Chapter
15
Reiner
dan Bram
"Permisi."
Setelah bimbingan kelas pagi selesai, aku memasuki ruang
kepala sekolah. Duke Regan mengangkat pandangannya dari dokumen di
tangannya.
"Ara? Hanya kalian bertiga? Kupikir kamu akan
membawa lebih banyak orang."
Beliau tampak terkejut karena hanya aku, Clarice, dan
Eris yang datang.
"Iya, aku pikir akan merepotkan jika kami datang
berbondong-bondong sejak pagi hari……"
"Begitu ya. Mars, yang ingin kamu ketahui adalah
tentang Reiner dan Pedang Iblis Bram, kan?"
Syukurlah, pembicaraannya jadi cepat. Saat aku
mengangguk, Duke Regan mulai bercerita dengan raut wajah serius.
"Sejauh mana kamu tahu tentang Reiner?"
"Dia mantan peringkat kedua kelas S di Sekolah
Nasional Lister dan merupakan teman seangkatan Tuan Burns. Sisanya hanya
sebatas rumor belaka."
Sasha-sensei sudah memperingatiku untuk tidak menelan
mentah-mentah rumor tentang [Sword Hunter].
"Mari kita bicara dari hal yang kamu anggap rumor
itu. Rumor yang dimaksud adalah tentang [Sword Hunter], kan?"
Ternyata rumor itu memang terkenal. Begitu aku
mengangguk, Duke Regan segera melanjutkan.
"Saat Burns dan Reiner duduk di kelas lima, ada lima
orang di kelas S. Peringkat pertama adalah Burns, dan peringkat kedua adalah
Reiner. Mereka berdua selalu bersaing sehat untuk meningkatkan kemampuan
masing-masing. Selama itu Burns selalu mempertahankan posisi pertama, namun di
kelas lima, Reiner berhasil mendapatkan gelar Sword King."
Meskipun dia memiliki Bakat A, mendapatkan gelar Sword
King di kelas lima pasti membutuhkan usaha yang luar biasa.
"Pada saat itulah Reiner kembali menantang Burns
untuk berduel. Sebelumnya dia selalu kalah tipis, namun setelah mendapatkan
gelar Sword King, dia yakin bisa menang. Burns pun menyetujuinya.
Peraturannya adalah bertarung menggunakan pedang sungguhan, namun dengan aturan
sangat ketat untuk tidak memberikan luka fatal."
Pemikiran Burns adalah manusia memiliki banyak pengguna
sihir, dan perlengkapan mereka pun disesuaikan dengan hal itu.
Karena itu, jika menghadapi lawan dengan pedang latihan,
manusia tidak akan bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
Sangat menarik melihat betapa berbedanya pemikiran Burns
dengan Victory, Duke Seleans saat ini. Masuk akal jika Burns, yang menganggap
kekuatan berasal dari perlengkapan, disebut sebagai faksi pro-manusia.
"Hasilnya
adalah kemenangan telak bagi Burns. Kenyataannya, selama ini Burns selalu
menahan diri. Namun kali ini berbeda, Burns pun tidak bisa menahan diri dan
akhirnya mematahkan pedang yang digunakan Reiner di tengah pertarungan."
Bagi
seorang pendekar pedang, melihat pedangnya patah adalah sebuah…… tidak, mungkin
itu adalah penghinaan terbesar.
Meski begitu, Burns bertarung dengan tangan kosong,
kan? Seberapa kuat sih dia?
Saat aku melirik Eris di sampingku, dia tampak
memasang wajah bangga.
"Sejak saat itu, Reiner mulai terobsesi dengan
kualitas pedang. Namun di saat yang sama, dia tidak patah arang dan terus
mengasah kemampuan pedangnya dengan sungguh-sungguh. Bagiku, itu adalah
kekalahan yang baik bagi Reiner. Tidak, andai saja ceritanya berakhir di sana,
itu akan jauh lebih baik……"
Duke Regan mengambil napas sejenak, lalu melanjutkan.
"Setelah lulus dari Sekolah Nasional Lister,
Reiner mulai membentuk faksi dengan satu siswa kelas S lainnya. Nama faksi
mereka adalah [Kenshin]. Nama mereka meroket dalam sekejap, dan rumor
mulai beredar di kalangan petualang maupun bangsawan bahwa Reiner akan segera
menjadi petualang peringkat A."
Benar-benar kisah sukses yang klise.
"Tepat pada saat itu, Reiner mulai gemar
bertarung dengan mempertaruhkan senjata masing-masing. Hal itu dilakukan atas
kesepakatan kedua belah pihak dan ditengahi oleh pihak ketiga agar adil. Aku
pernah sekali menjadi saksi pihak ketiga. Aku ingat Reiner tidak sombong saat
menang dan tetap memuji lawannya. Pihak yang kalah pun tampak lega, itu adalah
pertarungan yang sangat bagus."
Lagi pula, tidak ada aturan dilarang berjudi di dunia
ini.
Kuharap setidaknya mempertaruhkan wanita itu
dilarang.
"Namun, hal itu tidak berlangsung lama."
Duke Regan menunjukkan ekspresi sedih. Perasaannya
terhadap Reiner sangat terasa.
"Suatu hari, demi sebuah misi, [Kenshin]
pergi ke Kerajaan Zalkam. Saat itu, dia bertaruh senjata dengan putra seorang
bangsawan Kerajaan Zalkam…… tentu saja dia sudah dewasa. Hasilnya adalah
kemenangan Reiner. Namun, saat itu pihak lawan menderita sedikit luka."
Karena ini pertarungan, luka ringan seharusnya sudah
menjadi risiko yang disepakati bersama.
"Namun orang tua anak itu marah besar dan berniat
membalas dendam pada Reiner."
Aduh, mentang-mentang bangsawan, jangan seenaknya dong.
"Tetapi, setelah menyelidiki Reiner, mereka tahu
bahwa dia memiliki hubungan yang sangat baik dengan Burns, calon Duke Seleans
berikutnya. Akhirnya, mereka mengalihkan sasaran balas dendam mereka."
"Dialihkan ke siapa?"
Menjawab pertanyaan Clarice, Duke Regan mengepalkan
tangannya.
"Anggota [Kenshin] yang satunya lagi…… kepada Bram――"
Eh!?
Bram!? Bram itu nama pedang iblis…… mungkinkah――!?
"Mungkin
kamu sudah menyadarinya, tapi identitas asli Pedang Iblis Bram adalah sosok
terkutuk dari Bram Chest, mantan peringkat kelima Sekolah Nasional Lister.
Bangsawan Kerajaan Zalkam itu menyewa iblis untuk membalas dendam dan mengubah
Bram menjadi pedang terkutuk, Intelligence Sword."
Asataga,
gawat sekali……
Pantas
saja saat aku bertarung dengan Reiner, meskipun aku melihat masa depan Reiner,
aku tidak bisa memprediksi gerakan Bram.
Ibaratnya,
aku menghadapi Clarice dan Eris, tapi aku justru mati-matian melihat masa depan
Clarice padahal yang ingin kulihat adalah masa depan Eris.
"Reiner yang menyadari Bram menghilang di tengah
misi, kabarnya mencari Bram dengan sekuat tenaga. Di tengah pencarian, dia
menerima pedang berbilah putih bersih dengan batu ajaib besar tertanam di
gagangnya dari pria tak dikenal. Dia segera menyadari bahwa itu adalah sosok
Bram yang telah berubah drastis."
Bilah putih bersih? Kupikir tadi warnanya merah
pekat……? Jangan-jangan warna itu……?
Menatap mataku, Duke Regan mengangguk.
"Benar, warna merah pekat sekarang itu adalah darah
para korban."
Clarice menutup mulutnya dengan tangan.
"Saat memegang Pedang Iblis Bram, kepribadian Reiner
berubah. Bram sendiri sebenarnya pendiam dan memiliki kepribadian yang sangat
tenang, tapi mungkin karena dikutuk, jiwanya menjadi terdistorsi……"
Sangat mudah dibayangkan betapa banyak hal yang berubah
akibat pengaruh kutukan.
"Menurut pengawas yang kutugaskan pada Reiner,
setiap kali dia sadar kembali, dia tidak tahan dengan perbuatannya dan
berkali-kali mencoba bunuh diri. Namun, kabarnya setiap kali itu pula Bram
mencegahnya. Dia bahkan tidak diizinkan untuk mati."
Sampai sebegitu putus asanya dia……
"Setelah mengawasi Reiner sekian lama dan mendapat
informasi pasti bahwa dia tidak melakukan hal aneh belakangan ini, aku
menghubunginya. Karena dia bilang pengaruh kutukan tidak akan muncul selama
tidak ada niat jahat atau selama dia tidak memegang Pedang Iblis Bram, maka aku
mempekerjakannya."
Memang benar, selama aku atau Senior berkacamata tidak
melakukan Appraisal, dia adalah guru bela diri yang baik. Meskipun
berbeda terhadap Clarice, aku rasa aku tahu kenapa sikapnya berubah drastis
padanya.
Bagaimanapun
juga, Clarice adalah seorang Saint. Wajar
jika Reiner dan Bram yang terkutuk berusaha menghindarinya.
"Boleh aku bertanya satu hal? Apakah Reiner-sensei
memiliki kemampuan mengendalikan ruang? Soalnya tadi tiba-tiba dia mengeluarkan
pedang dari ruang kosong."
"Itu
sepertinya adalah Space Magic milik Bram. Sejak masih sekolah, Bram
sudah bisa menyimpan dan mengeluarkan barang dari sub-ruang. Berkat kemampuan
itulah dia bisa masuk ke kelas S."
Karena Appraisal
tidak menampilkan kemampuan unik, Duke Regan mungkin mendengar tentang Space
Magic ini langsung dari orangnya.
Jika
tahu Bram adalah pengguna sihir ruang, banyak hal yang jadi masuk akal.
"Apa yang akan Duke Regan lakukan pada
Reiner-sensei setelah ini?"
Saat aku bertanya, nada bicara Duke Regan merendah.
"Ya……
aku akan memberhentikannya. Terlepas dari penyebabnya, karena sudah
jadi seperti ini, kita tidak tahu kapan dia akan membahayakan siswa
lagi……"
Itu memang solusi yang paling aman…… tapi ada sesuatu
yang mengganjal di hatiku. Orang pertama yang melakukan Appraisal pada
Reiner adalah aku. Jika aku tidak melakukannya, mungkin ini tidak akan terjadi.
Terlebih lagi, setelah mendengar cerita tadi, jika
ditanya siapa yang salah? Aku pasti akan menjawab bahwa bangsawan Kerajaan
Zalkam-lah yang salah.
"Boleh aku bertanya satu hal? Apakah tidak ada cara
untuk menghilangkan kutukannya?"
Melihat Clarice menanyakan ini, dia pasti memiliki
pemikiran yang sama denganku untuk menyelamatkan Reiner dan Bram.
"Entahlah. Mungkin jika bertanya pada iblis yang
memasang kutukan itu kita akan tahu, tapi setidaknya aku tidak tahu
caranya."
Kalau begitu, satu-satunya kemungkinan untuk
menghilangkan kutukan saat ini hanyalah bergantung pada Holy Magic milik
Clarice.
"Kapan pemberhentian itu akan dilakukan?"
"Aku berniat menugaskan pengawas untuk Reiner, jadi
mungkin segera setelah pengawasnya ditentukan. Paling lambat sekitar sepuluh
hari lagi."
"Terima kasih. Terakhir, bolehkah aku datang
berkunjung lagi dalam waktu dekat? Ada sesuatu yang ingin kuminta terkait
Reiner-sensei."
"……Baiklah. Aku akan meluangkan waktu."
Setelah meninggalkan ruang kepala sekolah, kami bertiga
tidak mengikuti pelajaran bela diri dan menuju ke bawah pohon di halaman
sekolah.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
Clarice menatapku yang sedang berbaring di hamparan
rumput hijau sambil memeluk lututnya.
"Tentu saja aku berniat menolong mereka. Cerita tadi
terlalu kejam, kan?"
Ekspresi Clarice melunak mendengar perkataanku.
"Benar juga ya. Tapi lawannya sangat kuat, apalagi
dia secara insting menghindariku jadi aku tidak bisa mendekat."
"Ya, tapi kalau kita tahu teleportasi Bram adalah Space
Magic, pasti ada jalan."
Karena tidak tahu identitasnya makanya terasa takut, tapi
kalau rahasianya sudah terbongkar, kita bisa menyiapkan langkah pencegahan.
"Clarice,
Eris. Tolong bantu aku. Mari kita hilangkan kutukan Reiner-sensei dan Bram
bersama-sama! Aku yang akan memanggil Reiner-sensei……"
Kami
berbagi strategi dan bersiap untuk hari itu―
―Beberapa hari kemudian.
"Terima kasih sudah datang, Reiner-sensei."
Aku menyewa salah satu arena untuk memanggil Reiner.
Ngomong-ngomong, siswa lain sedang berjaga di luar.
Ike yang lukanya sudah sembuh dan kelompok [Guren]
pimpinan Senior berkacamata berjaga di depan arena. Eris di atap, sementara
anggota kelas S lainnya selain Clarice dan Eris mengawasi sekitar arena agar
ksatria atau siswa lain tidak mendekat.
"Ada apa, Mars? Memanggilku ke tempat seperti
ini."
Reiner bertanya tanpa rasa curiga.
"Iya, aku memanggil Anda karena ingin berduel
sungguhan dengan Reiner-sensei. Bisakah kita melanjutkan yang kemarin?"
Di tanganku ada Pedang Roh Api Salamander Sword dan
pedang perak Mithril.
Karena Reiner akan menggunakan pedang sungguhan jika
lepas kendali akibat kutukan, maka mau tidak mau aku juga harus begini.
Namun, Reiner menggelengkan kepala.
"Tidak, aku sudah memutuskan untuk tidak menggenggam
pedang lagi. Aku berniat membuang pedangku dan mengasingkan diri ke gunung yang
tidak terjamah manusia."
Meski begitu, Pedang Iblis Bram masih tergantung di
pinggang Reiner. Baginya, mungkin Pedang Iblis Bram bukanlah sekadar pedang,
melainkan seorang teman.
Apalagi Bram hanya korban yang terseret masalah. Bagi
Reiner, dia pasti tidak bisa membuang Pedang Iblis Bram begitu saja.
"Begitu
ya…… tapi, meskipun Reiner-sensei tidak berniat bertarung, aku tetap akan
melakukannya!"
Aku
segera melakukan Appraisal pada Pedang Iblis Bram.
[Nama]
Bram Chest
[Title]
—
[Status]
Human / Commoner
[Kondisi] Dikutuk
[Umur] 34 Tahun
[Level] 48
[HP] 158 / 158
[MP] 440 / 440
Hanya sampai sini yang bisa ku-Appraisal.
Karena di tengah proses itu, Pedang Iblis Bram tiba-tiba
muncul di hadapanku.
Reiner pun menganggapku sebagai musuh karena Bram di-Appraisal,
dan entah sejak kapan dia sudah memegang pedang lain dan mulai menyerang.
Matanya merah menyala, jelas sekali dia sudah tidak
sadar.
Menggunakan Sylphid dan Vision, aku pun
membalas serangannya.
Aku berusaha melihat pertarungan secara keseluruhan,
namun Sword King Reiner di depanku terus melancarkan serangan
bertubi-tubi layaknya seorang Berserker.
Saat pedangku menangkis pedang Reiner, seperti waktu itu,
pedang yang tertangkis itu akan membentuk busur dan menyerang kembali dengan
kekuatan yang lebih besar. Aku tidak boleh melepaskan pandangan dari serangan
Reiner.
Karena itu, sebagai langkah antisipasi, aku menggunakan Search
untuk terus memantau pergerakan angin di sekitar. Begitu Pedang Iblis Bram muncul,
aku melepaskan Search dan menangkisnya dengan Wind Cutter.
Namun,
situasinya tidak menguntungkan.
Awalnya,
aku pikir aku hanya perlu waspada terhadap serangan Reiner dan gerakan Pedang
Iblis Bram.
Tetapi
kenyataannya berbeda. Bram menggunakan Space Magic untuk memanggil
pedang, belati, hingga tombak satu demi satu dan melemparkannya ke arahku.
Menghindar dari senjata yang beterbangan sambil
menangkis serangan Reiner adalah tugas yang sangat sulit.
Serangan mana pun yang mengenai bisa langsung
menentukan hasil pertarungan, sehingga aku harus selalu dalam ketegangan
tinggi.
Aku sudah tidak bisa lagi menangkis semuanya dengan Wind
Cutter dan mulai menggunakan Kamaitachi.
Aku tidak bisa menggunakan Tornado karena
aktivasinya sedikit lambat dan ada risiko terkena serangan Bram. Lagipula
ini di dalam ruangan, aku bisa menghancurkan seisi arena.
Berapa lama lagi aku harus bertahan!?
Belum genap satu menit saja aku sudah mulai pesimis.
Paling buruk, aku bisa menang jika melepaskan Lightning.
Dengan berpikir begitu, setidaknya aku bisa menjaga
ketenangan hatiku sedikit.
Saking terdesaknya aku saat itu.
Pedang Reiner dan pedangku terus beradu menciptakan
percikan api berulang kali. Setelah beberapa menit berlalu, tiba-tiba serangan
Bram melemah.
Jangan-jangan……? Akhirnya……?
Dengan penuh harapan, aku melakukan Appraisal
pada Pedang Iblis Bram yang melayang di udara.
Ternyata dugaanku benar. Sisa MP Bram sudah
menipis.
Aku sudah memikirkannya sejak mendengar bahwa
teleportasinya adalah Space Magic.
Jika itu sihir, pasti mengonsumsi MP. Karena itu,
sehebat apa pun Bram, dia tidak bisa merapalkan sihir selamanya.
Dalam adu MP, aku pasti menang.
Bagaimanapun juga, MP maksimal milikku sudah lebih
dari 10.000. Meskipun terus menggunakan Sylphid, Vision, dan Search,
aku masih punya banyak simpanan energi.
Bahkan setelah menggunakan Kamaitachi dan Wind
Cutter, MP-ku masih sangat melimpah.
Entah Reiner menyadarinya atau tidak, serangannya
semakin ganas. Namun jika serangan Bram berkurang, aku bisa menggunakan sihir
angin untuk menangkis pedang Reiner juga.
Lama-kelamaan hatiku mulai tenang, bahkan aku bisa
terus melakukan Appraisal pada Bram yang kini berada di pinggang Reiner.
Sisa MP Bram tinggal 20.
Dalam pertarungan ini, aku menyadari bahwa konsumsi MP
untuk Space Magic adalah 5.
Jadi, Bram hanya bisa berpindah atau memanggil
senjata empat kali lagi.
Namun, mungkin senjatanya sudah habis, belakangan ini
hanya tubuh utama Bram yang mencoba menusukku.
Sisa
tiga kali…… dua kali…… satu kali…….
Sip!
Sesuai rencana! Di sihir ruang berikutnya…… baru saja aku berpikir begitu.
Karena terlalu fokus pada sisa MP Bram, aku jadi
lengah terhadap ancaman dari tangan kanan Reiner.
Satu serangan itu menerbangkan Salamander Sword-ku,
bahkan tebasan yang bertambah kuat itu mementalkan Mithril Sword-ku juga hingga
keseimbanganku hancur berantakan.
Pada saat itu, Pedang Iblis Bram berpindah ke tangan
kiri Reiner.
Menggunakan sisa MP terakhirnya, Bram
berteleportasi ke tangan kiri Reiner.
MP Bram sekarang 0. Dia tidak bisa
lagi menggunakan Space Magic.
Momen
inilah yang kunantikan!
"Clarice!"
Bersamaan
dengan teriakkanku, Clarice yang bersembunyi di dalam arena menembakkan Magic
Arrow ke arah Reiner.
Tentu
saja Reiner bisa menangkisnya dengan mudah, tapi itu menjadi pengalih perhatian
yang cukup untukku mengambil kembali Salamander Sword.
Memegang
Salamander Sword dan Mithril Sword, aku menerjang Reiner yang juga memegang dua
pedang.
Hasil
pertarungan ini sudah terlihat bahkan sebelum dimulai.
Meskipun
dia seorang Sword King, menggunakan gaya dua pedang tanpa latihan
tidaklah semudah itu.
Itu
adalah hal yang dikatakan Cyrus saat ujian labirin, dan saat Reiner menyerangku
dengan dua pedang kemarin pun, tangan kiri yang memegang pedang iblis itu hanya
mengandalkan tenaga kasar.
Sambil
menangkis pedang di tangan kanan Reiner menggunakan Salamander Sword dan
Mithril Sword, aku mementalkan Pedang Iblis Bram di tangan kirinya dengan Wind
Cutter.
Seketika,
Reiner yang tangan kirinya terkena dampak dari Pedang Iblis Bram menjadi hilang
keseimbangan.
Ternyata dengan tangan kiri, dia tidak bisa melakukan
serangan balik sambil membentuk busur seperti yang dia lakukan dengan tangan
kanan.
Aku terus-menerus mementalkan Pedang Iblis Bram
dengan Wind Cutter hingga akhirnya Reiner melepaskan pedang itu.
Reiner mencoba mengambil kembali Pedang Iblis Bram,
tapi aku tidak membiarkannya.
Karena sudah melihat gerakan Reiner dengan Vision
sebelumnya, aku memasang kuda-kuda dan masuk ke sela-sela antara Reiner dan
Pedang Iblis Bram.
Begitu Pedang Iblis Bram terlepas dari tangan Reiner,
Clarice segera berlari menghampiri pedang itu.
Cahaya mistis berkali-kali terpancar dari tangan
Clarice menuju Pedang Iblis Bram.
Karena MP Bram sudah 0, dia tidak bisa lari
atau bersembunyi. Inilah salah satu alasan kenapa Clarice tidak ikut bertarung
sejak awal. Jika ada Clarice, Bram pasti akan waspada dan menghemat MP-nya.
Setelah Clarice merapalkan Holy Magic beberapa
kali, akhirnya Pedang Iblis Bram terbungkus cahaya dan siluetnya berubah dari
pedang menjadi sosok manusia.
Saat
Clarice terus merapalkan Holy Magic, terdengar jeritan,
"Kyaa!?"
Jangan-jangan
Bram!? Saat aku mengalihkan pandangan kembali ke arah Clarice dengan panik, ada
seorang pria telanjang yang terbaring di sampingnya.
Penghilangan
kutukan itu berhasil, tapi sepertinya dia tidak menyangka pria itu akan muncul
dalam keadaan telanjang.
Segera kubalikkan pandangan ke arah Reiner, dia baru saja
akan menebas kearahku. Namun, tatapannya justru tertuju pada Clarice dan Bram.
Matanya terbelalak, air mata mengalir di bawah matanya yang merah, dan dia
mulai terisak kencang.
Dengan tebasan seperti itu――dengan kekuatan seperti
itu――sebenarnya apa yang bisa dipotong? Tebasannya terasa selemah itu.
Aku melakukan tsubazeriai (adu dorong pedang)
dengan Reiner dan mengunci pedangnya. Di depan matanya sudah tidak ada aku
lagi. Matanya yang merah terus menatap Bram yang terbaring di sana.
Clarice mendekati kami perlahan. Saat sang Saint
menyentuh Reiner dengan tangan penyelamatnya, akhirnya pria itu ambruk di
tempat.
"Mars, aku akan mengobatimu. Lepas pakaianmu?"
Setelah kutukan Reiner hilang, Clarice mendekat
dengan cemas.
"Tidak, aku tidak a-…… aduh!?"
Sepertinya karena terlalu asyik bertarung, tubuhku
mengeluarkan banyak adrenalin hingga aku tidak menyadari lukaku sendiri.
Seragamku sudah berlumuran darah yang sepertinya milikku sendiri.
Sambil bertelanjang dada dan menerima pengobatan
Clarice, Clarice membenamkan wajahnya di dadaku sambil bahunya bergetar.
"Syukurlah.
Kamu selamat…… lalu maafkan aku. Aku tidak tahu kapan harus merapalkan sihir
penghalang."
Memang
itu situasi yang sulit. Jika Clarice menggunakan sihir penghalang, keberadaan
pihak ketiga akan ketahuan, jadi aku memintanya untuk menahan diri sebisa
mungkin.
"Tidak, ini sudah bagus. Semuanya selamat, kan?
Aku, Clarice, Reiner-sensei, dan Bram. Mari kita lihat keadaan mereka
berdua."
Sebelum itu, aku membakar seragam yang kupakai. Karena dicincang oleh Reiner dan
Bram, seragam itu compang-camping dan penuh darah. Akan aneh jika seragamnya
hancur tapi tubuhku tidak luka, kan? Jadi aku membakarnya untuk menghilangkan
bukti.
Karena
itu, aku tidak punya baju untuk dipakaikan pada Bram.
Clarice
memakai seragamnya dengan rapi, tapi menggunakan pakaian wanita…… apalagi
pakaian Clarice untuk menutupi bagian vital pria lain selain aku, aku
benar-benar tidak sudi.
Jadi
Clarice membenamkan wajahnya di punggungku seolah bersembunyi.
Aku berjalan menuju Reiner yang duduk di dekat Bram,
lalu duduk di sampingnya. Dia
masih terus terisak sambil menangis sesenggukan.
"……Ugh,
terima kasih…… benar-benar…… terima kasih……"
Dia berkali-kali mengucapkan kata terima kasih kepadaku
dan Clarice.
"Tidak, justru akulah yang ingin berterima
kasih. Reiner-sensei sudah mematahkan hidungku yang sempat tinggi hati. Berkat
Reiner-sensei, aku bisa kembali mendalami ilmu pedang. Lalu, mungkin terdengar
sombong, tapi tolong jangan beritahu siapa pun tentang sihir suci
Clarice."
Reiner menjawab sambil mengangguk berkali-kali.
"Tentu saja. Aku akan membawanya sampai ke liang
lahat."
"Satu permintaan lagi. Biarkan Clarice merapalkan
sihir suci pada Reiner-sensei juga. Lalu sebagai jaga-jaga, aku akan melakukan Appraisal."
Sebelum menunggu jawaban Reiner, Clarice sudah merapalkan
Holy Magic padanya. Setelah itu, saat aku melakukan Appraisal,
status Reiner dan Bram sudah kembali baik.
Setelah puas menangis, ekspresi Reiner tampak lega
seolah bebannya telah terangkat. Lalu dia mulai bercerita sedikit demi sedikit.
"Bahkan sampai sekarang, aku masih ingat rasanya
menebas punggung para petualang dengan tangan ini, dan aku ingat teriakan pilu
Bram saat itu."
"Suara……
Tuan Bram?"
"Iya, meskipun Bram menjadi pedang iblis, dia
hanya bisa berbicara denganku. Namun jika ada yang mencoba membahayakan aku
atau Bram, insting perlindungan diri Bram akan bereaksi berlebihan dan itu akan
tersalurkan padaku. Semakin pendek jarak waktunya, pengaruhnya padaku juga
semakin besar."
Mungkin karena setelah aku melakukan Appraisal,
Senior berkacamata juga melakukannya. Ditambah lagi aku menanyakan soal Bram,
makanya insting perlindungannya bekerja lebih kuat.
"Bram selalu meratapi fakta bahwa karena kutukan
itu aku telah membunuh banyak orang. Dia bilang itu semua salahnya. Dia ingin
mati tapi tidak bisa, dia bingung harus bagaimana. Tapi setiap kali aku mencoba
bunuh diri, Bram selalu mencegahnya. Kami benar-benar sudah buntu."
Tanpa sadar air mata kembali mengalir dari mata
Reiner. Aku rasa mengeluarkan perasaan seperti ini sangat penting
karena ada efek detoksifikasi hormon stres.
Clarice mungkin berpikiran sama, dia diam mendengarkan
cerita Reiner dari balik punggungku.
"Saat tidak dikendalikan Bram, aku masih bisa
berinteraksi dengan orang lain seperti biasa. Namun, jika aku memegang pedang
iblis atau merasakannya, pikiran dan tindakanku pasti akan berubah menjadi
kejam. Selain itu, Bram hanya punya aku sebagai teman bicara. Akulah yang
menyeret Bram ke masalah ini. Aku benar-benar tidak bisa lepas dari pedang
iblis itu. Dan setiap kali aku memikirkan Bram, pikiranku menjadi kejam lagi.
Begitu terus berulang-ulang."
Ternyata jauh lebih tragis dari dugaanku. Apakah mereka
pantas disalahkan atas dosa mereka? Aku jadi mengerti kenapa Duke Regan
sangat mempedulikan Reiner yang merupakan murid lulusannya.
"Aku akan menebus dosaku. Bersama Bram. Kami berdua sudah sering
membicarakan ini. Jika suatu saat kami bisa kembali normal, kami akan
menebus dosa kami. Meskipun membicarakan hal ini saja bisa memicu kutukan,
sungguh nasib yang buruk."
Sambil menangis, suara tawa Reiner menggema di arena.
Namun, wajahnya menunjukkan tekad yang kuat.
Jangan-jangan……
Reiner berniat……? Aku mulai membayangkan hal yang mengerikan.
"Clarice, bisakah kamu pergi memberitahu yang
lain? Bahwa pertarungan sudah berakhir. Jika memungkinkan, beritahu Duke Regan
juga……"
Meski tidak sampai selesai, pesanku tersampaikan.
Clarice segera bangkit dan berlari keluar arena.
Orang pertama yang masuk adalah Ike dan kelompok [Guren]
pimpinan Senior berkacamata.
"Ike, Edin. Maafkan aku atas kejadian tempo
hari."
Reiner menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Tidak, itu salah Edin. Aku sudah memperingatkannya
berkali-kali, jadi tolong angkat kepala Anda."
Senior berkacamata menyambung.
"Mohon maaf sebesar-besarnya. Reiner-sensei tidak
bersalah. Lalu, jika tubuhku sampai meninggalkan bekas luka, Mars-kun bilang
dia akan bertanggung jawab, jadi tolong jangan dipikirkan."
Aku kaget mendengar kata-katanya, tapi Ike justru
tertawa mendengarnya. Sepertinya itu lelucon untuk mencairkan suasana.
Kemudian para siswa kelas S masuk. Mereka semua tampak
lega melihatku selamat.
Dan yang terakhir masuk adalah Duke Regan dengan
rambut dan pakaian yang sedikit berantakan. Wajar saja,
beliau pasti berlari secepat kilat dengan balutan Sylphid.
Begitu Duke Regan melihat Reiner yang kutukannya sudah
hilang, air mata mengalir deras dari matanya. Dan
saat melihat Bram yang terbaring, beliau jatuh terduduk sambil menangis
sesenggukan.
Duke…… menangis tersedu-sedu itu boleh saja, tapi tolong perhatikan tempatnya…… di depan Anda ada sosok Bram yang sedang telanjang bulat lho―



Post a Comment