Chapter 4
Perang Gula
Aku
sedang berguling-guling di atas tempat tidur dengan perasaan frustrasi. Aku
tidak tahu cara membuat gula, ini benar-benar misi yang mustahil.
Soal bit
gula pun aku hanya tahu lewat novel, aku tidak tahu itu sayuran seperti apa.
Kalau bicara soal gula, yang pertama terlintas adalah tebu, tapi tebu hanya
tumbuh di daerah hangat.
Sebaliknya,
wilayah Falduras berada di tempat yang cukup tinggi dengan iklim sejuk. Tebu
tidak akan bisa tumbuh di sini.
Selain
itu, aku terpikir soal sirup maple sebagai pengganti…… tapi dalam ingatan
Radcliff muda, dia belum pernah memakannya.
Kalau tidak
salah, itu adalah getah dari pohon maple. Aku tahu bentuk daunnya dari bendera
Kanada, tapi jika ditanya seperti apa pohonnya, jujur saja aku tidak tahu.
Mengingat Eric membangun kekayaan dari gula, aku menduga sirup maple tidak ada
di dunia ini sebagai saingan gula.
Lagipula, mencari
pohon dengan bentuk daun tertentu sangatlah mustahil bagiku yang tidak bisa
keluar dari kediaman keluarga dengan bebas.
Dalam ingatan
Radcliff, satu-satunya hal manis yang pernah dia makan adalah madu. Itu pun
barang mahal yang dibelikan oleh Ayah sebagai barang berharga……
Aku mencoba
mencari di buku apakah madu bisa didapatkan di sekitar sini, tapi sepertinya
sulit. Monster yang menghasilkan madu tidak ada di wilayah ini. Memang ada
lebah pembunuh bernama Killer Bee, tapi sepertinya mereka sejenis tawon
yang tidak menghasilkan madu.
Sial……
Meski tidak
sedingin wilayah utara, wilayah Falduras yang berada di dataran tinggi ini
memiliki suhu yang cukup rendah. Jika dipikir secara logis, bit gula seperti
yang dilakukan Eric adalah yang paling masuk akal, tapi……
Itu mustahil.
Perusahaan Dagang Prosper yang ditolak kontraknya akan mengirim mata-mata,
namun mereka semua akan dihabisi oleh sang protagonis yang sudah mulai
menunjukkan bakat Cheat-nya.
Apalagi jika
kabar ini sudah sampai ke telinga Marquis, itu berarti gula tersebut sudah
dipersembahkan kepada Raja dan mendapatkan perlindungan khusus sebagai produk
lokal baru wilayah utara.
Wilayah Stoltz
yang tadinya hampir bangkrut dan tidak bisa membayar pajak akhirnya mendapatkan
penangguhan pajak dari Raja berkat rencana produksi gula ini. Gula adalah
komoditas yang sangat penting bagi negara ini.
Ugh……
Mungkin jika aku
datang dengan santai dan menyapanya, "Halo Brother, Jepang menyenangkan
ya?", mungkin masih ada kesempatan. Tapi seperti yang kupikirkan
sebelumnya, Jepang di dalam novel dan Jepang di duniaku mungkin berbeda. Aku
juga tidak mungkin bilang "Kamu itu cuma karakter novel" kepada
protagonis yang merasa dirinya adalah orang yang bereinkarnasi dari Bumi.
……Sepertinya aku
harus mencari cara lain.
Kalau begitu,
cara terbaik adalah menghentikan tindakan sembrono Ayah, tapi Ayah bukan tipe
orang yang mau mendengarkan kata-kataku……
"Rasanya mau
muntah……"
Sejak latihan
bersama Adric dan yang lainnya, hatiku benar-benar merasa lelah dan tertekan.
Tok
tok……
Tilly
masuk ke kamar bersamaan dengan suara ketukan pintu.
"A-ah…… Makan siang?"
"Bukan."
"Eh? Oh, ganti baju ya……"
Mungkin aku sudah tidak ganti baju selama tiga hari. Kamarku
juga berantakan dengan buku-buku yang kusebar demi mencari solusi masalah gula.
"Padahal Tuan Muda baru saja mulai berolahraga di luar,
tapi sekarang malah mengurung diri lagi……"
"Ugh…… Begitulah, aku ini sedang berada di usia yang
punya banyak kekhawatiran, tahu."
"Aduh. Kalau Tuan Muda tidak lebih bersemangat, nanti
Anda akan dibenci, lho."
"Hm? ……Oleh siapa?"
Kadang
gadis ini mengatakan hal-hal yang tidak kumengerti. Hatti juga begitu, mungkin
Tilly ini sebenarnya tipe yang agak polos dan aneh.
Aku hanya
terpaku karena tidak mengerti apa maksud Tilly.
"Saya
sudah dengar, lho. Soal
Lumiere-sama."
"……Hah?"
"Fufufu.
Tidak perlu ditutup-tupi. Saya sudah dengar rumornya. Katanya Lumiere-sama itu
sangat cantik, ya."
"Tunggu. Apa
yang──"
"Tidak
apa-apa kok. Fufufufufufufufu."
"Tunggu
dulu, ketawa macam apa itu?"
"Apakah itu
cinta pertama Tuan Muda?"
Cinta pertama
matamu! Tilly sedang menatap kejauhan dengan mata berbinar seperti gadis yang
kecanduan novel romantis.
Sepertinya Tilly
menyimpulkan kalau alasanku mengurung diri dan termenung selama ini adalah
karena sedang jatuh cinta.
"Tunggu,
dari mana kamu dengar cerita itu?"
"Tuan Besar
bilang kalau Tuan Muda jadi sedikit aneh setelah bertemu Lumiere-sama."
"Kuakwse
drftgy fujiko lp!"
Sialan, Ayah itu
benar-benar tidak paham perasaan anaknya sama sekali. Aku merasa lemas, lalu
mencoba mengubah suasana hati. Tidak ada gunanya terus mengeluh karena tidak
akan menyelesaikan masalah.
"Di mana…… Master Scott?"
"Sedang
berlatih bersama Hatti. Master bilang anak itu punya bakat yang luar biasa,
ya?"
"Hm? Oh. Dia
benar-benar punya potensi untuk menjadi petualang S-Rank nanti."
"Sampai
sejauh itu……?"
Yah, dalam novel
dia memang benar-benar menjadi S-Rank. Aku tidak berbohong.
"Baiklah,
aku juga akan menggerakkan tubuh sedikit."
"Ah, kalau
begitu saya siapkan air mandi dulu ya."
"Tidak
perlu, nanti saja."
"Jangan
begitu. Bau Tuan Muda sudah mulai tercium."
"Eh? ……Serius?"
Saat aku
bertanya begitu, Tilly hanya mengangguk dalam diam. Anggapan bahwa anak muda
tidak akan bau badan ternyata hanya ilusi. Kalau sudah dibilang bau begitu, aku pun jadi
merasa risi sendiri.
Setelah sedikit
membersihkan diri, aku pergi menemui Hatti dan yang lainnya.
"Dasar
pemalas, beraninya bolos latihan."
"Bukan
begitu, banyak hal yang terjadi, tahu."
"Aku tetap
melatih Hatti saat kamu tidak ada, jadi aku tetap akan mengambil gajiku."
"Iya, aku
tahu……"
Saat aku sampai
di depan kandang kuda, Scott mengeluh dengan wajah masam. Yah, wajar saja bagi
orang yang dibayar untuk mengajar pedang.
"Yah, mau
bagaimana lagi. Kamu baru saja bertemu kembali dengan cinta pertamamu."
"……Hah?"
Tiba-tiba Scott
melepaskan bom informasi.
"Hm? Sudah
dua tahun ya sejak terakhir kali kamu bertemu Lumiere-sama?"
"Pfft!
Tunggu sebentar! Itu salah paham!"
"Hahaha.
Dasar anak muda. Suka dengan bunga di puncak gunung itu bagus, kok."
"Sudah
kubilang bukan begitu──"
"Waktu di
mana kamu bisa membicarakan hal itu secara alami adalah saat kamu bisa disebut
sebagai orang dewasa."
"Kuakwse
drftgy fujiko lp!"
Gawat. Eh? Apa di
sini ada jaringan media sosial? Kenapa gosip itu bisa sampai ke telinga Scott
juga?
Aku hanya bisa
menatap Scott dengan wajah cengo.
Lalu giliran
Hatti yang bertanya dengan wajah penasaran.
"Hei. Apa
itu cinta?"
……Haa. Di saat
seperti ini, Hatti memang yang terbaik. Hidup karakter polos!
"Eto…… Lihat, Hatti suka Dixie, kan?"
"Iya!"
"Rasanya
seperti itu."
"Begitu ya,
jadi Lumiere-sama itu seekor kuda, ya."
"Bukan!
Jangan bilang begitu! Jangan──!"
Ternyata karakter
polos juga berbahaya. Aku tarik kembali kata-kataku.
Sialan. Melihat
Hatti juga tahu, sumber informasinya pasti Tilly. Di dunia dengan sedikit
hiburan ini, informasi seperti ini sangat berbahaya……
Meski begitu,
selama ini aku bisa memastikan keselamatan Lumiere berkat informasi dari Scott.
Fakta bahwa Scott mengira aku mencari informasi karena jatuh cinta pada Lumiere
sebenarnya sangat membantu.
Aku tidak
mungkin bilang pada anggota Morgan kalau aku datang dari Jepang. Tapi meskipun
aku sudah 'menjual jiwa', informasi tidak bisa didapatkan semudah itu. Scott
pasti akan menjaga rahasia Morgan dengan ketat. Dia tidak akan membawakan
informasi dalam jumlah besar yang bisa menimbulkan kecurigaan.
Secara
logika, mustahil bagi putra kedua dari keluarga Baron sepertiku untuk
mendapatkan informasi tentang putri keluarga Marquis. Jadi, ini adalah
pilihan yang tak terhindarkan.
Ya…… Kalau tidak menganggapnya sebagai keuntungan, aku tidak
akan merasa impas.
Belakangan ini aku sudah tidak mempedulikan pandangan Scott
dan terus berlatih 32 Jurus Pedang Tai Chi sendirian. Karena sulit mengayunkan
pedang di kamar, tempat ini sangat pas.
Hatti yang awalnya minta diajari juga langsung bosan melihat
gerakan lambat yang diulang terus-menerus, dan dia kembali berlatih dengan
Scott.
"Sss…… Haa……"
Sudah sekitar
tiga hari aku melalaikan pengendalian mana. Seperti biasa, aku mengumpulkan
mana perlahan sambil mengulangi gerakan tersebut.
……Hm?
Aku melakukan ini
setiap hari sejak mulai berlatih, tapi entah kenapa hari ini sensasi mananya
terasa berbeda dari biasanya. Apa karena aku sempat libur tiga hari?
Aku tidak tahu
pasti, tapi aku mulai merasa senang dan mempercepat tempo gerakanku sedikit.
Keseimbanganku tetap terjaga meski dengan kecepatan tertentu.
Apa perasaanku
saja, atau jumlah manaku memang bertambah? Mungkin ini cuma halusinasiku karena
sudah lama tidak berlatih. Tapi bisa saja ini seperti latihan otot, di mana
memberikan waktu istirahat yang cukup justru memberikan efek Super
Compensation.
Layak untuk
dicoba.
Aku masih belum
melakukan pelepasan mana untuk meningkatkan kapasitas total karena rasanya
mual. Karena selama ini aku belum merasakan perubahan besar dari latihanku,
sensasi kali ini membuatku sedikit senang.
Setelah beberapa
saat, aku menyelesaikan jurusku dan menoleh. Seperti biasa, mereka berdua
sedang menyeruput teh di tempat peristirahatan di bawah pohon.
──Hahaha.
Sangat berbeda dengan acara minum teh di kastil.
Sambil berpikir
begitu, aku memutuskan untuk beristirahat juga. Awalnya kami hanya duduk di
atas alas di bawah pohon, tapi lama-kelamaan kotak kayu yang berfungsi sebagai
kursi bertambah, dan baru-baru ini entah dari mana sebuah tong muncul sebagai
pengganti meja.
……Lho?
Saat aku duduk di
atas kotak kayu, sebuah sensasi aneh menyelimutiku. Eh? Apa ada yang aku
lupakan? Tidak……Bukan? Apa ada yang terlewat?
Apa ya? Perasaan
mengganjal ini masih tersisa di dalam hati.
"Ada
apa?"
"Tidak……"
Aku tidak tahu
harus menjawab apa pada Scott. Namun tiba-tiba aku mendongak ke atas dan menyadarinya.
──Jangan-jangan!
"Scott,
punya pisau?"
"Ada, tapi
buat apa?"
"Pinjam
sebentar!"
Aku merebut pisau
dari Scott dan berlari menuju pohon tempat kami berteduh…… pohon birch putih.
Lalu, aku memegang pisau dengan posisi terbalik dan menusukkannya ke batang
pohon tersebut.
"Oi, oi, apa
yang──"
"Tunggu
dulu! Rado!"
Scott dan
Hatti yang melihatnya berteriak kaget. Tapi aku mengabaikan mereka.
Gak
gak. Bagi Hatti,
ini adalah pohon yang sudah ada di depan matanya sejak kecil. Dia pasti tidak terima jika pohon itu
tiba-tiba ditusuk dengan pisau. Dia berdiri untuk menghentikanku, tapi Scott
menahannya.
"Ke-kenapa!"
"Lihat saja
dulu. Anak ini tidak akan merusak sesuatu tanpa alasan."
"Tapi dia
sedang merusaknya!"
Meski keadaan di
luar berisik, aku tetap fokus.
──Gagal ya?
Aku melihat
lubang yang kubuat agak dalam, tapi hasilnya tidak seperti yang kubayangkan.
Sepertinya faktor musim memang sangat menentukan. Meski begitu, saat aku
memasukkan jari ke dalam lubang, rasanya sedikit basah.
Aku mengorek
lubang itu dengan pisau, mengambil serpihan kayu, dan memasukkannya ke mulut.
"Lihat! Rado
sudah jadi aneh!"
"Oi,
Radcliff. Apa maksudnya ini?"
Aku memejamkan
mata dan berusaha fokus pada indra perasaku. Lalu, aku merasakan rasa manis
yang samar dari serpihan kayu itu.
"Hahahaha!
Ya! Ya! Ini mungkin berhasil!"
Aku tidak bisa
berhenti tertawa karena dugaanku tepat sasaran.
"Ah, sepertinya dia sudah tidak tertolong."
"Apa
gara-gara terlalu kepikiran soal Lumiere-sama……"
Karena tidak
mengerti maksudku, mereka berdua menatapku dengan mata penuh iba.
"Bukan
begitu, lihat, ini manis tahu."
"Rado yang
dulu sudah……"
"……tidak
akan kembali."
Ugh. Berhenti
menatapku dengan mata seperti itu.
Aku memberikan
serpihan kayu yang basah oleh getah itu kepada mereka berdua dan menyuruh
mereka mencicipinya. Mereka sempat saling pandang dengan ragu, namun akhirnya
memasukkannya ke mulut.
"Yah…… memang terasa manis samar-samar, tapi lalu
kenapa? Getah kan memang
disukai serangga."
"Benar,
tapi jika ini dikumpulkan dalam satu panci besar dan direbus hingga mengental,
ini akan menjadi sirup yang manis."
"Dari
serpihan kayu ini?"
"Bukan,
dari getah yang membasahi serpihan kayu ini."
"……Kamu
sehat?"
"Eh? Apa
maksudnya?"
"Bagaimana
caranya kamu mengumpulkan getah yang cuma membasahi sedikit begini dalam jumlah
banyak?"
"……Ah. Yah,
soal itu……"
Sepertinya ini
hanya bisa dilakukan saat musim mencairnya salju, saat pergantian dari musim
dingin ke musim semi.
Bicara soal
merebus getah menjadi sirup, siapa pun pasti akan teringat sirup maple. Aku pun
begitu. Tapi, ada pohon lain yang juga bisa menghasilkan sirup manis yang sama.
Yaitu pohon birch.
Aku ingat Xylitol
yang sering digunakan dalam permen karet tanpa gula itu ditemukan dari pohon
birch. Saat masih di Jepang, aku tinggal di daerah pegunungan Shinshu, dan aku
ingat pernah melihat di TV proyek pengembangan kota yang membuat sirup seperti
maple dari pohon birch.
Aku ingat
mengonsumsi Xylitol dalam jumlah banyak bisa menyebabkan diare, tapi
seingatku sirup pohon birch kandungan utamanya adalah glukosa. Bagian itu
mungkin agak meragukan, sih.
Kemungkinan besar
rasa sirup pohon birch tidak akan bisa mengalahkan sirup maple. Itu bisa
dilihat dari fakta bahwa sirup birch tidak sepopuler sirup maple. Tapi, jika
ini adalah "Dunia Lain hasil karya fiksi" buatan orang Jepang,
mungkin perbedaannya tidak akan sedrastis itu.
Bisa saja pohon
birch di sini malah menghasilkan sirup maple biasa, atau sebaliknya, pohon
birch tidak diberi karakteristik seperti itu sehingga getahnya tidak bisa
diambil dalam jumlah banyak saat musim semi. Sangat merepotkan karena hukum
alam di dunia fiksi dan dunia nyata tidak selalu sama.
Tapi saat ini,
aku akan berpegang pada harapan ini. Pokoknya, aku akan mencoba sebisaku.
Sebenarnya aku
ingin segera bergerak, tapi aku terhalang oleh batasan usiaku yang masih
delapan tahun. Namun, tidak ada gunanya terburu-buru. Aku punya banyak waktu.
Pembuatan gula
dari bit yang dilakukan Eric pun dimulai dari menanam tanaman. Kurasa panennya
hanya satu tahun sekali. Di usia delapan tahun, paling dia baru merasakan dua,
atau paling banyak tiga kali masa panen.
Itu artinya,
semuanya masih dalam tahap eksperimen. Butuh waktu lama untuk memperluas lahan,
masa tanam, hingga panen secara besar-besaran.
Belum lagi
pembangunan fasilitas pemurnian, proses pemurnian itu sendiri, persiapan
kemasan agar layak jual, hingga membangun jalur distribusi.…… Ya, sudah pasti
masih butuh waktu lama sampai produk itu benar-benar dipasarkan.
Kalau dipikir
sampai ke sana, aku tidak perlu terburu-buru.
Meskipun banyak
peristiwa terjadi di antaranya, kurasa Eric baru bisa membereskan sistemnya
agar bisa dikelola oleh rekan-rekannya sendiri saat dia berusia dua belas
tahun, tepat sebelum masuk akademi.
Jika dipikir
begitu, aku masih punya waktu empat tahun.
Yah, kemungkinan
besar Ayahku sudah mulai bergerak. Beliau pasti menekan keluarga Eric dengan
iming-iming investasi demi mendapatkan hak monopoli. Sebentar lagi juga Beliau
akan diusir mentah-mentah dengan memalukan.
Karena hal itu
sudah tidak bisa dicegah, lebih baik aku menyerah saja soal itu. Bagiku, yang
terpenting adalah membawa ideku ini ke hadapan Ayah sebelum hubungan dengan
Eric menjadi benar-benar hancur.
Lalu, jika aku
bisa masuk akademi dan berteman baik dengannya, mungkin aku bisa menjadi
perantara untuk mendamaikan Eric dengan Ayah.
Sip. Rasanya ini
bisa berhasil.
Atau lebih
tepatnya, kalau aku tidak berhasil melakukannya dengan benar, kehidupan dunia
lainku yang elegan ini bakal lenyap.
Untuk itu, aku
harus menyusun rencana yang sangat matang……
Pertama-tama, aku
kembali mengubur diri dalam buku-buku seperti biasa. Meskipun jumlahnya
sedikit, ada beberapa buku yang membahas tentang pepohonan.
Namun, sebanyak
apa pun aku mencari, tidak ada satu pun catatan tentang pohon yang memiliki
getah manis. Ini mungkin bukan karena penelitian botani yang belum maju, tapi
lebih karena Ayah memang tidak membeli buku-buku semacam itu……
Meski
begitu, aku tidak boleh berhenti. Aku mengerahkan seluruh pengetahuanku untuk
memikirkan apa saja yang dibutuhkan untuk menyadap getah.
Berdasarkan
dokumentasi acara berita yang pernah kutonton, mereka melubangi batang pohon
menggunakan bor listrik di tengah hutan yang masih bersalju, lalu memasukkan
selang karet untuk mengumpulkan getah ke dalam botol plastik.
Di dunia
ini tidak ada bor listrik, selang karet, apalagi botol plastik. Masalahnya
adalah bagaimana cara menyadapnya. Aku mencoba memikirkan sistem yang mungkin
dibuat dengan teknologi dunia ini.
◇ ◇ ◇
Setelah
berhasil membuat semacam cetak biru alat yang kubutuhkan, aku menyerahkannya
pada Scott.
"Kamu mau
memesan alat ini? Hm? Sampai sepuluh buah?"
Tentu saja orang
yang kumintai tolong adalah Scott. Meskipun orang tuaku penganut paham
kebebasan, soal urusan keluar rumah mereka cukup ketat. Mungkin karena ini
adalah dunia yang penuh monster, izin untuk pergi ke kota tidak diberikan
sembarangan.
Karena tidak ada
selang karet, mau tidak mau aku harus memasukkan sesuatu yang berbentuk tabung
logam. Kacamata saja ada, jadi alat begini pasti bisa dibuat.
"Boleh saja
sih, tapi uangnya bagaimana?"
"……Eh?"
"Alat begini
pasti memakan biaya yang lumayan, tahu……"
"Ah,
tunggu sebentar. Benar juga, uang ya……"
"Kukuku.
Padahal kamu terlihat sangat dewasa, tapi kalau melihat hal seperti ini, kamu
memang masih bocah."
Sialan. Uang, ya?
Meskipun Ayahku seorang pedagang besar, beliau sangat ketat dalam mengatur
keuangan untukku. Beliau terasa agak lunak pada Kakak, tapi sangat keras
padaku. Aku tidak punya uang yang bisa kugunakan sebebas itu.
Scott menghela
napas geli, namun dia tetap tertawa dengan riang.
"Eto…… Bagaimana kalau ditalangi dulu?"
"Tidak mau."
"Guh."
Aku kembali membentur dinding. Aku punya rasa percaya diri
untuk meyakinkan Ayah jika aku sudah berhasil membuat sampel sirupnya, tapi
pada tahap sekarang, rasanya masih sulit.
Sial. Uang ya…… Aku harus mengerahkan seluruh pengetahuan Light
Novel-ku……
…….
…….
"Uang".
Sesuatu yang terasa dekat namun sulit digapai.
……Oi, oi, bagaimana cara melakukan Knowledge Cheat
yang benar? Aku berpikir keras
mencari ide lain.
Yang paling umum
biasanya adalah penemuan permainan Reversi. Tapi itu adalah jatah yang akan
dilakukan Eric dengan benar. Saat bagian Akademi nanti, dia juga akan membuat
sampo untuk para selebritas di ibu kota.
Pada dasarnya,
hal-hal yang bisa dilakukan dengan pengetahuan orang awam biasanya adalah
poin-poin penting milik sang protagonis, jadi aku tidak boleh mengambilnya.
Selain itu,
masalahnya adalah untuk melakukan Knowledge Cheat, aku butuh dukungan
dari orang dewasa sampai batas tertentu.
Dalam kasus Eric,
muncul pedagang baik hati yang tertarik dengan idenya dan meraup untung besar,
sehingga si pedagang mau memberikan investasi awal dan bahan baku. Itulah kunci
kesuksesannya.
……Uang ya.
Aku sebenarnya
tidak mau melakukannya, tapi ada satu cara.
Koleksi
buku orang tuaku punya banyak informasi berguna bagiku. Namun, di antaranya ada
buku-buku yang isinya terlalu mengada-ada dan tidak bisa dijadikan referensi.
Mungkin tidak
apa-apa kalau aku menjual buku-buku itu. Di dunia ini, sebuah "Buku"
saja sudah termasuk barang berharga.
Pada akhirnya,
aku merasa sedih karena pikiranku berujung pada menjadi anak beban orang tua.
Tapi, buku yang tidak terpakai adalah jatah Book-Off.



Post a Comment