Bonus E-book:
Cerita Pendek Tambahan
Persembahan yang
Mulia
Di bagian utara Ibu Kota Kekaisaran, di sebuah area di mana
rumah-rumah bangsawan dan toko-toko mewah berjejer rapi, terdapat sebuah toko
yang dikenal sebagai "Penjahit Tanpa Nama".
Dinding putih, bata biru yang modis—bangunan elegan yang
menyatu dengan pemandangan kota ini hanya memasang papan nama bergambar roda
pemintal dan bingkai sulam, seolah menunjukkan bahwa ini adalah toko pakaian.
Tanpa memajang nama toko, bahkan tanpa jendela etalase yang
sedang tren belakangan ini, suasana toko itu seakan menegaskan bahwa mereka
tidak menerima pelanggan baru sembarangan.
Tidak, secara praktis, toko ini ada hanya demi memuaskan
hobi satu orang saja.
Pagi buta, di dalam ruangan yang jam operasionalnya sengaja
dibuat lambat mengikuti gaya hidup para bangsawan yang bangun siang, seorang Long-lived
Species sedang bersiap-siap dengan tenang.
Dialah sang pemilik toko. Si rambut pirang yang sering
diseret ke sini salah paham dan mengira tempat ini adalah penjahit eksklusif
milik sponsornya, padahal pemilik aslinya berbeda.
Para penjahit lain yang dipekerjakan di sini semuanya adalah
ketua atau penanggung jawab ternama yang bekerja di toko-toko besar atau
ternama lainnya.
Mereka hanya datang jika diperlukan, dan hanya wanita inilah
yang selalu berjaga di toko ini.
Setelah memastikan furnitur dan perabotan yang cukup megah
untuk menyambut bangsawan sudah tertata rapi, serta pembersihan yang menyeluruh
tanpa setitik debu pun, sang pemilik toko duduk pelan di kursi kerjanya.
Berbagai jenis
jarum tertata rapi di bantalan jarum sesuai kegunaannya. Di tengah tumpukan
benang yang berwarna-warni cerah, sebuah pakaian yang sedang dikerjakan
tergeletak dalam lipatan.
Toko ini
didirikan sebagai hobi, dengan tujuan utama memenuhi keinginan pribadinya.
Namun, justru karena itulah namanya jadi tersohor.
Meski tak
memasang nama, toko ini dikenal karena menjadi langganan Von Leisenitz—sosok
yang dikenal sebagai penggila mode (meskipun dirinya sendiri sebenarnya tidak
butuh pakaian)—sehingga tak jarang orang-orang mengajukan permintaan hanya demi
menjadi bahan pembicaraan.
Hanya dengan
memakai barang yang sama dengan yang dikenakan tokoh ternama, itu sudah menjadi
"senjata" yang ampuh dalam pergaulan kelas atas.
Di antara
banyaknya pesanan, ada pekerjaan di luar hobi yang disetujui oleh sang sponsor,
Lord Leisenitz, dengan alasan, "Yah, kalau pesanan orang ini,
bolehlah." Pakaian yang tertinggal di atas meja itu adalah salah satunya.
Sambil
menghela napas, sang Long-lived Species menyentuh jarum dan merapalkan
formula sihir.
Seketika,
benang-benang menyelinap masuk ke lubang jarum dengan sendirinya, kain-kain
melayang, dan sebuah gaun pesta yang sudah memiliki draf pola dari sihir mulai
mengembang.
Secara
bersamaan, puluhan jarum menyerbu pakaian tersebut, menyatukan potongan kain
menjadi bentuk baju, dan menyelesaikan sulaman yang sangat rumit. Waktu yang
dibutuhkan hanya kurang dari setengah jam.
Padahal
dia baru saja menciptakan mahakarya yang tidak akan memalukan jika dipajang di
toko ternama mana pun, namun ekspresi sang pemilik toko tetap terlihat muram.
"Pekerjaan
yang membosankan..."
Pekerjaan bisa
dipilih, tapi pemakainya tidak. Gaun pesta yang begitu elegan dan bermartabat
yang pasti akan membuat siapa pun terpana ini terasa hambar saat dia
membayangkan pelanggan yang hanya punya status sosial tinggi tanpa jiwa yang
menarik akan memakainya.
Dia bahkan tidak
berniat menyulamnya dengan tangan menggunakan teknik yang telah dia asah.
Ah, dia
benar-benar butuh pekerjaan yang bisa membuat jantungnya berdebar.
"Selamat
pagiii~"
Seorang wanita
masuk dari pintu belakang khusus karyawan. Si gadis Gnoll dari suku
hiena adalah salah satu penjahit di sini.
Biasanya dia
bekerja di penjahit panggilan yang terkenal—toko yang digunakan oleh bangsawan
kelas atas yang lebih suka memanggil penjahit ke rumah daripada pergi membeli
sendiri.
"Wah, pagi-pagi sudah standby ya, Bos?"
"Aku
kan tinggal di lantai atas, jadi wajar saja, kan? ...Apa hari ini jadwalnya?"
"Ahaha~ Bos
pura-pura lupa lagi. Nggak lucu lho kalau Long-lived Species jadi
pelupa gitu~"
Meski bagi manusia wajahnya terlihat terlalu garang, namun
di antara sesama rasnya, penjahit ini punya wajah yang manis saat tertawa. Sang
pemilik toko hanya bisa menjawab dalam hati bahwa dia memang benar-benar lupa.
Long-lived Species adalah ras yang tidak bisa lupa,
tapi mereka bisa mengalami "lupa sementara". Tidak bisa mengingat
kembali dan tidak masuk ke dalam kesadaran itu adalah dua hal yang sangat
berbeda.
Apalagi, dia adalah seorang penghobi unik yang
mendedikasikan hidupnya pada pakaian meskipun dia seorang Long-lived Species.
Karena terlalu sering memikirkan keinginan dan desain yang belum terwujud,
jadwal-jadwal sering kali terlempar keluar dari pusat kesadarannya.
"Nggak sabar yaaa. Kira-kira hari ini Lord Leisenitz
bakal bawa 'bahan' seperti apa ya?"
"Iya ya. Aku
yakin itu akan jadi pekerjaan yang mendebarkan. Akhir-akhir ini aku sedang suka dengan anak
itu. Itu lho, yang dibawa bersama si rambut pirang..."
"Aaah,
anak murid pendengar itu ya! Aku juga suka dia! Terutama ekspresi wajahnya yang
Ennui (lesu/bosan) itu cocok banget!!"
"Waktu
dia pakai baju pelayan hasil garapan teman yang lagi luang, adegan
majikan-pelayan itu bener-bener yang terbaik!" Saat si gadis hiena mulai
tenggelam dalam kesenangannya, sang pemilik toko yang biasanya berwajah datar
mulai menyipitkan mata.
"Hah?
Anak itu justru paling pas waktu lagi main ceria sama si rambut pirang,
tahu?"
"Haaa?
Apa mata Bos sudah jadi
kelereng?! Apa Bos nggak paham betapa Precious-nya (berharga) sosok
bangsawan muda yang galau karena pernikahan yang tak diinginkan, dan pelayan
yang mengkhawatirkan masa depannya?!"
"Kamu
sendiri yang pandangannya sempit. Lord membawa anak itu karena terpesona
melihatnya belanja dengan gembira di pasar. Dua orang yang memperebutkan satu
gadis, tapi akhirnya menemukan sahabat sejati yang tak terpisahkan setelah
duel... apa kamu nggak paham betapa indahnya situasi itu?"
"Wah,
kita beda interpretasi ya! Aku akui senyum si rambut hitam itu bagus, tapi
'bayang-bayang' di wajahnya saat dia galau atau merenung itu jauh lebih
indah!"
"Itu
benar-benar beda interpretasi. Cahaya yang terpancar saat dia bercanda dengan
si rambut pirang itu benar-benar sangat berharga sampai tidak bisa diungkapkan
dengan kata-kata!"
"Wah,
sepertinya lagi ramai ya."
Karena
hari ini adalah hari di mana Lord Leisenitz akan datang, para penjahit lain pun
mulai bermunculan satu per satu, meninggalkan pekerjaan utama mereka—meski
sebagian besar menganggap pekerjaan di sini adalah "pekerjaan utama"
mereka, baik dari segi upah maupun semangat kerja.
"Kalau
akuuu, lebih suka waktu dia jadi anak perempuan... cinta bertepuk sebelah
tangan itu indah lho... Dia
memakai gaun pesta, lalu bertanya pada si pelayan bagaimana penampilannya. Si
pelayan menjawab dengan formal, padahal keinginan terdalam si gadis adalah agar
si pelayan hanya melihat dirinya saja. Karena itu tak mungkin terwujud,
setidaknya dia ingin jadi yang nomor satu di mata pelayannya..."
"Terlalu
klise! Kisah tragis adalah yang tertinggi! Peran pelayan lebih cocok
dipasangkan dengan pelayan wanita!"
"Eh,
bukannya itu malah yang klise? Aku lebih suka cinta sepihak dari sisi laki-laki. Majikan yang diserang,
pelayan yang tumbang demi melindunginya. Dan di saat-saat terakhir itulah,
perasaan yang sesungguhnya meluap...!"
"Inilah
repotnya kalau berhadapan dengan pecinta tragedi yang cuma lihat kulitnya saja.
Dunia butuh Happy
Ending. Ingat kan baju ksatria yang dipakaikan ke si rambut pirang? Kalau
digabung dengan situasi di mana dia sukses dan datang menjemput, itu
baru..."
"Dangkal
sekali! Kalian harus lihat esensinya! Si rambut hitam itu berharga karena dia Neutral
(androgini)! Melihat sifat aslinya, terombang-ambing antara persahabatan dan
cinta, lalu pergulatan batin di masa pubertas yang belum mengenal gairah
seksual itu tercampur aduk...!!"
Seiring
bertambahnya jumlah orang, perdebatan pun semakin memanas. Tidak heran, mereka
semua dipilih oleh Lord Leisenitz untuk bekerja di toko ini sebagai pengrajin.
Bahkan, kenyataan
bahwa Lord tidak menganggap mereka sekadar pelayan toko, melainkan rekan
seperjuangan yang diizinkan bicara blak-blakan tanpa formalitas, sudah
menjelaskan semuanya.
Itulah alasan
mengapa semua penjahit ini bekerja di sini. Bukan karena bayaran yang luar
biasa, bukan karena jam kerja yang fleksibel, dan bukan pula karena haus akan
pengakuan atas karya mereka di kalangan bangsawan.
Mereka ada di
sini karena mereka berbagi empati dengan Lord Leisenitz; mereka tahu kenikmatan
dalam menciptakan dan menghiasi sesuatu yang begitu berharga dengan tangan
mereka sendiri.
"Si rambut
pirang itu, kayaknya lebih cocok pasang muka sedih daripada si rambut hitam ya.
Aaah, aku ingin lihat dia 'hancur'. Bukan karena tragedi, tapi aku ingin lihat
dia kehilangan harapan dan memakai baju duka warna hitam. Pasti cocok banget."
"Setuju!
Majikan, pemakaman, satu tetes air mata!"
"Hmm, aku
bisa paham itu. Tapi, dia sendiri saja sudah terlihat menonjol. Bagaimana kalau
baju militer? Ksatria sebelum terjun ke medan perang yang meratapi peperangan
itu sendiri, bukannya itu lebih cocok?"
"Kalau
aku... aku ingin mendandaninya dengan baju perempuan. Dia memang mulai tumbuh
besar, tapi kalau pakai desain kerah tinggi dan bahu yang mengembang, harusnya
masih bisa. Lord bilang dia suka gaya baju perempuan yang masih kelihatan kalau
dia itu laki-laki, tapi aku lebih suka situasi di mana dia dipaksa berperilaku
sebagai wanita padahal dia laki-laki..."
"Aaaaah! Itu
Precious banget! Masuk akal! Aku paham!!"
"Hmm, kalau
begitu pakaiannya bagusnya apa ya... Pengantin? Bukan, janda saja..."
"Bukan,
bukan! Baju makan siang (Afternoon Dress) yang mewah! Sebuah keluarga bangsawan
ternama yang harus menikahkan anak perempuannya, tapi karena tidak punya anak
perempuan, terpaksa menyuruh anak laki-lakinya berperan sebagai wanita! Lalu,
saat dia pergi ke rumah calon suaminya, ternyata orang yang ditemuinya juga
punya nasib yang sama, berperan sebagai anak laki-laki padahal dia
perempuan!!"
"Kyaaaa!!
Keren banget!!"
"Eh,
bukannya lebih bagus kalau mereka berdua tetap sebagai laki-laki, menjalin
persahabatan, lalu mulai galau dan tersiksa dengan perasaan 'apa sebenarnya
emosi ini?!'"
"Keduanya!
Jadi perempuan!"
Jika
kedua orang yang dibicarakan itu mendengar ini, yang satu pasti sudah memegang
gagang pedangnya, dan yang satu lagi akan mencoba menghentikannya sambil
bimbang apakah benar-benar harus menghentikannya.
Di antara
favorit Lord, ada beberapa yang senang dihias dan dipuji, tapi kedua orang ini
termasuk yang memiliki akal sehat. Setidaknya, orang-orang di sini paham apa
arti ekspresi wajah yang mereka buat saat melihat diri mereka sendiri di depan
cermin besar.
Namun,
karena mereka tetap memprioritaskan kesenangan sang sponsor dan diri mereka
sendiri, mereka sadar betul bahwa "dosa" mereka memang sangat dalam.
"Aaah,
kombinasi mereka berdua memang bagus, tapi aku juga ingin mereka berinteraksi
dengan anak-anak lain... Lord belum mempertemukan mereka karena
mempertimbangkan banyak hal, tapi aku benar-benar ingin menyejajarkan mereka
semua...!!"
"Sepertinya
itu sulit. Aku pernah mengusulkannya, tapi Lord Leisenitz bilang kalau
sasarannya adalah anak-anak bangsawan, mereka berdua pasti akan merasa
terintimidasi."
"Sayang
sekali! Tapi, perintah atasan adalah prioritas utama!"
"Sayang ya~
kalau itu sudah keinginan Lord, apa boleh buat~"
Obrolan ramai
mereka tentang sosok yang mereka anggap suci itu tak kunjung berhenti—tapi di
saat yang sama, tangan mereka yang mempersiapkan pekerjaan juga tidak berhenti,
menunjukkan profesionalisme mereka.
Menyadari
berlalunya waktu dari posisi matahari, sang pemilik toko bertepuk tangan untuk
mengembalikan fokus mereka ke pekerjaan.
"Ngobrolnya
boleh saja, tapi Lord Leisenitz akan segera tiba. Siapkan semuanya dengan
sempurna. Bersiaplah agar kalian bisa menangani desain apa pun yang beliau
bawa, jangan permalukan profesi kalian. Keluarga ini tidak cukup baik untuk
membiarkan orang yang terlalu asyik sendiri sampai tidak bisa bekerja dengan
benar tetap berada di sini."
"""Baik,
Bos! Jawohl, meine Herrin!"""
Mengikuti
instruksi, para penjahit pun diam dan mulai bergerak efisien. Berbagai kain,
benang, dan peralatan menjahit ditata sedemikian rupa agar mereka siap
menyambut permintaan apa pun dari sang sponsor.
Kain beludru dan
satin yang tampaknya menjadi favorit disiapkan dalam banyak warna, tak lupa
kain sutra yang sangat penting untuk pakaian tradisional.
Karena terkadang
ada permintaan untuk pakaian rakyat jelata, bahan seperti linen dan katun yang
sebenarnya tidak layak ada di toko bangsawan pun disiapkan dengan saksama.
Lagipula, di dunia pergaulan kelas atas, kita tidak pernah tahu tren aneh apa
yang akan muncul.
Jika seorang
wanita bangsawan yang menarik perhatian muncul dengan gaun pesta dari bahan
alami dan sederhana, yang lain pasti akan meminta hal yang sama. Jadi, di sini
tidak ada satu pun penjahit amatir yang tidak terbiasa menangani bahan rakyat
jelata.
Jika perlu,
sampel warna untuk memesan bahan yang lebih tepat pun sudah siap. Persiapan
untuk menyambut imajinasi berharga yang akan dibawa sudah lengkap.
"Selamat
pagi! Hari ini saya bawa 'bahan' bagus lagi lho!! Desainer yang saya pekerjakan memang
benar-benar berbakat!!"
Meskipun
yang datang adalah seorang Revenant (mayat hidup) yang muncul tiba-tiba
tanpa pemberitahuan sebelumnya, para penjahit yang sudah merasakan kehadirannya
menyambutnya tanpa cela.
Mereka
membungkuk anggun dengan barisan yang rapi dan menyapa sang sponsor secara
serentak.
"Kehadiran
Anda adalah kehormatan besar bagi kami, Von Leisenitz."
"""Selamat
datang, Von Leisenitz."""
"Ya! Kalau
begitu, lupakan salam formal yang kaku, mari kita segera mulai
bersenang-senang!!"
Meskipun seorang Revenant,
Lord Leisenitz memancarkan vitalitas yang sangat hidup dan ceria.
Di belakangnya,
mengikuti seorang pemuda berambut pirang dengan raut wajah sangat lelah seolah
sudah bergadang berhari-hari, dan seorang pemuda berambut hitam yang
mengkhawatirkannya.
Beberapa penjahit
bersorak dalam hati, "Asyik, versi laki-laki!", sementara beberapa
lainnya tampak kecewa.
Hari ini pun,
pesta pora (Sabbath) yang diselenggarakan oleh sang Revenant dan
para pengikutnya dimulai dengan sangat meriah...
[Tips] Hampir semua pakaian orang-orang kelas atas adalah
pesanan khusus (custom-made), dan di Ibu Kota Kekaisaran, banyak penjahit yang
bersaing ketat untuk menyediakan pakaian yang pantas bagi mereka.
Interlude II | ToC | End V6



Post a Comment