Prolog
Gagal
lagi kali ini, ya.
Aku,
Fujisaki Yuuto, yang kini sudah menjadi murid bimbingan belajar tahun kedua,
merasa sangat terpukul melihat hasil simulasi ujian nasional yang baru saja
dikembalikan.
Namun,
aku tidak boleh terus-menerus terpuruk. "Di mana ada kemauan, di situ ada jalan" adalah semboyan hidupku.
Ini hanya karena
usahaku yang masih belum cukup.
Memikirkan hal
itu, aku pun kembali belajar demi menghadapi ujian masuk universitas yang
ketiga kalinya.
Jika sebelumnya
aku hanya belajar dua belas jam sehari, maka mulai hari ini aku akan
melakukannya selama lima belas jam.
Lalu jika aku
lulus nanti, aku ingin bermain bisbol di universitas.
Omong-omong,
pilihan pertamaku selama tiga tahun terakhir ini tetap sama, yaitu universitas
raksasa terbesar di Jepang.
Nilai standar
penyimpangannya atau Deviation Score berada di kisaran angka lima puluh.
Teman-teman
seangkatanku mulai belajar untuk ujian sejak musim panas kelas tiga, dan mereka
berhasil lulus ke universitas dengan Deviation Score yang lebih tinggi
dariku.
Padahal aku sudah
belajar mati-matian sejak tahun pertama SMA.
Ada masa di mana
aku merasa iri melihat mereka lulus, seolah-olah mereka sedang menertawakan
kerja kerasku.
Namun, aku
meyakinkan diriku sendiri bahwa itu semua karena usahaku yang masih kurang.
Begitu pula
dengan bisbol.
Aku sudah bermain
bisbol sejak sebelum masuk SD, tapi aku tidak pernah sekalipun menjadi pemain
reguler.
SMP maupun SMA-ku
bukanlah sekolah yang unggul dalam bidang olahraga.
Bahkan selama
masa SMA, aku tidak pernah sekalipun masuk ke jajaran pemain cadangan di bangku
pemain.
Aku harus
berjuang, pikirku sambil terus menggerakkan pensil mekanikku.
Prak!
Setelah belajar
selama beberapa jam, isi pensil mekanikku patah.
Isi ulangnya
sudah habis, jadi sebaiknya aku pergi membelinya di minimarket terdekat.
Kertas loose
leaf juga mulai menipis, sekalian saja beli itu juga.
Aku
merapikan diri dan berangkat menuju minimarket di tengah malam.
Di luar
sedang hujan deras dan petir pun menyambar-nyambar.
Begitu
tiba di minimarket, aku mendadak ingin ke toilet dan menyapa seorang staf
perempuan.
"Boleh saya
pinjam toiletnya?"
"Iya,
silakan."
Apakah staf
perempuan itu orang baru? Usianya tampak seumuran denganku. Rasanya sebelumnya
tidak ada staf secantik itu di sini.
Aku cukup sering
datang ke minimarket di lingkungan ini.
Karena aku yang
sering datang saja baru pertama kali melihatnya, aku yakin dia pasti orang
baru.
Sambil memikirkan
hal itu, aku menyelesaikan urusanku. Namun saat keluar dari toilet, aku
langsung menyadari situasi di dalam toko telah berubah.
Aku mendengar
suara teriakan laki-laki.
"Serahkan
uangnya!"
Seorang pria yang
mengenakan penutup wajah sedang menodongkan pisau dan berteriak ke arah staf
perempuan baru itu.
Dari arah gudang
belakang, seorang staf laki-laki tampak mengintip.
Dia sama sekali
tidak terlihat berniat menolong staf perempuan itu. Mungkinkah itu memang
bagian dari prosedur keamanannya?
Staf perempuan
itu tampak tenang.
Dia segera
membuka mesin kasir dan menyerahkan uangnya.
Namun, perampok
yang menerima uang itu malah...
"Jangan
main-main! Ini saja tidak cukup, kan! Serahkan juga uang dari kasir
sebelah!"
Dia berteriak
dengan penuh emosi ke arah si staf perempuan.
Aku memanfaatkan
celah itu untuk menyelinap ke belakang si perampok yang konsentrasinya mulai
buyar karena terlalu emosional.
"Cepat
keluarkan! Cepat gerak! Kubunuh kau!"
Si perampok terus
berteriak sambil meludah.
Tepat saat dia
hendak mengarahkan pisaunya ke staf perempuan itu, aku langsung bergerak.
Tanpa suara, aku
memutar ke belakangnya dan mengayunkan sikat lantai yang kubawa dari toilet
sekuat tenaga ke arah lengannya.
Latihan ayunan
pemukulku selama sepuluh tahun terakhir adalah demi saat ini!
Dan
hasilnya pun terlihat dengan gemilang.
Wush!
Bersamaan dengan
suara belahan angin, sikat lantai itu menghantam bahu kanan si pria.
"Aaaagh!"
Si perampok
melepaskan pisau di tangan kanannya karena rasa sakit.
"Akan
kubunuh kau!"
Namun, setelah
menatapku tajam dan berteriak, pria itu mengeluarkan pisau baru dari saku
sweternya dan menggenggamnya dengan tangan kiri.
Dia mundur
perlahan agar tidak terkepung olehku dan staf perempuan itu, sambil
membelakangi pintu masuk minimarket.
Tangan kanannya
terkulai lemas, mungkin karena hantaman ayunan penuh tenagaku berhasil mengenai
sasarannya dengan telak.
Di tangan
kananku, kini ada sikat lantai yang patah akibat benturan ayunan tadi.
Dalam artian
tertentu, sikat itu justru memiliki daya serang atau Attack Power yang
lebih tinggi daripada sebelum patah. Ujung yang patah itu terlihat bergerigi
tajam.
Kami sempat
saling menatap dengan tegang untuk beberapa saat, sampai staf perempuan itu
mencari celah dan membunyikan alarm.
Bzzzzzzzzzzzt!!!
Begitu suara
alarm menggema di dalam toko, si perampok tampaknya menyerah dan melarikan diri
ke luar.
Aku tidak berniat
mengejarnya, tapi aku ikut keluar hanya untuk memastikan ke arah mana dia
pergi.
Begitu
aku sampai di luar, si perampok berhenti melarikan diri. Dia justru mengayunkan
pisaunya dan menerjang ke arahku.
Menghadapi
perampok yang mengayun-ayunkan pisau itu, aku memasang kuda-kuda dengan sikat
lantai untuk membalas serangannya.
Pandangan
sangat buruk karena hujan yang sangat deras.
Setiap
kali aku kehilangan jejak pisaunya, aku akan mundur cukup jauh.
Lalu, saat itulah
si perampok mengayunkan pisaunya ke bawah.
Ketika aku
mencoba menghindar dengan mundur, si perampok mendadak menghentikan ayunannya
di tengah jalan dan langsung menerjang maju.
Jika sebelumnya
dia hanya mengayun asal, tiba-tiba saja dia mencoba menusukku.
Aku tidak
sempat bereaksi terhadap perubahan pola serangan yang mendadak itu. Di posisi
ini, aku tidak akan bisa menghindar tepat waktu.
Si
perampok mendekat dengan sedikit senyuman di wajahnya, seolah yakin bahwa dia
telah berhasil menghabisiku.
Tepat
saat pisau itu hampir menusuk lenganku, pisau si perampok terlempar ke tanah
dengan suara brak yang keras.
Rupanya
staf perempuan tadi memukul tangan si perampok yang memegang pisau dengan
sebuah potongan kayu.
Staf yang
memegang potongan kayu itu tampak gagah, dan meski wajahnya basah karena hujan,
dia tetap terlihat cantik.
"Terima
kasih! Kamu menyelamatkanku!"
"Aku juga
berterima kasih! Kamu juga sudah menolongku!"
Kami berdua
saling berteriak mengucapkan terima kasih tanpa melepaskan pandangan dari si
perampok.
Lalu, tepat saat
kami berdua mendekat untuk meringkus si perampok...
Cahaya
menyilaukan membungkus kami bertiga.
DHOOOOOOMMMMMM!!!
Aku pun tertelan ke dalam aliran cahaya yang deras dan kehilangan kesadaran.
Illustrasi | ToC | Next Chapter



Post a Comment