NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Torimaki A kara Hajimeru Akuyaku Kousei Puran Volume 1 Chapter 3

Chapter 3

Adric


Tanpa terasa, sudah hampir dua tahun berlalu sejak kehidupan reinkarnasiku di dunia lain dimulai.

Lumiere masih sehat-sehat saja, dan hubungan guru-murid yang aneh dengan Scott pun terus berlanjut.

Namun, guru sihir masih belum ditemukan, sehingga pelatihan sihirku terpaksa dikesampingkan. Di dunia ini, jumlah orang yang bisa bekerja sebagai penyihir secara profesional sangatlah sedikit.

Meskipun tidak ada statistik yang akurat, kabarnya perbandingannya bahkan tidak sampai satu dari seratus orang.

Di tengah kondisi itu, orang yang bisa bertahan sebagai petualang penyihir atau bekerja di Divisi Sihir akan sangat dihargai. Tentu saja, sedikit sekali orang yang mau mengambil pekerjaan sampingan sebagai guru privat sihir.

Aku sudah membaca hampir seluruh buku di perpustakaan, tapi sayangnya, aku tidak menemukan buku praktis sihir seperti grimoire. Sebenarnya, ada rumor kalau buku-buku semacam itu dibatasi ketat oleh negara.

Sihir penyerang adalah ancaman bagi mereka yang tidak bisa menggunakan sihir, dan banyak kaum bangsawan yang tidak memiliki bakat sihir. Mereka yang berkedudukan tinggi selalu takut akan dikudeta oleh mereka yang di bawah.

Hasilnya, penjualan buku sihir dalam bentuk yang bisa dibaca siapa pun tampaknya sangat dihindari.

Tentu saja, untuk menjaga kelestarian teknik, kabarnya perpustakaan kerajaan dan tempat serupa menyimpannya dengan baik. Tapi, pergi ke perpustakaan sejauh itu sangatlah tidak realistis bagiku.

Karena itu, aku hanya bisa terus-menerus mengulang latihan dasar sihir.

Di tengah situasi tersebut, hari debut sosialku akhirnya ditetapkan. Aku sangat menantikan saat di mana aku bisa bertemu dengan Adric.

"Tuan Muda Radcliff. Nyonya memanggil Anda di ruang tamu."

"Ibu? Ada apa ya..."

"Penjahit ingin Anda mencoba pakaian yang akan dikenakan untuk pesta besok."

"Ah..."

Begitu ya. Aku segera bersiap dan menuju ke ruang tamu.

Di sana, penjahit sudah menungguku. Karena pengukuran dan pengepasan awal sudah selesai, sebenarnya tinggal menerima produk jadinya saja, tapi mereka ingin aku mencobanya sekali lagi sebelum hari H demi memastikan semuanya sempurna.

"Terima kasih sudah menunggu. Ini pakaiannya."

"Terima kasih. Hmm... Baiklah, aku coba ya."

Ibu juga hadir untuk mengecek pakaianku. Beliau berkata "Wah, manis sekali," tapi aku ragu apakah beliau benar-benar tertarik.

Mungkin karena di belakang penjahit itu tergantung banyak pakaian wanita, sepertinya itulah fokus utamanya.

Rasanya agak mubazir membuat pakaian seformal ini untuk anak-anak yang masa pertumbuhannya sangat cepat, tapi pakaian untuk debut sosial sepertinya adalah hal yang sangat krusial.

Mungkin ibarat mengenakan Kimono saat perayaan Shichi-Go-San di Jepang.

Pakaianku bergaya tuksedo, namun pakaian formal di dunia ini memiliki aturan gaya yang ditentukan berdasarkan gelar kebangsawanan. Hal-hal seperti ini diajarkan dengan ketat sebelum debut sosial.

Contohnya, bentuk kerah saja ada aturannya. Gelar Knight tidak memakai kerah. Keluarga Baron dan Viscount menggunakan notched lapel, lengkap dengan aturan lebar dan tingginya.

Lalu, Count menggunakan shawl collar. Sedangkan gelar Marquis ke atas baru diperbolehkan mengenakan peaked lapel.

Jumlah garis di samping celana juga berhubungan dengan gelar. Bahkan aturan seperti bagian belakang yang panjang layaknya jas ekor penguin hanya boleh dipakai oleh gelar Marquis ke atas.

Tujuannya agar di pesta nanti, meskipun ada bangsawan yang tidak dikenal, kita bisa langsung tahu melalui pakaiannya apakah mereka memiliki gelar yang lebih tinggi dari kita atau tidak.

Melihat cermin, terpikir olehku pepatah "pakaian membuat orang". Bocah berkacamata bulat dengan rambut keriting alami ini setidaknya terlihat sedikit lebih gagah sekarang.

Tata krama sosial sudah dihafal, pakaian pun sudah siap. Akhirnya, hari pesta pun tiba.

Aku dengar pestanya dimulai saat waktu makan malam, tapi kami sudah berangkat meninggalkan kediaman sejak siang hari. Sambil merasa gugup akan pertemuan dengan Adric, aku juga merasa sedikit bersemangat.

Hari ini, yang menarik kereta kuda adalah Dixie. Anak ini sifatnya lembut dan ramah, aku menyukainya. Aku mengelus lehernya pelan sambil berbisik, "Mohon bantuannya ya."

Setelah kami bertiga naik, kereta kuda pun bergerak perlahan. Aku menatap pemandangan yang lewat dari jendela kecil.

Kediaman kami terletak cukup jauh di pinggiran kota. Rumah-rumah penduduk yang awalnya jarang, perlahan bertambah banyak seiring kami menuju pusat kota, hingga akhirnya berubah menjadi deretan bangunan yang layak disebut kota.

Meskipun kami adalah keluarga yang jarang mengobrol, sepertinya Ayah juga punya hal yang ingin disampaikan di hari debut putranya ini. Beliau yang duduk di hadapanku mulai berbicara.

"Ini pertama kalinya kamu bertemu Tuan Muda Adric. Karena kalian seumuran, berusahalah untuk akrab dengannya."

"Iya, Papa."

"……Di gedung pesta nanti, panggilah aku 'Ayah'."

"Baik, Ayah."

"Umu. Kudengar belakangan ini Tuan Muda Adric sedang belajar pedang. Tanyakanlah tipe pedang apa yang dia sukai."

"Tentang pedang? Tapi, untuk anak-anak bukannya Seri Hero belum tersedia?"

"Hei, senjata milik Prosper bukan cuma itu saja, tahu."

Persekutuan Dagang Prosper kami adalah perusahaan dagang umum yang menangani berbagai macam barang, tapi awalnya kami bermula dari pandai besi. Karena itu, sampai sekarang senjata masih menjadi komoditas utama kami.

Senjata Prosper tersedia dalam berbagai tingkatan, mulai dari untuk petualang F-Rank hingga S-Rank. Selain itu, ada spesifikasi khusus yang sangat terkenal dengan 4 tingkatan yang disebut Seri Hero.

Keempat tingkatan itu adalah Trinity, Septem, Duodeca, dan Quadragesima, yang dibedakan berdasarkan bahan bakunya. Masing-masing dibuat oleh pengrajin kelas satu dan menjadi impian bagi para petualang.

Bahkan pedang Trinity yang merupakan tingkat terendah di Seri Hero pun harganya mencapai hampir sepuluh juta yen jika dikonversi. Sedangkan Quadragesima adalah barang super mewah yang harganya mencapai ratusan juta yen.

Salah satu bukti kehebatan bisnis Persekutuan Dagang Prosper adalah fakta bahwa di dunia lain yang peradabannya masih tertinggal ini, mereka sudah menjalin kontrak sponsor dengan para petualang.

Dengan membuat kelompok petualang S-Rank terkuat di negeri ini mengenakan perlengkapan Seri Hero seperti Quadragesima, senjata tersebut menjadi idola bagi banyak petualang lainnya.

Yah, di dalam novel, sang protagonis Erik menolak tawaran kontrak sponsor dari Persekutuan Dagang Prosper. Dia nantinya akan bertemu pandai besi jenius (seorang gadis cantik) dan mengajarkan cara membuat Katana, yang akhirnya merusak keseimbangan pasar. Tapi itu cerita untuk masa depan.

Di zaman di mana senjata umumnya dibuat oleh pandai besi individu dan dijual di toko kecil, Ayahku yang mempekerjakan banyak pandai besi dan menjaga level kualitas tetap stabil untuk mengembangkan seri seperti itu, pastilah seorang pedagang yang sangat kompeten.

Dan kemungkinan besar, Ayah berencana memberikan hadiah senjata kepada Adric, putra Marquis Falduras, demi mengambil hati sang Marquis.

Pesta ini disebut "Tempor Solis," perayaan yang diadakan setiap tahun untuk memperingati titik balik matahari musim panas. Bagi Marquis Falduras, ini adalah pesta paling bergengsi, dan beliau menganggapnya momen yang tepat untuk debut sosial putranya.

Selain keluarga bawahan keluarga Falduras seperti kami, para bangsawan dari daerah sekitar juga diundang dengan meriah. Kejadian ini tidak tertulis di karya aslinya, tapi bagiku, ini adalah event besar pertama setelah reinkarnasi.

Demikianlah, kereta kuda yang membawa kami terus melaju menuju kastil penguasa wilayah.

Bukan seorang raja, tapi punya kastil semegah ini... Itulah hal pertama yang kupikirkan. Namun, alih-alih kastil untuk berperang, tempat ini lebih terasa seperti fasilitas besar yang menyerupai istana.

Di gerbang kastil, para prajurit memeriksa setiap kereta kuda satu per satu. Antreannya bahkan menyebabkan kemacetan sampai ke tengah kota. Benar juga, kalau tidak berangkat awal, kami pasti tidak akan sampai tepat waktu.

Setelah akhirnya melewati gerbang, taman yang sangat luas terbentang, dan di ujung sana barulah terlihat istana yang megah. Rumput yang tertata rapi serta air mancur yang diterangi lampu seolah memamerkan kemuliaan keluarga Falduras. Aku tadinya berpikir rumahku sudah cukup besar, tapi ini benar-benar tidak sebanding.

Saat aku melihat ke luar dengan mulut ternganga, Ayah memberitahuku sesuatu.

"Kamu terkejut? Beliau adalah sosok yang bahkan tidak bisa diabaikan oleh keluarga kerajaan maupun keluarga Duke."

"Heh..."

Ayah mengucapkannya dengan nada bangga.

Di Kerajaan Arcadia ini, gelar Duke pada dasarnya hanya diberikan kepada kerabat keluarga kerajaan. Di Jepang, mungkin setara dengan keluarga pangeran. Gelar tertinggi bagi bangsawan di luar garis darah kerajaan adalah Marquis.

Dan di antara para Marquis itu, yang memiliki wilayah kekuasaan terluas adalah keluarga Falduras ini.

Kami sampai di aula sedikit lebih awal dari waktu mulai pesta, namun kelompok musik sudah memainkan lagu dengan tenang. Di dalam, banyak bangsawan yang sudah mengobrol sambil memegang minuman selamat datang.

Sepertinya waktu sebelum pesta dimulai pun merupakan ajang sosialisasi yang penting.

Tak lama kemudian, kedua orang tuaku menemukan kenalan bangsawan dan rekan sosialita mereka, lalu menghilang ke dalam kerumunan. Aku yang ditinggal sendirian hanya bisa memandang sekeliling aula dengan linglung.

Saat itulah.

"Oi!"

"……"

"Oi. Kamu tidak dengar ya?"

"Eh? Aku?"

Tiba-tiba seseorang memanggilku dengan suara yang kasar. Aku benci suara kasar. Awalnya aku pura-pura tidak dengar dan mengabaikannya, tapi sepertinya targetnya memang aku.

Begitu menoleh, kulihat seorang bocah yang kepalanya lebih tinggi dariku sedang menatapku sambil memegang jus buah.

Hmph. Dari pakaiannya, dia anak keluarga Viscount, ya...

Karena tubuhnya yang cukup tinggi, sesaat aku mengira dia lebih tua, tapi aku segera berubah pikiran. Sikap kasar ini, karakter yang terlihat seperti berotak otot. Tidak salah lagi. Dia adalah Sevant Croftall.

Aku segera berdiri tegak menghadap Sevant dan membungkuk dalam.

"Wah, wah, apakah Anda Tuan Muda Sevant?"

"Eh? A-Ah. Benar... Kamu tahu tentangku?"

"Saya pernah mendengar bahwa di keluarga Croftall, ada seorang putra gagah perkasa yang seusia dengan saya."

"O-Oh. Begitu ya... Kalau kamu siapa?"

"Nama saya Radcliff Prosper."

Di karya aslinya mereka adalah teman baik, tapi ini adalah antara keluarga Baron dan Viscount. Tentu saja sudah sewajarnya aku menyapa dengan sopan terlebih dahulu.

Di sisi lain, Sevant tampak terperanjat dengan sapaan sopanku dan terlihat berusaha keras untuk bersikap elegan agar tidak malu-malu amat.

Lalu, begitu mendengar namaku, wajah Sevant langsung berubah drastis karena terkejut.

"Begitu ya. Jadi kamu anak keluarga Prosper!"

"Saya merasa sangat terhormat—"

"Hei! Aku juga mau Seri Hero!"

"Eh?"

"Lagipula, jangan pakai embel-embel 'Tuan' padaku. Panggil saja Seva. Kita kan sudah berteman sekarang!"

"A-Ah... Seva."

"Aku benar-benar ingin Quadragesima! Hei, berikan satu saja padaku, ya?"

"Hahaha..."

Iya, dia memang Seva. Tanpa ragu lagi. Kamu pikir karena berteman aku akan memberimu Quadragesima begitu saja?

Quadragesima menggunakan bahan yang sangat langka bernama Black Core, yaitu bagian inti dari meteorit. Saking langkanya, jumlahnya hampir tidak ada.

Secara praktis, yang menggunakannya mungkin hanya pedang milik Ray da Breeze dari kelompok petualang peringkat tertinggi "Bond of Iron Chains", dan Marsekal Kerajaan Arcadia, Lald Carlton.

Mengingat kelas Marsekal jarang mengayunkan pedang di medan perang, praktis hanya Ray seorang yang benar-benar menggunakannya. Sisanya hanya disimpan sebagai koleksi berharga milik Raja dan sebagainya.

Barang seperti itu bukan sesuatu yang bisa diberikan begitu saja hanya karena anak kecil memintanya... Tapi sifat "milikmu adalah milikku" yang menuntut secara alami ini, benar-benar ciri khas Seva.

"O-Oh iya, omong-omong hari ini aku sangat menantikan pertemuan pertama dengan Tuan Muda Adric—"

"Hm? Kamu belum pernah bertemu Tuan Muda Adric?"

"I-Iya. Karena aku bangsawan yang tinggal di daerah terpencil di pinggiran kota."

"Begitu ya. Kalau begitu, hari ini akan kukenalkan kamu kepada Tuan Muda Adric."

"Benarkah? Terima kasih banyak."

"Sebagai gantinya, pedangnya ya? Aku mengandalkanmu!"

"Hahaha... Nanti akan kutanyakan pada Ayah apakah ada pedang yang bagus..."

Hmm. Untuk mendidik Adric agar menjadi orang baik, sepertinya aku juga harus mendidik Seva sedikit banyak.

Firasatku mengatakan bahwa berurusan dengan anak ini pun akan sangat merepotkan.

Setelah mengobrol sejenak dengan Seva, sepertinya waktu dimulainya pesta telah tiba. Musik berhenti, dan para bangsawan di aula merendahkan nada suara mereka sambil mengalihkan perhatian ke arah pintu masuk.

Akhirnya, Marquis Falduras memasuki aula bersama keluarganya.

Marquis Falduras berdiri di atas panggung yang sedikit lebih tinggi, lalu memberikan sambutan dengan suara yang lantang.

"Mari kita bersuka cita karena tahun ini kita kembali bisa menyelenggarakan Tempor Solis. Terima kasih bagi kalian yang datang dari jauh. Tentu saja, juga untuk rekan-rekan di dalam wilayahku."

Wah. Dia pria paruh baya yang sangat tampan dan gagah. Wanita di sampingnya pun sangat cantik jelita. Dan di belakang mereka, Adric berdiri dengan senyum penuh percaya diri. Kehadirannya begitu kuat sampai-sampai aku ingin bilang, "Sudahlah, kamu saja yang jadi protagonisnya."

—Eh?

Aku mencari sosok Lumiere yang seharusnya ada bersama Adric, tapi dia tidak terlihat. Perasaan tidak enak tiba-tiba menyergapku. Seharusnya belum ada informasi tentang terjadi sesuatu pada Lumiere, tapi...

Sambil memberikan pidato yang penuh wibawa dan humor, Marquis memperkenalkan Adric yang hari ini melakukan debut sosialnya.

...Dan akhirnya, beliau menutup pidatonya dengan kalimat yang sangat disayangkan.

"Kemuliaan bagi bangsa Alca!"

Itu adalah kalimat yang nantinya akan dibantah habis-habisan oleh bangsa Elf yang asli. Teori tentang "Alca," ras mulia yang menerima darah Elf.

Memang benar, di aula ini hanya ada bangsawan berambut pirang dan cokelat. Secara umum, ada teori bahwa rambut cokelat adalah darah pirang Alca yang sedikit memudar. Namun, semakin pirang, atau bahkan mendekati perak, maka darah itu dianggap semakin murni.

Hari ini, aku benar-benar merasakan kalau ini adalah kumpulan orang-orang penganut supremasi ras.

Setelah pidato Marquis selesai, pesta pun dimulai secara alami. Di sekeliling aula terdapat area di mana koki menyajikan hidangan. Saat aku yang merasa lapar hendak menuju ke sana, lenganku dicengkeram dengan kuat.

"Ayo! Kita pergi ke tempat Tuan Muda Adric."

"Eh? Tapi beliau kan masih bicara dengan banyak bangsawan lain."

"Mereka kan cuma orang dewasa, Tuan Muda Adric pasti bosan juga. Jangan dipikirkan."

Seva yang berkata demikian menarikku menerobos kerumunan. Aku terpaksa mengikutinya.

"Tuan Muda Adric!"

Seva langsung memanggil Adric yang sedang mengobrol dengan orang-orang dewasa di samping Marquis. Adric sepertinya juga sudah bosan meladeni orang dewasa.

Begitu melihat wajah Seva, dia tampak sedikit lega. Setelah berpamitan pada bangsawan yang tadi diajak bicara, dia menerobos kerumunan dan menghampiri kami.

"Seva ya, senang kamu datang."

"Habisnya Ayah memaksaku ikut karena ini debut Tuan Muda Adric."

"Begitu ya... Hm? Siapa dia?"

"Ah, ini teman saya, namanya Cliff."

Ugh... Jadi begitu, penyebab namaku berubah dari Rado menjadi Cliff ternyata karena anak ini. Karena diperkenalkan, aku membungkuk pada Adric dengan sedikit gugup.

"Senang bertemu dengan Anda. Nama saya Radcliff Prosper."

"……Hm? Prosper, maksudmu keluarga itu?"

Persekutuan Dagang Prosper sepertinya memang sangat terkenal di dunia ini. Begitu mendengar namaku, Adric bertanya dengan sedikit antusias, sama seperti reaksi Seva tadi. Saat aku hendak menjawabnya, Seva langsung menyela.

"Benar. Prosper yang itu. Katanya dia mau memberikan Seri Hero kepada kita, lho."

Hah? Apa-apaan anak ini. Pernyataan mendadaknya membuatku ternganga lebar.

"Apa? Seri Hero? Benarkah?!"

"Eh? A-Anu... Tidak, maksudnya..."

"Hm? Aku juga mau. Pedang yang sama dengan Hero Ray!"

"Quadragesima..."

Adric pun ikut membelalakkan mata dan menatapku. Tidak, tidak, tidak. Yah, biarpun dia Adric, dia tetaplah bocah berusia delapan tahun. Aku mengerti kalau dia akan sangat bersemangat mendengar hal seperti itu.

Namun, melihat ekspresiku, dia sepertinya langsung menyadari sesuatu.

"Hm? ……Untukku tidak boleh, ya?"

"Anu... bukan begitu maksud saya... Bagaimana ya, bukannya tidak boleh, tapi saya tidak punya wewenang untuk itu."

"Ah... Begitu ya."




Dia anak yang cerdas, syukurlah. Sepertinya dia bisa memahami perkataanku sampai batas tertentu.

Dengan tatapan yang masih sama, dia melirik ke arah Seva.

"Seva memaksamu lagi, ya?"

"E-Eh, tidak kok. Bukan begitu."

"Yah, aku hanya perlu menjadi Hero yang bisa berdiri sejajar dengan Hero Ray, kan? Selesai perkara."

"B-Benar juga, ya."

Wah. Kepercayaan dirinya sejak usia segini memang luar biasa.

Omong-omong, sepertinya Seva dan Adric sudah lama saling kenal. Berbeda dengan Ayahku yang seorang pedagang, ayah Seva kalau tidak salah adalah perwira di militer wilayah. Karena tinggal berdekatan, mereka pasti sering punya kesempatan untuk bertemu.

Melihat Adric yang tertawa seolah hal seperti ini sudah biasa, aku merasa sangat terharu.

Di tengah suasana itu, aku akhirnya menanyakan hal yang mengganjal di pikiran.

"O-Oh iya. Di mana Lumiere-sama?"

"Apa... katamu?"

Seketika, ekspresi Adric berubah menjadi tajam.

—Jangan-jangan!

"Kamu juga berniat mendekati Lumiere?"

"……Eh?"

"Memang benar Lumiere itu imut, cantik, dan cerdas. Dia juga sangat baik hati."

"Anu...?"

"Tapi, aku belum mengenalmu dengan baik. Aku tidak bisa membiarkanmu bertemu dengannya semudah itu."

"Ti-Tidak. Itu... maksudku..."

"Apa?"

"Aku dengar Marquis punya dua anak, jadi aku cuma... penasaran..."

"Hm?"

"Kenapa dia tidak datang hari ini... hanya itu..."

"……Oh."

Sambil merasa ngeri dengan sifat sister complex Adric yang muncul tiba-tiba, aku berusaha berkelit.

Setelah Adric tenang, dia menjelaskan bahwa di dunia ini, debut sosial untuk perempuan jauh lebih lambat dibandingkan laki-laki. Katanya, begitu debut sosial dilakukan, berbagai lamaran pertunangan dari bangsawan lain akan dibuka, jadi aturan ini dibuat untuk menekan pergerakan pernikahan politik yang berlebihan.

—Syukurlah. Dia masih aman.

Aku merasa lega, sambil terus memandangi sosok masa kecil sang penjahat karismatik ini dengan perasaan ajaib.

Gara-gara Seva memperkenalkanku sebagai "Cliff", Adric pun jadi ikut-ikutan memanggilku begitu. Tapi karena panggilan itu sama dengan di karya asli, entah kenapa kedengarannya jadi tidak enak.

Alhasil, aku meminta mereka berdua memanggilku "Rado" saja.

Seva sih merasa "Panggil apa saja terserah," tapi bagiku, citra itu penting.

Kukira cuma aku yang lapar, tapi ternyata mereka memang anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Adric dan Seva akhirnya mulai mencari makan dan berjalan menuju area koki.

Di meja makan, selain masakan yang dimasak langsung oleh koki di sana, ada juga makanan pembuka sederhana yang dibawa dari dapur pusat.

Aku meniru mereka dan mencicipi beberapa, dan astaga, semuanya sangat lezat.

"Rado? Oi, Rado?"

Aku terlalu asyik menikmati makanan sampai tidak sadar. Adric melihatku sambil tertawa dan memanggil namaku. Benar juga, aku tidak boleh cuma bersenang-senang di pesta ini.

Sambil mengingat pesan Ayah, aku tersenyum pada Adric.

"Ngomong-ngomong, Adric-sama sedang belajar pedang, ya?"

"Hm? Oh, iya. Dari ayahnya Seva."

"Ayahnya Seva?"

Saat aku menatap Seva dengan terkejut, dia membusungkan dadanya dengan bangga.

"Iya, ayahku adalah salah satu perwira di militer wilayah Falduras."

"Wah, hebat sekali. Berarti Seva juga ikut latihan?"

"Benar, kami latihan bersama setiap hari."

Begitu ya, pantas saja mereka berdua akrab.

Tapi di sini, kalau aku bertanya pada Adric "Pedang apa yang kamu inginkan," aku juga harus menanyakan hal yang sama pada Seva. Aku jadi bingung harus bagaimana.

Tapi, menurut ingatan dari novel, kami bertiga akan selalu bersama, jadi aku harus menjalin hubungan baik dengan Seva juga...

"K-Kalian berdua, pedang tipe apa yang kalian sukai?"

"Tipe seperti apa maksudmu?"

"Ada Short Sword, Long Sword, atau Rapier, kan?"

"Ah..."

Tentu saja aku tahu jawabannya. Adric menggunakan Rapier. Jarang sekali ada petualang sungguhan yang memakai pedang setipis itu, jadi kupikir itu hanya pilihan bangsawan yang lebih peduli pada gaya daripada bertarung melawan monster.

Namun, jawabannya di luar dugaan.

"Aku ingin Long Sword. Pedang dua tangan."

"……Eh?"

"Ada masalah?"

"Ti-Tidak. Aku cuma mengira Anda akan memakai Rapier atau semacamnya."

"Memangnya bisa melawan monster dengan Rapier?"

"Tidak boleh, ya?"

"Astaga. Kamu ini anak pemilik toko senjata tapi tidak tahu hal semacam itu?"

"Memalukan sekali..."

Ternyata saat masih kecil, dia menggunakan pedang dua tangan. Kalau dipikir-pikir, di novel juga ada pengaturan bahwa dia sudah menaikkan level dengan berburu monster bahkan sebelum masuk sekolah, tidak seperti murid lainnya.

Untuk penggunaan praktis, wajar saja kalau dia memakai Long Sword. Masuk akal juga.

"Lalu, senjata apa yang Rado gunakan?"

"Anu, aku baru pernah mengayunkan pedang kayu saja."

"Apa? Tapi Rado kan dari keluarga Prosper? Bukannya kamu bebas memilih senjata apa pun?"

"Ti-Tidak... belum sampai sana. Aku baru mau mulai belajar senjata."

"Dulu aku dengar putra keluarga Prosper menderita Magic Loss Disease, apa itu kamu, Rado?"

"Ah, iya. Itu aku..."

Meski dia masih anak-anak, diajak bicara sambil ditatap oleh Adric yang super tampan ini membuatku sedikit gugup. Bagaimana bisa ada manusia yang diciptakan seindah ini? Ketampanan yang tajam itu justru memberikan kesan dingin.

"Begitu ya. Berarti Rado adalah seorang penyihir..."

"Entahlah. Tapi, aku juga ingin menjadi mahir bermain pedang."

"Begitu ya. Kapan-kapan ada rencana pergi berburu monster ke hutan bersama Seva. Tentu saja ada pengawalnya. Kalau mau, bagaimana kalau ikut bersama kami?"

"D-Dengan senang hati...!"

Wah, ini kesempatan bagus untuk menaikkan level. Aku benar-benar ingin ikut.

Ada beberapa anak lain di aula, tapi sepertinya tidak ada yang seusia kami. Kami bertiga pun menghabiskan waktu bersama sampai pesta berakhir.

Kukira Adric adalah anak yang berkepribadian menyimpang, tapi setelah mengobrol, dia ternyata cukup cerdas dan anak yang baik. Kalau Seva... yah, dia tidak terasa begitu intelek, tapi mungkin dia anak yang jujur dengan perasaannya sendiri.

Di kereta kuda dalam perjalanan pulang, Ayah menanyakan banyak hal tentang obrolanku dengan Adric.

Sepertinya Ayah terus memantauku dari kejauhan saat aku bicara dengan Adric di aula tadi. Beliau mendengarkan ceritaku dengan wajah puas.

"Adric-sama sepertinya menyukai Long Sword. Tipe yang dipegang dengan dua tangan."

"Humu humu, begitu ya... Tingginya tidak jauh berbeda denganmu."

"Begitulah."

Yah, meski kaki dia terasa jauh lebih panjang sih. Tapi tinggi badan kami memang mirip.

"Ah, lalu Sevant-sama sepertinya lebih suka pedang satu tangan. Dia ingin memakai perisai di tangan satunya."

"Sevant?"

"Dari keluarga Croftall..."

"Hah... Croftall juga minta?"

"A-Apakah tidak boleh?"

"Astaga. Croftall lagi. Sama saja seperti ayahnya. Bisanya cuma meminta barang pada orang lain..."

Saat aku membicarakan senjata Seva, wajah Ayah berubah masam karena tidak senang. Aku tidak berani bertanya, tapi pasti telah terjadi sesuatu dalam hubungan orang dewasa di antara mereka.

Keluarga Croftall adalah bangsawan yang tidak memiliki wilayah kekuasaan. Singkatnya, mereka seperti pegawai yang menerima gaji.

Dibandingkan dengan pedagang besar seperti kami atau Marquis yang punya wilayah, keuangan mereka pasti tidak seberlimpah itu. Namun tetap saja, gelar mereka adalah Viscount, lebih tinggi dari kami. Mungkin mereka sering menekan Ayah dari posisi tersebut.

Apalagi tadi dia bilang ayahnya adalah perwira, jadi aku menduga dia adalah pejabat militer yang berotak otot seperti Seva.

Meski begitu, mengingat kami bertiga akan sering beraktivitas bersama, aku tidak bisa mengabaikan Seva sendirian. Gelarnya juga lebih tinggi, tidak mudah untuk menolak.

Akan sulit bagiku jika Ayah menolaknya di sini...

"……Baiklah. Akan aku usahakan."

"Terima kasih. A-Aku—"

"Kamu juga? Sepertinya ada pedang bekas yang dulu dipakai Gregory. Akan kusuruh orang mencarinya."

"I-Iya."

Gregory adalah kakak kandung Radcliff. Itu artinya aku akan mendapatkan pedang bekas yang dulu dipakai Gregory saat masih kecil... Yah, yang penting punya pedang, itu sudah cukup.

Sekitar dua minggu telah berlalu sejak pesta itu. Aku memang akhirnya bisa bertemu Adric, tapi baru sebatas itu. Tidak ada yang berubah drastis dalam keseharianku.

Aku masih terus berlatih pengendalian mana menggunakan gerakan Tai Chi sebagai rutinitas.

Namun, pertemuan dengan Adric dan yang lainnya membuat semangatku selangkah lebih maju. Aku berpikir untuk meningkatkan intensitas latihan, dan hari ini aku mencoba mencampurkan gerakan eksplosif ala Fajin ke dalam latihan pengendalian mana.

Dalam jurus 24 jurus memang tidak ada gerakan Fajin, tapi dalam Tai Chi Komprehensif, terdapat gerakan Fajin dari aliran Chen. Ada dua kali gerakan dalam "Yanshou Gongchui" dan satu kali dalam "Mabu Kao".

Tai Chi Komprehensif, ya... Ingatanku agak samar. Aku menyesal berhenti latihan saat masa ujian masuk SMA dulu. Dibandingkan dengan 24 jurus, tingkat kemahiranku di sini sedikit lebih rendah.

Mengapa baru sekarang aku memunculkan Tai Chi Komprehensif? Ada alasannya.

Perbedaan antara orang yang bisa menggunakan sihir untuk menyerang dan yang tidak, terletak pada seberapa banyak mana yang bisa mereka keluarkan dari kantung mana dalam sekali sentakan. Setiap orang punya mana, tapi untuk mengubahnya menjadi sihir, diperlukan pelepasan mana bertekanan tinggi secara instan.

Jika begitu, sensasi melepaskan tenaga secara instan dalam Fajin pasti akan sangat berguna untuk latihan mengeluarkan mana.

Sambil memutar mana seperti aliran air, aku menyesuaikan dengan gerakan Fajin dan menyentakkannya keluar dengan seruan "Hun!".

Sip, rasanya mantap. ...Begitu pikirku, tapi dalam "Yanshou Gongchui", pelepasan tenaga dilakukan secara beruntun dalam satu gerakan. Aku tidak bisa mengumpulkan mana dengan cepat, sehingga serangan kedua jadi terasa hambar.

"Ugh... Sepertinya aku harus melatih Fajin secara terpisah saja."

Sejujurnya, jika aku tidak bisa melakukan Fajin secara beruntun, itu berarti aku juga tidak bisa mengeluarkan sihir secara beruntun. Ini gawat. Aku harus berlatih dengan benar, kalau tidak, guru sihir yang nanti datang pasti akan kecewa.

Saat aku sedang bereksperimen sendirian, Tilly masuk.

"Tuan Muda, Tuan Besar memanggil Anda."

"Papa? Jarang sekali... Oh, jangan-jangan!"

"Sepertinya bukan soal guru sihir."

"Be-Begitu ya..."

Tilly juga tahu kalau aku sudah sangat gatal ingin latihan sihir. Melihat wajahku yang penuh harap, dia pasti langsung paham apa yang kupikirkan. Sambil tertawa, dia menyangkalnya dengan tegas.

Ada apa ya? Saat aku sampai di tempat Ayah, ada dua peti kayu di ruangannya.

"Ada apa, Pa?"

"Pedang untuk Adric-sama sudah siap. Saat aku menyampaikan hal itu kepada Marquis, beliau memintamu untuk ikut serta."

"Aku juga ikut?"

"Iya, katanya beliau sedang berlatih pedang bersama putra Croftall, dan beliau menyarankan agar kamu juga ikut bergabung."

"Heh. Sepertinya seru. Kapan itu?"

"Latihannya besok pagi-pagi sekali. Rencananya kita akan berangkat besok."

Begitu ya, pedangnya sudah jadi. Dan ikut latihan? Mendengar kata latihan, aku jadi sedikit tertarik. Scott memang mengajariku banyak hal, tapi dia biasanya langsung mengajak tanding latih tanding.

Aku tidak tertarik dengan latih tanding, jadi aku lebih sering hanya melakukan ayunan dasar. Tapi biasanya latihan itu seperti apa ya? Apakah ada aliran atau jurus seperti di Tai Chi atau Karate?

Aku jadi sedikit bersemangat.

Pada waktu latihan pedang sore hari, aku melaporkan rencana besok. Hatti langsung berkata dengan nada iri.

"Enak sekali! Aku juga mau ikut!"

"Tidak bisa, dong. Ini pertemuan antar bangsawan."

"Huuu. Kamu mau jadi kuat sendirian lagi tanpa memberitahuku, ya?"

"Tidak begitu, ini cuma urusan pergaulan saja kok."

"Apa di sana ada makanan enak juga?"

"Sudah kubilang ini latihan..."

Sejak saat itu, aku menolak semua ajakan latih tanding dari Hatti... Yah, aku tidak yakin teknik yang sama akan mempan lagi padanya. Hatti terus mengomel, menuduhku hanya ingin menang sekali lalu kabur.

Bagiku sih tidak masalah, karena memang sejak awal aku berniat menang sekali lalu kabur.

Tiba-tiba aku menoleh ke arah Scott, dia tampak mengerutkan dahi sambil memikirkan sesuatu.

"Hm? Ada apa?"

"Kamu itu... sepertinya kamu benar-benar tidak sadar, ya."

"……Eh? Soal apa?"

"Jangan lakukan dengan sungguh-sungguh, ya."

"Hm? Apa maksudnya?"

"Ya itu maksudnya. Aku tidak tahu kenapa, tapi kamu itu agak aneh."

"S-Sangat tidak sopan ya."

"Kamu benar-benar delapan tahun? Cara penggunaan tubuh dan manamu itu abnormal tahu."

"Eh... tidak kok, aku kan tipe penyihir..."

"Haaa..."

A-Ada apa? Tidak, tapi aku kan Master Light Novel! Aku tidak cukup kekanak-kanakan sampai melakukan aksi salah paham seperti itu. Aku tahu batas kemampuanku dan bertindak sewajarnya. Kejadian klise seperti "Eh, apa aku melakukan sesuatu yang salah?"... harusnya tidak ada.

"Kalau begitu, pasang kuda-kudamu."

"Anu?"

"Biar tubuhmu yang merasakan sendiri keabnormalanmu itu."

"Tunggu, tunggu sebentar—"

Sebelum kata-kataku selesai, serangan Scott sudah menerjangku.

Tunggu. Apa orang ini bodoh? Aku ini cuma anak delapan tahun yang tidak punya tenaga, tahu! Pedang Scott jelas-jelas lebih bertenaga daripada saat dia berlatih dengan Hatti. Meski pedang kayu, kalau kena, rasanya satu atau dua tulang bisa patah dengan mudah.

Aku berusaha sekuat tenaga menangkisnya dengan pedang di tanganku. Perbedaan tenaga antara orang dewasa dan anak-anak bisa mencapai berlipat-lipat. Apalagi Scott pasti sudah menaikkan levelnya sebagai petualang. Meski aku sudah memperkuat diri dengan mana, aku hanya bisa sedikit menggeser jalur pedang Scott.

Hanya satu hal yang bisa kukatakan: syukurlah aku belajar Tai Chi. Tentu saja aku tidak bisa menyerang, tapi Tai Chi menggunakan gerakan melingkar untuk memanfaatkan dan mengalirkan tenaga lawan. Meski lemah, aku masih bisa menangkis serangan Scott.

Namun, sepertinya dia sudah memperhatikan gerakanku saat bersama Hatti. Saat aku mencoba mengalirkan tenaganya dengan prinsip Tuishou (dorongan tangan) dan mencoba menempelkan pedangku, dia dengan mahir menghindarinya.

Rasanya sangat mendebarkan. Setiap tebasan pedangnya terasa seperti serangan mematikan yang menciutkan nyaliku.

Dan di tengah rasa takut itu, muncul satu perasaan yang membara.

Amarah.

Melihat orang dewasa yang menggunakan pedang secara tidak wajar terhadap anak kecil sepertiku, perlahan-lahan aku mulai merasa kesal.

—Sialan. Aku harus membalasnya sekali...

Tapi Scott adalah pendekar pedang yang mahir. Tidak ada celah sedikit pun bagiku untuk masuk. Bagaimana caranya?

—Dengan tenaga?

Jika terus beradu pedang begini, Scott pasti perlahan akan mulai menghafal tenagaku. Tenaga saat aku menangkis, tenaga saat aku memukul; saat tubuh Scott sudah terbiasa dengan takaran tenaga itu... Jika aku bisa meningkatkan tenaga secara instan dan merusak keseimbangannya.

Fajin?

Benar, bukan cuma di Tai Chi tangan kosong, dalam ilmu pedang Tai Chi pun ada teknik Fajin. Dalam 32 jurus dasar memang tidak ada... tapi dalam 42 jurus pedang Tai Chi, terdapat gerakan Fajin. Meski tidak hafal seluruh rangkaian gerakannya, kehebatan teknik itu pasti pernah diimpikan dan dilatih oleh banyak anak-anak pecinta Tai Chi.

Aku mengumpulkan mana sambil mencari kesempatan. Scott sepertinya merasakan sesuatu dari gerakanku dan menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.

—Menyebalkan sekali!

Dan kesempatan itu datang dalam sekejap. Aku mengatur waktu dan jarak dengan sekuat tenaga. Scott pasti menyadarinya. Dia sengaja membiarkan dirinya dipancing untuk mengujiku.

—Jangan remehkan aku!

Dia memberikan tusukan ke celah yang sengaja kubuat, seolah menantangku "ayo coba lakukan". Ini adalah waktu di mana kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali. Aku menyambut tusukan itu dengan teknik "Jiao Jian" (pedang melilit).

Aku mengalirkan mana yang sudah kukumpulkan sekuat tenaga dari lengan hingga ke ujung pedang bersamaan dengan teriakan semangat. "Jiao Jian" adalah teknik menusuk sambil memutar pedang dengan titik tumpu pada sepertiga bagian pangkal bilah.

Gerakan melingkar itu melilit dan mementalkan pedang Scott. Dan di saat yang sama, itu berubah menjadi tusukan yang mematikan.

"Woooaaa!"

Teridengar teriakan panik dari Scott. Seranganku telak. Tepat saat aku berpikir begitu, tiba-tiba sosok Scott terlihat kabur. Seperti bayangan dalam manga, sosoknya menghilang, dan di saat yang sama, sesuatu yang dingin menyentuh leherku.

……Gawat.

Keringat dingin mengalir melihat gerakan yang tidak masuk akal itu. Aku tahu dia kuat, tapi ini sudah beda dimensi. Inikah kekuatan anggota Morgan...?

"Hahaha... He-Hebat kan?"

"Apanya yang 'hahaha'. Apa-apaan gerakan tadi itu..."

"Anu... semacam jurus terpepet terakhir mungkin?"

"Astaga, aku tidak menyangka kamu masih punya satu tingkat lagi di atas itu. Benar-benar di luar dugaan."

"Tidak juga, biasa saja kok."

Memang benar, aku hanya menggunakan teknik Fajin tanpa tahu apakah benar-benar bisa melakukannya. Wajar saja kalau dia kaget. Tapi ya ampun, dia bilang di luar dugaan padahal dia sudah menunggu dan menyadari aku akan melakukan sesuatu.

Aku benar-benar dimainkan olehnya...

"Nah, sekarang kamu mengerti kan?"

"Anu? ……Soal apa?"

"Biar begini, aku ini petualang A-Rank sebelum pensiun. Membuatku harus bertindak serius meski cuma sesaat... Apa itu mungkin bagi anak delapan tahun?"

"Mungkin... jarang ada?"

"Tidak ada! Sama sekali tidak ada!"

"I-Iya..."

Be-Begitu ya... Tubuh anak-anak, jiwa orang dewasa... Apakah karena itu?

Entahlah, tapi tubuh ini ternyata bukan cuma cocok untuk sihir, tapi juga lumayan untuk pedang.

Saat aku sedang kebingungan sambil menggerak-gerakkan tanganku, Scott berbicara lagi.

"Kamu salah paham."

"Eh?"

"Kemampuan fisikmu itu tidak sehebat yang kamu bayangkan."

"Eh? Lalu kenapa?"

"Itu karena pengendalian manamu yang gila itu."

"Pengendalian manaku?"

"Iya, biasanya mana tidak akan menyatu dengan tubuh semudah itu."

"Menyatu dengan tubuh?"

"Berhati-hatilah. Kalau kamu serius sedikit saja, kamu bisa membuat putra Marquis luka parah."

"Eh, e-eeeeh... O-Oke, dimengerti."

Hmmm...

Kalau profesional yang bilang begitu, aku harus benar-benar berhati-hati...

Berbeda dengan pesta bulan lalu, kali ini tidak banyak orang yang berkumpul, jadi perjalanan menuju kastil lancar tanpa hambatan.

Di dalam kereta kuda, aku duduk di samping Ayah. Di kursi depan kami, ada dua pedang di dalam peti kayu dan sebuah perisai.

"Apakah ini dari Seri Hero?"

"Mana mungkin... Tidak ada ceritanya menggunakan bahan seperti itu untuk anak yang belum dewasa..."

Meski begitu, sepertinya keduanya adalah barang yang cukup berkualitas. Meski milik Seva kualitasnya sedikit lebih rendah. Setidaknya milik Adric adalah barang kelas atas dengan tingkat campuran Mithril yang tinggi.

Di tengah suasana yang kaku tanpa obrolan khas orang tua dan anak, aku terus menerima peringatan agar tidak bersikap tidak sopan kepada Adric sampai kami tiba.

Turun dari kereta, aku mendekati Dixie dan mengelus lehernya. Dixie yang manis hari ini pun sedikit memulihkan batinku yang membeku karena berduaan dengan Ayah.

"……Kamu suka kuda?"

"Iya..."

"……Begitu ya."

Iya, benar-benar tidak ada bahan obrolan lebih lanjut.

Tidak ada anak kecil yang tidak senang diberi senjata pribadi. Adric dan Seva memegang senjata pemberian Ayahku dengan mata yang berbinar-binar.

Kalau dilihat begini, mereka cuma anak-anak biasa. Sambil menatap mereka berdua, aku berpikir... bagaimana caranya membesarkan mereka agar tetap memiliki hati yang murni seperti ini.

Tempat kami dipandu adalah sebuah aula besar dengan lantai batu. Kukira tempat ini dipesan khusus, tapi di beberapa sudut terlihat para prajurit yang sedang berlatih.

"Ayah! Lihat! Pedangku!"

Seva berlari menuju seorang pria di tempat latihan sambil membawa pedang dan perisai barunya. Aku langsung tahu kalau itu adalah Viscount Croftall. Sang Viscount memiliki gaya yang cukup eksentrik: kumis ala Kaiser dengan kaus singlet yang memamerkan otot-ototnya yang kekar.

Si Kumis Singlet menerima senjata dari Seva dengan senyum lebar dan memperhatikannya baik-baik. Kemudian, dia mengangkat wajah dan menatapku yang sedang mendekat.

"Sepertinya campuran Mithril-nya sedikit, ya."

"Eh?"

"Aku ingin anak ini memegang senjata dengan kualitas yang sedikit lebih tinggi."

"A-Ah... begitu ya..."

Aku tadinya mengira akan mendapat ucapan terima kasih, jadi aku tertegun mendengar ucapan mendadaknya itu. Senyum di wajah Seva pun sedikit memudar mendengarnya.

"Eh? Apa ini tidak terlalu bagus?"

"Kalau bisa, tingkat campurannya sedikit lebih tinggi agar aliran mananya lebih baik."

Be-Begitu ya... Aku jadi ingat reaksi Ayah saat aku membicarakan senjata Seva. Ayah pasti tidak punya kesan baik terhadap ayah Seva. Sekarang aku mengerti alasannya.

Bukannya marah, aku malah merasa tercengang. Karena diajak bicara oleh seorang Viscount, harusnya aku menjawab, tapi karena kejadian di luar dugaan ini, aku hanya bisa mematung karena tidak tahu harus bilang apa.

Tiba-tiba.

Adric melangkah melewatiku dan mengintip pedang di dekat mereka berdua.

"Mana mungkin buruk. Ini adalah model dengan cap emas keluarga Prosper. Meskipun tingkat campurannya rendah, pedang ini dikerjakan dengan sangat baik oleh pengrajinnya..."

"Be-Benarkah? Iya juga ya. Keren sekali!"

"Tentu saja, bukankah itu bisa dipakai untuk berburu juga?"

"Iya! Ayo kita berburu banyak monster dan jadi kuat!"

Sambil memunggungi Seva yang kembali terlihat senang, Adric mengerlingkan mata padaku.

O-Oh... begitu ya... Dia membelaku? Tunggu, bukankah dia anak yang sangat baik? Aku jadi ragu apakah dia benar-benar si penjahat itu. Rasanya aku malah jadi naksir padanya.

Namun, karena kesan pertemuan pertama yang terlalu kuat itu, aku jadi benar-benar merasa tidak nyaman dengan Viscount Croftall si Kumis Singlet. Kalau aku mulai mengayunkan pedang bersama mereka, dia pasti akan menceramahiku dengan sangat berisik.

Bahkan firasatku bilang dia akan menyindirku dengan mengatakan gerakanku sangat buruk.

Hmmm. Sepertinya hari ini aku cukup menonton saja.

Sepertinya latihannya menggunakan boneka kayu sebagai lawan. Keduanya mengikuti aba-aba sang Viscount dan berteriak "Ei!" sambil memberikan pukulan bertenaga ke arah boneka tersebut.

Selain bentuk manusia, ada juga boneka yang menyerupai monster seperti serigala. Mereka berlatih untuk menghadapi berbagai macam musuh.

Metode latihan seperti ini tidak terduga dan cukup menarik. Boneka berbentuk monster itu diincar pada bagian yang dianggap titik vital seperti leher, sehingga bagian itu terlihat hancur berantakan.

"Rado tidak ikut latihan?"

Saat aku sedang duduk tenang di sudut seperti murid yang minta izin tidak ikut pelajaran olahraga karena tidak enak badan, Adric bertanya padaku. Aku pun menjawabnya dengan senyum kecut.

"Rasanya agak memalukan kalau mereka melihat cara berpedangku... Aku berniat latihan sedikit lagi di rumah baru kemudian bergabung."

"Tidak ada yang perlu dipermalukan, kan? Ayo, coba hadapi boneka ini."

Ugh. Adric terus membujukku. Saat ini, Adric dan Seva sedang sibuk bertarung dengan boneka di depan mereka masing-masing. Dan kebetulan, si Kumis Singlet sedang tidak ada di tempat. Sepertinya dia tidak terus-menerus mengawasi, hanya sesekali berkeliling saja.

"Ba-baiklah, aku coba sedikit ya."

Begitu aku berdiri, Seva juga menoleh ke arahku dengan wajah penuh minat.

"Anu. Apa yang harus kulakukan?"

"Kamu bisa memasang kuda-kuda pedang, kan?"

"Iya..."

"Rado juga pakai pedang satu tangan? Mana perisaimu?"

"Karena aku ingin jadi penyihir, kurasa membawa Short Sword untuk bela diri saja sudah cukup."

"Ah, begitu ya."

Sambil berkata begitu, Adric mengajariku cara berlatih. Meski sebenarnya hanya mengayunkan pedang ke arah boneka, dia bilang sangat penting untuk melakukannya dengan ketegangan seolah sedang bertarung sungguhan melawan musuh di depan mata.

"Bagian yang sudah banyak terkelupas ini, apa aku tinggal memukulnya saja?"

"Hahaha. Jangan dipukul. Ditebas."

"I-iya, benar juga."

Di sini, kata-kata Scott mendadak terngang di kepalaku. Ini bukan tanding latih tanding, jadi mungkin tidak apa-apa... tapi tetap saja. Akan sangat mencurigakan jika aku yang berada di posisi penyihir tiba-tiba melepaskan tebasan dahsyat yang diperkuat mana.

Jadi, tanpa mengumpulkan mana, aku memukul boneka itu dengan kekuatan otot murni secara ragu-ragu.

"Hahaha! Rado, itu namanya benar-benar cuma memukul!"

Seva yang melihatku tertawa girang. Bagus. Sepertinya ini respons yang benar. Aku pun tertawa malu-malu dan terus memukul boneka itu layaknya bocah yang tidak mahir.

Bahkan Adric pun berkata sambil sedikit tertawa.

"Memang sepertinya Rado lebih cocok menjadi penyihir."

"Tapi, sepertinya guru sihirnya belum ketemu juga."

"Begitu ya, ayah Rado pasti akan mencarikan guru yang hebat."

"Iya, aku ingin cepat-cepat belajar sihir."

Seva pun ikut nimbrung dalam percakapan kami berdua.

"Sebelum itu, menurutku Rado harus membentuk otot sedikit."

"O-otot?"

"Iya, ayahku bilang otot adalah segalanya!"

"Be-begitu ya..."

"Kamu harus makan banyak daging. Kalau ototmu sudah terbentuk, kacamata itu pasti tidak akan dibutuhkan lagi."

"Eh? Apa hubungannya?"

"Yakinlah, itu pasti!"

Sialan. Dasar otak otot... Padahal setiap hari aku rutin melakukan jurus Tai Chi, jadi dibanding saat pertama kali reinkarnasi yang seperti tauge, tubuhku sekarang sudah sedikit lebih tegap, tahu.

Kami berlatih selama kira-kira tiga jam. Aku menunjukkan sedikit perkembangan berpedang di depan mereka berdua. Karena Adric dan Seva berusaha keras mengajariku, aku merasa tidak enak jika tidak ada hasilnya sama sekali.

Lagipula, aku juga berpikir kalau aku terlalu payah, mungkin aku tidak akan diajak pergi berburu. Tentu saja aku ingin ikut. Berburu itu terdengar seru.

Meski begitu, berlatih sambil terus menjaga image dan berhati-hati ternyata cukup melelahkan.

Setelah latihan selesai, kami dipandu menuju teras yang terlihat sangat mewah. Sepertinya ini waktu minum teh—atau lebih tepatnya makan siang.

Benar-benar berbeda denganku yang biasanya cuma duduk di atas kotak kayu di depan kandang kuda.

Begitu kami bertiga duduk di meja, seorang gadis pelayan langsung membagikan handuk basah. Dia pasti sudah sangat terlatih. Handuk itu diberikan dengan waktu yang sangat pas sesuai gerakan kami.

"Terima kasih."

Saat aku mengucapkannya, pelayan itu tampak terkejut sesaat. Karena reaksinya yang tak terduga, aku membalasnya dengan senyuman. Dia pun menundukkan kepala dalam diam dan pergi.

Wah, layanannya benar-benar sempurna. Memang setelah berkeringat begini, rasanya sangat segar mengusap wajah dengan handuk dingin.

Aku melepas kacamata dan menyeka leher, membuat tubuh dan pikiranku terasa segar kembali.

Di tengah-tengah itu, saat sedang mengusap wajah, aku melirik ke arah Seva yang tampak sangat gelisah. Handuk basahnya masih dipegang saja, sementara matanya bergerak liar ke sana kemari.

"Hm? Seva, ada apa?"

"Eh? Tidak. Aku cuma penasaran hidangan apa yang akan keluar hari ini."

Ah, begitu ya. Wajar saja jika dia lapar setelah latihan sejak pagi. Apalagi diajak makan siang di kediaman Marquis, rasa semangatnya pasti tidak bisa dibendung.

Tadi dia bilang daging penting untuk otot, kan? Sepertinya di dunia ini tidak ada bubuk protein. Saat aku sedang melamunkan hal itu, kulihat seseorang berjalan ke arah kami dari bangunan utama.

Gatak.

Melihat itu, Seva langsung berdiri dengan raut wajah tegang.

"Lu-Lumiere!"

Eh? Lumiere? Aku buru-buru menyambar kacamata di atas meja.

"Selamat siang, Sevant-sama."

"Haha! Latihan begini sama sekali tidak membuatku lelah, kok!"

O-oh... begitu ya. Seva... kamu benar-benar mudah ditebak.

Aku akhirnya memakai kacamata dan menoleh ke arah Lumiere.

Ah...

Sudah dua tahun sejak aku terakhir kali melihat Lumiere. Saat itu pun di usia enam tahun aura kecantikannya sudah terlihat, tapi dalam dua tahun ini, dia semakin memikat.

Di bawah sinar matahari yang lembut, rambut pirang peraknya yang bergelombang tampak berkilau indah.

Melihat sosoknya, dalam hati aku bersyukur dia tumbuh dengan sehat.

Lumiere mengangkat ujung gaun panjangnya dengan kedua tangan sambil berlari kecil ke arah kami. Namun begitu melihat sosokku, dia tampak sedikit malu, lalu melepaskan pegangan gaunnya dan mulai berjalan anggun.

"Aduh, maafkan kelakuan saya yang tidak sopan tadi... Nama saya Lumiere."

"A-ah, e-eto... Nama saya Radcliff."

Iya, aku benar-benar tidak bisa menertawakan reaksi Seva.

Menghadapi Lumiere yang bersikap sangat formal, aku pun menjawab dengan sedikit gugup. Sosoknya yang tersenyum malu-malu di depan orang asing sepertiku terlihat sangat manis dan anggun.

Gugup? ...Tidak, tidak mungkin. Dia kan masih anak-anak.

Aku bingung dengan perasaan yang tidak masuk akal ini. Apakah ini sensasi asli dari Radcliff muda?

Tapi jujur saja, di balik ekspresi polosnya, Lumiere memiliki kecantikan yang luar biasa. Wajahnya yang rupawan mirip Adric, namun dalam versi yang jauh lebih lembut dan hangat.

"Hmm? Apa kita pernah bertemu di suatu tempat?"

"Itu..."

Saat aku sedang bimbang harus menjawab apa.

Pip! Makhluk yang kulihat waktu itu mendadak melompat dari bahu Lumiere ke arahku.

"Pipi?"

Lumiere berseru kaget.

Makhluk bernama Pipi itu naik ke bahuku dan berputar-putar seolah sedang bersenang-senang.

"Jangan-jangan..."

"Ah, iya. Sekitar dua tahun yang lalu di alun-alun gereja."

"Benar, kan!"

Seketika wajah Lumiere berseri-seri dan dia langsung menggenggam tanganku.

"Eh."

"Terima kasih banyak untuk waktu itu."

"Ti-tidak, aku tidak melakukan apa-apa, kok."

"Lagipula, ini pertama kalinya Pipi merasa akrab dengan orang lain selain aku."

"Be-benarkah?"

"Iya!"

Lumiere menggenggam tanganku semakin erat dengan nada bicara yang antusias. Dalam situasi seperti itu, aku pun mencoba tersenyum sekuat tenaga meski jantungku sedikit berdebar.

"Kalian berdua... bukankah posisi kalian sedikit terlalu dekat?"

Sebuah suara dingin dan suram menggema dengan nada tidak senang. Itu adalah Adric.

"Kakak?"

"Entahlah, tapi tenanglah sedikit Lumiere. Rado jadi merasa kesulitan, tuh."

"Eh? Ah... Maafkan saya."

"Ti-tidak apa-apa..."

Entah kenapa reaksi Adric membuatku jadi ikut malu. Di tengah kecanggungan itu, Adric menoleh ke Lumiere dengan raut masam.

"Lalu, tidak ada salam untukku?"

"Kakak bicara apa, sih. Tadi pagi kan aku sudah memberi salam."

"Tidak ada aturan kalau memberi salam cuma boleh sekali sehari."

"Fufufu. Kakak juga, terima kasih atas kerja kerasnya berlatih hari ini."

"Ya."

Sialan... Melihat reaksinya saat pesta pun aku sudah curiga, tapi sosok Adric yang sangat menyayangi adiknya ini... bukankah ini poin yang sangat penting?

Dan melihat senyum polos Lumiere, aku pun jadi sangat paham kenapa dia bersikap begitu.

Memang benar, jika sesuatu terjadi pada gadis ini, luka di hati Adric pasti akan sangat dalam dan tak terhindarkan.

Berbeda denganku yang baru pertama kali ikut acara minum teh, mereka bertiga menghabiskan waktu dengan sangat natural. Tentu saja, aku yang baru bergabung pun menjadi topik pembicaraan.

Apalagi aku baru bertemu Adric dan Seva di pesta tempo hari. Begitu membicarakan pesta itu, Lumiere berkata dengan nada tidak puas.

"Curang sekali, cuma Kakak dan yang lain saja yang pergi. Aku juga ingin cepat-cepat ikut pesta."

"Mau bagaimana lagi, itu sudah aturannya. Karena itu kami selalu mengajakmu setiap kami berkumpul seperti ini, kan?"

Acara minum teh berlanjut dengan suasana damai, apalagi Seva juga berusaha keras mencairkan suasana.

Hari ini cuacanya sangat bagus, langit cerah tanpa awan. Namun hawanya tidak sepanas musim panas di Jepang yang menyiksa. Momen santai setelah latihan yang sangat damai dan bahagia.

Di tengah suasana itu, aku justru semakin pendiam dan perasaanku mulai menjadi gelap.

Insiden yang membuat kepribadian Adric menyimpang dan menjadi penjahat. Selama ini, aku menganggapnya hanya sebagai salah satu poin yang harus ditaklukkan agar aku bisa menjalani kehidupan reinkarnasi ini dengan nyaman.

Aku merasa marah pada diriku sendiri yang berpikir begitu.

Padahal baik Adric maupun Lumiere, keduanya adalah anak-anak yang baik.

Aku mengepalkan tinju. Aku ingin melindungi mereka. Aku harus melindungi mereka...

"Hm? Ada apa, Rado?"

Sepertinya perasaanku terpancar di wajah. Menyadari ekspresiku, Adric pun memanggilku.

"Ah, tidak apa-apa."

"Apa kamu sedang ingin buang air besar?"

"Ti-tidak, tahu!"

Bahkan di saat seperti ini, Seva tetaplah Seva. Padahal mengatakan hal tidak sopan seperti itu di depan wanita bisa membuatnya dibenci.

Apa yang bisa dilakukan oleh bocah delapan tahun sepertiku...?

Sambil berusaha memaksakan senyum di depan mereka bertiga, otakku berputar dengan kecepatan penuh. Saat itulah, pelayan meletakkan secangkir teh di sampingku.

"Terima kasih."

Tepat saat aku menggumamkan ucapan terima kasih pada pelayan itu.

Adric yang tadinya sedang asyik mengobrol dengan Seva dan Lumiere tiba-tiba terdiam dan menatapku. Suasana seketika menjadi sunyi, Seva dan Lumiere pun ikut terdiam.

Wajah Adric saat itu benar-benar berbeda dari yang kulihat selama ini.

"Hm? Ada apa?"

"Rado. Ini yang kedua kalinya, lho."

"……Eh? Apa maksudnya?"

"Kenapa kamu berterima kasih pada pelayan?"

Itu adalah kata-kata yang sama sekali tak terduga bagiku. Aku tidak bisa memahami sesaat apa yang dipikirkan Adric dan mengapa dia mengucapkan hal itu.

"Berterima kasih?"

"Iya, tadi saat pelayan meletakkan cangkir, kamu mengatakannya, kan?"

"I-iya..."

"……Dia itu seorang Rude, lho."

"!"

Begitu ya. Aku sama sekali tidak menyadarinya, tapi memang benar rambut pelayan itu berwarna kehijauan.

...Tidak. Ini adalah kesempatan bagus.

Padahal aku sedang memikirkan insiden Lumiere, tapi aku segera mengalihkan pemikiranku. Sempat terlintas di kepalaku soal teori bahwa darah Elf sama sekali tidak mengalir di tubuh bangsa Alca sepertiku.

Tapi aku segera menepisnya.

Adric masih delapan tahun. Jika aku mengatakan sesuatu yang menyangkal supremasi Alca, hal itu akan segera sampai ke telinga Marquis. Itu adalah sesuatu yang harus dihindari oleh keluarga Prosper.

Yang terpenting adalah menanamkan rasa belas kasih.

Aku memantapkan hati, lalu menyampaikan setiap kata dengan jelas dan hati-hati kepada Adric.

"Tapi, dia sudah membuatkan teh untukku. Bukankah wajar jika aku mengucapkan terima kasih?"

Genderang perang pun ditabuh.

Karena aku tiba-tiba menyatakan pendapat yang berbeda kepada Adric, aku bisa merasakan suasana di sana berubah drastis. Adric pun mengernyitkan dahi sesaat, namun dia segera membalas kata-kataku.




"Dia seorang Rude dan pelayan. Kita adalah Alca dan bangsawan. Kamu paham, kan?"

"Iya, aku paham. Tapi fakta bahwa dia sudah membuatkan teh untukku tidak berubah, kan?"

"Haa…… Rado, apa kamu tidak tahu perbedaan antara Alca dan Rude?"

"Tahu, kok. Aku sudah banyak membaca buku."

"Buku? ……Tidak. Kalau begitu──"

"Misalnya!"

Aku memotong kata-kata Adric di tengah jalan. Dalam hubungan normal, ini adalah hal yang mustahil dilakukan terhadapnya.

Tapi saat ini, aku merasa harus melakukannya agar kata-kataku benar-benar sampai padanya.

"Misalnya…… Elf adalah keberadaan yang lebih tinggi dari kita, kan?"

"Tentu saja. Elf itu dekat dengan roh. Mereka lebih dekat dengan Tuhan dibanding kita manusia."

"Misalkan di desa Elf itu, ada keturunan yang lahir antara Elf dan manusia, sama seperti kita para Alca, kan?"

"……Apa maksudmu?"

Dalam novel, pada titik ini keberadaan desa Elf belum dipublikasikan secara umum. Sampai sang protagonis, Eric Stoltz, menemukannya nanti, Elf hanyalah keberadaan legendaris yang muncul dalam mitologi.

Adric pasti belum pernah mendengar istilah "Desa Elf" sebelumnya.

"Ini cuma perumpamaan. Manusia yang ada di desa Elf itu adalah Alca, sama seperti kita, kan?"

"……Kalau memang benar ada, ya begitu."

"Lalu, antara Elf dan Alca, posisi Elf lebih tinggi. Bisa saja hubungan mereka seperti Alca dan Rude sekarang. Apa kamu pernah berpikir begitu?"

"I-itu mungkin saja…… Tapi kalau lawannya Elf, ya mau bagaimana lagi."

"Tapi, saat kita para Alca menuangkan teh untuk para Elf, lalu mereka menganggapnya sebagai hal wajar tanpa berterima kasih—bahkan tanpa melirik sedikit pun—bagaimana perasaanmu?"

"……Elf itu mahluk mulia, mereka tidak akan melakukan hal seperti itu!"

"Hal seperti itu?"

"Iya, mereka pasti akan memperlakukan kita dengan wajar."

"Itu artinya, kita para Alca juga sedang melakukan 'hal seperti itu'."

"Eh……"

"Aku ingin kita para Alca juga menjadi mulia, sama seperti para Elf."

"……"

Bagaimana reaksinya…… Suasana di sana mendadak sunyi senyap karena kata-kataku.

Bahkan pelayan yang hendak menyajikan teh untuk Lumiere pun mematung karena tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada yang berbicara, semua orang terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu.

──Apa aku bertindak terlalu jauh terhadap anak-anak?

Tepat saat aku berpikir begitu, Lumiere menyadari pelayan bernama Liese yang masih mematung memegang cangkirnya.

"Liese…… Terima kasih."

Sambil berkata begitu, dia menerima cangkir dari sang pelayan.

"Ti-tidak…… Sama-sama……"

Pelayan itu menjawab dengan wajah terkejut. Melihat tindakan Lumiere, aku merasakan bulu kudukku berdiri karena takjub.

……Anak ini benar-benar luar biasa. Hanya dengan satu kalimat Lumiere, suasana di sana langsung berubah.

Dalam novel, dia hanya muncul dalam cerita masa lalu Adric, tapi dia benar-benar anak yang seperti malaikat. Pantas saja insiden itu sampai bisa merusak kewarasan Adric.

Dia adalah anak yang dicintai semua orang dan mencintai semua orang. Aku bisa merasakan betapa murni dan tulus hatinya.

Adric memperhatikan hal itu dalam diam, lalu dia menoleh menatapku.

"Begitu ya…… Rado."

"I-iya?"

"……Entah kenapa, kamu hebat juga."

"Be-begitu ya……"

"Aku akan mencoba memikirkannya."

"U-un."

Yah, meski aku tidak bisa memungkiri kalau suasana tadi sempat menjadi canggung, tapi reaksi Adric ini adalah sebuah kemenangan besar bagiku. Dan yang memberikan sentuhan akhir pada drama ini adalah……

Aku melirik ke arah Lumiere.

……!

Lumiere sedang menatapku lekat-lekat sambil tersenyum geli seolah sedang bersenang-senang.

Pada saat itu juga, terhadap anak berusia delapan tahun ini…… jantungku berdegup kencang sesaat.

Tak lama kemudian, Ayah selesai berbicara dengan Marquis dan datang ke teras. Aku menganggapnya sebagai aba-aba dan berpamitan kepada mereka bertiga.

Adric berdiri dan mengucapkan terima kasih kepada Ayah soal pedangnya. Dia juga menyuruh Seva yang sedang melamun untuk ikut berterima kasih.

Mungkin karena aku baru saja berusaha keras membujuk Adric, semangatku jadi naik secara tidak wajar.

"Apa terjadi sesuatu?"

"Eh? Ah. Kami semua berlatih pedang melawan boneka kayu tadi."

"Begitu ya……"

"I-iya."

"……"

"Katanya lain kali aku akan diajak berburu……"

"Berburu ke hutan?"

"……Aku kurang tahu, tapi katanya akan ada banyak pengawal yang ikut."

"Begitu ya……"

"Iya."

"……"

Eh? Obrolannya sama sekali tidak berkembang.

Aku bisa merasakan hormon di otakku yang tadinya meluap-luap langsung surut seketika. Karena tidak tahan dengan keheningan di dalam kereta kuda, aku mencoba mencari topik lain.

"A-ah…… Ha-hari ini Papa bicara apa saja dengan Marquis-sama?"

"Hm? Oh. Kalau dipikir-pikir kamu juga berumur delapan tahun, ya."

"Maksudnya?"

"Di daerah Battyal, katanya ada seorang bocah jenius berusia delapan tahun."

"……Eh?"

Battyal…… Aku ingat nama yang terdengar asing itu. Wilayah Battyal di Kerajaan Arcadia, wilayah paling utara di kerajaan ini.

Tempat kelahiran Eric Stoltz, protagonis sebenarnya dalam novel ini.

"Katanya bocah jenius itu mulai memproduksi gula."

"Gula……"

Tidak salah lagi…… Itu pasti Eric.

Satu episode dalam novel langsung melintas di kepalaku. Di negara ini, gula tidak bisa diproduksi secara mandiri dan harus diimpor dari tebu negara selatan, sehingga harganya sangat mahal.

Di tengah situasi itu, Eric yang bereinkarnasi dari Bumi mulai menanam bit gula dan berhasil memproduksi gula pertama di dalam negeri.

Eric lahir di wilayah Viscount Stoltz di Battyal. Keluarganya adalah bangsawan perintis, namun hingga generasi ayahnya, pengelolaan wilayah mereka tidak berjalan mulus.

Namun, sang protagonis berhasil memproduksi gula setelah menemukan sayuran manis saat bermain dengan anak-anak desa, dan dalam sekejap membangun kembali wilayahnya.

Melihat usianya yang masih delapan tahun, sepertinya bisnisnya belum berjalan secara resmi. Mungkin dia baru mulai menanam bit di kebun dan baru menghasilkan produk percobaan. Jika begitu……

──Gawat.

Ada sebuah perusahaan dagang yang akan mencoba menjalin kontrak monopoli setelah mendengar rumor produksi gula ini. Namun setelah gagal, mereka akan menjadi musuh bisnis total dan akhirnya dihancurkan oleh sang protagonis.

Nama perusahaan itu adalah Perusahaan Dagang Prosper.

──Aku harus memikirkan sesuatu.

Sungguh, terlalu banyak hal yang harus kupikirkan sekarang. Tentang Lumiere, dan juga Perang Gula.

Tanpa sadar, aku menghela napas panjang.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close