NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 4 Chapter 11

Chapter 11

Jurus Pamungkas


Saat aku terbangun, matahari di luar jendela sudah mulai miring.

Aku kembali ke pantai sebelum matahari terbit, jadi artinya aku sudah tidur lebih dari sepuluh jam. Wajar saja, pertarungan yang mempertaruhkan nyawa memang sangat menguras fisik dan mental.

Namun, rasa lelah itu sepadan dengan hasilnya.


[Nama] Mars Bryant

[Tittle] Thunder God / Wind King / Goblin Slayer

[Status] Baik

[Usia] 12 Tahun

[Level] 31 (+2)

[HP] 217 / 217

[MP] 10432 / 10432

[Strength] 140 (+9)

[Agility] 148 (+9)

[Magic] 197 (+11)

[Dexterity] 175 (+8)

[Stamina] 139 (+9)

[Luck] 30

 

[Innate Ability] Gifted (Lv MAX)

[Innate Ability] Heaven's Eye (Lv 10)

[Innate Ability] Lightning Magic S (Lv 8/20) (6 → 8)

 

[Special Ability] Sword Art B (Lv 12/17)

[Special Ability] Taijutsu G (Lv 3/5) (2 → 3)

[Special Ability] Fire Magic E (Lv 8/11) (7 → 8) (F → E)

[Special Ability] Water Magic F (Lv 5/8)

[Special Ability] Earth Magic F (Lv 7/8)

[Special Ability] Wind Magic A (Lv 16/19)

[Special Ability] Holy Magic C (Lv 8/15)


Mungkin karena aku terus-menerus menggunakan sihir petir sejak datang ke San Marina, ditambah bakat tingkatan S, level sihirku melonjak ke level 8 dalam sekejap.

Yang terpenting, aku mendapatkan sebuah inspirasi saat bertarung melawan Arvanc. Sekarang, aku sudah tidak sabar ingin mencobanya.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dengan kasar.

"Mars!"

Yang masuk ke kamar adalah Eris, Karen, dan Misha. Mereka bertiga tampak lega melihatku sudah bangun.

"Kalian berdua benar-benar sehati, ya. Barusan Clarice juga baru bangun. Sekarang Sasha-sensei sedang menemaninya, jadi tenang saja."

"Maaf sudah membuat kalian khawatir. Bagaimana dengan masalah Arvanc? Apa tertangani dengan baik?"

"Kurasa aman. Lorenz-sensei juga ikut membantu membereskannya."

Syukurlah... Masalahnya, akan jadi geger kalau aku dan Clarice ketahuan mengalahkan Arvanc hanya berdua saja.

Jadi, kami mengatur agar seolah-olah seluruh Kelas S yang mengalahkannya di bawah bimbingan para guru.

Sebenarnya Baron sempat keberatan karena dia punya harga diri yang tinggi. Namun, harga diri itu langsung runtuh di hadapan Clarice.

"Tolong, bantu kami ya?"

Adakah pria yang bisa menolak permintaan Clarice saat dia memohon sambil mendongak seperti itu? Baron langsung berjanji akan membantu dengan penuh semangat.

Yah, kalaupun cara itu gagal, Karen bilang dia akan mengendalikan Baron dengan Charm Eye, jadi hasilnya tetap sama saja.

"Terus sekarang bagaimana? Mau pergi ke tempat Marquis San Marina seperti biasa?"

Jawabanku sudah bulat bahkan sebelum Karen bertanya.

"Iya, ada hal yang ingin kubicarakan soal itu. Bisa panggilkan Clarice dan Sasha-sensei ke ruang tengah?"

Setelah menyampaikan keinginanku pada mereka semua, kami pun berangkat menuju jamuan makan malam bersama Marquis San Marina.

◆◇◆

"Hari ini terakhir ya... Ternyata cepat sekali berlalu."

Saat aku sedang bersantai di ruang tengah setelah yang lain tidur, Clarice masuk ke ruangan.

"Ada apa? Tidak bisa tidur?"

"Bukan begitu, tapi..."

Clarice duduk di sebelahku di sofa yang sama.

"Maaf ya. Karena keinginanku, kita jadi berangkat besok."

Ada sesuatu yang sangat ingin kucoba, jadi aku mengubah rencana dan memutuskan untuk berangkat lebih awal dari siswa umum lainnya.

Aku sempat terpikir untuk meninggalkan Clarice dan yang lain di sini sementara aku pulang duluan, tapi rasa cemas, khawatir, dan cemburu malah melanda hatiku.

Begitu aku mengutarakan hal itu dengan jujur, mereka langsung menyetujui permintaanku tanpa ragu.

Omong-omong, hasil diskusi dengan Marquis San Marina di perjamuan tadi memutuskan bahwa hadiah pembasmian Arvanc akan diserahkan kepada Sekolah Nasional Lister.

Karena kami sudah bilang ini adalah operasi di bawah bimbingan guru, aku dan Clarice tidak mungkin menerimanya secara pribadi.

Sebagai gantinya, aku mendapatkan bagian Diamond Tuna yang bergizi tinggi beserta imbalan uang. Sekarang kantong koin emasku sudah penuh sesak. Aku bisa hidup bersantai selama beberapa tahun ke depan.

"Hei... Clarice? Boleh aku minta satu hal lagi?"

Mengajaknya pulang besok saja sudah cukup egois, tapi aku masih ingin menambahkannya. Namun, Clarice tetap menungguku melanjutkan kata-kata.

"Anu, sejak datang ke sini aku belum sempat bermain. Kalau boleh, untuk kenangan terakhir..."

Kami sering pergi berdua dengan berbagai alasan, tapi aku belum pernah mengajaknya berkencan dengan benar seperti ini. Aku bisa merasakan wajahku memerah padam.

"Iya... aku senang sekali..."

Sambil berpegangan tangan, kami berdua menyelinap keluar dari vila dan melebur ke dalam malam San Marina―

◆◇◆

Keesokan harinya

"Hei Clarice? Sepertinya ada hal bagus yang terjadi ya?"

Misha bertanya di dalam kereta kuda yang membawa kami ke tujuan berikutnya.

"Eh? Ti-tidak ada apa-apa kok? Iya kan, Mars?"

Kenapa dia malah melemparkan pembicaraan padaku? Dan kenapa tangannya menutupi mulut? Kalau begitu kan kejadian tadi malam bisa ketahuan?

Baru saja aku berpikir demikian, Eris yang duduk di sebelah kiriku tiba-tiba menempelkan bibirnya yang lembut ke bibirku.

"……Kemarin……berapa kali……? Bagian itu……aku juga……"

Eris mengisap bibirku dengan suara yang terdengar jelas, sampai Clarice harus susah payah menariknya menjauh dariku.

"Cuma sekali! Sekali! Setelah itu tidak ada apa-apa lagi kok……! Ah!?"

Clarice tanpa sengaja malah mengaku. Mendengar hal itu, Karen yang duduk di depan sebelah kanan langsung bangkit setengah berdiri, merapikan rambut ke belakang telinga, dan mendekatkan wajahnya padaku.

Eh? Jangan-jangan……? Saat aku memperhatikannya, bibir Karen juga mendarat di mulutku.

"Ber-bersyukurlah karena ini yang pertama bagiku."

"Te-terima kasih…… banyak."

Setelah aku berterima kasih, Karen kembali ke kursinya dan membuang muka ke luar jendela kereta. Telinganya memerah sampai ke ujung.

"Berikutnya giliranku ya!"

Saat aku menoleh ke arah suara, Misha sudah ada di depan mataku. Dia menciumku dengan penuh semangat.

"Ehehe. Dengan begini, barang berhargaku berkurang satu lagi untukmu."

Dia memasang senyum puas.

"Anu…… kalau alirannya begini, apa aku juga harus ikut?"

Saat Sasha yang duduk di depanku bangkit setengah berdiri, semuanya langsung menghentikannya.

"Bercanda kok, bercanda. Tapi ini pertama kalinya aku dengar ada orang yang lebih memilih pergi ke labirin daripada ke laut……"

Sasha mendesah seolah merasa lelah.

Keinginanku untuk menyelesaikan quest khusus dan meninggalkan sekolah musim panas lebih awal adalah karena ambisi kuat untuk pergi ke labirin.

Bukan hanya [Reimei] dan Sasha, bahkan Marquis San Marina pun mengabulkan permintaan egois itu. Aku sempat berpikir untuk terus berlatih sihir petir di laut, tapi aku benar-benar ingin mencobanya selagi sensasinya masih terasa di tubuhku.

"Yah, mendahulukan lari daripada melihat Clarice dan yang lain memakai baju renang itu memang sangat khas Mars sih," Sasha menyimpulkan sendiri.

Kami tiba di Labirin Arahan dua puluh hari setelah meninggalkan San Marina. Baron, Dominic, Minerva, dan Lorenz mengambil rute berbeda.

Saat aku bilang ingin menyelam ke labirin, Baron juga bilang ada tempat yang ingin dia datangi, jadi mereka berempat pergi bersama Lorenz.

Ini adalah kunjungan pertama kami ke Labirin Arahan sejak ujian labirin, tapi di sana sudah ada siswa kelas empat, kelas lima, dan petualang umum.

Sambil menghiraukan mereka, kami mengincar lantai yang sepi pengunjung. Namun, mereka tampak penasaran dan terus memperhatikan kami setiap kali berpapasan.

Wajar saja, party yang terdiri dari satu laki-laki dan empat perempuan—lima jika menghitung Sasha—memang terlihat sangat mencolok. Di tengah tatapan iri dan cemburu, kami akhirnya tiba di area aman lantai enam.

Kupikir di sini akan sepi, tapi ternyata ada tiga party lain yang sedang beristirahat. Salah satunya adalah party siswa kelas lima Sekolah Nasional Lister, terlihat dari seragam mereka yang bersulam ungu. Warna ungu berarti mereka Kelas A.

Seorang pria yang sepertinya pemimpin party itu berjalan ke arah kami saat kami sedang menurunkan barang bawaan.

"Permisi, apakah Anda Sasha-sensei? Nama saya Bonk dari Kelas 5A. Kalau boleh tahu, ini perkumpulan macam apa?"

Dia menyebutnya "perkumpulan" alih-alih "party", mungkin karena dia enggan mengakuinya. Tapi Sasha langsung menjawabnya dengan tegas.

"Mereka adalah party [Reimei] yang seluruhnya terdiri dari Kelas 1S. Pemuda ini adalah peringkat pertama sekaligus pemimpin party, Mars. Memang agak tidak seimbang karena satu laki-laki dan empat perempuan. Omong-omong, Mars adalah adik dari Glen, jadi berhati-hatilah kalau mau macam-macam, atau palu kemarahan Glen akan menghantammu."

"Bukan cuma 'agak' tidak seimbang sih…… tapi adiknya Glen…… baiklah, saya mengerti."

Sebenarnya percakapan semacam ini bukan yang pertama kali. Sejak perjalanan ke sini, interaksi seperti ini sudah terjadi berkali-kali.

Begitu nama Ike atau Glen disebutkan, taring para siswa yang tadinya menunjukkan permusuhan langsung patah. Memang berguna punya kakak yang hebat.

Tapi, ternyata ramai sekali ya. Mustahil menjadikan tempat ini sebagai markas. Setelah beristirahat cukup, kami mengincar lantai yang lebih dalam lagi.

"Misha? Coba perlihatkan kakimu sejenak."

Clarice mendekati Misha setelah pertempuran.

"Benar kan, kamu terluka. Tadi terkena ujung tombak setelah mengalahkan Rock Lizard, kan?"

Misha menanggapi Clarice yang berjongkok di dekat kakinya.

"Eh? Benar juga. Tidak apa-apa kok! Cukup diolesi air ludah juga sembuh!" Sepertinya Misha sendiri tidak menyadarinya.

"Tidak boleh! Kalau kemasukan kuman bisa gawat tahu!? Eris? Apa ada orang di sekitar?"

Setelah memastikan pada Eris bahwa tidak ada siapa-siapa, Clarice langsung menyembuhkan luka Misha di tempat. Sasha yang melihat interaksi mereka tampak terkejut.

"Clarice!? Kamu!?"

Pasti Sasha ingin bertanya, "Apa boleh merapal Heal di depan Karen dan Misha?"

"Karen dan Misha sudah menjadi kawan kami. Setelah berdiskusi dengan Mars, kami sudah memberitahu mereka di vila San Marina."

"Begitu ya…… terima kasih. Terima kasih sudah menerima mereka."

Sasha mungkin juga merasa tidak enak karena harus menyembunyikan rahasia dari Misha. Dia menyeka sudut matanya lalu tersenyum. Kami terus menyelam sampai hawa manusia menghilang, dan akhirnya tiba di area aman lantai sembilan.

"Nah, mari kita segera buat markasnya."

Saat aku mulai membuat kamar mandi, mata Clarice berbinar seperti biasanya. Sejak masuk ke Labirin Arahan, kami tidak bisa membangun markas karena terlalu banyak orang.

Setelah selesai mandi dan makan, aku bertanya pada Sasha sambil bersantai.

"Sasha-sensei, kudengar Labirin Arahan terdiri dari sepuluh lantai. Bos di lantai sepuluh itu seperti apa?"

"Apakah kamu tahu monster bernama Minotaur?"

"Monster setengah manusia setengah banteng itu?"

"Benar. Dia sangat kuat dengan tingkat ancaman B. Aku pernah melawannya sekali, tapi lawan seperti itu tidak akan bisa dikalahkan jika anggotanya tidak setingkat petualang Kelas B."

Gawat juga... Arvanc kemarin jelas-jelas bisa dikalahkan karena faktor kecocokan elemen sihir saja.

"Jangan-jangan kamu berniat melawannya?" tanya Sasha cemas. Wajar jika dia tidak ingin mengirim putrinya ke tempat berbahaya. Aku pun tidak ingin melibatkan mereka demi latihanku sendiri.

"Kalau dia lawan yang sepadan, aku berniat melawannya. Tapi mendengar penjelasan tadi, sepertinya aku akan membatalkannya. Aku tidak ingin membahayakan yang lain……"

Mendengar jawabanku, wajah Sasha tampak lega.

◆◇◆

Malam Hari

Saat aku berniat menyelinap keluar dari markas setelah memastikan semua orang tidur, tiba-tiba ada suara yang memanggil dari belakang.

"Mars, mau ke mana?"

Aku menoleh kaget, dan di sana berdiri Clarice. Dia tidak memakai baju tidur, melainkan seragam sekolah.

"Anu…… cuma mau jalan-jalan sebentar…… ah, jangan salah paham ya! Ini bukan mau menyelinap ke kamar perempuan!"

Saat aku berusaha membela diri dengan panik, tatapan Clarice melembut.

"Aku tidak akan salah paham seperti itu sekarang. Kamu mau pergi ke ruang bos, kan?"

Pikiranku terbaca sepenuhnya.

"……Iya, aku benar-benar ingin mencobanya. Sebenarnya bisa saja mencoba di lantai sembilan, tapi aku agak takut……"

"Takut? Apa maksudnya?"

Begitu aku bicara jujur, Clarice mengangguk.

"Benar ya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi kamu tidak boleh pergi sendirian. Jadi kita pergi bersama, sekarang dan selamanya……"

Sebenarnya aku ingin memberitahu Clarice saja, tapi tidak ada waktu yang pas karena para gadis selalu berkumpul bersama.

"Baiklah. Kalau begitu ayo pergi."

Aku menggandeng tangan Clarice dan meninggalkan area aman menuju lantai sepuluh. Di lantai sembilan, monster yang muncul sudah berada di tingkat ancaman C.

Tingkat ancamannya sama dengan lantai dua Labirin Almeria, tapi tingkat kesulitannya lebih tinggi di sini karena monsternya memiliki karakteristik yang unik. Namun, bagi aku dan Clarice berdua, kami bisa melaluinya tanpa kesulitan.

Kami mengalahkan monster yang muncul, dan setelah selesai, kami kembali bergandengan tangan tanpa ada yang memulai duluan.

Lantai sepuluh hanya memiliki jumlah monster yang lebih banyak tanpa ada yang baru, dan akhirnya kami tiba di sebuah ruangan yang dikelilingi dinding merah padam. Ruang bos.

"Sudah siap?"

Aku menatap Clarice. Dia balas menatap dengan mata serius dan mengangguk mantap.

Saat aku membuka pintu yang berat itu, udara terasa semakin pekat, dan di hadapan kami berdiri seekor Minotaur seolah sudah menunggu kedatangan kami.

Tubuh raksasa setinggi hampir tiga meter dengan mata tajam, serta kapak raksasa di kedua tangannya memancarkan aura intimidasi yang luar biasa.


[Nama] —

[Tittle] —

[Ras] Minotaur

[Ancaman] B

[Status] Baik

[Usia] 1 Tahun

[Level] 1

[HP] 508 / 508

[MP] 5 / 5

[Strength] 252

[Agility] 85

[Magic] 1

[Dexterity] 78

[Stamina] 298

[Luck] 1

 

[Special Ability] Axe Art C (Lv 8/15)


Monster seperti ini tingkat ancaman B!?

Rasanya hampir tidak berbeda dengan Queen Ant Arlin... Oh, mungkin karena Queen Ant bisa bertelur dan berkembang biak, makanya Minotaur dianggap lebih rendah tingkat ancamannya.

Lagipula bagiku, dia jauh lebih mudah dihadapi. Alasannya sederhana: Queen Ant memiliki Agility yang lebih tinggi dariku, tapi Minotaur jauh lebih rendah.

Artinya, dengan menggunakan Vision dan Sylphid, mustahil serangan makhluk ini bisa mengenaku!

Minotaur mengerahkan seluruh kekuatan fisiknya yang luar biasa untuk menyerang kami.

Dia mengayunkan kapak raksasa, menghancurkan tanah dengan guncangan hebat. Kekuatan destruktifnya terlihat jelas dari udara di sekitarnya yang bergetar.

Namun, serangan sekuat apa pun tidak ada artinya jika tidak kena. Setiap kali Minotaur mengayunkan kapaknya, aku menemukan celah dan menghantamnya dengan sihir angin.

( Wind Cutter! )

Bilah angin tajam melesat dan menyayat kulit tebal Minotaur. Namun lukanya dangkal, kerusakannya tidak sebesar yang kukira.

Clarice juga terus mengawasi sambil menyiapkan busur, menancapkan anak panah ke berbagai bagian tubuh untuk mencari titik lemah Minotaur.

Karena kapaknya terus-menerus membelah angin, Minotaur tampak semakin kesal. Dia meraung dan menyemburkan api dari mulutnya. Aku segera menggunakan sihir angin untuk menghindari api, sementara Clarice menahannya dengan Ice Wall.

Semua serangannya ditangkis, Minotaur mengamuk gila-gilaan, menyemburkan api dan mengayunkan kapak raksasanya dengan liar. Penampilannya mirip anak kecil yang sedang tantrum.

Makhluk ini ternyata cukup bodoh.

Mungkin karena kesal semuanya tidak berjalan sesuai rencana, Minotaur mengangkat kapaknya tinggi-tinggi dengan kedua tangan dan menghantamkannya sekuat tenaga ke tanah.

Pukulan itu menghancurkan lantai dan menyebarkan gelombang kejut besar ke sekeliling.

Pada saat itu, Clarice langsung melepaskan anak panah dan mengincar mata Minotaur.

Anak panah itu mendarat tepat sasaran, membuat gerakan Minotaur melambat sesaat.

Sekarang! Aku menendang tanah dengan kuat, berlari lurus ke arah Minotaur, dan berhasil mencengkeram kepala raksasanya.

Tentu saja sihir yang kurapal adalah ini!

" Lightning! "

Seluruh tubuhku diselimuti cahaya emas yang kemudian terpusat di tangan kanan, lalu dilepaskan tepat ke kepala Minotaur.

Guncangan emas menembus tubuh raksasanya, dan kilatan petir menerangi ruangan bersama dengan suara gemuruh.

Begitu sengatan listrik mereda, Minotaur tumbang di tempat dan berhenti bergerak.

Paralyze (Extreme). Bahkan Arvanc pun tidak bisa bergerak sedikit pun dalam kondisi ini. Minotaur pun tidak terkecuali, dia bahkan tidak bisa menggerakkan satu jari pun.

"Hebat! Jangan-jangan dengan cara tadi, kamu bisa merapal sihir petir di depan semua orang!?"

Clarice yang menyadari niatku mendekat sambil tetap waspada pada Minotaur yang terkapar.

"Iya, aku mendapat inspirasi ini saat bertarung dengan Arvanc. Sihir petir itu tidak menentu arahnya, jadi penggunaannya terbatas. Tapi kalau dihantamkan langsung seperti tadi, bukankah serangan itu pasti mengenai target? Aku berencana menamainya Lightning Finger, bagaimana menurutmu?"

Mendengar kata-kataku, Clarice malah tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya, padahal kami masih di tengah pertempuran.

"Itu…… apa kamu tidak perlu berteriak 'Tangan ini bersinar dan meraung!' atau semacamnya?"

Ternyata Clarice juga mengerti referensi itu.

"Itu nanti saja setelah masalah perampok minimarket selesai, baru aku pakai kalimat pembuka."

Sambil bertukar candaan, status Minotaur berubah menjadi Paralyze (Large) dan dia mulai mengerang. Dalam kondisi ini, sepertinya mati rasa di mulutnya sudah sedikit berkurang sehingga dia bisa bersuara.

Aku ingin bereksperimen apakah Minotaur bisa merapal sihir dalam kondisi Paralyze (Large) jika dia punya kemampuan sihir, tapi itu tidak mungkin.

Aku kembali mencengkeram kepala Minotaur dan melepaskan Lightning Finger di dekat Clarice. Kilat emas itu hanya merambat di tubuh Minotaur, dan tidak ada listrik yang menyambar Clarice.

"Dengan ini sudah terkonfirmasi. Selama aku melepaskannya dengan sengaja, petir hanya akan berdampak pada target. Kecuali kalau target dan orang lain sedang menempel sangat rapat, itu cerita lain."

Tadinya aku mau memverifikasi itu juga, tapi Minotaur sudah mengembuskan napas terakhirnya. Tampaknya tidak ada gunanya bereksperimen pada monster yang sudah mati, jadi aku akan melakukannya lain kali.

"Benar juga. Dengan begini kita bisa memakainya dengan tenang. Asalkan sihir petir kena, lawan sekuat apa pun bisa dibalikkan situasinya kecuali mereka punya resistensi…… benar-benar sihir yang hebat."

Aku sudah mencoba apa yang ingin kucoba. Tepat saat aku berpikir untuk kembali, mataku menangkap sesuatu. Itu adalah hadiah karena telah menaklukkan ruang bos.

"Clarice, peti harta karun!"

Begitu kami memeriksa isinya, kami saling bertatapan.

"Mars…… ini kan……?"

"I-iya…… yah, karena di [Reimei] ada orang yang cocok memakainya, mari kita terima dengan senang hati."

"Be-begitu ya…… jangan-jangan…… Karen?"

Bahkan Clarice yang tidak bisa melakukan Appraisal pun bisa langsung menebak kecocokan Karen.

"Begitulah. Nah, target sudah tercapai. Mari kita pulang, Clarice."

Sambil bergandengan tangan, kami melangkah kembali menuju area aman lantai sembilan tempat teman-teman kami tertidur.

◆◇◆

"Eh? Ini untukku?"

Keesokan harinya, saat aku memberikan perlengkapan yang didapat kemarin kepada Karen, dia memasang wajah heran.

"Iya, kami mendapatkannya di ruang bos kemarin."

Mendengar kata-kataku, para gadis selain Clarice langsung bereaksi.

"……Lagi-lagi……berdua……kencan……curang……"

"Ruang bos itu maksudnya Minotaur, kan!?"

"Kemarin kalian melakukannya berapa kali!?"

Menanggapi pertanyaan itu, Clarice menjawab dengan wajah memerah.

"Ih, kalian bicara apa sih!? Kami cuma menyelam ke ruang bos dan kemarin dia tidak melakukan apa-apa padaku tahu!?"

Mendengar itu, suasana sempat hening sejenak, namun kemudian pecah menjadi tawa besar.

"Clarice, itu artinya kamu sebenarnya berharap ya," goda Misha.

Wajah Clarice semakin merah dan dia membuang muka.

"Ih, Misha juga ikut-ikutan……"

Sambil melihat interaksi itu, Karen memegang perlengkapan yang kami hadiahkan. Dia mengayunkan lengannya dan menghantamkan benda itu ke tanah, hingga terdengar suara 'Pashin' yang kering.

Karena dia terlihat sangat cocok memakainya, kami sampai tertegun.

"Ba-bagaimana? Aku belum pernah memakai benda seperti ini sih……" tanya Karen cemas sambil menatap kami.

"Iya! Cocok sekali! Kamu terlihat seperti seorang ratu!"

Mendengar perkataan Misha, Karen tampak tidak keberatan. Memang benar... Karen yang terlihat berwatak keras sangat cocok disebut ratu saat memegang benda itu.


[Nama] Flame Whip

[Attack] 30

[Value] B

[Detail] Jika diberikan Enchant sihir api, pecutnya akan memanjang.


Inilah item yang didapat di ruang bos kemarin. Tergantung sejauh mana pecutnya bisa memanjang, tapi ini sangat pas untuknya yang berada di barisan belakang.

 Silakan tebak sendiri kenapa sebutan "ratu" terasa sangat pas untuknya.

"Tapi kalian ini…… baik Arvanc maupun Minotaur, bagaimana cara kalian mengalahkannya?" tanya Sasha penasaran.

"Iya, aku berencana menunjukkannya kepada semuanya kali ini. Tolong rahasia ini jangan dibocorkan juga. Karena ini adalah hal yang lebih ingin kusembunyikan daripada fakta bahwa aku pengguna pedang, empat elemen besar, dan sihir suci……"

Namun, Sasha memberikan reaksi yang tidak kuduga.

"Eh!? Mars pengguna sihir suci!? Bukan Clarice!?"

Ah, aku lupa memberitahu Sasha-sensei soal itu.

Bukti lebih kuat daripada kata-kata, jadi dengan izin Sasha aku menyentuh tangannya dan merapal Heal. Mata Sasha membelalak karena terkejut.

"Be-betapa dicintainya kamu oleh sihir…… aku tidak akan terkejut lagi apa pun yang kulihat atau kudengar nanti……"

Namun, satu jam kemudian, kata-kata itu langsung terpatahkan dengan telak.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close