapat-rapat saat pedang itu diayunkan ke arahku.

Namun, setelah beberapa detik terpejam, aku tidak merasakan tebasan itu. 'Eh?' pikirku sambil membuka mata. Ternyata Ayah sudah melindungiku dan dialah yang tertebas. Ibu pun berada di depanku.

Mereka berdua berniat menjadi tameng daging untukku.

Aku segera merapalkan Heal pada Ayah. Mungkin pendarahannya sedikit berkurang, tapi darah belum berhenti mengucur. Aku mencoba merapalkan Heal sekali lagi, tapi sihirnya tidak keluar.

MP-ku sudah terkuras hingga tersisa di kisaran 1 sampai 9 saja.

Ayah yang tertebas berkata pada bangsawan itu.

"Mohon ampuni putri saya... berikanlah kebijakan yang murah hati..."

"Kamu juga mau menghalangiku!? Ayah dan anak, kalian berdua dihukum mati karena penghinaan! Tebuslah dengan nyawa kalian!"

Tepat saat pedang gila itu hendak diayunkan kembali... pria bangsawan itu terpental jauh.

Aku yang terkejut melihat si bangsawan terlempar, langsung menoleh ke arah seorang anak laki-laki asing yang tiba-tiba sudah berdiri di sana.

Dia anak laki-laki yang sebaya denganku, namun badannya lebih tinggi. Dan entah kenapa, dia terasa sangat familier bagiku.

◆◇◆

Begitu aku keluar ke sisi lain tembok, pemandangan yang menyambutku adalah kerumunan besar orang yang terluka.

Saat aku menoleh ke belakang, terlihat tembok kota. Tembok yang mirip dengan yang ada di Almeria. Kristal yang diberikan Van sama sekali tidak memberikan reaksi.

Aku sempat berpikir apakah tembok ini terhubung dengan Dungeon, tapi sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu. Di seberang para korban luka, manusia dan Goblin sedang bertempur hebat.

Aku segera bergerak menuju lokasi di mana teriakan amarah dan tangisan terdengar paling kencang. Karena tubuhku kecil, aku bisa menyelinap di antara kerumunan orang yang padat.

Aku sengaja lewat di samping orang-orang yang terluka parah dan menggunakan Heal tanpa menarik perhatian. Lagipula semua orang sedang panik, jadi sedikit tindakan berani pun tidak akan disadari. Para korban luka menatap bekas luka mereka dengan wajah keheranan.

Dan akhirnya, aku sampai di lokasi itu. Pemandangan yang sangat ganjil. Seharusnya mereka bertarung melawan Goblin, tapi manusia justru mencoba membunuh sesama manusia.

Anehnya, orang-orang di sekitar tidak ada yang mencoba menghentikan. Seorang gadis kecil berteriak, "Ayah!"

Pasti pria yang hampir ditebas itu adalah ayahnya. Masih sempat.

Berpikir demikian, aku menggunakan Sylphid untuk bergerak dengan kecepatan tinggi ke depan pria yang hendak menebas, lalu melancarkan palm strike tepat ke arah dagunya.

Sepertinya aku mengeluarkan tenaga terlalu besar karena panik, karena pria yang hendak menebas itu terpental dengan sangat dramatis seperti seorang stuntman.




Keheningan mencekam seketika menyelimuti area sekitar akibat tindakanku.

Sebelum pria yang kupukul itu siuman dan mencoba menebas lagi, aku segera merampas pedang hiasnya, lalu diam-diam menyembuhkan luka pria yang nyaris menjadi korbannya agar tidak menarik perhatian orang lain.

"Pokoknya, mari kita habisi para Goblin ini dulu! Penjelasannya nanti saja!" seruku pada orang-orang di sekitarku.

"Ada lebih dari tiga ratus Goblin di sana! Beberapa di antaranya Hobgoblin! Kita tidak akan selamat!"

"Kalau kami bisa melakukannya, sudah dari tadi kami lakukan!" bentak mereka balik.

"Goblin di sisi ini bisa kutangani sendiri! Kalian awasi saja sisi yang sebelah sana!"

Hanya itu yang kuucapkan sebelum aku melesat menerjang kerumunan Goblin. Penduduk menatapku dengan wajah yang seolah berkata, apa-apaan bocah ini?

Tanpa memedulikan tatapan mereka, aku mulai membantai para Goblin hanya dengan pedang, tanpa menggunakan sihir. Aku khawatir jika menggunakan sihir, orang-orang yang masih hidup di sekitar sini malah akan ikut terkena dampaknya.

Jika ada tiga ratus ekor, meski aku butuh lima detik untuk menghabisi satu ekor pun, totalnya hanya seribu lima ratus detik. Artinya, dalam dua puluh lima menit aku bisa menyapu bersih mereka semua.

Selama ini aku terbiasa bertarung melawan Goblin King, Goblin Lord, dan Goblin General, jadi musuh sekelas Hobgoblin atau Goblin Mage sama sekali bukan tandingan bagiku. Bahkan tanpa perlu menggunakan Sylphid, aku membantai mereka dalam sekejap.

Tiga puluh menit kemudian, seluruh Goblin yang ada di kota telah habis tak bersisa.

Kota itu seketika dipenuhi suara sorak-sorai. Banyak orang yang menghampiriku untuk mengucapkan terima kasih dan rasa syukur mereka.

Namun, karena ada kemungkinan gelombang keempat akan segera datang, penduduk pun mulai bersiap mengungsi. Di saat itulah, pasukan Ksatria datang bersama penguasa wilayah ini, Count Beetle.

"Aku adalah Count Beetle, Raul Grace! Apa yang terjadi!? Apakah penduduk selamat? Ada yang terluka? Kami akan mengobati yang luka parah terlebih dahulu! Jika kalian luka parah atau melihat orang yang luka parah, segera lapor pada Ksatria! Kalian juga boleh bicara langsung padaku!"

Mendengar itu, pria yang tadi kupukul langsung merengek pada sang Count.

"Count Beetle! Saya menderita luka gores! Tadi ada penjahat tak dikenal menyerang saya sampai saya pingsan dan sekarang kepala saya sakit sekali! Tolong beri saya perawatan prioritas utama!"

"Hmm, kalau kau masih bisa bicara sepanjang itu, berarti kau bisa menunggu nanti. Cari penduduk yang luka parah!"

"A-apa!? Obati saya dulu, saya ini bangsawan!"

"Cukup! Cepat mulai perlindungan bagi penduduk!"

Setelah berkata demikian, Count Beetle mengabaikannya dan mulai membantu merawat serta menenangkan para penduduk. Si Baron yang dicampakkan itu pun melihatku dan berteriak dengan suara melengking.

"Penjahat! Ada penjahat di sana! Tangkap dia! Atau eksekusi saja dia atas tuduhan penghinaan!"

Namun, tak ada satu pun penduduk yang bergerak. Sebaliknya, mereka malah membentuk barisan untuk melindungiku, seolah sengaja menyembunyikan keberadaanku.

"Apa yang kalian lakukan! Kalian juga mau dihukum mati karena penghinaan, hah!? Ksatria, tangkap bocah itu!"

Salah satu ksatria kemudian menyahut.

"Mohon maaf, Tuan Damas, tapi Anda tidak memiliki hak perintah atas kami. Perintah yang kami terima adalah melindungi penduduk, harap maklum."

Anggota ksatria itu pun pergi untuk mencari korban luka lainnya. Jadi namanya Damas, ya.

Dia bukan komandan ksatria, bukan pula pemimpin regu penyihir. Kekuatannya pun tidak terlihat hebat, sepertinya dia hanya tipe yang mewarisi gelar dari orang tuanya. Kalau orang tidak kompeten seperti dia bisa mewarisi gelar, memang sebaiknya kaum bangsawan punya banyak anak agar punya pilihan pewaris yang lebih baik.

Tapi, lebih baik aku tidak berlama-lama di sini. Bisa repot kalau terus-terusan berurusan dengan si Damas itu.

Saat aku bersembunyi di balik bayangan rumah warga, Damas kehilangan jejakku. Karena putus asa, ia mulai melampiaskan amarahnya kepada para penduduk.

Melihat tingkah semena-menanya itu, aku merasa sangat jengkel hingga tanpa sadar kedua tanganku mengepal kuat. Saat itulah aku menyadari tangan kananku masih menggenggam pedang yang kurampas dari Damas.

Kalau aku pergi begitu saja, bukankah ini namanya mencuri? Tapi ini kan pedang si Damas itu...

Jika kukembalikan sekarang, dia mungkin akan menggunakannya untuk menebas penduduk lagi. Jadi sebaiknya jangan dikembalikan dulu. Atau mungkin, jangan pernah dikembalikan selamanya. Saat aku sedang bimbang, sebuah suara terdengar.

"Terima kasih banyak! Berkat Anda, saya dan putri saya selamat!"

Aku menoleh dan mendapati pria yang tadi hampir ditebas oleh Damas.

"Tidak masalah. Saya yang seharusnya minta maaf karena sudah lancang ikut campur."

Sejenak aku terpikir untuk menyerahkan pedang ini padanya, tapi aku urungkan karena takut dia malah akan ditebas saat mencoba mengembalikannya.

"Meski Anda masih sangat muda, kekuatan Anda luar biasa. Saya pikir putri saya yang seumuran dengan Anda sudah jenius, tapi ternyata... Clarice, kemarilah."

Atas panggilan itu, seorang gadis muncul dari balik punggung pria tersebut. Gadis itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya diam menatapku lekat-lekat.

Aku pun terpaku menatap gadis berambut perak dengan mata biru yang memiliki paras sangat cantik itu. Kepalaku, hatiku, seolah sedang meneriakkan sesuatu.

Dan aku sudah menyadari apa arti teriakan itu.

Anak laki-laki dan anak perempuan itu berjalan mendekat dengan perlahan. Kemudian mereka saling meraih tangan satu sama lain.

"Terima kasih sudah menolongku lagi. Aku selamat berkatmu."

"Sama-sama. Aku juga selamat."

Setelah bertukar kata dalam bahasa Jepang, kami berdua jatuh terduduk di sana, saling berpelukan erat sambil menangis bersama.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close