NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 2 Chapter 12

Chapter 12

Budak


Nah, berikutnya aku harus menyiapkan tempat tinggal untuk kalian.

Setelah meninggalkan toko budak, kami berjalan mengekor di belakang Sieg.

"Apa Ayah akan membeli rumah? Atau menyewa?"

"Jujur saja, aku masih bingung. Tadinya aku berencana cukup di penginapan saja. Tapi jika menuruti permintaan para Beastman itu, biaya penginapan akan membengkak terlalu besar."

Sieg pun sepertinya sedang bimbang.

"Kalau Ayah punya kediaman di sini, tidakkah Ayah merasa Black Three Wolf Stars akan enggan pindah ke Ilgusia? Padahal kupikir akan lebih baik jika nanti mereka menjaga keamanan Ilgusia bersama Blue Fang dan Red Wing……"

Mendengar istilah Black Three Wolf Stars, Clarice tiba-kira menyemburkan tawa "Pffft!". Apa Clarice juga tahu banyak soal anime jadul?

Aku juga sering menontonnya waktu kecil, jadi aku senang kalau kami bisa nyambung.

"Umu! Benar juga kata Mars! Kalau begitu, demi masa depan Black……? Three Wolf Stars? Kita putuskan untuk menyewa rumah saja! Mungkin menyewa akan lebih murah daripada memesan kamar penginapan untuk enam orang."

Kami segera pulang ke Ilgusia untuk menjemput Maria dan Lina, lalu kembali lagi ke Almeria.

Karena hari sudah sore, kami memutuskan untuk mencari penginapan dan makan malam di luar.

Tadinya kami sudah membayar biaya penginapan untuk tiga bulan ke depan, tapi saat kami meminta pengembalian uang karena hanya akan menginap seminggu lagi, mereka mengembalikannya dengan mudah.

Aku sempat mengira akan ada keributan karena uang yang sudah masuk tidak bisa ditarik kembali, tapi ternyata itu hanya kekhawatiran yang sia-sia.

Keesokan harinya, kami pergi ke agen properti, dipandu melihat beberapa rumah sewa, dan langsung memutuskannya. Rumah itu adalah sebuah kediaman besar di kawasan pemukiman sisi barat Almeria, agak jauh dari labirin.

Karena letaknya dekat dengan rumah lama kami di Almeria, aku memilihnya karena sudah paham geografi daerah sini.

Rumahnya agak tua, tapi memiliki tipe 8LDK dan sudah dilengkapi kamar mandi. Tata ruangnya terdiri dari tiga kamar, ruang tamu, ruang makan, dapur, dan kamar mandi di lantai satu, lalu lima kamar di lantai dua. Halamannya juga luas. Harganya lima keping emas per bulan.

Lima keping emas itu setara dengan lima ratus ribu yen. Mungkin terdengar mahal, tapi jika menginap di penginapan, minimal biayanya satu keping perak per orang.

Ditambah Black Three Wolf Stars dan satu orang lagi yang akan disewa, totalnya tujuh keping perak. Dalam sebulan biayanya menjadi dua puluh satu keping emas, alias dua juta seratus ribu yen. Ini penghematan yang sangat besar.

"Kita mendapatkan properti yang sangat bagus. Katanya properti ini juga punya opsi untuk dibeli nantinya."

Padahal kemarin dia bilang mau menyewa saja... yah, itu artinya kesepakatan ini memang sangat menguntungkan. Lagi pula, meski kami membeli tempat ini, belum tentu Black Three Wolf Stars tidak mau datang ke Ilgusia.

Urusan rumah beres, kami pun menuju ke toko budak.

Di dalam toko, suasana sangat ramai oleh pelanggan. Saat Sieg dan Maria sedang berdiskusi apakah sebaiknya mereka kembali lagi nanti, seorang pria dengan rambut klimis belah samping dan kumis melengkung datang menghampiri sambil menggosokkan tangannya. Matanya tampak berbinar gembira.

"Eh? Apa ini Tuan Helic si pemilik toko?"

Sieg bertanya dengan wajah cengo pada pria klimis itu. Tidak mungkin itu Helic. Helic tidak punya kumis sampai kemarin... tapi setelah ku-Appraisal, ternyata benar dia. Mata Helic terus terpaku pada Maria... tidak, matanya seperti sudah tertancap di sana.

Maria, yang sudah mendengar situasi dari Sieg sebelumnya, memberikan senyum ramah pada Helic.

Seketika itu juga, bukan hanya Helic, tapi para pelanggan di sekitar pun mengeluarkan teriakan "Uooooooh!!!".

Eh? Jangan-jangan? Orang-orang di sini semuanya penggemar Maria? Helic maju ke depan Maria, membetulkan posisinya, lalu memperkenalkan diri.

"Salam kenal! Saya pemilik toko ini, Helic Dahl! Usia dua puluh sembilan tahun! Tipe wanita idaman saya adalah wanita cantik berambut cokelat berusia dua puluh delapan tahun! Saya sama sekali tidak keberatan dengan status janda! Jika ada apa-apa mengenai hal itu, tolong hubungi saya!!!"

Helic tiba-tiba menyatakan cinta pada Maria. Maria sepertinya tidak menduga perkembangan seperti ini.

"Sa-salam kenal. Saya Maria Bryant. Tipe idaman saya... tidak ada, tapi saya ingin mendampingi suami saya seumur hidup."

Dengan wajah sedikit memerah, Maria mengalihkan pandangannya bergantian antara Sieg dan Helic.

Woi, jangan pamer kemesraan di depan umum dong, rasanya aku ingin memprotes begitu. Tapi Clarice yang mendengar itu wajahnya jauh lebih merah dari Maria sambil bergumam "Manis sekali", dan Lina pun tampak senang. Sebaliknya, Ike menunduk, sepertinya dia merasa malu sama sepertiku.

Helic yang mendengar jawaban Maria sama sekali tidak terlihat putus asa.

"Saya mengerti, Maria-sama junjungan kami. Hanya saja, jika terjadi sesuatu di masa depan, saya harap Anda mengingat saya terlebih dahulu. Kalau begitu, mari kita mulai pembicaraannya."

Berani-beraninya dia memanggil "junjungan kami" di depan orangnya langsung... Sieg berdehem keras.

"Selain tiga Beastman kemarin, aku ingin mempekerjakan dua manusia yang bisa mengurus pekerjaan rumah tangga. Bisa?"

"Tentu. Saya mengerti. Silakan ke bagian dalam toko."

Sambil menjawab konfirmasi Sieg, Helic berusaha keras mengamankan posisi terbaik di dekat Maria, tapi Sieg dan Ike dengan sigap menjaga kedua sisi Maria. Lina yang tangannya digandeng olehku dan Clarice menempel tepat di belakang Maria, mengamankan posisi Maria sepenuhnya.

Para pelanggan juga terus menatap Maria. Aku berpikir Sieg benar-benar mendapatkan pasangan yang populer, dan saat aku melihatnya, Sieg tampak agak bingung sekaligus bangga.

Setelah diantar ke dalam, Maria dan Clarice mulai memilih budak. Kali ini diputuskan Clarice yang menjadi pemeran utama dalam memilih bersama Maria.

Alasannya sederhana. Karena saat mencuci nanti pakaian dalam Clarice juga akan dicuci, aku bersikeras menyerahkan keputusan padanya.

Soalnya, aku tidak mau pakaian dalam Clarice dilihat apalagi disentuh pria lain, kan? Aku percaya jika itu Clarice, dia pasti akan memilih wanita.

Aku juga bilang pada Maria agar ikut memilih karena setelah kami pergi ke Sekolah Nasional Lister, para budak ini kemungkinan akan dibawa ke Ilgusia.

Keduanya memilih budak dengan sangat akrab seperti ibu dan anak kandung. Benar saja, mereka memilih wanita. Syukurlah. Tapi di sini terjadi hal yang tak terduga. Clarice dan Maria membicarakan soal budak, tapi pembicaraan mereka selalu melantur ke topik lain. Akhirnya, butuh waktu satu jam hanya untuk memilih dua budak wanita.

Namun, ada seseorang yang justru senang dengan itu. Ya, Helic. Dia terus menatap Maria tanpa henti. Tidak, itu benar-benar menyeramkan.

"Kalau begitu, kami pilih dua orang ini. Tuan Helic, berapa total untuk lima orang ini?"

Saat Maria menatap Helic, wajah Helic pun berubah menjadi wajah pedagang.

"Baik. Seharusnya harganya sekitar lima puluh keping emas, tapi karena Maria-sama sudah jauh-jauh datang ke sini……"

Aku pikir kalau dia memberi diskon dua atau tiga keping emas saja sudah sangat bagus. Diskon dua ratus atau tiga ratus ribu yen untuk belanjaan seharga lima juta yen itu cukup realistis, kan? Eh, sebenarnya aku belum pernah belanja segitu di Jepang sih. Ini cuma imajinasi saja.

"Cukup dua puluh lima keping emas!"

Hah!? Setengah harga!? Diskon dua setengah juta yen!?

Tapi Maria sepertinya masih ingin menawar.

"Apa tidak bisa sedikit lebih murah lagi?"

Sambil tersenyum, dia memiringkan kepalanya menatap Helic. Aduh Ibu, Ibu memang cantik sekali, tapi tolong jangan tebar pesona di depan anakmu. Meski begitu, efeknya luar biasa.

"Lima belas keping emas saja sudah cukup. Tapi tolong beri saya lima lembar tanda tangan. Kekurangan pembayarannya akan saya minta dari empat pelanggan di depan tadi. Saya ingin setidaknya memberikan kertas tanda tangan Maria-sama kepada mereka berempat, apa tidak keberatan?"

Hanya dengan tersenyum, dia berhasil memangkas harga satu juta yen lagi. Helic pun ternyata pintar juga. Tapi, kira-kira berapa ya harga jual kertas tanda tangan itu nantinya?

Bersama Black Three Wolf Stars dan dua budak wanita manusia yang baru dibeli, kami kembali ke rumah yang baru saja dikontrak hari ini. Kedua wanita itu bernama Rei dan Misa, keduanya berusia lima belas tahun.

Sesampainya di rumah Almeria, kami pertama-tama menentukan pembagian kamar.

Tiga kamar di lantai satu masing-masing diberikan kepada Black Three Wolf Stars, sementara Rei dan Misa diperintahkan untuk menggunakan satu kamar berdua di lantai dua.

Kamar-kamar di lantai dua sangat luas, kamar Rei dan Misa saja sekitar sepuluh tatami. Kamar terluas di lantai dua menjadi milik Clarice, seluas lima belas tatami.

Kamarku dan Ike masing-masing dua belas tatami, sementara kamar Black Three Wolf Stars di lantai satu masing-masing delapan tatami. Satu kamar di lantai dua dijadikan gudang.

Maria mengajarkan pekerjaan kepada Rei dan Misa. Karena mereka berdua memang sudah mahir dalam urusan rumah tangga, mereka cepat belajar dan langsung pergi belanja bahan makanan bersama Maria, Clarice, dan Lina.

Kami para lelaki yang tersisa bertugas membeli perabotan tambahan yang diperlukan. Untungnya, perabotan besar seperti tempat tidur dan lemari sudah tersedia, jadi tidak terlalu banyak barang yang harus dibawa.

Sore hari tiba, dan kami semua makan bersama. Namun di sini muncul masalah; Rei, Misa, dan ketiga anggota Black Three Wolf Stars tidak mau duduk di meja makan.

"Kalian, kenapa tidak duduk?"

Saat Sieg bertanya pada mereka berlima, Guy mewakili untuk menjawab.

"Ya. Tadinya kami juga berniat ikut makan bersama, tapi Rei bilang bahwa budak dilarang duduk satu meja dengan tuannya. Setelah dipikir-pikir, sepertinya itu benar."

Aku terkejut melihat nada bicara Guy yang berubah setelah menjadi budak, tapi oh, begitu rupanya. Aku tidak terlalu paham soal hal semacam itu, tapi mungkin Rei dan Misa sudah diperingatkan keras oleh Helic.

"……Begitu ya. Mungkin memang benar, tapi hari ini tidak masalah. Mulai besok, biarkan Ike yang memutuskan."

Kelima budak itu terkejut mendengar ucapan Sieg. Meski begitu, mereka tetap berdiri bingung tidak tahu harus bagaimana.

"Ini perintah. Kita makan bersama!"

Setelah ditegaskan sekali lagi, barulah mereka berlima duduk. Kami mulai makan, tapi mereka berlima sama sekali tidak menyentuh masakan. Mungkin mereka dididik oleh Helic untuk memakan sisa makanan kami saja.

Setiap kali aku memasukkan daging ke mulut, para anggota Black Three Wolf Stars menatapku sambil meneteskan air liur. Ini membuatku sulit makan.

Tak tega melihatnya, Clarice berdiri dan membagikan masakan ke piring mereka berlima.

"Cla-Clarice-sama? Apa yang Anda lakukan?"

Rei yang piringnya sudah diisi masakan tampak panik.

"Mari makan selagi hangat. Makan bersama itu lebih enak, dan kita bisa mulai beres-beres lebih cepat, jadi waktu kita bisa lebih efektif, kan? Ayah, Ibu, tidak apa-apa kan?"

Sieg dan Maria tentu saja mengangguk setuju. Khusus untuk Sieg, dia tampak agak tersipu karena dipanggil "Ayah" oleh Clarice.

Akhirnya kami semua; aku, Ike, Clarice, Sieg, Maria, Lina, ditambah Black Three Wolf Stars, Rei, dan Misa—sebelas orang secara total—mulai makan bersama. Makan dalam kelompok besar itu menyenangkan. Tapi sayangnya, semua berakhir begitu cepat.

Nafsu makan Black Three Wolf Stars yang sudah lepas kendali benar-benar mengerikan; masakan yang sudah dibuat dalam porsi banyak pun habis dalam sekejap. Yah, kalau disuruh menunggu selama itu, wajar saja jadi begitu.

"Apa Guy dan yang lainnya masih kurang? Kalau kurang, besok aku akan minta mereka memasak lebih banyak lagi."

"Terima kasih, Sieg-sama. Masakannya sangat lezat jadi kami makan dengan lahap, tapi porsi ini sudah cukup."

Setelah makan selesai dan Rei serta Misa mulai membereskan meja, Sieg angkat bicara.

"Ada yang ingin kusampaikan pada kalian berlima. Ini juga sudah kusampaikan saat kontrak perbudakan—saat sihir subordinasi digunakan—jangan pernah membocorkan rahasia kami. Jangan mencelakai kami. Jangan melakukan hal yang merugikan kami. Yah, ini sudah terikat sihir subordinasi jadi tidak mungkin dilanggar, tapi ada satu hal lagi. Tiga tahun lagi, kurasa kita akan pindah ke kota tetangga, Ilgusia, jadi bersiaplah. Saat itu, Guy, Mack, dan Ol akan membentuk Party untuk membantu pengelolaan Labirin Ilgusia. Besok kalian bertiga harus pergi ke Guild Petualang untuk mendaftar sebagai petualang dan mendaftarkan Party kalian."

"Rei dan Misa juga, tiga tahun lagi mohon bantuannya sebagai pelayan di rumah Ilgusia, ya."

Mendengar ucapan Sieg dan Maria, mereka berlima mengangguk.

"Kalau begitu, mohon bantuannya mulai besok."

Dengan ucapan penutup dari Sieg itu, pertemuan berakhir dan masing-masing mempersiapkan diri untuk hari esok sebelum tidur.

Keesokan harinya, setelah melepas kepergian Sieg, Maria, dan Lina kembali ke Ilgusia, kami menuju ke Guild Petualang untuk mendaftarkan Black Three Wolf Stars sebagai petualang dan Party resmi.

Aku menyerahkan surat dari Sieg kepada Guild Master, Ralph. Di sana tertulis permintaan agar Black Three Wolf Stars didaftarkan sebagai petualang Peringkat E.

Kemampuan mereka sudah memadai, dan ini juga demi kebaikan Almeria. Tentu saja Ralph dengan mudah mendaftarkan mereka sebagai petualang Peringkat E, dan pendaftaran Party peringkat E bernama Black Three Wolf Stars pun selesai.

Mereka bertiga sepertinya menyukai nama itu dan terlihat senang. Kami sempat bimbang apakah akan mendaftarkan Party kami juga, tapi karena dalam beberapa bulan ke depan Ike akan pergi ke Sekolah Nasional Lister, kami membatalkannya.

"Ike-sama, apa yang harus kami lakukan di Labirin Almeria?"

Guy si sulung bertanya pada Ike, dan Ike menjawab.

"Tujuan awal memang mempekerjakan kalian sebagai Porter, tapi ini demi masa depan. Aku ingin kalian, Black Three Wolf Stars, juga ikut bertarung sampai batas tertentu untuk menimba pengalaman. Harapanku, kalian bertiga sanggup menyusuri Lantai Satu Labirin Almeria tanpa masalah."

"Kurasa dengan kemampuan kami sekarang pun tidak ada masalah?"

"Tidak, maksud 'tanpa masalah' bagi kami adalah kalian bisa mengalahkan semua monster yang ditemui. Monster di Lantai Satu semuanya memiliki tingkat ancaman D, jadi kalian akan kesulitan. Hari ini cobalah bertarung hanya kalian bertiga. Tentu saja jika berbahaya kami akan turun tangan. Dengan begitu, kita bisa melihat banyak hal."

Guy mengangguk dengan wajah sedikit kurang puas.

"Selain itu, aku akan membelikan perlengkapan untuk kalian setelah melihat pertarungan hari ini. Pikirkan dulu perlengkapan seperti apa yang kalian inginkan. Kami juga akan mempertimbangkannya setelah melihat cara kalian bertarung."

Ketiganya ahli dalam Taijutsu. Gaya mereka adalah tidak membawa senjata, jadi jika ingin membeli sesuatu, mungkin itu adalah pelindung tubuh.

Begitu masuk ke dalam labirin, di ruangan pertama muncul Silver Bat. Bagi aku dan Clarice, ini adalah tahap bonus, tapi bagi mereka bertiga berbeda.

Seperti petualang lainnya, mereka menggunakan seseorang sebagai umpan, lalu melancarkan serangan terkonsentrasi saat Silver Bat menukik turun. Mereka menerima cukup banyak luka.

"Bagaimana? Luka seperti ini sih kecil! Mari lanjut!"

Selesai mengalahkan Silver Bat, Guy menuju ruangan berikutnya dengan penuh semangat.

Monster yang muncul di ruangan berikutnya adalah Rock Lizard, monster bersisik keras berjumlah enam ekor dengan tingkat ancaman D. Mereka dipersenjatai tombak batu di tangan kanan. Ike membiarkan Black Three Wolf Stars melawan mereka juga.

"Mack! Ol! Tunjukkan kekuatan kita!"

Guy memberi semangat dan menerjang Rock Lizard.

Ternyata Taijutsu itu macam-macam jenisnya. Guy lebih suka gaya bertarung seperti tinju, Mack menjaga jarak sambil menggunakan teknik tendangan, sedangkan Ol yang bertubuh besar ahli dalam teknik bantingan.

Rock Lizard menusukkan tombak batu mereka, namun para Black Three Wolf Stars berhasil menghindarinya. Teknik tombak Rock Lizard tidak bisa dibilang bagus; bagi aku yang selalu melihat teknik tombak Ike, mereka tampak seperti amatir.

Sambil menghindari tombak, Guy dan Mack mendaratkan serangan telak di atas sisik mereka. Perhatian Rock Lizard teralih pada dua orang yang bergerak lincah di jarak dekat itu, lalu Ol memanfaatkan celah tersebut untuk mematahkan leher mereka dari belakang.

Meski mereka berhasil menghabisi Rock Lizard, Guy dan Mack juga menerima luka. Saat tidak bisa menghindar sempurna, mereka menangkis tombak dengan tangan, sehingga tangan mereka terkena mata tombak dan berdarah ringan. Bagi Guy yang bergaya petinju, luka di tangan itu tidak bagus.

Akhirnya, butuh waktu sepuluh menit untuk menghabisi enam Rock Lizard, dan HP Guy sudah berkurang setengah.

"Ike-sama, apakah Anda sudah mengakui kekuatan kami?"

Meski lengannya berdarah, Guy bertanya pada Ike dengan bangga.

"Apa kalian selalu bertarung seperti itu?"

"Ya! Kami para Beastman tidak takut meski menghadapi banyak musuh, dan kami pasti akan menang!"

"Lalu, berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai kalian bisa bertarung lagi?"

"Kami bisa bertarung meski belum pulih sepenuhnya, jadi butuh waktu sekitar dua jam lagi."

"Begitu ya... kalau begitu, bisakah kalian melihat cara bertarung kami... tidak, cara bertarungku? Guy, apa kau masih bisa bergerak?"

"Ya, tapi Ike-sama, apa Anda bermaksud bertarung sendirian?"

"Ya. Jika berbahaya, Mars dan Clarice akan membantu."

Begitu keluar dari ruangan, kami langsung berpapasan dengan tiga Rock Lizard di lorong. Rock Lizard sudah menyadari keberadaan kami karena mereka juga bergerak ke arah sini.

Ike berkata "Lihatlah" pada Black Three Wolf Stars, lalu memasang posisi dengan Flame Lance dan berjalan perlahan menuju Rock Lizard.

Saat ketiga Rock Lizard menyerbu Ike dalam satu baris sambil mengeluarkan pekikan aneh, Ike menghentikan langkahnya untuk membalas.

Tepat saat Guy berteriak "Bahaya!", Ike merapalkan Fire lalu melakukan lompatan ke belakang, dan Fire tersebut menghantam Rock Lizard paling kiri.

Meski terkejut, Rock Lizard yang terkena serangan tidak mendapat luka fatal. Namun, dia terlihat sangat membenci api. Ike memegang Flame Lance dengan tangan kanan, lalu terus-menerus meluncurkan Fire dengan tangan kiri. Tembakan Fire-nya tidak terlalu diarahkan, lebih seperti tembakan beruntun acak ke arah kiri.

Rock Lizard di sisi kiri dari pandangan Ike menjadi gentar karena api dan tidak mau maju. Rock Lizard di sisi kanan dan tengah mencoba menghindari panas api sehingga mereka berbaris di sisi kanan lorong, dan Rock Lizard yang di depan menusukkan tombak batunya ke arah Ike.

Ike menghindar dengan mudah dari tusukan tombak yang hanya asal tusuk itu, lalu menghujamkan Flame Lance ke kepala Rock Lizard dan menghabisinya dengan mudah.

Setelah menghabisi Rock Lizard di belakangnya dengan cepat pula, dia mendaratkan Fire Arrow pada Rock Lizard terakhir di sisi kiri lorong yang tadi ketakutan. Rock Lizard yang terbakar itu mencoba menyerang membabi buta, namun setelah ditepis dengan Flame Lance, dia pun hangus dan mati tak lama kemudian.

Pertarungan yang luar biasa apik dan tidak sampai tiga menit itu membuat Black Three Wolf Stars tercengang.

"Guy, inilah perbedaan antara aku dan kalian. Dengan bertarung menggunakan otak seperti ini, kita bisa menghadapi pertarungan berikutnya dalam kondisi prima. Sebenarnya akan lebih mudah jika senjatanya diberi Enchant, tapi karena perlengkapan kita saja sudah berbeda jauh, tidak akan adil jika aku menambah perbedaannya lagi. Yah, sebagai gantinya aku bertarung sendirian tadi."

Ketiga anggota Black Three Wolf Stars tampak sangat terkejut hingga tak bisa mengeluarkan suara.

"Selain itu, apa yang akan kalian lihat setelah ini adalah 'rahasia' keluarga Bryant. Jangan pernah membocorkannya. Mars, sembuhkan Guy dan yang lainnya."

Aku mengangguk pada Ike yang memberi isyarat mata, lalu merapalkan Heal pada Guy.

"He-Heal!? Tidak mungkin? Tadi saat melawan Burns-sama, kau merapalkan sihir angin, kan? Seorang pengguna Holy Magic bisa menggunakan sihir lain……?"

Ketiga anggota Black Three Wolf Stars bergumam sendiri-sendiri dengan heran.

"Setidaknya kalian bertiga harus bisa bertarung beruntun barulah bisa menjadi Porter kami, jadi berusahalah. Kami pun akan memberikan dukungan semaksimal mungkin."

Setelah itu, kami melewati tempat kami menolong kelompok [Yellow Blade] dulu, lalu bergerak lebih dalam sambil mengalahkan semua monster yang kami temui bersama-sama. Karena masih banyak jebakan, aku menggunakan Heaven's Eye dan bergerak dengan sangat hati-hati.

Saat kami berniat untuk pulang, kami menemukan ruangan yang menuju ke Lantai Dua. Di ruangan itu terdapat tiga monster seperti beruang. Setelah ku-Appraisal, mereka tampak cukup tangguh.


[Nama]

[Gelar]

[Spesies] Grizzly Bear

[Threat] C

[Status] Sangat Baik

[Usia] 4 Tahun

[Level] 5

[HP] 164 / 164

[MP] 4 / 4

[Strength] 84

[Agility] 50

[Magic] 1

[Dexterity] 1

[Endurance] 82


Inilah monster yang pernah diberitahukan Sieg, monster yang muncul di Lantai Dua. Tingkat ancamannya C. Statusnya hampir sama dengan Goblin Lord. Perbedaan tingkat ancaman meski statusnya mirip sepertinya terletak pada kemampuan khususnya.

"Kak Ike! Kekuatannya hampir setara dengan Goblin King!"

"Sebesar itu ya. Semuanya, jangan lengah!"

Sebenarnya aku ingin melatih Lightning Magic-ku, tapi aku menahan diri. Aku khawatir jika pengendalian mananya belum sempurna, serangan itu malah akan mengenai kawan sendiri.

Clarice mulai memberikan damage pada para Grizzly Bear dengan Magic Arrow. Aku pun bersama Clarice mencabik-cabik Grizzly Bear dari jarak jauh menggunakan Wind Cutter.

Sejujurnya, kurasa kami bisa menang hanya dengan melakukan itu sambil terus menghindar, tapi Ike dan keempat anggota Black Three Wolf Stars justru merangsek maju untuk memberikan serangan penghabisan.

Beberapa kali Black Three Wolf Stars hampir terkena pukulan, tapi setiap kali itu terjadi aku mementalkan Grizzly Bear dengan Wind Impulse, jadi tidak ada kerusakan berarti, dan akhirnya pertarungan selesai hanya dalam waktu satu menit.

"Mars! Lihat itu!"

Ke arah yang ditunjuk Clarice, terlihat sebuah peti harta karun. Aku mem-Appraisal-nya, memastikan tidak ada jebakan, lalu membukanya.

Melihat isinya, aku spontan melakukan pose kemenangan.

Isinya adalah buku sihir Holy Magic tingkat menengah. Bagi kami yang baru menguasai Heal tingkat dasar, ini adalah salah satu benda yang sangat kami dambakan.

"Baiklah, ayo kita intip Lantai Dua sebentar lalu pulang. Kita tidak berniat bertarung, jadi jangan menyerang meski ada monster, ya."

Mengikuti aba-aba Ike, kami semua mengintip ke Lantai Dua.

"————A-apa-apaan ini……"

Melihat pemandangan aneh di sana, kami semua langsung terdiam seribu bahasa.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close