Chapter
2
Ular
Neraka
"Mars, kamu pernah melihat bangsa Elf?"
Setelah meninggalkan Serikat Petualang, kami berjalan
menuju kereta kuda sambil membicarakan pedagang tadi.
"Aku belum pernah. Kalau kamu, Clarice?"
"Aku juga belum. Jangankan Elf, aku baru pernah
melihat manusia saja. Padahal aku dengar di Ibu Kota atau kota labirin besar
ada Beastman dan Dwarf juga... Oh iya, apa rute kita nanti akan
melewati dekat Hutan Iblis?"
"Waktu kecil di Almeria dulu, aku mungkin pernah
melihat orang yang mirip Beastman. Sepertinya kita tidak akan lewat dekat Hutan
Iblis, kok. Soalnya rute dari Count Beetle itu mengutamakan keselamatan nomor
satu."
Aku menunduk dan memastikan rute pilihan Count Beetle.
Anehnya, rute itu justru melewati titik tepat di tengah-tengah antara kota
tetangga dan Hutan Iblis.
Lho? Kalau Hutan Iblis itu berbahaya, seharusnya beliau
memilih rute yang lebih ke utara atau yang mampir ke kota tetangga... Saat aku
memberitahu Clarice tentang rutenya, dia menjawab dengan nada agak menyesal.
"Begitu ya... Padahal kalau bertemu, aku ingin
menolongnya."
"Iya. Tapi seandainya kita berhasil menolongnya pun,
kita hanya bisa menyerahkannya ke Serikat Petualang. Ujung-ujungnya Elf itu
tetap akan dipersembahkan kepada Duke sebagai budak. Kalau dia berhasil kabur
sendiri, mungkin dia akan lebih bahagia."
"Mars benar. Kalau begitu, ayo jalan."
Clarice setuju, lalu kami naik ke kereta dan memacu kuda
ke arah barat.
◆◇◆
Beberapa jam setelah meninggalkan Kota Polo, perjalanan
di rute Count Beetle awalnya terasa lancar. Namun, dari kejauhan, aku melihat
bayangan raksasa yang melingkar.
"Clarice, lihat itu."
Aku memanggil Clarice yang ada di dalam agar dia ikut
melihat.
"Apa itu? Ular... kan? Tapi ular di dunia ini mana
mungkin sebesar itu..."
"Iya. Kalau kita terus ke barat mungkin tidak akan
ketahuan, tapi untuk jaga-jaga, kita putar arah ke utara saja. Clarice, tolong
terus awasi ular itu, ya?"
Karena ukurannya yang raksasa, kami bisa menyadarinya
lebih awal dan berhasil menghindar. Baru saja aku menghela napas lega,
tiba-tiba Clarice berteriak.
"Mars! Berhenti! Ada seseorang yang lari
ke arah ular itu!"
—Apa katanya!? Saat aku menoleh, di sana ada seorang
gadis kecil seumuran adikku, Lina, yang sedang lari tunggang langgang seolah
dikejar sesuatu.
Wajahnya sangat khas; telinga yang panjang dan
runcing dengan rambut berwarna hijau zamrud. Bahkan dari kejauhan, sekali lihat
saja sudah jelas kalau dia adalah seorang Elf.
"Oi! Lihat depan!"
Aku berteriak sekencang mungkin tanpa memancing
perhatian ular raksasa itu. Gadis Elf itu menyadari suaraku dan patuh menatap
ke depan, tapi setelah itu terjadilah hal di luar dugaan.
"KYAAAAAAA!!!!!"
Gadis Elf itu menjerit histeris begitu melihat ular
raksasa di depannya. Suara itu membuat si ular raksasa tersadar, dan sialnya,
keberadaan kami pun ikut terbongkar.
"Lari! Sini!"
Wajah gadis Elf itu basah oleh air mata dan ingus
saat dia berlari sekuat tenaga ke arah kami.
"Mars! Anak itu larinya cepat, tapi monster itu
lebih cepat!"
Benar kata Clarice. Meski kaki gadis Elf itu lumayan
cepat, ular raksasa yang mengejarnya jauh lebih gesit. Jelas
sekali dia tidak akan bisa lolos.
"Sial! Aku akan menahan ular itu! Clarice, bawa anak itu dan
lari!"
"Sama sekali tidak boleh! Aku ikut bertarung! Kalau
terjadi sesuatu padamu dan hanya aku yang selamat, itu sama saja dengan
mati!"
Memang benar, kalau aku mati di sini, target berikutnya
adalah Clarice dan si gadis Elf. Bahkan jika berhasil lolos pun, perjalanan
setelahnya akan sangat sulit.
"Baiklah! Kalau begitu, setelah kamu membawa anak
itu ke tempat aman, berikan perlindungan dengan Magic Arrow!"
Aku mencabut pedang perak Mithril dan berlari
menuju si ular raksasa, sementara Clarice berlari ke arah si gadis Elf. Sambil
berlari, aku memeriksa statistik ular itu dengan Appraisal, dan deretan
angkanya membuatku menyesal telah menantangnya.
[Name]
—
[Ras]
Hell Snake
[Status]
Good
[Level]
5
[HP]
252/252
[MP]
6/6
[Strength]
92
[Agility]
100
[Magic]
1
[Dexterity]
81
[Endurance]
132
[Luck]
1
Statistiknya
jauh melampaui Goblin King. Sepertinya dia tidak punya kemampuan khusus, tapi
taringnya pasti mengandung racun mematikan. Melawan musuh seperti ini, serangan
pertama adalah kunci!
(Wind
Cutter!)
Sambil
berlari, aku merapal Wind Cutter tanpa suara. Namun secara mengejutkan, Hell
Snake itu meliukkan tubuhnya dan menghindar tepat sebelum terkena. Padahal
jaraknya masih jauh, tapi dia bisa menghindarinya...
Meski
begitu, serangan tadi berhasil memancing perhatian si ular sepenuhnya padaku.
Clarice menggunakan kesempatan itu untuk membawa si gadis Elf masuk ke dalam
gerbong kereta.
Setelah
berhasil menarik perhatiannya, aku terus menembakkan Wind Cutter sambil
menjauh perlahan dari kereta. Hell Snake itu terus
mengejarku, dan jarak di antara kami mulai terkikis.
Semakin dekat jaraknya, semakin tinggi risiko aku terkena
serangannya, tapi di saat yang sama, akurasi Wind Cutter-ku juga
meningkat. Buktinya, karena jarak yang makin dekat, si ular mulai kesulitan
menghindar. Meski tidak kena telak, kulit terluarnya mulai terkelupas sedikit
demi sedikit.
Kupikir aku bisa menghabisinya tanpa luka dengan strategi
ini, tapi saat aku mengecek statistiknya lagi, HP-nya sama sekali tidak
berkurang. Ternyata dia sengaja menggunakan lapisan kulit mati hasil pergantian
kulit untuk melindungi tubuhnya.
Kalau begitu, aku harus mengupas kulit itu dulu!
(Wind
Cutter!) (Wind Cutter!) (Wind Cutter!)
Perlahan lapisan kulit matanya terlepas, tapi di saat
bersamaan, Hell Snake itu sudah sangat dekat. Saat kulitnya benar-benar
terkupas, dia sudah berada hanya beberapa meter di depanku. Ungkapan "membiarkan daging dipotong demi menebas tulang
musuh" mendadak terlintas di benakku.
"SHAAAAAAA!"
Si ular meraung, membuka mulut lebar-lebar dan
menerjang untuk menggigit. Aku mengaktifkan Sylpheed dan menghindar
tipis, lalu memberikan satu tebasan pedang Mithril ke tubuhnya yang tak
terlindungi.
"—Apa!?"
Tebasanku memang masuk, tapi daging Hell Snake
itu sangat keras. Pedangku terhenti setelah menebas sedalam puluhan sentimeter,
dan aku harus mengerahkan tenaga hanya untuk menariknya kembali. Angka Endurance
132 itu ternyata bukan pajangan.
Kalau pedang tidak cukup memberikan kerusakan, maka
aku akan menyerang dengan sihir!
Aku kembali menghindar dari gigitannya, dan kali ini
aku menghantamnya dengan Air Blade. Meskipun ada sedikit hambatan, bilah
angin itu berhasil menyayat tubuh si ular.
"SHAAAAAAAGHHH!!!!!"
Hell Snake itu
menggeliat kesakitan. Aku hendak melakukan serangan lanjutan dengan Air
Blade, tapi sepertinya dia sudah belajar kalau jangkauan sihirku pendek.
Dia meliukkan tubuhnya untuk menghindar, lalu menyabetkan tubuhnya mulai dari
pinggang hingga ekor seperti sebuah cambuk ke arahku.
—Gawat! Tidak bisa menghindar!
Aku mencoba menahan benturan dengan pedang Mithril,
tapi serangan yang ditambah gaya sentrifugal itu terlalu kuat. Aku terpental
sejauh sepuluh meter.
Cepat sekali!? Kecepatan itu ditambah berat tubuhnya
menghasilkan daya hancur yang luar biasa. Jika aku
tidak memakai Sylpheed, pasti ada tulangku yang patah. Rasa takut
membuat gagang pedangku terasa lembap oleh keringat, dan kakiku mulai gemetar.
"Mars!?"
Clarice yang sudah mengamankan gadis Elf di dalam kereta
berteriak sambil melepaskan Magic Arrow. Suaranya yang penuh kecemasan
itu cukup untuk mengusir rasa takut yang merayap di tubuhku. Kalau aku mati di
sini, siapa yang akan menjaga Clarice!
"Cuma dielus sedikit kok! Aku punya rencana! Clarice, teruslah bantu aku
dengan Magic Arrow!"
Aku
menepuk lututku yang gemetar, mengumpulkan nyali, lalu kembali mengaktifkan Sylpheed.
Kali ini, aku yang menerjang ke arah Hell Snake.
Serangannya
menjadi sangat kuat karena gerakan mencambuk... itu berarti jika aku mendekat
sampai dia tidak bisa mencambuk, serangan ekornya tidak akan terlalu berbahaya!
"UOOOOOOOOO!!!!!"
Setiap
langkah yang kuambil membuat rasa takut muncul dari dasar hati, tapi aku
mengusirnya dengan teriakan penyemangat! Seolah mendukung tekadku, hujan anak
panah sihir turun menghujani si ular.
"KISHAAAAAAA!!!"
Si ular
mengintimidasi Clarice yang memanahnya dari jauh, tapi dia tidak bisa
mengabaikanku yang menerjang sambil berteriak. Dia kembali menyabetkan ekornya
seperti tadi. Aku sudah punya satu jawaban untuk menghadapinya!
(Wind!)
(Wind!) (Wind!)
Karena
tubuhnya besar, area yang terkena Wind pasti luas. Kupikir ini
setidaknya bisa meredam sedikit kekuatan ekornya... tapi efeknya ternyata di
luar dugaan.
Saat
serangan Wind kedua mengenanya, kekuatannya sudah berkurang drastis
sampai tidak perlu dihindari lagi. Dan saat serangan ketiga mendarat
telak, ekornya justru terpental balik.
Ini dia kesempatanku!
Sebelum serangan ekor berikutnya datang, aku masuk ke
celah pertahanannya dan menembakkan Wind Cutter bertubi-tubi.
(Wind
Cutter!) (Wind Cutter!) (Wind Cutter!)
Bahkan Hell Snake pun tidak bisa menghindar
jika diserang dari jarak sedekat ini. Apalagi kali ini menggunakan sihir
jarak jauh. Darah berwarna menjijikkan pun tepercrat ke mana-mana.
Ditambah lagi anak panah sihir dari belakang juga tepat
mengenai sasaran. Aku sempat berpikir kami akan menang, tapi saat itulah...
Sambil mengeluarkan suara intimidasi, Hell Snake
membuka mulutnya lebar-lebar. Lidahnya yang panjang, menjijikkan, dan berwarna
campuran merah-hijau tampak melilit seperti spiral.
Air liur menetes dari sana, dan saat lidahnya yang
melilit itu kembali lurus, cairan itu tersembur ke segala arah.
Secara insting aku tahu itu adalah sesuatu yang tidak
boleh disentuh. Aku menjaga jarak sambil menepis air liur itu dengan Wind.
Saat air liur itu mengenai batu kecil di tanah, batu itu langsung lenyap
diiringi suara penguapan yang cepat.
—Aku sudah tidak bisa mendekat sembarangan lagi... Tapi
kalau aku dan Clarice terus menyerang dari jauh, suatu saat dia pasti akan
kalah.
Sepertinya Clarice juga berpikiran sama. Kecepatan
memanahnya meningkat, mengelupas kulit luar si ular. Seolah tahu kalau dia akan
terluka jika mendekat, ular itu juga tidak lagi mengejar secara paksa seperti
tadi.
"Bagus! Kita habisi sekarang!"
Saat aku terus menembakkan Wind Cutter dan panah
sihir untuk menguras HP-nya, aku menyadari mata si ular yang dingin dan
licik itu sedang mengincar sesuatu.
"Gawat! Dia mengincar kereta kuda!"
Jika kami terus mencicilnya dari jauh, kami memang
pasti menang, tapi sebelum itu kuda dan gadis Elf itu akan dimakan olehnya.
"Gimana ini!? Apa yang harus kita lakukan!?"
Aku mencoba menarik perhatiannya, tapi Hell Snake
itu merendahkan tubuhnya dan meluncur cepat menuju kereta kuda.
Sial! Sampai sejauh ini tapi masih tidak ada cara...
Tidak, masih ada satu! Risikonya agak tinggi, tapi sihir itu mungkin bisa!
"Clarice!
Tolong tahan dia sebentar!"
Aku memejamkan mata, menjulurkan kedua tangan ke depan,
dan memusatkan konsentrasi. Risiko sihir ini adalah waktu aktivasinya yang
lama, dan aku tidak bisa melakukan gerakan lain saat merapalnya.
Tapi begitu aktif, situasi ini akan berbalik! Aku
mengalirkan mana dari pusat tubuh; mana angin di tangan kanan, dan mana api di
tangan kiri.
Bagus! Mana di kedua tanganku sudah cukup! Ini dia! Saat
aku membuka mata, mata predator yang tadinya mengincar kereta kini sudah
tertuju padaku.
"Mars!"
Clarice menarik busurnya dengan seluruh tenaga, mencoba
mengalihkan perhatian si ular dariku. Namun mata licik itu tetap menatapku dan
dia menerjang tanpa ragu.
Melihat Hell Snake yang menerjang sambil
menyemburkan air liur, aku sempat terpikir untuk membatalkan serangan dan
menghindar dengan Wind, tapi itu akan membuatnya mengincar kereta lagi. Aku harus menyelesaikannya di sini!
"Fire Storm!"
Aku melepaskan mana ke arah Hell Snake yang
mendekat. Namun sebelum sihir itu aktif, mulut besar si ular sudah hampir
menelanku.
"TIDAAAAAAK!!!!!"
Bersamaan dengan jeritan putus asa Clarice, Hell
Snake yang hendak menelanku bulat-bulat terpental jauh ke belakang dengan
suara seperti kaca pecah.
Di saat yang sama, badai api meledak di sana, menelan
si ular dalam sekejap. Badai itu mengurung si ular yang mencoba melarikan diri,
dan hanya dalam hitungan detik, dia hangus terbakar tanpa sisa.



Post a Comment