Chapter 10
Reuni
Sudah lebih dari
tujuh tahun berlalu sejak aku datang ke dunia ini.
Meski hidupku
singkat, aku sudah berjuang sekuat tenaga. Aku tidak berniat menyerah, tapi aku
cukup sadar diri dengan situasi yang kuhadapi sekarang.
Aku tidak
mungkin melarikan diri sendirian. Di situasi seperti ini, kalaupun Ksatria bantuan datang, butuh waktu satu
jam bagi mereka untuk sampai ke sini. Lagipula, menghadapi gerombolan sebanyak
ini, para Ksatria pun mungkin akan...
Kenapa
bisa jadi begini...
Belakangan
ini, aku memang sering mendengar kabar kalau monster sedang marak bermunculan.
Karena
itulah, Count Beetle terus mengirimkan Ksatria ke Kota Labirin Granzam ini.
Pasukan Ksatria Beetle berjumlah lebih dari seratus dua puluh orang, dibagi
menjadi kelompok-kelompok kecil beranggotakan dua puluh orang yang melakukan
rotasi setiap hari untuk masuk ke Dungeon.
Para
Ksatria masuk untuk memangkas jumlah monster, tapi mereka tidak seahli para
petualang dalam urusan penjelajahan Dungeon.
Lalu di mana para
petualang itu? Ternyata, para petualang peringkat D ke atas semuanya sudah
pergi ke arah barat demi mencari nama dalam peperangan melawan Kerajaan Barcus.
Dungeon di sini baru muncul sesaat sebelum aku
lahir, dan isinya hanya dihuni oleh Goblin.
Oleh karena itu,
banyak petualang peringkat E berkumpul di sini dan membuat kota ini menjadi
sangat ramai.
Kabarnya Dungeon
ini sangat mudah, tapi katanya lantai tiga berubah menjadi area yang
mengerikan.
Di sana ada yang
namanya 'Spawn Room', tempat di mana Goblin General terus-menerus muncul tanpa
henti.
Kekuatannya
setara dengan musuh yang baru bisa dikalahkan oleh party peringkat C,
sehingga tidak ada satu pun party di kota ini yang sanggup
menaklukkannya. Dulu, pernah ada party peringkat B terkenal dari kota
lain yang datang ke Dungeon Granzam ini. Mereka berhasil melewati 'Spawn
Room', namun mereka tidak pernah kembali dari ruangan yang diduga adalah ruang
bos.
Setelah itu,
Ksatria Beetle juga sempat mencoba menyerang Dungeon ini, tapi mereka
sudah kepayahan hanya untuk menangani 'Spawn Room' dan belum pernah sampai ke
ruang bos.
Para petualang
peringkat E yang tersisa di kota ini juga tetap masuk ke Dungeon, tapi
mereka hanya berani sampai ke Safe Zone lantai dua. Melewati itu,
terkadang beberapa Goblin General muncul sekaligus dan nyawa mereka bisa
terancam.
Jadi, para
Ksatria bertugas memangkas jumlah monster hingga sebelum 'Spawn Room' di lantai
tiga.
Situasi itu terus
bertahan hingga bulan lalu. Namun baru-baru ini, sebuah kejanggalan terjadi.
Monster mulai
sering muncul bahkan hingga ke pinggiran Kota Labirin Granzam. Monster yang
muncul adalah Kobold. Seharusnya bagi Granzam yang punya banyak petualang
peringkat E, mereka bukan ancaman besar, tapi jumlahnya sangat banyak.
Setiap hari
mereka harus membunuh sekitar seratus ekor agar Kobold tidak merangsek masuk ke
Granzam, sehingga para Ksatria lebih banyak menghabiskan waktu membasmi Kobold
daripada mengurus Dungeon.
Mengirim dua
puluh Ksatria setiap hari ke Granzam ternyata menjadi beban yang berat. Ada
kota-kota lain selain Granzam, dan lonjakan jumlah monster tidak hanya terjadi
di sekitar sini saja. Masalah keamanan wilayah juga harus dipertimbangkan.
Meski begitu,
Count Beetle tetap konsisten mengirimkan pasukannya.
Namun, kejadian
itu pecah sekitar tiga jam yang lalu.
Monster
Overflow. Sejumlah besar
Goblin meluap keluar dari dalam Dungeon.
Seluruh
petualang di Granzam belum pernah berpengalaman menghadapi Monster Overflow.
Begitu juga dengan kami. Jadi awalnya, karena hanya sedikit Goblin yang muncul,
kami pikir ini bukan masalah besar.
Itu
adalah kesalahan fatal. Seandainya saat itu kami langsung bersiap melarikan
diri...
Untuk
menangani Monster Overflow, para petualang segera pergi memburu para
Goblin. Butuh waktu sekitar satu jam setelah luapan dimulai untuk menghabisi
seratus ekor Goblin yang naik ke permukaan.
Kurasa
ada sekitar lima puluh petualang yang ikut, dan untungnya tidak ada korban luka
berat.
Aku
sendiri bertugas mengobati para petualang dengan Heal. Ya... aku bisa
menggunakan Sihir Suci yang langka. Kurasa MP-ku juga tergolong sangat
banyak.
Setelah
selesai mengobati para petualang, gelombang kedua datang. Karena kupikir sudah
berakhir, aku menggunakan Heal untuk memulihkan semuanya, tapi mungkin
itu adalah sebuah kesalahan.
Gelombang
kedua yang keluar dari Dungeon berjumlah dua kali lipat, sekitar dua
ratus ekor. Apalagi kali ini ada banyak Goblin Mage dan Hobgoblin.
Para
petualang dipaksa bertahan total. Aku terus membantu dengan Heal, tapi MP-ku
bisa habis kapan saja.
Melihat
gelombang kedua, para penduduk mulai mengungsi. Aku berpikir, jika orang-orang
yang mengungsi meminta bantuan pada Ksatria yang berada di luar kota, semuanya
akan baik-baik saja... setidaknya sampai saat itu.
Penduduk
kota melarikan diri keluar melalui pos pemeriksaan barat. Para Goblin mengejar
mereka, dan seketika pos pemeriksaan barat dibanjiri oleh Goblin.
Penduduk
yang terlambat mengungsi mati-matian berlari ke arah barat daya. Ke arah tempat
kami berada.
Mungkin
kami sudah membunuh seratus ekor, sisa seratus lagi... akhirnya titik terang
mulai terlihat. Tapi karena masih ada beberapa Hobgoblin dan Goblin Mage, kami
belum bisa lengah.
Di saat
itulah, gelombang ketiga datang. Jumlahnya mungkin mencapai tiga ratus ekor.
Dan semuanya, tiga ratus ekor itu, hanya berisi Hobgoblin dan Goblin Mage.
Bukan
hanya penduduk yang mengungsi ke sini, para petualang pun ikut putus asa.
Aku
berdoa agar ayah dan ibuku saja yang melarikan diri. Ayah dan ibu yang sangat
baik padaku sejak aku datang ke dunia ini. Ayah dan ibu keduaku.
Namun
doaku sia-sia, sebuah suara yang tidak ingin kudengar justru tertangkap oleh
telingaku.
"Syukurlah!
Clarice! Kamu selamat! Ayah pasti akan melindungimu di sini! Kamu akan
baik-baik saja, tenanglah!"
"Syukurlah!
Clarice, kamu aman! Biar kami yang menangani mereka, kamu tenang saja ya!"
Ayah dan ibu
terlambat mengungsi. Tidak,
mungkin mereka tidak sanggup melarikan diri dengan meninggalkanku di sini.
Ayah dan
ibu berdiri di depanku. Garis
depan memang ditangani oleh para petualang, tapi pertahanan itu hampir jebol.
Sudah ada beberapa orang yang luka parah dan mundur ke belakang.
Seiring mundurnya
para petualang, kami mulai terkepung oleh Goblin. Dan tidak sampai tiga puluh
menit, kami sudah terkepung sepenuhnya.
Petualang yang
masih sanggup bertarung hanya tersisa dua puluh orang. Sisi utara dijaga oleh
petualang, sementara sisi timur dijaga oleh penduduk.
Ayah dan ibu juga
berada di garis depan penduduk. Di belakangku, ada lebih dari seratus orang
yang terluka.
Lalu, di sisi
timur yang dijaga penduduk, muncul korban luka berat. Itu Ayah! Lengan kanan
Ayah patah. Dan darah mengucur dari perutnya.
"Ayah! Ayah tidak apa-apa!? Tunggu, aku akan segera
mengobatimu!"
"Berhenti... orang yang harus kamu pulihkan sekarang
adalah para petualang... Kalau kamu mengutamakan petualang, kamu akan selamat.
Penduduk juga akan selamat..."
Sambil menekan lukanya, Ayah berusaha meyakinkanku dengan
suara pelan dan lembut agar aku tidak khawatir. Kemudian Ibu juga mundur dengan
darah yang mengalir dari perutnya.
Tampaknya para
Goblin sudah merasa menang, mereka berniat menyiksa kami perlahan-lahan sampai
mati. Buktinya,
mereka menyerang sambil tertawa dengan ekspresi menjijikkan, "Gya gya
gya."
Tanpa ragu aku
merapalkan Heal pada ayah dan ibu, dan luka di perut mereka pun sembuh.
Lengan kanan Ayah memang belum sembuh, tapi karena nyawanya sudah tertolong,
aku menghentikan Heal setelah satu kali rapal. Namun, seorang petualang
yang melihat pemulihan itu berteriak.
"Kalau kamu
masih bisa pakai Heal, tolong obati kami para petualang juga!"
Mendengar itu,
para penduduk mulai ikut berteriak.
"Luka saya
lebih parah, obati saya dulu!"
"Aku
duluan!"
"Jangan
bercanda! Aku dulu!"
Mata mereka
berubah gelap dan mulai membuat keributan. Aku sudah tahu akan jadi begini.
Tapi, aku tidak mungkin bisa mengabaikan ayah dan ibuku.
Selagi kekacauan
terjadi, orang-orang mulai bertengkar satu sama lain. Bahkan ada yang mencoba
memaksaku menggunakan Heal dengan kekerasan.
Seorang
bangsawan. Pria itu mengaku sebagai seorang Baron dan bilang kalau mengobati
dirinya adalah prioritas utama. Setelah melihat kalau pria itu hanya menderita
luka gores, aku memutuskan dia baik-baik saja dan menggunakan sisa MP-ku
yang tinggal sedikit untuk para petualang.
Seketika, pria
bangsawan itu menampar pipiku.
"Jangan
main-main! Aku akan mengeksekusimu atas tuduhan penghinaan!"
Pria itu mencabut
pedangnya dan hendak menebasku. Aku tidak menyangka dia akan melakukan hal itu
di situasi seperti ini. Aku hanya bisa terpaku di tempat, menutup mata
rapat-rapat saat pedang itu diayunkan ke arahku.
Namun, setelah
beberapa detik terpejam, aku tidak merasakan tebasan itu. 'Eh?' pikirku sambil
membuka mata. Ternyata Ayah sudah melindungiku dan dialah yang tertebas. Ibu
pun berada di depanku.
Mereka berdua
berniat menjadi tameng daging untukku.
Aku segera
merapalkan Heal pada Ayah. Mungkin pendarahannya sedikit berkurang, tapi
darah belum berhenti mengucur. Aku mencoba merapalkan Heal sekali lagi,
tapi sihirnya tidak keluar.
MP-ku sudah terkuras hingga tersisa di
kisaran 1 sampai 9 saja.
Ayah yang
tertebas berkata pada bangsawan itu.
"Mohon
ampuni putri saya... berikanlah kebijakan yang murah hati..."
"Kamu juga
mau menghalangiku!? Ayah dan anak, kalian berdua dihukum mati karena
penghinaan! Tebuslah dengan nyawa kalian!"
Tepat saat pedang
gila itu hendak diayunkan kembali... pria bangsawan itu terpental jauh.
Aku yang terkejut
melihat si bangsawan terlempar, langsung menoleh ke arah seorang anak laki-laki
asing yang tiba-tiba sudah berdiri di sana.
Dia anak
laki-laki yang sebaya denganku, namun badannya lebih tinggi. Dan entah kenapa,
dia terasa sangat familier bagiku.
◆◇◆
Begitu aku keluar
ke sisi lain tembok, pemandangan yang menyambutku adalah kerumunan besar orang
yang terluka.
Saat aku menoleh
ke belakang, terlihat tembok kota. Tembok yang mirip dengan yang ada di
Almeria. Kristal yang diberikan Van sama sekali tidak memberikan reaksi.
Aku sempat
berpikir apakah tembok ini terhubung dengan Dungeon, tapi sekarang bukan
saatnya memikirkan hal itu. Di seberang para korban luka, manusia dan Goblin sedang bertempur
hebat.
Aku
segera bergerak menuju lokasi di mana teriakan amarah dan tangisan terdengar
paling kencang. Karena
tubuhku kecil, aku bisa menyelinap di antara kerumunan orang yang padat.
Aku sengaja lewat
di samping orang-orang yang terluka parah dan menggunakan Heal tanpa
menarik perhatian. Lagipula semua orang sedang panik, jadi sedikit tindakan
berani pun tidak akan disadari. Para korban luka menatap bekas luka mereka
dengan wajah keheranan.
Dan akhirnya, aku
sampai di lokasi itu. Pemandangan yang sangat ganjil. Seharusnya mereka
bertarung melawan Goblin, tapi manusia justru mencoba membunuh sesama manusia.
Anehnya,
orang-orang di sekitar tidak ada yang mencoba menghentikan. Seorang gadis kecil
berteriak, "Ayah!"
Pasti
pria yang hampir ditebas itu adalah ayahnya. Masih sempat.
Berpikir
demikian, aku menggunakan Sylphid untuk bergerak dengan kecepatan tinggi
ke depan pria yang hendak menebas, lalu melancarkan palm strike tepat ke
arah dagunya.
Sepertinya aku mengeluarkan tenaga terlalu besar karena panik, karena pria yang hendak menebas itu terpental dengan sangat dramatis seperti seorang stuntman.
Keheningan
mencekam seketika menyelimuti area sekitar akibat tindakanku.
Sebelum pria yang
kupukul itu siuman dan mencoba menebas lagi, aku segera merampas pedang
hiasnya, lalu diam-diam menyembuhkan luka pria yang nyaris menjadi korbannya
agar tidak menarik perhatian orang lain.
"Pokoknya,
mari kita habisi para Goblin ini dulu! Penjelasannya nanti saja!" seruku
pada orang-orang di sekitarku.
"Ada lebih
dari tiga ratus Goblin di sana! Beberapa di antaranya Hobgoblin! Kita tidak
akan selamat!"
"Kalau kami
bisa melakukannya, sudah dari tadi kami lakukan!" bentak mereka balik.
"Goblin di
sisi ini bisa kutangani sendiri! Kalian awasi saja sisi yang sebelah
sana!"
Hanya itu yang
kuucapkan sebelum aku melesat menerjang kerumunan Goblin. Penduduk menatapku
dengan wajah yang seolah berkata, apa-apaan bocah ini?
Tanpa memedulikan
tatapan mereka, aku mulai membantai para Goblin hanya dengan pedang, tanpa
menggunakan sihir. Aku khawatir jika menggunakan sihir, orang-orang yang masih
hidup di sekitar sini malah akan ikut terkena dampaknya.
Jika ada tiga
ratus ekor, meski aku butuh lima detik untuk menghabisi satu ekor pun, totalnya
hanya seribu lima ratus detik. Artinya, dalam dua puluh lima menit aku bisa
menyapu bersih mereka semua.
Selama ini aku
terbiasa bertarung melawan Goblin King, Goblin Lord, dan Goblin General, jadi
musuh sekelas Hobgoblin atau Goblin Mage sama sekali bukan tandingan bagiku.
Bahkan tanpa perlu menggunakan Sylphid, aku membantai mereka dalam
sekejap.
Tiga puluh menit
kemudian, seluruh Goblin yang ada di kota telah habis tak bersisa.
Kota itu seketika
dipenuhi suara sorak-sorai. Banyak orang yang menghampiriku untuk mengucapkan
terima kasih dan rasa syukur mereka.
Namun, karena ada
kemungkinan gelombang keempat akan segera datang, penduduk pun mulai bersiap
mengungsi. Di saat itulah, pasukan Ksatria datang bersama penguasa
wilayah ini, Count Beetle.
"Aku adalah Count Beetle, Raul Grace! Apa yang terjadi!? Apakah penduduk selamat? Ada
yang terluka? Kami akan mengobati yang luka parah terlebih dahulu! Jika kalian
luka parah atau melihat orang yang luka parah, segera lapor pada Ksatria!
Kalian juga boleh bicara langsung padaku!"
Mendengar itu,
pria yang tadi kupukul langsung merengek pada sang Count.
"Count Beetle! Saya menderita luka gores! Tadi ada
penjahat tak dikenal menyerang saya sampai saya pingsan dan sekarang kepala
saya sakit sekali! Tolong beri saya perawatan prioritas utama!"
"Hmm, kalau
kau masih bisa bicara sepanjang itu, berarti kau bisa menunggu nanti. Cari
penduduk yang luka parah!"
"A-apa!?
Obati saya dulu, saya ini bangsawan!"
"Cukup! Cepat mulai perlindungan bagi penduduk!"
Setelah berkata demikian, Count Beetle mengabaikannya dan
mulai membantu merawat serta menenangkan para penduduk. Si Baron yang dicampakkan itu pun melihatku
dan berteriak dengan suara melengking.
"Penjahat!
Ada penjahat di sana! Tangkap dia! Atau eksekusi saja dia atas tuduhan
penghinaan!"
Namun,
tak ada satu pun penduduk yang bergerak. Sebaliknya, mereka malah membentuk
barisan untuk melindungiku, seolah sengaja menyembunyikan keberadaanku.
"Apa yang
kalian lakukan! Kalian juga mau dihukum mati karena penghinaan, hah!? Ksatria,
tangkap bocah itu!"
Salah satu
ksatria kemudian menyahut.
"Mohon maaf,
Tuan Damas, tapi Anda tidak memiliki hak perintah atas kami. Perintah yang kami
terima adalah melindungi penduduk, harap maklum."
Anggota ksatria
itu pun pergi untuk mencari korban luka lainnya. Jadi namanya Damas, ya.
Dia bukan
komandan ksatria, bukan pula pemimpin regu penyihir. Kekuatannya pun tidak
terlihat hebat, sepertinya dia hanya tipe yang mewarisi gelar dari orang
tuanya. Kalau orang tidak kompeten seperti dia bisa mewarisi gelar, memang
sebaiknya kaum bangsawan punya banyak anak agar punya pilihan pewaris yang
lebih baik.
Tapi, lebih baik
aku tidak berlama-lama di sini. Bisa repot kalau terus-terusan berurusan dengan
si Damas itu.
Saat aku
bersembunyi di balik bayangan rumah warga, Damas kehilangan jejakku. Karena
putus asa, ia mulai melampiaskan amarahnya kepada para penduduk.
Melihat tingkah
semena-menanya itu, aku merasa sangat jengkel hingga tanpa sadar kedua tanganku
mengepal kuat. Saat itulah aku menyadari tangan kananku masih menggenggam
pedang yang kurampas dari Damas.
Kalau aku pergi
begitu saja, bukankah ini namanya mencuri? Tapi ini kan pedang si Damas itu...
Jika kukembalikan
sekarang, dia mungkin akan menggunakannya untuk menebas penduduk lagi. Jadi
sebaiknya jangan dikembalikan dulu. Atau mungkin, jangan pernah dikembalikan
selamanya. Saat aku sedang bimbang, sebuah suara terdengar.
"Terima
kasih banyak! Berkat Anda, saya dan putri saya selamat!"
Aku menoleh dan
mendapati pria yang tadi hampir ditebas oleh Damas.
"Tidak
masalah. Saya yang seharusnya minta maaf karena sudah lancang ikut
campur."
Sejenak aku
terpikir untuk menyerahkan pedang ini padanya, tapi aku urungkan karena takut
dia malah akan ditebas saat mencoba mengembalikannya.
"Meski Anda
masih sangat muda, kekuatan Anda luar biasa. Saya pikir putri saya yang
seumuran dengan Anda sudah jenius, tapi ternyata... Clarice, kemarilah."
Atas panggilan
itu, seorang gadis muncul dari balik punggung pria tersebut. Gadis itu tidak
mengucapkan sepatah kata pun, ia hanya diam menatapku lekat-lekat.
Aku pun terpaku
menatap gadis berambut perak dengan mata biru yang memiliki paras sangat cantik
itu. Kepalaku, hatiku, seolah sedang meneriakkan sesuatu.
Dan aku sudah
menyadari apa arti teriakan itu.
Anak laki-laki
dan anak perempuan itu berjalan mendekat dengan perlahan. Kemudian mereka
saling meraih tangan satu sama lain.
"Terima
kasih sudah menolongku lagi. Aku selamat berkatmu."
"Sama-sama.
Aku juga selamat."
Setelah bertukar kata dalam bahasa Jepang, kami berdua jatuh terduduk di sana, saling berpelukan erat sambil menangis bersama.



Post a Comment