Chapter 1
Pemuda Berkacamata
"Ugh...
nngh..."
Rasanya
seolah-olah aku sedang mengembara di dalam mimpi. Apa yang terjadi...
Aku...
"Di mana ini...? Aku..."
Di tengah kesadaran yang masih kabur, potongan-potongan
ingatan perlahan mulai menyatu.
...Benar juga. Aku sedang mendaki sendirian di gunung daerah
asalku.
Setelah
mengundurkan diri dari pekerjaan... Aku bertekad untuk menata ulang hidupku...
Lalu di
pedalaman gunung, aku bertemu beruang... melarikan diri... dan dari tebing...?
"Eh? Aku selamat? ...Aku?"
Aku
tersentak bangun dan menyadari bahwa aku sedang berada di atas tempat tidur
yang asing.
"Di
mana?"
Mungkin karena
kepalaku belum jernih, pandanganku terasa buram. Tidak, apa ini masalah
penglihatan?
Aku mengulurkan
tangan ke meja samping tempat tidur, mengambil kacamata yang tergeletak di
sana, lalu memakainya.
Seketika,
pandanganku menjadi jelas. Saat aku memperhatikan sekeliling sekali lagi,
ruangan ini luar biasa mewah.
Ada
perapian yang tampak seperti di film-film pada dinding di depanku. Atmosfernya
benar-benar menyerupai bangunan Barat klasik.
──Hm?
Tadi itu
gerakan bawah sadar, tapi aku secara alami mengulurkan tangan mengambil
kacamata. Bagaimana bisa? Seingatku, aku tidak pernah memakai kacamata.
Sambil
merasa bingung dengan kejanggalan ini, aku tidak sengaja melihat tanganku
sendiri. ...Kecil.
Bukan
hanya itu. Lengan ini kurus layaknya anak kecil, dengan warna kulit yang luar
biasa putih.
Tunggu,
tunggu sebentar. Jangan-jangan...
Aku
langsung melompat dari tempat tidur dan berlari menuju cermin yang ada di dalam
ruangan.
"Yang
benar saja..."
Sosok
yang terpantul di cermin sangat jauh berbeda dengan wujudku selama dua puluh
sekian tahun aku hidup.
Kulit
putih transparan layaknya orang Barat, dengan mata hijau yang juga bening. Dan
rambut pirang keemasan yang ikal acak-acakan sesuka hati.
"Ini
benar-benar..."
Tertegun,
aku terpaku menatap cermin itu untuk beberapa saat.
Situasinya
sederhana. Pertama, aku mati.
Lalu reinkarnasi.
Aku adalah pria
yang terus melahap tumpukan light novel. Dalam artian, aku adalah Master
Light Novel. Kejadian level ini sudah ribuan kali kusimulasikan di dalam
kepala.
Memang benar
kematianku cukup mengejutkan. Namun, karena orang tuaku sudah lama meninggal
dan aku hidup sebatang kara, aku tidak punya penyesalan terhadap Jepang.
Yang penting
sekarang adalah segera mengetahui dunia seperti apa tempatku bereinkarnasi ini.
Jika ini benar-benar isekai tensei, aku harus memahami situasi dengan
saksama. Tetap tenang.
Tepat saat aku
hendak memeriksa ruangan, tiba-tiba pintu terbuka dan seorang gadis masuk. Dia masuk dengan ceria sambil
bersenandung.
Aku tidak
sempat bereaksi dan tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Gadis itu tidak
menyadari keberadaanku dan terus menepuk-nepuk furnitur dengan kemoceng seolah
sedang menari.
Saat
sedang bekerja, si gadis melirik ke arah tempat tidur dan menyadari bahwa aku,
yang seharusnya ada di sana, telah menghilang.
"Lho?"
Gadis itu
mengitari ruangan dengan bingung, lalu menyadari keberadaanku yang berdiri di
depan cermin.
Setelah
melakukan double-take yang sangat klise, mata gadis itu membelalak
lebar.
"Eh? Tuan
Muda? Aaah! Maafkan saya karena tidak mengetuk pintu!"
Aku memang kaget,
tapi gadis itu jauh lebih panik dariku.
──Ada apa?
Melihat sosok
gadis itu, aku sedikit mendapatkan kembali ketenanganku.
"Saya
tidak menyangka Anda sudah bangun. Mohon maafkan saya!"
Gadis ini mungkin
berusia pertengahan belasan tahun. Penampilannya menunjukkan dengan jelas bahwa
dia adalah seorang pelayan...
Namun, di
wajahnya yang masih terlihat lugu, terpancar ekspresi ketakutan yang mendalam.
Aku merasa ada yang janggal dengan ekspresi itu.
──Apakah pemilik
tubuh ini orang yang sedikit menakutkan?
Saat aku
menatapnya dengan wajah heran, wajah gadis itu semakin terlihat ketakutan. Dia
pun mengucapkan permohonan maaf untuk ketiga kalinya.
"A-anu...
benar-benar moho—"
"Kamu,
siapa?"
"...Eh?"
"Kamu...
mengenalku?"
"T-tentu
saja. Tuan Muda Radcliffe. Eh? Tuan Muda, ingatan Anda?"
"...Sedikit.
Aku sedang bingung."
"B-benar
juga ya. S-segera akan saya
sampaikan pada Tuan Besar—"
"Tunggu!"
Setelah bimbang,
akhirnya aku memutuskan menggunakan kartu amnesia, tapi dia langsung berniat
melapor begitu mendengar perkataanku. Kalau begini kan percuma. Aku buru-buru
menghentikannya yang hendak keluar ruangan.
Lagipula, aku
ingin mendapatkan informasi sebanyak mungkin dari gadis ini.
"T-tapi..."
"Pokoknya,
aku tidak ingin membuat orang tuaku khawatir."
Begitu aku
mengatakannya, sejenak dia terpaku menatapku.
"Eh? ...Eeeh?!"
"Hmm. Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?"
"T-tidak!"
Gadis itu
menggelengkan kepalanya dengan cepat. Namun jelas-jelas dia sedang
menyembunyikan sesuatu. Melihat gelagatnya, aku jadi semakin merasa cemas.
Ketakutannya
saat melihatku, serta ekspresi terkejutnya saat aku bilang "tidak ingin
membuat orang tua khawatir". Responnya terhadapku terasa sangat tidak
wajar.
...Jangan-jangan,
pemilik tubuh ini bukan anak yang baik?
Rasa antusias
yang kurasakan tadi perlahan mulai tertutup oleh kecemasan.
Dari
perkataannya, aku bisa menyimpulkan namaku adalah "Radcliffe".
Radcliffe. Aku berusaha keras mengingat apakah ada karakter bernama Radcliffe
di light novel yang pernah kubaca.
...Sial, aku
tidak ingat sama sekali. Apa dia karakter orisinal?
Ngomong-ngomong,
tadi aku memakai kacamata secara tidak sadar. Mungkin ini bukan sekadar
merasuki tubuh orang lain. Apa ini tipe yang membangkitkan ingatan...?
Benar saja. Tepat
di saat aku mencoba mencari ingatan di dalam diriku, sesuatu di lubuk hatiku
terbuka dengan bunyi klik.
Rasanya seperti
pintu ingatanku dipaksa terbuka lebar.
"Ugh!"
"T-Tuan
Muda?"
Mungkin hanya
sebentar jika diukur dengan waktu. Ingatan selama enam tahun sejak tubuh ini
lahir, dan ingatanku selama dua puluh sekian tahun, bercampur baur dalam waktu
singkat beberapa puluh detik ini.
Ini benar-benar
siksaan. Otakku seolah menjerit kesakitan. Akal sehat dari Bumi dan akal sehat dari dunia
lain. Roda gigi dengan ukuran berbeda itu dipaksa bersinggungan secara kasar
hingga berderit dan akhirnya saling mengunci.
Disertai
sakit kepala yang hebat, aku akhirnya berlutut di tempat.
"T-Tuan
Muda!"
Si pelayan
mendekatiku dengan panik.
"Ugh..."
"A-apakah Anda baik-baik saja? Saya akan segera memanggil dokter!"
Gawat.
Aku berusaha menegakkan tubuh dan menangkap tangan pelayan yang hendak keluar
ruangan itu.
"Tidak
apa-apa. Tilly..."
"T-tapi..."
"Lihat,
ingatanku sudah kembali kan? Tilly."
"I-iya..."
Aku berhasil
mengambil nama pelayan ini dari ingatan masa lalu. Agar dia tahu ingatanku
sudah kembali, aku menyebut namanya dua kali. Tilly... benar. Itu nama
pelayan ini. Dan namaku adalah...
"Radcliffe Prosper."
Putra kedua dari pemilik Prosper Company, salah satu
persekutuan dagang terbesar di negara ini.
Meskipun ingatanku sudah kembali, isinya agak
terfragmentasi. Tetap saja, aku beruntung karena identitas dasarku masih
sebagai diriku yang orang Jepang.
"Maaf ya, aku sudah agak tenang..."
"Eh?
T-tidak..."
Tilly
yang berdiri di samping tempat tidur tampak masih kebingungan.
Wajar
saja. Dalam ingatanku, aku tidak pernah mengucapkan kata "maaf"
kepada pelayan atau pelayan rumah. Malah, aku memperlakukan mereka sepenuhnya
seperti benda.
──Firasat
burukku makin menjadi-jadi.
Keluargaku
menjalankan Prosper Company, sebuah perusahaan dagang raksasa. Karyawan
perusahaannya banyak, dan di rumah pun ada banyak pelayan, kepala pelayan,
hingga koki. Terlebih lagi, kami adalah bangsawan dengan gelar Baron.
Mempertimbangkan
situasi ini, aku mulai curiga kalau aku masuk ke skenario Reinkarnasi
Antagonis.
Prosper Company... Sejujurnya, meski aku sudah membaca
banyak light novel, aku sulit mengingat nama perusahaan dagang sedetail
itu. Mungkin ini adalah perusahaan saingan dari protagonis tipe slow life.
Jika benar ini reinkarnasi antagonis, ini adalah skenario
terburuk. Kenapa? Karena aku tidak bisa mengingat karakter Radcliffe ini. Ini
sangat berbahaya. Padahal asyiknya reinkarnasi antagonis adalah saat kita bisa
menghindari death flag.
Karena terlalu banyak membaca light novel,
informasinya jadi tumpang tindih dan sulit diingat. Ditambah lagi, ingatan yang
kuwarisi dari Radcliffe juga masih kabur.
Sial. Ternyata terlalu banyak membaca juga ada buruknya.
"Jadi, sebenarnya aku... apa yang terjadi padaku?"
"Baik. A-Anda jatuh pingsan karena Mana Depletion..."
"Mana Depletion?"
Itu adalah nama penyakit yang tidak ada dalam ingatan
Radcliffe. Usia enam tahun ya. Wajar
saja kalau dia tidak tahu nama penyakit.
Ketika aku
bertanya, Tilly menjawab tanpa ragu.
Mana Depletion adalah kondisi di mana mana benar-benar
hilang dari dalam tubuh, sehingga mengganggu fungsi vital kehidupan.
Manusia di dunia
ini semuanya memiliki mana, dan mana tersebut selalu disirkulasikan di dalam
tubuh.
Seiring
pertumbuhan, "mana yang diproduksi tubuh" akan melebihi "mana
yang dikonsumsi metabolisme". Perubahan keseimbangan ini biasanya terjadi
di sekitar usia enam tahun. Pada periode ini, organ untuk mengeluarkan mana ke
luar tubuh akan berkembang agar mana tidak menumpuk secara berlebihan.
Organ pembuangan
ini memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan mana di dalam tubuh.
Saat organ ini
pertama kali terbuka, biasanya dilakukan di bawah bimbingan orang dewasa agar
mana bisa dikeluarkan dengan aman. Namun, terkadang terjadi kebocoran mana yang
tidak terkendali. Kebocoran inilah yang menyebabkan mana dalam tubuh terkuras
habis dan memicu Mana Depletion.
Seiring matangnya
organ pembuangan, bahaya seperti ini akan hilang. Dan dengan memanfaatkan mana
yang keluar dari organ tersebut, manusia bisa menggunakan sihir...
Ya,
sihir. Aku tidak sengaja menyeringai lebar saat mendengar penjelasannya. Tilly
sendiri sampai mundur ketakutan sambil mengeluarkan suara "Hii!"
melihat senyumku...
...Jadi,
apakah guncangan fisik pada saat itu yang membangkitkan ingatan kehidupan masa
laluku? Atau mungkin ini adalah penggabungan jiwa atau perasukan...
Saat aku
terdiam sejenak untuk merapikan situasi, Tilly bertanya dengan nada cemas.
"A-apakah Anda baik-baik saja?"
"Aku tidak apa-apa. Iya, tolong beri tahu Papa dan Mama
kalau aku sudah bangun, ya?"
"B-baik."
Aku mengikuti ingatan dengan memanggil "Papa" dan
"Mama", tapi rasanya sedikit memalukan.
Dalam ingatan Radcliffe, ibunya terlalu sibuk bersolek dan
bergaul dengan sesama sosialita, sementara ayahnya adalah pecandu kerja yang
tidak peduli pada urusan rumah tangga. Karena itulah Radcliffe haus akan kasih
sayang orang tua.
Meski begitu, saat dilaporkan bahwa aku sudah sadar setelah
tiga hari, kedua orang tuaku menunjukkan senyum yang jarang mereka perlihatkan.
Entah kenapa, aku merasa ingin menunjukkan pemandangan itu kepada bocah
Radcliffe yang asli.
Setelah itu, selama beberapa hari aku memulihkan diri sambil
perlahan membiasakan diri dengan dunia ini.
Aku tahu aku beruntung karena menjadi anak orang kaya, tapi
fakta bahwa aku tidak disukai oleh orang-orang di sekitarku benar-benar berat
secara mental.
Dokter yang datang memeriksa menyentuh tubuhku untuk
memeriksa aliran mana. Dia segera mendiagnosis bahwa tidak ada masalah. Organ
pembuangan manaku sudah terkendali dan sekarang mengeluarkan kelebihan mana
secara alami.
Hanya saja, aku
dilarang keras menggunakan sihir selama setengah tahun.
Meskipun
mengecewakan... ada satu harapan. Katanya, anak yang mengalami Mana
Depletion di usia dini sering kali tumbuh menjadi penyihir hebat di masa
depan. Walau sedikit sulit, aku akan menaruh harapan pada hal itu.
Lalu, ada satu
lagi kabar mengecewakan.
Aku belum boleh
keluar dari kediaman sendirian. Memang sih, untuk anak usia enam tahun, di Bumi
pun dilarang keluar sendirian...
Sihir dan
jalan-jalan santai di dunia lain, keduanya harus ditunda untuk sementara.
Alhasil, ruang
lingkup kegiatanku terbatas di dalam kediaman... Namun, ke mana pun aku pergi,
para pelayan menyambutku dengan senyum kaku dan wajah bingung... tidak, lebih
tepatnya wajah jijik.
──Aku benar-benar
dibenci.
Aku paham itu,
tapi aku tidak bisa memecahkan situasi dengan mulus seperti protagonis di
novel-novel reinkarnasi antagonis yang pernah kubaca. Apakah ini yang namanya
kerasnya realitas?
Alasannya
sederhana. Sebagai orang dewasa yang peka terhadap suasana (dan sedikit
antisosial), aku merasa tersiksa jika harus berinteraksi dengan para pelayan
yang menatapku dengan mata penuh kebencian.
Hasilnya, aku
malah menjaga jarak dari mereka.
Untuk apa aku
membaca tumpukan light novel selama ini... Aku bukannya tidak berpikir
begitu, tapi ini bukan masalah pengetahuan, melainkan masalah mental. Tidak ada
yang bisa kulakukan.
Dan karena aku
juga menjaga jarak, upaya memperbaiki hubungan jadi tidak maju-maju.
Benar-benar lingkaran setan...
Karena itulah,
dengan alasan belajar membaca dan menulis, aku mengurung diri di kamar seharian
dan bermalas-malasan di atas tempat tidur sambil membaca koleksi buku dari
perpustakaan keluarga.
Melihat hal itu,
Tilly sepertinya jadi khawatir.
"Membaca
buku memang bagus, tapi kalau terus-terusan membaca, mata Anda bisa rusak,
lho?"
"Mata?
Mataku kan memang sudah rusak."
Tilly, yang rutin
merapikan kamarku, mungkin adalah orang yang paling mudah diajak bicara.
Awalnya dia sedikit kaku, tapi setelah satu minggu, sikapnya mulai melunak.
Aku ingin
bertanya banyak hal tentang dunia ini, tapi berbeda denganku, Tilly punya
pekerjaan. Terlebih karena dia adalah pelayan termuda, dia tampak sibuk dengan
banyak tugas yang didelegasikan oleh para seniornya. Aku tidak enak
mengganggunya.
"Kalau
semakin parah, kacamata pun tidak akan bisa membantu lagi. Dokter juga bilang
begitu, kan?"
Cih... Dokter
yang dimaksud adalah si dokter gadungan yang melarangku memakai sihir itu ya?
Meski
berpikir begitu, aku tetap tersenyum ramah.
"Yah,
habisnya tidak ada hal lain yang bisa dilakukan."
"Tetap saja,
bagaimana kalau jalan-jalan di taman?"
"Benar juga,
akan kupikirkan."
Wajar jika orang
dewasa menyuruh anak-anak "bermainlah di luar", tapi saat ini aku
ingin mendapatkan pengetahuan tentang dunia ini sebanyak mungkin.
Dan juga, yah,
aku ingin menghindari siksaan berupa tatapan dingin dari para pelayan saat aku
keluar kamar.
Orang
tuaku cukup jarang berada di rumah.
Ayahku
selalu tenggelam dalam pekerjaan. Ibuku selalu pergi untuk pesta teh atau pesta dansa bersama para istri
sosialita. Katanya saat aku pingsan selama tiga hari mereka berusaha sebisa
mungkin ada di rumah, tapi begitu aku sehat, mereka kembali ke kehidupan
masing-masing.
Dalam sehari, aku
hanya bertemu keluarga saat jam makan malam. Itu pun jarang mereka berdua ada
di rumah, terkadang aku makan sendirian. Lingkungan yang sempurna untuk
membentuk kepribadian buruk bocah Radcliffe.
Ngomong-ngomong,
aku adalah anak kedua, dan aku punya kakak laki-laki serta kakak perempuan yang
usianya terpaut jauh. Mereka berdua sekarang tidak ada di rumah karena tinggal
di asrama Akademi Kerajaan di ibu kota.
Aku juga
dijadwalkan masuk sekolah asrama di ibu kota saat usia dua belas tahun, tapi
karena pengaturan seperti ini sangat umum di light novel, informasi ini
tidak banyak membantu untuk mengidentifikasi judul ceritanya.
Hari ini pun, aku
berbaring di tempat tidur sambil membaca buku sejak pagi. Tilly yang masuk
untuk bersih-bersih berkata dengan nada jengkel.
"Buku
lagi?"
"Ini belajar
tahu, lewat buku."
"Ya ampun... Anda kan masih anak-anak, bermainlah di
luar."
"...Lama-lama
bicaramu jadi makin ketus ya?"
Entah
bagaimana, hanya Tilly yang sering datang ke kamarku. Setelah reinkarnasi,
berbeda dengan sebelumnya, aku tidak pernah marah-marah atau egois. Apalagi
lawanku adalah anak usia enam tahun. Wajar jika Tilly yang masih muda lebih
cepat beradaptasi.
Bagiku
hal itu terasa nyaman, seolah aku benar-benar mulai menyatu dengan dunia ini.
Karena
sprei tempat tidur akan diganti, aku dipaksa turun dari ranjang.
Sambil
melihat Tilly bekerja dengan cekatan, aku bergumam.
"Hmm.
Sesekali mungkin aku akan pergi ke taman sambil membaca buku..."
"Bukan
bukunya yang penting!"
Tilly
secara refleks menyahut perkataanku, tapi dia segera meminta maaf karena merasa
bicaranya terlalu lancang.
"Mohon
maafkan saya. Itu... di rumah saya punya adik perempuan yang seumuran dengan
Tuan Muda. ...Jadi tanpa
sadar saya..."
"Tidak perlu
minta maaf sama sekali. Tapi, wah, Tilly punya adik? Aku baru
tahu."
"...Bukan sesuatu yang penting untuk diceritakan
juga."
Melihat Tilly yang sedikit ragu untuk melanjutkan ceritanya,
aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih dalam. Meski begitu, fakta bahwa dia
punya adik yang seumuran denganku cukup menarik perhatianku. Demi menghargai Tilly, aku pun memutuskan untuk
keluar ke taman tanpa membawa buku.
Bunga-bunga di
taman ini tidak jauh berbeda dengan yang biasa kulihat di Bumi. Walau aku bukan
ahli botani, setidaknya aku tahu mana yang bernama mawar. Lengkap dengan
durinya yang juga sama.
Hal-hal seperti
inilah yang membuatku menduga bahwa dunia ini mungkin adalah dunia fiksi
ciptaan orang Jepang...
Saat aku sedang
berkeliling di taman mawar, seorang tukang kebun menyapaku dengan senyum yang
dipaksakan.
"T-Tuan
Muda... ada yang bisa saya bantu?"
"Aku hanya
ingin jalan-jalan sebentar."
"Be-begitu ya..."
"Iya."
"................ Anu?"
Ya, beginilah rasanya. Aura "keberadaanku di sini hanya
membuat orang lain repot".
Melihat si tukang kebun yang membeku karena tidak tahu harus
berbuat apa, aku pun jadi salah tingkah. Akhirnya, aku hanya tersenyum sambil melambaikan tangan lalu beranjak
pergi.
...Ngomong-ngomong, aku belum pernah pergi ke area bagian
dalam sana.
Ini adalah kediaman mewah milik orang kaya raya. Tanah miliknya sangat luas, dan aku terus
berjalan menyusuri taman hingga ke bagian paling belakang. Kalau tidak salah,
di sana ada istal, tempat kuda-kuda penarik kereta tinggal.
Bocah Radcliffe
yang asli dulu tidak pernah mau mendekat ke sana karena menganggap bau kotoran
hewan itu menjijikkan. Itulah
sebabnya tidak ada informasi tentang area ini di dalam ingatanku.
Bangunan istalnya
ternyata cukup megah. Di sampingnya terdapat gudang tempat menyimpan kereta
kuda. Suasananya terasa nyaman seperti peternakan kecil...
Tapi tetap saja,
memiliki fasilitas seperti ini di lahan pribadi benar-benar luar biasa. Padahal
ayahku bukan raja ataupun penguasa wilayah. Level kemewahan ini sudah melewati
batas kata mengejutkan; ini sudah konyol.
Saat aku
mengintip ke dalam istal, beberapa ekor kuda menoleh ke arahku secara
bersamaan.
"Wah, ada
kuda."
Namanya juga
istal, tentu saja ada kuda yang ditambatkan di sana. Beberapa ekor kuda
menatapku dengan wajah tenang dan tampak penasaran. Aku menyadari salah satu
dari mereka menghentakkan kakinya, seolah-olah sedang merengek "ajak aku
main".
Tanpa sadar, aku
melangkah mendekati kuda itu.
Ini pertama
kalinya aku melihat kuda sedekat ini, ternyata besar sekali. Tapi... sepertinya
dia tidak berbahaya.
Begitu aku
mengulurkan tangan dengan hati-hati, kuda itu menundukkan kepala dan
menggosokkan pipinya ke tanganku. Melihat keramahannya, aku pun mulai rileks
dan mengusap batang hidungnya. Kuda itu memejamkan mata dengan nyaman.
"Gawat,
manis sekali..."
Ternyata kuda
bisa semanis ini ya. Namun, saat aku sedang asyik mengelusnya, tiba-tiba sebuah
teriakan terdengar dari belakang.
"Hei! Apa
yang kau lakukan di situ?!"
"Eh?"
Aku berbalik dan
melihat seorang gadis menatapku dengan wajah marah. Di tangannya, dia memeluk
tumpukan jerami kering.
Melihat
penampilannya, aku menebak dia bekerja di istal ini. Tapi usianya... bukankah
dia seumuran denganku? Dengan rambut bob berponi pendek di atas alis, dia
tampak terlalu kecil untuk bekerja.
"Bukan
apa-apa. Aku cuma merasa anak ini ramah sekali."
Saat aku bicara
sambil terus mengelus kuda, gadis itu menggembungkan pipinya dengan kesal dan
mendekat.
"Minggir!"
"Eh?"
"Minggir!"
Karena terdesak
oleh energinya yang meluap-luap, aku mundur beberapa langkah. Si gadis pun maju
dengan gesit.
Dia memasukkan
jerami ke kotak makan sang kuda, lalu memeluk wajah hewan itu dengan akrab.
Si kuda tidak
merasa terganggu, malah memejamkan mata dengan senang. Gadis itu menoleh ke
arahku sambil menepuk-nepuk leher si kuda dengan bangga.
"Lihat?"
"...Ya?"
Jujur,
aku tidak mengerti. Apa
maksudnya "lihat"?
"Itu
artinya, Dixy lebih menyukaiku!"
"Dixy?"
"Nama anak
ini!"
"Ooh..."
Begitu toh. Jadi
dia cemburu karena melihatku akrab dengan kuda ini. Hehehe. Manis sekali.
Setelah mengerti maksudnya, aku sadar ini hanyalah tingkah kekanak-kanakan.
Sebagai orang dewasa, aku harus bersikap bijak.
"Benar juga.
Wah, jadi namamu Dixy ya."
"...Apa-apaan
itu? Kau mengelusnya padahal tidak tahu namanya?"
"Hahaha...
iya, kau benar."
Tepat saat aku
tertawa menanggapi ucapannya, seorang perawat kuda datang dari pintu masuk
dengan wajah pucat pasi.
"Hattie!
Tidak boleh begitu!"
"Ah!
Papa! Ada anak asing masuk ke istal tanpa izin!"
Pria
perawat kuda yang tampak agak lemah itu berlari ke arahku dengan panik begitu
melihat wajahku. Namun, gadis
bernama Hattie itu sama sekali tidak peduli.
Tapi tunggu,
Hattie? Nama itu terasa familiar di suatu tempat dalam ingatanku. Rasanya ada
karakter bernama seperti itu di sebuah light novel.
Aku merasa
petunjuk tentang reinkarnasi ini ada di sana, dan aku mulai memeras otak untuk
mencari ingatanku...
"H-hei!
Dia bukan anak asing! Mohon
maafkan saya, Tuan Muda! Anak ini belum mengenal wajah Tuan Muda... jadi, mohon
ampuni dia!"
Mungkin karena
aku terdiam sambil berpikir keras, dia mengira aku sedang menahan amarah.
Perawat kuda itu berlutut dan memohon ampun dengan wajah pucat.
Melihat orang
dewasa memohon nyawa pada anak kecil sepertiku, aku jadi merasa agak ngeri dan
segera menghentikan lamunanku.
"Hahaha.
Tidak apa-apa. Namanya juga anak-anak, kan?"
Yah, meskipun aku
sendiri juga masih anak-anak di dunia ini.
"...Eh? Tuan
Muda?"
Hattie
mengerjapkan matanya, memandangku dan ayahnya bergantian dengan bingung.
"Eh? Jadi
anak ini adalah Tuan Muda yang aneh itu?"
"A-aneh?"
"He-hei! Hattie!"
Yah, dasar anak kecil. Wajar kalau dia bicara apa adanya. Tapi kata "aneh" itu membuatku
terusik. Aku tahu aku dibenci karena egois dan sombong, tapi aku tidak sadar
kalau dianggap "aneh".
Si ayah buru-buru
berusaha membungkam Hattie, tapi aku menahannya dengan tangan karena ingin
mendengar lebih lanjut.
"Anu,
Hattie. Kau dengar dari mana kalau aku ini Tuan Muda yang aneh?"
"Iya.
Katanya sejak pingsan karena sakit, kau jadi tidak melakukan apa pun selain
baca buku."
"Hmm?
Menurutku membaca buku itu tidak aneh kok..."
"Tapi
biasanya kau selalu marah-marah saat waktu belajar, makanya dibilang aneh kalau
sekarang jadi rajin."
"Y-yah...
benar juga sih..."
Oh, bagian itu
ternyata... Memang benar kepribadianku muncul secara tiba-tiba. Wajar
saja jika orang-orang menganggap perubahan itu sebagai "aneh"... tapi
tunggu sebentar.
Yang
melihatku mengurung diri di kamar dan membaca buku kan cuma Tilly?
Lalu,
tadi katanya Tilly punya adik perempuan yang seumuran denganku...
"Jangan-jangan,
Hattie ini adiknya Tilly?"
"Iya,
benar! Hattie adalah adiknya Kak Tilly!"
"Pantas
saja..."
Berarti
perawat kuda berwajah pucat di sampingku ini adalah ayah mereka berdua.
Masuk
akal juga. Jika ayahnya bekerja dan tinggal di istal, otomatis anak-anaknya
yang sudah cukup umur akan ikut dipekerjakan di kediaman ini sebagai pelayan...
Aku jadi
paham banyak hal sekarang. Intinya, Tilly menganggapku sebagai "anak
aneh".
"Hebat
ya, Hattie juga sudah bekerja."
"Tentu saja!
Hattie juga bekerja, sama seperti Kakak!"
Hmm, begitu ya.
Padahal di usia segini seharusnya sedang masa-masanya ingin bermain.
"Tuan Muda
tidak bekerja?"
Anak kecil memang
jujur tanpa batas. Pertanyaan Hattie membuatku merasakan realitas sistem kasta
di dunia ini, dan aku kesulitan menjawabnya. Sang ayah kembali panik mendengar
ucapan kurang ajar itu, tapi aku tertawa menenangkannya.
"Anu...
begini saja, panggil 'Tuan Muda'-nya berhenti dulu, ya?"
"Hmm, lalu
harus panggil apa?"
"Namaku Radcliffe."
"Namanya kepanjangan... Rad. Boleh panggil Rad
saja?"
"Boleh kok.
Salam kenal ya. Kita teman sekarang, oke?"
"Hmm? Tapi Rad kan anak yang aneh?"
"Hahaha...
kurasa aku tidak seaneh itu, sih."
"Yah,
terserahlah..."
Meski si ayah
terus memasang wajah pucat sepanjang waktu, bagiku, memiliki kenalan yang
seumuran adalah sebuah kemajuan besar dalam kehidupan di dunia lain ini.
Hari itu, aku
menghabiskan waktu membantu Hattie sambil belajar cara merawat kuda.
Orang tuaku tidak
bisa berkuda, tapi karena kami punya pasukan penjaga pribadi, ada beberapa kuda
kavaleri dan kuda penarik kereta di sini.
Dixy yang tadi
sepertinya memang digunakan sebagai kuda penarik kereta. Aku memutuskan untuk
memperhatikannya jika nanti ada kesempatan pergi menggunakan kereta kuda.
Meski begitu... Hattie ya? Aku benar-benar merasa pernah
mendengar nama itu di suatu tempat...
Keesokan harinya, aku langsung menggoda Tilly yang
membawakan sarapan ke kamarku. Sepertinya Tilly sudah mendengar cerita kemarin
dari rumahnya, karena sejak masuk ke kamar gerak-geriknya terasa sangat kaku.
Aku yang sudah duduk di atas tempat tidur sambil membaca
buku, melirik ke arah Tilly dan mulai bicara.
"Hei, Tilly?"
"A-ada apa..."
"Apa aku ini memang anak yang seaneh itu?"
Seketika, Tilly membeku.
"Ah... tidak... anu... itu..."
"Hahaha, aku bercanda kok. Aku justru senang karena sekarang punya teman
bermain yang seumuran."
"Anu, mohon
maafkan kami."
"Tidak
apa-apa. Hattie itu lucu sekali ya."
"Be-begitukah?"
Yah, aku mengerti
Tilly khawatir adiknya akan melakukan kesalahan fatal kepada putra majikannya
tanpa sengaja. Tapi aku meyakinkannya sambil tersenyum bahwa aku sama sekali
tidak keberatan.
Bagaimanapun,
selama ini hanya Tilly satu-satunya orang yang bisa kuajak bicara normal, tapi
mulai sekarang aku juga bisa mengobrol dengan Hattie.
Sejak hari itu,
tempatku menghabiskan waktu bukan lagi hanya di kamar, tapi juga di istal.
Setelah itu, aku
terus mencari tahu tentang dunia tempatku berada. Sepertinya bocah Radcliffe
sebelum ingatanku kembali hanyalah anak kecil yang cuma tahu bermain. Informasi
penting tentang negara ini atau tentang Prosper Company milik orang tuaku
hampir tidak ada dalam ingatannya.
Nama negara ini
adalah Kerajaan Arcadia. Aku juga tidak merasa familiar dengan nama Kerajaan
Arcadia. Nama yang sangat umum untuk sebuah karya fiksi fantasi.
Mengenai
buku-buku yang kubaca, kebanyakan hanyalah buku sejarah atau buku ilmiah yang
tidak memberikan banyak petunjuk berguna.
Setelah beberapa
bulan berlalu, aku mulai sedikit santai dan berpikir bahwa mungkin aku
bereinkarnasi ke dunia orisinal yang tidak kuketahui.



Post a Comment