NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 4 Chapter 13

Chapter 13

Guru Baru


12 Agustus 2032

Baron dan kawan-kawan yang menempuh perjalanan dari San Marina menuju wilayah Count Reinhardt—kampung halaman mereka—telah kembali ke sekolah. Kehidupan para siswa kelas satu pun perlahan mulai normal kembali.

Namun, pikiran beberapa pemuda masih dipenuhi oleh sisa-sisa penyesalan dari San Marina.

"Haa... aku ingin sekali melihat Clarice memakai baju renang... padahal aku sudah mencarinya, tapi tahu-tahu dia sudah menghilang... Seandainya bisa, aku ingin terdampar di karang berdua dengannya, lalu kami saling menghangatkan tubuh... mufufu."

Gon yang kulitnya terbakar matahari menceritakan fantasinya sambil mendesah panjang. Tak lama kemudian, siswa laki-laki di sekitarnya pun mulai menceritakan skenario idaman masing-masing.

Ada yang ingin mengapung di ban pelampung kecil sambil menempel mesra dengan Eris, ada yang ingin menjadi pelayan satu hari bagi Karen, hingga ada yang ingin bermain sepuas hati dengan Misha—berbagai angan-angan penuh nafsu terlontar satu demi satu.

Yah, di usia segini, minat laki-laki memang pasti tertuju pada perempuan.

Aku pun tidak jauh berbeda dari mereka... malahan, karena aku berada di sisi mereka, minatku mungkin lebih besar. Namun, demi melindungi mereka—dan agar bisa terus bersama mereka—aku harus terus mengasah diri.

Dengan pemikiran itu, aku melangkah menuju sekolah. Dari sisi lain bangunan, terlihat para siswi berjalan sambil dikelilingi oleh banyak siswa laki-laki. Kalian pasti sudah tahu siapa mereka: kelompok Clarice.

Mereka telah menjelma menjadi idola Sekolah Nasional Lister yang memikat hati para siswa.

Mengingat empat tahun lalu saja ada orang-orang yang sampai pindah ke Ilgusia demi mengejar Clarice, hal ini bisa dibilang wajar.

Semakin mereka mendekat, aku merasakan tatapan di sekitar semakin memanas. Rambut perak Clarice yang berjalan di tengah memantulkan sinar matahari, menciptakan kecantikan yang membuat siapa pun terpana.

Begitu menyadari keberadaanku, ekspresi Eris yang tadinya monokrom langsung berubah cerah, sementara Karen memberiku senyum yang keren. Senyum polos Misha juga menenangkan hati semua orang, termasuk aku.

"Empat orang itu memang kelasnya beda, ya. Terus, bukannya atmosfer mereka berubah sejak dari San Marina?"

"Benar, kalau Clarice dan Eris sih sudah biasa, tapi pertumbuhan Lady Karen dan Misha itu luar biasa."

"Misha yang kupikir lebih pendek dari Lady Karen saja sekarang sudah lebih tinggi."

"Jangan-jangan mereka semua sudah melewati 'pengalaman satu musim panas'..."

Tatapan penuh rasa iri, cemburu, dan haus darah dari para siswa laki-laki kini menusuk ke arahku.

"Selamat pagi, Mars."

Entah dia menyadari situasi itu atau tidak, Clarice mendekat hingga bahu kami hampir bersentuhan.

Anggota perempuan lainnya juga mengambil posisi seperti biasa, lalu kami menuju kelas di bawah tatapan tajam para siswa lainnya.

Sambil menunggu bimbingan kelas dimulai, Lorenz-sensei masuk bersama seorang pria.

Matanya tajam, batang hidungnya mancung, dagunya tirus, dan bibirnya tipis. Singkatnya, dia adalah pria tampan yang tampak segar, namun entah kenapa memancarkan aura suram.

Dan yang paling aneh adalah pedang yang melingkar di pinggangnya.

Di bagian tengah gagang pedang yang terbungkus sarung hitam itu, tertanam sebuah bola bulat besar menyerupai batu sihir. Bola itu terasa menyeramkan, seolah-olah sedang menatap tajam ke arahku.

"Selamat pagi. Langsung saja, mulai hari ini akan ada guru baru yang bertugas. Ini adalah Reiner-sensei."

Reiner melangkah maju dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas. Di matanya tersirat ketajaman seorang prajurit berpengalaman.

"Aku Reiner, seperti yang baru saja diperkenalkan. Aku akan mengajar Sword Art dan Spear Art. Aku sangat percaya diri terutama dalam hal pedang, jadi jangan ragu untuk menyapa meski di luar jam pelajaran."

Meski senang dengan kehadiran guru bela diri baru, rasa cemas tiba-tiba menyerang batinku.

Aku khawatir guru tampan ini akan mencuri hati Clarice dan yang lainnya.

Tanpa sadar aku melirik ke arah Clarice, namun dia membalasnya dengan senyuman lembut. Eris, seperti biasa, sama sekali tidak tertarik pada Reiner dan terus memberikan tatapan hangat padaku.

Begitu pula dengan Karen dan Misha yang tampak normal. Sepertinya aku hanya berpikir berlebihan.

"Aku ingin bilang kita akan mulai dari pelajaran hari ini, tapi karena masih ada prosedur administrasi yang harus diselesaikan, kelas baru akan dimulai nanti. Hari ini hanya perkenalan. Ingatlah bahwa pelajaran pertama akan diberikan untuk Kelas 4S, jadi Kelas 1S akan menyusul setelahnya."

Ikon Sekolah Nasional Lister memang kelompok [Guren] yang dipimpin Ike. Jadi jadwal itu tidak masalah.

Fakta bahwa dia diperkenalkan saat prosedur administrasi belum selesai mungkin merupakan cara sekolah untuk menunjukkan bahwa mereka serius dalam mencari pengajar.

Kepada siapa? Tentu saja kepada Karen, putri kedua keluarga Duke Flesveldt.

"Maaf, boleh saya bertanya? Reiner-sensei adalah guru bela diri, tapi sejauh mana level Sword Art Anda?"

Saat Lorenz dan Reiner tampak hendak pergi, Dominic mengajukan pertanyaan. Semua orang pasti ingin tahu seberapa hebat kemampuannya.

Reiner melirik Lorenz, dan Lorenz pun mengangguk.

"Ah, level Sword Art milikku adalah 17. Aku adalah seorang [Sword King]."

““““[Sword King]!?””””

Semua orang berseru kaget secara serempak. Sekolah benar-benar merekrut orang yang luar biasa.

"Benar, Reiner-sensei adalah seorang [Sword King]. Beliau adalah pendekar pedang veteran, jadi jangan arahkan niat jahat kepadanya. Kalian pasti paham, jika kalian memancarkan niat jahat, tubuh seorang petarung bisa bergerak sendiri sebagai reaksi. Mengerti?"

Lorenz memberikan peringatan kepada kami. Tentu saja, aku tidak punya niat jahat terhadap guru itu.

Meski begitu, seorang [Sword King], ya? Berarti pedang dengan gagang aneh di pinggangnya itu pasti senjata yang luar biasa.

Sejak ditegur Karen, aku tidak lagi sembarangan melakukan Appraisal pada orang lain, tapi aku benar-benar penasaran.

Dengan perasaan ringan, aku mencoba mengintip statusnya, namun hasilnya membuatku terperanjat.


[Nama] Reiner Oligo

[Tittle] Sword King

[Status] Manusia (Rakyat Jelata)

[Kondisi] Cursed (Terkutuk)

[Usia] 34 Tahun

[Level] 54

[HP] 266 / 266

[MP] 102 / 102

[Strength] 115

[Agility] 152

[Magic] 30

[Dexterity] 117

[Stamina] 100

[Luck] 0

 

[Special Ability] Sword Art A (Lv 17/19)

[Special Ability] Spear Art B (Lv 10/17)

[Special Ability] Water Magic E (Lv 2/11)

 

[Equipment] Demonic Sword Bram


Apa-apaan ini...?

Hal pertama yang menarik perhatian tentu saja gelar [Sword King].

Namun, kondisi Cursed jauh lebih mengusikku. Apalagi, ini pertama kalinya aku melihat Luck bernilai 0.

Ditambah lagi perlengkapannya. Demonic Sword Bram? Jadi pedang menyeramkan itu adalah pedang iblis?

Karena penasaran, begitu fokusku tertuju pada pedang iblis Bram di pinggang Reiner, tiba-tiba muncul kabut hitam dan ungu di depanku, dan sebuah pedang dengan bilah merah darah menampakkan diri. Pada gagangnya terterdapat bola bulat menyerupai mata besar.

Kapan dia menghunusnya!? Saat aku berpikir begitu, Reiner yang sudah berada sangat dekat denganku menggenggam pedang itu dan menyarungkannya kembali dengan gerakan kilat.

"Ups, jangan-jangan kamu bisa melakukan Appraisal? Sebaiknya kebiasaan itu diperbaiki, ya? Jika kamu bukan muridku, kepalamu pasti sudah tertebas."

"Ma-maaf... saya hanya sedikit penasaran..."

"Begitu ya. Maaf, maaf. Tanpa sadar reaksiku muncul sebagai bentuk pertahanan diri. Tapi sebaiknya jangan gunakan Appraisal sembarangan. Kamu juga diajarkan begitu, kan?"

Setelah Reiner memberikan teguran, Lorenz pun ikut memperingatiku.

"Mars, apa yang dikatakan Reiner benar. Bukankah sudah kubilang jangan memancarkan niat jahat?"

"I-iya. Terima kasih atas bimbingannya."

Meski berusaha bersikap tenang, keringat dingin mengucur di punggungku.

Sangat berbahaya. Jika ini pertarungan sungguhan, leherku pasti sudah ditebas.

Jadi Appraisal pun dianggap sebagai bentuk permusuhan, ya?

Yah, tidak ada orang yang senang diintip statusnya secara diam-diam, jadi wajar jika dianggap begitu.

"Kalau begitu, kalian semua akan melakukan pengukuran fisik. Siswi akan diukur oleh Sasha-sensei. Siswa laki-laki tunggu di sini. Aku akan melakukan pengukuran setelah mengantar Reiner."

Begitu Lorenz pergi bersama Reiner, para siswi pun bangkit dari kursinya. Pengukuran fisik, ya. Mungkin ini pertama kalinya aku diukur secara resmi sejak datang ke dunia ini.

Tapi, apa yang terjadi saat pedang iblis Bram mendadak muncul di depan mataku tadi? Apakah itu teleportasi? Hanya pedangnya saja? Mana mungkin.

Aku terus memikirkan kejadian tadi sambil menjalani pengukuran fisik.

Setelah selesai, para siswa laki-laki saling membandingkan hasil mereka.

Sebagai pengguna sihir suci, tinggiku 178 cm dengan berat 80 kg, memang tergolong besar.

Namun, Baron dan Dominic juga menunjukkan pertumbuhan yang mencolok belakangan ini. Baron setinggi 168 cm dengan berat 60 kg, sementara Dominic 170 cm dengan berat 65 kg.

Mungkin ini efek dari memakan Diamond Tuna.

Para siswi pun kembali ke kelas setelah pengukuran selesai dan mulai saling memperlihatkan hasil mereka.

"Hei, bagaimana hasilmu, Mars?"

Clarice menanyakan hasilku, dan saat aku menjawabnya, dia tampak terkejut.

"Eh!? Delapan puluh kilo!? Tapi kamu tidak kelihatan gemuk... malah kupikir kamu butuh makan lebih banyak agar lebih berisi?"

"Yah, aku kan latihan beban. Aku memang berniat menambah massa lagi."

"Benar juga. Kalau diingat-ingat, tubuh Mars memang sangat terlatih, sih," ucap Clarice sambil sedikit merona.

Aku juga ingin tahu hasil Clarice, tapi bertanya begitu tentu saja tidak sopan.

Saat aku menahan diri, informasi justru datang dari arah yang tak terduga.

"Enak ya jadi Clarice. Tinggi 160 cm, berat 48 kg. Ukuran 85-58-84, cup D, kan? Bentuk tubuhmu bahkan lebih bagus daripada Ibu."

Nice, Misha!

"Tu-tunggu, Misha!? Apa yang kamu katakan!"

Clarice panik dan segera membungkam mulut Misha.

Kemudian, Eris duduk di sampingku. Sebagai ganti mengintip hasilku, dia menunjukkan kertas miliknya.

Tertulis: 165 cm, 52 kg. Ukuran 90-60-88, cup F.

Ternyata bentuk tubuh Eris juga luar biasa dahsyat.

"Eris, terima kasih sudah memberitahuku."

"……Ehm…… harus lebih kurus……?"

"Tidak, tidak, jangan kurus lagi. Makanlah yang benar dan jaga kesehatanmu."

Baginya, diet sama sekali tidak diperlukan.

Setelah Eris mengangguk, Karen pun memberitahukan hasilnya padaku.

"Mars, tinggiku 152 cm, berat 42 kg. Ukurannya 82-57-82, cup C. Menurutmu bagaimana?"

"Eh? Anu, aku tidak paham hal-hal seperti itu, jadi tidak bisa memberi saran. Tapi belakangan ini Karen terlihat semakin dewasa, jadi menurutku kamu sudah sangat menarik apa adanya."

Memangnya aku tahu apa soal hal-hal sensitif seperti itu?

"Menarik? Terima kasih. Aku senang mendengarnya meski itu cuma basa-basi."

Aku tidak merasa sedang berbasa-basi, tapi baguslah kalau dia senang.

"Buu buu! Padahal aku yang cuma AA ini dianggap di luar jangkauan!"

Saat aku memuji Karen, Misha mulai merajuk. Aku baru pertama kali mendengar istilah AA, tapi sepertinya aku paham maksudnya.

Ketika aku terdiam, Clarice menenangkan Misha.

"Misha, kecantikan itu bukan cuma soal dada. Kamu adalah seorang Elf yang dikenal sebagai kristal keindahan. Percayalah pada dirimu sendiri."

Mendengar kata-kata Clarice, wajah Misha sedikit cerah kembali.

"Iya! Aku akan melahap semua Diamond Tuna di dunia dan jadi wanita yang seksi!"

Bersamaan dengan tekad Misha itu, kami semua melangkah menuju arena.

◆◇◆

Malam itu, seluruh anggota Kelas S pergi ke kota untuk makan malam bersama.

Saat pulang, aku meminta anggota [Reimei] dan Sasha-sensei untuk tetap tinggal demi berbagi informasi soal Reiner.

Karena aku ingin membicarakan hal ini, aku tidak membiarkan siapa pun meminum alkohol. Aku bahkan sudah memberi tahu Misha sejak awal bahwa yang dia minum adalah jus, agar dia tidak 'mabuk suasana'.

Begitu aku memberitahu bahwa Reiner berada dalam kondisi Cursed dan pedang iblis Bram tiba-tiba menyerang saat aku mencoba menggunakan Appraisal, semua orang pun terdiam dan berpikir keras.

Sejauh ini aku hanya tahu kutukan yang menimpa Eris, di mana dia diubah menjadi hewan. Kira-kira kutukan apa yang menimpa Reiner?

"Sasha-sensei, apakah Anda tahu jenis-jenis kutukan?"

Sasha menjawab sambil mencoba mengingat.

"Biasanya berupa penyakit atau yang menyerang mental. Ada juga kutukan yang muncul setelah seseorang bunuh diri untuk menghantui orang lain. Aku dengar kutukan tingkat tinggi yang dilakukan oleh banyak orang atau memakan waktu lama bisa membunuh seseorang atau mengubah wujud mereka."

Berarti kutukan pada Eris dilakukan oleh penyihir kutukan tingkat tinggi, ya?

Di saat itu, aku menyadari ada yang aneh dengan Clarice. Wajahnya sangat pucat.

"Ada apa, Clarice? Kamu tidak apa-apa?"

Begitu aku memanggilnya, dia tiba-tiba memelukku tanpa memedulikan tatapan yang lain.

"Ma-maaf! Aku mendadak merasa takut! Tolong biarkan aku seperti ini sebentar saja."

Benar juga, Clarice itu penakut sekali. Aku memeluknya dengan lembut untuk menenangkannya. Di sisi lain, suara Karen pun terdengar gemetar.

"Bo-bolehkah... bolehkah aku juga ikut sebentar saja?"

Jangan-jangan Karen juga penakut?

Baru saja aku berpikir demikian, sebuah suara keras terdengar dari belakang Karen.

"Waaa!"

Terkejut karena suara itu, Karen berteriak dan langsung menubruk dadaku dengan kencang. Misha yang baru saja mengejutkannya tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut.

"Ih! Misha keterlaluan... tapi kali ini kumaafkan."

Karen memelukku semakin erat.

Saat aku mengusap punggung mereka berdua untuk menenangkan diri, beberapa anggota Ksatria Regan yang sedang berpatroli datang karena mendengar teriakan Karen.

"Apakah ada masalah?" tanya salah satu ksatria.

"Aku Sasha, pengajar di sini. Maaf, ya. Putriku hanya sedang dijahili..."

Begitu Sasha menjelaskan, para ksatria itu tersenyum kecut dan kembali berpatroli.

"Masalah Reiner-sensei kita bahas lain kali saja. Tapi aku ingin kalian berhati-hati. Terutama Karen, jangan sembarangan menggunakan Charm Eye atau Appraisal."

Karena sudah larut, aku bermaksud membubarkan pertemuan, tapi Clarice masih berada di pelukanku.

"Clarice, sudah tidak apa-apa sekarang. Lain kali kita bahas saat hari masih terang."

"Iya... terima kasih. Tapi, aku masih merasa sedikit takut. Mars? Boleh aku meminta sesuatu?"

Permintaan Clarice benar-benar di luar dugaan.

"Baiklah. Tunggu di sini, aku akan menyiapkannya. Semuanya, tolong temani Clarice sebentar."

Aku kembali ke asrama, mengambil barang yang diminta Clarice, lalu menyerahkannya. Para gadis itu kemudian saling merapat dan masuk ke asrama putri.

"Anu? Bolehkah aku meminjam yang kemarin lagi?" Clarice menatapku dengan gelisah.

"Iya, tidak apa-apa, tapi untuk apa barang seperti itu?"

"Eh? Anu... saat aku memakai kemejamu untuk tidur, aku merasa seperti sedang didekap oleh Mars, jadi aku bisa tenang. Eris juga sangat menyukainya, dia tidur sambil menciumi aroma kemeja itu."

Artinya kemejaku bersentuhan langsung dengan kulit Clarice, ya?

Tunggu dulu. Jika aku meminjamkan kemeja baru, maka kemeja yang sudah dipakai Clarice akan kembali padaku...

Ga-gawat. Kalau aku yang mengatakannya, kedengarannya jadi seperti mesum. Lupakan saja yang tadi.

"Begitu ya, pakai saja sepuasmu."

"Terima kasih. Maaf ya selalu egois. Lain kali aku akan memberimu imbalan."

Hatiku sedikit berdebar melihat senyum Clarice. Aku berusaha menenangkan diri; selama mereka bisa tidur dengan tenang, itu sudah cukup bagiku. Sambil membayangkan senyum mereka, aku terus berlatih sekuat tenaga hari ini.

◆◇◆

Beberapa hari kemudian, tibalah pelajaran pertama bersama Reiner. Sasha juga mengawasi jalannya kelas karena merasa khawatir.

"Baiklah, pertama-tama aku ingin tahu kemampuan kalian. Gunakan senjata tajam, tidak apa-apa. Kita mulai dari peringkat kedelapan, Minerva. Seranglah sesukamu."

Pedang yang dipegang Reiner bukanlah pedang iblis Bram, melainkan pedang latihan yang tumpul. Pedang iblis Bram masih melingkar di pinggangnya.

Minerva tampak tegang, namun dengan ekspresi serius dia melangkah maju menghadapi Reiner.

"Mohon bimbingannya, Reiner-sensei!"

Setelah membungkuk hormat, Minerva seketika memperpendek jarak dan melancarkan serangan. Dengan suara pedang yang membelah angin, serangan sekuat tenaga diarahkan pada Reiner.

Namun, Reiner tidak bergeming sedikit pun dan menangkis serangan itu dengan sangat mudah. Pedang Minerva hanya menebas udara, membuatnya sempat kehilangan keseimbangan, namun dia segera beralih ke serangan berikutnya.

"Serangan beruntun yang bagus, tapi masih terlalu lunak."

Suara Reiner terdengar tenang. Minerva mengayunkan pedangnya lagi, namun Reiner seolah sudah melihat masa depan; dia memprediksi semua gerakan itu dan menghindar dengan lincah.

Sesaat kemudian, pedangnya menyentuh pedang Minerva, membuat senjata itu terpental dari tangannya.

"Potensimu bagus. Tapi belajarlah untuk melihat lebih luas dari sudut pandang objektif. Dengan begitu, kamu dan party-mu akan mengalami pertumbuhan besar."

Hanya dengan bertukar beberapa serangan, Reiner sudah bisa menunjukkan kelemahan Minerva. Kata-kata itu persis seperti saran yang selalu kuberikan padanya.

"Selanjutnya, peringkat ketujuh. Maju sesuai urutan."

Saat Misha yang memegang tombak maju, aku melihat tangan Sasha terkepal kuat. Tatapannya penuh dengan campuran rasa tegang dan harapan.

Setelah membungkuk, Misha memperpendek jarak dengan gerakan cepat andalannya. Tusukan tajam membelah udara menuju Reiner.

Namun, hal yang mengejutkan terjadi. Terhadap tusukan tombak Misha, Reiner menempelkan ujung pedangnya dengan sangat akurat.

Suara logam beradu bergema disertai percikan api.

Inilah kemampuan seorang [Sword King]. Aku tidak menyangka ada orang yang bisa menangkis tusukan berkecepatan tinggi dengan cara seperti itu. Misha melancarkan tusukan dan tebasan beruntun, namun Reiner menangkis semuanya dengan tepat tanpa ada gerakan yang sia-sia.

"Cukup, aku sudah paham kemampuanmu. Misha juga punya potensi, tapi kamu terlalu asyik menyerang hingga sering lupa pertahanan. Selalulah menyerang sambil mengingat bahwa lawan juga bisa membalas."

Lagi-lagi dia bisa melihatnya. Gaya bertarung Misha memang selalu ofensif. Sebagai pengguna sihir yang sering mengamuk, dia mencurahkan seluruh tenaga untuk menyerang sehingga pertahanannya sering terabaikan. Aku dan Sasha sudah sering mengingatkannya, tapi sulit sekali diperbaiki.

Kuharap di bawah bimbingan Reiner, kebiasaan itu bisa hilang.

Setelah Misha, giliran Dominic dan Baron yang menantang Reiner. Wajah Reiner tampak puas setelah bertukar pedang dengan mereka.

"Kalian memiliki bakat yang luar biasa. Aku beruntung bisa membimbing 'permata mentah' seperti kalian."

Dia mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak akan pernah diucapkan oleh Kyurus, membuat mata Baron dan Dominic berbinar. Sepertinya Reiner adalah tipe guru yang memotivasi muridnya lewat pujian.

Karen hanya menunjukkan sedikit kemampuan pecutnya, lalu giliran Eris yang bertarung.

"……Eris Leo…… maju……"

Eris menyerjang Reiner dengan belati di satu tangan. Gerakannya secepat dan setajam angin. Kelincahan khas Beastman yang memanfaatkan kelenturan otot sangat sulit diprediksi, membuat Reiner pun terkesan.

Atmosfer di sekitar Reiner berubah seketika, dan ekspresi kekaguman terpancar di wajahnya. Dia jelas menyadari bakat luar biasa Eris.

Eris mengincar celah kecil pada Reiner dengan tajam. Reiner merespons dengan meningkatkan kecepatannya. Pertarungan mereka sangat cepat hingga tidak boleh dilewatkan sedetik pun.

Akhirnya, Reiner berhasil membaca gerakan Eris, menghindar dari serangannya, dan menahan belatinya.

"Eris, gerakanmu luar biasa. Mengingatkanku pada seseorang yang dulu kuanggap rival. Siapa gurumu?"

"……Mars……"

Eris melirik ke arahku, dan Reiner pun menatapku tajam.

"Begitu ya. Jadi kamu peringkat pertama yang dirumorkan itu. Saat bertarung dengan Eris, entah kenapa aku merasa melihat sosok mantan Duke Sealliance, Tuan Burns..."

Sampai di situ, Eris yang jarang bersuara keras tiba-tiba memotong perkataan Reiner.

"Papa! Apa Anda tahu tentang Papa!?"

"Papa? Jangan-jangan—Eris adalah putri Tuan Burns...? Tidak, dilihat dari mana pun Eris adalah manusia. Wanita secantik ini tidak mungkin seorang Beastman..."

Melihat wajah Reiner yang tidak percaya, Sasha menjawab.

"Benar sekali, Eris adalah putri Tuan Burns. Dia juga wanita Beastman pertama yang menyandang gelar Golden Lion."

"Apa!? Bertemu di tempat seperti ini! Apakah ini takdir...?"

Oi, jangan sebut Eris sebagai 'takdirmu' secara tiba-tiba begitu.

Reiner yang menyadari tatapanku segera memberi penjelasan.

"Bukan, bukan maksudku begitu. Saat aku masih di Sekolah Nasional Lister, aku selalu berada di Kelas S peringkat kedua, dan peringkat satunya adalah Tuan Burns. Aku sepihak menganggap beliau rival, tapi aku tidak pernah menang sekalipun. Jika dia putri Tuan Burns, kekuatan ini sangat masuk akal."

Kali ini giliran kami yang terkejut. Tidak menyangka Burns dan Reiner adalah teman sekelas dulu. Membimbing putri dari teman sekelasnya memang bisa disebut sebagai takdir.

"……Papa……! Ceritakan…… soal Papa……!"

Bagi Eris pun pertemuan ini sangat bermakna. Ini pertama kalinya aku melihatnya berinisiatif bicara pada laki-laki di luar keluarga Bryant.

"Baiklah. Akan kuceritakan setelah pelajaran selesai. Selanjutnya, peringkat kedua! Jika Eris saja peringkat ketiga, aku punya ekspektasi tinggi padamu!"

Suara Reiner terdengar gembira, mungkin karena bertemu putri Burns. Dia melihat bayangan rival lamanya pada diri Eris, membuatnya merasa kehadiran gadis itu sangat spesial.

Nama selanjutnya yang dipanggil adalah Clarice. Dia maju dan menyiapkan tameng Defender-nya.

"Saya maju!"

Clarice berseru lantang dan berlari ke arah Reiner. Namun, pada saat itu, keanehan menimpa Reiner.

Begitu dia menahan tameng Clarice dengan pedang latihannya, wajah Reiner memucat drastis dan dia mulai tampak kesakitan. Tubuhnya gemetar, dan keringat dingin bercucuran di dahinya.

Clarice menyadari keanehan itu dan meletakkan tamengnya di tanah.

"Re-Reiner-sensei? Anda baik-baik saja?" tanyanya cemas.

"A-ah... tidak apa-apa... hanya sedikit pusing..."

Meski mencoba terlihat kuat, wajahnya jelas menunjukkan bahwa kondisinya sedang tidak baik. Tentu saja, Clarice tidak akan tinggal diam.

Clarice mencoba mendekat pelan, namun semakin dia dekat, wajah Reiner semakin pucat pasi. Mungkinkah ini...?

"Clarice, bisa kemari sebentar?"

Aku memanggilnya berdasarkan intuisi. Clarice mengikuti instruksiku meski dia masih mengkhawatirkan Reiner. Begitu Clarice menjauh, wajah Reiner perlahan kembali normal. Ternyata dugaanku benar.

Clarice bergumam lirih dengan gelisah.

"Mungkinkah... ini salahku?"

Alasannya belum jelas, tapi sepertinya memang begitu. Banyak pria yang senang didekati Clarice, tapi ini pertama kalinya aku melihat pria yang menunjukkan reaksi penolakan fisik sehebat itu.

Reiner yang sudah tenang kembali membungkuk pada Clarice.

"Maaf, Clarice. Sepertinya hari ini kecocokan kita sedang buruk. Kita coba lagi lain waktu."

Suaranya mengandung rasa lelah dan penyesalan. Dia kemudian mengalihkan pandangannya padaku dengan ekspresi serius.

"Baiklah, yang terakhir. Mars! Seranglah dengan segenap tenaga!"

Tanpa disuruh pun aku memang berniat begitu. Aku menggenggam dua pedang latihan tumpul di masing-masing tanganku.

"Hmm? Bukan pengguna pedang ganda, tapi membawa dua pedang?"

Tatapan penuh minat Reiner mengikuti gerakanku. Ini adalah kesempatan bagus untuk menguji sejauh mana kemampuanku melawan seorang [Sword King].

Aku mengambil posisi kuda-kuda menyamping, merendahkan pedang di tangan kiri, dan mengangkat sedikit pedang di tangan kanan.

Begitu Reiner bersiap, aku menendang tanah sekuat tenaga dan menyerjang ke arahnya. Momentum lari itu kucurahkan sepenuhnya pada tebasan pedangku.

Jika ada peluang menang, itu adalah dalam adu kekuatan fisik! Alasannya tentu saja karena status Strength milikku lebih tinggi!

Suara benturan keras bergema saat pedang kami beradu. Guncangan itu merambat ke lengan Reiner, membuat pedangnya terpental.

Sekarang kesempatannya! Saat aku hendak mengincar pinggang Reiner dengan pedang di tangan kiri, teriakan Reiner menggelegar.

"Menghindar!"

Seketika, pedang Reiner yang seharusnya terpental justru melesat ke arahku dengan kecepatan yang tak tertangkap mata.

Tidak akan sempat menghindar! Sebelum aku bisa meniupnya dengan sihir angin, pedang itu akan mengenaku! Saat aku hendak menggunakan Sylphid untuk mengurangi dampaknya, suara yang telah menyelamatkanku berkali-kali meneriakkan mantra.

" Barrier! "

Sebuah penghalang tercipta di depanku tepat pada waktunya, menangkis pedang Reiner.

Pedang yang terpental itu meluncur makin cepat, menciptakan busur cahaya perak di udara. Namun, berkat penghalang itu, aku punya ruang untuk menghindar dan berhasil melakukan backstep.

"Selamat..."

Jantungku masih berdegup kencang. Saat menoleh, Clarice yang memasang penghalang tadi tampak terduduk lemas di tanah. Kali ini pun aku dalam bahaya jika tidak ada Clarice.

"Maafkan aku. Kekuatan pedang Mars terlalu besar sehingga aku tidak bisa meredam momentumnya sepenuhnya. Apa kamu terluka, Mars?" Reiner bertanya dengan nada khawatir.

"Tidak. Saya sendiri yang terlalu percaya diri. Seharusnya saya menyerang dengan lebih hati-hati."

"Begitu ya. Cukup untuk hari ini. Seperti yang kukatakan berkali-kali, kalian punya bakat yang bagus. Jika kalian berusaha, kalian pasti bisa melampaui orang sepertiku. Jangan pernah puas dengan kondisi sekarang dan teruslah berlatih. Selesai!"

Reiner berpesan demikian lalu meninggalkan arena.

Melihat dia pergi, Clarice yang masih terduduk bertanya dengan lembut.

"Kamu tidak apa-apa, Mars? Tidak terluka?"

Pertanyaannya itu pasti bermakna, apakah mentalmu tidak ciut?

"Iya, mungkin aku memang sempat menjadi sombong. Tapi sekarang aku punya target baru, yaitu Reiner-sensei. Mulai sekarang aku akan kembali fokus berlatih pedang."

Belakangan ini aku terlalu banyak berlatih Taijutsu demi menguasai Lightning Finger. Melihat teknik pedang Reiner menyadarkanku betapa mentahnya kemampuanku sendiri.

"Iya. Itulah Mars yang kukenal. Biarkan aku menemani latihanmu juga ya."

Clarice bangkit sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku.

"Tentu saja. Mari berjuang bersama."

Aku menjabat tangan Clarice dan berdiri tegak. Dengan tekad baru, aku memantapkan hati untuk menceburkan diri dalam latihan-latihan mendatang.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close