Chapter 5
Penyerangan
"Lima
ratus keping emas!"
"Tujuh
ratus keping emas!"
"Satu
keping koin platina!"
Harga
terus melonjak tajam karena pihak penyelenggara memutuskan untuk menjual kami
berempat sekaligus.
Apakah
para pembeli itu sadar... bahwa di atas panggung ini, selain kami bertiga,
masih ada seorang pria yang diseret ke pojok sana?
"Tiga
anak kecil dihargai koin platina... Apa orang-orang di sini semuanya
lolicon?"
Suara
Clarice yang terdengar agak muak itu sedikit bergetar. Wajar saja. Mata para
pria yang memandang Clarice dan Misha tampak merah menyala, penuh dengan nafsu.
Jika
sampai mereka dibeli oleh orang-orang macam itu... aku tidak akan membiarkannya
terjadi.
Dia
berusaha tidak menunjukkan rasa takutnya pasti demi menjaga agar Misha tidak
ikut ketakutan.
Seolah menelan perasaan Clarice, suasana aula semakin
memanas.
"Satu koin platina! Seratus keping emas!"
"Satu koin platina! Bagaimana kalau tiga ratus
keping emas!"
"Belum cukup! Satu koin platina! Lima ratus keping
emas!"
Dalam kondisi seriuh ini, suara kami tidak akan mungkin
terdengar oleh orang lain.
"Clarice, kamu sadar tidak? Senjata kita sudah
dibawa ke dekat sini. Kalau terjadi sesuatu, kita langsung rebut kembali."
Aku melirik ke arah sisi kanan panggung. Di sana terlihat
sosok Dames yang tampak terintimidasi oleh hawa panas pelelangan...
Lebih jauh di belakangnya, aku melihat para preman yang
bersorak kegirangan melihat harga kami yang terus naik tanpa henti.
Senjata kami diletakkan begitu saja di dekat mereka. Clarice mengikuti arah pandanganku dan mengangguk pelan.
"Sial! Dua koin platina!"
"Dua koin platina! Lima ratus keping emas! Serahkan
si rambut perak dan Elf itu padaku!"
"Tiga koin platina! Kalian semua cepat menyerah
saja!"
Saat harga melambung tinggi, topeng elegan para
peserta lelang mulai retak. Suara tawaran mereka kini mengandung haus darah.
"Ta-takut..."
Misha gemetar ketakutan melihat para peserta yang
mulai menunjukkan emosi liar mereka. Saat dia mencoba bersembunyi di balik
punggung kami, pria bertopeng hitam yang tadi bertanya pada pembawa acara
akhirnya ikut bersuara dengan nada dingin.
"Lima koin platina."
"—Apa!?"
Seluruh aula seketika menahan napas mendengar angka itu.
Namun, wanita yang sebelumnya bersikeras menawar hingga
tiga koin platina tidak mau menyerah begitu saja. Dia juga memakai topeng
Venesia, dan dari atas panggung, aku bisa melihat matanya yang bergerak gelisah
di balik topeng itu tampak mulai keruh.
"Lima koin platina dan seratus keping emas! Aku akan
mempertaruhkan segalanya!"
Wanita itu tampak sangat histeris, tapi pemenangnya
bukanlah dia.
"Sepuluh koin platina."
Suara datar itu menggema di seluruh ruangan.
"Apa!? Bagaimana mungkin!? Sepuluh koin
platina!?"
Pembawa acara sampai berteriak saking terkejutnya dengan
jumlah uang yang fantastis itu.
"Sepuluh koin pla..."
Saat si wanita mencoba membalas tawaran si pria
bertopeng, seorang pria di sampingnya yang sepertinya pelayannya berusaha
mati-matian menenangkan. Pria itu juga memakai topeng ungu untuk menutupi
identitasnya.
"N-Nona! Ini sudah di luar anggaran! Hari
ini Anda sudah membeli tiga budak. Jika lebih dari ini, Tuan Besar pasti
akan..."
"Diam! Aku tidak peduli meski harus menjual
gelar bangsawan atau apa pun, aku harus mendapatkan anak itu!"
Wanita itu membanting gelas di tangannya ke lantai dan
mulai histeris. Para preman di belakang panggung segera berlari menghampiri
untuk menenangkannya, namun dia malah semakin menggila.
"Apa yang kalian lakukan!? Kalian lihat sendiri,
kan!? Anak itu sejak tadi terus menatapku! Kami ini saling mencintai!"
Dia mendorong preman yang mencoba menenangkannya dan
berusaha mendekatiku. Mau tidak mau, para preman itu meringkus si wanita dan
menyeretnya keluar aula. Saat diseret, dia mengeluarkan jeritan melengking yang
nyaris memecahkan gendang telinga sambil mengeluarkan busa dari mulutnya. Aku
bahkan tidak bisa mengerti apa yang dia bicarakan.
"Ka-kalau begitu, tiga orang ini; si emas, si
cantik, dan si Elf, lalu..."
Pembawa acara yang sempat terintimidasi oleh si wanita
tadi akhirnya membuka suara, namun si pria bertopeng langsung memotong.
"Cukup mereka bertiga saja! Aku tidak butuh
sampahnya!"
Dames, yang biasanya punya mental baja pun, kini sudah
tidak sanggup berdiri lagi mendengar dirinya disebut sampah.
Melewati Dames, kami bertiga dibawa menuju si pria
bertopeng.
Dalam perjalanan, aku melirik ke sisi kanan panggung
tempat senjata kami berada. Berkat keributan si wanita tadi, hanya tersisa satu
preman di sana.
Apakah sekarang saatnya kabur?
Tidak, aku akan menunggu sedikit lagi. Beruntung kami bertiga dibeli oleh orang yang sama. Peluangnya pasti
lebih besar setelah kami meninggalkan tempat ini.
Sambil memikirkan hal itu, kami sampai di depan pria
bertopeng yang memenangkan lelang. Aku pun mencoba menanyakan hal yang
mengganjal.
"Apa yang akan kamu lakukan pada kami?"
"Itu bukan cara bicara seorang budak kepada tuannya.
Jangan khawatir, aku akan mendidikmu sampai tuntas, jadi nantikan saja."
Aku memang bodoh karena sempat berharap dia orang
baik.
Saat si pria bertopeng menyuruh pelayannya menyiapkan
koin platina, tiba-tiba sesuatu terjadi.
"Anak Elf itu milik Tuan Gedo dari Persekutuan
Dagang Gedo! Berani-beraninya kamu mencurinya dariku! Hido! Keluar kau
sekarang juga!!!!!"
Pedagang yang kutemui di kota sebelah tiba-tiba menyerbu
masuk ke aula lelang bersama para pengawalnya.
Jadi Hido si pedagang budak dan Gedo ini berasal dari
kelompok yang berbeda?
Berarti Misha diculik oleh Gedo, lalu melarikan diri
dan tertangkap oleh Hido. Rumit sekali. Lagipula, si pedagang Gedo itu berani
sekali mengklaim Misha yang diculiknya sebagai miliknya.
Berkat serbuan Gedo, aula berubah menjadi kekacauan
total.
"Gawat! Kalau tetap di sini, urusannya bakal
panjang! Lari!"
Para peserta lelang berebut untuk kabur duluan, sementara
para preman mulai terlibat bentrok dengan anak buah Gedo yang menyerbu masuk.
Saat aku menoleh, pria bertopeng yang membeli kami sudah
tidak ada. Dia lebih memilih kabur dan meninggalkan kami daripada identitasnya
terbongkar.
"Clarice! Misha! Sekarang saatnya! Kita ambil
senjata kita!"
Memanfaatkan kekacauan, pertama-tama kupotong tali rami
di tanganku dengan Wind Cutter.
Selanjutnya, kami berlari menuju belakang panggung dan
segera mengambil senjata kami. Untungnya para preman di sana sudah ikut
bertarung, jadi kami bisa mengambilnya dengan mudah. Target Gedo sejak awal
memang hanya Misha.
Anak buah Gedo mencoba mengejar kami, tapi para preman
Hido menghalangi mereka.
Hmm?
Bukankah kalau mereka saling serang sampai lemas, aku
bisa menghabisi mereka dan kabur dengan lebih aman?
Kalau aku membantu
pihak yang kalah dengan sihir angin secara diam-diam, aku bisa mengharapkan
mereka hancur bersama.
Sebenarnya aku ingin segera keluar dari kota ini, tapi
malam sudah benar-benar gelap. Jika bisa bertahan sedikit lagi, mungkin Sasha
akan datang.
Saat sedang berpikir begitu, aku melihat para budak lain
yang tidak lari dan hanya menonton jalannya pertarungan.
"Kenapa kalian tidak lari mumpung ada
kesempatan?" tanyaku pada salah satu budak.
"Ah, kami menjadi budak atas keinginan sendiri. Tuan
yang membeli kami sepertinya tidak bermasalah, jadi aku lebih memilih begini
saja. Lagipula, dilelang adalah kehormatan bagi budak. Perlakuannya biasanya
lebih baik daripada dijual di pasar budak biasa. Yah, meski ada juga yang
nasibnya sial seperti pria tadi karena tidak laku, atau yang punya alasan
khusus. Apa kalian diculik paksa? Jika iya, mungkin sebaiknya kalian lari, tapi
berhati-hatilah karena di gedung ini ada orang-orang yang sangat kuat."
"Begitu ya. Terima kasih sudah memberitahu. Boleh
aku tanya satu hal lagi? Kakak terlihat cukup kuat, tapi apakah ada yang lebih
ahli darimu di sini?"
"Kamu anak yang cerdas. Berarti perkenalan tadi
tidak bohong... Benar, aku merasa punya kekuatan setingkat Petualang Peringkat
D tingkat menengah atau atas, tapi di Persekutuan Dagang Hido, ada party
Peringkat B bernama Moonlight Darkness. Tidak mungkin bisa menang
melawan mereka."
Party Peringkat B!? Ada orang sekuat itu!? Kalau begitu,
apa sebaiknya kami lari sekarang saja...?
Selagi aku berpikir, para preman Hido mulai mengepung
kami seolah ingin melindungi kami dari anak buah Gedo. Gedo berteriak kencang.
"Naraku! Kalian tidak perlu melindungiku,
pokoknya tangkap Elf itu!"
Setelah teriakan Gedo, enam pria berwajah sangar muncul
dan dengan sangat mudah menumbangkan para preman yang melindungi kami.
"Party
andalan Gedo, Naraku, sudah datang! Tuan Hido! Tolong kirimkan Moonlight
Darkness ke sini!"
Hido
sepertinya mendengar teriakan itu. Dia mengirimkan enam pria berwajah seram
lainnya ke arah kami dan memerintahkan mereka membentuk formasi perlindungan.
"Sudah
lama ya, Naraku. Apa kalian datang ke sini untuk dibunuh oleh kami, Moonlight
Darkness?"
"Omong
kosong, hari ini kamilah yang akan menghabisi kalian!"
Sepertinya
mereka sudah saling kenal.
Melihat
pertarungan kedua party itu, sepertinya Moonlight Darkness milik Hido
lebih unggul. Penyebabnya adalah seorang Mage yang berdiri tepat di depan kami
untuk menghalangi Naraku.
Saat
aku mencoba melakukan Appraisal pada Mage itu, tiba-tiba terjadi
keanehan pada tubuhku.
"Ugh!?
A-apa ini..."
Tiba-tiba
mataku menangkap sosok Mage itu seperti sebuah bayangan sisa (afterimage).
Biasanya bayangan sisa mengikuti tubuh asli, tapi ini justru terbalik. Tubuh
aslinya yang seolah mengikuti bayangannya.
Otakku
tidak sanggup memproses visual itu, dan kepalaku rasanya seperti dipaksa
bekerja terlalu keras. Rasanya seperti saat aku belajar untuk ujian selama
sepuluh jam nonstop tanpa istirahat.
"Mars!? Kamu kenapa?"
Suara cemas Clarice terdengar dari belakangku.
"Tidak, hanya sedikit pusing..."
Dalam kondisi penglihatan yang ganda, aku memaksakan diri
melanjutkan Appraisal.
[Nama]
Waltz Vistaria
[Status]
Sehat
[Level]
35
[HP]
133/133
[MP]
168/208
[Magic
Power] 105
[Special
Ability] Fire Magic D, Wind Magic D, Sleep Magic G
[Equipment]
Wand of Wind
Setelah
selesai, penglihatanku kembali normal. Apa itu tadi? Mataku sudah normal, tapi
rasa lelah di kepala tidak hilang. Apakah ada yang salah dengan Heaven’s Eye?
Atau jangan-jangan...
"Clarice.
Maaf sudah membuatmu khawatir. Aku sudah tidak apa-apa."
Clarice yang menyentuh punggungku dengan cemas menjawab
dengan suara yang hampir menangis karena lega. Wajar
saja dia merasa tidak tenang dalam situasi segawat ini.
Mage itu... status Waltz bisa dibilang versi kuat
dari Ziek. Status tipikal seorang Mage.
Yang perlu diwaspadai adalah Sleep Magic.
Dengan sihir itu, anggota Naraku dibuat tertidur, dan setiap kali itu
terjadi, seseorang harus membangunkan mereka. Akibatnya, Moonlight Darkness
selalu unggul dalam jumlah. Pasti dialah yang membuat Misha tertidur tadi.
"Clarice, pria berjubah hitam di sana, apa dia
ada saat Misha diculik?"
"E-eh? Mungkinkah orang itu yang membawa
Misha?" tanya Clarice setelah melihat sihir Waltz.
"Kemungkinan besar. Kita harus waspada
padanya."
Jika begini terus, Naraku milik Gedo akan kalah.
Saat aku mencengkeram pedang perak Mithril-ku berniat membantu Naraku,
suara teriakan Gedo kembali terdengar.
"Guru! Sebelah sini! Tolong bereskan mereka!"
Seorang pria yang dipanggil "Guru" itu berdiri
di samping Gedo.
Penampilan pria itu bisa dibilang... wajahnya adalah
senjata maut. Ada luka sayatan besar di wajahnya. Lengan-lengannya dipenuhi
bekas luka pertempuran yang tak terhitung jumlahnya. Dibandingkan
dia, para preman sangar di sini jadi terlihat seperti orang baik.
Naluriku berteriak keras agar tidak menjalin kontak
mata dengannya. Jangan sampai terlibat dengannya sama sekali.
"Hei! Aku tegaskan sekali lagi! Kalau aku membuat Moonlight
Darkness tidak bisa bertarung atau mengusir mereka, harganya seratus keping
emas, kan!?"
"I-iya!"
Gedo menjawab dengan gemetar saat pria itu bertanya
dengan nada yang sangat menekan.
Apa ini? Sosok yang dipanggil "Guru" ini adalah
petualang bayaran... atau semacam pengawal pribadi? Jika begitu, aku bisa
mengerti. Biasanya pengawal atau pendekar pedang memang dipanggil
"Guru".
Pria berwajah bengis itu menyeringai ngeri, lalu
mendekati pertarungan antara Naraku dan Moonlight Darkness.
Tiba-tiba, dia mencengkeram tengkuk salah satu anggota Naraku yang
seharusnya adalah rekannya sendiri.
"A-apa yang kau lakukan!?"
Pria yang dicengkeram itu tidak mengerti apa yang
terjadi, bahkan Gedo pun tersentak.
Si Wajah Senjata itu, sambil memegang rekannya yang
meronta, langsung menyerang Moonlight Darkness yang sedang melindungi
kami.
Cepat sekali! Namun, meski dia menyerang secepat kilat, Moonlight
Darkness tidak tinggal diam.
"Waltz! Tidurkan dia!" perintah pria yang
sepertinya pemimpin mereka.
"Sleep!"
Sihir tidur segera dilepaskan, namun si Wajah Senjata
menjadikan rekannya dari Naraku sebagai tameng untuk menerima Sleep.
Tentu saja si tameng langsung tidur nyenyak.
Sambil melemparkan anggota yang tertidur itu ke arah
Waltz, si Wajah Senjata mencabut pedang yang ia panggul di punggungnya.
Bilah pedangnya berwarna biru kehijauan pucat. Sangat
terawat, dan bahkan tanpa Appraisal pun, aku tahu itu adalah pedang
pusaka yang luar biasa.
Waltz mencoba merapalkan Sleep lagi, namun karena
dilempari rekannya yang tertidur, dia terpaksa menghindar. Saat dia ingin
merapalkan sihir sekali lagi, si Wajah Senjata sudah ada di depannya.
Kecuali jika seseorang memiliki kecepatan aktivasi
seperti sihir angin atau bisa merapalkan sihir sambil bergerak, dia tidak akan
punya peluang.
"Apa!?"
Pria itu menghantam wajah Waltz dengan bagian datar
pedangnya, membuat Waltz langsung pingsan karena benturan itu.
Setelah itu, panggung benar-benar menjadi miliknya.
"Hei, kamu pemimpinnya, Oligo, kan? Pergi sekarang dan aku tidak akan menyentuhmu lagi. Tapi kalau tetap di
sini, aku tidak akan segan. Tentukan dalam lima detik."
Setelah memamerkan perbedaan kekuatan yang mutlak, si
Wajah Senjata memanggul pedangnya dan bertanya pada Oligo dengan ekspresi
santai. Oligo pun segera menggendong Waltz yang pingsan dan lari
terbirit-birit.
Hido dan para preman lainnya sepertinya juga ingin
kabur, tapi saat ditatap oleh pria itu, mereka terpaku seperti katak yang
diawasi ular.
Aku, yang tadinya berniat membantu Moonlight
Darkness demi menjaga keseimbangan, malah sempat terpesona melihat
kemahiran pedangnya. Dia kuat... benar-benar monster.
Namun, satu kalimat pria itu menyadarkanku.
"Nah, misi dari Gedo selesai. Tinggal ambil kembali anak itu dan semuanya beres."
Tatapannya yang tajam langsung mengunci Misha yang
bersembunyi di belakangku dan Clarice.
Aku tidak akan mungkin menang. Aku tahu
itu. Tapi, mungkin aku bisa mengulur waktu.
Pria itu, meski wajahnya seram, ternyata belum membunuh
satu orang pun. Jika dia juga memberikan belas kasihan padaku, aku mungkin bisa
bertahan sampai Sasha datang.
Dengan telapak tangan yang basah oleh keringat dingin,
aku menggenggam gagang pedang dengan kedua tangan dan berdiri di hadapan si
Wajah Senjata.
"Apa-apaan kau? Bocah yang belum dewasa sudah
ikut-ikutan komplotan orang jahat? Aku tidak akan bicara buruk, tapi sebaiknya
kau berhenti sebelum terlambat."
Sepertinya dia mengira aku adalah bagian dari
Persekutuan Dagang Hido. Memang benar, budak laki-laki lain diikat tangannya,
tapi aku sudah memutus taliku dengan Wind Cutter, dan posisiku memang
terlihat seperti pengawal.
Aku tidak menjawab dan terus memfokuskan kesadaran.
Jika aku lengah sedikit saja, habislah kami. Saat aku mencoba melakukan Appraisal
pada si Wajah Senjata yang mendekat tanpa penjagaan, penglihatanku kembali
kabur.
Cih!? Ada apa dengan mataku belakangan ini!? Namun aku
tetap memaksakan diri, dan status yang muncul membuatku berharap itu hanyalah
kesalahan sistem.
[Nama]
Cyrus Wafer
[Level]
44
[HP]
260/260
[MP]
105/105
[Strength]
135
[Agility]
132
[Endurance]
137
[Special
Ability] Sword Art B, Water Magic E
[Equipment]
Undine Sword (Pedang Roh Air)
Haruskah
aku bertarung melawan musuh sekuat ini dalam kondisi seperti ini... Tapi,
begitu Appraisal selesai, penglihatanku kembali normal.
Fenomena yang sama terjadi saat aku melihat Waltz tadi.
Begitu aku berhenti menggunakan skill, mataku kembali normal. Apakah ini bagian
dari kemampuan Heaven’s Eye? Jika benar begitu, karena tubuh aslinya
seolah mengejar bayangan sisanya, itu berarti...
"Hei! Ini peringatan terakhir! Aku tidak punya
hobi menyiksa anak-anak! Minggir!"
Selagi aku bergelut dengan pikiranku sendiri, Cyrus
mengancam dengan suara yang sangat berat.
Di belakangku ada Clarice dan Misha. Jika aku
minggir, Clarice bisa ikut celaka. Aku tidak akan membiarkannya!
Aku kembali mencengkeram pedang dengan sekuat tenaga dan menyipitkan mata. Cyrus yang mulai kehilangan kesabaran pun memasang wajah garang seperti iblis, lalu menyerangku dengan gerakan yang seolah mengejar bayangan sisanya sendiri.



Post a Comment