Chapter 5
Akademi Nasional Lister
Siang
harinya, seluruh murid Kelas E mengikuti pelajaran bela diri di sebuah arena
yang saking luasnya, mungkin bisa digunakan musisi papan atas untuk menggelar
konser live.
"Buat
kelompok terdiri dari dua orang!"
Begitu
guru bela diri memberi instruksi, semuanya langsung mencari pasangan.
Namun,
karena jumlah muridnya ganjil, hanya aku yang tidak mendapatkan teman duet.
Aku
sudah mencoba menyapa dan mengajak yang lain dengan aktif, tapi mungkin karena
tidak mau berpasangan dengan murid peringkat terbawah sepertiku, semua orang
yang kuajak bicara langsung menolak.
Beberapa
di antaranya bahkan sepertinya tidak suka melihatku mengobrol akrab dengan
Clarice dan yang lainnya di kantin tadi, sehingga mereka malah menyerangku
dengan kata-kata pedas yang menyebalkan.
Aku
tidak punya keberanian untuk mengajak murid perempuan, sementara Gon dan Karl
yang tadinya kuharapkan, sudah saling berpasangan sejak awal.
"Anu…… saya tidak kebagian
pasangan……"
Saat aku memberanikan diri melapor pada
sang guru, sebuah suara berat yang sangat kukenal bergema di seluruh arena.
"Ooh!
Pas sekali! Mars! Ambil pedangmu! Biar aku yang melatihmu!"
Hanya
ada satu orang di sekolah ini yang gaya bicaranya seperti berandalan.
Begitu
menoleh ke arah sumber suara, benar saja, sosok Cyrus ada di sana.
"Cyrus-sensei.
Murid ini berasal dari Kelas E, sedangkan Anda adalah guru untuk kelas
lain……"
Guru
bela diri yang tadinya terlihat sangat berwibawa langsung menciut di hadapan
Cyrus.
"Lagipula
bocah ini sisa, kan? Biar aku yang menggemblengnya habis-habisan, jadi kau
urusi saja murid-murid yang lain."
Aku merasa
sangat kasihan pada guru bela diri itu yang terpaksa patuh meski wajahnya
menunjukkan keraguan besar.
Namun, ini
juga keberuntungan bagiku.
Salah satu
alasanku memutuskan masuk ke Akademi Nasional Lister adalah untuk mempelajari
Skill.
Dulu Sasha
pernah menasihatiku bahwa untuk menguasai Skill, aku harus belajar dari orang
yang mumpuni.
Meskipun
secara otodidak aku sudah bisa menggunakan sesuatu yang mirip Skill, aku ingin
mempelajarinya dengan benar di sini.
"Cyrus-sensei.
Sebenarnya ada yang ingin saya pelajari dari Anda……"
Begitu aku
berdiri di depan Cyrus, dia sedikit mengangkat dagunya seolah menyuruhku
melanjutkan bicara.
"Saat
pertama kali kita bertemu, saya rasa Anda menggunakan sebuah Skill. Saya ingin
Anda mengajarkannya pada saya."
Mendengar
permintaanku, Cyrus menyeringai licik.
"Yah, sudah kuduga bakal begitu……
Begini ya. Kudengar kau
punya bakat Swordmanship, dan sihirmu pun kelas satu. Pedang yang kau
bawa itu juga barang bagus. Kau sepertinya sudah mulai menangkap intinya……
tapi, baiklah. Kalau kau bisa menang melawanku dalam duel pedang, akan
kuajari!"
Perkataan
Cyrus membuat para murid Kelas E gaduh.
"Berani
sekali ya dia menatap mata Cyrus-sensei?"
"Dengar
tidak? Katanya dia juga bisa pakai sihir."
"Heh…… kupikir dia cuma modal
tampang, tapi ternyata hebat juga ya. Mungkin aku harus mendekatinya sejak sekarang."
Aku bisa
merasakan perhatian semua orang terpusat padaku.
"Baiklah.
Tapi satu hal. Bolehkan saya menantang Anda berkali-kali? Saat ini saya rasa
saya belum bisa menang, tapi suatu saat nanti saya pasti akan mengalahkan
Anda!"
Kalau
menggunakan Sylphid atau Vision, mungkin aku punya peluang, tapi
Cyrus menetapkan syarat hanya boleh menggunakan ilmu pedang.
Kalau begitu,
aku akan terus mencoba sampai meraih kemenangan murni dengan pedang!
Lagi pula,
ini akan menjadi latihan pedang yang sangat bagus.
"Memang
bocah pilihan yang kutaksir! Tentu saja! Serang aku sesukamu! Lampauilah aku seperti Glen!"
Sebelum
ujian dan dari Duke Regan pun, aku sempat mendengar nama Glen. Dan Cyrus bicara
seolah-olah orang bernama Glen itu jauh lebih kuat.
"Glen
itu siapa?"
Tanyaku
sambil memasang kuda-kuda dengan pedang kayu.
"Dia
itu salah satu yang dijuluki mahakarya terbaik sepanjang sejarah Akademi
Nasional Lister! Murid kelas empat yang memegang peringkat satu di Kelas
S!"
Jawab
Cyrus dengan nada yang terdengar bangga.
Mahakarya
terbaik? Seperti apa orangnya? Aku jadi penasaran karena dia disebut lebih kuat
dari Cyrus.
"Musuhmu
itu aku, bukan Glen! Jangan meleng!"
Cyrus
tiba-tiba menyerang.
"Saya
tahu! Saya juga tidak berniat membiarkan diri saya dipukuli terus!"
Kali
ini Cyrus langsung tancap gas sejak awal.
Setiap
kali pedang kami beradu, sorak-sorai terdengar dari para murid.
Namun,
itu hanya bertahan di beberapa bentrokan awal saja.
Semakin lama
pedang kami beradu, perbedaan pengalaman tempur kami mulai terlihat jelas.
Masalahnya,
aku benar-benar salah paham secara mendasar tentang Cyrus.
Kupikir dia
hanya bisa menggunakan ilmu pedang yang kasar.
Aku
mengerahkan tenaga pada gagang pedang untuk menangkis ayunan pedang Cyrus yang
tampak mengandalkan kekuatan otot.
Tapi itu
adalah jebakan. Cyrus ternyata sengaja melemaskan tenaganya, dan saat aku
kehilangan keseimbangan karena kurangnya perlawanan dari pedangnya, dia
langsung menghajarku. Setelah itu, duel berubah menjadi pembantaian satu pihak.
Aku
menantangnya berkali-kali selama jam pelajaran, tapi pada akhirnya aku selalu
berakhir babak belur.
◆◇◆
Setelah
pelajaran berakhir, saat aku terkapar babak belur sambil menatap langit-langit,
Gon, Karl, dan murid-kelas E lainnya datang menghampiri karena khawatir.
"Pertarungan
yang bagus!"
"Kamu
tidak apa-apa?"
"Iya.
Saat pedang kayunya mengenai tubuhku, dia menahan kekuatannya kok. Aku kalah
telak. Tapi aku menemukan banyak PR yang harus dikerjakan, jadi aku berterima
kasih pada Cyrus-sensei."
Aku
tidak berbohong soal itu.
Entah mereka
mengerti maksudku atau tidak, tapi teman-teman sekelas lainnya mulai memberiku
kata-kata yang menyemangati.
"Kamu
kuat juga ya! Maaf ya, awalnya aku menjauhimu karena kukira kamu cuma beban
peringkat bawah! Mulai sekarang, mohon bantuannya ya!"
"Melihatmu
terus bangkit meski sudah dihajar berkali-kali, aku refleks mengepalkan tangan
dan mendukungmu, lho!"
"Lain
kali latihan denganku ya!"
Sepertinya
mereka sudah menerimaku sebagai bagian dari teman sekelas.
"Tentu
saja! Kerja keras tidak akan mengkhianati hasil! Ayo kita berjuang
sama-sama!"
Saat datang
ke arena aku sendirian, tapi saat kembali ke kelas, aku berada di tengah-tengah
lingkaran teman-teman.
◆◇◆
―Sepulang
sekolah
Aku menuju
tempat pertemuan dengan Clarice dan yang lainnya.
Tempatnya
agak jauh dari gedung sekolah kelas satu dan sepi orang.
Aku tidak
ingin menjadi pusat perhatian seperti tempo hari.
"Maaf
ya. Sudah menunggu lama?"
Aku bergegas
datang setelah pelajaran selesai, tapi jam pulang Kelas S dan Kelas E itu
berbeda.
Masalahnya,
Kelas S dan Kelas A hanya memiliki waktu istirahat siang selama satu jam.
Karena kelas
lain mendapatkan dua jam, maka Kelas S dan Kelas A pulang satu jam lebih awal.
Alasannya
adalah tingkat kepadatan di gedung kantin.
Lantai tiga
yang hanya bisa digunakan Kelas S dan Kelas A memiliki jumlah orang yang
sedikit, sehingga makanan disajikan dengan lancar dan tempat duduk selalu
tersedia.
Sebaliknya,
lantai satu dan dua sangat padat. Sepertinya ini taktik pihak sekolah untuk
memicu rasa kompetisi di antara murid, jadi mau bagaimana lagi.
"Kami
tidak menunggu lama kok. Tapi, ada yang ingin aku minta maaf……"
Clarice mulai
bicara dengan raut wajah tidak enak hati.
"Ada
apa?"
"Begini,
hari ini kami harus keluar sekolah sebentar. Pelajaran sihir air butuh baju
renang…… di sekolah juga ada yang jual sih, tapi desainnya agak gimana gitu.
Jadi, boleh tidak kalau hari ini aku, Elie, dan Misha saja yang pergi
keluar?"
"Baju
renang?!"
Saking
semangatnya, aku refleks berteriak keras.
"Tidak
boleh ya?"
Ditatap
dengan pandangan memohon oleh Clarice begitu, mana mungkin aku bisa menolak.
"Baiklah.
Hati-hati ya. Kalian bawa uang?"
"Iya.
Aku juga sudah diberi bekal oleh Ayahanda, jadi tidak apa-apa. Sampai jumpa
besok ya."
Aku
memperhatikan punggung mereka bertiga sampai tidak terlihat lagi.
Andai aku di
Kelas S, aku pasti bisa pergi belanja bersama mereka.
Aku berjanji
pada diriku sendiri untuk berusaha lebih keras lagi, dengan motivasi agar bisa
naik ke Kelas S dan pergi belanja bersama Clarice dan yang lainnya.
Karena
rencanaku batal, aku kembali ke kamar dan melakukan sebuah pekerjaan.
Yaitu membuat
pedang untuk latihan.
Target
terdekatku adalah mengalahkan Cyrus hanya dengan ilmu pedang.
Karena itu,
aku menciptakan batu dengan sihir tanah, memadatkannya semaksimal mungkin, dan
membuat dua bilah pedang yang keras dan berat.
Pekerjaan
seperti ini hanya bisa kulakukan saat Gon dan Karl tidak ada.
Aku tidak
berniat memberitahu siapa pun selain Clarice dan yang lainnya bahwa aku bisa
menggunakan sihir air dan sihir tanah.
Saat
memegangnya di kedua tangan dan mencoba mengayunkannya sedikit, tubuhku hampir
terseret karena tidak kuat menahan bebannya.
Alasanku
membuat dua pedang sangatlah sederhana.
Dengan
menggunakan pedang di kedua tangan, aku punya harapan kecil bahwa kecepatan
peningkatan level Swordmanship-ku akan menjadi dua kali lipat.
Target jangka
pendekku adalah bisa mengayunkan kedua pedang ini dengan bebas.
Saat sedang
asyik berpikir begitu, Gon dan Karl kembali ke kamar.
"Mars,
ayo makan malam!"
Setelah makan
di kantin lantai lima asrama, aku menguras MP-ku agar tidak ketahuan
mereka, lalu pergi tidur.
◆◇◆
――Besoknya,
jam 03.00 pagi
Aku keluar
kamar pelan-pelan agar tidak membangunkan Gon dan Karl yang sedang tidur
nyenyak sampai mendengkur.
Jam larangan
keluar bagi kelas reguler adalah pukul 18.00 sampai 03.00.
Artinya, aku
keluar tepat saat larangan itu berakhir.
Udara bulan
Januari terasa dingin menusuk kulit. Area sekolah sunyi senyap, angin dingin
berembus melewati celah-celah bangunan, dan cahaya lampu batu sihir memantulkan
bayanganku.
Di tengah
kesunyian itu, aku yang sudah mengenakan seragam mulai berlari dengan dua
pedang batu buatan kemarin di punggungku.
Salah satu
PR-ku adalah daya tahan.
Aku yakin aku
punya daya tahan yang cukup baik. Bertarung dalam waktu lama pun aku sanggup.
Namun,
duel melawan Cyrus kemarin terasa berbeda.
Saat
menghadapi lawan yang lebih kuat, tubuhku refleks mengerahkan tenaga yang tidak
perlu.
Ditambah lagi
belakangan ini aku melakukan latihan untuk menambah massa otot.
Jika
"mesinnya" makin besar, energi yang dikonsumsi secara alami akan
makin banyak, sehingga aku jadi lebih cepat lelah.
Saat masih
menjelajahi labirin di Almeria, aku bisa menggunakan Sacred Magic untuk
mengurangi kelelahan.
Tapi di sini,
aku tidak bisa melakukannya.
Itulah
sebabnya aku harus kembali ke dasar dan mulai berlari lagi.
Setelah
berlari maraton selama satu jam, berikutnya adalah latihan otot.
Sebenarnya
aku ingin menciptakan alat dengan sihir tanah untuk latihan beban, tapi
sayangnya di kamarku tidak ada ruang untuk meletakkan alat-alat itu.
Jadi aku
harus puas dengan latihan beban tubuh seperti plank, crunch, dan squat.
Setelah itu
selesai, sisanya adalah latihan mengayun pedang terus-menerus.
Aku terus
mengayunkan pedang batu sambil membayangkan Cyrus sebagai lawanku.
Latihan
mengayun setelah satu jam maraton dan satu jam latihan otot itu rasanya sangat
berat.
Saat duel
melawan Cyrus pun aku mengerahkan tenaga berlebih, jadi rasanya sangat
melelahkan.
Tapi itu
adalah pengalaman yang bagus.
Dengan target
agar bisa melakukan serangan yang akurat tanpa merusak jalur pedang meski
sedang lelah, aku terus mengayunkan pedang batu di kedua tangan dengan sepenuh
hati sampai lenganku terasa kaku.
Setelah
membasuh keringat dan rasa lelah di kamar mandi asrama, Gon dan Karl pun
bangun.
"Pagi,
Mars. Kamu bangun pagi sekali ya."
"Selamat
pagi."
Aku mengajak
mereka yang baru bangun untuk menuju kantin di lantai lima. Di sana sudah
terlihat beberapa murid yang sedang sarapan.
Sepertinya
mereka dari kelas lain. Mungkin karena baru saja masuk sekolah, kesannya semua
orang masih saling meraba jarak satu sama lain.
Hanya
kelompok kami yang mengobrol dengan akrab.
Tak lama,
murid laki-laki Kelas E lainnya mulai berdatangan ke kantin dan membentuk
lingkaran besar.
Sejak aku
dihajar habis-habisan oleh Cyrus kemarin, entah kenapa lahir rasa solidaritas
di antara Kelas E. Sepertinya Gon dan yang lainnya juga merasakannya, karena
dia berkata sambil menggulung lengan bajunya dengan penuh semangat.
"Mars!
Di ujian kenaikan kelas nanti, ayo kita semua tunjukkan hasil yang hebat!"
"Iya! Ayo berjuang!"
Kenyataannya, murid-murid berseragam
garis hitam di sini…… alias Kelas D, tidak punya perbedaan statistik yang jauh
dengan murid Kelas E.
Perbedaannya hanyalah hampir semua
murid Kelas D bisa menggunakan sihir, dan banyak dari mereka adalah anak
bangsawan.
Tentu saja ada juga murid Kelas E yang
bisa sihir, tapi itu hanya mereka yang memang penyihir.
Tidak
ada petarung garda depan yang bisa sihir.
Hanya
saja, ada bagian di mana murid Kelas E lebih unggul.
Sepertinya
murid Kelas D terlalu mengandalkan power leveling, sehingga statistik
mereka tergolong rendah jika dibandingkan dengan levelnya.
Sebaliknya,
murid Kelas E kebanyakan adalah rakyat jelata yang tidak melakukan power
leveling. Meskipun statistik mereka rendah, jika mereka bisa mencapai level
yang sama, peluang untuk bertukar posisi kelas sangatlah besar.
Sebagai
referensi, inilah statistik Gon yang tampaknya punya potensi pertumbuhan paling
besar di kelas ini.
[Nama] Gon
[Title] -
[Status Sosial] Manusia, Rakyat Jelata
[Kondisi] Baik
[Usia]
11 Tahun
[Level]
8
[HP]
75/75
[MP]
20/20
[Strength]
32
[Agility]
30
[Magic
Power] 10
[Dexterity]
15
[Endurance]
30
[Luck]
1
[Special
Ability] Swordmanship C (Lv3/15)
[Special
Ability] Axemanship E (Lv2/11)
Statistik Gon adalah yang terendah di
kelas ini. Bahkan lebih rendah dari mereka yang tidak lulus ujian.
Alasan kenapa
dia bisa lulus sepertinya karena dia punya dua Special Ability, dan
mungkin karena potensinya.
Karl pun
punya kemampuan yang hampir sama, meski Special Ability-nya sedikit
berbeda.
Ngomong-ngomong,
saat aku melakukan Appraisal, Gon tidak menyadarinya.
Dulu Sasha
pernah bilang, orang yang punya Magic Power tinggi atau yang sudah
berpengalaman akan menyadarinya. Sepertinya jalan Gon masih sangat panjang.
◆◇◆
Setelah
sarapan bersama semuanya, kami berangkat ke sekolah. Pagi hari ini adalah
pelajaran sihir.
"Pertama-tama,
sebutkan sihir apa yang bisa kalian gunakan, atau sihir apa yang ingin kalian
pelajari."
Mendengar
instruksi guru, masing-masing menyebutkan keinginan mereka.
Sihir
yang paling populer adalah sihir air.
Terutama
mereka yang saat ini belum bisa sihir…… Gon, Karl, dan yang lainnya semua
memilih sihir air.
Yah,
kalau sedang tersesat memang air itu sangat penting. Menurutku itu pilihan yang bagus.
Sebaliknya,
yang tidak populer adalah sihir angin.
Penyebabnya
adalah sihir yang bisa dipelajari di Level 1 adalah Wind, yang
kegunaannya agak sulit.
Sebagai
orang yang ahli sihir angin, aku merasa agak sedih, tapi memang sihir ini hanya
cocok untuk orang-orang tertentu.
Dalam
pelajaran sihir air yang dipilih Gon dan kawan-kawan, benar kata Clarice bahwa
baju renang itu wajib.
Guru
menunjukkan baju renang yang disediakan sekolah kepada semuanya, dan murid
perempuan langsung menyuarakan keluhan mereka.
Aku
yang tidak percaya diri dengan selera fashion pun sampai merasa ilfeel
melihatnya.
Mana
ada gadis remaja yang mau memakai baju renang dengan warna antara krem atau
khaki seperti itu.
Di
sisi lain, hanya ada tiga orang yang mengambil pelajaran Fire Magic
pilihanku.
Selain aku,
ada dua murid perempuan penyihir api.
Alih-alih
mempelajari jenis sihir lain, sepertinya mereka ingin memperdalam sihir api
terlebih dahulu.
Kami pun
dibawa oleh guru sihir api menuju tempat yang menyerupai gimnasium.
Karena akan
bermain dengan api, tentu saja ventilasinya sangat mantap.
"Langsung
saja, aku ingin melihat kekuatan sihir api kalian. Coba tembakkan Fire
ke manekin kayu di sana. Kayu itu bernama Fukaki dan sangat sulit terbakar,
jadi tidak perlu sungkan."
Dari tangan
kedua murid perempuan itu, muncul api kecil yang melesat mengenai manekin yang
bentuknya mengingatkan pada seorang wanita.
"Hmm.
Lumayanlah. Nah, selanjutnya."
Sesuai ucapan
guru, manekin itu sama sekali tidak terlihat terbakar. Sekarang giliranku.
"Baik!
Mohon bantuannya!"
Dengan penuh
semangat, aku melepaskan bola api yang ukurannya berkali-kali lipat lebih besar
dari milik kedua gadis tadi ke arah manekin.
"O-oi!
Berhenti!"
Guru itu
tampak panik melihat apiku.
"Eh?!"
Meski disuruh
berhenti, sudah terlambat.
Bola api yang
lepas dari tanganku menyelimuti manekin itu sepenuhnya, dan manekin itu pun
hancur menjadi debu abu-abu.
"A-ah…… Hanna-chan-ku……"
Guru
itu bergumam lirih sambil tertunduk lesu.
"Jijik."
"Parah
banget."
Kedua
murid perempuan itu menatap guru tersebut dengan tatapan menghina, sepertinya
mereka mendengar gumamannya.
Sadar
akan tatapan mereka, guru itu berdehem singkat.
"Baiklah,
sekarang kita mulai pelajaran sihir api."
Pelajaran
dimulai seolah tidak terjadi apa-apa, tapi tatapan dingin dari kedua murid
perempuan itu terus berlanjut sampai pelajaran berakhir.
◆◇◆
Setelah
makan siang bersama Clarice dan kawan-kawan, sore harinya adalah pelajaran ilmu
pedang.
Dan tentu
saja, Cyrus kembali muncul di hadapanku.
"Yo.
Hari ini boleh kuhajar lagi, kan?"
Kamu
ini benar-benar seorang pendidik bukan, sih?
Teman
sekelasku pun mulai menyuarakan rasa simpati mereka.
Tapi bagiku, ini adalah hal yang patut
disyukuri. Bagaimanapun, sampai sebelum masuk sekolah, aku tidak punya sosok
yang bisa dijadikan target.
Aku
tidak akan membiarkan ini berakhir begini saja!
Sambil
memantapkan tekad, aku terus menerima hantaman pedang Cyrus.



Post a Comment