Chapter 11
Kenaikan Pangkat
"Syukurlah
ya. Semuanya selamat," ujar Misha dengan senyum lebar sambil menatap Karen
yang tertidur pulas di punggungku.
"Iya.
Ini semua berkat tekad mereka yang tidak mau menyerah."
Benar-benar
nyaris saja.
Karena
melihat Elie begitu panik, aku memacu seluruh tenagaku menuju posisi Karen,
tapi saat aku menemukannya, tinju Golem itu sudah terayun jatuh.
Aku berpikir
keras harus melakukan sesuatu, dan tiba-tiba bayangan Misha yang setiap hari
terpental dengan gaya yang spektakuler namun tetap tersenyum melintas di
benakku.
Aku pun
menembakkan Wind ke punggungku sendiri, dan saat itu juga aku merasa
seolah-olah diriku menjadi bola dalam permainan pinball.
Lorong
labirin tampak seperti kanvas panjang yang membentang vertikal, di mana
monster-monster terlewati dengan kecepatan luar biasa.
Jujur saja,
itu menakutkan sekali. Rasanya mirip seperti sabuk pengaman roller coaster
lepas lalu tubuhmu terpental terbang.
Kegigihan
Karen juga luar biasa.
Meski tinju
Golem sudah di depan mata—situasi di mana orang normal pasti akan memejamkan
mata karena takut—dia tidak menyerah dan menggunakan Binding Glare. Itu
adalah salah satu faktor kunci penyelamatan ini.
Kerja samaku
dengan Clarice juga sangat pas.
Clarice yang
menyelinap di belakang Karen memberiku kode lewat isyarat tangan. Bahwa dua
orang luka parah, dan aku harus mengalihkan perhatian.
Berkat
pertunjukan sihirku, aku berhasil menarik perhatian Karen dan semua orang.
Bahkan Fireball
yang sebenarnya tidak perlu kugunakan itu pun sengaja kupakai sebagai kamuflase
untuk menyembunyikan cahaya lembut dari Holy Magic.
Rencana itu
sukses besar; tidak ada satu pun yang menyadari Holy Magic milik
Clarice.
Meski sedikit
mengejutkan melihat Sasha berhasil membujuk Karen agar bungkam, hasilnya tetap
memuaskan.
◆◇◆
Saat kami
tiba dengan selamat di lantai empat tempat para guru menunggu, sorak-sorai
kegembiraan pecah, bahkan ada yang sampai menangis.
Aku
menurunkan Karen pelan-pelan agar dia tidak terbangun, lalu saling memuji
perjuangan satu sama lain dengan Clarice dan yang lain.
"Kerja
bagus. Kamu tidak apa-apa?"
"Iya,
tapi sejujurnya aku lelah sekali. Sejak ujian labirin dimulai aku belum mandi
sama sekali, jadi aku ingin cepat kembali ke penginapan dan berendam."
Meski Clarice
bilang lelah, wajahnya tetap cantik seperti biasa dan tidak ada satu pun helai
rambutnya yang berantakan.
Memang benar
dia belum mandi, tapi dia memancarkan aura bersih seolah-olah baru saja keluar
dari kamar mandi.
"Bagaimana?
Mau kusiapkan bak mandi?" bisikku agar tidak terdengar oleh Misha yang ada
di dekat kami.
Selama sering
menyelam bersama Clarice dan Elie di Almeria, aku sudah bisa membuat bak mandi
sederhana dengan Earth Magic.
"Boleh...!? ...Tapi tidak usah
saja. Tidak baik kalau
Mars semakin menonjol di situasi seperti ini. Terima kasih atas niatnya,
ya."
Mata Clarice
sempat berbinar sejenak, tapi dia menahan keinginan mandinya demi memikirkanku.
Tak lama
kemudian, Sasha yang tadi sedang berbicara serius dengan guru-guru lain
berjalan menghampiri kami.
"Kali
ini kami sangat terbantu oleh kalian. Maaf, tapi bisakah kalian ikut ke sekolah
sebentar?"
"Tentu
saja bisa, tapi ada apa ya?"
"Aku
ingin melapor pada Adipati Regan. Juga untuk menentukan apakah ujian labirin
ini akan dilanjutkan atau tidak. Rencananya, aku akan meminta agar area setelah
Zona Aman lantai tiga dilarang untuk dimasuki sementara waktu."
Benar,
sepertinya memang lebih baik menutup akses setelah lantai tiga.
"Baiklah.
Kalau begitu kami permisi dulu karena harus segera istirahat. Semuanya, sampai
jumpa besok!"
Sebenarnya
aku ingin lebih lama berada di dekat Clarice, tapi rekan satu timku adalah
Kylus, dan dialah bosnya di sini.
Karena takut
dia akan marah kalau aku telat, aku berjalan gontai penuh duka menuju tempat
Kylus.
◆◇◆
Hari
Kesepuluh Ujian Labirin.
Kami kembali
dari labirin Arahan tadi malam.
Tanpa sempat
bersantai, kami berangkat pagi-pagi buta menuju Akademi Nasional Lister.
Karena
kondisi Johann dan Joseph belum membaik, anggota [Kamaitachi] lainnya tetap tinggal untuk berjaga.
Jadi, anggota
yang kembali adalah aku, Kylus, Sasha, dan tim [Karen], total sembilan orang.
Setelah
terguncang di dalam kereta kuda selama beberapa jam, kami memasuki lingkungan
sekolah dan turun di depan gedung staf, lalu langsung menuju ruang kepala
sekolah.
"Adipati
Regan. Ini Sasha. Saya baru saja kembali."
Setelah
mengetuk pintu, daun pintu yang tebal itu pun terbuka.
"Terima
kasih atas kerja keras kalian. Kalian berdua, silakan beristirahat di
luar."
Dua staf yang
membuka pintu tadi diperintahkan oleh Adipati Regan untuk keluar. Mereka
membungkuk pada kami lalu menutup pintu ruang kepala sekolah.
"Saya
sudah mengetahui garis besar kejadiannya lewat kurir cepat. Bisakah kalian
menceritakan detailnya?"
Saat Sasha
hendak menjawab mewakili semuanya, Adipati Regan mengangkat tangan untuk
menghentikannya.
"Biarkan
Sasha bicara terakhir. Mari kita lihat... Pertama, Dominic."
Dominic yang
ditunjuk langsung oleh Adipati Regan tampak gugup hingga suaranya melengking,
tapi semua perkataan yang keluar dari mulutnya hanyalah hiperbola yang
subjektif.
Katanya, satu
tebasannya bisa menerbangkan banyak kepala Rock Lizard sekaligus, atau dia
sudah menyudutkan Golem hingga sekarat.
Bahkan di
akhir, dia berani-beraninya mengaku bisa menembus lantai lima sendirian.
Aku
mendengarkannya sambil merasa was-was kapan Kylus akan meledak marah, tapi
ternyata Kylus hanya tersenyum menyeringai dengan cara yang menyeramkan.
"Terima
kasih. Dominic luar biasa sekali ya. Saya menaruh harapan besar padamu.
Selanjutnya Baron, ceritakan kisahmu."
Baron
pun setali tiga uang dengan Dominic, bicara omong kosong.
Dia
mengaku menahan semua serangan dengan Earth Wall sehingga semua orang
hanya menderita luka gores.
Dia
juga bilang terus bertarung sampai akhir, namun menyayangkan MP-nya
habis di saat terakhir sehingga tidak bisa memberikan serangan penuntas.
"Begitu
ya. Baron juga telah bertarung dengan gagah berani layaknya gelar Pahlawan
Utara. Saya sangat bangga."
Adipati
Regan terus tersenyum sepanjang waktu. Apa mungkin orang ini gampang dikelabui?
Begitulah
pikirku, sampai akhirnya...
Begitu
senyum palsu itu mengarah ke Kylus, seolah sudah direncanakan, Kylus langsung
berteriak heboh.
"Woi,
apa yang kalian katakan itu benar!? Kalian bisa melakukan hal yang bahkan aku
pun tidak bisa!? Ayo keluar sekarang. Kalau kalian terbukti lebih kuat dariku,
aku akan mengakuinya. Tapi ingat ya!? Kalau tidak bisa, bersiaplah! Aku akan
menghajar habis-habisan sifat busuk kalian itu!"
Gemetar
karena gertakan Kylus, mereka berdua memohon bantuan pada Adipati Regan.
"Saya
percaya pada kalian, jadi silakan kalahkan Kylus."
Kata
"percaya" itu praktis sekali, tapi juga menakutkan. Karena dengan
kata itu, seseorang bisa membuang orang lain secara rasional.
Keduanya pun
diseret keluar dari ruang kepala sekolah dengan tengkuk yang dicengkeram oleh
Kylus.
"Selanjutnya
Mars. Silakan ceritakan bagianmu."
Sepasang mata
Adipati Regan menatapku lurus-lurus.
"Baik.
Saya melihat Karen-sama sedang berhadapan dengan Golem, lalu saya berpikir
harus melakukan sesuatu. Saya hanya ingat melepaskan Wind pada diri
sendiri untuk akselerasi... setelah itu saya bertarung mati-matian dan saat
sadar, Golem-nya sudah tumbang..."
"Kamu
bilang tidak ingat?"
"Mohon
maaf sekali..."
Saat aku
menundukkan kepala, Adipati Regan mengalihkan pandangan ke arah Karen.
"Mohon
maaf. Saya pun kehilangan kesadaran setelah menghentikan gerakan Golem dengan Binding
Glare... Saat sadar, saya sudah berada di lantai empat..."
"Saya
sudah mendengar hal serupa dari para staf. Ini hanya untuk konfirmasi saja.
Tidak perlu meminta maaf."
Syukurlah.
Rupanya Karen juga tidak ingat detail kejadian saat itu.
Aku
mengembuskan napas lega dalam hati, tapi desakan Adipati Regan belum berakhir.
"Ada hal
lain yang ingin saya tanyakan pada Mars. Berdasarkan kesaksian dari beberapa
staf, ada laporan bahwa kamu menjadikan Kylus sebagai Porter dan menembus
lantai dua serta lantai tiga sendirian. Apa itu benar?"
Sejak Sasha
bilang ingin minta penjelasan, aku mengira ini soal penyelamatan Karen, jadi
aku sudah menyiapkan jawaban untuk itu. Tak kusangka dia malah mengungkit
masalah ini.
Apalagi aku
sedang ditonton semua orang, tidak ada ruang untuk beralasan.
"...Iya.
Itu benar."
Begitu aku
mengaku jujur, Adipati Regan mengangguk puas.
"Saya
tidak bermaksud menyalahkanmu. Namun, karena hal itu sudah terlihat oleh staf
dan murid lain, saya tidak bisa membiarkan Mars terus berada di Kelas E...
apalagi di kursi paling belakang. Tadinya saya berencana menaikkan kelasmu
secara bertahap, tapi mulai hari ini, kamu pindah ke Kelas S."
"――!?"
Eh!? Tiba-tiba Kelas S!?
Di saat Clarice, Elie, dan Misha saling
berpegangan tangan dengan gembira, Sasha justru menunjukkan ekspresi bingung.
"A-Adipati Regan!? Apa Anda
yakin!? Langsung ke Kelas S itu..."
Memang benar, seingatku di pembicaraan
sebelumnya kami sepakat untuk menaikkannya pelan-pelan.
"Iya. Tadinya saya pun berniat
begitu, tapi saat kalian sedang menyelam di labirin, terjadi berbagai hal di
sini..."
Adipati
Regan menggantung kalimatnya.
"Berbagai
hal" itu apa? Aku ingin bertanya tapi tidak enak.
Sasha
pun sepertinya tidak bisa bertanya lebih jauh dan langsung mengganti topik.
"Lalu
soal ujian labirin, apakah sebaiknya dihentikan? Berdasarkan keputusan kami di
lapangan, akses setelah Zona Aman lantai tiga sudah dilarang."
"Luar
biasa, Sasha. Keputusan yang tepat. Ujian labirin akan tetap dilanjutkan sampai
akhir bulan sesuai jadwal, tapi saya akan mengirimkan pasukan ksatria. Karena
masalah jadwal, pasukan tidak bisa bergerak sekarang, tapi paling lambat lima
hari lagi mereka akan sampai di Arahan. Jadi, begini rencana saya..."
Adipati Regan
menopang dagu dengan tangan di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Bisakah
kalian menjaga keamanan labirin sampai pasukan ksatria Regan tiba?"
"Maksud
Anda, kami menjalankan peran yang sama dengan tim yang seluruh anggotanya
adalah staf?"
Saat Sasha
bertanya kembali untuk konfirmasi, Adipati Regan memiringkan kepalanya di atas
tangannya yang bertumpu dan tersenyum.
"Benar
sekali. Jika Mars yang bisa menembus lantai tiga sendirian ditambah Sasha
bergabung, saya rasa akan tercipta party yang setara dengan [Guren]. Bagaimana?"
"Eh?
Saya juga ikut?"
Saking
kagetnya karena dipanggil, suaraku sampai pecah.
"Tentu
saja. Tadinya saya memikirkan Kylus, tapi Kylus sekarang punya tugas baru untuk
melatih Baron dan Dominic habis-habisan. Tolong jangan salah paham, saya
benar-benar mengapresiasi Baron dan Dominic. Namun mereka berdua masih belum
tahu rasa takut. Kejadian ini adalah kesempatan bagus bagi mereka. Yah, saya
bisa bicara begini karena semuanya selamat."
"...Baiklah.
Saya tidak keberatan."
Jujur saja,
aku merasa agak canggung berada di party yang isinya perempuan semua, tapi bisa
bersama Clarice dan Elie adalah poin besar.
Aku sempat
khawatir saat berpisah dari mereka. Aku tidak mau mengalami perasaan seperti
itu lagi.
"Karen
juga setuju, kan?"
Di saat semua
mata tertuju pada Karen, tatapannya sempat bertemu denganku sebelum dia
membuang muka.
"I-iya.
Tapi apa saya sanggup? Saya sudah membuat
semua orang dalam bahaya."
"Sasha akan membimbingmu, jadi
tidak perlu khawatir. Posisi pemimpin paling cocok dipegang oleh barisan
belakang yang punya kesempatan lebih banyak untuk memantau situasi secara
keseluruhan."
Karen hendak mengatakan sesuatu untuk
menanggapi ucapan Adipati Regan, namun dia menelannya kembali.
"Hei!?
Kalau begitu! Ayo kita rayakan! Sekalian pesta penyambutan dan syukuran Mars
naik ke Kelas S!"
"Misha.
Saya mengerti perasaanmu, tapi lakukanlah setelah ujian labirin selesai.
Maafkan saya, tapi saya ingin kalian segera kembali ke Arahan sekarang
juga."
Misha
mengangguk meski sambil merengut mendengar ucapan Adipati Regan.
Aku
pun tidak menyangka harus langsung balik lagi, tapi aku paham alasan Adipati
Regan.
"Baik,
kami mengerti. Kalau begitu kami permisi dulu."
Saat
keluar mengikuti Sasha, kami melihat pemandangan Baron dan Dominic yang
benar-benar tidak berkutik meski sudah mengeroyok Kylus berdua.
"Kylus?
Kami diputuskan untuk kembali ke Arahan, lalu bagaimana denganmu?"
"Ouh!
Aku memutuskan untuk menempa kedua bocah ini habis-habisan! Kutitipkan Mars
padamu ya!"
Wajah kedua
orang itu langsung berubah menjadi penuh keputusasaan mendengar ucapan Kylus.
Jangan pasang
muka begitu. Pria di depan kalian itu adalah guru yang hebat.
Yah, aku
tidak akan pernah berani mengatakannya di depan Kylus, sih.
Begitu masuk
ke dalam kereta kuda, rasanya seperti di surga.
Selama ini
aku hanya melakukan perjalanan berdua dengan binatang buas yang emosinya tidak
stabil.
Sekarang,
ada Clarice di kanan dan Elie di kiri.
Keduanya
menggenggam tanganku dengan kedua tangan mereka dan menyandarkan tubuh mereka
padaku.
Ditambah
lagi, di depanku ada Sasha, dan di kanan-kirinya ada Karen serta Misha.
Sejauh
mata memandang hanya ada wanita cantik dan gadis manis.
Mungkin
inilah yang diimpikan setiap pria, yang biasa disebut harem.
Dikelilingi oleh aroma yang harum, kereta kuda itu melaju dengan ringan menuju Arahan.



Post a Comment