Chapter 8
Selesai
20
Januari 2026
Satu
tahun ini benar-benar terasa sangat produktif.
[Name] Mars Bryant
[Status] Human / Putra Kedua Keluarga Baron Bryant
[Age] 6 Tahun
[Level] 14 (+5)
[HP] 82/82
[MP] 5578/5578
[Strength] 52 (+20)
[Agility] 55 (+20)
[Magic] 85 (+23)
[Dexterity] 73 (+22)
[Endurance] 50 (+20)
[Luck] 30
[Unique Ability] Natural Talent (LvMAX)
[Unique Ability] Heavenly Eye (Lv6)
[Special Ability] Wind Magic A (Lv12/19)
[Special Ability] Holy Magic C (Lv5/15)
[Equipment] Sylph Dagger
Pertama-tama, statistikku akhirnya berhasil melampaui Zeke. Aku yakin kekuatanku sekarang sudah setara
petualang peringkat C.
Sejak level Heavenly
Eye naik menjadi 6, aku tidak lagi mengonsumsi MP saat melakukan
identifikasi. Berkat kekuatan sihir yang meningkat, Wind Cutter biasa
tanpa penguatan pun sudah bisa memberikan luka fatal pada Goblin General meski
dari balik baju zirah mereka.
Aku juga sudah
bisa menggunakan sihir baru, tapi akan kupamerkan di lain kesempatan saja.
Meski aku masih
belum bisa merapalkan Wind Cutter sambil menyerang dengan Sylph
Dagger atau merapalkan Fire sambil berlari, setidaknya aku sudah
menguasai Fire Arrow.
Mungkin karena
nilai Dexterity-ku yang tinggi, akurasi pelacakan Fire Arrow
milikku jauh lebih hebat daripada punya Ike.
Lalu, sebuah
kejutan manis muncul: meski aku menggunakan belati, kemampuan Swordsmanship-ku
tetap meningkat. Mungkin
karena aku bertarung menggunakan teknik pedang, bukan teknik belati.
Berikutnya adalah Ike.
[Name] Ike Bryant
[Age] 9 Tahun
[Level] 19 (+5)
[HP] 101/101
[MP] 840/840
[Strength] 69 (+20)
[Agility] 52 (+14)
[Magic] 37 (+10)
[Dexterity] 29 (+8)
[Endurance] 65 (+19)
[Luck] 10
[Special Ability] Spearmanship B (Lv6/17)
[Special Ability] Fire Magic C (Lv5/15)
[Equipment] Flame Lance, Salamander Sword, Fire Bracelet
Ike sudah sepenuhnya menjadi pengguna tombak. Statistiknya sekarang bahkan
melampaui Ralph, sang Guild Master Almeria.
Dan hari
ini, kami akan menuju ruangan di balik 'Spawn Room'. Saat ini kami berada di Safe
Zone, menyusun strategi berempat.
Zeke dan
Maria sudah mengakui kalau duet aku dan Ike jauh lebih kuat, jadi mereka
membiarkan taktik berpusat pada kami berdua. Yah, kalau boleh disebut strategi,
sebenarnya ini hanya soal formasi saja.
Urutannya
adalah: Ike di depan, lalu aku, Maria, dan Zeke paling belakang.
Begitu
sampai di 'Spawn Room', kami langsung membantai dua puluh Goblin General dan
segera melewatinya. Karena area ini belum pernah terjamah, aku memperketat
kewaspadaan. Namun, anehnya tidak ada satu pun Goblin yang muncul di lorong.
Di ujung
lorong hanya ada satu ruangan tunggal. Tapi ada sesuatu yang sangat kontras
dibandingkan ruangan-ruangan lainnya. Warna dindingnya berbeda.
Warnanya
merah pekat, seolah-olah darah telah dioleskan ke seluruh permukaan dinding
itu.
Melihat
hal tersebut, Zeke berujar.
"Sepertinya
ini ruangan bos. Hati-hati, kemungkinan ada Goblin King di dalam."
"Bagaimana biasanya pola serangan Goblin King?"
tanya Ike.
"Aku
sendiri belum pernah melawannya secara langsung. Tapi katanya pola dasarnya
mirip dengan Goblin General. Bedanya, HP miliknya akan pulih meski
terkena serangan, jadi serangan setengah matang tidak akan berguna."
Setelah
mematangkan persiapan, Zeke memberi isyarat dengan pandangan matanya. Kami
semua mengangguk mantap, lalu Zeke membuka pintu ruangan bos itu
perlahan-lahan.
Begitu
masuk, hal pertama yang tertangkap mata adalah tangga kecil di tengah ruangan
dengan sebuah altar di puncaknya. Altar itu kosong.
Di depan
tangga, berdiri sesosok monster setinggi tiga meter dengan tanduk besar dan
pedang yang gagah.
Di
sebelah kiri dan kanan monster bertanduk itu, ada monster yang tampak seperti
versi raksasa dari Goblin General, namun memegang pedang alih-alih kapak.
Sisanya, ada sekitar dua puluh Goblin General yang berpatroli di sekeliling
ruangan.
Pertama, aku memeriksa versi raksasa dari Goblin General
itu.
[Name] —
[Ras] Goblin Lord
[Threat] C
[Level] 5
[HP] 108/108
[Strength] 60
[Endurance] 63
[Special Ability] Monster Summon G (Lv1/5)
Tingkat
ancaman C! Monster terkuat yang pernah kami temui! Statistiknya hampir setara
dengan Ike!
Selanjutnya,
monster bertanduk besar itu.
[Name] —
[Ras] Goblin King
[Threat] C+
[HP] 150/150
[Strength] 82
[Endurance] 74
[Special Ability] Swordsmanship E (Lv3/11), HP Auto-Regen
F (Lv2/8), Monster Summon G (Lv1/5)
Tingkat
ancaman C+!? Ini gawat... Satu-satunya cara adalah aku, Zeke, dan Maria
menyerang dari jauh dengan sihir sebagai pengalih perhatian, sementara Ike
mencari celah untuk memberikan serangan pamungkas.
Begitu
aku memberitahu statistik lawan, Zeke bergumam, "Goblin Lord!? Aku baru
dengar ada jenis itu."
Ia segera
merapalkan Earth Fortress bersamaan dengan Ice Fortress milik
Maria. Aku langsung menyapu dua puluh Goblin General dengan Wind Cutter,
sementara di saat yang sama, Ike merangsek maju menuju Goblin Lord di sebelah
kiri.
Secara
statistik mereka hampir seimbang. Meski Goblin Lord lebih tinggi sehingga
jangkauan pedangnya setara dengan tombak Ike, Ike unggul dalam level Spearmanship.
Ike yang sudah terbiasa bertarung mulai mendominasi. Apalagi senjata di
tangannya sangat kuat. Dengan Enchant api dan dukungan dari Zeke serta
Maria, Ike membombardir lawan hingga tumbang.
Namun, di
saat ia memberikan serangan pamungkas, sesosok Goblin Lord baru langsung
terpanggil. Goblin King-lah pelakunya.
Aku sadar
kami harus menghabisi Goblin King terlebih dahulu. Tapi saat aku mencoba
bergerak menuju altar, entah sejak kapan Goblin General yang seharusnya sudah
mati kembali mengepungku. Ternyata si Goblin Lord yang memanggil mereka.
Keadaan
jadi sangat merepotkan. Jika Zeke dan Maria ikut bertarung secara agresif
seperti tadi, MP mereka bisa habis dalam sekejap. Sepertinya Zeke juga
menyadari hal itu, karena ia langsung memberi instruksi.
"Ike!
Mars! Ayah dan Ibu akan menghemat MP agar bisa membantu saat kalian
terdesak! Mars! Siapkan sihir Heal setiap saat! Sial! Aku belum pernah
dengar ada Goblin King yang bisa memanggil bawahan!"
Katanya,
Goblin King biasa memang tidak punya kemampuan memanggil. Karena tidak ada
gunanya menahan diri lagi, aku memutuskan untuk menggunakan sihir angin yang
baru kupelajari: Tornado.
Setelah
memperingatkan keluargaku, Ike mundur mendekati posisi Zeke dan Maria.
"Sepertinya
semuanya kecuali Goblin King berada dalam jangkauan serangan. Kak Ike, tolong
urus rajanya."
Ike
mengangguk, lalu aku melepaskan Tornado.
Tornado memiliki daya bunuh yang rendah,
tapi sangat efektif untuk melumpuhkan pergerakan lawan. Sebenarnya aku bisa
menyelipkan Wind Cutter di dalamnya untuk meningkatkan daya rusak, tapi
aku sengaja tidak melakukannya. Jika aku membunuh Goblin Lord sekarang, Goblin
King hanya akan memanggil yang baru lagi.
Selagi aku
menahan pergerakan para bawahan, Ike maju untuk menumbangkan sang raja. Zeke dan Maria ikut memberikan
dukungan agar pertarungan ini cepat berakhir.
Pertarungan
antara Ike dan Goblin King berlangsung sengit. Ike melancarkan tusukan yang
berhasil dihindari sang raja, lalu sang raja membalas dengan tebasan lebar yang
dihindari Ike dengan backstep.
Saat backstep
tidak sempat dilakukan, Ike terpaksa menahan serangan dengan Flame Lance,
namun perbedaan tenaga yang besar membuatnya terpental akibat efek knockback.
Saat Goblin King hendak mengejar, Zeke dan Maria menghalau dengan Earth
Bullet dan Ice Arrow.
Beberapa
serangan mengenai tubuh Goblin King, tapi ia berhasil menghindari serangan di
titik vital atau menangkisnya dengan pedang. Luka-luka di tubuhnya pun perlahan
menutup kembali berkat efek regenerasi HP.
Setelah jual beli serangan yang berlangsung selama beberapa menit, akhirnya tombak Flame Lance milik Ike berhasil menembus perut sang Goblin King.
Merasa
inilah saat yang tepat untuk menyudahi pertarungan, Ike menarik paksa Flame
Lance miliknya dan bersiap melancarkan serangan susulan.
Namun,
Goblin King justru mencengkeram tombak yang menusuknya itu dengan tangan kiri,
menolak untuk melepaskannya. Tak cukup sampai di situ, tangan kanannya yang
memegang pedang langsung mengayun ke arah Ike yang sedang mati-matian menarik
senjatanya.
Ike
berusaha keras menarik keluar Flame Lance, tetapi karena Strength
sang raja lebih tinggi, tombak itu tidak bergeming. Ike terpaksa melepaskan
pegangannya untuk menghindari tebasan mendadak itu. Sayang, ia sedikit
terlambat mengambil keputusan; lengan kirinya tertebas cukup dalam hingga
terkulai lemas.
"Ugh!"
Ike
menekan lukanya dengan tangan kanan, dan di saat yang bersamaan...
""Ike!""
Zeke dan
Maria berteriak seraya melenyapkan Earth Fortress serta Ice Fortress
mereka. Keduanya berlari ke arah Ike, memberondong Goblin King dengan Earth
Bullet dan Ice Arrow demi melindungi putra sulung mereka. Akibatnya,
MP mereka berdua terkuras cukup banyak.
Aku pun segera membatalkan Tornado dan berlari
kencang untuk memberikan Heal pada Ike.
HP Ike merosot hingga 37/101, namun pulih
menjadi 87 hanya dengan sekali rapalan Heal. Berdasarkan perhitunganku
sebelumnya, dengan Magic 85, seharusnya sihirku memulihkan 52 poin.
Namun, ternyata hanya pulih 50 poin. Sepertinya batas maksimal pemulihan Heal
memang berada di angka 50.
Aku merapalkan Heal
sekali lagi untuk mengisi penuh HP Ike.
"Maaf! Aku
tidak bermaksud lengah, tapi... sejujurnya, bertarung satu lawan satu dengan
Goblin King ini sangat berat. Aku harus mencari celah," ujar Ike dengan
nada bicara yang penuh penyesalan.
"Kalau
begitu, aku akan menghabisi para Goblin Lord saat Kak Ike sedang sibuk
melawannya. Begitu mereka mati, dia pasti akan mencoba memanggil mereka
kembali. Manfaatkan celah itu."
Ike mengangguk,
lalu menggenggam Salamander Sword di tangan kanannya dan kembali
menerjang ke arah Goblin King. Meski baru saja menderita luka parah yang
seharusnya membuat kaki siapa pun gemetar karena trauma, Ike tidak menunjukkan
emosi itu sedikit pun saat ia kembali bertukar tebasan pedang yang sengit.
Namun, luka-luka
pada tubuh Goblin King perlahan mulai menutup. Efek regenerasi HP itu benar-benar
merepotkan.
Sambil
melirik pertarungan sengit itu, aku menyapu bersih para Goblin Lord dan Goblin
General yang sudah sekarat. Begitu Goblin Lord tumbang, sang raja langsung
menggunakan celah kecil dalam pertarungannya melawan Ike untuk melakukan
pemanggilan kembali.
Sepertinya
karena perbedaan tenaga fisik, setiap kali Ike terdorong mundur akibat knockback,
sang raja selalu menggunakannya untuk memanggil bawahan.
Dua
Goblin Lord segera muncul, dan mereka langsung mulai memanggil para Goblin
General. Prioritas para goblin ini sepertinya adalah menambah jumlah pasukan
terlebih dahulu.
Aku
mencoba menghabisi para Goblin Lord sebelum mereka sempat memanggil bantuan,
namun beberapa jenderal tetap berhasil muncul. Akhirnya, jumlah mereka kembali
menjadi dua puluh ekor. Ini benar-benar melelahkan.
"Mars!
Dia memanggil mereka terlalu cepat, aku tidak bisa menemukan celah!"
"Mari mundur
ke posisi Ayah dan Ibu!"
Setelah aku
melindungi Ike dari kejaran sang raja, kami mundur ke tempat Zeke dan Maria
yang sedari tadi mengawasi situasi dari kejauhan.
Para goblin
mengejar kami, tapi anehnya sang raja tidak ikut maju. Padahal kalau dia ikut,
aku bisa menjebaknya sekalian di dalam Tornado.
Namun, aku
menyadari sesuatu. Selama Goblin King tidak ikut campur, bukankah situasi ini
sama saja dengan 'Spawn Room' yang biasa kami datangi?
Bedanya, sekarang
kami harus melawan dua puluh musuh sekaligus secara terus-menerus. Selama kami
terus membantai para Goblin General, sang Goblin Lord hanya akan sibuk
memanggil mereka kembali dan tidak bisa ikut menyerang.
Aku membisikkan
rencana "horor" ini kepada Ike, dan dia membalasnya dengan senyuman
tipis sambil mengangguk. Kami pun mulai mengeksekusi rencana itu: membantai
para jenderal tanpa henti.
Jika
jenderal habis, kami membunuh sang Lord. Begitu Lord mati, sang raja akan
memanggil Lord baru, yang kemudian akan memanggil jenderal baru lagi. Lalu, aku
dan Ike membantainya lagi.
Taktik
yang aku berikan pada Ike ini murni sebuah pembantaian. Aku melirik MP
sang raja; sekarang tinggal 15 poin. Hampir setengahnya sudah terkuras. Di saat
MP-ku juga sudah menipis dan aku bertanya-tanya siapa yang akan
kehabisan tenaga duluan, levelku justru naik karena jumlah musuh yang kubunuh
sudah tak terhitung lagi.
[Name] Mars Bryant
[Title] Wind King / Goblin Slayer
[Age] 6 Tahun
[Level] 15 (+1)
[HP] 82/87
[MP] 1952/5580
[Magic] 90 (+5)
[Special Ability] Wind Magic A (Lv13/19)
Akhirnya aku mendapatkan gelar. Wind King dan Goblin
Slayer. Aku ingin memeriksanya lebih detail, tapi sekarang bukan saatnya
bersantai. Berkat kenaikan level dan lonjakan drastis pada Magic—atau
mungkin karena pengaruh gelar—kini Wind Cutter milikku bisa menembus
tubuh musuh dan menebas dua jenderal sekaligus.
Efisiensinya meningkat pesat. Karena situasi sudah
sepenuhnya berada di bawah kendali kami, aku mengerahkan sedikit tenaga lebih
pada Wind Cutter dan melesatkannya ke arah sang raja.
Karena jaraknya cukup jauh, sang raja masih sempat menangkis
dengan pedangnya. Namun, pedang itu patah menjadi dua dan lengannya pun ikut
tertebas. Sekarang aku bisa menghabisinya kapan saja, tapi aku sengaja menunda
itu karena para bawahan ini adalah sumber EXP yang sangat bagus.
Akhirnya, MP Goblin King mencapai 0... dia baru saja
memanggil Goblin Lord terakhirnya. Semua Goblin General juga sudah habis
dibantai dan tidak muncul lagi. MP sang Lord juga telah habis. Ternyata
monster tidak langsung pingsan meski MP-nya nol.
Setelah Goblin Lord terakhir tumbang, kini hanya tersisa
sang raja. Sudah berapa jam kami bertarung...? Ada lebih dari seribu Magic
Stone yang berserakan di lantai. Zeke dan Maria sampai terdiam seribu
bahasa melihat pemandangan yang tidak masuk akal ini.
Ike
mengangguk padaku dan menyarungkan pedangnya. Sepertinya dia memintaku untuk memberikan serangan
terakhir.
Aku meluncurkan Wind Cutter tanpa rapalan (No-Cast).
Di tengah pertarungan gila tadi, aku merasa malas harus terus merapalkan mantra
setiap kali menyerang, dan saat mencobanya, ternyata aku bisa melakukannya.
Goblin King sama sekali tidak sempat bereaksi sebelum
kepalanya melayang.
Akhirnya selesai juga. Rasa lelah langsung menyerang hingga
aku terduduk lemas di lantai. Zeke, Maria, dan Ike segera berlari menghampiriku
dengan wajah penuh kegembiraan.
"Kalian hebat! Mars! Ike! Kalau bukan karena kalian,
boro-boro mengalahkannya, kami bahkan tidak akan bisa sampai ke sini!"
Zeke
berseru bangga, lalu Maria langsung memelukku dan Ike dengan erat.
"Syukurlah
kalian selamat!"
Mereka berdua
pasti sangat cemas sejak tadi. Tingkat kesulitan ruangan ini memang tidak
main-main. Bahkan petualang peringkat C seperti ayah dan ibu mungkin saja tewas
di sini.
Saat kami sedang
merayakan kemenangan, sebuah peti harta muncul di atas altar, dan ada satu peti
besar lagi di tempat Goblin King tumbang. Pertama, aku memeriksa peti besar
milik sang raja untuk memastikan tidak ada jebakan.
Anehnya, meski
ukurannya besar, nilainya hanya 3. Di dalamnya terdapat seratus batang Mithril
Ingot seberat satu kilogram. Bahkan aku yang tidak tahu harga pasar pun
paham kalau benda ini sangatlah mahal.
Sambil melirik
mata Zeke dan Maria yang sudah berubah menjadi simbol uang, aku memeriksa peti
di atas altar.
[Name] Chest
[Value] 4
[Detail] Isi di dalamnya bergantung pada Luck.
Begitu peti
dibuka, isinya adalah:
[Name] Ifrit's Robe
[Defense] 40
[Special] Magic +2, Endurance +4
[Value] A-
[Detail] Hanya bisa dipakai oleh mereka yang memiliki
bakat sihir api. Dapat memperbaiki diri sendiri jika diberikan Enchant api.
Ketahanan tinggi terhadap elemen api.
Begitu aku menjelaskan efeknya, Ike dengan gembira langsung
memakainya. Sebenarnya seberapa tinggi sih nilai keberuntunganku...?
Melihatku sedikit lesu, mereka berjanji akan membelikanku
perlengkapan hebat saat kami pergi ke ibu kota nanti.
Katanya, dengan menjual sebagian Mithril dan Magic
Stone ini, kami bisa membeli barang apa pun. Sebenarnya aku ingin
mendapatkannya dari peti harta di dalam Dungeon, tapi ya sudahlah, mari
kita lihat nanti saja.
Lalu, aku ingat soal gelar yang kudapatkan tadi. Dengan
perasaan antusias, aku pun meng-Appraisal-nya.
[Wind King] Gelar yang diberikan kepada sepuluh
penyihir angin terhebat di dunia. Meningkatkan kekuatan sihir angin secara
drastis.
[Goblin Slayer] Gelar bagi pembantai goblin terbanyak
di dunia. Meningkatkan serangan dan pertahanan secara ekstrem saat melawan
goblin. Jika orang lain melampaui rekor ini, gelar akan diberikan kepada orang
tersebut.
Wah, aku
mendapatkan sesuatu yang sangat berguna. Saat aku menceritakannya pada Zeke, dia tampak sangat heboh.
"Apa!?
Gelar!? Aku bahkan belum pernah bertemu satu pun orang yang memilikinya! Dan
kamu punya dua!?"
Zeke ikut
kegirangan. Biarpun aku tidak beruntung dengan isi peti harta, setidaknya
usahaku membuahkan hasil yang nyata.
Sambil berjanji
untuk terus berusaha secara bertahap, aku bergegas pulang menuju Leena yang
sudah menunggu bersama para anggota Blue Fang.



Post a Comment