NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tensei Shitara Sainou ga Atta Ken ~ Isekai Itte mo Doryoku Suru ~ Volume 4 Chapter 4

Chapter 4

Turnamen Beladiri Siswa Baru – Final Divisi Garda Depan


Pertandingan pertama babak semifinal pun berlanjut dengan dominasi sepihak dari Sekolah Kerajaan Seleance.

Namun, dengan ditambahnya jumlah wasit di dalam ring, tragedi selevel babak pertama berhasil dihindari. Meski begitu, suara ketidakpuasan mulai terdengar dari para penonton yang merasa frustrasi.

Akhirnya, Sekolah Kerajaan Seleance mengakhiri laga dengan kemenangan telak, dan tibalah giliran kami. Pertandingan kami, semifinal kedua, berjalan dengan sangat teladan di mana kedua belah pihak saling menghormati.

Dominic menang tanpa hambatan berarti, dan tibalah pertandingan Ksatria. Popularitas Baron benar-benar luar biasa seperti biasa. Begitu dia naik ke ring, sorak-sorai membahana dari tribun, dan spanduk bertuliskan [Pahlawan Utara] berkibar-kibar.

Tanpa mengkhianati ekspektasi penonton, dia menunjukkan performa yang penuh tenaga, semakin mencuri hati para hadirin. Saat tiba giliran Elie, lagi-lagi para Beastman di barisan terdepan menunjukkan rasa hormat mereka, membuat penonton kembali riuh. Namun, yang bersangkutan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Elie terus menghindari pedang lawan, dan belati tumpulnya berkali-kali menyentuh leher lawan sebagai tanda kemenangan. Lalu, sorak-sorai yang paling dahsyat pecah di pertandingan Menteri.

Saat Clarice naik ke ring, gemuruh suara yang timbul seolah-olah dia adalah seorang idola nasional. Suara berat dari tribun penonton menenggelamkan segalanya, sampai-ingga aku bahkan tidak bisa mendengar suara Elie yang ada di sampingku.

"Popularitasnya gila ya. Sudah seperti idola saja."

Begitu aku menyapa Clarice yang baru menyelesaikan pertandingannya, dia menjawab dengan wajah bingung.

"Umm…… terima kasih? Harusnya aku bilang begitu, kan?"

Aku tidak ingin sainganku bertambah banyak, tapi aku tahu itu sudah mustahil. Agar dia tidak direbut orang, aku berpikir harus menunjukkan performa yang bagus juga, namun saat aku naik ke ring, hal tak terduga terjadi.

Berlawanan dengan saat Clarice naik, kali ini jeritan histeris dari para gadis bergema di seluruh Colosseum.

Namaku jarang diteriakkan secara langsung, tapi itu juga berlaku untuk Clarice. Sebagian besar orang di arena memang belum mengetahui nama kami.

Setelah menang dengan meyakinkan, aku kembali ke ruang tunggu peserta.

"Kamu sudah seperti bintang terkenal saja ya," goda Clarice sambil mendekat.

"Yah, aku senang sih…… tapi rasanya rumit."

Sepertinya aku mulai bisa memahami perasaan Clarice. Akhirnya, semifinal kedua berakhir dengan kemenangan mutlak bagi kami. Di pihak kami tidak ada yang terluka, dan pihak lawan pun hanya mengalami memar ringan yang akan sembuh total besok setelah meminum ramuan pemulih.

Para penonton tampak puas dengan pertarungan yang adil dan bersih ini, terlihat dari gemuruh sorak-sorai dan tepuk tangan yang membahana.

Kini, yang tersisa hanyalah babak final antara Sekolah Nasional Lister melawan Sekolah Kerajaan Seleance. Seiring mendekatnya pertandingan, atmosfer di seluruh Colosseum perlahan berubah menjadi mencekam.

Ketegangan menyelimuti tribun penonton. Suara dukungan untuk kedua sekolah saling bersahutan, hingga akhirnya memanas menjadi aksi saling maki.

Terdengar suara-suara provokatif seperti "Bunuh para Beastman!", dan pihak Beastman membalas dengan teriakan, "Si lemah tidak layak untuk hidup!"

"Suasananya mengerikan…… ini bakal sulit," bisikku jujur mengenai atmosfer yang tidak wajar ini.

"Iya, rasanya kita memang tuan rumah, tapi entah kenapa…… permintaan dari penonton terasa berbeda……" Clarice menyetujui pendapatku.

Benar, tanpa sadar para penonton mulai menginginkan sesuatu yang melampaui menang-kalah; mereka menginginkan aroma darah. Di tengah suasana yang hampir menelan kami itu, seseorang angkat bicara.

Itu adalah Ike, yang sedari tadi hanya diam menonton.

"Dengarkan semuanya. Ini adalah pertarungan kalian, bukan pertarungan untuk penonton. Jadi, kalian tidak perlu memenuhi ekspektasi mereka."

Tentu saja dia benar. Kami hanya bertarung di Colosseum, bukan sedang melakukan duel maut.

Namun, jika terjadi sesuatu pada Clarice dan Elie, aku tidak berniat menyelesaikannya hanya dengan kata-kata indah. Aku akan memberikan rasa sakit yang setimpal.

Tapi kemungkinan itu hampir mustahil. Melihat pergerakan Benteng dan Menteri dari Sekolah Kerajaan Seleance, tidak ada faktor yang bisa membuat mereka berdua kalah. Terutama untuk Elie, pihak lawan pasti tidak akan berani menyerang secara berlebihan.

Setelah semua tenang berkat kata-kata Ike, sebuah suara menggema dari atas ring.

"Mohon maaf telah menunggu lama! Dengan ini, pertandingan final Divisi Garis Depan Turnamen Bela Diri Murid Baru akan segera dimulai!"

Pengumuman semacam ini tidak ada di final Divisi Garis Belakang, namun seorang pria yang tampaknya adalah ring announcer mulai memandu acara.

Begitu nama Pion dari Sekolah Kerajaan Seleance dipanggil, ejekan luar biasa membahana di Colosseum.

Lalu giliran Dominic. Aku mengira hanya namanya yang akan disebut, ternyata tidak.

"Pion dari Sekolah Nasional Lister kita adalah Sword Saint kebanggaan Kerajaan Suci Deadore! Tebaslah para Beastman itu dengan pedangmu! Sekolah Nasional Lister Kelas S Peringkat…… lho? Enam……? Dominic August!"

Si penyiar memanggil nama Dominic sambil memegang benda mirip mikrofon yang ditanami batu ajaib. Aku tahu kita tuan rumah, tapi bagi orang yang seharusnya netral, menyebut "kita" itu agak keterlaluan…….

Begitu Dominic muncul di ring, sorak-sorai dan tepuk tangan meledak lebih dahsyat dari sebelumnya. Seolah ingin melibas suara itu, raungan mengerikan dari para Beastman menggetarkan Colosseum.

Di tengah udara yang mencekam, genderang perang pertandingan Pion akhirnya ditabuh.

"Mulai!"

Bersamaan dengan teriakan wasit, keduanya bergerak serentak. Gerakan Dominic sangat cepat, lintasan pedangnya berkilat membentuk lengkungan busur yang indah.

Sebaliknya, murid Sekolah Kerajaan Seleance berusaha keras bertahan dengan melakukan Parrying menggunakan pelindung lengan.

Namun, seiring bertambahnya ketajaman pedang Dominic, keseimbangan mulai goyah. Semua orang yakin Dominic akan segera mengakhiri laga.

Tapi tiba-tiba, pedang Dominic terpental jauh dan posisinya goyah, membuat penonton menjerit.

Lawan melihat celah, melepaskan pertahanan, dan hendak menyerang balik. Namun di saat itulah, punggung pedang Dominic yang seharusnya kehilangan keseimbangan menghantam telak wajah lawan.

Ternyata, terpentalnya pedang dan goyahnya posisi hanyalah akting cerdik dari Dominic. Lawan yang otaknya terguncang akibat benturan mulai terhuyung, membuat tribun penonton seketika berubah menjadi pesta pora.

Di tengah upaya para Beastman di barisan depan menyemangati rekan mereka, lawan akhirnya berbisik lemah, "Aku menyerah……" akibat serangan gencar Dominic yang tanpa ampun.

Aku pun melihat dengan jelas bahwa dia berkata demikian. Mendengar itu, Dominic memasukkan pedang tumpulnya ke sarung dan berbalik badan.

Tepat saat penyiar hendak mengumumkan kemenangan Dominic, sebuah insiden tak terduga terjadi. Lawan yang seharusnya sudah berkata "menyerah" tiba-tiba melakukan serangan mendadak ke punggung Dominic.

Dominic yang tidak waspada terkena serangan sepihak dari belakang.

Wasit berulang kali berteriak "Stop!", namun lawan yang sedang dalam kondisi kalap sama sekali tidak mendengarkan. Akhirnya, serangan itu baru berhenti setelah para wasit menahannya dengan paksa.

"Cih! Dasar Dominic bodoh, dia lengah!" teriak Baron sambil berlari menuju Dominic. Aku segera menyusul di belakangnya.

Luka Dominic sangat serius. Terutama tangan dan lengan kanan yang merupakan tangan dominannya terkena serangan parah, bahkan sarafnya rusak total.

Lorenz-sensei keluar dari ruang tunggu menyusul kami dan melayangkan protes keras kepada pihak Sekolah Kerajaan Seleance. Namun, lawan Dominic malah mengatakan hal yang gila.

"Apa salahnya menyerang pengecut yang mencoba lari karena ketakutan?"

Baron membalas kata-kata provokatif lawan tersebut.

"Dominic menyarungkan pedangnya karena kamu bilang menyerah, tahu!?"

"Hah!? Mana mungkin aku menyerah pada orang seperti ini! Aku tadi bilang 'Aku menyerah ya, payah sekali ternyata butuh waktu lebih lama dari jadwal hanya untuk menginjak-injak semut'. Kalian saja yang cuma dengar kata 'menyerah' sesuka hati!"

Adu mulut keduanya semakin memanas. Sambil mengabaikan mereka, aku mendampingi Dominic yang dibawa dengan tandu oleh wasit. Clarice, Ike, dan Sasha mengikuti di belakang dengan wajah cemas.

Karen, Misha, Minerva, dan Kakak Kelas berkacamata hendak menyusul juga, tapi Elie menahan mereka. Seseorang harus tetap tinggal di sini untuk memantau keputusan apa yang akan diambil.

Aku meminta mereka tinggal karena khawatir Elie tidak bisa menyampaikannya dengan jelas kepada yang lain jika terjadi sesuatu.

Elie pasti sudah memperkirakan tindakan kami. Aku berterima kasih dalam hati kepada Elie yang telah mengambil keputusan untuk tetap tinggal.

Dominic terbaring di tandu, menutupi wajahnya dengan lengan kiri sambil menangis terisak. Dia tahu. Bahwa lengan kanannya sudah tidak bisa digerakkan lagi——bahwa dia tidak akan bisa menggenggam pedang lagi.

"Luka sedalam ini…… meski menggunakan pengguna Sihir Suci bawahan Duke Regan sekalipun…… HP mungkin akan penuh kembali, tapi……" wajah Ike menegang saat melihat luka itu.

Apa yang Ike katakan memang benar. Misalnya, jika seseorang kehilangan bagian tubuh, HP penuh tidak berarti bagian tubuh itu akan kembali. HP hanyalah indikator nyawa. Tapi, itu jika diobati oleh pengguna Sihir Suci biasa.

Jika Clarice sang [Saint] yang melakukannya, pasti—— Seolah memiliki pemikiran yang sama, Clarice menatapku dengan mata yang meminta persetujuan.

Aku mengangguk tanpa ragu. Orang pertama yang bertindak adalah Sasha-sensei.

"Kami yang akan membawa Dominic ke ruang medis, kalian tolong hentikan kekacauan di arena!"

Para wasit mengangguk mendengar instruksi Sasha-sensei.

"Sisanya kami serahkan pada kalian!" ucap mereka sambil kembali ke ring.

Kami tidak menuju ruang medis, melainkan masuk ke sebuah ruangan kecil di dekat sana. Sasha-sensei berjaga di depan pintu agar tidak ada yang masuk.

"Mars? Jangan-jangan Sasha-sensei juga?"

Aku mengangguk dalam diam menanggapi pertanyaan Ike. Maksudnya, apakah Sasha juga tahu kalau kami bisa menggunakan Sihir Suci? Kenyataannya hanya kemampuan Clarice yang ketahuan, tapi aku tidak bisa menjelaskan detailnya di sini.

"Dengar ya? Lukamu pasti sembuh! Tapi, selain tangan dan lengan kananmu, bagian lain tidak akan kusembuhkan dan bekas luka luarnya akan kubiarkan! Tolong maklumi itu!"

Jika disembuhkan total, kemungkinan besar identitas salah satu dari kami sebagai pengguna Sihir Suci tingkat tinggi akan terbongkar.

Dominic tampak belum memahami situasi, namun saat aku memberi isyarat pada Clarice, cahaya lembut segera menyelimuti lengan kanan Dominic.

Dominic tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat cahaya mistis itu. Seketika, lengan kanannya yang tadinya terkulai lemas mulai bergerak sedikit.

Sepertinya rasa sakit yang hebat menyerangnya karena sarafnya mulai tersambung kembali, namun saat cahaya yang memancar dari tangan Clarice semakin terang, ekspresi Dominic mulai mereda.

"Dominic? Masih sakit?" tanya Clarice cemas sambil memegang tangan Dominic dan menatap wajahnya.

"Tidak, sudah tidak apa-apa. Kalian adalah penyelamat nyawaku."

"Kita adalah teman, sudah sewajarnya kami melakukan ini. Lagipula, soal hal ini……"

"Ya, aku tidak akan pernah membocorkannya…… aku akan menjaga rahasia ini meski harus bertaruh nyawa."

Aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak menatap Dominic yang bersumpah dengan suara terisak. Alasannya satu. Air mata yang dialirkan pemenang seharusnya adalah air mata kebahagiaan. Aku tidak ingin melihat wajah pemenang seperti ini.

Setelah pengobatan selesai, kami keluar dari ruangan menuju ruang medis.

"Mars, aku yang akan menemani Dominic, kalian kembalilah!"

"Aku juga akan tinggal! Beritahu mereka kalau dia baik-baik saja! Aku akan segera menyusul!"

Menyerahkan Dominic kepada Ike dan Sasha-sensei, kami kembali ke ring. Suasana Colosseum sangat ricuh. Segala macam makian kasar diarahkan penonton kepada para Beastman.

Pertandingan terhenti. Baron masih beradu mulut dengan murid Sekolah Kerajaan Seleance, sementara Lorenz-sensei dengan urat leher menegang sedang mendesak pihak sekolah lawan bersama para wasit.

"Lorenz-sensei! Baron! Tolong dengarkan! Dominic baik-baik saja!"

"Begitu ya…… tapi dengan luka itu, lengan kanannya pasti…… meski ditangani pengguna Sihir Suci tingkat tinggi sekalipun, butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa digerakkan lagi, dan tidak akan bisa seperti dulu……" Baron menggelengkan kepala.

Tepat pada saat itu, Ike dan Sasha-sensei datang menyusul.

"Lengan Dominic selamat. Setelah dibawa ke ruang medis dan diobati dengan Sihir Suci, dia bilang memang ada sedikit rasa aneh, tapi dia sudah bisa menggenggam pedang!"

"Apa!? Masa!? Dengan luka seperti itu!?"

Melihat ekspresi tidak percaya Baron, Sasha-sensei menambahkan.

"Itu benar. Aku sendiri yang melihatnya."

"Syukurlah……" Baron mengembuskan napas lega.

Lalu, Baron berjalan mendekati Duke Regan yang entah sejak kapan sudah turun ke ring dan bertukar beberapa patah kata. Setelah Duke Regan mengangguk dengan ekspresi lega, Baron berbalik badan.

"Karena Dominic sudah aman, aku meminta pertandingan dilanjutkan. Tidak apa-apa, kan?"

"Tentu saja."

"Hanya saja, sepertinya kekalahan Dominic tidak bisa dibatalkan. Jangan lengah sampai pengumuman akhir pertandingan diserukan."

Aku mengangguk mantap. Begitu kami kembali ke ruang tunggu peserta, ring announcer segera mengambil mikrofon.

"Hadirin sekalian, mohon maaf telah menunggu lama! Terkait pertandingan tadi, pihak Sekolah Nasional Lister telah mengajukan permohonan untuk memberikan kemenangan kepada Sekolah Kerajaan Seleance! Selain itu, kondisi pemain Dominic saat ini sudah membaik berkat pengobatan dan tidak akan meninggalkan cacat permanen! Mari berikan tepuk tangan meriah untuk kemurahan hati Sekolah Nasional Lister dan keberanian pemain Dominic!"

Sorak-sorai besar menyelimuti Colosseum mendengar kata-kata penyiar tersebut.

"Sekarang, mari kita mulai pertandingan Ksatria!"

Begitu nama Ksatria dari Sekolah Kerajaan Seleance dibacakan, ejekan penonton tidak kunjung berhenti. Si penyiar seolah menikmati suasana itu dan membiarkannya sejenak.

"Dan Ksatria dari Sekolah Nasional Lister kita adalah…… eh…… apa tidak salah……?"

Suara penyiar yang terkejut melihat kertas contekan masuk ke mikrofon. Dia pasti bingung soal peringkat. Setelah penyiar mendekati Baron untuk mengonfirmasi, dia kembali memegang mikrofon.

"Mohon maaf! Peringkat lima! [Pahlawan Utara] kebanggaan Uni Negara Lister! Baron Reinhardt!!!"

Sorak-sorai meledak, namun di sisi lain Colosseum menjadi riuh. Meskipun dia selalu muncul sebagai Ksatria, penonton mengira peringkatnya jauh lebih tinggi dari itu. Hal yang sama dirasakan pihak Sekolah Kerajaan Seleance; ada yang matanya hampir copot karena saking terkejutnya.

Dalam pertandingannya, dominasi Baron terus berlanjut secara sepihak. Selain karena digembleng oleh Kylus, Baron memang kaya akan pengalaman tempur.

Begitu Baron unggul dalam pertarungan jarak dekat, lawan mencoba mengambil jarak untuk mengatur ulang serangan. Namun, saat menjauh pun Baron menembakkan Earth Bullet, membuat sang Beastman hanya bisa bertahan dan terus terdesak.

Kehabisan tenaga akibat serangan gencar tanpa henti, Baron akhirnya berhasil memaksa lawannya berkata "Menyerah" dengan lantang. Namun, di sini Baron meniru tindakan Dominic; dia membalikkan badan sebelum wasit menyerukan pengumuman kemenangan. Seketika, kilatan jahat muncul di mata lawan.

"Ini sama saja dengan kejadian Dominic!" teriakku dalam hati, namun si Beastman lawan tidak bergerak.

"Kenapa?" Saat aku melihat lebih dekat karena merasa heran, aku menyadari bahwa kaki si Beastman telah tertembus tombak batu kecil yang mencuat dari lantai Colosseum. Si Beastman tampak mengerang kesakitan dan tidak bisa bergerak.

Baron berbalik kembali ke arah si Beastman dan melancarkan serangan tanpa ampun.

"Fire!"

"Wind!"

Api menjalar ke tubuh si Beastman, lalu udara dikirimkan untuk membuatnya menjadi bola api manusia.

"Menyerah! Aku menyerah! Tolong aku!"

Namun, apa pun teriakan si Beastman, Baron tidak mengendurkan serangannya.

"Selama belum ada pengumuman pertandingan berakhir, berarti ini masih dianggap pertandingan, kan?"

Kata-kata itu seolah menjadi serangan pemungkas. Tak tahan lagi, seorang staf yang tampaknya dari Sekolah Kerajaan Seleance mengguyurkan air sebanyak mungkin dan menyela untuk menghentikan pertandingan.

"Dia sudah berkali-kali mengaku kalah, kan!? Kamu tidak dengar!?" teriak staf itu marah.

"Tidak, aku hanya menunggu pengumuman pertandingan berakhir karena aku tidak mau ada komplain lagi nanti. Tapi karena pihak ketiga sepertimu sudah ikut campur, itu artinya kemenangan pertandingan Ksatria menjadi milik Sekolah Nasional Lister, kan? Jika tidak, aku harus lanjut bertarung dengan orang itu."

Staf itu mengakui kekalahan dengan wajah masam, lalu suara penyiar bergema.

"Pemenang! Sekolah Nasional Lister! Baron Reinhardt!!!"

Begitu namanya diumumkan, Baron mengangkat pedangnya ke langit, disambut sorak-sorai paling dahsyat hari ini.

Suasana arena sangat ricuh. Bukan karena kemenangan Baron yang begitu mengejutkan. Penyebabnya adalah pengumuman mengenai Elie sebelum pertandingan Benteng dimulai.

"Nah, yang akan menghabisi Sekolah Kerajaan Seleance berikutnya adalah peringkat tiga! Si cantik misterius…… Elie…… eh……? Serius? Beastman?"

Tampaknya informasi baru diberikan kepada penyiar tepat sebelum pengumuman, sehingga dia baru tahu identitas asli Elie saat itu juga. Penyiar yang diberi kertas contekan itu mengonfirmasi pada Lorenz-sensei, dan setelah mengakui tidak ada kesalahan pada isinya, dia melanjutkan pengumuman.

"Mohon maaf! Peringkat tiga! Elie Leo! Saya juga baru tahu, ternyata Elie adalah putri kesayangan dari mendiang Duke Burns Seleance sebelumnya, dan dia adalah seorang Singa Emas! Karena mendiang Duke Burns adalah faksi pro-manusia, tolong hentikan ejekan kalian! Dan hadirin sekalian, mari kita saksikan kekuatan luar biasa dari Singa Emas yang dikatakan bertahta di puncak kaum Beastman——sang calon Duke Seleance berikutnya!"

Penyiar itu benar-benar asal bicara. Pastikan kamu lari setelah turnamen ini berakhir ya? Para penonton juga tampak tidak percaya. Tidak ada ekor, tidak ada telinga hewan. Tangannya benar-benar tangan manusia. Terlebih lagi, terdengar suara-suara yang bilang tidak mungkin gadis secantik ini adalah seorang Beastman.

Namun, setiap kali pertandingan Elie dimulai, kaum Beastman menunjukkan kesetiaan mereka, dan sekarang pun mereka melakukan pose menyerahkan jantung. Hal itu membuat penonton akhirnya mengakui bahwa Elie memang seorang Beastman. Meskipun menyadari Elie adalah Beastman, para penonton menyambutnya dengan hangat.

Lawan Elie pun menunjukkan rasa hormat hanya padanya, dan pertandingan pun dimulai. Pertarungan selesai dalam sekejap.

Elie berlari lurus menerjang pertahanan lawan, dan tendangan tengah (middle kick) miliknya meledak seketika. Karena kecepatannya yang luar biasa, lawan terpental sebelum sempat memasang posisi bertahan, dan pertandingan pun berakhir dalam sekejap mata.

Bahkan kaum Beastman sekalipun tidak berani protes jika lawannya adalah Elie. Para penonton pun tampak terpaku, seolah tidak bisa memahami apa yang baru saja terjadi di depan mata mereka. Saat pengumuman kemenangan diserukan dan sorak-sorai pecah, Elie sudah berada di ruang tunggu sedang berpelukan dengan Clarice.

"Kerja bagus, Elie."

Air mata tergenang di mata Clarice yang biru safir. Begitu ya…… kemenangan tadi mungkin bukan sekadar kemenangan biasa. Bisa jadi itu adalah satu kemenangan yang menepis anggapan bahwa Elie menolak hidup berdampingan dengan kaum Beastman.

Setelah Clarice melepas pelukannya, Elie berdiri di depanku sambil menunduk.

"Pertunjukan yang hebat."

Saat aku meletakkan tangan di bahunya, dia gemetar sedikit.

"Nah! Berikutnya giliran Clarice! Jangan lengah ya!"

Suara Baron memecah suasana haru.

"Ya. Aku tahu."

Clarice melakukan fist bump dengan semuanya, dan terakhir berdiri di depanku sambil mengulurkan tangan.

"Lakukan saja seperti biasa, kamu pasti menang. Tenang saja."

Aku menggenggam erat tangan Clarice, tepat saat pengumuman di arena berkumandang.

"Kini saatnya pertandingan Menteri. Pihak Sekolah Kerajaan Seleance yang sudah terpojok menurunkan pemain bernama Kuro. Saya sangat menantikan cara licik apa yang akan dia gunakan kali ini!"

Penampilan mikrofon yang masih saja asal bicara.

"Dan Menteri Sekolah Nasional Lister kita adalah——ternyata seorang wanita lagi! Apalagi dengan kecantikan ini, dia adalah peringkat dua! Clarice Lampard!"

Begitu nama Clarice dipanggil dan dia naik ke ring, Colosseum bergetar oleh sorak-sorai. Para lelaki terus meneriakkan nama Clarice, bahkan banyak yang memintanya untuk menikah dengan mereka. Para Beastman di barisan depan pun menatap Clarice dengan pandangan yang seolah menjilatinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Hal yang sama dilakukan oleh lawannya, Kuro, yang menatap dengan penuh nafsu hingga meneteskan air liur. Di tengah suasana itu, bersamaan dengan aba-aba mulai, Clarice memasang kuda-kuda pedangnya.

Pada dasarnya gaya bertarung Clarice berpusat pada pertahanan, sama seperti sihirnya. Karena itu dia menunggu serangan Kuro, namun tak disangka Kuro tidak kunjung menyerang. Penonton menahan napas menyaksikan keduanya yang belum juga beradu.

"Aku tidak akan menyakitimu, jadi menyerahlah. Setidaknya aku akan membuatmu mengandung sepuluh anakku."

Imajinasinya meluap, begitupun dengan bagian selangkangannya yang menonjol.

"Menjijikkan, cepat menyerahlah." Clarice menunjukkan rasa jijik yang terang-terangan.

Kuro nyengir lebar.

"Dipaksa pun aku tidak keberatan. Kalau begitu sesuai keinginanmu——"

Mata Kuro seolah kehilangan akal sehat karena terpesona oleh kecantikan Clarice. Entah dia tidak percaya pada kata-kata "peringkat dua" atau pikirannya sudah dikuasai oleh bagian bawah tubuhnya, dia menerjang Clarice dengan penuh nafsu.

Clarice menghindari terjangan kasar Kuro dengan langkah samping (side step), lalu mengayunkan pedang tumpulnya. Meski dikuasai nafsu, Kuro tetaplah petarung tangguh yang menjabat sebagai Menteri di Sekolah Kerajaan Seleance. Dia menghindar dengan selisih setipis rambut, namun saat dia hendak menyerang balik, hal itu terjadi.

Tebasan miring (kesagiri) Clarice yang seharusnya bisa dihindari, justru menyerempet selangkangan Kuro yang sedang menonjol, membuat gerakan Kuro terhenti seketika. Tak menyia-nyiakan celah itu, Clarice memutar pedangnya dan mengayunkannya dengan lintasan seperti upper swing.

Kuro yang menahan perih mencoba melompat untuk menghindar, namun itu malah menjadi bumerang. Jika Kuro tetap di tempat, pedang itu mungkin hanya akan mengenai dagunya dan mengakhiri pertandingan.

Namun karena dia melompat, pedang Clarice tepat menghantam selangkangan Kuro, dan suara "krak" yang mengerikan bergema di seluruh Colosseum.

Wajah Kuro berubah drastis karena rasa sakit yang luar biasa, dan teriakan tanpa suara keluar dari mulutnya. Kuro ambruk ke tanah sambil bergeliat kesakitan, dan seketika kesunyian menyelimuti Colosseum.

Setelah itu, keterkejutan dan sorak-sorai bersahutan. Penyiar melihat situasi dan segera memanggil nama pemenang.

"Pemenang! Sekolah Nasional Lister! Clarice Lampard!"

Jika disengaja, Clarice pasti didiskualifikasi, namun dari sudut mana pun ini adalah sebuah kecelakaan. Meski begitu, rasa bersalah terpancar dari wajah Clarice.

"Clarice, yang tadi itu tidak bisa dihindari. Jangan dipikirkan."

Aku memeluk Clarice yang terguncang dengan sekuat tenaga, sambil mengelus punggungnya lembut.

"Salah-salah Dominic juga bisa kehilangan masa depannya sebagai pendekar pedang dengan cara yang sama. Segitu saja sudah sewajarnya!" Baron juga ikut menyemangati Clarice yang sedang murung.

"Iya. Terima kasih, kalian berdua. Aku tahu itu, tapi……" suara Clarice mengecil.

Namun, yang membuat Clarice kembali bersemangat justru adalah Elie.

"…… Selangkangan yang sudah dibidik…… tidak akan lepas…… itulah…… Clarice……"

Kata-kata yang mengingatkan pada pencuri budiman tertentu itu menjadi aba-aba dimulainya candaan. Baru sepuluh menit yang lalu mereka berpelukan dengan haru, tapi sekarang mereka sedang asyik bermain-main.

Melihat ke arah ring, para staf sedang mengangkut Kuro yang tidak bisa berdiri…… eh, tidak bisa "bangun" lagi dengan tandu. Karen yang ikut menonton berdiri di sampingku.

"Pemimpin Sekolah Kerajaan Seleance, Blood, adalah lawan yang kuat. Lagipula, pihak Seleance pasti tidak mau berakhir begitu saja. Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, jadi berhati-hatilah."

"Ya. Jika aku sang Pemimpin sampai kalah, mereka pasti akan koar-koar kalau manusia itu lemah. Aku akan mengerahkan segalanya agar tidak kalah."

Aku bisa merasakan dengan jelas bahwa bukan hanya Karen, tapi semua orang menaruh harapan padaku. Demi memenuhi harapan itu, aku memantapkan hati sembari menunggu panggilan dari penyiar arena—




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close