NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 3 Chapter 2

Chapter 2

Perang Ujian


"Wah…… kotanya besar sekali…… tapi orangnya jauh lebih banyak lagi ya……"

Sekitar satu bulan sejak kami meninggalkan Almeria. Dengan tujuan ke arah timur laut, akhirnya kami tiba di kota akademis, Regan.

Berbeda dengan saat Ike berangkat dulu, kali ini tidak ada Sieg atau pengawal yang menyertai kami. Hanya kami bertiga. Yah, lagipula kami bertiga tidak butuh pengawalan.

Jalanan yang menuju pusat kota lebarnya mungkin dua kali lipat dari jalanan Marunouchi Nakadori di Tokyo. Pepohonan peneduh dan batu-batu ubin yang megah berjajar dengan sangat rapi.

Di setiap ubin batu tersebut terukir lambang sebuah buku.

Lambang buku ini adalah simbol dari keluarga Duke Regan, penguasa kota ini sekaligus salah satu dari dua belas keluarga Duke di Federasi Lister.

Orang-orang lalu lalang di atas ubin batu itu dengan jumlah yang luar biasa banyak, sampai-sampai aku berpikir, "Apa ini taman bermain?".

Namun, atmosfernya tidak ceria seperti taman bermain.

Orang-orang yang lewat, baik dewasa maupun anak-anak, menunjukkan ekspresi yang entah kenapa terlihat cemas.

Meski ada beberapa yang tampak sudah pasrah, semuanya pasti merasa gelisah menghadapi ujian besok.

Dan di antara mereka, akulah yang mungkin paling gugup.

Aku yang sudah gagal ujian masuk universitas sebanyak dua kali di kehidupan sebelumnya, merasa jika aku gagal lagi di sini, maka itu akan jadi kekalahan beruntun yang ketiga…… Aku tidak ingin melihat wajah sedih seperti yang dulu kutunjukkan pada orang tuaku di kehidupan lama.

Kalau sampai aku tidak lulus sementara Clarice dan Elie lulus, mereka mungkin akan digoda oleh pria-pria keren di sekolah……

Tidak, tidak boleh! Jangan berpikir pesimis! Di mana ada kemauan, di situ ada jalan!

Bukankah sejak datang ke dunia ini semuanya berjalan lancar?!

Aku menepuk kedua pipiku untuk menyemangati diri sendiri.

"Mars, tidak apa-apa. Kalau sampai Mars tidak lulus, tentu saja aku dan Elie juga tidak akan lulus. Kalau itu terjadi, mari kita buat pesta pelipur lara bersama-sama."

Seolah memahami kegundahanku, Clarice merapat ke sisiku. Mendengar itu, Elie pun ikut bicara.

"……Mars…… nomor satu…… pasti lulus…… tidak salah lagi!"

Ia memberiku semangat dengan nada yang tegas.

"Iya. Terima kasih, kalian berdua. Kalau begitu, mari kita cari penginapan untuk hari ini."

Didorong oleh kebaikan mereka berdua, kami pun membaur ke dalam kerumahan untuk mencari tempat menginap.

"Bukankah itu lambang api milik keluarga Duke Flesvaldt?"

Begitu sampai di pusat kota, aku melihat kain spanduk dengan lambang api menjuntai dari atap sebuah gedung yang kemegahannya seolah berteriak kalau itu adalah penginapan mewah.

Clarice tahu banyak soal ini berkat hasil belajarnya untuk ujian.

Karena lambang dari dua belas keluarga Duke di Federasi Lister adalah hal pertama yang dipelajari, bahkan aku pun langsung mengenalinya.

"Benar. Mungkin ada orang-orang penting dari sana yang menginap."

Di depan gedung tersebut terlihat para ksatria yang mengenakan zirah dengan ukiran lambang api.

Jika diperhatikan lebih dekat, ada juga pria dengan lambang buku yang ikut berjaga.

Pasti ada tamu VIP yang sangat penting di sana.

Sekitar satu kilometer berjalan ke arah selatan dari pusat kota, entah kenapa ada sebuah penginapan yang menarik perhatianku. Tanpa ragu aku masuk ke dalam dan menanyakan harganya.

"Enam koin emas untuk dua kamar per malam?!"

Mendengar ucapan pemilik penginapan, suaraku tanpa sadar meninggi.

"Maaf ya, Nak. Musim seperti ini memang waktu tersibuk bagi kami. Tiga tahun lalu harganya cuma setengahnya, tapi sejak dua tahun lalu jumlah peserta ujian melonjak drastis. Katanya orang yang lulus tiga tahun lalu sangat populer, jadi Akademi Nasional Lister yang asalnya sudah kompetitif makin meledak peminatnya……"

Dasar orang yang menyusahkan…… Clarice dan Elie menatapku dengan tatapan bertanya, "Bagaimana sekarang?".

"Baiklah. Kami ambil dengan harga enam koin emas."

Harganya memang sangat mahal, tapi bukan jumlah yang tidak bisa kubayar.

Jika dikonversi ke yen Jepang itu sekitar enam ratus ribu yen, tapi kantong koin emasku masih cukup berat.

Karena kami tidak membawa pengawal, Sieg membekaliku dengan uang yang cukup banyak.

Mungkin ada pilihan untuk menyewa satu kamar untuk kami bertiga, tapi besok adalah hari ujian. Sekarang bukan waktunya untuk bersenang-senang.

Ups, jangan salah paham dulu, ya?

Aku ini masih polos. Malahan, ciuman saja belum pernah.

Setelah diantar ke kamar, aku segera menurunkan barang bawaan, mandi, lalu kami bertiga makan di ruang makan penginapan.

Sebenarnya aku ingin pergi melihat sekolahnya, tapi kedua gadis itu tidak mau keluar ke tengah keramaian.

Yah, wajar saja.

Ke mana pun kami pergi, bisa dibilang mereka berdua pasti digoda oleh pria. Padahal aku ada tepat di samping mereka.

Kebanyakan orang akan mundur setelah kubilang bahwa mereka adalah tunangan dari putra kedua keluarga Count dari Kerajaan Balcus, tapi ada saja bajingan yang tetap ingin menjadikan mereka milik sendiri.

Terutama bagi orang dari negara lain, gelar itu tidak mempan.

Bajingan seperti itu biasanya menggunakan kekuatan fisik, jadi sudah satu paket kalau aku harus meladeni mereka.

Aku benar-benar merasakan bahwa kekuatan sangat dibutuhkan untuk melindungi orang lain.

Yah, aku ragu orang-orang yang akan ikut ujian besok bakal menggoda mereka, tapi kan ada pelayan atau pengawal peserta ujian juga. Memang lebih baik tidak keluar.

Aku mengundang Clarice dan Elie ke kamarku untuk belajar terakhir kali sebagai usaha maksimal, lalu masuk ke dalam tempat tidur.

◆◇◆

—Pagi di hari ujian yang menentukan.

"I-ini beneran sebanyak ini?"

"Ini sih bisa bikin pusing karena mabuk orang."

"……"

Begitu keluar dari penginapan untuk menuju lokasi ujian, aku ragu untuk masuk ke dalam lautan manusia saking banyaknya orang di sana.

Tidak berlebihan jika kukatakan kerumunan ini setara dengan kereta penuh sesak saat jam berangkat kerja.

Dan antrean itu mengular sampai beberapa kilometer.

Hari ini, tanggal 26 Desember, selain peserta ujian dan pihak terkait, penduduk dilarang berkeliaran di kota.

Meski begitu, sejauh mata memandang hanya ada orang. Seberapa populer sih sebenarnya Akademi Nasional Lister ini?

Setelah membulatkan tekad, aku menerjang kerumunan seperti masuk ke kereta yang penuh sesak, lalu membiarkan diri terbawa arus.

Tentu saja, tanganku kuangkat ke atas.

Aku tidak mau ada salah paham yang aneh…… tapi dengan mengangkat tangan, aku yang sudah lebih tinggi dari orang lain jadi makin menarik perhatian.

"Oi, lihat si tinggi itu. Mungkin tahun ini kesempatan terakhirnya."

"Ada saja ya orang yang tidak mau menyerah seperti itu."

Selain suara-suara seperti itu, ada juga yang bilang,

"Eh, cowok berambut pirang yang angkat tangan itu, bukankah dia tampan?"

"Gawat, aku baru saja kontak mata. Jangan-jangan dia jodohku."

Sesekali terdengar kata-kata yang menyenangkan. Clarice yang melihat itu pun sedikit cemberut.

"Duh, Mars, berhenti angkat tangan seperti itu, kamu jadi pusat perhatian tahu."

"Iya, tapi ini kan mirip kereta penuh sesak? Aku tidak mau ada salah paham yang aneh."

Clarice tertawa mendengar alasanku.

"Benar juga, apa yang Mars katakan memang benar soal kereta. Kalau begitu, Mars berdiri saja di belakangku dan letakkan tangan di bahuku. Dengan begitu tidak akan ada salah paham, kan? Elie di depanku. Biar tidak ada yang macam-macam."

Elie berjalan di depan Clarice, dan aku meletakkan tangan di bahu mungil Clarice sambil mengikuti arus.

Beberapa jam kemudian, akhirnya kami sampai di pusat kota tempat spanduk keluarga Duke Flesvaldt yang kami lihat kemarin.

Berapa jam sih yang dibutuhkan hanya untuk sampai ke tempat ujian…… lalu berapa jam lagi kami akan tertahan untuk tesnya?

Salah-salah, bisa jadi hari sudah berganti saat ujiannya selesai.

Peserta ujian lain tidak bisa menyembunyikan rasa lelah mereka, bahkan ada yang terlihat lunglai di bawah pohon peneduh jalan.

Aku mengingatkan mereka berdua untuk tetap waspada karena mungkin saja ini adalah bagian dari tes.

Setelah berjalan beberapa puluh menit ke arah utara dari pusat kota, langkah orang-orang mulai melambat.

Di kejauhan terlihat gerbang raksasa yang sepertinya adalah gerbang utama sekolah.

Di baliknya berdiri bangunan megah seperti Istana Versailles.

Siapa pun yang baru pertama kali melihatnya pasti akan menghentikan langkah dan terpesona oleh pemandangan spektakuler itu.

Tentu saja, kami pun begitu.

"Cantik sekali…… kalau melihat gedung seperti ini, rasanya aku benar-benar harus lulus!"

Clarice kembali mengobarkan semangatnya setelah melihat gedung sekolah.

Elie juga mengepalkan tangan dengan penuh tekad.

Saat kami mulai melangkah di antara orang-orang yang terpaku, tanpa sadar para peserta ujian mulai diarahkan untuk berjalan di sisi kanan jalan. Sementara itu, di sisi kiri terlihat orang-orang yang berjalan ke arah pusat kota dengan bahu merosot lesu.

Apa hasilnya sudah keluar?

"Oi?! Kamu dengar tidak? Katanya tahun ini level 12 saja tidak lulus?!"

"Padahal tiga tahun lalu standarnya 10, tahun lalu 11, tapi ini kenaikannya keterlaluan, kan?!"

"Ini semua gara-gara Glenn…… terlalu banyak orang yang mengagumi Glenn…… termasuk aku sih."

Para peserta ujian tampak gaduh membicarakan sesuatu. Level 12 tidak lulus? Maksudnya apa?

"Peserta ujian harap ke sisi kanan! Berbaris tiga banjar! Tiga banjar!"

Setelah berjalan sedikit lagi, terdengar suara petugas sekolah yang memberi instruksi. Kami bertiga berbaris di barisan paling kanan, dan setelah berjalan beberapa saat, muncul instruksi lain.

"Peserta ujian! Pegang koin emas biaya ujian di tangan kanan! Kami tidak menerima selain koin emas!"

Biaya ujiannya satu koin emas. Biaya ujian saja sampai seratus ribu yen, benar-benar keterlaluan.

Beberapa menit setelah menggenggam koin emas di tangan kanan, akhirnya seluruh penampakan gerbang utama Akademi Nasional Lister terlihat.

Gerbang perak itu didekorasi dengan sangat mewah, dan di tengah-tengah kedua sisi gerbang terukir lambang buku.

Lebar gerbangnya disesuaikan dengan lebar jalan, sehingga kereta kuda pun bisa berpapasan dengan leluasa di dalamnya.

Di bagian tengah terdapat pembatas jalan, memisahkan antara orang yang masuk ke sekolah dan orang yang pergi dari sekolah.

Mereka yang pergi dari sekolah semuanya tertunduk lesu, bahkan tidak sedikit yang menangis.

Mereka yang keluar dari sana pastilah orang-orang yang gagal ujian.

Terlihat petugas sekolah yang mencoba menghibur mereka yang gagal.

Setelah membulatkan tekad agar tidak bernasib seperti mereka, beberapa menit kemudian giliran kami tiba.

"Setelah melewati gerbang utama, segera serahkan koin emas di tangan kanan kalian!"

Sesuai instruksi, aku menyerahkan koin itu kepada petugas yang mengumpulkannya ke dalam wadah seperti ember. Di sekitar petugas tersebut berjajar ember-ember yang memancarkan kilau keemasan.

Kira-kira berapa banyak uang yang mereka hasilkan dari sini, ya?

Setelah menyerahkan koin dan melangkah maju, di sisi kanan terlihat lima orang dewasa yang menatap kami para peserta ujian seolah sedang menilai sesuatu sambil berbisik pelan.

Masing-masing dari lima orang itu dibantu oleh asisten yang mencatat ucapan mereka di atas kertas, lalu memberikan kertas tersebut kepada peserta ujian yang lewat di depan mereka.

Aku langsung mengerti apa yang sedang terjadi.

Kelima orang dewasa itu sedang melakukan Appraisal!

Asisten mereka mencatat hasilnya lalu memberikannya pada peserta.

Jadi ini ujiannya. Pantas saja hasilnya keluar dengan sangat cepat.

"Ambil satu kertas dari masing-masing orang! Harus dari kelimanya! Paham?!"

Agar tidak ada kesalahan pada hasil Appraisal, rupanya satu peserta dinilai oleh lima orang sekaligus.

Kalau cuma satu orang, mungkin saja ada kecurangan jika mereka menyukai salah satu peserta.

Begitu selesai menyerahkan koin emas, tibalah giliran Elie yang berjalan di depan kami bertiga.

Pria pertama yang menilai Elie menunjukkan ekspresi terkejut dan terus mengikuti Elie dengan pandangan matanya untuk beberapa saat.

Bahkan asistennya yang sedang menulis sampai membelalakkan mata dan bertanya, "Apa ini benar?", dan baru memberikan kertasnya setelah si penilai mengangguk.

Saat Elie maju ke penilai kedua, Clarice melintas di depan pria yang baru saja menilai Elie tadi.

Clarice menggunakan Bracelet of Disguise untuk memangkas statistiknya menjadi setengah, serta menyembunyikan Title, Holy Magic, dan juga Barrier Magic.

Memang kemampuan bawaan tidak akan muncul di kristal Appraisal, tapi ini hanya untuk berjaga-jaga.

Sama seperti Elie, Clarice juga diberikan kertas, tapi bedanya adalah apa yang terjadi setelahnya.

Pria yang melakukan Appraisal dan asistennya terus menatap Clarice tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.

Padahal aku sudah bersiap untuk dinilai.

Clarice pun membuat penilai berikutnya terpesona.

Akhirnya, pria itu mengalihkan pandangannya kepadaku. Begitu dia menilaiku, wajahnya berubah menjadi sangat masam.

Kenapa? Apa aku terlalu banyak menyembunyikan sesuatu dengan Bracelet of Disguise?

Aku menyembunyikan segalanya kecuali Swordsmanship, Fire Magic, dan Wind Magic, serta memangkas seluruh statistikku hingga di bawah setengah.

Meski begitu, aku mengaturnya agar statistiku tetap setara dengan petualang peringkat C.

Apa jangan-jangan itu masih terlalu tinggi? Saat aku sedang membatin, sang asisten bertanya padaku.

"Kamu, siapa namamu?"

Peserta ujian di sekitarku terkejut mendengar asisten itu bicara untuk pertama kalinya.

Mungkin ditanya nama adalah sebuah kehormatan.

"Mars. Mohon bantuannya."

Aku menjawab dengan tegas. Asisten itu menuliskan sesuatu di kertas lalu memberikannya padaku.

"Mars. ○, ○, ○, ○, ○, ×, ×"

Apa ini? Apa penilaiannya menggunakan sistem benar-salah? Kalau tanda silang itu, apa mungkin itu Skill?

Mungkin aku memang terlalu banyak menyembunyikannya.

Pada akhirnya, kelima asisten itu menanyakan namaku, dan kertas yang diberikan pun tidak konsisten pada lima poin pertama.

"Mars. ○, ○, ○, ○, ○, ×, ×"

"Mars. , , , , , ×, ×"

"Mars. ?, ?, ?, ?, ?, ×, ×"

"Mars. ○, ○, ○, ○, ○, ×, ×"

"Mars. ○, ○, ○, ○, ○, ×, ×"

Aku segera mencoba mengejar Clarice dan Elie yang sudah selesai lebih dulu, tapi karena para penilai pria tadi terpesona oleh Clarice dan aku yang tertahan karena ditanya nama oleh semuanya, aku kehilangan banyak waktu.

Dalam jeda waktu itu, peserta lain dari antrean sebelah masuk di antara aku dan Clarice, sehingga jarak kami jadi cukup jauh.

Padahal aku ingin segera saling menunjukkan hasil, tapi tiba-tiba dua orang petugas menarik tangan dua gadis yang berjalan di depanku dan membawa mereka keluar dari barisan.

Dua gadis itu…… adalah Clarice dan Elie.

Mereka berdua tampak sedang diajak bicara oleh petugas. Clarice terlihat membungkuk sambil berkata "Terima kasih", sementara Elie sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada apa yang dikatakan petugas dan hanya terus menatapku lekat-lekat.

Ternyata kalau lulus akan dikeluarkan dari barisan seperti itu, ya.

Semua orang menatap Clarice dan Elie dengan tatapan iri.

Baiklah, aku juga harus! Pikirku sambil terus berjalan, tapi tidak ada petugas yang memanggilku.

Tentu saja bukan hanya aku yang berpikir begitu.

Semua orang yang berjalan di sini tertunduk melihat kertas mereka, atau menoleh ke sana kemari sepertiku, bahkan ada yang mencoba mencari perhatian petugas di sekitar.

Seseorang yang mencoba cari perhatian itu menjatuhkan kertasnya, dan kertas itu terbang ke arah kakiku.

Saat aku hendak memungut dan mengembalikannya, tanpa sengaja aku melihat tulisan di kertas itu.

"Jacklif. 4, 3, 0, 1, 4, F, F"

Eh? Apa ini? Cara penilaiannya berbeda denganku?

Setelah mengembalikan kertas itu pada Jacklif, aku mencoba melirik kertas peserta lain dan di sana tertulis hasil yang mengejutkan.

"Lacomil. 2, 2, 3, 3, 1, E, F"

Seketika aku memahami segalanya.

Angka-angka itu adalah angka puluhan dari Strength, Agility, Magic Power, Dexterity, dan Endurance.

Kemungkinan huruf di bawahnya adalah Special Ability, dan huruf paling bawah adalah evaluasi keseluruhan.

Dengan kata lain, tanda lingkaran (○) milikku bukanlah berarti "benar", melainkan angka nol. Dan tanda silang (×) itu artinya di luar jangkauan atau semacamnya…… Tapi kenapa? Saat aku mencoba menilai statistiku sendiri, di sana berderet angka tiga digit.

Apa mungkin karena tiga digit maka dianggap curang atau semacamnya lalu tidak diluluskan……? Tidak, Elie tidak dikeluarkan, dan tiga tahun lalu sebelum berangkat dari Almeria pun statistik Strength Ike sudah tiga digit.

Apa mungkin Bracelet of Disguise ini rusak dan memunculkan angka yang aneh?

Aku mencoba menilai gelang itu, tapi tidak ada yang aneh.

Saat aku berjalan sambil memikirkan hal itu, sebuah kejadian yang menentukan terjadi.

Peserta ujian yang berjalan di belakangku dipanggil oleh petugas dan dibawa keluar dari barisan.

Artinya, aku sudah gagal?

Sepertinya bukan hanya aku yang berpikiran begitu. Orang-orang yang berjalan di dekatku wajahnya berubah pucat pasi. Bahkan ada yang langsung jatuh tersungkur sambil menangis.

Gagal—.

Padahal aku sudah berusaha sekeras ini…… di saat yang sama, ingatan saat aku gagal ujian di kehidupan sebelumnya mendadak terbayang kembali.

Apa aku harus merasakan perasaan itu lagi…… Aku juga akan membuat Sieg dan Maria sedih.

Bukan hanya orang tuaku. Clarice dan Elie juga…… mungkin saja mereka akan muak padaku.

Mengingat hal itu, aku jadi takut untuk menoleh ke arah mereka berdua. Rasa hampa pun menyerangku.

Aku hanya bisa membiarkan diri terbawa arus manusia, berputar arah menuju pintu keluar gerbang utama seolah sedang didorong keluar.

Di sisi berlawanan dari gerbang masuk kami tadi juga terdapat petugas. Mereka menyapa para peserta ujian yang tertunduk lesu dengan suara yang lembut.

Ada juga peserta yang tidak terima dengan hasil ujiannya dan mulai mengamuk, hingga harus diringkus oleh petugas.

Suara petugas itu menggema di sekitarku.

"Heh! Diam kau! Jadikan rasa sesal itu sebagai cambuk untuk berusaha lebih keras! Sampai kau sendiri bisa menerimanya! Meski begitu, kadang usaha memang tidak membuahkan hasil! Tapi itulah hal yang wajar! Kalau tidak begitu, dunia ini bakal penuh dengan petualang peringkat A semua! Usaha tidak selalu membuahkan hasil! Tapi kau tidak punya pilihan selain terus berjuang!"

Rasanya seolah-olah kata-kata petugas itu ditujukan langsung padaku. Benar juga... kalau gagal, pilihannya hanya berjuang lagi, kan?

Bahasa petugas itu memang kasar, tapi perkataannya ada benarnya. Aku merasa sedikit lebih optimis sekarang.

Aku akan menyimpan kata-kata itu di dalam hati dan berusaha lagi! Lagipula, hanya bekerja keraslah yang bisa kulakukan!

Tepat saat aku membulatkan tekad, tiba-tiba terdengar suara perempuan memanggilku.

"Mars?! Kamu Mars, kan?!"

Saat aku menoleh ke arah suara itu, di sana berdirilah Sasha yang penampilannya sama sekali tidak berubah sejak tiga tahun lalu.

Kenapa Sasha yang seorang petualang peringkat B ada di Akademi Nasional Lister?

Pertanyaan itu muncul di benakku, tapi aku baru saja gagal ujian. Meski sudah sedikit optimis, saat ini aku sedang ingin sendirian.

Aku baru saja hendak mengangguk kecil dan pergi dari sana, tapi tiba-tiba lengan kananku dicengkeram seseorang.

"Mars?! Kenapa orang yang kuakui malah gagal ujian begini, hah?!"

Begitu aku menoleh ke arah orang yang mencengkeram lengan kananku, si 'Wajah Kriminal' alias Cyrus—yang pernah berduel denganku di Kota Ganaru—sedang memelototiku dari jarak sangat dekat.

Kenapa Cyrus juga ada di sini...?

Kepalaku rasanya mau pecah melihat kemunculan orang-orang yang paling tidak terduga ini.

"S-sudah lama tidak bertemu, Cyrus-san."

Aku berusaha keras untuk tetap terlihat tenang menghadapi kejadian yang mendadak ini.

"Sialan! Kau malas-malasan selama tiga tahun ini, ya?!"

Malas-malasan?! Aku?! Mana mungkin!

Memang benar hari-hariku bersama Clarice dan Elie sangat menyenangkan, tapi tidak pernah sekalipun aku malas berlatih!

"Aku tidak malas-malasan! Aku terus berusaha keras dengan caraku sendiri!"

"Mana mungkin! Orang yang bisa mengimbangiku di usia delapan tahun tidak mungkin gagal ujian! Sini ikut aku! Biar kuhajar mentalmu sampai benar lagi!"

Cyrus mulai emosi dan membentakku.

Melihat hal itu, para peserta ujian lain tampak ketakutan, bahkan ada yang mulai menangis.

"Tunggu dulu, Cyrus?! Berhenti sekarang juga! Mars, lebih baik kamu ikut kami dulu."

Sasha menerobos kerumunan peserta ujian yang gagal dan menghampiriku.

Di tengah kasak-kusuk peserta lain, ia menarik tanganku keluar dari barisan dan membawaku ke tempat yang tidak terlihat oleh peserta ujian lainnya.

"Mars? Kamu diberi kertas, kan? Coba perlihatkan."

Sesuai instruksinya, aku menyerahkan kertas penuh tanda ○ itu kepada Sasha.

"Apa-apaan ini?! Ini artinya semua statistikmu di bawah 10?!"

Cyrus yang mengikuti kami pun tampak tidak percaya dengan hasil itu, matanya yang sipit dan tajam sampai membelalak.

"Mars? Mungkinkah kamu melakukan sesuatu yang sangat buruk selama tiga tahun terakhir?"

Sasha menaruh curiga yang tidak-tidak padaku.

"Kurasa aku tidak melakukan hal seperti itu..."

Cyrus memotong bantahanku.

"Keparat! Jangan-jangan waktu itu kau benar-benar jatuh ke sisi kegelapan?! Aku tidak bisa memikirkan hal lain selain Duke Regan mencium bau busukmu lalu menjatuhkanmu!"

Dituduh seperti itu pun sulit bagiku untuk membuktikan kesucian diri sendiri.

Lagipula, aku tidak tahu standar "hal buruk" menurut mereka itu sejauh apa.

Tentu saja aku tidak membunuh orang, tapi aku sudah berkali-kali menghajar bajingan yang mencoba mengganggu Clarice dan Elie. Di antara kejadian itu, mungkin ada yang dianggap terlalu berlebihan.

Tepat saat aku merasa cemas karena dicurigai mereka berdua, Clarice dan Elie datang berlari sambil dikejar oleh petugas.

"Mars!"

Clarice berdiri di sisi kananku dan Elie di sisi kiriku, membuat Sasha membelalakkan mata.

"K-kamu Clarice, kan...? Aku terkejut melihat pertumbuhan Mars, tapi kamu... sudah hampir menyamaiku... biar bagaimana pun..."

Sasha hendak mengatakan sesuatu namun segera bungkam.

"Lama tidak bertemu, Sasha-san. Kenapa Sasha-san ada di sini? Lalu... Cyrus-san juga kenapa ada di sini?"

Clarice menanyakan apa yang ingin kutanyakan.

Dan dari jawaban Sasha, terlontarlah kalimat yang mengejutkan.

"Iya. Mulai tahun ini aku menjadi staf di Akademi Nasional Lister. Sedangkan Cyrus sudah menjadi staf di sini sejak sebelum kalian bertemu dengannya. Dia berkeliling ke berbagai tempat karena suatu alasan."

Si Wajah Kriminal ini seorang guru?! Aku dan Clarice refleks saling berpandangan.

Kemudian, petugas yang mengejar Clarice dan Elie bertanya pada Sasha.

"Apakah Sasha-sensei mengenal mereka berdua?"

"Ya. Aku mengenal Clarice, tapi anak yang satu lagi baru pertama kali ini aku bertemu."

"Begitu rupanya. Kalau begitu, Elie-sama sudah dipastikan masuk kelas S. Untuk Clarice, kemungkinan besar akan masuk kelas S atau kelas A."

Sasha memiringkan kepala mendengar laporan petugas itu.

"Tunggu sebentar? Elie-sama...? Apa anak ini putri bangsawan dari mana? Dan bukankah dia sudah melewati usia untuk ikut ujian?"

Eh? Apa ada batasan usia di Akademi Nasional Lister? Itu artinya kalau tahun ini gagal, aku tidak bisa bersantai-santai berpikir masih ada tahun depan atau tahun depannya lagi.

"Iya. Sebenarnya Elie-sama ini, meski penampilannya manusia, hasil Appraisal menunjukkan dia seorang Beastman. Kemungkinan besar dia adalah calon kepala keluarga Duke Seleans berikutnya. Kebetulan petugas penilai mengenal Elie-sama, jadi kurasa tidak ada kesalahan."

"Apa?!"

Mendengar itu, bukan hanya Sasha, Cyrus pun ikut berteriak kaget.

"Elie. Mereka berdua adalah orang-orang yang menolongku dan Clarice sebelum bertemu denganmu. Ingat kan, aku dan Clarice sering surat-menyurat dengan anak bernama Misha? Sasha-san adalah ibunya Misha. Elie, ayo perkenalkan dirimu."

Aku menjelaskan singkat tentang Sasha dan Cyrus kepada Elie, lalu memintanya memperkenalkan diri.

"……Elie Leo…… sebelas tahun…… Mars…… tunangan……"

Dia menyebutkan umurnya mungkin karena ingin menegaskan bahwa dia masih di usia yang boleh ikut ujian.

"T-tunangan... Berarti Clarice juga tentu saja...?"

Saat Sasha melontarkan pertanyaan yang wajar itu, Clarice menjawabnya dengan senyuman.

"Iya. Aku juga sudah bertunangan dengan Mars, sama seperti Elie."

Mendengar ucapan Clarice, Sasha memegang dahi sambil menggumamkan sesuatu.

Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas, tapi sepertinya aku mendengar kata "Misha bakal kesulitan".

"Anu... maaf kalau tidak enak didengar, tapi bagaimana dengan hasil ujianku?"

Kalaupun gagal, aku tidak mau gagal dalam ketidakpastian.

Jika dikatakan dengan jelas, mungkin perasaanku akan sedikit lebih tenang.

Namun, Elie dan Clarice segera menyahuti perkataanku.

"……Mars…… gagal…… aku…… tidak akan masuk……"

"Aku juga tidak punya alasan untuk masuk ke sini, jadi aku mengundurkan diri."

Sasha dan para petugas panik mendengar ucapan mereka berdua.

Sepertinya pihak sekolah akan sangat kesulitan jika Elie tidak jadi masuk.

Tapi, aku tidak akan senang jika bisa masuk dengan cara seperti itu. Aku ingin masuk karena kemampuanku sendiri.

"Clarice, Elie. Aku sangat senang dengan perasaan kalian, tapi apa pun hasilnya, kalian harus tetap masuk sekolah. Aku tidak akan senang dan tidak akan memaafkan jika aku bisa masuk hanya karena kalian berdua keras kepala."

Para petugas menarik napas lega mendengar ucapanku, tapi Clarice dan Elie tampak tidak puas.

Melihat kondisi kami, Sasha memberikan sebuah usul.

"Mars. Sayangnya, begitu kamu berputar balik, kamu sudah dinyatakan tidak lulus dalam ujian Appraisal. Tapi, jika staf di sini merasakan adanya potensi pada peserta yang berputar balik tersebut, kami bisa merekomendasikannya untuk mengikuti ujian ulang. Ujian itu melibatkan tes praktik, meskipun biasanya jumlah yang lulus adalah nol orang. Dan kalaupun lulus, kamu akan berada di posisi terbawah di kelas paling rendah, meski itu hanya kelas sementara. Apa kamu tetap mau?"

Bukan aku, melainkan Cyrus-lah yang pertama kali bereaksi terhadap kata-kata Sasha.

"Oh! Ada cara itu ya! Kalau kau memang tidak malas-malasan, atau kemampuanmu tidak tumpul, kau pasti lulus! Lakukan! Ya?! Ya?!"

Sepertinya Cyrus sangat ingin aku masuk sekolah ini, wajahnya yang tadi muram kini menjadi cerah.

Kalau dipikir-pikir, orang pertama yang menyarankanku masuk Akademi Nasional Lister adalah Cyrus. Bagiku pun, jika itu tes praktik, tidak ada masalah.

"Iya! Mohon bantuannya!"

"Baiklah. Seperti kata Cyrus, kalau kamu masih mempertahankan kekuatanmu yang dulu, harusnya tidak masalah. Datanglah ke gerbang utama besok jam dua belas siang. Clarice dan Elie, silakan langsung masuk ke dalam sekolah."

Clarice dan Elie saling berpandangan dengan ragu mendengar instruksi Sasha.

"Kalau kalian tidak percaya pada Mars, kalian boleh kembali ke penginapan bersamanya, lho?"

Mendengar nada bicara Sasha yang seperti menguji itu, Clarice dan Elie langsung membantah.

"Aku percaya pada Mars! Yang tidak kupercaya itu justru hasil ujiannya!"

"……Mars…… lebih kuat dariku…… percaya……"

Aku sendiri merasa terselamatkan oleh kata-kata Sasha.

Sebab aku ingin menghindari situasi di mana mereka berdua membuang kelulusan yang sudah susah payah didapat gara-gara aku.

"Bagus! Sudah diputuskan ya! Besok jam dua belas di sini! Pastikan kau datang!"

Cyrus berkata demikian lalu bergegas menuju gerbang utama.

"Benar. Clarice, Elie, kalian berdua silakan ikut aku sekarang. Karena kalian akan berpisah dengan Mars untuk sementara waktu, sampaikanlah apa yang ingin disampaikan sekarang."

Mendengar ucapan Sasha, Clarice dan Elie masing-masing menggenggam tanganku dan berucap.

"Mars pasti bisa lulus!"

"……Mars nomor satu……"

"Terima kasih. Aku pasti lulus, jadi kalian pergilah lebih dulu!"

Setelah berpisah dengan mereka, aku berjalan bersama peserta ujian yang gagal melewati gerbang utama Akademi Nasional Lister untuk kembali ke penginapan.

Aku membulatkan tekad untuk menghadapi ujian besok seolah itu adalah kesempatan terakhirku, lalu mengistirahatkan tubuh.

◆◇◆

—Keesokan harinya.

Begitu sampai di gerbang utama sebelum jam dua belas, di sana sudah ada orang-orang seusia yang sepertinya juga akan mengikuti ujian rekomendasi staf sepertiku.

Jumlahnya kira-kira sekitar seratus orang.

Di antara mereka semua, kami akan memperebutkan satu kursi yang entah ada atau tidak.

Saat aku kembali memantapkan tekad, enam orang staf muncul di gerbang utama.

Di antara mereka ada Sasha dan Cyrus.

Salah satu dari enam staf itu mulai bicara.

"Sekarang akan dimulai penjelasan untuk ujian praktik! Kalian para peserta ujian akan melakukan simulasi pertarungan melawan staf!"

Simulasi pertarungan melawan staf?

Aku sedikit terkejut karena kukira kami akan diadu sesama peserta ujian.

Sepertinya bukan hanya aku yang berpikir begitu, peserta lain pun mulai gaduh.

Penguji tampaknya sudah menduga reaksi kami, ia mengabaikan kegaduhan itu dan lanjut menjelaskan.

"Pilihlah senjata dari yang tersedia di sini! Jika ingin menggunakan senjata khusus yang tidak ada di sini, laporlah terlebih dahulu! Setelah mengambil senjata, berbarislah di depan staf mana pun yang kalian sukai selain aku!"

Begitu penjelasan selesai, para peserta berebut mengambil senjata dan berlari ke depan staf pilihan mereka.

Aku pun memilih pedang kayu yang disediakan sekolah. Saat hendak mengantre di depan Sasha, ternyata sudah ada antrean panjang.

Mungkin mereka pikir karena Sasha satu-satunya perempuan di antara para staf, dia akan lebih mudah dihadapi.

Padahal, alasanku memilih Sasha adalah karena di antara mereka dialah yang satu-satunya terlihat seperti tipe penyihir.

Kemungkinan besar Sasha adalah yang terkuat di sini. Jika aku bisa mengalahkannya, peluangku untuk lulus pasti lebih besar.

Saat aku masih ragu untuk ikut mengantre di sana, pria yang satu-satunya tidak memiliki antrean di antara lima staf lainnya memanggil namaku.

"Oi! Mars! Lawan aku! Aku akan membuktikan sendiri apa kau benar-benar tidak malas-malasan!"

Gawat! Aku malah dipanggil oleh orang yang paling merepotkan.

Tapi rasanya tidak enak juga kalau menolak di sini.

Dengan pasrah aku berdiri di depan Cyrus, sementara dari peserta lain terdengar suara iba.

"Anak itu tamat sudah."

"Kasihan sekali."

"Satu orang gugur."

"Mohon bantuannya," ucapku.

"Bicara apa kau! Aku sudah menunggu saat-saat ini! Aku akan menggunakan kekuatan lebih besar dari sebelumnya, jadi bersiaplah!"

Cyrus memanggul pedang kayu sambil menyeringai. Dia benar-benar terlihat sangat menantikannya.

Begitu staf dan murid sudah dalam posisi siap dengan senjata masing-masing...

"Mulai!"

Instruksi dimulai terdengar dari penguji.

Bersamaan dengan suara itu, langkah kaki Cyrus mendekat.

Aku tahu peluang menangku akan naik jika menggunakan sihir untuk menyerang balik.

Tapi rasanya tidak sopan melakukan itu pada Cyrus yang sudah menungguku seperti ini.

Lagipula, aku sendiri terus mengayunkan pedang setiap hari demi hari ini.

Aku juga ingin menguji kekuatanku sendiri sebagai petarung garis depan.

Karena itu, aku menyambut serangan pedang kayu Cyrus tanpa menggunakan Sylpheed, melainkan murni dengan pedang kayu di tanganku.

"Kh?!"

Pedang yang penuh kekuatan seperti biasa.

Hanya dengan satu benturan, tanganku yang memegang pedang kayu terasa mati rasa, dan getarannya menjalar dari tubuhku hingga ke tanah.

"Sepertinya kau tidak bohong soal tidak malas-malasan! Aku puji kau karena tidak terpental oleh serangan tadi! Ini lagi!"

Aku berusaha sekuat tenaga menahan serangan Cyrus yang gerakannya semakin cepat setiap kali ia mengayunkan pedang.

Baik Strength, Agility, maupun level Swordsmanship, semuanya lebih tinggi milik Cyrus dibanding milikku.

Aku tahu bahwa tanpa Sylpheed, aku hanya akan terus berada dalam posisi bertahan.

Meski begitu, aku masih bisa bertahan.

Selama masih bisa menahan, ini adalah latihan teknik pedang. Sihir hanya akan kugunakan jika aku hampir kalah.

Entah sudah berapa kali pedang kami beradu.

Tanpa kusadari, staf dan peserta lain telah menghentikan latihan tanding mereka dan mengalihkan pandangan ke arah kami.

Suara benturan pedang kayu semakin intens, dan perlahan seringai di wajah Cyrus mulai menghilang.

"Serius, ini di luar dugaanku! Tapi aku tetap akan menang di sini!"

Cyrus melepaskan satu serangan yang sepertinya sungguhan.

Serangan itu memiliki kekuatan yang lebih dari cukup untuk mementalkan pedangku.

Saat pedangku terpental jauh dan posisiku tidak seimbang, Cyrus mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

Gawat! Kalau begini aku akan kalah! Aku tidak boleh kalah!

(Wind Cut...)

Tepat saat aku hendak merapalkan sihir tanpa suara...

"Cukup sampai di situ!"

Suara Sasha bergema di sekeliling, dan gerakan Cyrus yang hendak mengayunkan pedang kayunya terhenti.

"Oi! Sasha! Kenapa dihentikan?!"

Sasha menjawab protes Cyrus dengan tenang.

"Kau tidak ingin dipermalukan di tempat seperti ini, kan?"

"Hah?! Apa maksudmu... eh, jangan-jangan... mungkinkah?!"

"Entahlah. Tapi duel ini dianggap seri. Kalian berdua setuju, kan? Lorenz-san juga tidak perlu mempermasalahkan hasil duel mereka berdua, kan?"

Lorenz sepertinya adalah nama penguji yang memimpin tempat ini sejak tadi. Setelah Lorenz mengangguk, Cyrus pun mundur meski dengan berat hati.

Bagiku, selama tidak dinyatakan kalah, berarti masih ada kesempatan.

"Saya mengerti. Kalau begitu, apa saya harus menantang staf lain?"

Tiba-tiba Lorenz angkat bicara.

"Mars, kalau tidak salah? Kamu tidak perlu bertarung lagi."

Eh? Apa aku harus menang baru boleh lulus?!

Seolah memahami ekspresiku, Lorenz melanjutkan.

"Lawanmu adalah Cyrus-sensei, seorang petualang peringkat B. Di antara staf di sini, dia yang terkuat kedua setelah Sasha-sensei yang juga peringkat B. Apa menurutmu kami akan membuang orang yang bisa berduel pedang secara seimbang dengan Cyrus-sensei?"

"……Berarti?"

"Selamat. Kamu lulus. Seharusnya besok kamu harus mengikuti ujian tahap kedua, tapi kamu tidak perlu mengikutinya lagi."

Mendengar kata-kata yang tidak disangka itu, aku refleks mengepalkan tangan karena gembira.

"Terima kasih banyak! Saya akan berusaha sekuat tenaga, mohon bimbingannya!"

Lorenz mengangguk puas.

Sasha yang sejak tadi memperhatikan sambil tersenyum, kemudian membungkuk kepada Lorenz.

"Lorenz-sensei. Saya mohon pamit. Maaf jika saya sudah lancang ikut campur padahal bukan petugas penguji."

Setelah Sasha membungkuk pada Lorenz, Cyrus pun mengikuti.

"Kalau begitu aku juga pergi. Mars! Lain kali kita akan selesaikan duel ini dengan benar!"

Jangan-jangan mereka berdua sengaja datang melihat ujian karena mengkhawatirkanku?

"Tidak, tidak. Jika Sasha-sensei dan Cyrus-sensei tidak merekomendasikan Mars, mungkin kami akan menyesal di masa depan. Terima kasih banyak. Apa Mars bisa saya percayakan pada Sasha-sensei?"

Saat Lorenz hendak menyerahkanku kepada Sasha sambil melihat Cyrus yang berjalan menjauh menuju gedung sekolah, Sasha memberikan isyarat padaku.

"Baiklah. Mars, ikut aku."

Sambil menerima tatapan iri dari peserta ujian lainnya, aku berlari ke samping Sasha dan mengucapkan terima kasih atas bantuan kali ini.

"Sasha-san. Terima kasih banyak. Jika tidak ada Sasha-san, mungkin saat ini aku sudah kebingungan."

"Tidak apa-apa. Aku juga punya utang budi besar pada Mars."

Pasti maksudnya soal Misha.

"Kalau begitu, dengan ini utang budi kita lunas..."

"Bicara apa kamu? Mana mungkin ini setara dengan nyawa Misha?!"

Sasha menggembungkan pipinya.

"Maaf! Maksudku bukan begitu..."

Benar, itu tadi salah bicara.

Saat aku mencoba memperbaiki kata-kataku dengan panik, Sasha tersenyum lembut dan menunjuk ke arah gedung sekolah.

"Lihat, dua orang yang mengkhawatirkanmu sudah datang. Berikan laporan yang benar pada mereka."

Dari arah yang ditunjuk Sasha, Clarice dan Elie tampak berlari ke arah kami.

"Mars! Anu... itu..."

Suara Clarice mengecil, seolah dia takut mendengar hasil ujianku. Elie juga memperhatikan ekspresiku dengan cemas.

"Maaf sudah membuat kalian berdua khawatir. Aku lulus. Bahkan tidak perlu ikut ujian tahap kedua."

"—?!"

Mendengar laporan kelulusanku, Clarice langsung menghambur ke pelukanku dengan bahu yang bergetar. Elie menyusul di belakang Clarice dengan senyum lebar di wajahnya.

"Selamat atas kelulusannya. Kita harus merayakannya bertiga."

"……Sudah percaya…… selamat……"

Mereka berdua memberikan selamat padaku.

"Iya. Terima kasih. Mohon bantuannya mulai sekarang."

Aku tidak boleh puas hanya dengan kelulusan ini, aku harus terus berjuang.

Sambil merangkul bahu mereka berdua, aku kembali berjanji di dalam hati untuk terus berusaha keras.

Tanpa menyadari bahwa selain Sasha, ada sosok lain yang juga sedang memperhatikan kami—




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close