Chapter 1
Kompetisi Antar-Kelas
Di
bawah langit remang-remang sebelum fajar, aku baru saja menyelesaikan maraton
pagi dan kini mulai memasang kuda-kuda dengan pedang kayu.
Di
depanku, Clarice berdiri dengan napas terengah-engah. Tangan halusnya juga
menggenggam sebilah pedang kayu.
Elie
duduk memeluk lutut di atas rumput sambil mengawasi kami, sementara di
dekatnya, Karen dan Misha yang gagal menyelesaikan maraton tergeletak lemas
dengan napas yang putus-putus.
"Aku
datang!"
Bersamaan
dengan seruannya, Clarice menyentak bumi. Mata birunya mencari celah di
pertahananku, lalu pedang kayu yang diayunkan dari tangan putihnya yang ramping
nan lentur itu terayun turun dengan akurat.
Aku
melakukan Parry dengan pedang kayuku, merespons suara gesekan yang
membelah udara.
Bunyi
kayu yang beradu berkali-kali menggema, mengirimkan getaran hebat ke telapak
tanganku setiap kali benturan itu terjadi.
Setelah
hampir sepuluh menit saling bertukar serangan, pedang kayu Clarice menebas
angin. Dia kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di atas rumput.
"Hah...
hah... sudah tidak kuat... aku bahkan tidak bisa menggenggam pedang
lagi..."
Latihan
tanding setelah maraton memang sangat berat. Kubiarkan saja dia beristirahat di
sana.
"Baik,
selanjutnya Elie."
Mendengar
panggilanku, Elie yang mengenakan setelan celana berdiri. Biasanya, siswi
Sekolah Nasional Lister hanya diizinkan memakai rok.
Karena
itu, awalnya aku meminta Elie memakai celana pendek di balik roknya, tapi itu
tetap terasa mengganggu pergerakan.
Setelah
memohon sedemikian rupa kepada Duke Regan, akhirnya dia diizinkan memakai
celana dengan syarat hanya di lingkungan sekolah di luar jam pelajaran, serta
saat latihan di tempat yang tidak terlihat orang banyak.
Kami
berdua mengenakan sarung tangan dan pelindung tulang kering, lalu memulai Mass
Sparring. Sambil perlahan memperpendek jarak, aku menatap matanya untuk
membaca pergerakan.
Tak ada
sedikit pun niat jahat di mata itu; yang terbaca hanyalah rasa hormat,
kepercayaan, dan kasih sayang.
Tepat
saat aku membatin demikian, Elie tiba-tiba bergerak. Tanpa suara langkah kaki,
dia mendekat secepat angin dan meluncurkan jab tajam ke arahku.
Meski
aku mencoba menghindar dengan sway, jangkauan terakhir dari pukulannya
tetap menyerempet pipiku. Karena ini hanya latihan, dia tidak memukul dengan
kekuatan penuh, tapi jika ini pertarungan sungguhan, aku pasti sudah mengalami
luka yang cukup serius.
Aku
mencoba membalas, tapi pukulanku ditepis dengan mudah. Sebaliknya, tinju Elie
berulang kali menyentuh daguku dengan lembut.
Ada
alasan mengapa seranganku sama sekali tidak mengenai Elie padahal nilai Agility-ku
tinggi, dan mengapa aku terus-menerus terkena serangannya.
Itu
adalah perbedaan teknik bela diri.
Semua
pukulan Elie adalah no-motion. Biasanya, bahu kiri akan bergerak sebagai
awal sebelum lengan kiri memanjang, tapi pukulan Elie tidak memiliki gerakan
awalan sama sekali; tinjunya tiba-tiba saja sudah muncul di depan mata.
Terlebih
lagi, teknik kakinya berada di level yang berbeda. Saat aku mengira itu
tendangan rendah dan mencoba melakukan cut, kaki Elie tahu-tahu sudah
berada di atas bahuku.
Saat
aku mengangkat tangan karena mengira itu tendangan tinggi, kakinya justru
mengelus perutku.
Namun,
itu semua hanya bertahan selama beberapa menit. Ekspresi Elie yang semula datar
tiba-tiba berubah muram.
"……
Tidak sanggup…… capek……"
Dia
langsung menjatuhkan diri di samping Clarice. Alasannya karena mulai hari ini,
Clarice dan Elie tidak hanya sekadar maraton, tapi mereka melakukan lari
interval bersamaku.
Berulang
kali berpindah dari lari cepat ke lari lambat memang memberikan beban yang
berat pada tubuh.
"Berapa
banyak…… stamina yang kamu punya sih…… dengan begini…… mana ada yang percaya……
kalau kamu itu penyihir."
Karen
yang sudah tepar karena maraton menggerutu, sementara Misha yang napasnya mulai
stabil menatapku dengan heran.
"Karen,
jangan bandingkan dengan Mars. Dia itu pengecualian. Mari berusaha dari apa
yang kita bisa."
Setelah
napas mereka semua kembali normal, kami pun bubar. Aku menuju kamarku sendiri
di lantai teratas asrama yang mulai terasa familier.
Dulu
saat sekamar dengan Gon dan Karl, ruangannya sempit sehingga aku tidak bisa
menaruh alat angkat beban, tapi kamar ini luasnya bukan main.
Setelah
menyiksa tubuh dengan bench press buatan sendiri dan membersihkan diri
di pemandian, aku menuju kantin asrama.
"Selamat
pagi! Gon, Karl. Kalian pagi sekali hari ini!"
Di
kantin lantai lima, tidak hanya ada Gon dan Karl, tapi murid-murid Kelas E
lainnya juga sudah berkumpul.
"Oow!
Hari ini ada pertandingan antarkelas melawan Kelas D! Kami berkumpul untuk
menyusun strategi!"
Gon
yang penuh semangat menjawab sambil mengunyah makanannya hingga mulutnya penuh.
Murid Kelas E lainnya juga menyuarakan ambisi mereka untuk pertandingan hari
ini.
Pertandingan
antarkelas adalah simulasi pertarungan yang diadakan secara rutin.
Pertandingan
dibagi menjadi duel perwakilan dan pertarungan party, dan hasilnya akan
menjadi dasar perpindahan kelas.
Kami
juga akan menghadapi pertandingan melawan Kelas A lima hari lagi, jadi ini
bukan urusan orang lain bagiku.
Aku
tidak boleh kalah demi bisa tetap bersama Clarice dan Elie. Karena itulah,
latihan pagiku hari ini jauh lebih bersemangat dari biasanya.
Selesai
makan, aku berangkat ke sekolah bersama Gon dan kawan-kawan. Di kelas sudah ada
Clarice dan yang lainnya. Begitu aku duduk, Clarice menempati kursi di sebelah
kananku, dan Elie di sebelah kiriku.
Tak
lama kemudian, Baron dan Dominic tiba. Terakhir, Lorenz sang wali kelas masuk,
dan jam wali kelas pun dimulai.
"Nah,
sebentar lagi pertandingan antarkelas dimulai, tapi setelah itu barulah
panggung utama kalian yang sebenarnya. Turnamen Bela Diri Murid Baru bulan
depan—aku menaruh harapan besar pada kalian."
Lorenz
sama sekali tidak meragukan kemenangan kami di pertandingan antarkelas. Aku
senang dia mempercayai kami, tapi waspada itu tetap yang utama.
Ini
pertama kalinya aku mendengar tentang Turnamen Bela Diri Murid Baru, tapi
sesuai namanya, itu pasti ajang persaingan antar-murid tahun pertama.
Bagaimanapun,
yang perlu kulakukan hanyalah berlatih. Tepat saat aku berpikir ingin ditempa
lagi oleh Kylus hari ini, Lorenz mengucapkan kata-kata yang tak terduga.
"Selain
itu, mulai hari ini Kylus-sensei tidak akan datang ke sekolah."
“““Eh————!?”””
Kami
semua berseru kaget secara serempak. Lorenz mencoba mengabaikannya dan
melanjutkan bicara, tapi ini benar-benar tidak masuk akal.
"Kenapa
Kylus-sensei tidak datang?"
Aku
mewakili yang lain bertanya. Lorenz akhirnya menyerah dan merasa harus
menjelaskannya.
"Padahal
tahun ini terasa paling lama dibandingkan sebelumnya..."
Lama?
Apanya? Sambil menunggu kelanjutan kata-katanya...
"Kalian
semua tahu Kylus-sensei itu orang yang berapi-api, kan? Kalian juga pasti paham
kalau dia sangat peduli pada muridnya. Tapi, metode pengajarannya bisa dibilang
sangat keras. Murid-murid yang tidak menyukai hal itu berkumpul dan mengajukan
tuntutan. Mereka menuntut pemecatan Kylus-sensei."
Memang
benar, kebijakan pendidikan Kylus bisa diringkas dalam satu kata: Spartan.
Aku
sering melihatnya memperlakukan siswi dengan ketegasan yang sama. Bagi mereka
yang tidak memahami esensinya, mungkin mereka akan meneriakkan kebencian pada
Kylus.
"……
Lalu, hukuman apa yang diterima Kylus-sensei?"
"Skorsing
sampai tahun depan. Ini terjadi setiap tahun, jadi jangan terlalu dipikirkan.
Kylus-sensei menitipkan pesan bahwa dia senang bisa membimbing Mars, Baron, dan
Dominic. Dia berpesan agar kalian jangan berani-berani membolos."
Terjadi
setiap tahun, ya... mungkin saat aku bertemu Kylus di pelelangan budak dulu,
dia juga sedang dalam masa skorsing.
"Lalu
siapa yang akan mengajari kami bela diri?"
Dominic
bertanya dengan wajah berpikir. Ada rasa aman saat mengikuti instruksi Kylus
karena kami tahu itu pasti benar. Sepertinya Dominic juga merasakan hal yang
sama.
Namun,
seolah tidak peduli dengan kecemasan kami, Lorenz melanjutkan pembicaraannya
dengan datar.
"Kalian
tidak perlu khawatir soal itu. Untuk sementara sampai turnamen dimulai, kami
sudah menyewa guru sementara. Kalian pasti akan merasa puas dengannya."
Dilihat
dari nadanya, dia tampak percaya diri. Tapi, tidak mungkin ada guru yang lebih
baik dari Kylus... pikirku saat menuju gedung olahraga. Namun, pemikiran itu
segera berubah.
"Yo,
kalian semua. Mulai hari ini aku yang akan mengurus pelajaran bela diri kalian,
mohon bantuannya ya."
Seorang
pemuda tampan berambut merah menyapa kami dengan tatapan mata yang gagah.
Postur tubuhnya tegak berwibawa, mengenakan seragam berupa jubah putih dengan
sulaman merah delima.
Ya,
yang menunggu kami adalah Ike. Melihat sosok yang tak terduga itu, tidak hanya
aku, tapi sorot mata Baron dan Dominic juga berubah. Bagi mereka berdua pun,
tak akan ada komplain jika bisa diajar oleh sosok karismatik dari Sekolah
Nasional Lister.
"Seperti
yang kalian tahu, dia adalah Ike dari Kelas 4-S. Mulai hari ini kalian akan
belajar darinya. Ike, silakan."
Lorenz
memperkenalkan Ike sekali lagi lalu mundur ke belakang.
"Aku
Ike, yang akan bertugas sebagai guru sementara. Kelas S akan mulai berlatih
untuk Turnamen Bela Diri Murid Baru mulai hari ini, tapi mungkin ada yang belum
tahu tentang turnamen itu sendiri, jadi akan kujelaskan. Turnamen Bela Diri
Murid Baru adalah pertarungan mempertaruhkan harga diri antar-sekolah."
Begitu
rupanya. Pertandingan antar-sekolah, ya.
"Turnamen
ini dibagi menjadi Divisi Garis Depan dan Divisi Garis Belakang. Karena itu,
selama satu bulan ini kalian akan dibagi menjadi dua kelompok tersebut untuk
menerima pelajaran. Beritahu aku keahlian kalian masing-masing. Mulai dari
Mars."
Ike
bertanya secara berurutan mulai dariku. Setelah mendengar sampai yang terakhir
yaitu Minerva, Ike kembali bicara.
"Kalau
begitu, mari kita bagi. Mars, Clarice, Elie, Baron, dan terakhir Dominic.
Kalian berlima adalah Garis Depan. Karen, Misha, Johann, Joseph, dan Minerva
adalah Garis Belakang. Namun, karena alasan cedera atau hal lainnya, posisi ini
bisa saja bertukar, jadi bersiaplah."
Clarice
di garis depan?
Karena
dia hanya bilang ahli memanah, aku mengira Clarice akan di garis belakang,
sementara Misha yang ahli tombak serta sihir angin dan air akan di garis depan.
Benar-benar
di luar dugaan. Mungkin Ike sengaja melakukannya agar aku dan Clarice bisa
terus bersama.
Setelah
pembagian posisi selesai, pelajaran pun segera dimulai. Pelajaran dilakukan
dalam bentuk latihan tanding praktis, di mana kami saling menunjukkan kelemahan
masing-masing.
"Baron!
Kamu mengayunkan pedang terlalu mengandalkan tenaga! Dominic! Pose apa itu
setelah mengayunkan pedang!"
Suara
Ike yang membimbing mereka terdengar sangat bersemangat. Di samping Baron dan
Dominic, Clarice dan Elie sedang melakukan simulasi pertarungan. Clarice
menggenggam pedang kayu, sementara di tangan Elie terdapat belati kayu.
Dalam
pertarungan jarak dekat, Elie jelas lebih unggul. Sejak tadi belati kayu Elie
berulang kali menyentuh pipi Clarice.
Namun,
Clarice sama sekali tidak menyerah. Karena Elie tahu itu, dia tidak menahan
diri, dan pertarungan sepihak itu berlanjut hingga istirahat siang.
"Mars,
bagaimana menurutmu? Pertarunganku dengan Elie tadi."
Sambil
menikmati makan siang, Clarice meminta umpan balik dari pertarungan tadi.
"Untuk
melawan musuh yang gesit seperti Elie, kurasa kuncinya adalah jangan panik dan
carilah celah. Jika musuh hanya sekadar cepat, taktik menekan dengan perbedaan
fisik bisa dipikirkan, tapi itu tidak bisa dilakukan terhadap Elie. Namun,
jangan pernah menghentikan langkahmu. Jika kamu membiarkannya bergerak sesuka
hati, kekalahanmu sudah di depan mata."
"Jangan
panik ya... tapi kalau dia bergerak secepat itu di depan mataku, aku jadi sulit
menahan rasa panik... Elie, mohon bantuannya lagi ya untuk siang nanti."
Yah,
siapa pun pasti akan kebingungan jika dihadapkan dengan kecepatan itu ditambah
dengan tipuan.
"Bagaimana
dengan kelompok Karen? Tadi aku kehilangan jejak kalian."
Karena
terlalu fokus pada Clarice dan Elie, aku baru sadar mereka sudah tidak ada.
"Iya,
kami pindah ke tempat di mana kami bisa melatih sihir api. Karena aku dan
Joseph adalah pengguna sihir api, kami tidak bisa latihan di sana. Latihannya
berjalan lancar, kok. Selain sihir angin, untuk sihir tanah kami dibimbing oleh
Edin sebagai guru sementara, dan untuk sihir air ada guru yang kemampuannya
jauh di atas penyihir biasa, jadi semuanya sempurna."
Tidak
hanya bisa melepaskan sihir sesuka hati, tapi jajaran gurunya juga luar biasa.
Benar-benar lingkungan yang lengkap seperti yang diharapkan dari Sekolah
Nasional Lister yang disebut sebagai yang terbaik di benua ini.
◆◇◆
——Lima
Hari Kemudian
"Kalian
semua! Berbaris di sana!"
Kami,
Kelas S dan Kelas A, dikumpulkan di arena tempat Pertempuran Peringkat
dilakukan dulu.
Kedua
kelas dibariskan saling berhadapan. Tentu saja untuk melakukan pertandingan
antarkelas.
Murid-murid
Kelas A terlihat sangat bersemangat. Bagaimanapun, jika bisa naik ke Kelas S,
masa depan yang gemilang seolah sudah terjamin.
Yah,
sepertinya masuk ke Sekolah Nasional Lister saja sudah membuat mereka termasuk
golongan orang sukses.
"Kita
mulai dari duel perwakilan! Perwakilan Kelas A, Panema, maju!"
Panema
yang dipanggil Lorenz ternyata adalah seorang gadis.
"Baik!
Dari Kelas S, Minerva! Maju!"
Duel
perwakilan berarti murid paling berprestasi di kelas bawah akan bertarung
melawan murid dengan peringkat terendah di kelas atas.
Ngomong-ngomong,
peringkat hanya diberikan untuk Kelas S, dan pada dasarnya kelas reguler tidak
memilikinya. Karena itu, murid kelas reguler setiap harinya mati-matian melatih
diri dan mengasah kemampuan demi meningkatkan penilaian dari sekolah.
Minerva
dan Panema. Begitu tatapan mereka bertemu, suara Lorenz "Mulai!"
menggema di dalam arena. Hasil pertandingannya adalah kemenangan telak bagi
Minerva.
Keduanya
adalah tipe all-rounder yang memulai dengan pertarungan sihir sebelum
beralih ke jarak dekat, namun saat itu HP Panema sudah terkikis banyak.
Setelah
dua atau tiga kali benturan pedang kayu, Panema kalah tenaga dalam setiap
benturannya. Begitu pedang kayunya terpental, Panema pun mengakui kekalahannya.
Perwakilan
selain Kelas S sering kali dipilih berdasarkan kemampuan keseluruhan, jadi
hasil ini sudah bisa diduga.
Terlebih
lagi, hanya Kelas S yang memiliki Pertempuran Peringkat. Jika kelas lain juga
mengadakan hal yang sama, jumlah guru pengawas dan dokter untuk menangani murid
yang cedera tidak akan pernah cukup.
"Selanjutnya
pertarungan party! Lima orang dari Kelas A, maju! Dan murid Kelas S,
tunjuklah lima orang selain Minerva!"
Dalam
pertarungan party, kelas bawah boleh menunjuk lima orang dari kelas
atas. Kabarnya guru punya hak veto jika penunjukannya terlalu tidak adil, tapi
kami tidak punya niat untuk melakukan itu.
Yang
terpilih adalah aku, Clarice, Elie, Dominic, dan Misha. Aku bisa mengerti
kenapa mereka menghindari Karen dan Baron, tapi cukup mengejutkan Johann dan
Joseph tidak terpilih.
"Mungkin
anak-anak Kelas A lebih ingin mengukur kemampuan kita terlebih dahulu daripada
sekadar naik kelas. Kemampuanku dan Karen pasti sudah mereka ketahui, sementara
Johann dan Joseph adalah mantan Kelas A jadi rahasia mereka sudah terbongkar.
Mungkin mereka sedang mengumpulkan informasi demi pertandingan
selanjutnya?"
Benar
kata Baron. Jika itu alasannya, penunjukan ini masuk akal. Kalau begitu, yang
harus kami lakukan hanya satu. Membuat mereka merasa tidak ingin menunjuk kami
lagi untuk selamanya.
"Teman-teman,
bolehkah aku meminta sesuatu yang agak egois? Untuk satu menit pertama saja.
Biarkan aku dan Elie bertarung berdua."
"Jika
itu maumu, Mars, aku tidak keberatan. Kalau aku setuju, Clarice dan yang
lainnya juga pasti setuju, kan?"
Dominic
menawarkan diri dengan penuh pengertian. Dia ini sebenarnya orang baik...
asalkan tidak mengincar Clarice.
Setelah
mendapat persetujuan Clarice dan yang lain, aku menyampaikan rencana pada Elie
dan memberi tanda pada Lorenz bahwa kami siap.
Strategi
pihak Kelas A sepertinya sudah matang, mereka semua sudah bersiap dengan
senjata masing-masing. Komposisi yang seimbang dengan tiga orang di garis depan
dan dua orang di garis belakang. Setelah memastikan itu, Lorenz meneriakkan
aba-aba mulai.
"Mulai!"
Begitu
aba-aba bergema, aku dan Elie berlari sekuat tenaga menuju tiga orang garis
depan Kelas A. Garis belakang Kelas A mencoba merapalkan sihir sambil mengawasi
keadaan, tapi gerakan lincah kami lebih cepat.
Dalam
sekejap, kami menyelinap ke celah garis depan dan berhasil mengunci pergerakan
garis belakang. Dengan begini, mereka tidak akan berani melepaskan sihir karena
takut mengenai teman sendiri.
Dari
sini, yang kami lakukan hanya satu: pengacauan. Elie dengan cepat berlari
mengelilingi salah satu orang garis depan, menarik seluruh perhatian lawan.
Aku
memanfaatkan gerakan itu untuk memutari garis depan yang lain. Mereka berusaha
keras mengejar kami, tapi formasi mereka perlahan mulai berantakan. Merasa ini
adalah saat yang tepat, Elie semakin menaikkan kecepatannya.
Melihat
gerakan Elie yang seperti bayangan, mereka mulai panik. Mereka terpaksa membagi
perhatian ke arah yang berbeda-beda, membuat kerja sama mereka hancur.
Dalam
ruang sempit yang padat itu, mereka mengayunkan pedang kayu dan malah saling
membentur senjata teman sendiri.
Di saat
itulah, aku berpura-pura menyerang garis belakang. Dua orang di garis belakang
terkejut dan mencoba membalas dengan sihir, tapi itu adalah langkah yang salah.
Aku
berhenti mendadak dan kembali berbelok arah. Sihir yang dilepaskan ke arahku
justru menghantam salah satu teman mereka di garis depan.
"Elie!"
Merespons
panggilanku, Elie mencengkeram tengkuk orang yang hampir terkena sihir itu lalu
melemparkannya. Di saat itulah, Lorenz meniup peluit tanda berakhirnya
pertarungan party.
"Kerja
bagus, Elie."
Aku
mengajak fist bump, dan Elie menyambutnya. Tangan kami pun bertautan
secara alami.
"……
Mm…… Mars…… duet…… menyenangkan……"
Dibandingkan
dengan kami yang bahkan tidak berkeringat, anggota Kelas A tampak termangu.
Saat kami berdua berjalan perlahan menuju tempat Clarice dan yang lain
menunggu...
"Hebat
sekali Mars dan Elirin! Menang telak tanpa memberi kesempatan menyerang sama
sekali!"
Misha
bertepuk tangan memberikan selamat.
"Tapi
aku jadi sedikit cemburu. Kerja sama sesempurna itu, aku tidak akan bisa
melakukannya."
Meskipun
berkata begitu, Clarice memeluk Elie untuk berbagi kegembiraan.
"Benar-benar
di luar nalar ya. Lain kali…… anu…… maukah kamu latihan pedang bersamaku
juga?"
Terhadap
Dominic yang meminta fist bump dengan malu-malu, jawabanku tentu hanya
satu.
"Tentu!
Mari berjuang bersama untuk jadi lebih kuat!"
Saat
aku sedang beradu tinju dengan Dominic, seluruh anggota Kelas A berjalan
mendekat.
"Kalian
benar-benar kuat. Kami ingin tahu kemampuan kalian agar bisa mendukung kalian
di turnamen nanti, tapi kami bahkan tidak bisa melihat sedikit pun dari
kemampuan asli kalian. Kami kalah telak. Berjuanglah ya."
Pria
yang bertarung di pertarungan party tadi menyapa sambil menyodorkan
tinjunya. Begitu rupanya. Jadi mereka ingin melihat kekuatan kami dengan mata
kepala sendiri.
"Terima
kasih. Kalau itu yang kalian mau, itu perkara mudah. Clarice."
Aku
memungut batu kerikil yang jatuh di dekatku dan memanggil nama Clarice. Clarice
yang mengerti maksudku segera menyiapkan Magic Arrow.
"Ini
dia!"
Batu
kerikil yang kulempar dengan kuat itu berhasil dibidik dengan akurat oleh panah
berkecepatan tinggi dari Clarice, hingga hancur berkeping-keping.
Berapa
pun yang kulempar, kemampuannya yang luar biasa dalam memanah setiap batu
dengan sempurna membuat tidak hanya anak-anak Kelas A, tapi kami semua termasuk
aku sendiri terpana melihatnya.
"Bagaimana?
Apa kalian sudah paham?"
Clarice
bertanya pada murid Kelas A yang masih terpana. Baik laki-laki maupun
perempuan, mereka semua menganggukkan kepala dengan sangat keras, seolah-olah
sedang headbang saat mendengarkan musik metal.
"Kalau
begitu, aku juga mau!"
Misha
mencoba menunjukkan performa mengikuti Clarice, tapi sialnya dia malah
menggunakan sihir lepas kendali. Meski sudah jauh lebih terkontrol, sepertinya
hari ini dia sedang tidak beruntung. Dia berakhir mendarat di dalam
semak-semak.
"Yah,
hari seperti ini juga ada sih, tapi tolong dukung kami ya!"
Semua
orang merasa tenang melihat Misha kembali dengan hiasan ranting di rambutnya.
"Tentu,
kami akan mendukung kalian! Berjuanglah sebagai perwakilan kami!"
Kali
ini tidak hanya aku, tapi seluruh anggota Kelas S dan Kelas A saling melakukan fist
bump, dan pertandingan antarkelas pun berakhir.
◆◇◆
——
Keesokan Harinya
Pertandingan
antarkelas untuk murid tahun pertama berakhir kemarin, dan hari ini seluruh
murid baru dikumpulkan di aula. Agenda utama pertemuan ini adalah pengumuman
anggota Kelas S dan peringkat mereka, serta peran dalam Turnamen Bela Diri
Murid Baru.
Hanya
kami, murid Kelas S, yang duduk di kursi di atas panggung aula. Murid reguler
duduk bersila di lantai.
"Sekarang
akan diumumkan anggota yang akan bertanding di Turnamen Bela Diri Murid Baru!
Berikan tepuk tangan meriah untuk mereka yang akan bertarung mewakili Sekolah
Nasional Lister! Pertama, peringkat sepuluh! Divisi Garis Belakang, Minerva
Zebius!"
Minerva
berdiri dengan wajah tegang dan melakukan curtsey yang elegan, disambut
tepuk tangan dari murid reguler.
"Peringkat
sembilan! Divisi Garis Belakang, Joseph Vali!"
Meskipun
warna wajahnya sudah lebih baik daripada sebelumnya, Joseph sepertinya masih
merasa kurang sehat.
Aku
sudah bicara dengannya beberapa kali, tapi sepertinya dia tipe orang yang
sangat gugup dan sulit berkomunikasi.
Karena
takut dibenci jika aku terlalu memaksa mengajaknya bicara, aku menunggu dia
yang memulai pembicaraan, meski harapanku mungkin tipis.
"Peringkat
delapan! Divisi Garis Belakang, Johann Biel!"
Berbeda
dengan Joseph, pria ini selalu memiliki wajah ramah yang memberikan rasa aman
pada orang di sekitarnya. Sebenarnya aku sudah mencoba latihan sihir orisinal
Johann, Kamaitachi, secara diam-diam dan langsung bisa melakukannya,
tapi aku merahasiakannya.
Pernah
sekali aku bertanya apakah boleh melakukan Appraisal padanya, tapi dia
menolaknya dengan halus. Yah, bagaimanapun dia juga sainganku.
"Peringkat
tujuh! Divisi Garis Belakang, Misha Febrant!"
Begitu
Misha yang penuh semangat itu berdiri, tepuk tangan meriah datang tidak hanya
dari murid laki-laki tapi juga perempuan.
Misha
membalas lambaian tangan dengan puas, tapi karena tidak kunjung berhenti, dia
ditegur oleh Lorenz dan akhirnya duduk kembali dengan senyum yang menggemaskan.
"Peringkat
enam! Divisi Garis Depan, Dominic Augustus!"
Pria
yang dulu disebut sebagai "Sword Saint" itu menyalakan api di matanya
demi merebut kembali gelar tersebut.
"Peringkat
lima! Divisi Garis Depan, Baron Reinhardt!"
Terdengar
suara gumaman tidak puas saat "Pahlawan dari Utara", Baron, diumumkan
berada di peringkat lima. Sorakan dari gadis-gadis yang sepertinya penggemar
Baron terdengar nyaring.
"Peringkat
empat! Divisi Garis Belakang, Karen Lionel!"
Saat
Karen berdiri, hampir semua murid menundukkan kepala seolah menunjukkan rasa
hormat. Begitu besarnya pengaruh keluarga Duke Fresolved yang terasa di sini.
"Peringkat
tiga! Divisi Garis Depan, Elie Leo!"
Mendengar
namanya dipanggil, Elie berdiri dengan cepat, membungkuk sekali, lalu segera
duduk kembali. Gerakan berdiri, membungkuk, dan duduk yang dilakukan dengan
kecepatan luar biasa itu membuat semua orang terpana hingga tak mampu bersuara.
"Peringkat
dua! Divisi Garis Depan, Clarice Lampard!"
Begitu
Clarice berdiri, pemandangan yang sudah kuduga terjadi. Para berandalan itu
berteriak memanggil nama Clarice dengan suara yang berat dan keras.
Lorenz
berulang kali berteriak menyuruh mereka diam tapi suaranya tenggelam, butuh
beberapa menit sampai suasana tenang kembali.
"Peringkat
satu! Divisi Garis Depan, Mars Bryant!"
Begitu
namaku dipanggil, aku berdiri dengan sigap agar bisa menyelesaikannya dengan
cepat seperti Elie.
Tiba-tiba,
gelombang sorakan dari murid perempuan menerjangku. Eh? Untukku?
Tidak
salah, nih?
Pikirku,
tapi para siswi itu mati-matian meneriakkan namaku. Hmm. Rasanya tidak buruk
juga.
Malah
terasa menyenangkan. Saat aku sedang menikmati masa populer yang tiba-tiba ini,
aku merasakan tatapan tajam dari belakang dari Clarice dan Elie…… Maafkan aku.
"Yang
menaruh harapan pada kalian bukan hanya murid kelas satu di sini. Sekolah
Nasional Lister—bukan, Uni Negara Lister mendukung kalian. Berjuanglah sekuat
tenaga tanpa penyesalan! Bubar!"
Bersamaan
dengan kata-kata Lorenz, tepuk tangan paling meriah dari seluruh murid tahun
pertama mengiringi kami saat meninggalkan aula.
Melihat
semangat yang begitu besar ini, sepertinya ini bukan sekadar pertandingan
antar-sekolah biasa.
Terlebih
lagi kami sudah didukung sejauh ini. Kami benar-benar harus menang, ya. Dengan
target baru di dalam dada, aku bersumpah dalam hati untuk terus berusaha.



Post a Comment