NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 1 Chapter 13

Chapter 13

Bayangan yang Menggeliat


Blair sedang mengawasi seseorang.

Ia mendapatkan perintah rahasia ini langsung dari Count Beetle. Sejak mulai mengintai, ia segera merasa bahwa orang ini benar-benar mencurigakan.

Seharusnya orang ini memiliki tugas dari sang Count. Namun, entah kenapa dia justru sering terlihat mendatangi toko senjata dan toko perlengkapan... Di tengah kota pun dia tampak mengobrol dengan warga biasa, tapi setelah diselidiki, mereka semua adalah orang-orang dengan asal-usul yang tidak jelas.

Blair terus melakukan pengintaian bersama beberapa anak buahnya, berusaha agar keberadaannya tidak disadari oleh subjek pengawasannya tersebut.

◆◇◆

Dua bulan telah berlalu sejak aku dan Clarice mulai rutin masuk ke Dungeon.

Hari ini, kami akan mulai berburu di 'Spawn Room'. Level Clarice sudah naik pesat, dan sekarang dia sudah bisa menghabisi monster sekelas Hobgoblin dengan mudah tanpa perlu aku menjadi umpan lagi.

Inilah status Clarice saat ini:


[Name] Clarice Lampard

[Status] Human / Rakyat Jelata

[Age] 7 Tahun

[Level] 14 (+3)

[HP] 70/70

[MP] 518/518

[Strength] 28 (+5)

[Agility] 30 (+6)

[Magic] 44 (+8)

[Dexterity] 42 (+10)

[Endurance] 28 (+6)

[Unique Ability] Barrier Magic G (Lv0/5)

[Special Ability] Spearmanship C (Lv3/15), Archery B (Lv2/17), Water Magic C (Lv2/15), Holy Magic A (Lv6/19)

[Equipment] Defender, Magic Arrow, Mysterious Anklet


Jumlah Goblin di lantai satu dan dua sudah mulai stabil. Sekarang jumlahnya hanya sedikit lebih banyak dibandingkan Dungeon Ilgusia.

Sejak beberapa hari lalu, kami mulai membawa makanan awetan agar bisa berlama-lama di dalam Dungeon. Setelah meletakkan perbekalan di Safe Zone, kami menaklukkan ruangan besar di lantai dua dan sekarang sedang menyusuri lantai tiga.

Sebentar lagi kami sampai di 'Spawn Room'. Sambil berjalan, aku bicara pada Clarice.

"Awalnya biarkan aku yang membasmi mereka semua, jadi tolong perhatikan baik-baik. Aku sudah menjelaskan mekanisme 'Spawn Room' tadi, tapi aku takut kamu akan panik kalau melihatnya secara langsung."

"Aku mengerti. Lagipula aku sudah tidak sabar ingin melihat Wind Cutter milikmu secara langsung."

Benar, aku memang belum pernah menggunakan Wind Cutter di depan Clarice. Selama ini aku hanya berkonsentrasi menjadi umpan, meminimalisir serangan, dan memprioritaskan keselamatan Clarice di atas segalanya.

'Spawn Room' di sini terletak di posisi yang sama dengan di Ilgusia, tapi ada satu perbedaan. Seperti dugaanku, sudah ada tiga puluh Goblin General di sana sejak awal, dan pusaran pemanggilnya pun ada tiga puluh titik.

Beberapa waktu lalu, pasukan ksatria bilang hanya ada dua puluh titik, jadi ini berarti Dungeon ini sendiri berevolusi atau mengalami perubahan.

Bagiku, dua puluh atau tiga puluh Goblin General tidak ada bedanya. Malah aku lebih senang jika ada tiga puluh karena bisa mendapatkan lebih banyak Experience.

Clarice tampak gugup melihat banyaknya jumlah Goblin General. Mungkin dia merasa sedikit takut.

"A-apa benar tidak apa-apa? Jumlahnya tidak normal, lho. Bukankah ini mustahil jika tidak dihadapi oleh seluruh pasukan ksatria...?"

"Tenang saja, Clarice. Berapa pun jumlah Goblin General-nya, aku pasti menang. Perhatikan, ya."

Sedikit ingin pamer di depan Clarice, aku pun maju untuk membantai para Goblin General tersebut.

◆◇◆

Clarice menatap punggung Mars yang melangkah menuju kerumunan Goblin General.

Biasanya Mars bertarung dengan pedang di tangan kanannya, tapi kali ini dia tidak membawa perlengkapan apa pun.

Namun, begitu Mars mengayunkan tangannya ke samping, para Goblin General di depannya terbelah menjadi dua. Baju zirah maupun senjata mereka tidak ada artinya.

Hanya dengan satu ayunan tangan, Goblin General yang menjadi target beserta kawanannya di sekitar langsung terpotong secara bersamaan.

Tidak butuh waktu dua menit untuk menghabisi tiga puluh ekor.

Hal yang mengejutkan adalah mayat-mayat Goblin General itu sudah tidak ada lagi. Di saat mereka terbelah, mereka langsung berubah menjadi Magic Stone.

Luar biasa. Clarice benar-benar mengaguminya.

Orang biasa mungkin akan merasa ketakutan melihat kekuatan itu. Namun, Clarice justru merasa senang dan bangga.

Jika orang itu bukan Mars, mungkin Clarice pun akan merasa takut. Namun, kepercayaan mutlaknya pada Mars membuat rasa takut itu tidak sempat muncul.

◆◇◆

Setelah membantai habis para Goblin General, aku justru merasa sedikit menyesal.

Aku berlebihan... karena terlalu bersemangat ingin terlihat keren di depan Clarice, aku jadi kelewatan. Dia pasti takut padaku sekarang...

Saat aku menoleh ke belakang dengan perasaan waswas, Clarice justru berlari dan memelukku erat.

"Hebat! Mars! Kamu benar-benar hebat!"

Karena serangan mendadak itu, aku tidak sanggup menahan beban tubuhnya dan kami berdua terjatuh. Tentu saja, aku tetap mendekap Clarice agar dia tidak terluka.

"Kamu tidak takut?"

"Sama sekali tidak! Malah aku menonton dengan perasaan tenang."

"Bukan itu... maksudku, kamu tidak takut padaku?"

"Mana mungkin aku takut padamu!? Aku justru senang dan bangga. Rasanya aku ingin pamer ke semua orang kalau kita berasal dari kehidupan yang sama!"

Aku pun rasanya ingin pamer kalau aku bisa berbagi rahasia dengan gadis secantik ini. Setelah menghabiskan momen manis sejenak...

"Omong-omong, jika ruangan ini dibersihkan sendirian dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, seharusnya peti harta karun akan muncul... ah, itu dia!"

Begitu aku mengatakannya, Clarice pun ikut berlari menuju peti tersebut. Saat kuperiksa, itu adalah peti dengan nilai Value 2. Begitu peti dibuka, sebuah kristal muncul.


[Name] Appraisal Crystal

[Value] E

[Details] Bisa digunakan satu kali untuk melakukan Appraisal pada orang atau benda.


Benda ini lumayan berguna meski hanya bisa dipakai sekali. Karena bisa meningkatkan motivasi untuk menaikkan level, nanti akan kuberikan pada Clarice. Melihat status dengan mata kepala sendiri pasti lebih memacu semangat daripada hanya mendengar dariku.

"Baiklah, sebentar lagi para Goblin General akan muncul kembali. Mari keluar dulu dan menunggu mereka semua bangkit. Aku punya sebuah rencana."

Clarice mengangguk tanpa bertanya apa pun, dia benar-benar mempercayaiku. Dan berkat strategiku ini, dua minggu kemudian level Clarice berhasil melampaui levelku.

"Begitu mati, yang berikutnya akan langsung muncul! Semangat!"

"Iya! Mana-ku masih cukup banyak, jadi aku akan mencicil nyawa mereka dengan Magic Arrow baru setelah itu menghabisinya dengan Defender!"

Aku terus mengawasi pertarungan Clarice. Dia sekarang sudah sanggup mengalahkan satu Goblin General dalam duel satu lawan satu. Namun, akan berbahaya jika dia harus menghadapi lebih dari satu.

Jadi, begitu kami masuk ke 'Spawn Room', aku akan menghabisi mereka satu per satu setiap menitnya. Setelah tersisa satu ekor, aku bertukar posisi dengan Clarice. Dengan begitu, Clarice bisa fokus bertarung satu lawan satu selama satu menit.

Jika Clarice terkena serangan, aku akan langsung merapal Heal. Clarice belum bisa menumbangkan mereka dalam satu serangan, jadi dia membidik mata Goblin General dengan Magic Arrow untuk membutakan pandangan mereka, baru kemudian memberikan tebasan penuntas dengan Defender.

Meskipun bidikan Magic Arrow-nya belum akurat mengenai mata, setidaknya panah itu mengenai area wajah sehingga membuat musuh gentar.

Apalagi musuh yang baru saja muncul belum memahami situasi sekitar, mustahil bagi mereka untuk sempat bereaksi terhadap anak panah yang datang.

Terkadang dia butuh waktu lebih dari satu menit untuk menang, dan di saat itulah aku yang akan membereskan Goblin General berikutnya.

Yah, itu hanya terjadi di awal masa perburuan, sekarang dia sudah tidak butuh bantuan lagi.

"Setelah mengalahkan yang satu ini, mari kembali ke Safe Zone!"

Clarice hanya mengangguk, dia tidak mengeluarkan suara sepertinya karena sudah sangat lelah.

Clarice adalah tipe yang tidak akan pernah meminta istirahat atas kemauannya sendiri. Jadi, kalau aku tidak peka melihat ekspresi dan gerak-geriknya, bisa-bisa dia celaka.

Pernah sekali, saat dia mencoba menebas dengan Defender setelah membutakan mata musuh, tangannya kehilangan tenaga hingga pedangnya terlempar. Jantungku rasanya mau copot saat itu.

Tapi, menghabiskan waktu berburu Goblin General bersamanya terasa sangat menyenangkan. Bukan hanya saat berburu, saat bersamanya pun aku selalu merasa bahagia. Di kehidupan sebelumnya, masa mudaku habis hanya untuk berjuang sendirian.

Ternyata berjuang bersama orang lain itu benar-benar menyenangkan. Apalagi rekanku adalah gadis yang sangat cantik. Rasanya hidupku sudah seperti karakter utama yang punya segalanya.

Sejak aku dan Clarice rajin masuk ke Dungeon, insiden Monster Overflow tidak pernah terjadi lagi.

Count Beetle menjelaskan kepada penduduk bahwa ini berkat kami yang rutin menaklukkan Dungeon. Hasilnya, sebutan Master Pedang untukku dan Gadis Suci untuk Clarice semakin melekat kuat.

Namun ada sisi baiknya, kami jadi sangat akrab dengan warga Granzam. Mungkin berteman dengan warga negara musuh adalah hal buruk, tapi bagiku tidak begitu. Penduduk mau menerimaku yang tidak pernah mengungkap asal-usul ini karena Clarice sering berkunjung ke klinik untuk merapal Heal, dan karena aku telah menghentikan Monster Overflow.

Kabarnya, jumlah penduduk juga meningkat setelah situasi stabil. Gray bilang, banyak orang berpikir kalau Monster Overflow sudah terjadi sekali maka tidak akan terjadi lagi dalam waktu dekat, sehingga banyak migran dari kota lain yang berdatangan.

Setiap kali mendapatkan Potion dari peti harta karun, kami menjualnya ke toko perlengkapan, begitu pula dengan ingot yang kami jual ke toko senjata.

Meski harga pasar sedang melonjak, kami menjualnya dengan harga normal. Toko-toko tersebut akhirnya ikut menekan harga jual mereka, dan hal ini membuat seluruh warga kota senang.

Gray dan Erna pun sudah tidak lagi waspada padaku; mereka tampak sudah percaya sepenuhnya.

Mereka bahkan mulai mengizinkan Clarice menginap di luar untuk berburu Goblin General.

Sejujurnya, aku sempat terpikir untuk menetap saja di kota Granzam ini. Aku menyukai penduduknya, suasananya, dan yang terpenting... aku menyukai Clarice.

"Mari kita kuras MP-mu di 'Spawn Room' sekali lagi, setelah itu kita pulang untuk hari ini."

"Ide bagus. Aku sudah ingin cepat-cepat mandi air hangat."

"Iya. Setelah seminggu lagi rutin ke 'Spawn Room', mari kita coba berlatih Barrier Magic. Setelah kamu menguasainya, barulah kita masuk ke ruang bos dan menyelesaikan Dungeon Granzam ini..."

"Iya... benar juga... kita harus segera menyelesaikannya... ya."

Belakangan ini, setiap kali aku membahas soal menamatkan Dungeon, suara Clarice selalu mengecil. Karena kami berdua sadar, kebersamaan kami ini akan berakhir begitu Dungeon Granzam ditaklukkan.

Kembali ke Safe Zone, kami tidur saling bersandar bahu di dinding labirin. Setelah sesi berburu selesai, kami kembali ke kota, mengobrol dengan warga, lalu mampir ke toko perlengkapan dan senjata untuk menyetor hasil buruan.

Kami sudah jarang ke klinik karena monster di sekitar Granzam sudah habis dibasmi oleh ksatria dan petualang. Saat hendak kembali ke rumah Lampard setelah dari toko, aku merasakan sesuatu yang janggal.

"Kamu merasa ada yang mengawasi tidak?"

"Tidak tuh? Apa ada yang melihat kita?"

Sepertinya Clarice tidak menyadarinya. Belakangan ini sesekali aku merasakannya, bukan sekadar dipandangi, tapi lebih seperti diawasi secara intens. Meski aku berakting seolah tidak sadar sambil melihat sekeliling, aku tetap tidak bisa menemukan pelakunya.

Orang-orang yang mengagumi Master Pedang atau Gadis Suci tidak akan merasa perlu bersembunyi. Aku sempat berpikir mungkin aku hanya kelelahan. Tapi, daripada celaka karena lengah, lebih baik aku terlalu waspada. Aku terus menjaga Clarice sampai kami tiba di rumah.

Di rumah, kami mandi dan makan malam. Karena merasa tidak enak terus menumpang, aku diam-diam memberikan uang kepada keluarga Lampard tanpa sepengetahuan Clarice. Kondisi finansialku sedang sangat baik, jadi itu bukan masalah besar.

Aku melihat ke luar jendela. Hari sudah mulai petang. Perasaan janggal tadi sudah hilang, dan Clarice sudah tertidur pulas di sofa ruang tamu karena kelelahan. Aku pun melakukan Appraisal padanya.


[Name] Clarice Lampard

[Status] Human / Rakyat Jelata

[Age] 7 Tahun

[Level] 19 (+5)

[HP] 90/90

[MP] 0/540

[Strength] 37 (+9)

[Agility] 40 (+10)

[Magic] 55 (+11)

[Dexterity] 57 (+15)

[Endurance] 38 (+10)

[Unique Ability] Barrier Magic G (Lv0/5)

[Special Ability] Spearmanship C (Lv3/15), Archery B (Lv4/17), Water Magic C (Lv2/15), Holy Magic A (Lv6/19)


Kenaikan level yang luar biasa. Dia sudah melampauiku. Berdasarkan penjelasan Demi-God, jumlah Experience yang dibutuhkan untuk naik level itu berbeda bagi tiap individu.

Jelas Clarice butuh lebih sedikit, sementara aku butuh sangat banyak... ditambah lagi berkat kemampuanku yang membuatnya jadi tiga kali lipat. Yah, aku sudah menduganya.

Karena Clarice menggunakan pedang, Agility dan Dexterity-nya meningkat. Penggunaan Magic Arrow juga menaikkan Magic dan Dexterity. Karena dia sering menerima serangan, Endurance-nya pun naik, begitu pula Strength karena dia memakai senjata fisik.

Hal yang mengejutkan adalah begitu nilai Dexterity miliknya melewati angka 50, Clarice mulai bisa merapal Holy Magic tanpa mantra (Chantless).

Ini membuktikan satu hal: kemampuan tanpa mantra itu bergantung pada bakat. Setidaknya, jika punya bakat peringkat A dan Dexterity minimal 50, sihir bisa dirapal tanpa mantra.

Alasanku yakin adalah karena aku sendiri belum bisa merapal Holy Magic tanpa mantra meski nilai Dexterity-ku lebih tinggi dan level sihirku sama. Mungkin ada faktor perbedaan usaha, tapi Clarice bilang dia bisa melakukannya begitu saja dengan mudah. Sama seperti sihir anginku dulu.

Kalau begitu, jika aku mempelajari Lightning Magic, mungkin aku juga bisa merapalnya tanpa mantra... tapi sampai sekarang sihir petirku belum juga muncul. Yah, itu semua soal usaha, jadi aku harus bersabar. Bagaimanapun juga, pertumbuhan Clarice sangat lancar.

Seminggu lagi, kami akan mulai melatih Barrier Magic. Momen-momen menyenangkanku bersama Clarice sudah hampir mencapai penghujung.

◆◇◆

Kenapa anak ini hanya bolak-balik antara Dungeon, toko senjata, dan toko perlengkapan? Apa dia pikir perintah Count Beetle itu main-main? Lagipula, aku heran kenapa anak itu diizinkan masuk ke dalam Dungeon. Yang jelas, aku tahu dia sedang merencanakan sesuatu.

Blair bersama anak buahnya masih terus mengawasi orang tersebut hari ini.

◆◇◆

Seminggu lagi berlalu sejak sesi berburu Goblin General dimulai. Level Clarice naik lebih cepat daripada Ike, sekarang sudah mencapai level 20. Hari ini kami mulai melatih Barrier Magic-nya.

Namun, jujur saja aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tidak ada buku sihir, dan tentu saja tidak ada yang bisa mengajari. Kami datang ke 'Spawn Room' tanpa petunjuk apa pun.

"Barrier Magic... aku bisa membayangkan sihir seperti apa itu, tapi sepertinya tidak akan mudah untuk dipelajari ya."

"Anggap saja bonus jika kamu bisa memakainya, yang penting kita coba usaha semaksimal mungkin dulu."

Sejujurnya, aku sangat ingin dia menguasainya demi keselamatannya sendiri. Sesuai namanya, itu pasti sihir pelindung diri. Tapi aku tidak ingin memberinya beban, jadi aku memilih kata-kata tadi. Momen latihan yang menyenangkan ini terus berlalu.

"Maaf ya, Mars. Kamu sudah menemaniku sejauh ini. Tapi jujur saja, kalau sudah berusaha sekeras ini dan tetap tidak bisa, rasanya sedikit bikin stres..."

"Mau bagaimana lagi. Itu adalah sihir yang hanya bisa kamu gunakan. Besok adalah hari kita menyerbu ruang bos, jadi cukup untuk hari ini dan istirahatlah di rumah."

Meskipun sudah berlatih seminggu penuh, Barrier Magic itu belum juga bisa dikuasai.

Akhirnya, pagi hari penaklukan ruang bos Dungeon Granzam pun tiba. Clarice sudah berusaha sangat keras sampai titik ini.


[Name] Clarice Lampard [Level] 20 (+1) [HP] 94/94 [MP] 549/549 [Strength] 39 (+2) [Agility] 42 (+2) [Magic] 57 (+2) [Dexterity] 61 (+3) [Endurance] 40 (+2) [Special Ability] Spearmanship C (Lv3/15), Archery B (Lv4/17), Water Magic C (Lv2/15), Holy Magic A (Lv6/19)


Berkat bakat dan kenaikan levelnya, statusnya meningkat drastis. Alasan statusnya masih di bawahku atau Ike adalah karena dia baru mulai berlatih belakangan ini.

Meski begitu, kekuatannya sudah setara dengan petualang peringkat C atau D. Mungkin dia sedikit lebih lemah karena kurang pengalaman bertarung sungguhan dibandingkan orang dengan status serupa.

Sedangkan aku, meski levelku tidak naik, statusku meningkat karena terus menjadi umpan dan menggunakan sihir. Kami tidak memberitahu Gray dan Erna kalau kami akan menyerbu ruang bos hari ini. Namun sepertinya mereka bisa merasakannya dari atmosfer kami.

Saat hendak keluar rumah, mereka berpesan "Kalian harus pulang dengan selamat" dan "Kalau merasa tidak sanggup, tidak harus hari ini pun tidak apa-apa".

Dengan perasaan berat hati, kami meninggalkan rumah Lampard dan menuju ke Serikat Petualang. Hari ini Count Beetle akan ikut masuk ke dalam Dungeon.

Beliau tidak akan sampai ke ruang bos, tapi beliau ingin ikut sampai ke Safe Zone untuk mengawasi kami.

Kami berjanji bertemu sang Count di Serikat Petualang. Karena tidak ingin beliau menunggu, kami sampai di sana satu jam lebih awal. Namun, hampir bersamaan dengan kedatangan kami, Count Beetle pun tiba.

"Oya, aku sudah berusaha datang lebih awal, tapi sepertinya aku malah membuat kalian menunggu ya?"

"Tidak, kami juga baru saja sampai."

"Berjuanglah hari ini. Kamu bisa menaruh harapan besar pada imbalannya nanti."

"Terima kasih. Kalau begitu, mari kita segera berangkat."

"Tunggu sebentar, hari ini aku membawa beberapa orang dari pasukan ksatria. Meski itu adalah Safe Zone, aku merasa sedikit kurang aman jika hanya sendirian."

Sepuluh orang anggota ksatria muncul dari belakang sang Count. Salah satu pria di antara mereka maju menyapa.

"Ini bukan pertemuan pertama kita, tapi baru kali ini kita bicara secara formal. Aku Blair, komandan pasukan ksatria. Tuan Mars, terima kasih telah membantu kami di saat kritis sewaktu Monster Overflow. Aku terlambat mengucapkannya, tapi terima kasih banyak. Dan Nona Clarice, terima kasih telah mengobati para ksatria. Hari ini kami akan mengawal sang Count, jadi izinkan kami ikut serta."

""Mohon bantuannya.""

Kesan pertamaku terhadap Blair adalah dia orang yang agung dan disiplin. Tipe orang yang tidak akan mentolerir kesalahan dan mungkin sedikit kaku. Aku mencoba melakukan Appraisal padanya.


[Name] Blair Blaze

[Status] Human / Kepala Keluarga Baronet Blaze

[Level] 27

[HP] 182/182

[MP] 5/5

[Strength] 44

[Agility] 40

[Endurance] 60

[Special Ability] Spearmanship E (Lv5/11), Spearmanship D (Lv7/13), Axemanship E (Lv4/11)

[Equipment] Silver Sword, Silver Spear, Hand Axe, Silver Armor


Dia punya bakat pedang, tombak, dan kapak. Aku tidak tahu apakah ini bawaan lahir atau hasil dari pekerjaannya melindungi rakyat, tapi HP dan Endurance-nya sangat tinggi. Sebagai komandan ksatria, ternyata dia menyandang gelar Baronet.

Karena jarak dari Serikat Petualang ke Dungeon Granzam dekat, kami memilih untuk berjalan kaki. Aku dan Clarice berjalan di depan berdampingan, sementara para ksatria mengawal sang Count di belakang kami.

Setelah berjalan beberapa saat, aku merasakan kejanggalan. Perasaan diawasi yang kurasakan beberapa hari terakhir muncul lagi. Kali ini aku bisa merasakannya dengan jauh lebih jelas.

"Clarice, kamu merasa ada yang mengawasi tidak?"

"Kalau kamu bilang begitu, kurasa aku merasakannya... apa mungkin dari arah belakang?"

"Iya, lagipula ini masih pagi sebelum penduduk beraktivitas. Jelas itu bukan warga biasa."

Aku memperlambat langkah dan mendekati sang Count.

"Count Beetle, Komandan Blair, saya merasakan sesuatu yang aneh, apa ini hanya perasaan saya saja?"

"Kejanggalan seperti apa?" tanya sang Count terkejut.

"Sudah sejak beberapa waktu lalu saya merasa ada yang mengawasi. Hari ini rasanya sangat kuat..."

"Soal itu, mari kita bahas setelah penaklukan Dungeon. Aku sudah menyiapkan langkah antisipasi, jadi Mars-kun, fokuslah saja pada penaklukan."

Kali ini aku yang terkejut. Ternyata sang Count juga menyadari pengawasan itu, dan bahkan sepertinya beliau sudah tahu siapa pelakunya. Aku kembali ke samping Clarice dan menceritakan hal itu.

"Sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuan kita ya. Tapi sang Count benar, mari kita fokus menamatkan Dungeon ini."

"Baiklah. Kalau terjadi sesuatu, segera beritahu aku. Aku tidak ingin ada penyesalan."

Dengan sedikit rasa cemas yang mengganjal di hati, kami pun melangkah memasuki Dungeon.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close