NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 2 Chapter 2

Chapter 2

Ular Neraka


"Mars, kamu pernah melihat bangsa Elf?"

Setelah meninggalkan Serikat Petualang, kami berjalan menuju kereta kuda sambil membicarakan pedagang tadi.

"Aku belum pernah. Kalau kamu, Clarice?"

"Aku juga belum. Jangankan Elf, aku baru pernah melihat manusia saja. Padahal aku dengar di Ibu Kota atau kota labirin besar ada Beastman dan Dwarf juga... Oh iya, apa rute kita nanti akan melewati dekat Hutan Iblis?"

"Waktu kecil di Almeria dulu, aku mungkin pernah melihat orang yang mirip Beastman. Sepertinya kita tidak akan lewat dekat Hutan Iblis, kok. Soalnya rute dari Count Beetle itu mengutamakan keselamatan nomor satu."

Aku menunduk dan memastikan rute pilihan Count Beetle. Anehnya, rute itu justru melewati titik tepat di tengah-tengah antara kota tetangga dan Hutan Iblis.

Lho? Kalau Hutan Iblis itu berbahaya, seharusnya beliau memilih rute yang lebih ke utara atau yang mampir ke kota tetangga... Saat aku memberitahu Clarice tentang rutenya, dia menjawab dengan nada agak menyesal.

"Begitu ya... Padahal kalau bertemu, aku ingin menolongnya."

"Iya. Tapi seandainya kita berhasil menolongnya pun, kita hanya bisa menyerahkannya ke Serikat Petualang. Ujung-ujungnya Elf itu tetap akan dipersembahkan kepada Duke sebagai budak. Kalau dia berhasil kabur sendiri, mungkin dia akan lebih bahagia."

"Mars benar. Kalau begitu, ayo jalan."

Clarice setuju, lalu kami naik ke kereta dan memacu kuda ke arah barat.

◆◇◆

Beberapa jam setelah meninggalkan Kota Polo, perjalanan di rute Count Beetle awalnya terasa lancar. Namun, dari kejauhan, aku melihat bayangan raksasa yang melingkar.

"Clarice, lihat itu."

Aku memanggil Clarice yang ada di dalam agar dia ikut melihat.

"Apa itu? Ular... kan? Tapi ular di dunia ini mana mungkin sebesar itu..."

"Iya. Kalau kita terus ke barat mungkin tidak akan ketahuan, tapi untuk jaga-jaga, kita putar arah ke utara saja. Clarice, tolong terus awasi ular itu, ya?"

Karena ukurannya yang raksasa, kami bisa menyadarinya lebih awal dan berhasil menghindar. Baru saja aku menghela napas lega, tiba-tiba Clarice berteriak.

"Mars! Berhenti! Ada seseorang yang lari ke arah ular itu!"

—Apa katanya!? Saat aku menoleh, di sana ada seorang gadis kecil seumuran adikku, Lina, yang sedang lari tunggang langgang seolah dikejar sesuatu.

Wajahnya sangat khas; telinga yang panjang dan runcing dengan rambut berwarna hijau zamrud. Bahkan dari kejauhan, sekali lihat saja sudah jelas kalau dia adalah seorang Elf.

"Oi! Lihat depan!"

Aku berteriak sekencang mungkin tanpa memancing perhatian ular raksasa itu. Gadis Elf itu menyadari suaraku dan patuh menatap ke depan, tapi setelah itu terjadilah hal di luar dugaan.

"KYAAAAAAA!!!!!"

Gadis Elf itu menjerit histeris begitu melihat ular raksasa di depannya. Suara itu membuat si ular raksasa tersadar, dan sialnya, keberadaan kami pun ikut terbongkar.

"Lari! Sini!"

Wajah gadis Elf itu basah oleh air mata dan ingus saat dia berlari sekuat tenaga ke arah kami.

"Mars! Anak itu larinya cepat, tapi monster itu lebih cepat!"

Benar kata Clarice. Meski kaki gadis Elf itu lumayan cepat, ular raksasa yang mengejarnya jauh lebih gesit. Jelas sekali dia tidak akan bisa lolos.

"Sial! Aku akan menahan ular itu! Clarice, bawa anak itu dan lari!"

"Sama sekali tidak boleh! Aku ikut bertarung! Kalau terjadi sesuatu padamu dan hanya aku yang selamat, itu sama saja dengan mati!"

Memang benar, kalau aku mati di sini, target berikutnya adalah Clarice dan si gadis Elf. Bahkan jika berhasil lolos pun, perjalanan setelahnya akan sangat sulit.

"Baiklah! Kalau begitu, setelah kamu membawa anak itu ke tempat aman, berikan perlindungan dengan Magic Arrow!"

Aku mencabut pedang perak Mithril dan berlari menuju si ular raksasa, sementara Clarice berlari ke arah si gadis Elf. Sambil berlari, aku memeriksa statistik ular itu dengan Appraisal, dan deretan angkanya membuatku menyesal telah menantangnya.


[Name] —

[Ras] Hell Snake

[Status] Good

[Level] 5

[HP] 252/252

[MP] 6/6

[Strength] 92

[Agility] 100

[Magic] 1

[Dexterity] 81

[Endurance] 132

[Luck] 1


Statistiknya jauh melampaui Goblin King. Sepertinya dia tidak punya kemampuan khusus, tapi taringnya pasti mengandung racun mematikan. Melawan musuh seperti ini, serangan pertama adalah kunci!

(Wind Cutter!)

Sambil berlari, aku merapal Wind Cutter tanpa suara. Namun secara mengejutkan, Hell Snake itu meliukkan tubuhnya dan menghindar tepat sebelum terkena. Padahal jaraknya masih jauh, tapi dia bisa menghindarinya...

Meski begitu, serangan tadi berhasil memancing perhatian si ular sepenuhnya padaku. Clarice menggunakan kesempatan itu untuk membawa si gadis Elf masuk ke dalam gerbong kereta.

Setelah berhasil menarik perhatiannya, aku terus menembakkan Wind Cutter sambil menjauh perlahan dari kereta. Hell Snake itu terus mengejarku, dan jarak di antara kami mulai terkikis.

Semakin dekat jaraknya, semakin tinggi risiko aku terkena serangannya, tapi di saat yang sama, akurasi Wind Cutter-ku juga meningkat. Buktinya, karena jarak yang makin dekat, si ular mulai kesulitan menghindar. Meski tidak kena telak, kulit terluarnya mulai terkelupas sedikit demi sedikit.

Kupikir aku bisa menghabisinya tanpa luka dengan strategi ini, tapi saat aku mengecek statistiknya lagi, HP-nya sama sekali tidak berkurang. Ternyata dia sengaja menggunakan lapisan kulit mati hasil pergantian kulit untuk melindungi tubuhnya.

Kalau begitu, aku harus mengupas kulit itu dulu!

(Wind Cutter!) (Wind Cutter!) (Wind Cutter!)

Perlahan lapisan kulit matanya terlepas, tapi di saat bersamaan, Hell Snake itu sudah sangat dekat. Saat kulitnya benar-benar terkupas, dia sudah berada hanya beberapa meter di depanku. Ungkapan "membiarkan daging dipotong demi menebas tulang musuh" mendadak terlintas di benakku.

"SHAAAAAAA!"

Si ular meraung, membuka mulut lebar-lebar dan menerjang untuk menggigit. Aku mengaktifkan Sylpheed dan menghindar tipis, lalu memberikan satu tebasan pedang Mithril ke tubuhnya yang tak terlindungi.

"—Apa!?"

Tebasanku memang masuk, tapi daging Hell Snake itu sangat keras. Pedangku terhenti setelah menebas sedalam puluhan sentimeter, dan aku harus mengerahkan tenaga hanya untuk menariknya kembali. Angka Endurance 132 itu ternyata bukan pajangan.

Kalau pedang tidak cukup memberikan kerusakan, maka aku akan menyerang dengan sihir!

Aku kembali menghindar dari gigitannya, dan kali ini aku menghantamnya dengan Air Blade. Meskipun ada sedikit hambatan, bilah angin itu berhasil menyayat tubuh si ular.

"SHAAAAAAAGHHH!!!!!"

Hell Snake itu menggeliat kesakitan. Aku hendak melakukan serangan lanjutan dengan Air Blade, tapi sepertinya dia sudah belajar kalau jangkauan sihirku pendek. Dia meliukkan tubuhnya untuk menghindar, lalu menyabetkan tubuhnya mulai dari pinggang hingga ekor seperti sebuah cambuk ke arahku.

—Gawat! Tidak bisa menghindar!

Aku mencoba menahan benturan dengan pedang Mithril, tapi serangan yang ditambah gaya sentrifugal itu terlalu kuat. Aku terpental sejauh sepuluh meter.

Cepat sekali!? Kecepatan itu ditambah berat tubuhnya menghasilkan daya hancur yang luar biasa. Jika aku tidak memakai Sylpheed, pasti ada tulangku yang patah. Rasa takut membuat gagang pedangku terasa lembap oleh keringat, dan kakiku mulai gemetar.

"Mars!?"

Clarice yang sudah mengamankan gadis Elf di dalam kereta berteriak sambil melepaskan Magic Arrow. Suaranya yang penuh kecemasan itu cukup untuk mengusir rasa takut yang merayap di tubuhku. Kalau aku mati di sini, siapa yang akan menjaga Clarice!

"Cuma dielus sedikit kok! Aku punya rencana! Clarice, teruslah bantu aku dengan Magic Arrow!"

Aku menepuk lututku yang gemetar, mengumpulkan nyali, lalu kembali mengaktifkan Sylpheed. Kali ini, aku yang menerjang ke arah Hell Snake.

Serangannya menjadi sangat kuat karena gerakan mencambuk... itu berarti jika aku mendekat sampai dia tidak bisa mencambuk, serangan ekornya tidak akan terlalu berbahaya!

"UOOOOOOOOO!!!!!"

Setiap langkah yang kuambil membuat rasa takut muncul dari dasar hati, tapi aku mengusirnya dengan teriakan penyemangat! Seolah mendukung tekadku, hujan anak panah sihir turun menghujani si ular.

"KISHAAAAAAA!!!"

Si ular mengintimidasi Clarice yang memanahnya dari jauh, tapi dia tidak bisa mengabaikanku yang menerjang sambil berteriak. Dia kembali menyabetkan ekornya seperti tadi. Aku sudah punya satu jawaban untuk menghadapinya!

(Wind!) (Wind!) (Wind!)

Karena tubuhnya besar, area yang terkena Wind pasti luas. Kupikir ini setidaknya bisa meredam sedikit kekuatan ekornya... tapi efeknya ternyata di luar dugaan.

Saat serangan Wind kedua mengenanya, kekuatannya sudah berkurang drastis sampai tidak perlu dihindari lagi. Dan saat serangan ketiga mendarat telak, ekornya justru terpental balik.

Ini dia kesempatanku!

Sebelum serangan ekor berikutnya datang, aku masuk ke celah pertahanannya dan menembakkan Wind Cutter bertubi-tubi.

(Wind Cutter!) (Wind Cutter!) (Wind Cutter!)

Bahkan Hell Snake pun tidak bisa menghindar jika diserang dari jarak sedekat ini. Apalagi kali ini menggunakan sihir jarak jauh. Darah berwarna menjijikkan pun tepercrat ke mana-mana.

Ditambah lagi anak panah sihir dari belakang juga tepat mengenai sasaran. Aku sempat berpikir kami akan menang, tapi saat itulah...

Sambil mengeluarkan suara intimidasi, Hell Snake membuka mulutnya lebar-lebar. Lidahnya yang panjang, menjijikkan, dan berwarna campuran merah-hijau tampak melilit seperti spiral.

Air liur menetes dari sana, dan saat lidahnya yang melilit itu kembali lurus, cairan itu tersembur ke segala arah.

Secara insting aku tahu itu adalah sesuatu yang tidak boleh disentuh. Aku menjaga jarak sambil menepis air liur itu dengan Wind. Saat air liur itu mengenai batu kecil di tanah, batu itu langsung lenyap diiringi suara penguapan yang cepat.

—Aku sudah tidak bisa mendekat sembarangan lagi... Tapi kalau aku dan Clarice terus menyerang dari jauh, suatu saat dia pasti akan kalah.

Sepertinya Clarice juga berpikiran sama. Kecepatan memanahnya meningkat, mengelupas kulit luar si ular. Seolah tahu kalau dia akan terluka jika mendekat, ular itu juga tidak lagi mengejar secara paksa seperti tadi.

"Bagus! Kita habisi sekarang!"

Saat aku terus menembakkan Wind Cutter dan panah sihir untuk menguras HP-nya, aku menyadari mata si ular yang dingin dan licik itu sedang mengincar sesuatu.

"Gawat! Dia mengincar kereta kuda!"

Jika kami terus mencicilnya dari jauh, kami memang pasti menang, tapi sebelum itu kuda dan gadis Elf itu akan dimakan olehnya.

"Gimana ini!? Apa yang harus kita lakukan!?"

Aku mencoba menarik perhatiannya, tapi Hell Snake itu merendahkan tubuhnya dan meluncur cepat menuju kereta kuda.

Sial! Sampai sejauh ini tapi masih tidak ada cara... Tidak, masih ada satu! Risikonya agak tinggi, tapi sihir itu mungkin bisa!

"Clarice! Tolong tahan dia sebentar!"

Aku memejamkan mata, menjulurkan kedua tangan ke depan, dan memusatkan konsentrasi. Risiko sihir ini adalah waktu aktivasinya yang lama, dan aku tidak bisa melakukan gerakan lain saat merapalnya.

Tapi begitu aktif, situasi ini akan berbalik! Aku mengalirkan mana dari pusat tubuh; mana angin di tangan kanan, dan mana api di tangan kiri.

Bagus! Mana di kedua tanganku sudah cukup! Ini dia! Saat aku membuka mata, mata predator yang tadinya mengincar kereta kini sudah tertuju padaku.

"Mars!"

Clarice menarik busurnya dengan seluruh tenaga, mencoba mengalihkan perhatian si ular dariku. Namun mata licik itu tetap menatapku dan dia menerjang tanpa ragu.

Melihat Hell Snake yang menerjang sambil menyemburkan air liur, aku sempat terpikir untuk membatalkan serangan dan menghindar dengan Wind, tapi itu akan membuatnya mengincar kereta lagi. Aku harus menyelesaikannya di sini!

"Fire Storm!"

Aku melepaskan mana ke arah Hell Snake yang mendekat. Namun sebelum sihir itu aktif, mulut besar si ular sudah hampir menelanku.

"TIDAAAAAAK!!!!!"

Bersamaan dengan jeritan putus asa Clarice, Hell Snake yang hendak menelanku bulat-bulat terpental jauh ke belakang dengan suara seperti kaca pecah.

Di saat yang sama, badai api meledak di sana, menelan si ular dalam sekejap. Badai itu mengurung si ular yang mencoba melarikan diri, dan hanya dalam hitungan detik, dia hangus terbakar tanpa sisa.





Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close