Chapter
6
Fajar
Menyingsing
"Mari bersulang untuk kemenangan Sekolah
Nasional Lister!"
Seruan Duke Regan menjadi tanda dimulainya pesta
perayaan kemenangan Turnamen Bela Diri Murid Baru.
Tempatnya adalah restoran yang disebut-sebut sebagai
yang terbaik di Roman. Agar semua orang bisa berbaur, kursi-kursi disingkirkan
dan konsepnya dibuat menjadi pesta berdiri.
Dari Kelas S, tujuh orang hadir kecuali Dominic,
Johan, dan Joseph. Meski sudah diobati dengan Sihir Suci, Dominic yang
menderita luka serius diminta untuk beristirahat di kamarnya. Orangnya
sendiri tampak sangat ingin ikut, tapi mau bagaimana lagi.
Di sisi lain, Johan dan Joseph sama sekali tidak
menunjukkan batang hidung mereka bahkan setelah kemenangan diraih. Duke Regan
berkata beliau sudah tahu keberadaan mereka dan membiarkan mereka bebas.
Selain itu, hadir pula Ike, Sasha-sensei, Duke Regan,
Duke Flesbald, Zeke, Count Beetle, dan Grey.
Keluarga serta pihak-pihak terkait kami berkumpul,
ditambah beberapa sosok yang tampak seperti bangsawan yang diundang ke turnamen
ini.
Segera setelah prosesi sulang selesai, Duke Flesbald naik
ke atas mimbar yang telah disiapkan dan menarik perhatian semua orang.
"Nah, aku yakin mayoritas dari kalian sudah tahu,
tapi aku punya pengumuman penting!"
Di samping sang Duke, berdiri seorang pria gagah yang
baru pertama kali kulihat hari ini.
"Hari ini, pertunangan antara Karen dari
keluarga Duke Flesbald dan Baron dari keluarga Count Reinhardt secara resmi
telah dibatalkan."
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun tak
ada satu pun orang yang tampak terkejut. Apakah hal seperti ini memang sering
terjadi? Tanpa memedulikan kebingunganku, Duke Flesbald melanjutkan bicaranya.
"Ini adalah hasil diskusi antara Karen dan Baron
sendiri. Tentu saja, kami tidak bisa langsung menyetujuinya dan sempat
menundanya hingga hari ini. Namun, setelah memahami alasan mereka,
hari ini pertunangan tersebut resmi dibatalkan. Meski begitu, hal ini tidak
akan merusak hubungan kami dengan keluarga Count Reinhardt. Di sini aku
menyatakan bahwa kami akan terus berdiri berdampingan dan menjalin kerja sama
selamanya."
Duke Flesbald saling membenturkan gelas dengan pria di
sampingnya. Begitu ya, dia adalah Count Reinhardt, ayah Baron.
Setelah prosesi itu selesai, Count Reinhardt turun dari
mimbar, dan sebagai gantinya Zeke serta Sasha-sensei dipanggil naik.
Sasha-sensei yang biasanya berpenampilan santai, kini
mengenakan gaun yang memperlihatkan bahu putih mungilnya, memancarkan
kecantikan yang seolah bukan berasal dari dunia ini.
"Lalu, masih ada satu laporan lagi, jadi
dengarkan!"
Duke Flesbald kembali menarik perhatian hadirin.
"Jika tadi adalah laporan yang menyedihkan, kali ini
adalah laporan yang menggembirakan. Hari ini, keluarga Duke Flesbald dan
keluarga Baroness Febrant secara resmi telah mengajukan lamaran pernikahan
kepada keluarga Count Bryant!"
"Oohhh!" Bersamaan dengan seruan itu, ruangan
dipenuhi oleh tepuk tangan yang meriah.
Di saat Duke Flesbald menyampaikan kegembiraannya,
ekspresi Sasha-sensei tampak agak muram. Beliau pasti memikirkan Clarice, sosok
yang sangat berjasa baginya. Sasha-sensei tahu betul betapa aku dan Clarice
saling tertarik satu sama lain.
Namun, di sisi lain, Grey dan Erna—ayah dan ibu
Clarice—justru menjadi orang yang memberikan tepuk tangan paling kencang untuk
pengumuman Duke Flesbald.
Mereka pasti yakin bahwa jika putri dari bangsawan tinggi
seperti keluarga Duke Flesbald menjadi tunanganku melalui diriku, masa depan
tidak akan kekurangan sandang pangan, dan Clarice pun akan bahagia.
Melihat hal itu, Clarice mengembuskan napas panjang.
"Aku sudah bersiap, tapi ternyata cepat juga ya.
Kupikir bakal sedikit lebih lama lagi."
"……
Nn…… secepat kilat……"
Elie menimpali, lalu mereka berdua saling melempar
senyum.
"Hei, coba katakan sejujurnya. Apa pendapat kalian
berdua soal hal ini?"
Jika mereka menjawab "tidak suka", apa yang
harus kulakukan? Aku merasa telah menanyakan hal yang aneh.
"Begini
ya…… karena ini sudah terjadi aku akan mengatakannya. Sebenarnya,
Karen sudah berkonsultasi padaku. Dia bilang ingin membatalkan
pertunangannya dengan Baron dan ingin memikirkan Mars dengan serius. Hal
yang sama juga berlaku bagi pihak Baron, lihat saja……"
Jadi maksudnya Baron pun tidak bisa menyerah soal
Clarice, ya.
"Lalu, aku mendengar banyak hal. Katanya, setelah
ini akan ada banyak sekali tawaran lamaran yang datang untuk Mars. Karena kamu
adalah peringkat satu di Sekolah Nasional Lister yang membawahi Karen dan
Baron."
Jadi ini soal keharusan mengambil peringkat satu di ujian
peringkat, ya. Begitu aku memikirkan itu, Clarice yang menyadarinya
menggelengkan kepala.
"Terlepas dari banyaknya lamaran yang akan datang,
katanya hati Karen sudah mulai goyah sejak ujian labirin. Itu wajar saja. Mars
saat pergi menyelamatkan Karen itu sangat keren, lho."
Saat itu aku hanya bergerak tanpa berpikir panjang.
Lagipula aku tidak menyesali tindakanku saat itu.
"Karena itu, aku dan Elie terus berpikir. Jika
tunangan Mars bertambah, orang seperti apa yang pantas. Lalu, jawaban Elie
adalah……"
Clarice melirik ke arah Elie. Elie pun menjawab singkat
tanpa rasa bersalah.
"……
Jelek……"
Bisa
dibilang itu jawaban yang sangat khas Elie. Sambil tersenyum kecut mendengar
kejujurannya, aku terus mendengarkan.
"Tapi, bagaimanapun penampilannya, Mars pasti akan
menghadapinya dengan tulus. Kalau begitu, lebih baik orang yang bisa mencintai
dan mendukung Mars dengan benar, seperti saat kami menyambut Elie. Begitulah
caraku mulai memperhatikan Karen dan Misha."
Tampaknya mereka berdua sudah memperhatikan Karen dan
Misha sejak lama. Aku benar-benar tidak bisa berkutik di depan Clarice yang
selalu memikirkanku sebagai prioritas utama.
"Hasilnya?"
"Yah……
sayangnya, mereka hampir tidak punya celah kekurangan. Aku bisa
merasakan kalau mereka berdua sangat menyukai Mars. Ada Karen yang merupakan
putri kedua keluarga Duke Flesbald, dan Misha yang punya hubungan dengan Duke
Regan. Jadi menurutku, kalau mereka berdua sih boleh saja. Mars juga tidak
benci mereka yang pekerja keras, kan? Mereka cantik dan menarik."
Jika aku sendiri tidak menjawab di sini, rasanya tidak
adil.
"Jujur saja, aku menyukai mereka berdua, tapi rasa
sukanya berbeda dengan rasa sukaku pada Clarice dan Elie. Karena selama ini aku
tidak melihat mereka dengan cara seperti itu."
Aku menjawab dengan terus terang.
"Tentu saja. Mars
kan peka-nya payah."
"……
Nn…… tidak peka……"
Meski
dibilang begitu, aku yang tidak punya ingatan pernah populer di kehidupan
sebelumnya mana mungkin bisa sadar. Bukannya sombong, tapi aku bahkan tidak
punya ingatan pernah berbincang dengan wanita selain ibuku.
Lalu,
tiba-tiba aku terpikir sesuatu. Jika aku saja sampai seperti ini, bukankah pria
yang disebut sebagai mahakarya terbaik Sekolah Nasional Lister pasti mendapat
lebih banyak lamaran lagi?
Kebetulan
dia ada di dekatku, jadi aku mencoba bertanya.
"Kak
Ike? Apa Kakak tidak mendapat tawaran lamaran?"
Karena aku tidak pernah mendengar kabar seperti itu.
Clarice dan Elie pun menggumamkan "Ah", lalu fokus mendengarkan
jawaban Ike.
"Aku? Wajahku tidak setampan Mars, lho."
Dia mencoba tertawa untuk mengalihkan pembicaraan, tapi
itu mustahil.
Bagiku, Ike adalah pria paling keren yang pernah kulihat.
Lagipula semua orang tahu betapa populernya dia di sekolah. Sadar tidak bisa
lari, Ike akhirnya menyerah.
"Aku dengar memang ada beberapa lamaran yang
masuk. Aku bahkan pernah disuruh menikah dengan orang ini, tapi……"
Perkataan Ike terasa lebih berat dari biasanya.
"Mars, meski aku bukan orang yang pantas
mengatakannya, Karen dan Misha itu jelas anak yang baik. Aku hanya
memperhatikan mereka selama sebulan, tapi aku bisa tahu dari cara mereka
menghadapi turnamen ini. Soal masalah ini, jika kamu tidak keberatan, cobalah
untuk memikirkannya secara positif."
Sang karisma sekolah itu kemudian dipanggil oleh
bangsawan lain, lalu dia berpamitan sambil merapatkan kedua tangannya dan pergi
meninggalkan kami.
Tak lama kemudian, Zeke yang entah kapan sudah turun dari
mimbar datang membawa Karen dan Misha.
"Ja-jadi
begitulah adanya…… mohon bantuannya ya!" ucap Karen dengan wajah merona
malu.
"Akhirnya
aku bisa membalas budi pada Mars! Mohon bantuannya ya!" seru Misha dengan
penuh semangat.
Membalas budi? Apa maksudnya? Aku sempat bingung, tapi kalau diingat-ingat, empat tahun lalu di kota Ganal dia pernah bilang akan memberiku sesuatu yang istimewa. Tak kusangka ternyata "sesuatu" itu adalah ini.
Karen
berdiri di belakangku dan Clarice, sementara Misha berdiri di belakangku dan
Elie. Mereka berdua menarik ujung seragamku dengan lembut, sementara Clarice
menggenggam tangan kananku dan Elie menggenggam tangan kiriku.
"Ooh!" Suara decak kagum terdengar dari
sekeliling. Zeke yang melihat kami dari depan pun tersenyum.
"Tak kusangka aku akan disuguhi pamer kemesraan
oleh Mars."
Maria-san juga berkata, "Maafkan putriku
ya," sambil membungkuk, meski wajahnya tampak menyiratkan rasa bangga.
Namun, di sini sisi khas Zeke mulai terlihat.
"Akan kukatakan pada kalian, menurutku masih terlalu
dini bagi Mars untuk memiliki istri ketiga atau keempat. Ini masih dalam tahap
pengajuan dari keluarga Duke Flesbald dan Baroness Febrant. Kami akan memproses
pernikahan ini dengan pandangan positif, tapi camkan baik-baik bahwa ini belum
final!"
Singkatnya, dia ingin aku jangan sampai terlena dan harus
terus mengasah diri.
Pada akhirnya, seperti kata Zeke, pernikahan dengan
Karen dan Misha ditunda. Namun, diputuskan bahwa jika aku sudah memiliki
kapasitas untuk mencintai lebih dari dua istri, Karen dan Misha akan menjadi
prioritas utama.
Waktunya para bangsawan kembali ke penginapan, dan
kursi-kursi mulai dikembalikan ke restoran tersebut. Begitu akhirnya bisa
duduk, Clarice mengembuskan napas panjang.
"Aku benar-benar tidak berbakat dalam acara
seperti ini. Rasanya lelah sekali."
Wajar saja, semua pria yang mendekati Clarice tadi
tampak terpesona hingga melongo. Ayah Baron, Count Reinhardt, adalah salah
satunya.
"Clarice, semakin Mars menjadi terkenal,
kesempatan seperti ini akan semakin sering terjadi, jadi kamu harus
terbiasa."
Karen, yang sepertinya sudah sering mengalami situasi
ini, sama sekali tidak menunjukkan raut lelah di wajahnya.
"Benar. Lagipula bisa mengobrol dengan semua
orang itu menyenangkan, kan!"
Menilai sesuatu berdasarkan menyenangkan atau
tidaknya memang sangat khas Misha. Saat kami sedang berbincang, seorang gadis
kecil muncul di hadapan kami.
Yang mengejutkan, gadis itu tiba-tiba duduk
mengangkang di pangkuanku.
"Akhirnya aku bisa bersama Kak Mars."
Lina melingkarkan tangannya di leherku dan memelukku
erat. Hal ini membuat keempat gadis lainnya terdiam seribu bahasa. Namun, ada
sesuatu yang terasa mengganjal dan sakit di bagian belakang leherku, seperti
terkena gelang.
Saat aku memeriksanya, benda itu terasa familier. Eh?
Kenapa Lina memakai Bracelet of Disguise?
Karena penasaran, aku pun melakukan Appraisal.
[Nama]
Lina Bryant
[Tittle]
—
[Status]
Human · Putri Sulung Keluarga Count Bryant
[Kondisi]
Baik
[Usia]
9 Tahun
[Level]
3
[HP]
20 / 20
[MP]
55 / 55
[Strength]
8
[Agility]
8
[Magic]
19
[Dexterity]
16
[Stamina]
7
[Luck]
10
[Special
Ability] Water Magic D (Lv 2/13)
[Special
Ability] Earth Magic E (Lv 1/11)
[Special
Ability] Holy Magic G (Lv 1/5)
Luar
biasa, dia mempelajari Holy Magic! Ternyata Lina memiliki bakat bawaan
untuk Holy Magic!
Untuk
menyembunyikan kegelisahanku, aku mendudukkan Lina di kursi, lalu pergi ke
bagian belakang restoran untuk mencari udara segar. Tak lama,
Zeke menyusulku.
"Mars, apa kamu sudah memeriksa Lina?"
"Iya. Apa yang akan Paman lakukan terhadapnya?"
Mendengar pertanyaanku, Zeke mengelus dagunya seolah
sedang berpikir keras.
"Umu... aku sedang bimbang. Jika dia masuk ke
Sekolah Nasional Lister, saat itu kamu sudah berusia lima belas tahun. Selama
kamu masih sekolah sih aman, tapi setelah kamu lulus..."
Itu benar juga. Di sisi lain, membiarkan bakatnya
terpendam di Almeria juga bukan pilihan yang baik.
"Kalau begitu, bagaimana jika setelah aku lulus, dia
bergantung pada Kak Ike? Kurasa saat itu Kak Ike sudah punya nama besar sebagai
petualang atau bangsawan."
"Ah... itu mungkin pilihan terbaik, tapi... soal
Ike... tidak, lupakan saja."
Ada apa? Apakah ada kekhawatiran atau rasa tidak percaya
terhadap Ike?
"Mars, tolong jangan beritahu siapa pun soal ini
untuk sementara waktu. Mengerti!?"
Zeke menekankan hal itu dengan nada yang hampir
menakutkan. Apa itu berarti aku tidak boleh mengatakannya bahkan pada Ike?
"……
Baik. Tapi bukankah Clarice bisa diajak bicara? Lina mungkin punya kegalauan
yang hanya dipahami sesama pengguna Holy Magic……"
"Mut...
benar juga. Baiklah. Beritahu Clarice saja. Jika itu
Clarice, Lina pasti bisa berkonsultasi dengan santai."
Zeke meninggalkan kata-kata itu lalu kembali ke aula
pesta. Sepertinya aku benar-benar dilarang memberitahu Ike. Sambil merasa
sedikit sedih, aku menatap punggung Zeke yang menjauh.
"Ada apa? Kenapa di tempat seperti ini?"
Clarice muncul, mungkin khawatir karena aku tidak kunjung
kembali. Aku menceritakan soal Lina dan firasatku bahwa ada sesuatu antara Zeke
dan Ike—memastikan tidak ada yang mendengar. Clarice tampak terperanjat.
"Soal Lina memang mengejutkan, tapi soal Ayah dan
Kak Ike, aku juga ingin membantu sebisa mungkin... apalagi mereka selalu
menolong kita."
Setelah berbincang berdua sejenak, kami kembali ke dalam.
Hampir semua orang sudah pulang ke penginapan, menyisakan anggota Kelas S,
Lorenz-sensei, dan Sasha-sensei. Topik pembicaraan beralih ke soal party.
"Aku sudah mendapat persetujuan dari Dominic dan
Minerva. Rencananya aku ingin mengajak Johan dan Joseph juga, bagaimana menurut
kalian?"
Tampaknya
Baron sedang mencoba membentuk sebuah party.
"Hmm.
Johan sih bisa diajak komunikasi, tapi Joseph sejak insiden Kamaitachi
sepertinya enggan berurusan dengan orang lain. Hari ini
pun dia terlihat kurang kerja sama," komentar Minerva.
"Tapi mereka berdua sangat mahir, lho. Mereka punya
nyali, tenang, dan tampak terbiasa bertarung... terlepas dari kekuatannya,
atmosfer mereka agak mirip dengan Mars," tambah Karen.
Benar juga, selain aku, yang lain sudah melihat aksi
mereka di ujian labirin. Aku setuju dengan pendapat Karen.
"Yah, lupakan soal party kami. Bukankah party
Mars-kun lebih menarik perhatian? Ada Mars-kun, Clarice, Elie, Nona Karen, dan
juga Misha, kan? Komposisinya sangat tidak seimbang."
Meski belum resmi diputuskan, entah bagaimana ceritanya
kami berlima sudah dianggap satu tim.
"Eh? Bukankah seimbang? Garis depan ada Elie dan
Misha, garis tengah ada aku dan Clarice, garis belakang ada Karen. Formasi
ideal, kan?"
Mendengar ucapanku, Minerva tertawa dan menyangkalnya.
"Bukan itu, maksudku rasio gender. Laki-lakinya cuma
Mars-kun sendiri sementara wanitanya ada empat. Apalagi keempatnya luar biasa
cantik. Aku belum pernah mendengar ada party harem seperti ini. Kalau
kalian ke Guild Petualang, pasti akan digoda habis-habisan."
Benar juga. Clarice dan Elie saja sudah sering digoda,
apalagi jika ditambah Karen dan Misha. Masalah pasti akan bertambah.
"Kalau begitu, mungkin sebaiknya Karen dan Misha
mengundurkan diri saja—"
Begitu aku menatap Karen dan Misha, mereka langsung
panik.
"Tunggu!? Apa yang kamu katakan! Menjatuhkan kami
dari surga ke neraka itu keterlaluan!"
"Benar! Mars harus menerima kami dengan baik!
Kami tidak menerima retur, lho!"
Semua orang, termasuk Sasha-sensei, tertawa
terpingkal-pingkal melihat kepanikan mereka.
"Yah, lupakan bercandanya. Apa nama party-nya?
Lalu, aku ingin Karen yang menjadi party leader. Jika aku yang jadi
pemimpin, banyak hal merepotkan yang mungkin terjadi, tapi kalau Karen pasti
tidak akan masalah, kan?"
Logikanya, tidak akan banyak orang bodoh yang berani
cari masalah dengan putri kedua keluarga Duke Flesbald. Namun, tidak ada yang
setuju dengan usulanku.
"Umm... aku mengerti maksud Mars, tapi karena
kami sudah menyerahkan jiwa dan raga kami padamu, kami ingin Mars yang jadi
pemimpinnya. Bukannya kami menolak Karen, ya."
Semua orang termasuk Karen mengangguk setuju dengan
kata-kata Clarice. Yah, kurasa sudah sampai pada tahap ini pun tidak bisa
menolak.
"Baiklah. Aku yang akan jadi pemimpin. Berikutnya,
mari pikirkan nama party."
Tampaknya saat aku keluar tadi, mereka sudah berdiskusi
dan mempersempit pilihan, tapi pilihannya mengerikan semua.
- [Mars Love]
- [Medan Tempur Setiap Hari]
- [Krotch Crushers]
Selera penamaan mereka benar-benar putus asa. Jika
namanya [Medan Tempur Setiap Hari], tidak akan ada yang mau bergabung,
dan [Krotch Crushers] pasti ide dari Elie. Hanya Elie yang punya
hubungan cukup dekat untuk mengatakan hal memalukan seperti itu pada Clarice.
"Mars
punya ide bagus?" Clarice memegangi kepalanya sambil meminta pertolongan.
"Hmm,
awalnya saat aku berpikir hanya bertiga dengan Clarice dan Elie, aku mau
menamakannya [Tiga Bintang Kutub]."
"Apa
artinya?" Clarice tampak tertarik.
"Hanya
karena aku, Clarice, dan Elie berasal dari tiga negara berbeda; Valkus, Zalkum,
dan Uni Lister, dan kita bertiga."
Karena sekarang berlima, kurasa nama itu gugur. Tapi
alasan Misha menolaknya jauh lebih parah.
"Hmm, memasukkan angka sepertinya merepotkan. Soalnya selir kelima kan pasti bakal segera muncul? Nanti kita harus
ganti nama lagi, dong?"
"Tidak akan bertambah untuk sementara
waktu!" Clarice langsung menyambar, meski kata 'sementara waktu' itu
agak... Lagipula Misha sudah menganggap dirinya sebagai tunangan.
Ada usulan untuk memasukkan kata 'Emas', tapi
akhirnya tidak ada keputusan. Tepat saat aku berpikir untuk
membubarkan pertemuan hari ini...
"Bagaimana kalau [Reimei]? Artinya 'Fajar'. Kedengarannya seperti awal dari sebuah legenda,
kan?"
Begitu Clarice mendapat inspirasi itu, mata Karen
berbinar.
"Bagus juga! Rasanya seperti nama Mars akan
mulai dikenal secara perlahan!"
Memang nama yang bagus. Itu juga berarti awal dari
sebuah kebudayaan baru. Dengan ditetapkannya nama party kami, pesta
perayaan kemenangan pun berakhir.
◆◇◆
Keesokan Harinya
Kami berangkat dari Roman pagi-pagi buta. Begitu
kembali ke Sekolah Nasional Lister, hanya anggota [Reimei] yang
dipanggil ke ruang kepala sekolah.
"Saya dengar dari Sasha. Nama party
kalian [Reimei], dengan Mars sebagai pemimpinnya, benar?"
Setelah aku setuju, pihak sekolah akan mengurus
pendaftaran party kami.
"Lagi pula, saya tidak menyangka Mars adalah
pengguna Wind Magic sehebat itu."
Ternyata Sylpheed memang ketahuan. Bahkan Wind
Cutter tanpa rapalan pun pasti sudah ketahuan. Aku ragu apakah harus
pura-pura bodoh, tapi aku tidak yakin bisa membohongi Duke Regan yang punya Magic
dan level Wind Magic lebih tinggi dariku.
"Benar... seperti yang Anda lihat, saya adalah
pengguna Wind Magic."
Duke Regan tersenyum puas setelah aku mengaku dengan
jujur.
"Tak disangka ada sihir semacam ini... umur panjang
memang berguna ya," katanya sambil dengan mudah memanifestasikan Sylpheed.
"Sihir ini luar biasa. Selain meningkatkan kemampuan
fisik, kekuatan anginnya juga meningkatkan pertahanan. Kekurangannya adalah
sulit untuk dipertahankan dan tidak mudah dikendalikan. Mungkin hanya Misha dan
Johan yang mampu menggunakannya..."
Duke Regan menganalisis sambil melirik Misha.
"Aku juga sedang berusaha, tapi rasanya ada yang
beda..." kata Misha sambil hendak meletakkan tangan kanannya ke pinggang,
namun Clarice dengan sigap menahan tangan Misha.
Kerja bagus, Clarice. Bahaya kalau dia menggunakan
sihir lepas kendali di tempat seperti ini.
"Nah, saya ingin bertanya pada kalian. Kalian lebih
suka gunung atau laut?"
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat kami saling pandang.
"Emm... kalau aku sepertinya laut."
"Aku
juga laut."
"……
Di mana ada Mars……"
"Aku tidak terlalu bisa berenang, tapi...
laut."
"Yang menyenangkan!"
Mengabaikan jawaban Elie dan Misha, mayoritas
menjawab laut. Duke Regan kemudian menyerahkan selembar kertas kepadaku.
"Ini...?"
"Ini adalah surat permohonan Nominated Quest.
Para bangsawan yang melihat aksi kalian kemarin berlomba-lomba ingin menjalin
koneksi dengan kalian, jadi mereka mengirim permohonan kepada saya."
Heh... jadi ini Nominated Quest yang dikatakan Kak
Ike. Isinya adalah permintaan untuk membasmi monster yang belakangan muncul di
lepas pantai.
"Jangan terlalu memikirkan isi quest-nya. Tujuan
pemohon, Marquis San Marina, adalah menjalin koneksi dengan kalian. Dia ingin
menjamu kalian di kota wisata San Marina."
Ditanya gunung atau laut lalu menjawab laut, dan isi
quest-nya berhubungan dengan laut... mungkinkah tujuan quest ini adalah...?
"Horeee!!! San Marina! Sudah lama tidak ke
laut!" Misha meledak dalam kegembiraan. Ternyata benar-benar
laut!
"Kali ini yang pergi bukan hanya kalian [Reimei].
Baron, Dominic, dan Minerva tentu saja ikut. Seluruh siswa tahun pertama dan
staf juga akan mendampingi."
Eh? Apa tidak apa-apa pergi dengan rombongan sebesar
itu?
Ternyata, donasi yang terkumpul dari turnamen kemarin
jauh melampaui perkiraan.
Penginapan para siswa di perjalanan akan disiapkan oleh
penguasa setempat, dan Marquis San Marina bahkan menawarkan diri untuk
menanggung seluruh biaya tinggal di sana.
Sepertinya hasil pertandingan kemarin benar-benar membawa
kegembiraan besar.
"Keberangkatan adalah satu bulan lagi. Persiapkan
diri kalian sampai saat itu. Durasinya sekitar dua bulan sampai kembali. Detail
jadwal dan peringatan akan diberitahukan menyusul. Saya akan meminta staf
memberitahu siswa besok, tapi jika kalian bertemu teman seangkatan, kalian
boleh menyampaikannya sendiri. Saya percayakan pada kalian."
"Baik, kami mengerti."
Kami semua memberi hormat dan meninggalkan ruang kepala
sekolah.
"Laut ya... tidak sabar!" Misha tampak
sangat bersemangat.
"Benar juga. Aku akan memberitahu Gon dan yang
lainnya! Sekalian berterima kasih atas dukungan mereka
kemarin!"
"Kalau
begitu, aku ikut."
"……
Aku juga……"
"Sekalian saja kita keliling ke semua kelas?"
"Setuju! Ayo pergi bersama!"
Kami semua sangat bersemangat menantikan Nominated Quest ke San Marina satu bulan lagi. Namun, suatu hari menjelang keberangkatan, Johan dan Joseph tiba-tiba menghilang tanpa jejak—



Post a Comment