NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 2 Chapter 5

Chapter 5

Penyerangan


"Lima ratus keping emas!"

"Tujuh ratus keping emas!"

"Satu keping koin platina!"

Harga terus melonjak tajam karena pihak penyelenggara memutuskan untuk menjual kami berempat sekaligus.

Apakah para pembeli itu sadar... bahwa di atas panggung ini, selain kami bertiga, masih ada seorang pria yang diseret ke pojok sana?

"Tiga anak kecil dihargai koin platina... Apa orang-orang di sini semuanya lolicon?"

Suara Clarice yang terdengar agak muak itu sedikit bergetar. Wajar saja. Mata para pria yang memandang Clarice dan Misha tampak merah menyala, penuh dengan nafsu.

Jika sampai mereka dibeli oleh orang-orang macam itu... aku tidak akan membiarkannya terjadi.

Dia berusaha tidak menunjukkan rasa takutnya pasti demi menjaga agar Misha tidak ikut ketakutan.

Seolah menelan perasaan Clarice, suasana aula semakin memanas.

"Satu koin platina! Seratus keping emas!"

"Satu koin platina! Bagaimana kalau tiga ratus keping emas!"

"Belum cukup! Satu koin platina! Lima ratus keping emas!"

Dalam kondisi seriuh ini, suara kami tidak akan mungkin terdengar oleh orang lain.

"Clarice, kamu sadar tidak? Senjata kita sudah dibawa ke dekat sini. Kalau terjadi sesuatu, kita langsung rebut kembali."

Aku melirik ke arah sisi kanan panggung. Di sana terlihat sosok Dames yang tampak terintimidasi oleh hawa panas pelelangan...

Lebih jauh di belakangnya, aku melihat para preman yang bersorak kegirangan melihat harga kami yang terus naik tanpa henti.

Senjata kami diletakkan begitu saja di dekat mereka. Clarice mengikuti arah pandanganku dan mengangguk pelan.

"Sial! Dua koin platina!"

"Dua koin platina! Lima ratus keping emas! Serahkan si rambut perak dan Elf itu padaku!"

"Tiga koin platina! Kalian semua cepat menyerah saja!"

Saat harga melambung tinggi, topeng elegan para peserta lelang mulai retak. Suara tawaran mereka kini mengandung haus darah.

"Ta-takut..."

Misha gemetar ketakutan melihat para peserta yang mulai menunjukkan emosi liar mereka. Saat dia mencoba bersembunyi di balik punggung kami, pria bertopeng hitam yang tadi bertanya pada pembawa acara akhirnya ikut bersuara dengan nada dingin.

"Lima koin platina."

"—Apa!?"

Seluruh aula seketika menahan napas mendengar angka itu.

Namun, wanita yang sebelumnya bersikeras menawar hingga tiga koin platina tidak mau menyerah begitu saja. Dia juga memakai topeng Venesia, dan dari atas panggung, aku bisa melihat matanya yang bergerak gelisah di balik topeng itu tampak mulai keruh.

"Lima koin platina dan seratus keping emas! Aku akan mempertaruhkan segalanya!"

Wanita itu tampak sangat histeris, tapi pemenangnya bukanlah dia.

"Sepuluh koin platina."

Suara datar itu menggema di seluruh ruangan.

"Apa!? Bagaimana mungkin!? Sepuluh koin platina!?"

Pembawa acara sampai berteriak saking terkejutnya dengan jumlah uang yang fantastis itu.

"Sepuluh koin pla..."

Saat si wanita mencoba membalas tawaran si pria bertopeng, seorang pria di sampingnya yang sepertinya pelayannya berusaha mati-matian menenangkan. Pria itu juga memakai topeng ungu untuk menutupi identitasnya.

"N-Nona! Ini sudah di luar anggaran! Hari ini Anda sudah membeli tiga budak. Jika lebih dari ini, Tuan Besar pasti akan..."

"Diam! Aku tidak peduli meski harus menjual gelar bangsawan atau apa pun, aku harus mendapatkan anak itu!"

Wanita itu membanting gelas di tangannya ke lantai dan mulai histeris. Para preman di belakang panggung segera berlari menghampiri untuk menenangkannya, namun dia malah semakin menggila.

"Apa yang kalian lakukan!? Kalian lihat sendiri, kan!? Anak itu sejak tadi terus menatapku! Kami ini saling mencintai!"

Dia mendorong preman yang mencoba menenangkannya dan berusaha mendekatiku. Mau tidak mau, para preman itu meringkus si wanita dan menyeretnya keluar aula. Saat diseret, dia mengeluarkan jeritan melengking yang nyaris memecahkan gendang telinga sambil mengeluarkan busa dari mulutnya. Aku bahkan tidak bisa mengerti apa yang dia bicarakan.

"Ka-kalau begitu, tiga orang ini; si emas, si cantik, dan si Elf, lalu..."

Pembawa acara yang sempat terintimidasi oleh si wanita tadi akhirnya membuka suara, namun si pria bertopeng langsung memotong.

"Cukup mereka bertiga saja! Aku tidak butuh sampahnya!"

Dames, yang biasanya punya mental baja pun, kini sudah tidak sanggup berdiri lagi mendengar dirinya disebut sampah.

Melewati Dames, kami bertiga dibawa menuju si pria bertopeng.

Dalam perjalanan, aku melirik ke sisi kanan panggung tempat senjata kami berada. Berkat keributan si wanita tadi, hanya tersisa satu preman di sana.

Apakah sekarang saatnya kabur?

Tidak, aku akan menunggu sedikit lagi. Beruntung kami bertiga dibeli oleh orang yang sama. Peluangnya pasti lebih besar setelah kami meninggalkan tempat ini.

Sambil memikirkan hal itu, kami sampai di depan pria bertopeng yang memenangkan lelang. Aku pun mencoba menanyakan hal yang mengganjal.

"Apa yang akan kamu lakukan pada kami?"

"Itu bukan cara bicara seorang budak kepada tuannya. Jangan khawatir, aku akan mendidikmu sampai tuntas, jadi nantikan saja."

Aku memang bodoh karena sempat berharap dia orang baik.

Saat si pria bertopeng menyuruh pelayannya menyiapkan koin platina, tiba-tiba sesuatu terjadi.

"Anak Elf itu milik Tuan Gedo dari Persekutuan Dagang Gedo! Berani-beraninya kamu mencurinya dariku! Hido! Keluar kau sekarang juga!!!!!"

Pedagang yang kutemui di kota sebelah tiba-tiba menyerbu masuk ke aula lelang bersama para pengawalnya.

Jadi Hido si pedagang budak dan Gedo ini berasal dari kelompok yang berbeda?

Berarti Misha diculik oleh Gedo, lalu melarikan diri dan tertangkap oleh Hido. Rumit sekali. Lagipula, si pedagang Gedo itu berani sekali mengklaim Misha yang diculiknya sebagai miliknya.

Berkat serbuan Gedo, aula berubah menjadi kekacauan total.

"Gawat! Kalau tetap di sini, urusannya bakal panjang! Lari!"

Para peserta lelang berebut untuk kabur duluan, sementara para preman mulai terlibat bentrok dengan anak buah Gedo yang menyerbu masuk.

Saat aku menoleh, pria bertopeng yang membeli kami sudah tidak ada. Dia lebih memilih kabur dan meninggalkan kami daripada identitasnya terbongkar.

"Clarice! Misha! Sekarang saatnya! Kita ambil senjata kita!"

Memanfaatkan kekacauan, pertama-tama kupotong tali rami di tanganku dengan Wind Cutter.

Selanjutnya, kami berlari menuju belakang panggung dan segera mengambil senjata kami. Untungnya para preman di sana sudah ikut bertarung, jadi kami bisa mengambilnya dengan mudah. Target Gedo sejak awal memang hanya Misha.

Anak buah Gedo mencoba mengejar kami, tapi para preman Hido menghalangi mereka.

Hmm?

Bukankah kalau mereka saling serang sampai lemas, aku bisa menghabisi mereka dan kabur dengan lebih aman?

 Kalau aku membantu pihak yang kalah dengan sihir angin secara diam-diam, aku bisa mengharapkan mereka hancur bersama.

Sebenarnya aku ingin segera keluar dari kota ini, tapi malam sudah benar-benar gelap. Jika bisa bertahan sedikit lagi, mungkin Sasha akan datang.

Saat sedang berpikir begitu, aku melihat para budak lain yang tidak lari dan hanya menonton jalannya pertarungan.

"Kenapa kalian tidak lari mumpung ada kesempatan?" tanyaku pada salah satu budak.

"Ah, kami menjadi budak atas keinginan sendiri. Tuan yang membeli kami sepertinya tidak bermasalah, jadi aku lebih memilih begini saja. Lagipula, dilelang adalah kehormatan bagi budak. Perlakuannya biasanya lebih baik daripada dijual di pasar budak biasa. Yah, meski ada juga yang nasibnya sial seperti pria tadi karena tidak laku, atau yang punya alasan khusus. Apa kalian diculik paksa? Jika iya, mungkin sebaiknya kalian lari, tapi berhati-hatilah karena di gedung ini ada orang-orang yang sangat kuat."

"Begitu ya. Terima kasih sudah memberitahu. Boleh aku tanya satu hal lagi? Kakak terlihat cukup kuat, tapi apakah ada yang lebih ahli darimu di sini?"

"Kamu anak yang cerdas. Berarti perkenalan tadi tidak bohong... Benar, aku merasa punya kekuatan setingkat Petualang Peringkat D tingkat menengah atau atas, tapi di Persekutuan Dagang Hido, ada party Peringkat B bernama Moonlight Darkness. Tidak mungkin bisa menang melawan mereka."

Party Peringkat B!? Ada orang sekuat itu!? Kalau begitu, apa sebaiknya kami lari sekarang saja...?

Selagi aku berpikir, para preman Hido mulai mengepung kami seolah ingin melindungi kami dari anak buah Gedo. Gedo berteriak kencang.

"Naraku! Kalian tidak perlu melindungiku, pokoknya tangkap Elf itu!"

Setelah teriakan Gedo, enam pria berwajah sangar muncul dan dengan sangat mudah menumbangkan para preman yang melindungi kami.

"Party andalan Gedo, Naraku, sudah datang! Tuan Hido! Tolong kirimkan Moonlight Darkness ke sini!"

Hido sepertinya mendengar teriakan itu. Dia mengirimkan enam pria berwajah seram lainnya ke arah kami dan memerintahkan mereka membentuk formasi perlindungan.

"Sudah lama ya, Naraku. Apa kalian datang ke sini untuk dibunuh oleh kami, Moonlight Darkness?"

"Omong kosong, hari ini kamilah yang akan menghabisi kalian!"

Sepertinya mereka sudah saling kenal.

Melihat pertarungan kedua party itu, sepertinya Moonlight Darkness milik Hido lebih unggul. Penyebabnya adalah seorang Mage yang berdiri tepat di depan kami untuk menghalangi Naraku.

Saat aku mencoba melakukan Appraisal pada Mage itu, tiba-tiba terjadi keanehan pada tubuhku.

"Ugh!? A-apa ini..."

Tiba-tiba mataku menangkap sosok Mage itu seperti sebuah bayangan sisa (afterimage). Biasanya bayangan sisa mengikuti tubuh asli, tapi ini justru terbalik. Tubuh aslinya yang seolah mengikuti bayangannya.

Otakku tidak sanggup memproses visual itu, dan kepalaku rasanya seperti dipaksa bekerja terlalu keras. Rasanya seperti saat aku belajar untuk ujian selama sepuluh jam nonstop tanpa istirahat.

"Mars!? Kamu kenapa?"

Suara cemas Clarice terdengar dari belakangku.

"Tidak, hanya sedikit pusing..."

Dalam kondisi penglihatan yang ganda, aku memaksakan diri melanjutkan Appraisal.


[Nama] Waltz Vistaria

[Status] Sehat

[Level] 35

[HP] 133/133

[MP] 168/208

[Magic Power] 105

[Special Ability] Fire Magic D, Wind Magic D, Sleep Magic G

[Equipment] Wand of Wind


Setelah selesai, penglihatanku kembali normal. Apa itu tadi? Mataku sudah normal, tapi rasa lelah di kepala tidak hilang. Apakah ada yang salah dengan Heaven’s Eye? Atau jangan-jangan...

"Clarice. Maaf sudah membuatmu khawatir. Aku sudah tidak apa-apa."

Clarice yang menyentuh punggungku dengan cemas menjawab dengan suara yang hampir menangis karena lega. Wajar saja dia merasa tidak tenang dalam situasi segawat ini.

Mage itu... status Waltz bisa dibilang versi kuat dari Ziek. Status tipikal seorang Mage.

Yang perlu diwaspadai adalah Sleep Magic. Dengan sihir itu, anggota Naraku dibuat tertidur, dan setiap kali itu terjadi, seseorang harus membangunkan mereka. Akibatnya, Moonlight Darkness selalu unggul dalam jumlah. Pasti dialah yang membuat Misha tertidur tadi.

"Clarice, pria berjubah hitam di sana, apa dia ada saat Misha diculik?"

"E-eh? Mungkinkah orang itu yang membawa Misha?" tanya Clarice setelah melihat sihir Waltz.

"Kemungkinan besar. Kita harus waspada padanya."

Jika begini terus, Naraku milik Gedo akan kalah. Saat aku mencengkeram pedang perak Mithril-ku berniat membantu Naraku, suara teriakan Gedo kembali terdengar.

"Guru! Sebelah sini! Tolong bereskan mereka!"

Seorang pria yang dipanggil "Guru" itu berdiri di samping Gedo.

Penampilan pria itu bisa dibilang... wajahnya adalah senjata maut. Ada luka sayatan besar di wajahnya. Lengan-lengannya dipenuhi bekas luka pertempuran yang tak terhitung jumlahnya. Dibandingkan dia, para preman sangar di sini jadi terlihat seperti orang baik.

Naluriku berteriak keras agar tidak menjalin kontak mata dengannya. Jangan sampai terlibat dengannya sama sekali.

"Hei! Aku tegaskan sekali lagi! Kalau aku membuat Moonlight Darkness tidak bisa bertarung atau mengusir mereka, harganya seratus keping emas, kan!?"

"I-iya!"

Gedo menjawab dengan gemetar saat pria itu bertanya dengan nada yang sangat menekan.

Apa ini? Sosok yang dipanggil "Guru" ini adalah petualang bayaran... atau semacam pengawal pribadi? Jika begitu, aku bisa mengerti. Biasanya pengawal atau pendekar pedang memang dipanggil "Guru".

Pria berwajah bengis itu menyeringai ngeri, lalu mendekati pertarungan antara Naraku dan Moonlight Darkness. Tiba-tiba, dia mencengkeram tengkuk salah satu anggota Naraku yang seharusnya adalah rekannya sendiri.

"A-apa yang kau lakukan!?"

Pria yang dicengkeram itu tidak mengerti apa yang terjadi, bahkan Gedo pun tersentak.

Si Wajah Senjata itu, sambil memegang rekannya yang meronta, langsung menyerang Moonlight Darkness yang sedang melindungi kami.

Cepat sekali! Namun, meski dia menyerang secepat kilat, Moonlight Darkness tidak tinggal diam.

"Waltz! Tidurkan dia!" perintah pria yang sepertinya pemimpin mereka.

"Sleep!"

Sihir tidur segera dilepaskan, namun si Wajah Senjata menjadikan rekannya dari Naraku sebagai tameng untuk menerima Sleep. Tentu saja si tameng langsung tidur nyenyak.

Sambil melemparkan anggota yang tertidur itu ke arah Waltz, si Wajah Senjata mencabut pedang yang ia panggul di punggungnya.

Bilah pedangnya berwarna biru kehijauan pucat. Sangat terawat, dan bahkan tanpa Appraisal pun, aku tahu itu adalah pedang pusaka yang luar biasa.

Waltz mencoba merapalkan Sleep lagi, namun karena dilempari rekannya yang tertidur, dia terpaksa menghindar. Saat dia ingin merapalkan sihir sekali lagi, si Wajah Senjata sudah ada di depannya.

Kecuali jika seseorang memiliki kecepatan aktivasi seperti sihir angin atau bisa merapalkan sihir sambil bergerak, dia tidak akan punya peluang.

"Apa!?"

Pria itu menghantam wajah Waltz dengan bagian datar pedangnya, membuat Waltz langsung pingsan karena benturan itu.

Setelah itu, panggung benar-benar menjadi miliknya.

"Hei, kamu pemimpinnya, Oligo, kan? Pergi sekarang dan aku tidak akan menyentuhmu lagi. Tapi kalau tetap di sini, aku tidak akan segan. Tentukan dalam lima detik."

Setelah memamerkan perbedaan kekuatan yang mutlak, si Wajah Senjata memanggul pedangnya dan bertanya pada Oligo dengan ekspresi santai. Oligo pun segera menggendong Waltz yang pingsan dan lari terbirit-birit.

Hido dan para preman lainnya sepertinya juga ingin kabur, tapi saat ditatap oleh pria itu, mereka terpaku seperti katak yang diawasi ular.

Aku, yang tadinya berniat membantu Moonlight Darkness demi menjaga keseimbangan, malah sempat terpesona melihat kemahiran pedangnya. Dia kuat... benar-benar monster.

Namun, satu kalimat pria itu menyadarkanku.

"Nah, misi dari Gedo selesai. Tinggal ambil kembali anak itu dan semuanya beres."

Tatapannya yang tajam langsung mengunci Misha yang bersembunyi di belakangku dan Clarice.

Aku tidak akan mungkin menang. Aku tahu itu. Tapi, mungkin aku bisa mengulur waktu.

Pria itu, meski wajahnya seram, ternyata belum membunuh satu orang pun. Jika dia juga memberikan belas kasihan padaku, aku mungkin bisa bertahan sampai Sasha datang.

Dengan telapak tangan yang basah oleh keringat dingin, aku menggenggam gagang pedang dengan kedua tangan dan berdiri di hadapan si Wajah Senjata.

"Apa-apaan kau? Bocah yang belum dewasa sudah ikut-ikutan komplotan orang jahat? Aku tidak akan bicara buruk, tapi sebaiknya kau berhenti sebelum terlambat."

Sepertinya dia mengira aku adalah bagian dari Persekutuan Dagang Hido. Memang benar, budak laki-laki lain diikat tangannya, tapi aku sudah memutus taliku dengan Wind Cutter, dan posisiku memang terlihat seperti pengawal.

Aku tidak menjawab dan terus memfokuskan kesadaran. Jika aku lengah sedikit saja, habislah kami. Saat aku mencoba melakukan Appraisal pada si Wajah Senjata yang mendekat tanpa penjagaan, penglihatanku kembali kabur.

Cih!? Ada apa dengan mataku belakangan ini!? Namun aku tetap memaksakan diri, dan status yang muncul membuatku berharap itu hanyalah kesalahan sistem.


[Nama] Cyrus Wafer

[Level] 44

[HP] 260/260

[MP] 105/105

[Strength] 135

[Agility] 132

[Endurance] 137

[Special Ability] Sword Art B, Water Magic E

[Equipment] Undine Sword (Pedang Roh Air)


Haruskah aku bertarung melawan musuh sekuat ini dalam kondisi seperti ini... Tapi, begitu Appraisal selesai, penglihatanku kembali normal.

Fenomena yang sama terjadi saat aku melihat Waltz tadi. Begitu aku berhenti menggunakan skill, mataku kembali normal. Apakah ini bagian dari kemampuan Heaven’s Eye? Jika benar begitu, karena tubuh aslinya seolah mengejar bayangan sisanya, itu berarti...

"Hei! Ini peringatan terakhir! Aku tidak punya hobi menyiksa anak-anak! Minggir!"

Selagi aku bergelut dengan pikiranku sendiri, Cyrus mengancam dengan suara yang sangat berat.

Di belakangku ada Clarice dan Misha. Jika aku minggir, Clarice bisa ikut celaka. Aku tidak akan membiarkannya!

Aku kembali mencengkeram pedang dengan sekuat tenaga dan menyipitkan mata. Cyrus yang mulai kehilangan kesabaran pun memasang wajah garang seperti iblis, lalu menyerangku dengan gerakan yang seolah mengejar bayangan sisanya sendiri.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close