NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 3 Chapter 11

Chapter 11

Kenaikan Pangkat


"Syukurlah ya. Semuanya selamat," ujar Misha dengan senyum lebar sambil menatap Karen yang tertidur pulas di punggungku.

"Iya. Ini semua berkat tekad mereka yang tidak mau menyerah."

Benar-benar nyaris saja.

Karena melihat Elie begitu panik, aku memacu seluruh tenagaku menuju posisi Karen, tapi saat aku menemukannya, tinju Golem itu sudah terayun jatuh.

Aku berpikir keras harus melakukan sesuatu, dan tiba-tiba bayangan Misha yang setiap hari terpental dengan gaya yang spektakuler namun tetap tersenyum melintas di benakku.

Aku pun menembakkan Wind ke punggungku sendiri, dan saat itu juga aku merasa seolah-olah diriku menjadi bola dalam permainan pinball.

Lorong labirin tampak seperti kanvas panjang yang membentang vertikal, di mana monster-monster terlewati dengan kecepatan luar biasa.

Jujur saja, itu menakutkan sekali. Rasanya mirip seperti sabuk pengaman roller coaster lepas lalu tubuhmu terpental terbang.

Kegigihan Karen juga luar biasa.

Meski tinju Golem sudah di depan mata—situasi di mana orang normal pasti akan memejamkan mata karena takut—dia tidak menyerah dan menggunakan Binding Glare. Itu adalah salah satu faktor kunci penyelamatan ini.

Kerja samaku dengan Clarice juga sangat pas.

Clarice yang menyelinap di belakang Karen memberiku kode lewat isyarat tangan. Bahwa dua orang luka parah, dan aku harus mengalihkan perhatian.

Berkat pertunjukan sihirku, aku berhasil menarik perhatian Karen dan semua orang.

Bahkan Fireball yang sebenarnya tidak perlu kugunakan itu pun sengaja kupakai sebagai kamuflase untuk menyembunyikan cahaya lembut dari Holy Magic.

Rencana itu sukses besar; tidak ada satu pun yang menyadari Holy Magic milik Clarice.

Meski sedikit mengejutkan melihat Sasha berhasil membujuk Karen agar bungkam, hasilnya tetap memuaskan.

◆◇◆

Saat kami tiba dengan selamat di lantai empat tempat para guru menunggu, sorak-sorai kegembiraan pecah, bahkan ada yang sampai menangis.

Aku menurunkan Karen pelan-pelan agar dia tidak terbangun, lalu saling memuji perjuangan satu sama lain dengan Clarice dan yang lain.

"Kerja bagus. Kamu tidak apa-apa?"

"Iya, tapi sejujurnya aku lelah sekali. Sejak ujian labirin dimulai aku belum mandi sama sekali, jadi aku ingin cepat kembali ke penginapan dan berendam."

Meski Clarice bilang lelah, wajahnya tetap cantik seperti biasa dan tidak ada satu pun helai rambutnya yang berantakan.

Memang benar dia belum mandi, tapi dia memancarkan aura bersih seolah-olah baru saja keluar dari kamar mandi.

"Bagaimana? Mau kusiapkan bak mandi?" bisikku agar tidak terdengar oleh Misha yang ada di dekat kami.

Selama sering menyelam bersama Clarice dan Elie di Almeria, aku sudah bisa membuat bak mandi sederhana dengan Earth Magic.

"Boleh...!? ...Tapi tidak usah saja. Tidak baik kalau Mars semakin menonjol di situasi seperti ini. Terima kasih atas niatnya, ya."

Mata Clarice sempat berbinar sejenak, tapi dia menahan keinginan mandinya demi memikirkanku.

Tak lama kemudian, Sasha yang tadi sedang berbicara serius dengan guru-guru lain berjalan menghampiri kami.

"Kali ini kami sangat terbantu oleh kalian. Maaf, tapi bisakah kalian ikut ke sekolah sebentar?"

"Tentu saja bisa, tapi ada apa ya?"

"Aku ingin melapor pada Adipati Regan. Juga untuk menentukan apakah ujian labirin ini akan dilanjutkan atau tidak. Rencananya, aku akan meminta agar area setelah Zona Aman lantai tiga dilarang untuk dimasuki sementara waktu."

Benar, sepertinya memang lebih baik menutup akses setelah lantai tiga.

"Baiklah. Kalau begitu kami permisi dulu karena harus segera istirahat. Semuanya, sampai jumpa besok!"

Sebenarnya aku ingin lebih lama berada di dekat Clarice, tapi rekan satu timku adalah Kylus, dan dialah bosnya di sini.

Karena takut dia akan marah kalau aku telat, aku berjalan gontai penuh duka menuju tempat Kylus.

◆◇◆

Hari Kesepuluh Ujian Labirin.

Kami kembali dari labirin Arahan tadi malam.

Tanpa sempat bersantai, kami berangkat pagi-pagi buta menuju Akademi Nasional Lister.

Karena kondisi Johann dan Joseph belum membaik, anggota [Kamaitachi] lainnya tetap tinggal untuk berjaga.

Jadi, anggota yang kembali adalah aku, Kylus, Sasha, dan tim [Karen], total sembilan orang.

Setelah terguncang di dalam kereta kuda selama beberapa jam, kami memasuki lingkungan sekolah dan turun di depan gedung staf, lalu langsung menuju ruang kepala sekolah.

"Adipati Regan. Ini Sasha. Saya baru saja kembali."

Setelah mengetuk pintu, daun pintu yang tebal itu pun terbuka.

"Terima kasih atas kerja keras kalian. Kalian berdua, silakan beristirahat di luar."

Dua staf yang membuka pintu tadi diperintahkan oleh Adipati Regan untuk keluar. Mereka membungkuk pada kami lalu menutup pintu ruang kepala sekolah.

"Saya sudah mengetahui garis besar kejadiannya lewat kurir cepat. Bisakah kalian menceritakan detailnya?"

Saat Sasha hendak menjawab mewakili semuanya, Adipati Regan mengangkat tangan untuk menghentikannya.

"Biarkan Sasha bicara terakhir. Mari kita lihat... Pertama, Dominic."

Dominic yang ditunjuk langsung oleh Adipati Regan tampak gugup hingga suaranya melengking, tapi semua perkataan yang keluar dari mulutnya hanyalah hiperbola yang subjektif.

Katanya, satu tebasannya bisa menerbangkan banyak kepala Rock Lizard sekaligus, atau dia sudah menyudutkan Golem hingga sekarat.

Bahkan di akhir, dia berani-beraninya mengaku bisa menembus lantai lima sendirian.

Aku mendengarkannya sambil merasa was-was kapan Kylus akan meledak marah, tapi ternyata Kylus hanya tersenyum menyeringai dengan cara yang menyeramkan.

"Terima kasih. Dominic luar biasa sekali ya. Saya menaruh harapan besar padamu. Selanjutnya Baron, ceritakan kisahmu."

Baron pun setali tiga uang dengan Dominic, bicara omong kosong.

Dia mengaku menahan semua serangan dengan Earth Wall sehingga semua orang hanya menderita luka gores.

Dia juga bilang terus bertarung sampai akhir, namun menyayangkan MP-nya habis di saat terakhir sehingga tidak bisa memberikan serangan penuntas.

"Begitu ya. Baron juga telah bertarung dengan gagah berani layaknya gelar Pahlawan Utara. Saya sangat bangga."

Adipati Regan terus tersenyum sepanjang waktu. Apa mungkin orang ini gampang dikelabui?

Begitulah pikirku, sampai akhirnya...

Begitu senyum palsu itu mengarah ke Kylus, seolah sudah direncanakan, Kylus langsung berteriak heboh.

"Woi, apa yang kalian katakan itu benar!? Kalian bisa melakukan hal yang bahkan aku pun tidak bisa!? Ayo keluar sekarang. Kalau kalian terbukti lebih kuat dariku, aku akan mengakuinya. Tapi ingat ya!? Kalau tidak bisa, bersiaplah! Aku akan menghajar habis-habisan sifat busuk kalian itu!"

Gemetar karena gertakan Kylus, mereka berdua memohon bantuan pada Adipati Regan.

"Saya percaya pada kalian, jadi silakan kalahkan Kylus."

Kata "percaya" itu praktis sekali, tapi juga menakutkan. Karena dengan kata itu, seseorang bisa membuang orang lain secara rasional.

Keduanya pun diseret keluar dari ruang kepala sekolah dengan tengkuk yang dicengkeram oleh Kylus.

"Selanjutnya Mars. Silakan ceritakan bagianmu."

Sepasang mata Adipati Regan menatapku lurus-lurus.

"Baik. Saya melihat Karen-sama sedang berhadapan dengan Golem, lalu saya berpikir harus melakukan sesuatu. Saya hanya ingat melepaskan Wind pada diri sendiri untuk akselerasi... setelah itu saya bertarung mati-matian dan saat sadar, Golem-nya sudah tumbang..."

"Kamu bilang tidak ingat?"

"Mohon maaf sekali..."

Saat aku menundukkan kepala, Adipati Regan mengalihkan pandangan ke arah Karen.

"Mohon maaf. Saya pun kehilangan kesadaran setelah menghentikan gerakan Golem dengan Binding Glare... Saat sadar, saya sudah berada di lantai empat..."

"Saya sudah mendengar hal serupa dari para staf. Ini hanya untuk konfirmasi saja. Tidak perlu meminta maaf."

Syukurlah. Rupanya Karen juga tidak ingat detail kejadian saat itu.

Aku mengembuskan napas lega dalam hati, tapi desakan Adipati Regan belum berakhir.

"Ada hal lain yang ingin saya tanyakan pada Mars. Berdasarkan kesaksian dari beberapa staf, ada laporan bahwa kamu menjadikan Kylus sebagai Porter dan menembus lantai dua serta lantai tiga sendirian. Apa itu benar?"

Sejak Sasha bilang ingin minta penjelasan, aku mengira ini soal penyelamatan Karen, jadi aku sudah menyiapkan jawaban untuk itu. Tak kusangka dia malah mengungkit masalah ini.

Apalagi aku sedang ditonton semua orang, tidak ada ruang untuk beralasan.

"...Iya. Itu benar."

Begitu aku mengaku jujur, Adipati Regan mengangguk puas.

"Saya tidak bermaksud menyalahkanmu. Namun, karena hal itu sudah terlihat oleh staf dan murid lain, saya tidak bisa membiarkan Mars terus berada di Kelas E... apalagi di kursi paling belakang. Tadinya saya berencana menaikkan kelasmu secara bertahap, tapi mulai hari ini, kamu pindah ke Kelas S."

"――!?"

Eh!? Tiba-tiba Kelas S!?

Di saat Clarice, Elie, dan Misha saling berpegangan tangan dengan gembira, Sasha justru menunjukkan ekspresi bingung.

"A-Adipati Regan!? Apa Anda yakin!? Langsung ke Kelas S itu..."

Memang benar, seingatku di pembicaraan sebelumnya kami sepakat untuk menaikkannya pelan-pelan.

"Iya. Tadinya saya pun berniat begitu, tapi saat kalian sedang menyelam di labirin, terjadi berbagai hal di sini..."

Adipati Regan menggantung kalimatnya.

"Berbagai hal" itu apa? Aku ingin bertanya tapi tidak enak.

Sasha pun sepertinya tidak bisa bertanya lebih jauh dan langsung mengganti topik.

"Lalu soal ujian labirin, apakah sebaiknya dihentikan? Berdasarkan keputusan kami di lapangan, akses setelah Zona Aman lantai tiga sudah dilarang."

"Luar biasa, Sasha. Keputusan yang tepat. Ujian labirin akan tetap dilanjutkan sampai akhir bulan sesuai jadwal, tapi saya akan mengirimkan pasukan ksatria. Karena masalah jadwal, pasukan tidak bisa bergerak sekarang, tapi paling lambat lima hari lagi mereka akan sampai di Arahan. Jadi, begini rencana saya..."

Adipati Regan menopang dagu dengan tangan di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Bisakah kalian menjaga keamanan labirin sampai pasukan ksatria Regan tiba?"

"Maksud Anda, kami menjalankan peran yang sama dengan tim yang seluruh anggotanya adalah staf?"

Saat Sasha bertanya kembali untuk konfirmasi, Adipati Regan memiringkan kepalanya di atas tangannya yang bertumpu dan tersenyum.

"Benar sekali. Jika Mars yang bisa menembus lantai tiga sendirian ditambah Sasha bergabung, saya rasa akan tercipta party yang setara dengan [Guren]. Bagaimana?"

"Eh? Saya juga ikut?"

Saking kagetnya karena dipanggil, suaraku sampai pecah.

"Tentu saja. Tadinya saya memikirkan Kylus, tapi Kylus sekarang punya tugas baru untuk melatih Baron dan Dominic habis-habisan. Tolong jangan salah paham, saya benar-benar mengapresiasi Baron dan Dominic. Namun mereka berdua masih belum tahu rasa takut. Kejadian ini adalah kesempatan bagus bagi mereka. Yah, saya bisa bicara begini karena semuanya selamat."

"...Baiklah. Saya tidak keberatan."

Jujur saja, aku merasa agak canggung berada di party yang isinya perempuan semua, tapi bisa bersama Clarice dan Elie adalah poin besar.

Aku sempat khawatir saat berpisah dari mereka. Aku tidak mau mengalami perasaan seperti itu lagi.

"Karen juga setuju, kan?"

Di saat semua mata tertuju pada Karen, tatapannya sempat bertemu denganku sebelum dia membuang muka.

"I-iya. Tapi apa saya sanggup? Saya sudah membuat semua orang dalam bahaya."

"Sasha akan membimbingmu, jadi tidak perlu khawatir. Posisi pemimpin paling cocok dipegang oleh barisan belakang yang punya kesempatan lebih banyak untuk memantau situasi secara keseluruhan."

Karen hendak mengatakan sesuatu untuk menanggapi ucapan Adipati Regan, namun dia menelannya kembali.

"Hei!? Kalau begitu! Ayo kita rayakan! Sekalian pesta penyambutan dan syukuran Mars naik ke Kelas S!"

"Misha. Saya mengerti perasaanmu, tapi lakukanlah setelah ujian labirin selesai. Maafkan saya, tapi saya ingin kalian segera kembali ke Arahan sekarang juga."

Misha mengangguk meski sambil merengut mendengar ucapan Adipati Regan.

Aku pun tidak menyangka harus langsung balik lagi, tapi aku paham alasan Adipati Regan.

"Baik, kami mengerti. Kalau begitu kami permisi dulu."

Saat keluar mengikuti Sasha, kami melihat pemandangan Baron dan Dominic yang benar-benar tidak berkutik meski sudah mengeroyok Kylus berdua.

"Kylus? Kami diputuskan untuk kembali ke Arahan, lalu bagaimana denganmu?"

"Ouh! Aku memutuskan untuk menempa kedua bocah ini habis-habisan! Kutitipkan Mars padamu ya!"

Wajah kedua orang itu langsung berubah menjadi penuh keputusasaan mendengar ucapan Kylus.

Jangan pasang muka begitu. Pria di depan kalian itu adalah guru yang hebat.

Yah, aku tidak akan pernah berani mengatakannya di depan Kylus, sih.

Begitu masuk ke dalam kereta kuda, rasanya seperti di surga.

Selama ini aku hanya melakukan perjalanan berdua dengan binatang buas yang emosinya tidak stabil.

Sekarang, ada Clarice di kanan dan Elie di kiri.

Keduanya menggenggam tanganku dengan kedua tangan mereka dan menyandarkan tubuh mereka padaku.

Ditambah lagi, di depanku ada Sasha, dan di kanan-kirinya ada Karen serta Misha.

Sejauh mata memandang hanya ada wanita cantik dan gadis manis.

Mungkin inilah yang diimpikan setiap pria, yang biasa disebut harem.

Dikelilingi oleh aroma yang harum, kereta kuda itu melaju dengan ringan menuju Arahan.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close