Chapter 13
Bayangan yang Menggeliat
Blair
sedang mengawasi seseorang.
Ia
mendapatkan perintah rahasia ini langsung dari Count Beetle. Sejak mulai
mengintai, ia segera merasa bahwa orang ini benar-benar mencurigakan.
Seharusnya
orang ini memiliki tugas dari sang Count. Namun, entah kenapa dia justru sering
terlihat mendatangi toko senjata dan toko perlengkapan... Di tengah kota pun
dia tampak mengobrol dengan warga biasa, tapi setelah diselidiki, mereka semua
adalah orang-orang dengan asal-usul yang tidak jelas.
Blair
terus melakukan pengintaian bersama beberapa anak buahnya, berusaha agar
keberadaannya tidak disadari oleh subjek pengawasannya tersebut.
◆◇◆
Dua bulan
telah berlalu sejak aku dan Clarice mulai rutin masuk ke Dungeon.
Hari ini,
kami akan mulai berburu di 'Spawn Room'. Level Clarice sudah naik pesat, dan
sekarang dia sudah bisa menghabisi monster sekelas Hobgoblin dengan mudah tanpa
perlu aku menjadi umpan lagi.
Inilah status Clarice saat ini:
[Name] Clarice Lampard
[Status] Human / Rakyat Jelata
[Age] 7 Tahun
[Level] 14 (+3)
[HP] 70/70
[MP] 518/518
[Strength] 28 (+5)
[Agility] 30 (+6)
[Magic] 44 (+8)
[Dexterity] 42 (+10)
[Endurance] 28 (+6)
[Unique Ability] Barrier Magic G (Lv0/5)
[Special Ability] Spearmanship C (Lv3/15), Archery B
(Lv2/17), Water Magic C (Lv2/15), Holy Magic A (Lv6/19)
[Equipment] Defender, Magic Arrow, Mysterious Anklet
Jumlah Goblin di lantai satu dan dua sudah mulai stabil.
Sekarang jumlahnya hanya sedikit lebih banyak dibandingkan Dungeon
Ilgusia.
Sejak beberapa hari lalu, kami mulai membawa makanan awetan
agar bisa berlama-lama di dalam Dungeon. Setelah meletakkan perbekalan
di Safe Zone, kami menaklukkan ruangan besar di lantai dua dan sekarang
sedang menyusuri lantai tiga.
Sebentar lagi kami sampai di 'Spawn Room'. Sambil berjalan,
aku bicara pada Clarice.
"Awalnya biarkan aku yang membasmi mereka semua, jadi
tolong perhatikan baik-baik. Aku sudah menjelaskan mekanisme 'Spawn Room' tadi,
tapi aku takut kamu akan panik kalau melihatnya secara langsung."
"Aku mengerti. Lagipula aku sudah tidak sabar ingin
melihat Wind Cutter milikmu secara langsung."
Benar, aku memang belum pernah menggunakan Wind Cutter
di depan Clarice. Selama ini aku hanya berkonsentrasi menjadi umpan,
meminimalisir serangan, dan memprioritaskan keselamatan Clarice di atas
segalanya.
'Spawn Room' di sini terletak di posisi yang sama dengan di
Ilgusia, tapi ada satu perbedaan. Seperti dugaanku, sudah ada tiga puluh Goblin
General di sana sejak awal, dan pusaran pemanggilnya pun ada tiga puluh titik.
Beberapa waktu lalu, pasukan ksatria bilang hanya ada dua
puluh titik, jadi ini berarti Dungeon ini sendiri berevolusi atau
mengalami perubahan.
Bagiku, dua puluh atau tiga puluh Goblin General tidak ada
bedanya. Malah aku lebih senang jika ada tiga puluh karena bisa mendapatkan
lebih banyak Experience.
Clarice tampak gugup melihat banyaknya jumlah Goblin
General. Mungkin dia merasa sedikit
takut.
"A-apa benar
tidak apa-apa? Jumlahnya tidak normal, lho. Bukankah ini mustahil jika tidak
dihadapi oleh seluruh pasukan ksatria...?"
"Tenang
saja, Clarice. Berapa pun jumlah Goblin General-nya, aku pasti menang.
Perhatikan, ya."
Sedikit ingin
pamer di depan Clarice, aku pun maju untuk membantai para Goblin General
tersebut.
◆◇◆
Clarice menatap
punggung Mars yang melangkah menuju kerumunan Goblin General.
Biasanya Mars
bertarung dengan pedang di tangan kanannya, tapi kali ini dia tidak membawa
perlengkapan apa pun.
Namun,
begitu Mars mengayunkan tangannya ke samping, para Goblin General di depannya
terbelah menjadi dua. Baju zirah maupun senjata mereka tidak ada artinya.
Hanya
dengan satu ayunan tangan, Goblin General yang menjadi target beserta
kawanannya di sekitar langsung terpotong secara bersamaan.
Tidak
butuh waktu dua menit untuk menghabisi tiga puluh ekor.
Hal yang
mengejutkan adalah mayat-mayat Goblin General itu sudah tidak ada lagi. Di saat
mereka terbelah, mereka langsung berubah menjadi Magic Stone.
Luar biasa. Clarice benar-benar mengaguminya.
Orang biasa
mungkin akan merasa ketakutan melihat kekuatan itu. Namun, Clarice justru
merasa senang dan bangga.
Jika orang itu
bukan Mars, mungkin Clarice pun akan merasa takut. Namun, kepercayaan mutlaknya
pada Mars membuat rasa takut itu tidak sempat muncul.
◆◇◆
Setelah membantai
habis para Goblin General, aku justru merasa sedikit menyesal.
Aku berlebihan...
karena terlalu bersemangat ingin terlihat keren di depan Clarice, aku jadi
kelewatan. Dia pasti takut padaku sekarang...
Saat aku menoleh
ke belakang dengan perasaan waswas, Clarice justru berlari dan memelukku erat.
"Hebat!
Mars! Kamu benar-benar hebat!"
Karena
serangan mendadak itu, aku tidak sanggup menahan beban tubuhnya dan kami berdua
terjatuh. Tentu saja, aku tetap mendekap Clarice agar dia tidak terluka.
"Kamu tidak
takut?"
"Sama sekali
tidak! Malah aku menonton dengan perasaan tenang."
"Bukan
itu... maksudku, kamu tidak takut padaku?"
"Mana
mungkin aku takut padamu!? Aku justru senang dan bangga. Rasanya aku ingin pamer ke semua orang kalau kita berasal dari kehidupan
yang sama!"
Aku pun rasanya
ingin pamer kalau aku bisa berbagi rahasia dengan gadis secantik ini. Setelah
menghabiskan momen manis sejenak...
"Omong-omong,
jika ruangan ini dibersihkan sendirian dalam waktu kurang dari tiga puluh
menit, seharusnya peti harta karun akan muncul... ah, itu dia!"
Begitu aku
mengatakannya, Clarice pun ikut berlari menuju peti tersebut. Saat kuperiksa,
itu adalah peti dengan nilai Value 2. Begitu peti dibuka, sebuah kristal
muncul.
[Name] Appraisal Crystal
[Value] E
[Details] Bisa digunakan satu kali untuk melakukan Appraisal
pada orang atau benda.
Benda ini lumayan
berguna meski hanya bisa dipakai sekali. Karena bisa meningkatkan motivasi
untuk menaikkan level, nanti akan kuberikan pada Clarice. Melihat status dengan
mata kepala sendiri pasti lebih memacu semangat daripada hanya mendengar
dariku.
"Baiklah,
sebentar lagi para Goblin General akan muncul kembali. Mari keluar dulu dan
menunggu mereka semua bangkit. Aku punya sebuah rencana."
Clarice
mengangguk tanpa bertanya apa pun, dia benar-benar mempercayaiku. Dan berkat
strategiku ini, dua minggu kemudian level Clarice berhasil melampaui levelku.
"Begitu
mati, yang berikutnya akan langsung muncul! Semangat!"
"Iya!
Mana-ku masih cukup banyak, jadi aku akan mencicil nyawa mereka dengan Magic
Arrow baru setelah itu menghabisinya dengan Defender!"
Aku terus
mengawasi pertarungan Clarice. Dia sekarang sudah sanggup mengalahkan satu
Goblin General dalam duel satu lawan satu. Namun, akan berbahaya jika dia harus
menghadapi lebih dari satu.
Jadi, begitu kami
masuk ke 'Spawn Room', aku akan menghabisi mereka satu per satu setiap
menitnya. Setelah tersisa satu ekor, aku bertukar posisi dengan Clarice. Dengan
begitu, Clarice bisa fokus bertarung satu lawan satu selama satu menit.
Jika
Clarice terkena serangan, aku akan langsung merapal Heal. Clarice belum
bisa menumbangkan mereka dalam satu serangan, jadi dia membidik mata Goblin
General dengan Magic Arrow untuk membutakan pandangan mereka, baru
kemudian memberikan tebasan penuntas dengan Defender.
Meskipun
bidikan Magic Arrow-nya belum akurat mengenai mata, setidaknya panah itu
mengenai area wajah sehingga membuat musuh gentar.
Apalagi
musuh yang baru saja muncul belum memahami situasi sekitar, mustahil bagi
mereka untuk sempat bereaksi terhadap anak panah yang datang.
Terkadang
dia butuh waktu lebih dari satu menit untuk menang, dan di saat itulah aku yang
akan membereskan Goblin General berikutnya.
Yah, itu
hanya terjadi di awal masa perburuan, sekarang dia sudah tidak butuh bantuan
lagi.
"Setelah
mengalahkan yang satu ini, mari kembali ke Safe Zone!"
Clarice hanya
mengangguk, dia tidak mengeluarkan suara sepertinya karena sudah sangat lelah.
Clarice adalah
tipe yang tidak akan pernah meminta istirahat atas kemauannya sendiri. Jadi,
kalau aku tidak peka melihat ekspresi dan gerak-geriknya, bisa-bisa dia celaka.
Pernah sekali,
saat dia mencoba menebas dengan Defender setelah membutakan mata musuh,
tangannya kehilangan tenaga hingga pedangnya terlempar. Jantungku rasanya mau
copot saat itu.
Tapi,
menghabiskan waktu berburu Goblin General bersamanya terasa sangat
menyenangkan. Bukan hanya saat berburu, saat bersamanya pun aku selalu merasa
bahagia. Di kehidupan sebelumnya, masa mudaku habis hanya untuk berjuang
sendirian.
Ternyata
berjuang bersama orang lain itu benar-benar menyenangkan. Apalagi rekanku
adalah gadis yang sangat cantik. Rasanya hidupku sudah seperti karakter utama
yang punya segalanya.
Sejak aku
dan Clarice rajin masuk ke Dungeon, insiden Monster Overflow
tidak pernah terjadi lagi.
Count
Beetle menjelaskan kepada penduduk bahwa ini berkat kami yang rutin menaklukkan
Dungeon. Hasilnya, sebutan Master Pedang untukku dan Gadis Suci
untuk Clarice semakin melekat kuat.
Namun ada sisi baiknya, kami jadi sangat akrab dengan warga
Granzam. Mungkin berteman dengan warga negara musuh adalah hal buruk, tapi
bagiku tidak begitu. Penduduk mau menerimaku yang tidak pernah mengungkap
asal-usul ini karena Clarice sering berkunjung ke klinik untuk merapal Heal,
dan karena aku telah menghentikan Monster Overflow.
Kabarnya,
jumlah penduduk juga meningkat setelah situasi stabil. Gray bilang, banyak
orang berpikir kalau Monster Overflow sudah terjadi sekali maka tidak
akan terjadi lagi dalam waktu dekat, sehingga banyak migran dari kota lain yang
berdatangan.
Setiap
kali mendapatkan Potion dari peti harta karun, kami menjualnya ke toko
perlengkapan, begitu pula dengan ingot yang kami jual ke toko senjata.
Meski
harga pasar sedang melonjak, kami menjualnya dengan harga normal. Toko-toko
tersebut akhirnya ikut menekan harga jual mereka, dan hal ini membuat seluruh
warga kota senang.
Gray dan
Erna pun sudah tidak lagi waspada padaku; mereka tampak sudah percaya
sepenuhnya.
Mereka
bahkan mulai mengizinkan Clarice menginap di luar untuk berburu Goblin General.
Sejujurnya,
aku sempat terpikir untuk menetap saja di kota Granzam ini. Aku menyukai
penduduknya, suasananya, dan yang terpenting... aku menyukai Clarice.
"Mari kita
kuras MP-mu di 'Spawn Room' sekali lagi, setelah itu kita pulang untuk
hari ini."
"Ide bagus. Aku sudah ingin cepat-cepat mandi air
hangat."
"Iya. Setelah seminggu lagi rutin ke 'Spawn Room', mari
kita coba berlatih Barrier Magic. Setelah kamu menguasainya, barulah
kita masuk ke ruang bos dan menyelesaikan Dungeon Granzam ini..."
"Iya...
benar juga... kita harus segera menyelesaikannya... ya."
Belakangan ini,
setiap kali aku membahas soal menamatkan Dungeon, suara Clarice selalu
mengecil. Karena kami berdua sadar, kebersamaan kami ini akan berakhir begitu Dungeon
Granzam ditaklukkan.
Kembali ke Safe
Zone, kami tidur saling bersandar bahu di dinding labirin. Setelah sesi
berburu selesai, kami kembali ke kota, mengobrol dengan warga, lalu mampir ke
toko perlengkapan dan senjata untuk menyetor hasil buruan.
Kami sudah jarang
ke klinik karena monster di sekitar Granzam sudah habis dibasmi oleh ksatria
dan petualang. Saat hendak kembali ke rumah Lampard setelah dari toko, aku
merasakan sesuatu yang janggal.
"Kamu
merasa ada yang mengawasi tidak?"
"Tidak
tuh? Apa ada yang melihat
kita?"
Sepertinya
Clarice tidak menyadarinya. Belakangan ini sesekali aku merasakannya, bukan
sekadar dipandangi, tapi lebih seperti diawasi secara intens. Meski aku
berakting seolah tidak sadar sambil melihat sekeliling, aku tetap tidak bisa
menemukan pelakunya.
Orang-orang
yang mengagumi Master Pedang atau Gadis Suci tidak akan merasa perlu
bersembunyi. Aku sempat berpikir mungkin aku hanya kelelahan. Tapi, daripada
celaka karena lengah, lebih baik aku terlalu waspada. Aku terus menjaga Clarice
sampai kami tiba di rumah.
Di rumah,
kami mandi dan makan malam. Karena merasa tidak enak terus menumpang, aku
diam-diam memberikan uang kepada keluarga Lampard tanpa sepengetahuan Clarice.
Kondisi finansialku sedang sangat baik, jadi itu bukan masalah besar.
Aku
melihat ke luar jendela. Hari sudah mulai petang. Perasaan janggal tadi sudah
hilang, dan Clarice sudah tertidur pulas di sofa ruang tamu karena kelelahan. Aku
pun melakukan Appraisal padanya.
[Name] Clarice Lampard
[Status] Human / Rakyat Jelata
[Age] 7 Tahun
[Level] 19 (+5)
[HP] 90/90
[MP] 0/540
[Strength] 37 (+9)
[Agility] 40 (+10)
[Magic] 55 (+11)
[Dexterity] 57 (+15)
[Endurance] 38 (+10)
[Unique Ability] Barrier Magic G (Lv0/5)
[Special Ability] Spearmanship C (Lv3/15), Archery B
(Lv4/17), Water Magic C (Lv2/15), Holy Magic A (Lv6/19)
Kenaikan
level yang luar biasa. Dia sudah melampauiku. Berdasarkan penjelasan Demi-God,
jumlah Experience yang dibutuhkan untuk naik level itu berbeda bagi tiap
individu.
Jelas
Clarice butuh lebih sedikit, sementara aku butuh sangat banyak... ditambah lagi
berkat kemampuanku yang membuatnya jadi tiga kali lipat. Yah, aku sudah
menduganya.
Karena
Clarice menggunakan pedang, Agility dan Dexterity-nya meningkat.
Penggunaan Magic Arrow juga menaikkan Magic dan Dexterity.
Karena dia sering menerima serangan, Endurance-nya pun naik, begitu pula
Strength karena dia memakai senjata fisik.
Hal yang
mengejutkan adalah begitu nilai Dexterity miliknya melewati angka 50,
Clarice mulai bisa merapal Holy Magic tanpa mantra (Chantless).
Ini membuktikan
satu hal: kemampuan tanpa mantra itu bergantung pada bakat. Setidaknya, jika
punya bakat peringkat A dan Dexterity minimal 50, sihir bisa dirapal
tanpa mantra.
Alasanku yakin
adalah karena aku sendiri belum bisa merapal Holy Magic tanpa mantra
meski nilai Dexterity-ku lebih tinggi dan level sihirku sama. Mungkin
ada faktor perbedaan usaha, tapi Clarice bilang dia bisa melakukannya begitu
saja dengan mudah. Sama seperti sihir anginku dulu.
Kalau begitu,
jika aku mempelajari Lightning Magic, mungkin aku juga bisa merapalnya
tanpa mantra... tapi sampai sekarang sihir petirku belum juga muncul. Yah, itu
semua soal usaha, jadi aku harus bersabar. Bagaimanapun juga, pertumbuhan
Clarice sangat lancar.
Seminggu lagi,
kami akan mulai melatih Barrier Magic. Momen-momen menyenangkanku
bersama Clarice sudah hampir mencapai penghujung.
◆◇◆
Kenapa anak ini
hanya bolak-balik antara Dungeon, toko senjata, dan toko perlengkapan?
Apa dia pikir perintah Count Beetle itu main-main? Lagipula, aku heran kenapa
anak itu diizinkan masuk ke dalam Dungeon. Yang jelas, aku tahu dia
sedang merencanakan sesuatu.
Blair bersama
anak buahnya masih terus mengawasi orang tersebut hari ini.
◆◇◆
Seminggu
lagi berlalu sejak sesi berburu Goblin General dimulai. Level Clarice naik
lebih cepat daripada Ike, sekarang sudah mencapai level 20. Hari ini kami mulai
melatih Barrier Magic-nya.
Namun,
jujur saja aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tidak ada buku sihir, dan
tentu saja tidak ada yang bisa mengajari. Kami datang ke 'Spawn Room' tanpa
petunjuk apa pun.
"Barrier
Magic... aku bisa membayangkan sihir seperti apa itu, tapi sepertinya tidak
akan mudah untuk dipelajari ya."
"Anggap
saja bonus jika kamu bisa memakainya, yang penting kita coba usaha semaksimal
mungkin dulu."
Sejujurnya, aku
sangat ingin dia menguasainya demi keselamatannya sendiri. Sesuai namanya, itu
pasti sihir pelindung diri. Tapi aku tidak ingin memberinya beban, jadi aku
memilih kata-kata tadi. Momen
latihan yang menyenangkan ini terus berlalu.
"Maaf
ya, Mars. Kamu sudah
menemaniku sejauh ini. Tapi jujur saja, kalau sudah berusaha sekeras ini dan
tetap tidak bisa, rasanya sedikit bikin stres..."
"Mau
bagaimana lagi. Itu adalah sihir yang hanya bisa kamu gunakan. Besok adalah
hari kita menyerbu ruang bos, jadi cukup untuk hari ini dan istirahatlah di
rumah."
Meskipun sudah
berlatih seminggu penuh, Barrier Magic itu belum juga bisa dikuasai.
Akhirnya, pagi
hari penaklukan ruang bos Dungeon Granzam pun tiba. Clarice sudah
berusaha sangat keras sampai titik ini.
[Name] Clarice Lampard [Level] 20 (+1) [HP]
94/94 [MP] 549/549 [Strength] 39 (+2) [Agility] 42 (+2) [Magic]
57 (+2) [Dexterity] 61 (+3) [Endurance] 40 (+2) [Special
Ability] Spearmanship C (Lv3/15), Archery B (Lv4/17), Water
Magic C (Lv2/15), Holy Magic A (Lv6/19)
Berkat
bakat dan kenaikan levelnya, statusnya meningkat drastis. Alasan statusnya
masih di bawahku atau Ike adalah karena dia baru mulai berlatih belakangan ini.
Meski
begitu, kekuatannya sudah setara dengan petualang peringkat C atau D. Mungkin
dia sedikit lebih lemah karena kurang pengalaman bertarung sungguhan
dibandingkan orang dengan status serupa.
Sedangkan
aku, meski levelku tidak naik, statusku meningkat karena terus menjadi umpan
dan menggunakan sihir. Kami tidak memberitahu Gray dan Erna kalau kami akan
menyerbu ruang bos hari ini. Namun sepertinya mereka bisa merasakannya dari
atmosfer kami.
Saat
hendak keluar rumah, mereka berpesan "Kalian harus pulang dengan
selamat" dan "Kalau merasa tidak sanggup, tidak harus hari ini pun
tidak apa-apa".
Dengan
perasaan berat hati, kami meninggalkan rumah Lampard dan menuju ke Serikat
Petualang. Hari ini Count Beetle akan ikut masuk ke dalam Dungeon.
Beliau
tidak akan sampai ke ruang bos, tapi beliau ingin ikut sampai ke Safe Zone
untuk mengawasi kami.
Kami
berjanji bertemu sang Count di Serikat Petualang. Karena tidak ingin beliau
menunggu, kami sampai di sana satu jam lebih awal. Namun, hampir bersamaan
dengan kedatangan kami, Count Beetle pun tiba.
"Oya,
aku sudah berusaha datang lebih awal, tapi sepertinya aku malah membuat kalian
menunggu ya?"
"Tidak, kami
juga baru saja sampai."
"Berjuanglah
hari ini. Kamu bisa menaruh harapan besar pada imbalannya nanti."
"Terima
kasih. Kalau begitu, mari kita segera berangkat."
"Tunggu
sebentar, hari ini aku membawa beberapa orang dari pasukan ksatria. Meski itu
adalah Safe Zone, aku merasa sedikit kurang aman jika hanya
sendirian."
Sepuluh orang anggota ksatria muncul dari belakang sang
Count. Salah satu pria di antara
mereka maju menyapa.
"Ini bukan
pertemuan pertama kita, tapi baru kali ini kita bicara secara formal. Aku
Blair, komandan pasukan ksatria. Tuan Mars, terima kasih telah membantu kami di
saat kritis sewaktu Monster Overflow. Aku terlambat mengucapkannya, tapi
terima kasih banyak. Dan Nona Clarice, terima kasih telah mengobati para
ksatria. Hari ini kami akan mengawal sang Count, jadi izinkan kami ikut
serta."
""Mohon
bantuannya.""
Kesan pertamaku
terhadap Blair adalah dia orang yang agung dan disiplin. Tipe orang yang tidak
akan mentolerir kesalahan dan mungkin sedikit kaku. Aku mencoba
melakukan Appraisal padanya.
[Name] Blair Blaze
[Status] Human / Kepala Keluarga Baronet Blaze
[Level] 27
[HP] 182/182
[MP] 5/5
[Strength] 44
[Agility] 40
[Endurance] 60
[Special Ability] Spearmanship E (Lv5/11), Spearmanship D
(Lv7/13), Axemanship E (Lv4/11)
[Equipment] Silver Sword, Silver Spear, Hand Axe, Silver
Armor
Dia punya
bakat pedang, tombak, dan kapak. Aku tidak tahu apakah ini bawaan lahir atau
hasil dari pekerjaannya melindungi rakyat, tapi HP dan Endurance-nya
sangat tinggi. Sebagai komandan ksatria, ternyata dia menyandang gelar Baronet.
Karena
jarak dari Serikat Petualang ke Dungeon Granzam dekat, kami memilih
untuk berjalan kaki. Aku dan Clarice berjalan di depan berdampingan, sementara
para ksatria mengawal sang Count di belakang kami.
Setelah berjalan
beberapa saat, aku merasakan kejanggalan. Perasaan diawasi yang kurasakan
beberapa hari terakhir muncul lagi. Kali ini aku bisa merasakannya dengan jauh
lebih jelas.
"Clarice,
kamu merasa ada yang mengawasi tidak?"
"Kalau kamu
bilang begitu, kurasa aku merasakannya... apa mungkin dari arah belakang?"
"Iya,
lagipula ini masih pagi sebelum penduduk beraktivitas. Jelas itu bukan
warga biasa."
Aku
memperlambat langkah dan mendekati sang Count.
"Count
Beetle, Komandan Blair, saya merasakan sesuatu yang aneh, apa ini hanya
perasaan saya saja?"
"Kejanggalan
seperti apa?" tanya sang Count terkejut.
"Sudah sejak
beberapa waktu lalu saya merasa ada yang mengawasi. Hari ini rasanya sangat
kuat..."
"Soal itu,
mari kita bahas setelah penaklukan Dungeon. Aku sudah menyiapkan langkah
antisipasi, jadi Mars-kun, fokuslah saja pada penaklukan."
Kali ini
aku yang terkejut. Ternyata sang Count juga menyadari pengawasan itu, dan
bahkan sepertinya beliau sudah tahu siapa pelakunya. Aku kembali ke samping
Clarice dan menceritakan hal itu.
"Sepertinya
memang ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuan kita ya. Tapi sang Count benar, mari kita fokus
menamatkan Dungeon ini."
"Baiklah.
Kalau terjadi sesuatu, segera beritahu aku. Aku tidak ingin ada penyesalan."
Dengan sedikit rasa cemas yang mengganjal di hati, kami pun melangkah memasuki Dungeon.



Post a Comment