NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 3 Chapter 5

Chapter 5

Akademi Nasional Lister


Siang harinya, seluruh murid Kelas E mengikuti pelajaran bela diri di sebuah arena yang saking luasnya, mungkin bisa digunakan musisi papan atas untuk menggelar konser live.

"Buat kelompok terdiri dari dua orang!"

Begitu guru bela diri memberi instruksi, semuanya langsung mencari pasangan.

Namun, karena jumlah muridnya ganjil, hanya aku yang tidak mendapatkan teman duet.

Aku sudah mencoba menyapa dan mengajak yang lain dengan aktif, tapi mungkin karena tidak mau berpasangan dengan murid peringkat terbawah sepertiku, semua orang yang kuajak bicara langsung menolak.

Beberapa di antaranya bahkan sepertinya tidak suka melihatku mengobrol akrab dengan Clarice dan yang lainnya di kantin tadi, sehingga mereka malah menyerangku dengan kata-kata pedas yang menyebalkan.

Aku tidak punya keberanian untuk mengajak murid perempuan, sementara Gon dan Karl yang tadinya kuharapkan, sudah saling berpasangan sejak awal.

"Anu…… saya tidak kebagian pasangan……"

Saat aku memberanikan diri melapor pada sang guru, sebuah suara berat yang sangat kukenal bergema di seluruh arena.

"Ooh! Pas sekali! Mars! Ambil pedangmu! Biar aku yang melatihmu!"

Hanya ada satu orang di sekolah ini yang gaya bicaranya seperti berandalan.

Begitu menoleh ke arah sumber suara, benar saja, sosok Cyrus ada di sana.

"Cyrus-sensei. Murid ini berasal dari Kelas E, sedangkan Anda adalah guru untuk kelas lain……"

Guru bela diri yang tadinya terlihat sangat berwibawa langsung menciut di hadapan Cyrus.

"Lagipula bocah ini sisa, kan? Biar aku yang menggemblengnya habis-habisan, jadi kau urusi saja murid-murid yang lain."

Aku merasa sangat kasihan pada guru bela diri itu yang terpaksa patuh meski wajahnya menunjukkan keraguan besar.

Namun, ini juga keberuntungan bagiku.

Salah satu alasanku memutuskan masuk ke Akademi Nasional Lister adalah untuk mempelajari Skill.

Dulu Sasha pernah menasihatiku bahwa untuk menguasai Skill, aku harus belajar dari orang yang mumpuni.

Meskipun secara otodidak aku sudah bisa menggunakan sesuatu yang mirip Skill, aku ingin mempelajarinya dengan benar di sini.

"Cyrus-sensei. Sebenarnya ada yang ingin saya pelajari dari Anda……"

Begitu aku berdiri di depan Cyrus, dia sedikit mengangkat dagunya seolah menyuruhku melanjutkan bicara.

"Saat pertama kali kita bertemu, saya rasa Anda menggunakan sebuah Skill. Saya ingin Anda mengajarkannya pada saya."

Mendengar permintaanku, Cyrus menyeringai licik.

"Yah, sudah kuduga bakal begitu…… Begini ya. Kudengar kau punya bakat Swordmanship, dan sihirmu pun kelas satu. Pedang yang kau bawa itu juga barang bagus. Kau sepertinya sudah mulai menangkap intinya…… tapi, baiklah. Kalau kau bisa menang melawanku dalam duel pedang, akan kuajari!"

Perkataan Cyrus membuat para murid Kelas E gaduh.

"Berani sekali ya dia menatap mata Cyrus-sensei?"

"Dengar tidak? Katanya dia juga bisa pakai sihir."

"Heh…… kupikir dia cuma modal tampang, tapi ternyata hebat juga ya. Mungkin aku harus mendekatinya sejak sekarang."

Aku bisa merasakan perhatian semua orang terpusat padaku.

"Baiklah. Tapi satu hal. Bolehkan saya menantang Anda berkali-kali? Saat ini saya rasa saya belum bisa menang, tapi suatu saat nanti saya pasti akan mengalahkan Anda!"

Kalau menggunakan Sylphid atau Vision, mungkin aku punya peluang, tapi Cyrus menetapkan syarat hanya boleh menggunakan ilmu pedang.

Kalau begitu, aku akan terus mencoba sampai meraih kemenangan murni dengan pedang!

Lagi pula, ini akan menjadi latihan pedang yang sangat bagus.

"Memang bocah pilihan yang kutaksir! Tentu saja! Serang aku sesukamu! Lampauilah aku seperti Glen!"

Sebelum ujian dan dari Duke Regan pun, aku sempat mendengar nama Glen. Dan Cyrus bicara seolah-olah orang bernama Glen itu jauh lebih kuat.

"Glen itu siapa?"

Tanyaku sambil memasang kuda-kuda dengan pedang kayu.

"Dia itu salah satu yang dijuluki mahakarya terbaik sepanjang sejarah Akademi Nasional Lister! Murid kelas empat yang memegang peringkat satu di Kelas S!"

Jawab Cyrus dengan nada yang terdengar bangga.

Mahakarya terbaik? Seperti apa orangnya? Aku jadi penasaran karena dia disebut lebih kuat dari Cyrus.

"Musuhmu itu aku, bukan Glen! Jangan meleng!"

Cyrus tiba-tiba menyerang.

"Saya tahu! Saya juga tidak berniat membiarkan diri saya dipukuli terus!"

Kali ini Cyrus langsung tancap gas sejak awal.

Setiap kali pedang kami beradu, sorak-sorai terdengar dari para murid.

Namun, itu hanya bertahan di beberapa bentrokan awal saja.

Semakin lama pedang kami beradu, perbedaan pengalaman tempur kami mulai terlihat jelas.

Masalahnya, aku benar-benar salah paham secara mendasar tentang Cyrus.

Kupikir dia hanya bisa menggunakan ilmu pedang yang kasar.

Aku mengerahkan tenaga pada gagang pedang untuk menangkis ayunan pedang Cyrus yang tampak mengandalkan kekuatan otot.

Tapi itu adalah jebakan. Cyrus ternyata sengaja melemaskan tenaganya, dan saat aku kehilangan keseimbangan karena kurangnya perlawanan dari pedangnya, dia langsung menghajarku. Setelah itu, duel berubah menjadi pembantaian satu pihak.

Aku menantangnya berkali-kali selama jam pelajaran, tapi pada akhirnya aku selalu berakhir babak belur.

◆◇◆

Setelah pelajaran berakhir, saat aku terkapar babak belur sambil menatap langit-langit, Gon, Karl, dan murid-kelas E lainnya datang menghampiri karena khawatir.

"Pertarungan yang bagus!"

"Kamu tidak apa-apa?"

"Iya. Saat pedang kayunya mengenai tubuhku, dia menahan kekuatannya kok. Aku kalah telak. Tapi aku menemukan banyak PR yang harus dikerjakan, jadi aku berterima kasih pada Cyrus-sensei."

Aku tidak berbohong soal itu.

Entah mereka mengerti maksudku atau tidak, tapi teman-teman sekelas lainnya mulai memberiku kata-kata yang menyemangati.

"Kamu kuat juga ya! Maaf ya, awalnya aku menjauhimu karena kukira kamu cuma beban peringkat bawah! Mulai sekarang, mohon bantuannya ya!"

"Melihatmu terus bangkit meski sudah dihajar berkali-kali, aku refleks mengepalkan tangan dan mendukungmu, lho!"

"Lain kali latihan denganku ya!"

Sepertinya mereka sudah menerimaku sebagai bagian dari teman sekelas.

"Tentu saja! Kerja keras tidak akan mengkhianati hasil! Ayo kita berjuang sama-sama!"

Saat datang ke arena aku sendirian, tapi saat kembali ke kelas, aku berada di tengah-tengah lingkaran teman-teman.

◆◇◆

―Sepulang sekolah

Aku menuju tempat pertemuan dengan Clarice dan yang lainnya.

Tempatnya agak jauh dari gedung sekolah kelas satu dan sepi orang.

Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian seperti tempo hari.

"Maaf ya. Sudah menunggu lama?"

Aku bergegas datang setelah pelajaran selesai, tapi jam pulang Kelas S dan Kelas E itu berbeda.

Masalahnya, Kelas S dan Kelas A hanya memiliki waktu istirahat siang selama satu jam.

Karena kelas lain mendapatkan dua jam, maka Kelas S dan Kelas A pulang satu jam lebih awal.

Alasannya adalah tingkat kepadatan di gedung kantin.

Lantai tiga yang hanya bisa digunakan Kelas S dan Kelas A memiliki jumlah orang yang sedikit, sehingga makanan disajikan dengan lancar dan tempat duduk selalu tersedia.

Sebaliknya, lantai satu dan dua sangat padat. Sepertinya ini taktik pihak sekolah untuk memicu rasa kompetisi di antara murid, jadi mau bagaimana lagi.

"Kami tidak menunggu lama kok. Tapi, ada yang ingin aku minta maaf……"

Clarice mulai bicara dengan raut wajah tidak enak hati.

"Ada apa?"

"Begini, hari ini kami harus keluar sekolah sebentar. Pelajaran sihir air butuh baju renang…… di sekolah juga ada yang jual sih, tapi desainnya agak gimana gitu. Jadi, boleh tidak kalau hari ini aku, Elie, dan Misha saja yang pergi keluar?"

"Baju renang?!"

Saking semangatnya, aku refleks berteriak keras.

"Tidak boleh ya?"

Ditatap dengan pandangan memohon oleh Clarice begitu, mana mungkin aku bisa menolak.

"Baiklah. Hati-hati ya. Kalian bawa uang?"

"Iya. Aku juga sudah diberi bekal oleh Ayahanda, jadi tidak apa-apa. Sampai jumpa besok ya."

Aku memperhatikan punggung mereka bertiga sampai tidak terlihat lagi.

Andai aku di Kelas S, aku pasti bisa pergi belanja bersama mereka.

Aku berjanji pada diriku sendiri untuk berusaha lebih keras lagi, dengan motivasi agar bisa naik ke Kelas S dan pergi belanja bersama Clarice dan yang lainnya.

Karena rencanaku batal, aku kembali ke kamar dan melakukan sebuah pekerjaan.

Yaitu membuat pedang untuk latihan.

Target terdekatku adalah mengalahkan Cyrus hanya dengan ilmu pedang.

Karena itu, aku menciptakan batu dengan sihir tanah, memadatkannya semaksimal mungkin, dan membuat dua bilah pedang yang keras dan berat.

Pekerjaan seperti ini hanya bisa kulakukan saat Gon dan Karl tidak ada.

Aku tidak berniat memberitahu siapa pun selain Clarice dan yang lainnya bahwa aku bisa menggunakan sihir air dan sihir tanah.

Saat memegangnya di kedua tangan dan mencoba mengayunkannya sedikit, tubuhku hampir terseret karena tidak kuat menahan bebannya.

Alasanku membuat dua pedang sangatlah sederhana.

Dengan menggunakan pedang di kedua tangan, aku punya harapan kecil bahwa kecepatan peningkatan level Swordmanship-ku akan menjadi dua kali lipat.

Target jangka pendekku adalah bisa mengayunkan kedua pedang ini dengan bebas.

Saat sedang asyik berpikir begitu, Gon dan Karl kembali ke kamar.

"Mars, ayo makan malam!"

Setelah makan di kantin lantai lima asrama, aku menguras MP-ku agar tidak ketahuan mereka, lalu pergi tidur.

◆◇◆

――Besoknya, jam 03.00 pagi

Aku keluar kamar pelan-pelan agar tidak membangunkan Gon dan Karl yang sedang tidur nyenyak sampai mendengkur.

Jam larangan keluar bagi kelas reguler adalah pukul 18.00 sampai 03.00.

Artinya, aku keluar tepat saat larangan itu berakhir.

Udara bulan Januari terasa dingin menusuk kulit. Area sekolah sunyi senyap, angin dingin berembus melewati celah-celah bangunan, dan cahaya lampu batu sihir memantulkan bayanganku.

Di tengah kesunyian itu, aku yang sudah mengenakan seragam mulai berlari dengan dua pedang batu buatan kemarin di punggungku.

Salah satu PR-ku adalah daya tahan.

Aku yakin aku punya daya tahan yang cukup baik. Bertarung dalam waktu lama pun aku sanggup.

Namun, duel melawan Cyrus kemarin terasa berbeda.

Saat menghadapi lawan yang lebih kuat, tubuhku refleks mengerahkan tenaga yang tidak perlu.

Ditambah lagi belakangan ini aku melakukan latihan untuk menambah massa otot.

Jika "mesinnya" makin besar, energi yang dikonsumsi secara alami akan makin banyak, sehingga aku jadi lebih cepat lelah.

Saat masih menjelajahi labirin di Almeria, aku bisa menggunakan Sacred Magic untuk mengurangi kelelahan.

Tapi di sini, aku tidak bisa melakukannya.

Itulah sebabnya aku harus kembali ke dasar dan mulai berlari lagi.

Setelah berlari maraton selama satu jam, berikutnya adalah latihan otot.

Sebenarnya aku ingin menciptakan alat dengan sihir tanah untuk latihan beban, tapi sayangnya di kamarku tidak ada ruang untuk meletakkan alat-alat itu.

Jadi aku harus puas dengan latihan beban tubuh seperti plank, crunch, dan squat.

Setelah itu selesai, sisanya adalah latihan mengayun pedang terus-menerus.

Aku terus mengayunkan pedang batu sambil membayangkan Cyrus sebagai lawanku.

Latihan mengayun setelah satu jam maraton dan satu jam latihan otot itu rasanya sangat berat.

Saat duel melawan Cyrus pun aku mengerahkan tenaga berlebih, jadi rasanya sangat melelahkan.

Tapi itu adalah pengalaman yang bagus.

Dengan target agar bisa melakukan serangan yang akurat tanpa merusak jalur pedang meski sedang lelah, aku terus mengayunkan pedang batu di kedua tangan dengan sepenuh hati sampai lenganku terasa kaku.

Setelah membasuh keringat dan rasa lelah di kamar mandi asrama, Gon dan Karl pun bangun.

"Pagi, Mars. Kamu bangun pagi sekali ya."

"Selamat pagi."

Aku mengajak mereka yang baru bangun untuk menuju kantin di lantai lima. Di sana sudah terlihat beberapa murid yang sedang sarapan.

Sepertinya mereka dari kelas lain. Mungkin karena baru saja masuk sekolah, kesannya semua orang masih saling meraba jarak satu sama lain.

Hanya kelompok kami yang mengobrol dengan akrab.

Tak lama, murid laki-laki Kelas E lainnya mulai berdatangan ke kantin dan membentuk lingkaran besar.

Sejak aku dihajar habis-habisan oleh Cyrus kemarin, entah kenapa lahir rasa solidaritas di antara Kelas E. Sepertinya Gon dan yang lainnya juga merasakannya, karena dia berkata sambil menggulung lengan bajunya dengan penuh semangat.

"Mars! Di ujian kenaikan kelas nanti, ayo kita semua tunjukkan hasil yang hebat!"

"Iya! Ayo berjuang!"

Kenyataannya, murid-murid berseragam garis hitam di sini…… alias Kelas D, tidak punya perbedaan statistik yang jauh dengan murid Kelas E.

Perbedaannya hanyalah hampir semua murid Kelas D bisa menggunakan sihir, dan banyak dari mereka adalah anak bangsawan.

Tentu saja ada juga murid Kelas E yang bisa sihir, tapi itu hanya mereka yang memang penyihir.

Tidak ada petarung garda depan yang bisa sihir.

Hanya saja, ada bagian di mana murid Kelas E lebih unggul.

Sepertinya murid Kelas D terlalu mengandalkan power leveling, sehingga statistik mereka tergolong rendah jika dibandingkan dengan levelnya.

Sebaliknya, murid Kelas E kebanyakan adalah rakyat jelata yang tidak melakukan power leveling. Meskipun statistik mereka rendah, jika mereka bisa mencapai level yang sama, peluang untuk bertukar posisi kelas sangatlah besar.

Sebagai referensi, inilah statistik Gon yang tampaknya punya potensi pertumbuhan paling besar di kelas ini.


[Nama] Gon

[Title]

[Status Sosial] Manusia, Rakyat Jelata

[Kondisi] Baik

[Usia] 11 Tahun

[Level] 8

[HP] 7575

[MP] 2020

[Strength] 32

[Agility] 30

[Magic Power] 10

[Dexterity] 15

[Endurance] 30

[Luck] 1

 

[Special Ability] Swordmanship C (Lv315)

[Special Ability] Axemanship E (Lv211)


Statistik Gon adalah yang terendah di kelas ini. Bahkan lebih rendah dari mereka yang tidak lulus ujian.

Alasan kenapa dia bisa lulus sepertinya karena dia punya dua Special Ability, dan mungkin karena potensinya.

Karl pun punya kemampuan yang hampir sama, meski Special Ability-nya sedikit berbeda.

Ngomong-ngomong, saat aku melakukan Appraisal, Gon tidak menyadarinya.

Dulu Sasha pernah bilang, orang yang punya Magic Power tinggi atau yang sudah berpengalaman akan menyadarinya. Sepertinya jalan Gon masih sangat panjang.

◆◇◆

Setelah sarapan bersama semuanya, kami berangkat ke sekolah. Pagi hari ini adalah pelajaran sihir.

"Pertama-tama, sebutkan sihir apa yang bisa kalian gunakan, atau sihir apa yang ingin kalian pelajari."

Mendengar instruksi guru, masing-masing menyebutkan keinginan mereka.

Sihir yang paling populer adalah sihir air.

Terutama mereka yang saat ini belum bisa sihir…… Gon, Karl, dan yang lainnya semua memilih sihir air.

Yah, kalau sedang tersesat memang air itu sangat penting. Menurutku itu pilihan yang bagus.

Sebaliknya, yang tidak populer adalah sihir angin.

Penyebabnya adalah sihir yang bisa dipelajari di Level 1 adalah Wind, yang kegunaannya agak sulit.

Sebagai orang yang ahli sihir angin, aku merasa agak sedih, tapi memang sihir ini hanya cocok untuk orang-orang tertentu.

Dalam pelajaran sihir air yang dipilih Gon dan kawan-kawan, benar kata Clarice bahwa baju renang itu wajib.

Guru menunjukkan baju renang yang disediakan sekolah kepada semuanya, dan murid perempuan langsung menyuarakan keluhan mereka.

Aku yang tidak percaya diri dengan selera fashion pun sampai merasa ilfeel melihatnya.

Mana ada gadis remaja yang mau memakai baju renang dengan warna antara krem atau khaki seperti itu.

Di sisi lain, hanya ada tiga orang yang mengambil pelajaran Fire Magic pilihanku.

Selain aku, ada dua murid perempuan penyihir api.

Alih-alih mempelajari jenis sihir lain, sepertinya mereka ingin memperdalam sihir api terlebih dahulu.

Kami pun dibawa oleh guru sihir api menuju tempat yang menyerupai gimnasium.

Karena akan bermain dengan api, tentu saja ventilasinya sangat mantap.

"Langsung saja, aku ingin melihat kekuatan sihir api kalian. Coba tembakkan Fire ke manekin kayu di sana. Kayu itu bernama Fukaki dan sangat sulit terbakar, jadi tidak perlu sungkan."

Dari tangan kedua murid perempuan itu, muncul api kecil yang melesat mengenai manekin yang bentuknya mengingatkan pada seorang wanita.

"Hmm. Lumayanlah. Nah, selanjutnya."

Sesuai ucapan guru, manekin itu sama sekali tidak terlihat terbakar. Sekarang giliranku.

"Baik! Mohon bantuannya!"

Dengan penuh semangat, aku melepaskan bola api yang ukurannya berkali-kali lipat lebih besar dari milik kedua gadis tadi ke arah manekin.

"O-oi! Berhenti!"

Guru itu tampak panik melihat apiku.

"Eh?!"

Meski disuruh berhenti, sudah terlambat.

Bola api yang lepas dari tanganku menyelimuti manekin itu sepenuhnya, dan manekin itu pun hancur menjadi debu abu-abu.

"A-ah…… Hanna-chan-ku……"

Guru itu bergumam lirih sambil tertunduk lesu.

"Jijik."

"Parah banget."

Kedua murid perempuan itu menatap guru tersebut dengan tatapan menghina, sepertinya mereka mendengar gumamannya.

Sadar akan tatapan mereka, guru itu berdehem singkat.

"Baiklah, sekarang kita mulai pelajaran sihir api."

Pelajaran dimulai seolah tidak terjadi apa-apa, tapi tatapan dingin dari kedua murid perempuan itu terus berlanjut sampai pelajaran berakhir.

◆◇◆

Setelah makan siang bersama Clarice dan kawan-kawan, sore harinya adalah pelajaran ilmu pedang.

Dan tentu saja, Cyrus kembali muncul di hadapanku.

"Yo. Hari ini boleh kuhajar lagi, kan?"

Kamu ini benar-benar seorang pendidik bukan, sih?

Teman sekelasku pun mulai menyuarakan rasa simpati mereka.

Tapi bagiku, ini adalah hal yang patut disyukuri. Bagaimanapun, sampai sebelum masuk sekolah, aku tidak punya sosok yang bisa dijadikan target.

Aku tidak akan membiarkan ini berakhir begini saja!

Sambil memantapkan tekad, aku terus menerima hantaman pedang Cyrus.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close