Prolog
"Reinkarnasi sebagai Antagonis"—siapa pun yang
menyukai light novel pasti setidaknya pernah mendengar istilah itu
sekali, bukan?
Itu adalah salah satu gaya dalam genre populer yang disebut isekai
tensei.
Sang protagonis bereinkarnasi menjadi sosok penjahat dalam
sebuah novel atau gim yang ditakdirkan berakhir tragis. Lalu, ia berjuang mati-matian demi menghindari
nasib kematian tersebut.
Sebagai pencinta light
novel, alur seperti itu selalu berhasil membuat darahku berdesir semangat.
Aku sudah melahap
banyak sekali judul light novel. Aku pun merasa percaya diri bahwa jika
hal semacam itu terjadi padaku, aku pasti bisa mengatasinya tanpa masalah.
Ada sebuah karya
di sini. Sebuah karya dengan tema standar reinkarnasi ke dunia lain.
Tokoh utamanya
adalah Eric Stoltz, seorang bocah bangsawan pedesaan yang tak terkalahkan
berkat kemampuan Cheat hasil reinkarnasi.
Lalu, sosok yang
berdiri menghadang Eric sebagai rival sekaligus antagonis adalah putra mahkota
dari keluarga margravine ternama, Adric Faldulas.
...Sebagai
panggung "Reinkarnasi sebagai Antagonis", tidak ada latar yang lebih
sempurna dari ini.
Namun...
apa-apaan ini?
Taman luas milik
keluarga margravine. Di teras yang bersebelahan dengan taman itu, meja-meja
bundar beralaskan taplak putih berjajar rapi.
Peralatan perak
yang mengilap, teh aromatik, serta camilan yang baru saja dipanggang telah
disiapkan dengan sempurna.
Terpusat pada
Adric, adinda perempuannya serta para putra bangsawan yang menjadi pengikutnya
berkumpul di sana. Pemandangan mewah bertajuk "Pesta Teh Anak-Anak
Bangsawan" terpampang nyata di depan mata.
"Ada apa,
Rad? Jangan sungkan, makanlah sesukamu."
"U-uh,
iya..."
Adric yang
dimaksud sedang melemparkan senyum segar ke arahku.
Benar. Aku tidak
bereinkarnasi sebagai tokoh utama, bukan pula si penjahat utama.
Aku bereinkarnasi
menjadi salah satu pengikut Adric yang selalu mengekor ke mana pun ia pergi.
Sosok remeh yang namanya bahkan samar diingat orang.
Pengaturan
karakternya sama sekali tidak pernah digali lebih dalam. Namun, meski begitu,
dia tetap memiliki akhir kematian.
Mati secara
diam-diam tanpa adegan heroik, hanya sekadar sebagai pelengkap untuk
menonjolkan sisi jahat sang antagonis.
Itulah takdir
dari Radcliffe Prosper, sosok yang kini menjadi jati diriku.
Kisah yang akan
kuceritakan ini adalah tentang diriku, yang terpaksa hidup sebagai
"Pengikut A" dari putra bangsawan antagonis.
Ini adalah sebuah
strategi bertahan hidup yang akan kujalankan sekuat tenaga, demi menghindari death
flag dan menikmati kehidupan dunia lain yang bahagia.
Inilah "Rencana Rehabilitasi Antagonis" milikku.



Post a Comment