NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 1 Prolog

Prolog


Gagal lagi kali ini, ya.

Aku, Fujisaki Yuuto, yang kini sudah menjadi murid bimbingan belajar tahun kedua, merasa sangat terpukul melihat hasil simulasi ujian nasional yang baru saja dikembalikan.

Namun, aku tidak boleh terus-menerus terpuruk. "Di mana ada kemauan, di situ ada jalan" adalah semboyan hidupku.

Ini hanya karena usahaku yang masih belum cukup.

Memikirkan hal itu, aku pun kembali belajar demi menghadapi ujian masuk universitas yang ketiga kalinya.

Jika sebelumnya aku hanya belajar dua belas jam sehari, maka mulai hari ini aku akan melakukannya selama lima belas jam.

Lalu jika aku lulus nanti, aku ingin bermain bisbol di universitas.

Omong-omong, pilihan pertamaku selama tiga tahun terakhir ini tetap sama, yaitu universitas raksasa terbesar di Jepang.

Nilai standar penyimpangannya atau Deviation Score berada di kisaran angka lima puluh.

Teman-teman seangkatanku mulai belajar untuk ujian sejak musim panas kelas tiga, dan mereka berhasil lulus ke universitas dengan Deviation Score yang lebih tinggi dariku.

Padahal aku sudah belajar mati-matian sejak tahun pertama SMA.

Ada masa di mana aku merasa iri melihat mereka lulus, seolah-olah mereka sedang menertawakan kerja kerasku.

Namun, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa itu semua karena usahaku yang masih kurang.

Begitu pula dengan bisbol.

Aku sudah bermain bisbol sejak sebelum masuk SD, tapi aku tidak pernah sekalipun menjadi pemain reguler.

SMP maupun SMA-ku bukanlah sekolah yang unggul dalam bidang olahraga.

Bahkan selama masa SMA, aku tidak pernah sekalipun masuk ke jajaran pemain cadangan di bangku pemain.

Aku harus berjuang, pikirku sambil terus menggerakkan pensil mekanikku.

Prak!

Setelah belajar selama beberapa jam, isi pensil mekanikku patah.

Isi ulangnya sudah habis, jadi sebaiknya aku pergi membelinya di minimarket terdekat.

Kertas loose leaf juga mulai menipis, sekalian saja beli itu juga.

Aku merapikan diri dan berangkat menuju minimarket di tengah malam.

Di luar sedang hujan deras dan petir pun menyambar-nyambar.

Begitu tiba di minimarket, aku mendadak ingin ke toilet dan menyapa seorang staf perempuan.

"Boleh saya pinjam toiletnya?"

"Iya, silakan."

Apakah staf perempuan itu orang baru? Usianya tampak seumuran denganku. Rasanya sebelumnya tidak ada staf secantik itu di sini.

Aku cukup sering datang ke minimarket di lingkungan ini.

Karena aku yang sering datang saja baru pertama kali melihatnya, aku yakin dia pasti orang baru.

Sambil memikirkan hal itu, aku menyelesaikan urusanku. Namun saat keluar dari toilet, aku langsung menyadari situasi di dalam toko telah berubah.

Aku mendengar suara teriakan laki-laki.

"Serahkan uangnya!"

Seorang pria yang mengenakan penutup wajah sedang menodongkan pisau dan berteriak ke arah staf perempuan baru itu.

Dari arah gudang belakang, seorang staf laki-laki tampak mengintip.

Dia sama sekali tidak terlihat berniat menolong staf perempuan itu. Mungkinkah itu memang bagian dari prosedur keamanannya?

Staf perempuan itu tampak tenang.

Dia segera membuka mesin kasir dan menyerahkan uangnya.

Namun, perampok yang menerima uang itu malah...

"Jangan main-main! Ini saja tidak cukup, kan! Serahkan juga uang dari kasir sebelah!"

Dia berteriak dengan penuh emosi ke arah si staf perempuan.

Aku memanfaatkan celah itu untuk menyelinap ke belakang si perampok yang konsentrasinya mulai buyar karena terlalu emosional.

"Cepat keluarkan! Cepat gerak! Kubunuh kau!"

Si perampok terus berteriak sambil meludah.

Tepat saat dia hendak mengarahkan pisaunya ke staf perempuan itu, aku langsung bergerak.

Tanpa suara, aku memutar ke belakangnya dan mengayunkan sikat lantai yang kubawa dari toilet sekuat tenaga ke arah lengannya.

Latihan ayunan pemukulku selama sepuluh tahun terakhir adalah demi saat ini!

Dan hasilnya pun terlihat dengan gemilang.

Wush!

Bersamaan dengan suara belahan angin, sikat lantai itu menghantam bahu kanan si pria.

"Aaaagh!"

Si perampok melepaskan pisau di tangan kanannya karena rasa sakit.

"Akan kubunuh kau!"

Namun, setelah menatapku tajam dan berteriak, pria itu mengeluarkan pisau baru dari saku sweternya dan menggenggamnya dengan tangan kiri.

Dia mundur perlahan agar tidak terkepung olehku dan staf perempuan itu, sambil membelakangi pintu masuk minimarket.

Tangan kanannya terkulai lemas, mungkin karena hantaman ayunan penuh tenagaku berhasil mengenai sasarannya dengan telak.

Di tangan kananku, kini ada sikat lantai yang patah akibat benturan ayunan tadi.

Dalam artian tertentu, sikat itu justru memiliki daya serang atau Attack Power yang lebih tinggi daripada sebelum patah. Ujung yang patah itu terlihat bergerigi tajam.

Kami sempat saling menatap dengan tegang untuk beberapa saat, sampai staf perempuan itu mencari celah dan membunyikan alarm.

Bzzzzzzzzzzzt!!!

Begitu suara alarm menggema di dalam toko, si perampok tampaknya menyerah dan melarikan diri ke luar.

Aku tidak berniat mengejarnya, tapi aku ikut keluar hanya untuk memastikan ke arah mana dia pergi.

Begitu aku sampai di luar, si perampok berhenti melarikan diri. Dia justru mengayunkan pisaunya dan menerjang ke arahku.

Menghadapi perampok yang mengayun-ayunkan pisau itu, aku memasang kuda-kuda dengan sikat lantai untuk membalas serangannya.

Pandangan sangat buruk karena hujan yang sangat deras.

Setiap kali aku kehilangan jejak pisaunya, aku akan mundur cukup jauh.

Lalu, saat itulah si perampok mengayunkan pisaunya ke bawah.

Ketika aku mencoba menghindar dengan mundur, si perampok mendadak menghentikan ayunannya di tengah jalan dan langsung menerjang maju.

Jika sebelumnya dia hanya mengayun asal, tiba-tiba saja dia mencoba menusukku.

Aku tidak sempat bereaksi terhadap perubahan pola serangan yang mendadak itu. Di posisi ini, aku tidak akan bisa menghindar tepat waktu.

Si perampok mendekat dengan sedikit senyuman di wajahnya, seolah yakin bahwa dia telah berhasil menghabisiku.

Tepat saat pisau itu hampir menusuk lenganku, pisau si perampok terlempar ke tanah dengan suara brak yang keras.

Rupanya staf perempuan tadi memukul tangan si perampok yang memegang pisau dengan sebuah potongan kayu.

Staf yang memegang potongan kayu itu tampak gagah, dan meski wajahnya basah karena hujan, dia tetap terlihat cantik.

"Terima kasih! Kamu menyelamatkanku!"

"Aku juga berterima kasih! Kamu juga sudah menolongku!"

Kami berdua saling berteriak mengucapkan terima kasih tanpa melepaskan pandangan dari si perampok.

Lalu, tepat saat kami berdua mendekat untuk meringkus si perampok...

Cahaya menyilaukan membungkus kami bertiga.

DHOOOOOOMMMMMM!!!

Aku pun tertelan ke dalam aliran cahaya yang deras dan kehilangan kesadaran.




Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close