NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Yuusha-kei ni Shosu: Choubatsu Yuusha 9004-tai Keimu Kiroku Volume 5 Chapter 1 - 2

Hukuman

Operasi Intervensi Pemilihan Suci Lugh Allos 1


──Sembilan hari tersisa menuju Festival Pembukaan Ruf Alos.   Patausche Kivia sedang melakukan sesuatu yang aneh. Dia mengayunkan sebatang pedang kayu yang dibungkus kulit.

Dengan tongkat yang bahkan tak layak disebut senjata itu, dia menghajar jatuh para tentara yang menerjangnya.

(Apa-apaan ini...?)

Dotta hanya bisa gemetar ketakutan melihat pemandangan liar itu. Di bawah langit siang bolong yang membeku, sang Hukuman Pahlawan menghajar tentara reguler di lapangan latihan militer.

Dotta mengira hanya orang-orang seperti Xylo atau Jace yang akan terpikir melakukan hal gila seperti itu. Meski sudah menduganya, sepertinya Patausche juga termasuk kaum kekerasan dari negara kekerasan.

Tentara yang dijatuhkan Patausche mengerang kesakitan dan tidak bisa bangkit untuk beberapa saat. Melihat serangan yang begitu keras, tidak heran jika tulang orang itu patah.

"Tidak buruk. Terutama reaksi pertahananmu yang sangat mengagumkan," ucap Patausche.

Dia menghela napas pendek sambil tetap bersiap dengan pedang kayunya. Patausche menatap rendah ke arah tentara itu.

"Tapi stamina masih jadi masalah. Kau sendiri pasti sadar ujung pedangmu mulai turun tadi."

"Kau butuh latihan otot untuk mempertahankan kuda-kuda," lanjutnya lagi. Setelah memberikan saran, dia menyeka keringat di dahinya.

Dotta yang melihat sosok itu bergumam dalam hati. (Menakutkan sekali.)

Bagaimana bisa dia bersikap tenang setelah memberikan serangan yang membuat orang lain mengerang kesakitan? Xylo dan Jace memang punya sisi seperti itu.

Namun, tentara yang dihajar tidak menunjukkan tatapan benci. Sebaliknya, mereka malah terlihat menerima saran itu dengan tulus.

Mungkin orang-orang di sini punya selera yang aneh. "Berikutnya!" teriak Patausche dengan lantang.

Begitu tentara yang tumbang diangkut keluar, tentara berikutnya maju membawa tongkat berlapis kulit. Setelah tongkat mereka beradu beberapa kali, Patausche menghujam perut lawannya dengan keras.

Hanya dengan satu serangan itu, tentara yang terlihat kekar langsung ambruk.

"Kecepatan reaksi dan kekuatan ototmu sudah cukup, tapi kau tidak memakai otak."

"Prediksi gerakan lawan dan tentukan langkah berikutnya. Tusukan ke perut tadi seharusnya bisa kau cegah—Berikutnya!"

Satu demi satu, para tentara maju menghadapi Patausche hanya untuk dipukuli hingga jatuh. Dotta bertanya-tanya apakah orang dengan selera aneh memang sebanyak itu.

Sepertinya ini yang mereka sebut memberi bimbingan. Namun bagi Dotta, sulit membayangkan seseorang bisa bertambah kuat hanya dengan dipukuli.

Lagi pula, Patausche Kivia adalah seorang Hukuman Pahlawan. Dotta tidak tahu apakah dia diperbolehkan berada di tempat seperti ini.

Semua orang tampak mendengarkan sarannya dengan patuh, dan itu benar-benar sebuah misteri. Dotta mengira dia akan lebih diremehkan atau dipandang dengan penuh kebencian.

──Namun, ada hal yang jauh lebih tak masuk akal dari itu.

(Kenapa penontonnya banyak sekali?)

Di sekitar lapangan latihan, banyak orang yang tidak memakai seragam militer berkeliaran. Itu berarti mereka sedang libur dan datang ke sini hanya untuk menonton sebagai hobi.

Contohnya adalah Tsav. Di sudut lapangan latihan, dia sedang membentangkan sesuatu yang mirip koran besar.

Tsav menuliskan sesuatu dengan wajah yang jarang-jarang terlihat serius. Meski begitu, tetap ada kesan berantakan yang khas darinya.

Dotta mencoba bertanya kepadanya. "Kak Patausche itu kuatnya bukan main, lho," jawab Tsav.

Bagi Dotta, itu adalah jawaban yang sulit dipahami. "Kalau duel satu lawan satu pakai senjata, Kak Jace pun mungkin bakal kesulitan."

"Kalau berantem liar, Kak Xylo mungkin bisa menang. Tapi kalau duel normal, rasanya mustahil!"

"Yah, setidaknya aku tidak mau melawannya! Ah, tentu ceritanya beda kalau soal pembunuhan diam-diam—"

"Tunggu, bukan itu maksudku," potong Dotta. Dia tidak berniat mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Tsav karena tidak akan ada ujungnya.

"Kenapa banyak orang yang menonton? Apa ini menyenangkan? Apa mereka menjadikannya referensi?"

"Bukan begitu—Ah, apa jangan-jangan Kak Dotta..." Tsav sepertinya menyadari sesuatu.

"Kakak sama sekali tidak tahu soal acara militer, ya? Aku sering menyelinap, jadi aku cukup tahu!"

"Yah... aku memang tidak tertarik sama sekali..." jawab Dotta. "Begitu rupanya! Berarti Kakak tidak tahu soal Festival Persembahan Pedang."

Tsav menjelaskan bahwa banyak bangsawan yang datang untuk menonton. "Ah," gumam Dotta.

Mendengar nama festival itu, Dotta langsung memahami banyak hal secara intuitif. Saling pukul dengan tongkat yang dilakukan Patausche tadi pastilah bagian dari festival besar tersebut.

Mereka menentukan pemenang berdasarkan siapa yang kalah dengan cara paling tragis. "Setiap unit yang bermarkas di ibu kota akan mengirim perwakilan untuk menentukan siapa yang terkuat."

"Ini acara besar yang ditonton keluarga kerajaan dan perdana menteri. Acaranya besok! Ini acara paling panas saat ini!"

"...Aku mengerti sekarang. Jadi kalian menjadikannya bahan taruhan, kan?"

"Tentu saja! Mana mungkin tidak taruhan! Ini pertarungan besar yang mempertaruhkan harga diri unit dan uang."

Tsav menjelaskan bahwa para bangsawan bertindak sebagai bandarnya, sehingga uang yang berputar sangat besar. Acara ini sudah hampir dianggap sebagai kegiatan resmi.

Pantas saja Tsav tadi sibuk membuka koran. Sepertinya itu adalah majalah informasi yang mencetak daftar perwakilan dari setiap unit.

Ada berbagai nama yang ditulis lengkap dengan ilustrasi wajah. Angka di sebelahnya pasti nilai taruhan jika orang tersebut menang.

"Karena Kak Patausche melatih orang-orang itu, kita bisa menjadikannya referensi," jelas Tsav.

Tsav memandang ke arah penonton dan orang-orang yang antre untuk berlatih dengan Patausche. Mereka semua dijatuhkan satu per satu secara berurutan.

"Dengan begitu, kita bisa tahu siapa yang seberapa kuat. Hehe!"

"Jangan panggil dia 'Kakak' lagi, nanti dia marah... Lagipula, kenapa tidak bertaruh untuk Patausche saja?"

"Sayangnya Kak Patausche tidak bisa ikut. Sepertinya orang yang pernah juara dilarang berpartisipasi."

"Jadi Patausche pernah jadi juara..." gumam Dotta. "Makanya semua orang datang menonton. Bertarung melawan Kakak mempermudah kita melihat kekuatan lawan."

Dotta bertanya-tanya mengapa Patausche bersikap sangat tulus memberikan saran. Padahal dia hanya sedang dimanfaatkan oleh mereka.

"Bukan, itu murni karena kepribadiannya," jawab Tsav sambil menuliskan analisisnya sendiri di koran.

"Padahal dia bisa saja melakukannya asal-asalan. Yah, orang itu memang menarik sekali."

"Yah, terkadang aku juga merasa dia sangat lucu," tambah Dotta. "Kan? Tapi ini membantu sekali. Prediksiku jadi makin mantap."

Dotta terkadang tidak tahan dengan selera buruk Tsav. Kalau dipikir-pikir, Xylo dan Jace pun punya kemiripan.

Mereka suka melihat orang saling pukul dan tendang. "Kali ini ada tiga calon juara lainnya. Menurut Kak Dotta, siapa yang bakal menang?"

"Kalau melihat informasi awal, aku merasa harus memilih Adelat Fusel dari Angkatan Darat Keempat Wilayah Utara."

"Komandan Ksatria Suci dilarang ikut, jadi prediksinya cukup sulit!" seru Tsav dengan semangat.

"Lalu bagaimana dengan Xylo atau Jace? Kalau mereka ikut, bukannya salah satu dari mereka pasti menang?"

"Sayangnya, Kak Xylo juga pernah jadi juara. Kak Jace juga sedang pulang kampung karena pengecualian khusus."

"Kalau Kak Neely ikut, dia pasti jadi calon juara terkuat! Hehehe," Tsav tampak sangat menikmati taruhan ini.

Judi, ya—pikir Dotta. Dia sendiri tidak terlalu kuat dalam hal seperti ini.

Dotta tidak cocok dengan cara Tsav yang meneliti informasi secara mendalam untuk meningkatkan peluang menang. Dia lebih baik mencoba keberuntungan dengan uang kecil saja.

"Berikutnya!" teriak Patausche lagi. Lawan baru maju dengan tongkat kayunya.

Pertarungan singkat kembali dimulai. Patausche merangsek maju setengah langkah, menghajar bahu dan dagu lawannya hingga orang itu mengerang kesakitan.

(Itu dunia yang tidak ada hubungannya denganku.) Dotta meyakinkan dirinya sendiri.

Dia merasa lebih cocok bersenang-senang di kota. "Omong-omong Tsav, besok malam kau luang? Mau pergi main bersama?"

"Eh! Maksudnya ke tempat yang ada gadis-gadisnya?" "Yah... semacam itu... setidaknya aku ingin pergi ke tempat yang ada orang ramah padaku, meski cuma bohong."

"Aku juga ingin makan daging panggang yang tebal..." lanjut Dotta. "Ikut! Aku berencana menang banyak dari taruhan besok! Aku bahkan bisa mentraktirmu!"

"Tapi prediksimu biasanya meleset jauh..." "Kali ini pasti tembus. Aku berencana mempertaruhkan semua uang militerku, jadi percayalah padaku!"

Dotta tahu itu adalah hal paling berbahaya. Jika kalah, Tsav akan jatuh miskin dalam sekejap.

Namun, dia tidak bisa menghentikan Tsav yang sudah sangat bersemangat. "Sekalian kita pergi ke pemandian air panas! Yang ada ruang uapnya! Wah, tidak sabar!"

Yah, tidak apalah, pikir Dotta. Ini liburan pertamanya di Ibu Kota Pertama setelah sekian lama.

Dia berniat menikmati kemewahan kota besar sepuasnya. Dotta berencana mencari modal untuk itu mulai hari ini.

(Perdamaian itu luar biasa. Ini yang terbaik.) Dotta mensyukuri masa gencatan senjata musim dingin ini.

──Namun, biasanya di saat seperti itulah bencana justru datang melanda.  

"Begitulah ceritanya, Dotta. Aku ingin meminta tolong padamu."

Malam itu, Venetim memanggil Dotta dan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.

"Aku ingin kau mewakili unit Hukuman Pahlawan kita untuk tampil di Festival Persembahan Pedang besok."

"Eh?" Dotta tidak bisa langsung menjawab.

Dia merenungkan kata-kata itu berkali-kali sambil memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.

"...Apa? Venetim, barusan kau memintaku melakukan apa?"

"Tampil di Festival Persembahan Pedang sebagai perwakilan kami," ulang Venetim. "Tidak mau," tolak Dotta sambil menggelengkan kepalanya dengan sangat keras.

"Tidak, tidak, tidak. Mustahil, kan? Kenapa harus aku? Apalagi acaranya besok!"

"Ada banyak orang lain yang jauh lebih ahli dalam hal seperti itu!" protes Dotta. "Masalahnya, sebenarnya tidak ada orang lain," jawab Venetim.

Venetim menjelaskan bahwa Patausche dan Xylo dilarang ikut, sedangkan Jace sedang pulang kampung.

"Sebenarnya aku ingin meminta mereka. Aku juga pusing memikirkannya sampai kepalaku sakit."

Venetim memijat pelipisnya seolah benar-benar merasa pening. Wajahnya pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya terlihat parah.

Sejak masa liburan dimulai, Venetim selalu terlihat sakit. Mungkin ada sesuatu yang sangat membebani pikirannya.

Namun bagi Dotta, Venetim adalah orang yang sulit dipercaya. Bisa saja dia hanya sekadar sakit biasa.

"Jadi menurutmu, apakah ada orang lain yang cocok untuk festival besar ini selain kau, Dotta?"

"Tentu saja ada! Contohnya, Tsav—"

"Dia pasti akan melukai lawannya dengan parah. Paling buruk, dia bisa membunuh mereka," potong Venetim.

Jika itu terjadi, liburan mereka akan dibatalkan dan mereka semua akan dijebloskan ke penjara. Dotta bergidik membayangkan sisa liburannya di dalam sel.

"Kalau begitu, Tatsuya..."

"Lebih mustahil lagi. Tatsuya paling buruk dalam hal menahan diri."

Venetim bercerita bahwa dulu saat diminta menahan diri, Tatsuya malah menghancurkan kedua tangan dan kaki lawannya.

"...Begitu, ya," gumam Dotta pasrah.

Dotta sengaja tidak menyebut nama Rhino. Pria itu adalah sosok yang tidak terduga dan terkadang tampak tidak memiliki akal sehat.

Sedangkan Norgalle sudah jelas tidak mungkin terpilih.

"Artinya, Dotta. Hanya kau yang bisa kami andalkan."

"Tapi aku benci perkelahian dan—"

"Berisik sekali kau ini," sela sebuah suara berat yang tiba-tiba.

"Jangan banyak bicara dan lakukan saja. Memang cuma kau yang tersisa," ucap Xylo.

Xylo sudah berdiri di samping Venetim dengan wajah tidak senang sejak tadi. Meski sebenarnya itu adalah ekspresi wajahnya yang biasa.

"Kami juga sempat bingung. Kami ingin setidaknya punya peluang untuk menang," tambah Xylo. "Kalau begitu, lebih baik jangan pilih aku..." Dotta berusaha mengumpulkan keberanian.

Dotta ditatap dengan tajam oleh Xylo, namun dia tetap mencoba bertahan. Ini adalah saat penentuan baginya.

"Xylo, kenapa kau tidak pakai topeng saja? Beraktinglah jadi pembunuh misterius atau semacamnya."

"Akan kuhajar kau. Ini bukan main-main," ancam Xylo.

Xylo juga menegur Venetim yang sempat terlihat setuju dengan ide konyol Dotta tersebut. Orang mencurigakan seperti itu tidak mungkin diizinkan berpartisipasi.

"Tentu saja. Aku juga berpikir begitu. Kita sedang tidak bercanda, Dotta," Venetim langsung mengubah ekspresinya.

Dotta selalu terpana melihat betapa cepatnya Venetim mengganti sikapnya.

"Pokoknya, ini perintah komandan dari Venetim. Dotta, kau yang maju."

"Meskipun disebut komandan, dia kan cuma Venetim! Aku tidak mau!"

"Secara formal, dia tetap punya wewenang memerintah kita! Patuhi dia!" bentak Xylo.

"Aku tidak peduli! Aku tidak mau melakukannya! Aku baru ingat ada urusan, jadi aku pergi dulu—"

"──Jangan harap bisa lari."

Saat Dotta berbalik untuk melarikan diri, tengkuknya tertangkap. Lengan kanan yang menangkapnya itu bergerak sangat cepat dan terasa sangat panjang.

Lengan itu terbalut perban.

"Jangan lari, Rubah Gantung. Festival Persembahan Pedang sepertinya menarik."

Itu adalah Trishill. Wanita itu sudah berada di belakang Dotta sejak tadi.

Trishill menatap rendah ke arah Dotta seolah sedang melihat musuh bebuyutannya.

"Ini kesempatan bagus untuk memberimu pelatihan teknik pertarungan jarak dekat. Terima saja."

"Eh...? Apa kau tidak dengar? Aku terus bilang tidak mau..." rengek Dotta. "Aku tidak bertanya pendapatmu. Terima saja. ──Atau kau lebih memilih..."

Trishill melilitkan tangan kanannya yang dibalut perban ke leher Dotta. "...mengalami luka parah di sini dan menghabiskan sisa liburanmu di ruang perawatan?"

"Tunggu! Tunggu, tunggu, tunggu!" teriak Dotta saat Trishill mulai mengeratkan cengkeramannya.

"Memangnya ada gunanya aku ikut? Aku tidak mungkin menang!"

"Kami akan melakukan sesuatu soal itu. Kau harus menang," ucap Xylo dengan serius.

Wajah Xylo menunjukkan bahwa dia tidak sedang bercanda atau sekadar ingin menjahili Dotta. Hal itu justru membuat Dotta semakin cemas.

"Kenapa kalian begitu terobsesi untuk menang...? Apa akan terjadi sesuatu yang mengerikan jika kalah?"

"Ada banyak alasan. Tapi menjelaskan itu padamu hanya akan membuatmu bingung dan tidak ada gunanya."

Venetim menawarkan diri untuk memberikan alasan palsu yang dramatis soal misi rahasia menghancurkan konspirasi jahat. "Tidak usah, malah makin tidak berguna," potong Xylo.

Dotta merasa mual yang semakin menjadi-jadi. Mungkin itu bukan hanya karena lehernya sedang dicekik oleh Trishill.

"Ngomong-ngomong... di festival itu, apa ada yang sampai terluka parah? Apa tidak bisa selesai kalau aku menyerah saja?"

"Unit Hukuman Pahlawan sangat dibenci dan dipandang rendah. Patausche dan Jace hanyalah kasus pengecualian."

Venetim memberitahu prediksi yang sudah bisa ditebak oleh Dotta sendiri.

"Meskipun kau menyerah, lawanmu mungkin akan pura-pura tidak dengar dan tetap mematahkan satu atau dua tulangmu."

"Dengar itu? Bagus untukmu, Rubah Gantung," Trishill menyeringai dengan licik.

Trishill menyatakan bahwa Dotta perlu berlatih agar tidak berakhir di ruang perawatan. Dia menawarkan diri untuk menjadi lawan tanding Dotta hingga besok siang.

"Tentu saja aku juga akan membantu. Aku akan kesulitan kalau kau tidak menang," tambah Xylo.

Dua orang itu menunjukkan niat baik yang tidak diinginkan oleh Dotta. Menjelang festival tahun baru yang meriah di Ruf Alos, Dotta merasa liburannya tenggelam dalam kegelapan.  

Suara derit lantai kayu terdengar. Trishill merangsek maju dengan gerakan yang sangat halus.

Dotta bisa melihat dengan jelas pedang kayu yang dipegang di tangan kiri wanita itu. Trishill akan menghantam dari atas──bukan, itu salah. Dia hanya berpura-pura dan berniat menyerang bagian lain.

Dotta bisa mengetahuinya dari tumpuan kaki lawannya. Ada perubahan berat badan yang besar.

Lalu, ke mana dia akan mengincar?

(Aku sama sekali tidak tahu.)

Begitu pedang kayu mendekat ke kepalanya, Dotta secara refleks menutup mata. Sesaat kemudian, benturan keras menghantam perutnya.

Rasa sakit yang hebat menjalar meskipun dia sudah memakai pelindung perut dari kulit yang tebal. (Sakit sekali! Bohong kalau dibilang ini alat pelindung!)

Dotta meringkuk menahan sakit. Trishill kemudian menodongkan pedang kayunya ke leher Dotta.

"Kenapa kau malah menutup mata?" tanya Trishill dengan wajah heran. Trishill menatap rendah ke arah Dotta. Dia memang wanita yang sangat tinggi.

Mungkin dia sedikit lebih pendek dari Patausche Kivia, tapi tubuhnya yang ramping membuatnya terlihat jenjang. Jika Patausche diibaratkan serigala raksasa, maka Trishill adalah hewan karnivora dari keluarga kucing.

"Kau sudah menangkap gerakanku, tapi menutup mata akan membuat semuanya sia-sia."

"...Meskipun kau bilang begitu," Dotta berusaha menjawab dengan suara parau.

Bukan hanya perutnya, seluruh bagian tubuhnya sudah dipukuli berkali-kali dan dia merasa sangat lelah. Sulit dipercaya bahwa Xylo dan yang lainnya bisa melompat-lompat sambil memakai perlengkapan pelindung yang menyesakkan ini.

Selain itu, pedang kayu itu terasa jauh lebih berat dari dugaannya.

(Aku memang tidak cocok untuk ini.)

Dotta benar-benar merasakannya dari lubuk hati.

Dotta akhirnya berbaring telentang di lantai lapangan latihan militer yang sudah tua dan hampir roboh itu. Karena sinar matahari hampir tidak masuk, ruangan itu terasa suram.

Menjelang festival besar, hanya fasilitas terlarang bagi tentara reguler seperti inilah yang bisa digunakan oleh unit Hukuman Pahlawan.

"Kalau ada tongkat kayu yang mendekat untuk memukulmu, normalnya orang pasti akan menutup mata..."

"Kau ini bodoh, ya? Kau tidak akan bisa menghindar kalau menutup mata," tegur Trishill. "Kalau kau tidak mau merasa sakit, tetaplah buka matamu sampai akhir," lanjutnya lagi.

Dotta menganggap perintah Trishill itu sangat tidak masuk akal. Untuk terbiasa dengan hal seperti itu, dibutuhkan latihan dan kesiapan mental yang kuat.

Rasanya mustahil bagi orang yang sama sekali tidak punya semangat tempur sepertinya untuk mencapainya dalam semalam. Namun, Dotta memilih diam karena tahu dia akan dimarahi jika membantah.

"Apa yang sedang kau lakukan?" teriak Xylo dari pinggir lapangan.

 Xylo mengatakan bahwa Trishill sudah melakukan gerakannya dengan sangat lambat untuk mengajari Dotta dari tingkat pemula.

"Jujur saja, ini membuatku stres," Trishill menoleh ke arah Xylo.

Dia mengaku baru pertama kali mengendalikan kekuatannya selembut ini saat bertarung.

Menurutnya, Dotta punya penglihatan yang bagus, tapi tidak bisa memanfaatkannya sama sekali.

"Benar. Secara kemampuan fisik, Dotta bukannya tidak berbakat, tapi..." sahut Xylo.

Trishill mempertimbangkan untuk meningkatkan kecepatan serangannya. Xylo setuju, berharap refleks Dotta akan muncul dalam kondisi terdesak.

"Tunggu, jangan! Jangan lakukan itu!" terlak Dotta panik. Dia hanya bisa membayangkan masa depan di mana dia mengalami luka parah.

Latihan dari Trishill terasa terlalu berat bagi Dotta. Wanita itu menyerang tanpa ampun dengan pedang kayunya.

Meskipun Trishill berjanji tidak akan menggunakan tangan kanan dan hanya memakai tangan kiri, Dotta tetap bukan tandingannya. Dia bahkan tidak punya celah untuk membalas serangan.

Namun, mungkin ini masih lebih baik daripada dilatih oleh Xylo yang pasti tidak akan ragu mematahkan tulangnya.

Xylo berpendapat bahwa prajurit yang mati di medan perang karena kurang latihan hanya akan melibatkan orang di sekitarnya.

Lebih baik dibuat tidak berdaya saat latihan daripada mati konyol nanti. Dotta gemetar ketakutan mendengar prinsip liar tersebut.

"Dengar, aku sudah mengatakannya berkali-kali. Kuncinya cuma satu," ucap Xylo mengulangi saran yang sudah tak terhitung jumlahnya.

"Kau tidak perlu saling dorong. Cukup hindari serangan sekali, lalu hantamkan tongkat itu ke tubuh lawan. Mudah, kan?"

Dotta merasa itu adalah perintah yang mustahil. Jika semudah itu, dia tidak akan menderita seperti ini.

Xylo memainkan pisaunya sambil duduk bersila di lantai.

"Kau punya bakat. Contohnya..."

Sambil bicara, Xylo melemparkan pisaunya dengan gerakan pergelangan tangan yang sangat cepat. Pisau itu menyerempet pipi Dotta yang buru-buru merunduk, lalu tertancap di dinding belakang.

"Uwah! Apa yang kau lakukan!" teriak Dotta kaget. "Kau baru saja menghindar, kan? Berarti kau melihatnya. Orang biasa tidak akan bisa melakukannya."

Dotta mencoba membela diri. Dia merasa lebih cocok dengan gaya bertarung di mana dia bisa menyerang lawan yang tidak berdaya secara sepihak.

Dia mengaku sangat payah dalam hal melindungi diri dari serangan.

"Apa kau bodoh?" tanya Xylo datar.

"Apa yang sebenarnya kau bicarakan?"

Trishill ikut menimpali dengan ekspresi wajah yang berubah seram.

Dotta menyesal telah mengatakannya. Trishill menjambak kerah baju Dotta dengan tangan kanannya yang panjang.

"Dengan pemikiran begitu, tujuan untuk membuatmu jadi kuat tidak akan pernah tercapai!"

"Kenapa kau begitu ingin membuatku kuat, Trishill...?" tanya Dotta penasaran. "Karena aku akan kesulitan jika kau tidak menjadi pahlawan," jawab Trishill tegas.

Trishill menjelaskan tiga alasannya: dia dibayar untuk itu, demi harga dirinya, dan karena dia merasa punya utang budi pada Dotta.

Dotta melihat Xylo sedikit menyipitkan mata saat mendengar kata 'dibayar', tapi Dotta terlalu sibuk untuk memikirkannya.

Dotta memutuskan untuk mengabaikan soal harga diri Trishill karena itu urusan pribadi.

"Kapan aku pernah menghutangimu budi...?" tanya Dotta bingung.

"Kalau tidak ingat, ya sudah," Trishill mendengus kesal sambil menyisir rambut merah kusamnya ke atas. "Pokoknya aku akan kesulitan kalau kau tidak melakukannya!" tegasnya lagi.

Trishill menodongkan pedang kayunya tepat di depan mata Dotta.

"Waktu istirahat habis. Ayo mulai lagi. Ambil pedang kayumu."

"Eh...? Sudah?" keluh Dotta. "Cepat berdiri, atau aku akan memukulmu dalam posisi itu. Setidaknya buatlah aku sampai harus menggunakan tangan kanan."

Trishill menantang dengan senyum provokatif, namun Dotta merasa itu mustahil baginya. Xylo tertawa melihat mereka berdua.

Dotta merasa putus asa mendengarkan percakapan Xylo dan Trishill yang tidak dia pahami. Jika terus begini, dia bisa terbunuh. Dia harus memikirkan rencana lain.  

"...Begitulah ceritanya, jadi aku ingin minta saranmu."

Sebenarnya Dotta malas mendatangi kamar Rhino, tapi dia tidak punya pilihan lain.

"Menurutmu apa yang harus kulakukan?" tanya Dotta. Dia juga sudah mencoba berkonsultasi dengan Tsav sebelumnya.

Namun, Tsav malah tertawa terbahak-bahak sampai hampir tersedak tanpa memberikan solusi apa pun. Tsav kemudian pergi untuk bermain di kota meskipun ada larangan keluar malam.

Dotta tidak bisa meminta saran kepada anggota unit lainnya. Patausche, Venetim, maupun Norgalle tidak akan membantunya dalam hal seperti ini.

Dotta merasa ngeri melihat Tatsuya yang terus berjalan menabrak tembok di sudut ruangan, tapi Rhino bilang itu hal biasa.

"Memang, kawan Dotta sedang menghadapi masalah yang sulit," ucap Rhino ramah.

Rhino mengambil koran tentang Festival Persembahan Pedang yang mirip dengan milik Tsav tadi. Sepertinya dia sudah mengumpulkan informasi sejak mereka mengobrol sore tadi.

Dotta selalu merasa ketangkasan Rhino dalam mencari informasi ini terasa sedikit menyeramkan.

"Ada empat calon juara. Yang paling unggul adalah Adelat Fusel dari Angkatan Darat Keempat Wilayah Utara."

"Dia pria pendiam yang benci omong kosong, ahli teknik pedang beruntun dari selatan yang bagaikan badai," jelas Rhino.

Melihat ilustrasi pria berambut panjang dengan tatapan tajam di koran itu, Dotta merasa tidak punya peluang untuk menang.

"Kelihatannya dia kuat sekali..." gumam Dotta lemas.

"Benar. Tahun lalu dia menjadi juara kedua. Dia musuh yang sangat tangguh," ucap Rhino dengan nada senang yang tidak bisa dipahami Dotta.

"Lalu ada Heine Buka Tanze dari Ksatria Suci Kesepuluh. Dia wanita yang ramah dan suka bicara, tapi ahli pedang timur yang fokus pada satu serangan mematikan."

Rhino menunjukkan profil peserta lainnya. Wanita itu memiliki julukan 'Pembelah Tebing'.

Rhino menjelaskan bahwa meskipun wanita biasanya kalah dalam kekuatan otot, Heine mungkin menggunakan Holy Seal sebagai bantuan. Dotta merasa semua calon juara ini adalah orang-orang yang sangat mengerikan.

"Lalu ada Yubate Ludmischen, ahli pedang utara yang punya teknik pertahanan tinggi dan tusukan presisi," lanjut Rhino. "Lalu siapa yang keempat?" tanya Dotta penasaran.

"Itu kau, kawan Dotta," jawab Rhino singkat. Dotta terkejut dan langsung melihat ke arah koran yang dipegang Rhino.

Di sana tertulis profil Dotta dengan ilustrasi wajah yang terlihat sangat ganas. Dia disebut sebagai kartu as Hukuman Pahlawan, sang 'Rubah Gantung' yang telah membantai banyak fenomena raja iblis.

Bahkan tertulis bahwa Dotta sesumbar akan membantai para tentara reguler.

"Apa-apaan ini! Ini keterlaluan!" teriak Dotta tak percaya.

"Bagus, kan? Kalimat promosinya sangat menarik," sahut Rhino Santai.

"Sama sekali tidak menarik! Siapa yang menulis hal memalukan seperti ini!" seru Dotta kesal.

Rhino kemudian menunjukkan jadwal pertandingan putaran pertama. Lawan Dotta adalah Yubate Ludmischen, calon juara ketiga yang baru saja disebutkan.

"Berarti tidak mungkin menang dengan keberuntungan semata," ucap Rhino telak.

"Habislah aku!" teriak Dotta frustrasi.

Dotta bertanya-tanya apakah lawannya akan menahan diri jika dia mengaku bahwa dirinya sebenarnya sangat lemah.

Rhino meragukan hal itu karena nama buruk Dotta sudah tersebar luas akibat berita di koran tersebut.

"Memangnya apa yang sudah kulakukan..." keluh Dotta.

"Mungkin soal pencurian? Orang biasanya merasa sangat tidak senang jika harta pribadinya dicuri," sahut Rhino jujur.

Dotta tidak bisa membantah. Dia merasa sangat tidak nyaman dengan situasi ini.

Rhino mengatakan bahwa Yubate mungkin akan mematahkan tulang Dotta karena Hukuman Pahlawan bisa bangkit kembali meskipun mati. Dotta semakin panik dan berpikir untuk mengundurkan diri.

Rhino mengaku ingin menggantikan Dotta, tapi Xylo melarangnya. Satu-satunya cara bagi Dotta adalah menyerah segera setelah pertandingan dimulai. Namun, dia takut lawannya tetap akan memukulnya sebelum wasit sempat menghentikan pertandingan.

"Karena itu, jika bertarung secara normal, kau tidak punya peluang menang."

Rhino melipat korannya sambil tersenyum tenang.

"Singkatnya, kita hanya perlu membuat lawan jadi lebih lemah dari dirimu."

"Maksudmu...?" tanya Dotta bingung.

"Ayo kita lakukan serangan mendadak di malam hari kepada mereka satu per satu," usul Rhino dengan nada Santai.  

"──Jadi, bagaimana?" tanya Patausche begitu aku kembali ke kamar. Patausche yang membawa Teoritta bisa bergerak cukup bebas dan diizinkan mengunjungi barak kami dengan dalih pelatihan teknis.

Teoritta duduk di sampingnya, sementara Venetim duduk di tempat tidur dengan tatapan kosong. Kami berempat adalah orang-orang yang terlibat dalam rencana licik Adif ini.

Jace sedang pulang kampung, sedangkan Norgalle pasti akan marah besar jika mendengar rencana semacam ini. Rhino sendiri punya aura yang membuatku enggan melibatkannya.

Saat ini Tsav sedang menjalankan tugas lain yang kuberikan padanya.

"Trishill adalah orang yang sangat ahli," ucap Patausche menilai wanita tentara bayaran itu.

Patausche yakin jika aku dan Trishill melatihnya bersama, Dotta pasti akan menunjukkan hasil. Menurutnya, Dotta punya bakat untuk bertarung dengan teknik menghindar dan serangan balik.

Teoritta tampak terkejut mendengar Dotta punya bakat bertarung. Dia merasa ragu untuk membiarkan Dotta menggunakan pedang yang dia panggil.

"Itu murni soal bakat fisik, Nyonya Teoritta," jelas Patausche dengan sopan.

Patausche menjelaskan bahwa Dotta memiliki penglihatan dinamis, refleks, dan kecepatan yang luar biasa di atas rata-rata orang biasa. Jika menguasai dasar teknik pedang, Dotta bisa menjadi sangat kuat.

"Meskipun bakat itu sia-sia karena dia tidak punya semangat bertarung," tambahku memberikan pendapat pribadi.

Dotta kesulitan bersaing dengan orang lain karena merasa tidak butuh untuk menjadi lebih unggul.

Dotta tidak punya konsep bertarung demi bertahan hidup karena dia bisa mendapatkan apa pun dengan mencuri.

Dia tidak terlibat dalam sistem ekonomi karena tidak merasa perlu membayar.

Kejeniusannya yang tidak normal dalam mencuri justru menjadi akar masalah mengapa dia tidak memiliki semangat juang.

"Dotta tidak punya keinginan untuk menjadi kuat, dan mungkin dia memang tidak paham soal itu," jelasku lagi.

Patausche menganggap ini masalah besar yang butuh pengobatan keras dalam semalam. Namun, aku melarangnya karena itu hanya akan membuat Dotta mati sia-sia.

Prajurit biasanya berubah setelah melewati pengalaman hampir mati di medan perang, tapi Dotta kemungkinan besar benar-benar akan mati jika dipaksa seperti itu.

"Jadi apa rencanamu?" tanya Patausche dengan wajah serius.

Kegagalan memenangkan Festival Persembahan Pedang akan merusak rencana pengumpulan dana dan partisipasi dalam pasukan pengawal pemilihan suci.

"Haruskah kita berdoa agar Dotta mendapat pencerahan saat hari H?" tanyaku retoris.

"Kau sendiri apa yakin bisa berharap pada hal itu?" tanya Patausche balik. "Tentu saja tidak. Sial. Apa memang dari awal ini mustahil...?" keluhku sambil menoleh ke arah Venetim.

Aku bertanya pada Venetim soal informasi calon lawan di kuil yang dia selidiki.

"Ya, aku sudah mendapatkan informasinya," jawab Venetim Santai.

Venetim mengaku mendapatkan informasi dari bursa taruhan di serikat petualang dengan berpura-pura sedang melakukan liputan menggunakan koneksi lamanya.

"Jadi pemilihan Pemimpin Uskup Agung Agung juga jadi bahan taruhan?" tanyaku tak percaya.

Venetim mengatakan taruhan pemilihan itu bahkan lebih ramai daripada Festival Persembahan Pedang. Saat ini ada tiga kandidat utama: Uskup Agung Carne yang konservatif, Uskup Agung Dafery yang progresif, dan Uskup Agung Milose yang netral.

Adif sangat mewaspadai faksi Simbiotik yang ingin menguasai kuil. Patausche yakin pelakunya adalah Uskup Agung Milose yang bersedia bekerja sama dengan siapa pun demi suara. Patausche juga ingat bahwa Milose dulu dekat dengan pamannya.

"Dan sekarang Uskup Agung Milose menjadi kandidat yang paling diunggulkan," lanjut Venetim. Taruhannya sangat rendah karena dia memiliki dana kampanye yang melimpah.

Venetim mengungkapkan bahwa Perusahaan Pengembangan Varkle secara terang-terangan memberikan dukungan dana kepada Milose. Aku sempat ragu, tapi Varkle memang organisasi profit yang akan melakukan apa saja demi keuntungan.

Perusahaan Varkle awalnya didirikan untuk mendukung perang melawan fenomena raja iblis dan pengembangan senjata Holy Seal. Bekerja sama dengan faksi Simbiotik melalui Milose akan memberikan mereka keuntungan istimewa di masa depan.

"Kepalaku makin sakit. Semuanya kabar buruk. Apa Nicold Ibton benar-benar tidak berniat mencalonkan diri?" tanyaku frustrasi.

Venetim mengonfirmasi bahwa Ibton sama sekali tidak tertarik pada kekuasaan dan tidak masuk dalam daftar pilihan.

"Lalu, ada satu lagi..." ucap Venetim ragu-ragu. "Apalagi? Katakan saja cepat!" desakku.

"Jangan marah, ya... Aku baru saja melihat Dotta memanjat dinding barak bersama Rhino," lapor Venetim sambil menunjuk ke luar jendela. Sepertinya keikutsertaan Rhino membuat aksi menyelinap Dotta jadi mudah ketahuan.

"Aku punya firasat yang sangat buruk soal kombinasi mereka berdua," gumamku sambil menahan amarah.

Aku meminta Venetim memikirkan rencana untuk memenangkan Ibton sambil mengumpulkan uang.

Aku menyuruh Patausche membawa Teoritta kembali ke barak untuk istirahat. Aku sendiri akan pergi mengejar Dotta dan Rhino.

"Kau istirahatlah, Patausche. Hanya kau yang bisa kuandalkan di situasi seperti ini. Jangan sampai kelelahan," pesanku sambil menepuk bahunya.

Patausche tampak tersipu dan berdehem canggung saat kupuji. Aku segera mengambil sebilah pisau dan bersiap pergi. Saat itu, aku berpikir bisa menghentikan Dotta dengan mudah.  

Dotta menyelinap keluar ke gang-gang kota di tengah malam yang bersalju. Lampu Holy Seal di pinggir jalan menyinari salju yang turun dengan cahaya putih kebiruan.

Baginya, menyelinap keluar barak adalah hal mudah dengan peralatan sederhana yang dia miliki. Namun, kali ini dia merasa sedikit terbebani karena harus membawa rekan yang berbadan besar.

"Sepertinya aman, tidak ada orang," ucap Rhino yang bergerak dengan lincah di belakang Dotta.

Rhino menutupi wajahnya dengan syal cokelat kemerahan dan memakai kacamata pelindung seperti milik Jace. Dotta juga memakai penyamaran serupa.

"Apa kau yakin Trishill sudah tidur?" tanya Rhino.

"Pasti... aku memberinya banyak minum tadi," jawab Dotta mengingat wiski mahal yang dia korbankan untuk membuat Trishill mabuk.

Rhino memuji kehebatan Trishill yang memiliki Stigma berupa penglihatan jarak jauh yang sangat tajam.

"Ayo konfirmasi rencananya," ucap Dotta. Mereka berniat menyelinap ke kediaman Yubate Ludmischen untuk membuatnya tidak bisa bertanding besok.

Dotta menarik syal hijaunya hingga menutupi hidung. Dia merasa harus segera membereskan beberapa lawan kuat malam ini karena waktu sudah sangat mepet.

"Ingat Rhino, jangan sampai membunuhnya. Mengerti?" pesan Dotta.

Rhino setuju karena pembunuhan hanya akan membuat masalah besar dan pihak militer tinggal mencari perwakilan pengganti.

Menurut Rhino, memberikan luka fisik yang jelas juga tidak efektif karena bisa langsung digantikan orang lain. Dia menyerahkan rencana teknisnya pada Dotta.

"Makanya aku akan pakai racun," Dotta mengeluarkan beberapa botol kecil dari sakunya.

Dia berencana menggunakan obat pencahar kuat atau obat yang membuat tubuh terasa lemas dan mual di pagi hari.

Rhino bertepuk tangan kecil memuji kecerdikan Dotta yang menggunakan racun non-lethality.

Dotta sebenarnya tidak percaya diri jika harus melakukan kontak fisik karena pendekar pedang biasanya sangat peka meskipun sedang tidur.

Dotta teringat pernah mencoba menendang Xylo yang sedang tidur, tapi malah kakinya ditangkap dan dia dihajar habis-habisan. Rhino bilang itu karena Xylo memang tidak normal.

Tiba-tiba mereka berdua terdiam karena mendengar suara keributan dari arah pemukiman mewah di depan mereka.

"Ada pertempuran di depan sana," ucap Rhino yakin. Di dekat kereta kuda yang terguling, terlihat enam orang sedang mengepung satu orang. Beberapa orang sudah tergeletak tak bernyawa di tanah.

Dotta tersentak kaget melihat pemandangan berdarah itu. Rhino menyadari bahwa target mereka, Yubate Ludmischen, sedang dikepung oleh para pembunuh.

"Sepertinya ada yang mendahului kita melakukan serangan mendadak," gumam Rhino Santai.

Yubate terlihat kewalahan meskipun berhasil menangkis serangan dengan satu pedangnya. Dia sudah menderita beberapa luka di tubuhnya.

"Baguslah, kita tinggal menonton saja, kan?" tanya Dotta penuh harap.

"Sayangnya tidak sesederhana itu. Sepertinya mereka benar-benar ingin membunuh Yubate," sahut Rhino. "Itu gawat!" seru Dotta spontan.

Jika Yubate mati, akan ada perwakilan baru yang terpilih dan Dotta tidak punya waktu untuk menyelidikinya lagi. Dia memutuskan untuk menolong Yubate.

Dotta tidak tahu mengapa Yubate ada di luar rumah selarut ini atau siapa yang menyerangnya, tapi dia harus segera bertindak.

Rhino tersenyum lebar menyetujui keputusan Dotta. Dotta merasa kesal melihat ketenangan Rhino, sementara dia sendiri merasa sangat tegang.

"Rhino, kau serang dari depan! Aku akan menyerang dari atas!" perintah Dotta.

Dotta memanjat dinding dengan bantuan alat pengait di sepatu dan Holy Seal penghisap di sarung tangannya.

Dia bisa berlari di dinding dengan sangat cepat. Rhino menerjang ke tengah kepungan musuh dengan sebuah tongkat besi, menghantam kepala salah satu penyerang hingga tumbang.

"Siapa kalian?" teriak salah satu penyerang bertopeng.

Dotta melompat turun dari atas dan mendarat tepat di belakang seorang penyerang berbadan besar. Dia melilitkan lengannya ke leher orang itu dan menggoroknya dengan pisau.

Darah menyembur membasahi salju. Dotta menusuk dada orang itu sekali lagi untuk memastikan kematiannya meskipun dia sangat benci sensasi menusuk daging manusia.

"Kalian adalah—"




Yubeit Ludmischen juga sama bingungnya dengan para penyerang yang baru saja kehilangan dua personel mereka secara tiba-tiba.

Meski begitu, ia membuktikan dirinya sebagai pendekar pedang yang ahli. Dengan gerakan lincah, pedang satu tangannya berkilat dan menembus dada penyerang lainnya dengan telak.

"Siapa kalian? Bukan... penyelidik, ya. Pengawal militer...? Ah, bukan..."

Dilihat dari dekat, Yubeit tampak sangat kelelahan. Rambut pirang pucatnya menempel di dahi karena keringat. Kepalanya berdarah—mungkin karena hantaman. Ada juga luka sayat di lengan dan kaki kirinya.

"Siapa pun kalian, aku tertolong. Terima kasih."

Ia berucap sambil terengah-engah, tubuhnya miring hingga punggungnya bersandar pada dinding.

"Aku lengah. Faksi Simbiosis... pembunuh bayaran Nguyen-Mausa. Tidak kusangka mereka akan bertindak sejauh ini..."

Dotta merasa ada kesalahpahaman di sini. Namun, ia tidak punya waktu untuk mengoreksinya.

Sebab, terdengar suara decakan lidah yang pendek.

"Serangga-serangga mata-mata ini. Ternyata kalian menyiapkan bantuan...!"

Tiga penyerang yang tersisa bergerak serentak. Salah satu dari mereka, pria dengan penutup mata, mengincar Dotta. Ia memasang kuda-kuda rendah dengan belati bermata ganda—pada bilahnya terukir Segel Suci. Ada juga tanda berbentuk baji segitiga di sana. Benar-benar mengerikan.

Dotta melihat api bersemayam di bilah pedang tersebut.

"Cahaya pemutus dosa!"

Pria dengan penutup mata itu mengerang rendah dan mengayunkan belatinya. Percikan api berhamburan, menerangi salju dengan menyilaukan.

(Uwaa!)

Pedang membara itu menusuk ke arah Dotta. Itu adalah senjata Segel Suci. Benda berbahaya seperti yang biasa digunakan Patausche. Api yang bergoyang di ujungnya meliuk-liuk seperti ular.

Dotta melompat mundur jauh untuk menghindari ayunan itu. Di celah tersebut, si pria penutup mata berteriak.

"Bangunkan Puppet! Jangan biarkan satu pun lolos!"

"Aku tahu. Bangun! Serang!"

Mengikuti perintah seseorang dan suara denting bel, sesosok monster raksasa bangkit dari balik bayangan kereta kuda yang terguling.

Kesannya seperti monster besar, walau sebenarnya ukurannya hanya sedikit lebih besar dari Rhino. Namun itu bukan binatang—itu adalah tumpukan besi dan kawat yang disatukan secara asal-asalan, dipilin, dan dipaksa menyerupai bentuk manusia.

(Apa-apaan ini?) pikir Dotta.

"Kigi. kiiiッ."

Suara derit nyaring bergema dari bagian yang menyerupai kepala. Mungkin itu suara teriakannya.

Pria penutup mata itu menyebutnya Puppet, tapi menurut Dotta, benda ini tidak ada imut-imutnya sama sekali. Apakah ini juga senjata Segel Suci? Atau mungkin makhluk dari Timur atau Barat yang tidak Dotta ketahui.

"Beri bantuan. Bunuh yang kecil dulu."

Jelas sekali si pria penutup mata dan si Puppet itu mengincar Dotta.

(Bagaimana ini?)

Dotta ingin meminta tolong—tapi ia tahu baik Yubeit maupun Rhino tidak punya waktu untuk membantunya.

Bilah pedang penyerang memercikkan api, dan Puppet baja mulai bangkit.

Dalam situasi itu, tindakan pertama yang diambil Dotta sangatlah sederhana. Tindakan yang melenceng dari logika ilmu pedang atau pertarungan, tapi bagi Dotta, itu adalah hal yang biasa.

Yaitu, berbalik dan lari. Meski begitu, satu-satunya tempat untuk lari hanyalah tembok.

"Cih," si pria penutup mata mendecak.

"Jangan lari, keparat!"

Pria itu meneriakkan hal yang tidak masuk akal. Ditambah lagi, ayunan bilah pedang membuat punggung Dotta terasa panas.

(Jangan bercanda. Aku lari, tahu!)

Hasrat membunuh yang kuat itu nyata. Ia hanya ingin menjauhkan jarak sejauh mungkin. Dotta menendang salju dan melompat ke tembok. Menggunakan ujung sepatunya, ia mencengkeram dan merayap naik dengan lincah seperti cicak.

"Kigigigigih!"

Puppet baja itu mengayunkan sesuatu yang menyerupai lengan untuk mengejarnya. Tembok itu retak, tapi tidak sampai runtuh.

Dengan begini, ia bisa mengungsi ke atas tembok dalam satu garis lurus.

(Berbahaya sekali. Aku tidak bisa menghadapi mereka secara frontal.)

Dotta merayap ke puncak tembok dalam sekejap dan melihat ke bawah. Ia bersiap. Di tengah bidang pandangnya, ia mengunci si pria penutup mata yang mencoba merayap naik untuk menusuknya.

(Lagipula, gaya bertarung yang cocok untukku adalah—)

Senjata yang ia siapkan adalah tongkat petir yang lebih pendek dari biasanya.

(Gaya yang menyerang lawan dari satu sisi tanpa mereka bisa melawan balik.)

Nama produknya adalah Quadi. Sepertinya ini adalah tongkat petir model baru yang dikembangkan oleh perusahaan Vercle—Dotta pernah melihat performa dan kekuatannya. Ia merasa alat ini cocok untuknya.

(Rasakan ini!)

Kilat menyambar dari ujung Quadi yang diarahkan Dotta.

Beberapa jalur petir terpancar sekaligus. Fokusnya sedikit meleset dan tidak mengenai target secara sempurna, tapi beberapa kilatan petir tetap menghanguskan tubuh si pria penutup mata. Bahu, lengan, dada, perut—cukup kuat untuk membuatnya menjatuhkan pedang apinya.

(Hebat. Bahkan aku pun bisa mengenainya dengan mudah.)

Quadi adalah jenis tongkat petir yang menggunakan mode tembakan tipe menyebar.

Jenis tongkat petir yang menyemburkan banyak kilat secara bersamaan ke area yang luas. Ini adalah barang yang tidak efisien karena setiap kali menembak, magasin penyimpan cahayanya harus segera diganti—namun, dalam situasi tertentu, daya tekannya sangat efektif.

Misalnya, bagi orang yang tidak mahir membidik seperti Dotta, asal jaraknya cukup dekat, tembakannya pasti kena. Bagi Dotta, ini adalah alat yang sebelumnya tidak pernah terpikir untuk ia gunakan. Sejak awal, ia tidak ingin membiarkan musuh mendekat sampai jarak seperti ini.

Tapi—belakangan ini situasinya terasa terlalu mencurigakan. Terutama keberadaan Trisil. Dotta merasa Trisil sengaja menyeretnya ke dalam misi-misi gila untuk memanfaatkannya. Karena itulah, ia membawa alat ini.

"Keparat! ...Tongkat petir itu...!"

Pria penutup mata itu menyeringai kesakitan dan mencoba memungut pedangnya dengan tangan kanan yang berasap. Dotta tidak membiarkannya. Jika lawan sudah kehilangan senjatanya, Dotta bisa menjadi sangat berani. Di Unit Prajurit Terhukum memang ada orang-orang yang seluruh tubuhnya adalah senjata, tapi pria ini bukan salah satu dari mereka.

Benar—dibandingkan dengan Xylo, Jace, atau Patausche, lawan seperti ini bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.

"Umm."

Dotta melompat dan mendarat tepat di atas kepala si pria penutup mata.

"Anu... jangan hantui aku ya, benaran."

"Ka—gh!"

Ia langsung menggorok leher lawan yang mencoba meronta itu dalam satu tarikan napas. Ia juga menusuk dada pria itu. Perlawanan segera terhenti. Masalahnya, masih ada satu lagi.

"Gii. Giri."

Puppet baja. Ia mengayunkan lengan yang seperti lilitan kawat untuk memukul Dotta. Dotta terpaksa menghindar dengan berguling ke depan. Ia memungut pedang yang dijatuhkan si pria penutup mata. Magasin Quadi sudah habis. Tidak ada waktu untuk menggantinya.

(Aku harus melakukannya. Benar. Seperti Xylo, atau Trisil!)

Dotta mengayunkan pedang pendek itu. Begitu ia mengaktifkan Segel Suci, percikan api beterbangan.

"Terjang!"

Satu tebasan pedang. Bilah yang diselimuti api itu menghantam si Puppet. Itu mungkin serangan tebasan pertama yang pernah dilakukan Dotta dengan sungguh-sungguh.

"Gigi—iiiiiiiii!"

Suara logam bergema seperti raungan keras. Mungkin makhluk itu merasakan sakit. Bilah pedang mengikis baja permukaannya, dan api memanggangnya. Meski begitu, Puppet itu tidak berhenti. Kekuatan fisik Dotta benar-benar tidak cukup.

"Gawat. Ternyata tidak mempan sama sekali!" seru Dotta spontan.

Puppet baja itu mengayunkan lengannya ke bawah. Kali ini benar-benar fatal—hantaman langsung. Tidak ada ruang untuk menghindar. Itu karena ia malah memegang pedang dan terlalu fokus untuk "menyerang". Seharusnya ia tidak melakukan hal yang sia-sia.

Benturan terjadi. Lengan kiri yang ia gunakan untuk menangkis secara refleks terasa patah, atau mungkin bahunya.

(Sakit. Maksudku, ini sakit sekali! Sial...!)

Ia berguling tak berdaya. Puppet baja itu mengejar untuk menghabisinya tanpa ragu.

Apakah aku akan mati? Saat pikiran itu melintas, Dotta mendengar suara tersebut. Suara yang kasar dan liar.

"Minggir, bodoh!"

Sebuah tangan menjulur dari belakang dan menyeret Dotta hingga jatuh. Diikuti oleh suara benturan keras.

Ia melihat sebuah pisau menangkis dan membelokkan lengan Puppet baja tersebut. Seorang pria berkulit gelap dengan tatapan mata yang sangat tajam. Xylo. Tidak salah lagi. Tampaknya Xylo telah menahan serangan dari Puppet baja itu.

(Kenapa Xylo ada di sini?)

Dotta tidak dalam kondisi untuk menanyakan hal itu.

"Kau malah mencampuri urusan yang merepotkan."

Setelah menggerutu seperti itu, gerakan Xylo selanjutnya tidak terlalu jelas bagi Dotta.

Xylo menyentuhkan telapak tangan kirinya ke tubuh Puppet baja tersebut, lalu terdengar suara derit aneh dan si Puppet berhenti bergerak. Kemudian, sebuah pisau ditusukkan ke ketiak si Puppet. Pasti ada celah di antara sambungan baja yang menyerupai pelindung itu.

Lalu, dengan kekuatan kaki yang luar biasa, Xylo menendangnya—dua detik kemudian, terjadi ledakan. Pisau yang tertancap di tubuh Puppet mengeluarkan cahaya dan menciptakan kehancuran. Namun, monster itu belum benar-benar hancur.

Meskipun sebagian tubuhnya hancur berantakan, si Puppet tetap tidak berhenti bergerak.

"Ki, gi, ki."

Ternyata itu memang suara teriakannya. Bersamaan dengan suara logam yang agak serak, si boneka itu menerjang maju.

"Gigih juga benda ini," gumam Xylo sambil hendak menarik pisau berikutnya, namun ia meringis. Ia tidak membawa sabuk pedang biasanya.

"...Sial. Bodoh sekali aku!"

Tangan Xylo yang hendak menggenggam pisau berubah menjadi kepalan tinju.

(Mustahil. Biar Xylo sekalipun.)

Dotta tidak yakin Xylo bisa menang melawan lawan ini dengan tangan kosong. Si Puppet mengayunkan lengannya. Xylo menghindar. Ia menjaga jarak sedikit—tapi di belakangnya adalah tembok. Sudah tidak ada jalan mundur.

(Gawat, tahu!)

Dotta mencoba menggenggam pedangnya kembali. Seperti yang dilakukan Xylo, celah. Ia harus mengincar celah di baju zirah boneka itu dan menusuknya.

(Aku harus melakukannya. Kalau tidak, aku bisa mati...!)

Ia memantapkan tekad. Konsentrasi sesaat yang membuat kepalanya mendingin.

Tepat setelah itu, boneka yang setengah hancur itu terpental ke samping. Terdengar suara dentuman yang agak tumpul. Kilat yang lebih kuat dari pisau Xylo tadi. Suara ledakan keras. Mungkin gema suaranya sampai ke seberang jalan.

Boneka itu hancur berkeping-keping hingga tidak berbentuk lagi dan menabrak tembok dengan keras.

"Hmm. Kekuatannya lumayan juga."

Itu Rhino. Ia mengenakan peralatan aneh di lengannya. Terlihat seperti sarung tangan pelindung putih, tapi bentuknya terlalu besar dan aneh. Bahkan untuk pria besar seperti Rhino, benda itu jelas tidak cocok.

Xylo mengembuskan napas putih dan melonggarkan kepalan tangannya. Ia menurunkan lengannya dengan lemas.

"Mainan yang berbahaya. Apa itu?"

"Aku meminjam barang yang ada di dalam kereta kuda itu. Mungkin ini model terbaru dari Cannon Armor? Sepertinya ini mekanisme di mana sarung tangan pelindungnya saja bisa menembakkan meriam."

Rhino bergumam datar sambil melepas sarung tangan putih itu. Lengannya tampak hangus. Asap mengepul darinya.

"Hanya saja, menurutku ini masih versi prototipe. Amunisinya cuma satu tembakan. Kekuatannya lemah, dan hentakannya seperti yang kau lihat. Aku mengalami luka bakar parah. Sepertinya ini bukan barang yang bisa digunakan manusia normal."

"Tapi kau bisa menggunakannya."

"Haha!"

Mendengar kata-kata Xylo, Rhino tertawa riang. Namun ada kesan hampa dalam tawanya.

"Cuma sekali saja. Ini terlalu sakit, jadi aku tidak akan melakukannya lagi."

Xylo tidak menjawab. Atau mungkin, ia merasa menjawab pun tidak ada gunanya. Ia mengembuskan napas putih panjang untuk menenangkan diri, lalu menatap sisa-sisa si Puppet. Serpihan logamnya masih sedikit menggeliat. Seperti kaki serangga yang terputus.

"Masih hidup, ya. Rasanya."

Mata Xylo menatap tajam pada potongan besi itu. Gerakannya seperti denyut nadi.

"Sulit dipercaya, tapi sepertinya ini adalah Fairy. Karena bentuk manusianya dari logam, tadinya kupikir Knocker... tapi bukan. Logamnya sendiri berubah menjadi Fairy. Apa ini spesies baru? Jangan bercanda."

"A-anu. Kau tadi bilang Fairy?"

Dotta menahan rasa sakit luar biasa di lengan kirinya, dan hanya bisa berucap begitu.

"Kenapa Fairy... ada di sini? Ini Ibu Kota, kan? Mana mungkin...!"

"Mereka memang kelompok yang 'mana mungkin' itu."

Xylo sedang menatap sesuatu dengan tajam. Itu adalah pedang penyembur api yang digenggam Dotta di tangan kanannya. Di bilahnya terukir Segel Suci dan—juga sebuah lambang aneh berbentuk baji.

"Sial."

Xylo menyeka salju di kepalanya dan menoleh ke arah Dotta.

"Kau, apa yang sebenarnya mau kau lakukan?"

Seperti biasa, Dotta tidak bisa membedakan apakah Xylo sedang marah atau tidak. Mungkin setengah-setengah. Antara marah pada Dotta dan marah pada situasi ini. Dotta merasa begitu.

"Yah, meskipun kau tidak bilang, aku bisa menebak garis besarnya. Saat kau dan Ra... bukan. Saat si bodoh itu bekerja sama, aku sudah punya firasat buruk."

"Iya ya... begitu kah...?"

Bagaimanapun, pertempuran telah berakhir.

Yang tersisa hanyalah beberapa mayat yang tergeletak di atas salju. Ditambah bercak darah yang mencolok.

(Lelahnya. Aku sudah tidak mau lagi.)

Dotta mengembuskan napas putih dan berjongkok di sana. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Ia tidak menyangka harus berolahraga seperti ini. Terlebih lagi lengan kirinya terlalu sakit untuk digerakkan.

(Apa-apaan sih... ini pasti patah...)

Nasib sial, pikir Dotta. Inilah alasan ia benci bertarung. Sakit, melelahkan, dan tidak ada satu pun hal baik. Pokoknya ia harus segera melakukan pertolongan pertama.

"Kita pulang," kata Xylo.

"Besok adalah Festival Persembahan Pedang. Ceramahnya nanti saja."

"Eh? Mohon maaf, aku belum menyelesaikan tujuanku."

Rhino melepas sarung tangan putihnya dan memungut kembali pedangnya.

"Serangan mendadak terhadap peserta belum selesai. Aku harus sedikit mempercepat jadwalnya."

Ternyata dia masih berniat melanjutkannya. Dotta terpaku. Bagaimana pun juga, Dotta tidak terpikir untuk melanjutkan serangan mendadak dalam kondisi seperti ini. Xylo pun tampak ternganga.

"Kau... aku tidak percaya sarafmu itu terbuat dari apa. Apa terbuat dari timah, hah?"

"Apa itu sebuah pujian? Aku juga menghormatimu. Menurutku kau punya saraf sekuat baja. Terima kasih, kamerad Xylo!"

Mendengar kata-kata yang begitu tanpa beban itu, Dotta dan Xylo spontan melotot.

"Ra... kau, itu—"

"Oi, dengar ya."

"Hmm? Ada apa? Jangan-jangan kamerad Xylo juga terluka? Kamerad Dotta sepertinya patah tulang, harus segera diobati—"

"Bu-bukan! Salah! Namanya! Apa perlu kau menyebutkan nama kami dengan jelas begitu?"

"Benar! Kau benar-benar tidak punya tata krama, ya! Apa yang kau pikirkan! Kenapa dalam situasi begini—"

"...Dotta-san, benarkah?"

Terdengar suara lain, yang bukan milik Xylo maupun Rhino.

Yubeit Ludmischen. Ia tampak terluka di sana-sini, namun ia tetap berdiri tegak. Pedangnya pun masih ia genggam.

"I-itu, anu—sebenarnya kami ini..."

Dotta mencoba mencari alasan. Tapi alasannya tidak mengalir lancar seperti Venetim.

"Anu. Ini sama sekali, itu, bukan maksudnya yang seperti itu..."

"Aku tertolong. Terima kasih."

Dotta mencoba memberikan alasan yang tidak jelas bagi dirinya sendiri, namun sebelum itu lawan bicaranya tiba-tiba menundukkan kepala.

"Ini adalah kesalahanku. Aku menyusup ke faksi Simbiosis... untuk penyelidikan internal militer, tapi penjagaan mereka jauh lebih ketat dari bayanganku. Seperti yang kalian lihat, mereka bahkan membawa-bawa Fairy."

Sambil mengucapkan kata-kata yang sama sekali tidak dimengerti Dotta, Yubeit memungut sesuatu dari salju.

Itu adalah topi Dotta—sepertinya terjatuh tanpa ia sadari. Yubeit menyerahkannya kepada Dotta dengan wajah yang agak pucat. Orang ini pasti salah paham akan sesuatu. Intuisi Dotta meyakini hal itu, namun ia tidak berniat mengatakannya.

Sebab, mana mungkin ia bilang bahwa ia datang untuk menyerangnya secara mendadak.

"Aku Yubeit Ludmischen. Sebenarnya aku terdaftar di Ksatria Suci ke-12. Aku berhutang budi pada kalian, Tuan Dotta Luzlas... Tuan Rhino, dan Tuan Xylo Forbartz. Ternyata Prajurit Terhukum yang dirumorkan itu memang melakukan pekerjaan yang tak terduga."

"Eh. Apa itu, Ksatria Suci? Ke-12?"

Dotta menatap wajah Xylo. Xylo memasang ekspresi seolah-olah melihat hantu. Ini pemandangan langka. Yubeit juga sedikit tersenyum.

"Ya. Kami ada di berbagai tempat secara tak terduga. ...Tolong rahasiakan hal ini."

"Aku tidak mengerti situasinya," kata Xylo dengan wajah kesal.

"Jelaskan padaku. Sebenarnya kau ini siapa? Kereta kuda itu bahkan membawa barang-barang berbahaya."

"Mengenai hal itu, mari kita cari waktu lain untuk menjelaskannya. Hari sudah larut."

"Aku akan sangat menantikannya. Apa itu keinginan bosmu? Serangan ini juga bukan sandiwara kalian, kan?"

"Tenang saja. Termasuk fakta bahwa kami ditolong oleh kalian, ini benar-benar situasi di luar dugaan. Justru karena itulah, kini muncul kebutuhan untuk menjalin kontak di sini. Lain kali, kuharap bersama Nona Goddess juga."

Sambil mendengarkan percakapan Xylo dan Yubeit, Dotta membatin dalam hati.

Aku tidak peduli lagi, aku hanya ingin cepat pulang.

"...Jadi, bagaimana hasilnya?"

Venetim menyapa Tsav yang sedang tidur dengan wajah cemberut di kamar.

Hari itu banyak yang harus dilakukan, dan ia terpaksa berlarian ke sana kemari sejak pagi. Akhirnya, ia baru kembali ke barak militer setelah senja lewat. Di tengah jalan, ia melihat Festival Persembahan Pedang sudah berakhir dan lokasi sedang dibereskan.

Artinya, dengan melihat wajah Tsav saja, ia sudah tahu ke arah mana hasil festival itu berakhir.

Venetim perlu memastikan sejauh mana rencananya berhasil. Karena itulah ia melangkah ke kamar tempat Tsav dan Dotta ditempatkan. Hasilnya, tidak ada tanda-tanda Dotta, hanya ada Tsav yang sedang berbaring.

"Festival Persembahan Pedangnya sudah selesai, kan? Apa Dotta ikut bertanding?"

"Haaa," dengan jawaban lesu itu, Tsav mendadak bangun. Wajahnya yang biasanya tampak ringan pun kini terlihat tidak bersemangat.

"Dotta-san, ya. Dia ikut kok, dan itu benar-benar pertandingan kotor yang luar biasa. Dia diteriaki habis-habisan oleh penonton. Habisnya, itu cuma adu pukul dengan teknik pedang yang lemas! Lagipula, Dotta-san... entah kenapa, tapi lengan kirinya patah, lho!"

Sambil berbicara, nada bicara Tsav perlahan mengeras.

"Pendekar pedang bernama Yubeit itu juga dalam kondisi bahkan tidak bisa memegang tongkat latihan dengan benar. Benar-benar pertandingan yang payah! Aku rugi besar!"

"Eh...? Lawannya juga terluka? Berarti Dotta benar-benar melakukan serangan mendadak, ya."

Venetim mengernyit. Ini di luar dugaan. Ia merasa sangat kesal jika karena tindakan konyol mereka, ia sebagai komandan malah yang kena semprot nantinya.

"Dia pergi diam-diam bersama Rhino, dan Xylo-kun mengejarnya... ketika mereka pulang, suasana hatinya buruk sekali jadi aku tidak berani bertanya. Tsav, kau tahu sesuatu?"

"Sama sekali tidak tahu!"

Setelah menjawab dengan lantang, Tsav meremas koran di tangannya hingga menjadi bola kertas.

"Pokoknya, aku disuguhi pertandingan yang mirip perkelahian anak kecil, tentu saja aku ingin mengeluh. Yah, dalam satu sisi mereka seimbang, sih! Pada akhirnya Dotta-san menyerah karena lelah. Tuan Yubeit juga bilang dia sudah mencapai batasnya dan mengundurkan diri dari pertandingan berikutnya!"

Tsav mendengus pelan. Tampaknya itu memang pertarungan yang sangat buruk.

Venetim tidak tahu ilmu pedang Dotta dan tidak pernah melihatnya, tapi bagaimanapun juga, itu adalah Dotta. Jika terlihat seimbang, berarti ksatria bernama Yubeit itu memang terluka parah—atau dia sengaja mengalah habis-habisan.

"Setelah itu, nasib Dotta-san lumayan lucu sih. Dia dicengkeram kerah lehernya oleh Kakak berambut merah itu dan diseret pergi."

"Ah..."

Venetim bisa membayangkan pemandangan itu dengan jelas.

"Maksudmu Trisil-san? Dia kelihatannya benar-benar kesal, jadi Dotta pasti sedang mengalami hal buruk sekarang. Setelah itu, dia pasti langsung dibawa ke rumah sakit... apalagi dia sedang patah tulang."

"Be-begitu ya... semoga dia tidak mati..."

"Urusan administrasinya bakal merepotkan, sih."

"Ya, benar juga."

Venetim membenarkan.

Meskipun hanya secara formal, selama ia adalah komandan Unit Prajurit Terhukum, Venetim memiliki tugas untuk mengurus—atau memalsukan—berbagai prosedur administrasi yang menyertainya. Karena Prajurit Terhukum diperlakukan seperti aset militer, jika mereka mengalami kerusakan di luar tindakan pertempuran, diperlukan laporan pertanggungjawaban yang sesuai.

"Jadi, Venetim-san. Bagaimana soal itu?"

"Itu... apa maksudmu?"

"Pertandingan Dotta-san. Karena Anda sendiri yang menunjuk agar Dotta-san ikut bertanding, apa Anda sudah membuat kesepakatan pertandingan pengaturan dengan pihak lawan?"

Tsav tertawa ringan.

"Aku sih rugi besar! Dengan begini modal judiku lari semua, jadi tidak ada lagi jalan-jalan yang menyenangkan! Rencana bersenang-senang di Luff Alos jadi berantakan. Tidak kusangka Adelat Fusel bisa kalah."

Adelat Fusel. Dalam festival olahraga besar ini, seharusnya dialah kandidat juara nomor satu. Venetim merasa lega mendengarnya. Tampaknya nasib buruk Tsav dalam berjudi adalah hal yang nyata.

"Jadi, yang menang adalah yang odds-nya urutan kedua?"

"Benar! Heine Buka Tanze dari Ksatria Suci ke-10! Tapi akhirnya dia malah menetap di odds urutan ketiga."

Tsav menatap langit-langit.

"Gara-gara ekspektasi terhadap Dotta-san sangat tinggi, odds untuk Kakak ini dan Yubeit malah naik drastis... Ah! Seharusnya aku pasang taruhan di sana saja!"

"Begitu ya," Venetim mengangguk kecil.

Taruhan yang membuat perut mulas ini barulah permulaan. Memikirkan hal itu membuatnya merasa depresi.

Sejak ia mendengar prediksi Tsav, Venetim sudah memasang taruhan pada Heine Buka Tanze. Setelah itu, yang penting adalah memanipulasi odds taruhan agar keuntungan saat menang menjadi maksimal, dan itu adalah keahlian Venetim.

Berkat nama Prajurit Terhukum, ekspektasi pun terkumpul, ditambah lagi kemampuan yang diperlihatkan Patausche sehari sebelumnya juga memberikan efek. Tentu saja, Venetim juga menulis artikel di sana-sini, menyebarkan rumor tanpa dasar, dan ikut serta memanipulasi tren tersebut. Hasilnya, odds Dotta turun, dan odds peserta lain naik.

Berdasarkan pengumpulan informasi dari internal Ksatria Suci, sulit dipastikan siapa yang akan menang antara Adelat Fusel dan Heine Buka Tanze—tapi ia memutuskan untuk bertaruh pada pihak yang berlawanan dengan Tsav.

Jika Tsav menang, ia berencana menawarkan 'taruhan besar' untuk merampas kemenangannya, tapi sepertinya itu tidak perlu.

(Setidaknya, modal awal sudah terkumpul...)

Sungguh, memikirkan apa yang harus dilakukan setelah ini membuat perut dan kepalanya sakit. Bagaimanapun juga, ia harus bersaing dengan orang-orang yang lebih merepotkan demi kursi Arch High Priest di kuil.

"Ah! Wajah Venetim-san juga tampak suram! Jangan-jangan, Anda juga termasuk orang yang bertaruh pada Adelat?"

"Yah, begitulah kira-kira."

Venetim mengelak dengan senyum kaku. Jika ia memasang wajah seperti itu, biasanya lawan bicara akan membayangkan kemalangannya sendiri.

Venetim punya pemikiran tersendiri. Manusia cenderung mengharapkan kemalangan orang lain. Atau mungkin, mereka ingin merasa orang lain sama malangnya dengan diri mereka sendiri.

"Mau bagaimana lagi ya."

Tsav mengangkat botol minuman keras di satu tangannya.

"Ini botol simpanan rahasia milik Dotta-san. Karena dia masuk rumah sakit, dia tidak butuh ini lagi, kan. Mari kita bersulang untuk kekalahan kita dan Dotta-san!"

"Ide yang bagus."

Dengan wajah yang masih kaku, Venetim mengambil botol itu. Jika ia tidak mabuk berat, sepertinya ia tidak akan bisa tidur lagi hari ini.

"Tapi sebelum itu, Tsav. Bagaimana soal hal yang kuminta?"

"Oh. Soal Nguyen-Mausa itu, ya. Sempurna, lho. Memangnya kau pikir aku ini siapa?"

Tsav mengarahkan jempol ke arah dirinya sendiri.

"Tidak salah lagi. Mereka bekerja sama dengan faksi Simbiosis. Eksekutor dari sekte Nguyen-Mausa sudah mulai bergerak. Aku juga baru saja diserang tadi, jadi ini sudah pasti!"

Dulu di kota pelabuhan Yawf, mereka pernah bertarung dengan orang-orang yang mengaku menggunakan nama tersebut. Para pembunuh yang disewa oleh Guild Petualang. Menurut Tsav, tampaknya kali ini mereka adalah yang asli.

Sekte yang pernah disingkirkan oleh kuil sebagai bidat dan kehilangan kedudukannya. Nguyen-Mausa yang mengaku memiliki kesetiaan sejati terhadap Goddess. Venetim tidak tahu apa ideologi mereka dan tidak tertarik, tapi karena mereka bisa melatih pembunuh seperti Tsav, mereka pasti kelompok yang berbahaya.

"Mungkin karena selama ini mereka bersembunyi di bawah tanah, kekesalan mereka jadi menumpuk? Jumlah eksekutor mereka juga ditambah, sepertinya mereka berniat mengamuk habis-habisan. Aku sudah menghabisi sekitar tiga orang yang mencoba membunuhku dan menanyai mereka lewat interogasi, jadi ini sudah pasti."

Mendengar kata interogasi, Venetim merasa nyawanya sedikit terancam. Ia yakin jika Tsav mau, dia tidak akan ragu untuk menyiksa Venetim sekalipun.

"Lalu, apa sebenarnya yang mereka rencanakan? Apa maksudnya mengamuk habis-habisan...? Xylo-kun sangat mengkhawatirkan hal itu."

"Kalau soal apa yang akan mereka lakukan, itu belum tahu. Karena yang kuhabisi cuma bawahan, sepertinya mereka tidak tahu sampai sejauh itu."

"Jadi perlu penyelidikan lebih lanjut, ya."

"Begitulah. Selanjutnya aku akan mencari sarang mereka. Yah, aku sudah punya gambaran sih."

Tsav mengatakannya dengan Santai, tapi bukankah itu berbahaya?

"Kalau begitu, bisakah kuminta penyelidikan tambahan? Tentu saja, aku akan memberikan imbalannya."

"Siap laksanakan! Hehehe. Anda benar sudah menggunakan jasaku. Karena mereka sepertinya sangat waspada, kalau orang biasa yang mencari, mereka pasti langsung ketahuan dan dihajar sampai setengah mati."

Tsav dengan cepat menyambar kupon militer yang disodorkan Venetim.

"Lagipula, mereka benar-benar sedang merencanakan sesuatu yang tidak beres. Sepertinya mereka juga memelihara Fairy."

"Eh...? Bukankah Nguyen-Mausa itu dulunya adalah salah satu faksi di kuil? Apa yang terjadi dengan iman mereka terhadap Goddess...? Bukankah memelihara Fairy itu sudah tidak masuk akal?"

"Hehehehehe! Itulah masalahnya, mereka sudah terpojok sampai ke tingkat yang gawat. Menurut mereka, umat manusia yang menggunakan Goddess sebagai alat perang tidak bisa dimaafkan, jadi mereka lebih memilih menyerah segera pada fenomena Raja Iblis, atau bahkan memusnahkan umat manusia yang jahat... Sejak aku masih di sana, suasananya sudah mencapai tahap akhir seperti itu."

Venetim tidak tahu harus merespons apa. Tampaknya sekte Nguyen-Mausa memiliki kesetiaan yang unik terhadap Goddess. Kesetiaan yang berujung pada kehancuran.

"Jika mereka adalah musuh, Tsav... bisakah kau bertarung melawan mereka?"

"Eh? Yah, kalau satu lawan satu dengan manusia, aku mungkin bisa menang melawan siapa pun di sekte itu... tapi..."

"Bukan, bukan itu maksudku. Anu, mungkin ada orang yang sudah membesarkanmu sebagai pengganti orang tua... atau guru... aku berpikir mungkin mereka ada di sana."

"Oh. Soal itu ya. Hehehehe!"

Suara tawa yang ringan dan berantakan bergema.

"Semuanya sudah kubunuh kecuali guruku, jadi tidak masalah."

Venetim kembali kehilangan kata-kata. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang ada di dalam kepala pria ini.

"Ah! Benar juga, mau dengar kisah masa laluku yang menyedihkan? Kisah perpisahan antara Tsav-kun yang paling baik hati di dunia dengan orang tua angkatnya! Ini lho, kisah yang terkenal bisa membuat orang menangis."

Sudah dimulai. Venetim merasa ia baru saja memicu sesuatu pada diri Tsav. Jika sudah begini, cerita Tsav tidak akan berhenti.

"Umm, dari mana ya mulainya. Nah, begini, aku kan punya sekitar tiga orang tua angkat, kan? Salah satunya adalah—"

Venetim bersiap-siap untuk terjaga semalaman.

"—Ya. Tampaknya tidak ada masalah."

Dokter yang mendiagnosis patah tulang Dotta tersenyum untuk menenangkannya.

Dia adalah dokter dengan rambut panjang kebiruan dan wajah yang tampak cantik namun netral. Tubuhnya ramping, sehingga Dotta tidak bisa membedakan apakah dia laki-laki atau perempuan.

"Kalau begini, lukanya akan segera sembuh. Untungnya, di balai pengobatan ini juga tersedia stok Sprite dari Goddess Darah. Karena barang berharga, kami tidak bisa menggunakannya terlalu banyak, tapi jika kau beristirahat dengan tenang, lukanya akan sembuh dalam waktu setengah bulan."

"Terima kasih..."

Dotta menundukkan kepala, namun ia merasa putus asa. Itu berarti Luff Alos akan berakhir sebelum ia sembuh.

"Ngomong-ngomong, anu, aku punya permintaan. Dokter, tolong jangan beritahu orang-orang di unitku..."

"Eh. Tidak apa-apa. Aku sudah menghubungi mereka, kok. Katanya mereka akan datang menjenguk."

Mendengar itu, Dotta kembali didera keputusasaan. Menjenguk. Ia sudah bisa menebak siapa yang akan datang dengan dalih itu. Padahal ia berniat meminta hal yang sebaliknya.

"Kalau begitu, jaga dirimu baik-baik."

Dokter itu berdiri dan keluar. Dotta ditinggal sendirian di sudut bangsal umum. Di saat seperti itu, entah kenapa pasien lain di bangsal yang sama menyapanya.

"Woi, Nak, kau beruntung sekali! Bisa diperiksa oleh Dokter Dito!"

Tampaknya Dito adalah nama dokter tadi. Pasien di seberang ranjangnya, seorang pria yang kakinya digantung, tampak sangat bersemangat. Mungkin dia seorang tentara.

"Orang itu dokter hebat, lho. Anak kecil yang terbaring karena penyakit paru-paru pun bisa sembuh dalam sekejap. Tenang saja! Oke?"

"Benar, benar! Kepalaku saja yang tadinya retak sekarang sudah membaik. Katanya awal tahun aku sudah bisa pulang."

"Kalau aku jantung. Tadinya kupikir sudah tidak ada harapan... tapi obat dokter itu benar-benar manjur."

Bagi Dotta, ia hanya bisa tersenyum kaku mendengarnya. Tidak peduli dokter itu hebat atau dokter gadungan, baginya sama saja. Masalahnya hanyalah ia tidak punya tempat lari dari bangsal ini.

(Trisil akan datang.)

Tahun baru yang kelam sepertinya akan segera tiba.

——Tujuh hari menuju Festival Pembukaan Gerbang Luff Alos.

Tidak banyak waktu yang tersisa. Padahal begitu, di siang hari keesokan harinya, aku terpaksa harus pergi keluar.

Tujuannya adalah toko buku yang menghadap ke jalan besar. Namanya 'Haku-rin-dou'.

Sesuai namanya, toko itu memiliki lonceng putih yang tergantung di depan pintunya, dan bagian dalamnya tidak terlalu luas.

Aku sendiri pernah mengunjunginya beberapa kali saat sedang pergi ke istana. Koleksinya lumayan, dan aku pernah sekali menemukan buku langka di sana.

Instruksinya adalah membawa Teoritta ke sana. Yubeit Ludmischen—pria misterius yang mengaku sebagai anggota Ksatria Suci ke-12 itu yang mengatakannya.

Aku sempat berpikir bagaimana caranya mengadakan pertemuan di dalam toko seperti ini, tapi aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.

Ksatria Suci ke-12. Jika perkataan Yubeit benar, dia adalah unit intelijen rahasia. Pasti ada cara yang tak terduga.

Karena itu aku datang sedikit lebih awal dan memutuskan untuk menikmati belanja terlebih dahulu. Kebetulan ada buku yang sedang kucari.

"Ksatria-ku! Ada banyak sekali buku di sini!"

Entah mengapa, Teoritta tampak sangat bersemangat. Kalau dipikir-pikir, mungkin ini pertama kalinya aku membawanya masuk ke toko buku.

"Aku mengerti perasaanmu, tapi tolong tenang sedikit jika di dalam toko."

"Baik! ...Tapi, tempat ini bahkan tidak bisa dibandingkan dengan kantin besar. Hebat...!"

Apakah dia memang belum pernah melihat toko buku sebelumnya, ataukah dia tidak ingat masa sebelum aku mengaktifkannya? Aku tidak tahu, tapi Teoritta terus-menerus bertanya padaku tentang nilai dari buku-buku itu.

"Ksatria-ku, kalau ini? Apa ini buku yang menarik? Apa aku bisa membacanya dengan baik?"

Buku itu seukuran telapak tangan, sepertinya kumpulan puisi. Judulnya 'Menyapu Bintang'. Penulisnya adalah Labaterio Liunes—penyair dari era yang disebut era modern. Seseorang dari sekitar lima puluh tahun yang lalu, masa sebelum fenomena Raja Iblis mulai muncul.

Artinya, tingkat kesulitannya cukup tinggi. Pertama-tama, sulit untuk membayangkan latar belakang budaya tanpa adanya fenomena Raja Iblis, dan jika tidak memahami aliran puisi hingga era modern, terkadang ada gaya bahasa yang tidak dimengerti letak menariknya.

"Sepertinya ini agak sulit untukmu."

Aku memutuskan untuk jujur. Lagi pula, untuk membeli buku, langsung memulai dengan puisi tingkat kesulitannya terlalu tinggi.

"Untuk Teoritta, daripada kumpulan puisi, lebih baik novel atau semacamnya. Lebih mudah dibaca."

"...Padahal aku ingin membaca hal yang sama dengan Ksatria-ku," Teoritta memajukan bibirnya dengan kesal, namun ia tetap meletakkan buku itu kembali ke rak dengan patuh.

"Ada yang namanya pengetahuan dasar. Lebih baik cari yang lebih mudah dimengerti. Apa kau mau cerita yang pernah kubaca juga?"

"Kalau begitu, biarkan Xylo yang memilihkan."

"Ya—baiklah. Setelah aku selesai mencari apa yang kucari."

"Hmm?"

Teoritta tampak tertarik dengan apa yang kucari.

"Ksatria-ku sedang mencari apa? Apa kumpulan puisi juga? Aku akan membantu mencarinya."

"Bukan. Buku berjudul 'Catatan Rahasia Vlad'. Bentuknya seperti ensiklopedia besar."

"Serahkan padaku! Aku yang akan mencarinya. Umm—"

"Tunggu. Aku sudah menemukannya. Di rak sebelah sana—ada, ini dia."

"Te-terlalu cepat! Tidak ada tempat bagiku untuk beraksi... Sejak kembali ke Ibu Kota Pertama ini, aku sama sekali tidak berguna!"

"Mau bagaimana lagi, ini buku yang terkenal. Pasti ada satu buku di setiap toko buku."

Aku mengambil buku itu. Buku itu konon ditulis pada zaman kuno. Dikatakan ditulis oleh salah satu pahlawan yang dipanggil saat Penaklukan Raja Iblis Pertama. Sebelum fenomena Raja Iblis muncul, buku ini dianggap sebagai jenis legenda atau mitos, tapi sekarang situasinya sudah berubah. Kini buku ini dianggap sebagai catatan sejarah atau buku akademis.

Di sini tertulis nama-nama fenomena Raja Iblis dan Fairy yang pernah muncul. Kantor administrasi juga memberikan nama Raja Iblis dengan sifat atau bentuk serupa berdasarkan catatan ini setiap kali ada fenomena Raja Iblis baru yang muncul.

"Nah, bantu aku memeriksanya."

Aku membuka 'Catatan Rahasia Vlad' agar Teoritta juga bisa melihatnya. Jika tidak begini, dia sepertinya akan merajuk.

"Kemarin, aku melihat Fairy di tengah kota. Mirip Knocker, tapi penampilannya seperti boneka yang sepenuhnya terbuat dari besi... Sepertinya itu adalah spesies baru Fairy yang belum pernah ditemui umat manusia."

"Baik! Umm, boneka dari besi..."

Teoritta menatap buku itu dengan tajam. Saat itulah, sebuah bayangan tiba-tiba jatuh menutupi halaman buku.

"—Itu adalah Cobran, Xylo Forbartz."

Suara yang tidak kukenal. Ujung jari yang menjulur itu membalik halaman dan menunjuk pada gambar salah satu Fairy.

"Itu adalah Fairy dengan tubuh baja, tapi berbeda dengan Knocker. Dikatakan bahwa itu adalah senjata atau baju zirah yang berubah menjadi Fairy. Seperti katamu, itu adalah spesies baru yang belum ditemukan. Tidak salah lagi."

"Hah?"

"Muuuh!"

Aku dan Teoritta menoleh secara bersamaan, dan Teoritta-lah yang pertama kali menyuarakan kekesalannya.

"Aksiku diganggu lagi... Kenapa kau mengatakannya! Padahal aku baru saja akan menemukannya!"

"Mohon maaf sebesar-besarnya, Nona Goddess."

Pria yang menundukkan kepalanya dengan berlebihan itu tampak sangat mencurigakan. Alasannya jelas, karena ia memasang senyum tipis yang entah bagaimana terasa sadis dan licik di mulutnya. Aku pernah melihat orang ini. Seingatku—

"Ah! Anda orang yang menjenguk Xylo saat dia terbaring sakit di Kota Yawf, kan!"

"Suatu kehormatan Anda masih mengingat saya."

Pria licik ini. Orang yang datang saat aku terbaring sakit di Yawf, ya. Tadinya kupikir dia anggota intelijen, tapi dilihat dari situasinya sekarang, identitas aslinya sepertinya jauh lebih mengejutkan.

"Nah! Ksatria-ku! Kau ingat dia, kan!"

"Yah... begitulah."

"Kami belum tahu nama Anda. Salam itu penting, lho, Tuan Penjenguk."

"Mohon maaf. Saya Komandan Ksatria Suci ke-12, Cafzen Dacrome, Nona Goddess Teoritta."

Hanya gerak-geriknya saja yang sopan. Orang seperti inilah yang paling tidak bisa dipercaya. Aku menatap ke belakang pria yang mengaku sebagai Cafzen itu. Jika dia mengaku sebagai Komandan Ksatria Suci, seharusnya dia membawa Goddess. Tapi tidak ada siapa-siapa.

"Kau tidak membawa Goddess-mu, ya."

"Enfie orangnya pemalu, dan di tengah kota ini berbahaya, aku akan repot jika terjadi sesuatu padanya. Keberadaannya sangat penting bagi kalian juga. Kuharap kalian menghargai kewaspadaanku ini."

"Apa maksudmu?"

"Sesuai ucapanku. Aku tidak berniat menjelaskannya. Dibandingkan Enfie, Nona Goddess di sana sepertinya punya rasa ingin tahu yang besar, ya."

Setelah mengucapkan kata-kata yang terdengar sangat tidak menyenangkan, Cafzen menatap Teoritta.

"Mohon bantuannya, Nona Teoritta. Aku sering mendengar tentang aksi kalian berdua."

"Sepertinya Anda sangat mengenal kami, ya."

Teoritta tampak sedikit waspada. Secara tidak sadar, ia mencengkeram ujung jubahku.

"...Apa kami seterkenal itu?"

"Tentu saja, kalian sangat populer. Xylo Forbartz, aku juga mengenalmu dengan baik. Sejak kita masih sama-sama Komandan Ksatria Suci, aku sudah memperhatikanmu sama besarnya dengan Komandan Ksatria Suci Beukes."

"Tapi aku sama sekali tidak mengenalmu."

Yang kutahu hanyalah spekulasi bahwa kelompok seperti mereka mungkin benar-benar ada.

"Apa tidak apa-apa? Ksatria Suci rahasia menunjukkan diri di tengah kota seperti ini, bahkan menyebutkan namanya."

"Jangan khawatir. Toko ini adalah salah satu properti milik Ksatria Suci ke-12 kami—dan, pemilik tokonya adalah aku. Setidaknya untuk saat ini."

Tadinya aku ingin bilang "mana mungkin", karena seingatku pemilik toko ini adalah pria tua berambut putih, berkacamata, dan agak gemuk sejak aku masih sekolah—bukan orang aneh seperti ini. Namun, saat aku melihat ke dalam toko, aku tidak melihat sosok pria tua itu di balik konter.

Mungkin penyamaran. Atau itu pun bohong. Orang dari departemen intelijen tidak bisa dipercaya sedikit pun.

"Di sini kita bisa bicara bebas. Tapi, kami tidak punya banyak waktu, jadi mari kita persingkat. Kau tahu kan kalau ada pergerakan berbahaya di Ibu Kota Pertama?"

"Orang itu. Yubeit Ludmischen, kah?"

Aku mengingat kejadian tadi malam. Bersama dengan sedikit rasa pening.

"Dia diserang semalam. Karena salah satu orang bodoh di unitku pergi untuk menyerangnya secara mendadak... secara kebetulan, kami malah membantunya. Apa serangan itu dilakukan oleh faksi Simbiosis?"

"Tepatnya, sekte bidat yang bekerja sama dengan faksi Simbiosis. Nguyen-Mausa. Kau tahu kan?"

Sarang lama Tsav. Kelompok gila yang kabarnya menggunakan pembunuh bayaran.

"Termasuk mereka, ada juga kelompok simpatisan di dalam kuil."

"Situasi yang buruk. Apa yang terjadi dengan iman mereka?"

"Terkadang karena iman, orang justru mengikuti faksi Simbiosis. Mereka menentang penggunaan Goddess sebagai senjata... argumen mereka adalah membebaskan Goddess yang malang. Perdamaian dengan fenomena Raja Iblis. Jika dengan mempersembahkan sebagian umat manusia sebagai makanan secara berkala bisa menyelamatkan Goddess dari takdir pertempuran, bagaimana menurutmu?"

Karena aku merasa marah, aku tidak mengatakan apa-apa. Namun, Teoritta tetap mencengkeram ujung jubahku dan membusungkan dadanya dengan angkuh.

"Mereka salah. Menjadi keberadaan seperti apa aku ini adalah pilihanku sendiri. Karena aku ingin menjadi keberadaan agung yang melindungi umat manusia!"

Dia sangat marah. Aku bisa merasakannya. Kemarahan yang terasa seperti membara.

"Bukannya merasa kasihan itu tidak sopan!"

"Mungkin saja begitu. Tapi apakah mereka akan mendengarkannya atau tidak, itu urusan lain."

Gaya bicara Cafzen yang seolah melepaskan diri itu benar-benar menyebalkan. Aku sempat ingin memprotes, tapi aku mengurungkan niat. Tidak ada gunanya bicara padanya.

"Dengan merangkul faksi-faksi tersebut, kami pun belum sepenuhnya memahami seberapa besar kekuatan tempur yang dimiliki faksi Simbiosis saat ini."

"Artinya, itu kelalaian tugas kalian. Benar, kan?"

"Sindiran yang tajam."

Cafzen mengambil kumpulan puisi di sampingnya, membolak-baliknya secara asal, lalu meletakkannya kembali. Tatapan matanya seolah sama sekali tidak tertarik. Padahal itu kumpulan puisi Altyard Comette—pikirku. Aku merasa sama sekali tidak cocok dengannya.

"Kekurangan tenaga kerja di pihak kami juga sangat serius. Tenaga kami tidak cukup untuk menangani berbagai konspirasi."

"Bagaimana dengan Goddess ketiga? Bukankah segalanya bisa diatasi dengan ramalan masa depan?"

"Ramalan dari Goddess Masa Depan mendeteksi adanya serangan pendahuluan terhadap fasilitas pelabuhan di sepanjang pantai Valligarhi."

Cafzen mengucapkannya dengan tenang.

"Kami harus mencegah hal itu. Jika tidak, rencana serangan musim semi itu sendiri bisa musnah. Selain itu, ada sedikit masalah yang terjadi di Galtuil—unit transportasi yang menuju utara menghilang."

"Menghilang? Bukan hancur?"

"Ya. Sebenarnya aku rasa mereka hancur, tapi mayat-mayatnya dibawa pergi. Kami pun menganggap ini sebagai situasi dengan tingkat ancaman yang sangat tinggi."

Aku sangat mengerti apa yang ingin dia katakan. Hilangnya satu unit adalah masalah dengan level yang berbeda dari sekadar hancur. Mungkin lebih tepat disebut sebagai fenomena aneh. Itu alasan yang cukup bagi unit intelijen untuk bergerak.

Tapi, justru itulah yang terasa mengganjal.

"Mencurigakan. Mungkin itu pengalihan, agar mereka bisa melakukan sesuatu di Ibu Kota Pertama ini."

"Bahkan jika benar begitu, tingkat ancamannya rendah. Keputusan sudah diambil bahwa itu bukan masalah besar."

Gaya bicara Cafzen terasa aneh. Seolah-olah ada atasan di atasnya. Ditambah lagi dia berani menyebut serangan ke Ibu Kota Pertama sebagai 'tingkat ancaman rendah'.

"Kami pun sedang memikirkan dan menyiapkan berbagai hal. Agar kami tetap bisa menjaga kekuatan tempur jika terjadi sesuatu yang terburuk."

Cafzen menatapku dengan penuh arti. Matanya sama seperti Adif Twibel, seperti mata orang yang sedang menyembunyikan sesuatu. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu yang benar-benar tidak beres. Itu saja yang kutahu.

"Bagaimanapun juga, tidak mungkin untuk menangani semua situasi, jadi diperlukan alokasi sumber daya manusia yang tepat."

Sumber daya manusia, katanya. Itu jangan-jangan—

"Maksudmu kami?"

"Ya. Aku datang hanya untuk memberitahu kalian agar berhati-hati."

"Sama sekali tidak membantu. Kau seperti peramal yang hanya mengatakan hal-hal buruk lalu pergi."

"Yah. Karena aku merasa bersalah, aku akan memberimu petunjuk."

Cafzen hampir tidak mempedulikan makianku. Ia mengambil buku lain, membolak-baliknya, lalu meletakkannya kembali. Gerakan matanya pun sangat cepat. Mungkin orang ini bisa membaca isi buku hanya dengan membolak-baliknya secara asal.

"Di bawah kota ini, terdapat reruntuhan dari era kerajaan lama. Kau tahu, kan? Benteng Bawah Tanah Sidphil."

"Reruntuhan... bawah tanah!?"

Mata Teoritta entah mengapa berbinar-binar, tapi aku hanya merasakan firasat buruk.

"Jangan bertele-tele, cepat katakan intinya. Aku tidak punya waktu luang."

"Sudah pasti salah satu markas faksi Simbiosis ada di Benteng Bawah Tanah Sidphil. Karena kami sudah menyelidiki Nguyen-Mausa sejak lama."

"Kalau begitu, bersihkan saja mereka sendiri."

"Tidak bisa. Pertempuran bukan keahlian kami, malah kami payah dalam hal itu. Aku sungguh merasa sedih."

Dia pasti tidak benar-benar merasa begitu. Sambil tersenyum tipis, Cafzen mengambil sesuatu yang terlihat seperti katalog arsitektur, membolak-baliknya asal, lalu meletakkannya kembali.

"Tapi bagi kiamu, bukankah itu bidang keahlianmu? Aku tahu. Bahwa kau pernah berpura-pura menjadi petualang bersama Komandan Ksatria Suci Lyufen di masa lalu."

Sekali lagi aku menyadari betapa buruknya sifat orang-orang dari unit intelijen ini. Mereka menyelidiki sampai ke hal-hal yang tidak penting.

"Eh?"

Teoritta tampak sangat terkejut. Namun, entah kenapa dia terlihat senang.

"Ksatria-ku punya masa lalu yang melakukan hal menarik seperti itu?"

"Cafzen. Jangan mengatakan hal-hal yang memberikan pengaruh buruk bagi pendidikan Goddess kami. Jika urusanmu sudah selesai, cepatlah pergi."

"Maaf soal itu. Aku akan pergi sekarang. Tapi—satu hal terakhir. Ada hal yang ingin kusampaikan. Ini informasi penting bagimu, jadi kau pasti akan berterima kasih padaku."

Informasi penting bagiku. Gaya bicara yang penuh teka-teki. Aku sangat benci sikap yang dilebih-lebihkan seperti itu.

"Aku yang akan menentukan apakah aku akan berterima kasih atau tidak. Cepat katakan."

"Unit 7110 Wilayah Utob."

Kata-kata yang diucapkan Cafzen itu benar-benar—meski menyebalkan untuk mengakuinya—sangat penting. Aku yang tadinya ingin mengacuhkannya malah terdiam sesuai dugaannya.

Unit 7110 Wilayah Utob. Itu adalah nama unit yang sangat kukenal.

Awal dari insiden yang membuatku terpaksa membunuh Senerva. Kami dari Ksatria Suci ke-5 dikirim dengan dalih menyelamatkan unit tersebut, namun kemudian kami terjebak dalam perangkap. Unit 7110 Wilayah Utob yang seharusnya kami selamatkan itu sebenarnya tidak pernah ada.

"Bukankah tadi sudah kukatakan? Unit transportasi yang menuju utara dari Galtuil menghilang. Itu adalah pesan komunikasi yang dikirim dari lokasi kejadian sebelum mereka menghilang. Mereka terus-menerus menyampaikan satu kata tertentu."

"...Jadi maksudmu, itu adalah... Unit 7110 Wilayah Utob?"

"Aku rasa unit yang mengaku dengan nama tersebut benar-benar ada. Kurasa itu adalah unit yang menjebak kalian. Unit intelijen yang digunakan faksi Simbiosis. Aku merasa mereka juga bergerak di balik pertarungan rahasia seputar Pemilihan Suci ini."

Setelah itu Cafzen berbalik pergi. Sambil meninggalkan satu senyuman yang dibuat-buat.

"Nah. Jadi ingin berterima kasih, kan?"

"Diam. Pergilah."

Hanya itu yang bisa kukatakan.

Hari itu, saat senja tiba, orang yang mengunjungi kediaman Gubernur Jenderal Simreed Colmadino adalah seorang pria.

Colmadino sudah mengetahui namanya. Namanya terkenal di kalangan perwira tinggi militer.

Thovitz Huker. Mantan tentara. Salah satu dalang di balik insiden pemberontakan bersama Prajurit Terhukum bernama Jace Partiract, yang menyebabkan tewasnya perwira dan tentara.

(Dia memang perwira staf yang hebat. Tapi, tak kusangka dia berpihak pada Fenomena Raja Iblis.)

Meskipun memiliki kemampuan luar biasa, pria itu punya satu kekurangan, yaitu ambisi. Seandainya dia tetap berada di militer pun, dia pasti tidak akan naik jabatan.

Namun, membiarkan ketajaman berpikirnya tumpul begitu saja adalah sebuah pemborosan. Aku sempat berpikir posisi yang cocok untuknya adalah menjadi ajudan Komandan Ksatria Suci.

Misalnya—aku enggan mengakuinya—jika dia dipasangkan dengan orang sejenis Xylo Forbartz, mungkin dia bisa menunjukkan kemampuannya yang sesungguhnya.

(Tapi, jika pria ini akhirnya mendapatkan sebuah ambisi...)

Itu akan menjadi ancaman besar bagi umat manusia.

Colmadino memilih seorang pelayan muda untuk menemaninya dan mengadakan pertemuan di ruang pribadinya. Meski pelayan itu tampak tegang, Colmadino merasa situasi ini tidaklah begitu berbahaya.

"Ini adalah Fenomena Raja Iblis, Fomor," ucap Tovitz sambil mengangkat sebuah kotak kecil seukuran pelukan.

"Ini akan menjadi Fenomena Raja Iblis ke-60 yang dikenali oleh umat manusia."

"Ini... terlihat sangat kecil, ya."

"Jangan khawatir. Jika diberi waktu, dia akan tumbuh sedikit lebih besar," jawab Tovitz sembari meletakkan kotak itu dengan hati-hati di atas meja.

"Setidaknya, jika sudah tumbuh sepenuhnya, ukurannya akan cukup untuk menghancurkan Ibu Kota Pertama ini."

"Jika hal sebesar itu terjadi, bukankah Sang Goddess Nubuat tidak akan tinggal diam?"

Colmadino tidak meremehkan seluruh Ksatria Suci. Di antara yang tersisa di Ibu Kota Kekaisaran, Divisi Ketiga dan Kesepuluh adalah lawan yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Khususnya Mevika Ledger, Komandan Ksatria Suci Ketiga yang memiliki Sang Goddess Nubuat. Dia adalah jenderal veteran yang sangat layak dipercaya untuk menjaga ibu kota.

"Bukankah ada kemungkinan kalian akan diserang sebelum 'pertumbuhan' itu berjalan sesuai rencana?"

"Aku akan melakukan pengalihan sebisa mungkin. Aku sudah mengerahkan bandit untuk membuat kerusuhan di wilayah timur, dan menyiapkan beberapa umpan lainnya."

"Tetap saja, belum tentu semuanya akan berjalan lancar."

Benar. Aku berbeda dari para pemimpi itu. Aku selalu menghadapi kenyataan, bahkan dari sisi yang paling pesimis sekalipun.

"Sikap lengah dan optimisme adalah pantangan. Apa kamu punya jaminan jika rencana ini gagal, Tuan Tovitz Hyuker?"

"Tentu saja. Ini berfungsi sebagai pelemah sekaligus batu loncatan sebelum serangan musim semi. Bisa dibilang ini adalah pertempuran pembuka—Unit 7110 Wilayah Yutob. Kamu tahu tentang mereka, kan? Mereka sudah bergerak."

Itu adalah nama yang sangat kukenal. Sebuah unit khusus yang digunakan oleh Fraksi Simbiotis untuk melakukan intelijen dan sabotase.

Anggotanya hanya sekitar sepuluh orang, namun mereka punya satu ciri khas. Semuanya adalah Demi-Human Fairy.

Mereka memiliki kecerdasan yang sangat tinggi, mampu berbicara, dan memahami rencana operasi dengan sangat baik. Colmadino pun pernah menggunakan kekuatan mereka sebelumnya. Tapi—

"Bukankah unit itu berada langsung di bawah komando Yang Mulia Abaddon?"

Setidaknya, itulah yang didengar oleh Colmadino. Alasan para Demi-Human Fairy mematuhi perintah manusia hanya ada satu.

Yaitu karena Fenomena Raja Iblis yang menciptakan mereka memerintahkannya. Selama ini, Fraksi Simbiotis hanya meminjam Unit 7110 dari Fenomena Raja Iblis Abaddon sesuai kebutuhan.

Padahal Abaddon telah dimusnahkan di Ibu Kota Kedua. Berarti, sekarang sudah ada penggantinya.

"Yang Mulia Abaddon, yang telah memprediksi hal ini akan terjadi, telah menyerahkan hak komando kepada seseorang. Lalu melalui orang tersebut, aku ditunjuk sebagai komandan. Kali ini, aku diperintahkan untuk mendukungmu semaksimal mungkin, Gubernur Colmadino."

(Begitu rupanya.)

Pikir Colmadino. Pria ini tampaknya telah merasuk cukup dalam ke pusat Fenomena Raja Iblis.

(Unit 7110 Wilayah Yutob. Meski jumlahnya sedikit, mereka adalah unit yang kuat.)

Colmadino tahu betul. Dulu, dia menggunakan unit itu untuk menyingkirkan pria bernama Xylo Forbartz dan Ksatria Suci yang dipimpin oleh Goddess-nya.

Terkadang, ingatan itu muncul kembali.

Saat di mana aku diselamatkan oleh Xylo Forbartz. Kala itu, sekawanan Demi-Human Fairy yang dipimpin oleh Fenomena Raja Iblis menyerbu wilayah kekuasaan Colmadino.

Xylo dan Divisi Kelima Ksatria Suci adalah pihak yang datang memberikan bantuan. Tidak, tidak seharusnya aku menyebut itu sebagai bantuan.

(Padahal di pihak sini, kesepakatan dengan sisi Fenomena Raja Iblis sudah dibuat. Itu seharusnya menjadi pertempuran yang sudah diatur.)

Sejak saat itu, Colmadino sudah menjalin kontak dengan Fenomena Raja Iblis. Invasi itu sendiri adalah hasil dari kesepakatan dan upaya negosiasi.

Kontraknya adalah: membiarkan satu desa di perbatasan diserang, sebagai ganti perjanjian non-agresi selama satu tahun. Itulah kesepakatannya.

Namun 'bantuan' dari Divisi Kelima justru menghancurkan segalanya. Setelah memukul mundur para Demi-Human Fairy, Xylo Forbartz melabrak masuk ke kastel Colmadino.

"Apa yang sedang kau lakukan di tempat seperti ini?"

Aku ingat suaranya terdengar seperti geraman anjing liar.

"Untuk apa ada prajurit? Kau mengumpulkan mereka sebanyak ini di dalam kastel, apa kau berniat mengurung diri? Apa kau masih pantas disebut penguasa? Kau tahu desa itu diserang, tapi kau berniat membiarkan mereka?"

"Tapi,"

Colmadino membantah saat itu.

"Siapa yang harus diselamatkan dan siapa yang harus dikorbankan. Mengambil keputusan pahit adalah tugas seorang penguasa. Kita tidak bisa membasmi Fenomena Raja Iblis sampai akar-akarnya, jadi kita harus berkompromi di suatu titik—"

"Apa kita punya hak untuk mengatakan itu?"

Mata Xylo Forbartz dipenuhi kemarahan yang meluap-luap.

"Bisakah kau mengatakan itu di depan prajurit yang bertempur di garis depan, atau di depan seseorang yang menjadi korban? Kau benar-benar tidak tahu malu. Fenomena Raja Iblis akan kita basmi. Jika kita tidak berniat melakukannya, lalu siapa lagi?"

Sikap yang sangat sombong. Dan yang paling tidak tertahankan adalah, dia memandangku rendah. Colmadino merasakan kemarahan yang memuakkan.

Orang seperti inilah yang menyeret orang-orang ke dalam peperangan yang tidak mungkin dimenangkan.

"...Aku tidak punya kata-kata untuk membalasnya. Sepertinya, aku telah salah."

Colmadino entah bagaimana berhasil menahan amarah dan rasa jijik di dalam hatinya. Dia bahkan mengucapkan kata-kata penyesalan.

Itu adalah penghinaan terbesar bagiku.

(Si pemimpi. Membasmi Fenomena Raja Iblis itu mustahil.)

Aku merasa usahaku telah dihina. Demi melindungi wilayahku, aku telah melakukan segalanya dengan pengorbanan minimal. Itu mungkin dilakukan karena aku melihat kenyataan.

Sejak saat itu, bukan sekadar untuk jaminan keamanan, Colmadino mulai bergerak sebagai anggota Fraksi Simbiotis yang sesungguhnya. Sekitar setengah tahun kemudian, dia menjebak Xylo Forbartz dan Goddess-nya.

"—Kalau begitu, Tuan Colmadino. Dalam rencana kali ini, aku telah diberikan wewenang penuh atas kebijakan yang diambil."

Tovitz Hyuker terus menatap wajahnya. Colmadino merasa sedikit tidak nyaman. Apakah emosi yang baru saja terlintas di pikirannya terlihat?

"Semua ini dilakukan agar rencana serangan musim semi gagal. Anda mengerti, kan?"

"Itu adalah keputusan kolektif dari Fenomena Raja Iblis, bukan?"

"Anda boleh menganggapnya begitu. Karena ini adalah kehendak dari 'Raja' yang menyatukan mereka."

"'Raja' dari Fenomena Raja Iblis... katamu?"

Colmadino tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Tanpa sadar, dia menatap tajam mata Tovitz.

"Makhluk seperti itu benar-benar ada? Apa kau pernah bertemu dengannya?"

"Dia adalah sosok yang sangat menarik. Bahkan bagiku, sulit untuk menyelami isi hatinya—"

"...Topik yang cukup menarik. Seperti apa sosok Raja itu?"

"Sebaiknya jangan terlalu ingin tahu. Raja tidak menyukai hal itu."

Sesaat, Tovitz menoleh ke luar jendela. Mungkin saja mereka sedang diawasi dengan cara tertentu. Namun, bagi Colmadino, yang terlihat hanyalah langit mendung yang tertutup salju.

"Aku menantikan peranmu, Gubernur Colmadino. Untuk kekuatan tempur, ini sudah cukup, kan? Aku akan menitipkan satu sosok Fenomena Raja Iblis di sini."

Tovitz mengetuk kotak kecil di atas meja.

"Lagipula, ada 'Guru' yang kau sembunyikan. Dengan kekuatan itu, tidak mustahil untuk memberikan pukulan telak pada Ibu Kota Pertama, atau lebih tepatnya, pada Ksatria Suci."

"...Kau sudah tahu, ya."

Dia sudah menyadarinya. 'Guru'. Keberadaan itulah kartu as yang disembunyikan Colmadino.

Fenomena Raja Iblis yang dia ajak bekerja sama tiga tahun lalu untuk membunuh Xylo Forbartz. Hingga kini, dia masih menyembunyikan keberadaan itu di bawah perlindungannya.

Meski begitu, Colmadino tidak menunjukkan keterkejutan atau rasa jijik di wajahnya.

"Kalau begitu, silakan nantikan hasilnya. Aku akan membuktikan seberapa bergunanya aku."

"Ya. Silakan lakukan itu."

Jawaban Tovitz sangat singkat dan tanpa emosi. Ketidakpeduliannya terhadap orang lain sepertinya tidak banyak berubah sejak dulu.

"Selanjutnya, pelaksanaan rencana kuserahkan padamu. Aku harus menuju lokasi berikutnya. Jika berhasil, keinginan Gubernur pasti akan terkabul."

"Haha! Keinginanku bukanlah hal yang muluk-muluk."

Itu benar. Jauh di dalam lubuk hatinya, ada sesuatu yang sangat diinginkan Colmadino. Jika seseorang benar-benar memikirkan cara menghindari kehancuran, ini adalah kesimpulan yang wajar.

"Yang kucari hanyalah dunia tanpa konflik. Hanya itu. Aku sangat mendambakan perdamaian antara umat manusia dan Fenomena Raja Iblis."

"Begitu ya. Aku setuju sepenuhnya. Aku juga hanya ingin menghabiskan waktu di dunia yang damai bersama sosok yang kucintai. Hanya itu saja."

Setelah mengatakannya sambil tersenyum, Tovitz berdiri. Itu menandakan pertemuan telah berakhir. Ini adalah pertemuan rahasia yang tidak resmi. Sebaiknya mereka tidak mengobrol terlalu lama.

"—Kalau begitu, tolong antar Tuan Tovitz. Pastikan tidak ada yang melihatnya."

"Baik. Serahkan padaku."

Colmadino memberi perintah. Pelayan muda yang bersiaga di sampingnya menjawab dengan sigap dan mengantar Tovitz menuju pintu belakang.

Itu dekat dengan jalur rahasia yang juga berfungsi sebagai jalur pelarian darurat di kediaman Colmadino. Sambil memandang punggung mereka, Colmadino berpikir.

Langkah yang harus diambil sudah dijalankan. Tidak ada orang yang memikirkan masa depan seserius dirinya.

(Karena itulah, aku tidak mungkin gagal. Ini demi umat manusia. Aku harus melakukannya.)

Musuh yang harus dihadapi sekarang sudah jelas. Orang-orang yang bergerak untuk menghalangi rencana Colmadino sudah terlihat dengan nyata.

Xylo Forbartz dan Unit Pahlawan Hukuman. Jika mereka bangkit kembali meski sudah dibunuh, maka aku akan membunuh mereka berkali-kali—sampai kepribadian mereka terkikis dan musnah sepenuhnya.


Hukuman

Operasi Intervensi Pemilihan Suci Lugh Allos 2

──Festival Pembukaan Gerbang Ruf Aros tinggal enam hari lagi.

Bagi kuil, objek pemujaan mereka adalah Goddess. Bahkan Venetim pun mampu melafalkan kisah penciptaan yang mereka ajarkan.

“Pertama, ada sebuah permulaan.”

Dari satu kalimat itulah, mitologi dimulai.

“Dunia yang tidak memiliki permulaan tentu tidak pernah dimulai, sehingga tak akan pernah diceritakan. Segala sesuatu berada dalam keniscayaan. Dunia ini lahir dari keajaiban yang disebut permulaan.”

Singkatnya, fakta bahwa “mitologi diceritakan” itu sendiri secara paradoks menjamin awal mula dunia—begitulah katanya.
Bagi Venetim, itu terdengar tak lebih dari permainan kata yang nyaris tak bermakna.

Namun, banyak orang memercayai keberadaan mitologi tersebut, dan mereka pun tak tahu bagaimana cara lain untuk mendefinisikan awal dunia.
Yang jelas, dunia ini memiliki sebuah “permulaan”, dan dari sana—entah apa yang dipikirkannya—lahirlah
Goddess demi kemakmuran umat manusia.

Tempat untuk mempersembahkan doa kepada para Goddess itulah yang disebut kuil.
Skala dan jumlah kuil berbanding lurus dengan populasi kota.

Jika berbicara tentang Ibu Kota Kerajaan Pertama, bahkan hanya yang diakui secara resmi saja, terdapat delapan kuil di dalam kota.
Jika termasuk yang berada di lahan balai warga atau tempat pertemuan lainnya, jumlahnya pasti lebih banyak.

Di antara semua kuil di Ibu Kota Kerajaan Pertama itu, jika ditanya mana yang paling kecil, jawabannya pasti Kuil Chikata di Distrik Barat. Tampilannya seolah hanya menyisakan fasilitas paling minimum.

Konon sejarahnya cukup tua, tetapi hampir tak ada ornamen yang berfungsi menciptakan suasana sakral.
Kesederhanaannya mencolok.

Jumlah rohaniwan yang bertugas pun hanya satu orang.
Namun, dia adalah seorang Uskup Agung.

Nikold Ebuton.

Usianya seharusnya belum genap empat puluh tahun.
Di antara para Uskup Agung, ia tergolong luar biasa muda.

Saat ini, jumlah pemegang gelar Uskup Agung ada dua puluh delapan orang.
Jika Nikold Ebuton dikecualikan, rata-rata usia mereka melampaui lima puluh tahun.

Biasanya, pada usia itulah seseorang direkomendasikan.
Artinya, Ebuton telah mengumpulkan prestasi yang layak menyandang gelar Uskup Agung di usia muda, serta mendapatkan dukungan dari internal kuil.

(──Namun demikian)

Venetim Leopool berpikir demikian sambil menatap Kuil Chikata yang kecil itu.

(Apa alasan di balik kesederhanaan kuil ini?)

Tampilannya bahkan sudah melampaui kata sederhana—lebih tepat disebut kumuh.

Bangunannya jelas sudah sangat tua.

Kerusakan terlihat di sana-sini, tetapi sama sekali tak ada tanda-tanda perbaikan.
Bahkan panti asuhan yang berdampingan dengannya terlihat lebih layak, sampai-sampai awalnya Venetim mengira itulah bangunan utama kuil.

(Meski begitu… hal seperti ini jelas tak mungkin kukatakan langsung pada orangnya)

Venetim punya tujuan.

Untuk mencapainya, ia tak boleh menyinggung perasaan Uskup Agung Ebuton, walau hanya sedikit.

Ia tentu harus berhati-hati, tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah salah satu pria yang ia bawa sebagai pengawal──

“Wah, ini lebih bobrok dari yang kubayangkan. Nggak punya uang buat renovasi, ya? Mirip barak pasukan kita.”

Xylo tampaknya mengucapkan begitu saja apa yang ia rasakan.

Inilah masalahnya.

Sifat Xylo yang bicara tanpa memedulikan posisi lawan benar-benar mengkhawatirkan.
Namun, Venetim juga tak bisa menolak keikutsertaannya.

“Kalau dibiarkan sesukanya, aku nggak tahu apa yang bakal dia lakukan.”

Begitu katanya.

Sungguh tidak adil—Venetim sendiri punya kesan serupa terhadap Xylo.

“Xylo, tolong jangan mengatakan hal seperti itu di depan Uskup Agung nanti… katanya beliau orangnya sulit.”

“Kenapa kamu segitunya takut? Aku juga nggak bodoh. Ya, aku bakal hati-hati.”

“Tuh kan! Kamu bilang ‘ya, setidaknya’. Itu yang bikin aku cemas. Berdasarkan pengalamanku, orang yang berpikir begitu biasanya malah keceplosan, kan, Xylo?”

“Ya, ya, aku bakal hati-hati.”

Pengulangan kata “hati-hati” itu sendiri sudah cukup meresahkan, tetapi Venetim menelan keluhannya.
Mungkin seharusnya ia hanya membawa satu pengawal saja.

Seseorang yang tak akan pernah mengatakan hal tak perlu dalam negosiasi seperti ini.
Pahlawan paling dapat dipercaya yang Venetim kenal.

Menurut Xylo, infanteri terbaik.

Singkatnya, dia.

“Mohon bantuannya, Tatsuya. Ini misi yang sangat penting—eh?”

Suara Venetim berbalik aneh di akhir kalimat.

Saat ia menoleh, pria besar yang seharusnya berdiri diam justru melakukan sesuatu yang jelas-jelas aneh.
Ia berputar dengan kecepatan luar biasa.

Di kedua lengannya tergantung beban berbentuk manusia—tidak, salah.
Itu anak-anak.

Dua anak kecil yang masih sangat muda bergelantungan di kedua lengannya saat ia berputar.

“Ahahahaha!”

Anak yang bergelantungan di lengan Tatsuya tertawa riang.

“Cepet banget! Apa ini? Seratus kali lebih keren dari Pak Nikold!”

“Apa ini?! Om, kepalamu nggak pusing?”

Entah sejak kapan, anak-anak lain berkumpul di sekitar Tatsuya yang berputar.

Mereka menyemangatinya, bahkan tampak mengantre giliran.

Mungkin mereka anak-anak panti asuhan.

Mereka bergelantungan di lengan Tatsuya, memperlakukannya seperti wahana bermain.

(Apa aku sampai setegang ini, sampai-sampai tak menyadari keributan sebesar ini?)

Venetim merasakan sakit kepala.

Ini bukan pertama kalinya.
Setiap kali Tatsuya berada di tempat dengan banyak anak, ia akan berubah menjadi teman bermain—atau pengganti alat bermain.

“Apa yang kamu lakukan, bodoh! Tatsuya, kamu juga, tolak mereka! Ini bukan waktunya main-main!”

Xylo mencoba menarik anak yang menempel pada Tatsuya.
Wajahnya seharusnya terlihat garang dan menakutkan, tetapi tak satu pun anak tampak takut.

Sebaliknya, mereka tertawa sambil berlarian mengelilingi Xylo.

“Ahahahaha! Keren! Asli! Ini Xylo yang asli!”

“‘Elang Petir’! ‘Elang Petir’!”

“Kan sudah kubilang! Pasti Pahlawan Penghukum yang asli!”

Keributan itu membuat Xylo tampak pusing.
Ia memegangi kepala dan berjongkok, posisinya sejajar dengan pandangan anak-anak.

“Oi… ini apa maksudnya? Kalian kenal aku?”

“Iya! Kamu terkenal. Katanya kamu meledakkan kastel Zeiarente dan menghancurkan fenomena Raja Iblis sekaligus.”

“Kamu juga duel satu lawan satu sama Abaddon, terus mematahkan semua tulangnya pakai tangan kosong, kan.”

“Habis itu, kamu makannya dari kepala!”

Bahkan menurut Venetim, itu kebohongan yang keterlaluan.

Namun, satu di antaranya memang benar—duel satu lawan satu melawan Abaddon dan mematahkan seluruh tulangnya dengan tangan kosong.

Itu artikel yang Venetim tulis tiga hari lalu di koran Ribio-ki demi uang saku.

Tentu saja, Venetim tak mengungkapkan fakta tak perlu tersebut.

“…Aku tiba-tiba capek banget. Venetim, urus ini.”

“Eh… iya. Maaf, semuanya. Bisa tolong dihentikan dulu?”

Karena Xylo menunduk dan tak bergerak, Venetim angkat bicara dengan hati-hati.

“Orang ini ada pekerjaan setelah ini. Dia pengawalku.”

“Eeh! Nggak seru!”

“Udah selesai?”

“Maaf. Tatsuya, kita pergi. Tolong berhenti dulu.”

Begitu dikatakan, Tatsuya berhenti seketika.

Sebagai pengawal, ia nyaris sempurna, tetapi kadang bertingkah aneh di luar dugaan.
Itulah satu-satunya hal yang mengkhawatirkan.

Bahkan jika berhadapan dengan anak-anak, Tatsuya tampak hampir tanpa syarat mematuhi perintah orang lain—seolah tak memiliki fungsi untuk menolak.

“Eh.”

Tanpa disadari, salah satu anak menatap Venetim dari bawah.

“Kamu datang mau ketemu Pak Nikold, ya?”

“Iya. Ada sesuatu yang ingin kumohonkan.”

“Kalau gitu, mending jangan. Kadang ada orang dewasa datang buat ketemu beliau, tapi biasanya dimarahi terus pulang.”

“Eh…?”

“Apalagi kamu, mukamu kelihatan super mencurigakan. Pasti dimarahi. Emang ada urusan apa?”

“E-eh, itu… sebenarnya…”

Venetim terdiam, ragu-ragu, lalu memutuskan untuk mengatakan saja.

“Kami ingin Uskup Agung Ebuton menjadi Uskup Agung Ketua.”

Menurut Adif Tsuibel, hanya Nikold Ebuton satu-satunya Uskup Agung yang dengan yakin bisa dikatakan tidak terlibat dengan faksi koeksistensi.

Jika orang ini berada di puncak, dan kuil bersatu dengan militer, itu akan menjadi kekuatan besar dalam rencana serangan balasan musim semi.

Karena kuil memiliki Goddess, pengaruhnya terhadap Ordo Ksatria Suci—yang tak bisa mengabaikan kehendak kuil—akan sangat besar.

Pembatasan ideologis seperti “pertahanan adalah satu-satunya tugas Ksatria Suci” pun akan disingkirkan.

Ebuton dianggap kandidat terbaik untuk melaksanakan hal itu.
Ia tak berpihak pada faksi mana pun, dan mampu membuat keputusan yang adil serta tepat.

Jika ada satu masalah saja──Venetim teringat kata-kata Adif Tsuibel.

“Uskup Agung Ebuton itu luar biasa keras kepala.”

Kalau begitu, dia jelas tipe orang yang paling sulit dihadapi Venetim.

Seolah membenarkan firasat itu, anak yang berbicara tadi menyeringai.

“Belum lama ini juga ada orang kayak gitu datang. Katanya mau minta direkomendasikan.”

“…Lalu, bagaimana nasib orang itu?”

“Ditendang keluar, terus kabur secepat mungkin.”

Venetim menelan ludah.
Firasat buruknya semakin kuat.

Meski begitu, mereka tetap harus masuk.

“Kayaknya orangnya ribet…” gumam Xylo sambil bangkit dan memutar lehernya.

“Ya mau gimana lagi. Kita harus jalan terus.”

“Xylo, kalau diserang, tolong jangan langsung balas, ya…”

“Mana mungkin! Kalau orang yang mau kita calonin malah aku lukai, buat apa? Serius deh, kamu nganggep aku apa sih.”

Perwujudan kekerasan.
Kata-kata itu hampir keluar dari tenggorokan Venetim, tetapi ia menahannya.

Sebagai gantinya, ia menepuk bahu Tatsuya.

“Tatsuya, ayo. Kalau aku hampir diserang, tolong lindungi aku—eh, Tatsuya? Kamu dengar?”

“Uu…”

“Jangan-jangan kamu pusing?”

“Uu…”

“…Tarik napas dulu sebelum kita masuk.”

Ia sendiri juga sangat membutuhkannya.

Bagian dalam kuil bahkan lebih sederhana daripada tampilannya.
Hanya ada kursi-kursi yang disusun seadanya dan altar yang retak.

Tak terlihat dupa ritual, tempat lilin, ataupun hiasan perak berbentuk Segel Suci Agung.

Dan Nikold Ebuton sendiri ternyata jauh melampaui dugaan.

“Tidak.”

Uskup Agung Ebuton mengucapkannya sambil menggosok lantai dengan kain pel. Ia bahkan tak mengangkat wajahnya.

“Aku tak berniat terlibat dalam Pemilihan Suci. Mencari kekuasaan dengan kehendak sendiri bertentangan dengan imanku.”

Cara bicara Ebuton tajam, keras, seperti memahat batu hanya dengan pahat.

“Aku juga tidak akan memilih siapa pun. Menurutku, saat ini tak ada sosok yang layak menjadi Uskup Agung. Aku akan menghadiri Pemilihan Suci, tetapi aku akan memberikan suara kosong.”

“Namun, Uskup Agung…”

Didorong oleh tatapan Xylo yang berdiri diam di sampingnya, Venetim berusaha bertahan.

“Saat ini kuil justru membutuhkan sosok luhur seperti kamu—”

“Sudah kubilang tidak. Aku tak akan terpengaruh bujuk rayu. Terutama dari kamu—bau penipu sangat kuat darimu.”

Wajahnya bahkan tidak mendongak, namun ia bisa menilai situasi hanya dari suaranya saja. Venetim diam-diam merasa kagum. Tampaknya Xylo pun merasakan hal yang sama.

"Kau benar. Pendeta Agung, pengamatan yang tajam."

Sambil bertepuk tangan pelan, Xylo membungkuk di hadapan Pendeta Agung itu. Layaknya seorang berandal, ia mencoba mengintip wajah Ivton yang sedari tadi terus menyapu. Sikapnya benar-benar terlihat tidak sopan.

"Orang ini penipu. Gara-gara itu dia tertangkap dan jadi Prajurit Hukuman. ...Tapi, memang benar kalau Kuil membutuhkanmu. Kita harus melakukan sesuatu terhadap Fenomena Raja Iblis."

"Kuil, ya? Bukankah militer yang membutuhkanku?"

Jawaban Ivton terdengar jernih dan tegas.

"Memang benar, pembasmian Fenomena Raja Iblis adalah hal yang diperlukan. Aku mengakuinya."

"Pembasmian, ya? Kata-kata yang bagus."

"Basmi sampai ke akarnya. Tidak ada jalan lain."

Ivton mengucapkannya dengan lugas. Ia melirik Xylo sekilas, lalu kembali fokus pada pekerjaannya.

"Jika aku adalah Pendeta Agung Utama, aku akan mengeluarkan kebijakan untuk mengoperasikan Ordo Ksatria Suci secara agresif. Cara Pendeta Agung Utama sekarang yang hanya berfokus pada pertahanan wilayah manusia itu terlalu lamban."

"Kalau begitu, bukankah seharusnya kau saja yang jadi pemimpin? Sebelum semuanya terlambat."

"Meskipun begitu, aku tidak akan mencari kekuasaan atas kemauanku sendiri. Ini adalah prinsip yang tidak bisa diganggu gugat, Xylo Forbartz."

"Cih... sudah kuduga, harusnya aku tidak datang. Kau mengenalku?"

Xylo berdiri sambil mengacak-acak rambutnya. Mantan Komandan Ordo Ksatria Suci. Benar juga, bagi seorang Pendeta Agung, mustahil dia tidak mengenali wajah pria ini.

"Mantan Komandan Ksatria Suci Forbartz. Aku tidak tahu kenapa kau harus memikul dosa. Namun, bukankah kondisimu yang sekarang adalah hasil dari caramu mempertahankan keyakinanmu?"

"Keyakinan bukanlah barang semewah itu. ...Pada akhirnya, aku rasa aku telah salah jalan."

"Aku pun mungkin salah. Namun, aku berniat mati demi hal-hal yang tidak bisa kulepaskan."

Mendengar kata-kata itu, Xylo menggelengkan kepala seolah menyerah. Ia mengangkat tangan, menunjukkan gestur angkat tangan.

Nicold Ivton bahkan tidak menoleh ke arahnya.

"Cukup, pembicaraan selesai. Aku harus membersihkan kuil untuk ibadah rutin, dan masih ada pendidikan untuk anak-anak panti asuhan. Aku juga harus memimpin kegiatan pembersihan distrik dan pembersihan salju."

"Eh...?"

Venetim merasa mendengar sesuatu yang mengejutkan.

Membersihkan kuil atau mengajar di panti asuhan seharusnya dilakukan oleh para penganut, atau setidaknya setingkat Pendeta. Itu bukanlah tugas yang seharusnya dilakukan oleh seseorang setingkat Pendeta Agung.

"Anu, bukankah hal seperti itu sebaiknya diserahkan kepada penganut atau pendeta di kuil ini?"

"Tidak ada. Karena itulah aku sibuk. Meski ada beberapa sukarelawan yang membantu. Mulai dari dapur umum, pengajaran, hingga bantuan untuk pengungsi, tugasnya tidak ada habisnya."

Venetim semakin terperangah. Seorang Pendeta Agung mengelola kuil sendirian? Ia mengira setidaknya ada asisten meski nama mereka tidak terdaftar secara resmi.

"Kau terlihat terkejut, ya?"

Perasaan Venetim terbaca dengan mudah. Ia merasa seperti sedang dimarahi dan menjadi gelisah. Karena tak punya pilihan, ia mengutarakan apa yang ada di pikirannya.

"Tidak. Maksud saya, jika Anda menjadi Pendeta Agung Utama, Anda bisa mengumpulkan donasi dan mengelola kuil dalam skala yang lebih besar—dan memberikan bantuan yang lebih luas."

Ivton mendengus pelan mendengar pendapat itu sambil memeras kain pelnya.

"Semua donasi yang terkumpul kuberikan kepada orang lain. Kepada para pendeta pengembara yang beraksi di luar Ibukota Pertama."

"Memberikannya begitu saja... maksud Anda bukan investasi? Hanya sekadar pemberian cuma-cuma?"

"Benar. Biarkan mereka menggunakannya sesuka hati. Justru di daerah terpencil itulah terdapat orang-orang yang harus diselamatkan. Iman adalah benteng hati. Hal itu sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang terpapar dampak Fenomena Raja Iblis."

Sambil berkata demikian, Ivton berdiri dan menepuk pinggangnya.

Tubuhnya ternyata lebih pendek dari dugaan. Mungkin lebih pendek dari Venetim. Namun, saat berhadapan langsung, ada aura intimidasi yang luar biasa darinya.

"Ha! Kau benar-benar teguh pada pendirian, ya, Pendeta Agung."

Xylo tertawa kecil. Ia tampak senang, entah apa yang menurutnya lucu. Terkadang Venetim sulit memahami selera humor pria itu.

"Jika terus begini—apa suatu saat kau berniat meninggalkan kuil ini dan pergi melakukan perjalanan syiar ke daerah-daerah?"

"Sepertinya kau mengerti. Jika bisa, aku ingin melakukannya, tapi aku tidak bisa menelantarkan anak-anak panti asuhan begitu saja. Tidak ada orang lain yang bisa kupercayai untuk menyusun rencana pendidikan. Bahan ajar pun membutuhkan biaya."

"Ah! I-itu dia! Di situ poinnya, Pendeta Agung!"

Venetim merasa menemukan celah kecil. Ia segera menyela dengan semangat.

"Saya mengerti kondisi ekonomi panti asuhan Anda. Pasti sulit mempertahankan operasional sebesar ini hanya dari donasi warga sipil. Jika terus begini, cepat atau lambat panti asuhan ini akan ditutup atau dikurangi skalanya, bukan?"

Pengurangan skala. Dengan kata lain, itu berarti harus memilih anak yatim mana yang akan diselamatkan. Venetim yakin hal itu bertentangan dengan prinsip pria bernama Ivton ini.

"Oleh karena itu! Pendeta Agung Ivton, dengan Anda berdiri di puncak kuil, Anda bisa memperbarui sistemnya, dan melalui reformasi tersebut, cita-cita Anda—"

"Jika sebuah fasilitas berdiri atas kebaikan hati orang-orang, maka wajar saja jika ditutup saat kebaikan itu terhenti."

Jawaban Ivton sangat telak, tidak memberikan ruang untuk berdebat. Suaranya terdengar sekeras baja.

"Aku pun pernah berpikir untuk mereformasi kuil. Namun, membelokkan imanku sendiri demi tujuan itu adalah sebuah kesalahan besar. Dengar baik-baik. Seberapa mulia pun tujuan yang kau usung, cara untuk mencapainya tidak boleh salah. Apa nilai dari sebuah tujuan yang dicapai dengan membuang keyakinan?"

Cara bicaranya mengingatkan Venetim pada seseorang. Norgalle. Tekad mereka terasa mirip.

"Dalam situasi apa pun, jangan pernah berkompromi. Kompromi kecil akan melahirkan kompromi yang lebih besar. Mencari kekuasaan demi keinginan sendiri, bagiku, adalah sebuah kompromi kecil."

"Tapi, jika begitu, bagaimana dengan anak-anak itu?"

"Aku adalah orang yang sangat egois. Setidaknya, aku akan menjalani hidup yang sama dengan mereka di luar sana. Sebenarnya, doa tidak membutuhkan bangunan kuil. Itu hanyalah simbol yang mudah dikenali untuk menyebarkan ajaran."

Venetim sama sekali tidak bisa memahami pola pikir tersebut. Di saat yang sama, ia menyadari satu hal. Mustahil untuk mengubah pikiran Pendeta Agung ini.

"E-eh, Xylo-kun. Ada usulan dariku."

Sekali lagi—benar-benar hanya sekali ini—Venetim menatap Xylo. Ia merasa ini sudah benar-benar mustahil. Namun, Xylo hanya membalasnya dengan tatapan tajam bak binatang buas.

"Ada yang mau kau katakan? Kau mau menyerah karena ini terlihat mustahil?"

"T-tidak... kalau begitu, anu, Pendeta Agung! Seandainya. Ini hanya seandainya."

Akhirnya Venetim memutuskan untuk memastikan satu hal terakhir.

"...Jika Pendeta Agung lainnya merekomendasikan Anda sebagai Pendeta Agung Utama?"

Menurut aturan kuil, subjek yang bisa dipilih dalam Pemilihan Suci bukan hanya mereka yang mencalonkan diri. Jika ada rekomendasi dari lima Pendeta Agung lainnya, orang tersebut berpeluang terpilih menjadi Pendeta Agung Utama.

"Jika direkomendasikan, apakah Anda akan menolaknya?"

"Tidak. Jika demikian, aku tidak akan menolak. Itu adalah aturan kuil, dan jika aku terpilih tanpa mencari kekuasaan—itu berarti imanlah yang telah memilihku. Hanya saja, kemungkinan itu tidak akan ada."

Ivton tersenyum tipis, lalu akhirnya berbalik menatap Venetim dengan jelas.

"Para Pendeta Agung yang tenggelam dalam perebutan kekuasaan itu tidak mungkin memilihku. Mereka—"

Kata-kata Ivton terhenti, matanya menyipit. Ia tidak menatap Venetim maupun Xylo, melainkan menatap Tatsuya. Venetim refleks menoleh, tapi tidak ada yang berubah.

Tatsuya hanya menatap ruang hampa dengan wajah tanpa ekspresi dan linglung. Tatapannya membuat orang berpikir bahwa ia bahkan tidak melihat Ivton.

"A-anu. Ada apa dengan Tatsuya?"

"Bukan apa-apa."

Nicold memalingkan wajah dari Tatsuya dan beralih menatap altar.

Di dinding belakang, terdapat satu-satunya simbol yang menunjukkan keyakinan di kuil ini. Sebuah lukisan. Lukisan yang menggambarkan sang Goddess dan para pengikutnya. Warnanya sederhana, namun goresan kuasnya begitu halus, terasa tidak serasi dengan kondisi kuil yang sederhana ini.

"Anu, Pendeta Agung?"

"Lupakan. —Segeralah pulang. Tidak ada telinga untuk kata-kata kalian."

Kalau sudah begini, tidak ada gunanya lagi. Seperti dugaan, mereka kehabisan langkah—Xylo mendengus kesal, Venetim menghela napas, dan menepuk bahu Tatsuya.

Tidak ada pilihan selain menggunakan cara terakhir.

Yaitu, suap.

Malam itu. Venetim dan Xylo berakhir dengan minum-minum di barak militer.

"Keadaannya jadi gawat, ya."

Xylo bergumam setelah menenggak habis segelas anggur. Kata-kata "keadaannya jadi gawat" biasanya adalah kalimat andalan Venetim atau Dotta, tapi hari ini Xylo-lah yang mengucapkannya.

"Pendeta Agung itu benar-benar lawan yang merepotkan."

"...Iya. Kalau begini terus, kita bahkan tidak bisa membuatnya mencalonkan diri."

"Bagaimana dengan kandidat lawan? Bukankah terkadang pemungutan suara berakhir seri dan tidak bisa diputuskan hanya dengan satu kali Pemilihan Suci? Apa kita tidak bisa mengulur waktu untuk membujuknya saat pemilihan ulang?"

"Sulit. Ada tiga orang kuat, dan salah satunya jauh lebih unggul dari yang lain."

Saat ini, jumlah Pendeta Agung yang ditetapkan oleh kuil adalah dua puluh delapan orang.

Di antara mereka, ada tiga kandidat kuat untuk posisi Pendeta Agung Utama. Kandidat yang paling diunggulkan adalah seorang Pendeta Agung bernama Milose. Menurut rumor, posisinya semakin kuat. Jika terus begini, dia pasti akan terpilih.

'Nenek Milose itu pintar mengelola segalanya,' begitulah informasi yang didapat Venetim saat minum di Serikat Petualang.

'Dia pintar menyeimbangkan faksi netral dan dia punya banyak uang. Dia meminjamkan uang pribadinya ke akademi kuil atau serikat pengrajin. Semua orang berutang budi padanya... Memang di dunia ini, yang punya uanglah yang menang.'

Meminjamkan uang adalah cara yang sangat cerdik. Lebih tepatnya, itulah cara yang normal dilakukan. Nicold, yang memberikan donasi cuma-cuma kepada orang lain, justru yang dianggap aneh.

'Sepertinya Perusahaan Varcle juga memberikan dukungan. Kali ini, si nenek itu sudah pasti menang.'

Menghancurkan faksi Milose yang merupakan kekuatan terbesar, lalu membujuk atau menyuap mayoritas Pendeta Agung yang memiliki hak pilih—hal seperti itu mustahil bagi Venetim. Lagipula, Venetim tidak memiliki ketabahan, semangat, maupun dana militer yang cukup.

(Mari gunakan cara yang lebih mudah saja.)

Begitulah cara berpikir Venetim.

Pokoknya, carilah jalan yang semudah mungkin. Hindari kesulitan, dan sebisa mungkin ambil jalan pintas. Akibatnya, ia terus-menerus berbohong, dijuluki penipu, dan sekarang berakhir sebagai Prajurit Hukuman.

Meski begitu, ia sama sekali tidak berniat untuk bertaubat. Merenungi kesalahan hanya akan membuatnya merasa buruk dan merepotkan.

"Aku hanya terpikir untuk mengancamnya, tapi Ivton tidak akan mencalonkan diri meski diancam."

Xylo menenggak minumannya dengan nada agak putus asa.

"Kalau begitu, sisanya tinggal cara formal. Jika Teoritta yang memohon secara langsung... tidak, itu juga mustahil. Pendeta Agung itu tidak akan mengubah pikirannya bahkan jika itu adalah kata-kata Goddess."

Untuk ukuran Xylo, itu adalah pujian yang tinggi. Ia bahkan menambahkan sapaan hormat. Itu adalah bukti bahwa ia menaruh rasa hormat. Hal yang sangat langka.

"Jadi bagaimana? Aku akan sangat marah jika Adif berkata 'sudah kuduga pasti gagal'. Apalagi, menurut Kahzen, di balik masalah ini ada pihak faksi Simbiosis—"

Ia berhenti bicara dan terdiam. Matanya menunduk, ia berpikir sejenak, lalu menuangkan anggur lagi.

"Sudahlah. Venetim, apa kau punya ide? Jujur saja, aku hampir menyerah."

Mau bagaimana lagi. Sejak awal, ini bukan jenis pekerjaan yang cocok untuk Xylo.

Menurut Venetim, Xylo terlalu tidak peduli pada politik atau urusan duniawi. Bahkan jika ia mencoba berpikir serius, yang terpikirkan hanyalah cara-cara formal.

(Itu artinya... aku yang harus melakukan sesuatu...!)

Rasanya sangat berat. Namun, setidaknya lebih baik daripada tidak tahu harus berbuat apa. Jika ia tidak tahu apa yang harus dilakukan, Venetim hanya akan berdiri mematung tanpa daya. Saat ini, hanya ada satu hal yang harus dilakukan.

"Pokoknya, dengan cara apa pun, kita hanya perlu membuat Pendeta Agung Ivton mencalonkan diri, kan?"

"Iya, tapi... caramu bicara membuatku cemas..."

"Jika dia sendiri tidak mau mencalonkan diri, maka satu-satunya jalan adalah melalui pencalonan lewat rekomendasi lima Pendeta Agung atau lebih. Aku berniat menyuap lima orang yang tidak memihak faksi mana pun selain faksi Pendeta Agung Ivton."

"Menyuap? Memangnya kau punya uang sebanyak itu?"

"Aku tahu seseorang yang bisa melakukan penyuapan."

Jika ada sesuatu yang tidak bisa ia lakukan sendiri, maka biarkan orang yang mampu melakukannya. Begitulah prinsip Venetim dalam segala hal.

Hal itu, secara tidak terduga, mungkin menjadikannya memiliki bakat sebagai komandan. Meski tidak berguna dalam pertarungan, setidaknya ia tidak pernah menghambat strategi Xylo atau Jace.

"Siapa itu?"

Xylo bertanya dengan tatapan penuh curiga. Dalam hal ini, hanya ada satu orang yang terpikirkan untuk menyuap mayoritas Pendeta Agung dan menjamin suara mereka untuk Ivton.

Yaitu, Perusahaan Pengembangan Varcle. Lebih tepatnya, Kepala Cabang wilayah Ibukota Pertama.

Namanya adalah Phidius Varcle. Putra sulung keluarga Varcle. Kakak kandung Venetim, dan kandidat utama penerus keluarga, salah satu pebisnis paling berbakat di klan tersebut.

"Phidius Varcle. Dia kakakku."

"...Hah?"

Xylo melongo.

"Kakakmu... apa? Varcle?"

"Iya. Apa aku belum bilang? Begini-begini, aku adalah anggota klan Varcle. Walaupun hampir diusir, sih. Aku anak keempat. Ada satu kakak laki-laki dan dua kakak perempuan di atasku. Dan satu adik laki-laki di bawahku."

"Sumpah, aku tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang bohong darimu."

Sambil bergumam, Xylo memasukkan camilan kacang ke mulutnya yang masih terbuka.

"Jika Perusahaan Varcle memihak kita, menyuap memang bukan hal yang mustahil. Setidaknya, mengamankan lima orang untuk merekomendasikan Pendeta Agung Ivton pun bisa dilakukan... tapi..."

Xylo menatap Venetim dengan penuh keraguan. Namun, ia tidak punya pilihan selain percaya. Karena tidak ada jalan lain.

"Memangnya bisa? Apa kau bisa membujuk kakakmu? Hubungan kalian pasti buruk, kan?"

"Tenang saja. Aku ini sangat disayangi oleh Kak Phidius."

"...Bagian mana yang bohong dan bagian mana yang jujur? Jangan-jangan semuanya bohong?"

"Semuanya jujur, kok. Kenapa kau begitu curiga?"

"Ya karena kau itu Venetim."

Sungguh keterlaluan, pikir Venetim. Sejak awal ia sudah tahu di mana Phidius berada di Ibukota Pertama. Ia hanya perlu mencegatnya di jalan pulang.

Untungnya ia sudah mendapatkan uang untuk menyewa orang, dan mereka sudah bergerak. Jadi—

"Yah, bagaimanapun juga, kita harus melakukannya... kan? Atau mau kita anggap ini semua cuma bohongku saja dan kita berhenti di sini...?"

"Mana mungkin! Baiklah, aku mengerti. Ini rasanya seperti penipuan besar-besaran, ya. Aku serahkan pengaturannya padamu. Apa yang harus kulakukan?"

"Ya. Karena kita akan menempuh jalan yang cukup berbahaya... ada satu hal yang ingin kuminta darimu juga, Xylo-kun."

Phidius Varcle pulang sangat larut malam itu.

Pertemuan bisnis dengan klien mendadak diperpanjang karena tamu tak diundang. Selain itu, jalan yang biasa ia lalui ditutup karena perbaikan jalan, sehingga ia terpaksa memutar jauh. Sejak siang, salju terus turun tanpa henti, membawa udara dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Ia tidak akan mengatakan bahwa ia punya firasat buruk. Phidius Varcle tidak percaya pada hal-hal semacam firasat. Baginya, hari itu hanyalah hari yang menyebalkan.

Puncaknya adalah saat ia melihat wajah adiknya.

Adiknya—Venetim Varcle, berdiri mematung di tengah gang yang bersalju. Phidius memerintahkan kusir untuk menghentikan kereta kuda, dan hal pertama yang ia lakukan adalah memperhatikan wajah itu. Ia berharap itu adalah hantu. Karena itu akan menjadi bukti bahwa adiknya telah mati.

Namun sayangnya, adiknya tampak masih hidup.

Kalau soal itu, pria yang berdiri di samping Venetim justru terlihat lebih mirip hantu. Pria dengan anggota tubuh yang sangat panjang, dan dari wajahnya sama sekali tidak terpancar keinginan apa pun. Sosoknya yang berdiri diam di tengah salju entah mengapa terasa sangat mengerikan.

Kedua mata hitam yang kosong itu menatap Phidius tanpa ekspresi.

"Kakak. Sudah lama tidak bertemu."

Dengan sikap yang sangat tidak tahu malu, Venetim membungkuk sopan. Phidius merasakan pening di kepalanya. Hubungan mereka seharusnya tidak seperti dua orang yang menyapa secara formal saat bertemu kembali.

Phidius memiliki dua adik perempuan dan dua adik laki-laki. Semuanya adalah kandidat penerus Perusahaan Varcle sekaligus rival—kecuali Venetim.

Pria ini sejak dini telah menunjukkan ketidakmampuannya, dan gagal dalam setiap "ujian" yang diberikan oleh ayah maupun kerabat mereka.

Sampai akhir pun, tampaknya ia tidak mengerti bahwa itu bukanlah sekadar ujian, melainkan sebuah kesempatan.

Venetim meninggalkan rumah seolah-olah diusir, dan tak lama kemudian keberadaannya tidak diketahui.

Phidius selalu menganggapnya sebagai adik yang memalukan. Ia tahu Venetim bekerja sebagai penipu. Ia juga tahu bahwa sekarang Venetim sedang menjalani hukuman sebagai Prajurit Hukuman.

Ia tidak menyangka adiknya akan menampakkan wajah di hadapannya seperti ini.

"Aku benar-benar heran padamu, Venetim."

Setelah menghela napas, Phidius menyapa Venetim.

"Muka macam apa yang kau pakai untuk berani muncul di hadapanku? Pergilah sekarang juga. Kau menghalangi jalan. Atau kau mau mati terinjak kuku kuda?"

"Bukankah kata-kata itu terlalu kejam untuk adik yang sudah lama tidak kau temui?"

Venetim memasang senyum canggung. Senyumannya itu benar-benar memicu kemarahan. Phidius tahu alasannya.

"Apa Kakak masih marah? Soal kasus pemalsuan Perusahaan Modelis, aku benar-benar minta maaf dan menyesal—"

"Diam."

Mendengar soal Perusahaan Modelis, Phidius mendengus rendah. Ia tidak bermaksud mengancam. Ia hanya teringat memori yang tidak menyenangkan.

Dulu, sempat beredar rumor tentang kemunculan organisasi skala besar yang akan menyaingi Perusahaan Varcle. Namanya Perusahaan Modelis.

Katanya itu semacam bank. Tempat menyimpan uang dan menariknya dengan aman di tempat jauh. Mereka juga menjalankan beberapa bisnis perjudian yang dilarang negara.

Organisasi itu kabarnya sudah merencanakan pendiriannya, dengan dukungan kuil di belakangnya—Phidius menyelidiki kebenaran informasi tersebut, dan saat itu ia yakin gerakan semacam itu memang ada.

Namun, saat diselidiki lebih dalam, Perusahaan Modelis menghilang tanpa jejak.

Saat ia menyadari bahwa organisasi itu sebenarnya tidak pernah ada, ia baru sadar bahwa perusahaan mengalami kerugian yang tidak sedikit.

Karena Phidius dan bawahan langsungnya melakukan pergerakan tersebut, ada investor yang panik dan menjual surat berharganya. Kerugian itu adalah akibat dari dampak tersebut.

Ia tidak merasa tindakannya gegabah. Seharusnya itu adalah penyelidikan rahasia, namun ia masih tidak mengerti bagaimana informasi itu bisa bocor. Yang jelas, ada pihak-pihak yang diuntungkan dari pergerakan jual beli surat berharga itu. Dan itu lebih dari satu pihak.

Di pusat pusaran itulah Venetim berada.

Saat Phidius mengejarnya, semuanya sudah terlambat, dan Venetim kembali menghilang. Hanya menyisakan rumor bahwa ia telah mati.

Beberapa orang berpendapat optimis bahwa ia dibunuh dalam perselisihan antar rekan dalam pembagian keuntungan, namun Phidius tidak berpikir demikian.

Dan sebagai buktinya, sekarang adiknya telah menjadi Prajurit Hukuman, dan—

"Kak Phidius, aku punya penawaran yang akan memberimu keuntungan," kata Venetim.

Kalimat yang konyol. Adik ini berkali-kali membuatnya merasa muak.

"Aku tidak mau dengar, dan tidak perlu dengar. Tidak mungkin kau bisa memberikan cerita yang menguntungkanku."

"Ini soal Pendeta Agung Utama. Aku menerima perintah rahasia dari seseorang di Ordo Ksatria Suci—dan ada seseorang yang sangat ingin kami menangkan."

Perintah rahasia dari Ordo Ksatria Suci, katanya.

Phidius mencerna kata-kata itu dalam hati dan mencibir. Mana ada Ksatria Suci yang akan memberikan perintah rahasia kepada Prajurit Hukuman. Terlebih lagi kepada pria bermulut besar seperti Venetim.

"Pasti bohong. Dan kalaupun itu benar, apa hubungannya denganku?"

"Aku ingin meminta Anda menyuap para Pendeta Agung. Agar mereka merekomendasikan Pendeta Agung Nicold Ivton. Cukup lima orang saja."

Venetim mengajukan usulan korupsi itu dengan wajah datar.

"Bodoh sekali. Tidak ada keuntungan bagiku—maupun bagi Perusahaan Varcle."

"Apa karena Anda mendukung Pendeta Agung Milose?"

"Ternyata kau sudah menyelidikinya, ya."

"Pendeta Agung Ivton akan jauh lebih menguntungkan daripada Pendeta Agung Milose. Pertama, pemasukan kuil pasti akan meningkat. Karena donasi dari penganut umum dan daerah terpencil akan bertambah, sementara pemborosan akan berkurang."

Bagian itu memang fakta. Phidius juga tahu tentang Nicold Ivton. Pria itu jugalah yang paling mampu memperluas pengaruh kuil. Bisa dikatakan, itu akan menguntungkan pihak manusia dalam melawan Fenomena Raja Iblis.

"Dan Pendeta Agung Ivton tidak akan menimbun pendapatan itu. Ia akan menyalurkannya ke distrik kumuh, pengungsi, dan daerah terpencil, serta memperkuat persenjataan Ordo Ksatria Suci. Perusahaan Varcle bisa mengambil alih aliran dana tersebut."

"Mungkin saja."

Phidius mengakuinya sebagian. Meski Venetim mungkin hanya mengarang alasan, analisisnya tidak sepenuhnya salah. Kemampuan Venetim yang seperti ini terkadang diapresiasi oleh Corphine—adik perempuan keduanya—dan dianggap menarik, tapi itu berdampak buruk. Adik perempuannya itu juga perlu dibenahi mentalnya kapan-kapan.

Ada satu hal krusial lainnya yang sama sekali tidak dipahami oleh Venetim.

"Meskipun begitu, aku—tidak, Perusahaan Varcle—tidak akan berinvestasi pada Nicold Ivton. Karena dia terlalu menguntungkan bagi pihak manusia."

"Apa maksudnya itu?"

Phidius tidak menjawab. Tidak perlu dijelaskan—meskipun kata-katanya tadi sebenarnya sudah cukup menjelaskan segalanya. Jika Venetim punya otak sedikit saja, ia pasti mengerti.

Keuntungan bagi pihak manusia. Itulah yang menjadi masalah bagi Perusahaan Varcle.

Perusahaan Varcle menginginkan perang. Karena pertempuran melawan Fenomena Raja Iblis terus memberikan keuntungan besar bagi perusahaan. Karena itu, hanya ada satu kebijakan yang harus diambil perusahaan. Menjaga manusia dalam kondisi yang cukup unggul, namun di saat yang sama juga membantu Fenomena Raja Iblis.

Terutama dengan orang-orang dari 'Faksi Simbiosis', mereka menjaga jarak yang tidak terlalu dekat namun tidak terlalu jauh. Perusahaan Varcle jugalah yang memasok Thunder Staff ke tentara pribadi mereka—atau ke para penjahat di sekte Gwen-Mosa—melalui kerja sama rahasia dengan pihak militer. Pada akhirnya, apakah mereka harus sepenuhnya bekerja sama dengan 'Faksi Simbiosis' atau tidak, itu masih menjadi masalah yang belum terjawab, namun mereka bukanlah lawan yang harus dimusuhi sekarang.

Oleh karena itu, usulan Venetim tidak bisa diterima. Yang harus menang dalam Pemilihan Suci adalah Pendeta Agung Milose.

Hal itu sudah diputuskan dalam rapat eksekutif Perusahaan Varcle. Yang memutuskan adalah ayah mereka. Pemimpin tertinggi Perusahaan Varcle sendiri. Sebelum keputusan itu diambil, usulan untuk mendukung Nicold Ivton menjadi Pendeta Agung Utama tentu saja sudah dipertimbangkan.

(Begitulah. Jika memikirkan keuntungan keluarga, itulah yang terbaik.)

Phidius membayangkan wajah ayahnya.

Wajah dari samping yang tenang namun memiliki ketajaman yang dingin. Kalau dipikir-pikir, ia merasa hanya pernah melihat wajah ayahnya dari samping. Ia tidak pernah menatap mata ayahnya secara langsung dari depan.

(Tapi, aku berbeda dengan adik yang tidak berguna ini.)

Pikir Phidius dengan kuat. Ia merasakan sedikit rasa sakit, namun rasa sakit itu cukup kecil untuk diabaikan.

(Aku diakui. Aku bisa terus membuktikan bakatku.)

Jadi, ia tidak punya waktu untuk berurusan dengan Venetim.

"Minggir, Venetim. Menghabiskan waktu bersamamu adalah kerugian total."

"Benar juga. Tapi, kurasa malam ini tidak begitu."

"Apa?"

"Mungkin dengan bersama kami, nyawamu akan selamat."

Phidius merasa ada yang aneh—dan di saat itu juga, kilatan petir tampak menyambar.

Pang! Udara meledak dengan suara kering. Kuda itu meringkik dan berdiri dengan kaki belakangnya, kepalanya tertembak tembus. Phidius Varcle sendiri tidak mungkin salah lihat. Itu adalah Thunder Staff. Yaguruma. Model terbaru dari tongkat penembak jitu dengan mekanisme pengeluaran otomatis magasin bercahaya yang sudah distabilkan.

"Apa-apaan!"

Saat pertanyaan itu keluar dari mulutnya, Phidius sudah terguling keluar dari kereta kuda. Refleks menghindari bahaya yang sudah mendarah daging. Ia tiarap di atas salju dan merunduk. Kusirnya meneriakkan sesuatu dan menyiapkan Thunder Staff—namun ia tertembak dari belakang. Phidius segera menyadari bahwa mereka telah dikepung.

"Anda baik-baik saja? Tolong tiarap, Kakak."

Tanpa disadari, Venetim sudah mendekat. Pria ini juga sedang tiarap di tanah.

"Sepertinya musuh datang. Kakak sedang menjadi incaran."

"...Apa maksudnya ini?"

"Mereka adalah 'Faksi Simbiosis'. Mereka curiga aku dan Kakak berkomplot untuk menjual informasi rahasia. Apa mungkin karena aku mencoba menemuimu secara diam-diam? Sebenarnya, aku punya bakat luar biasa untuk membuat orang lain curiga padaku—"

Phidius terdiam seribu bahasa.

Keheningan sesaat itu seketika terpecah oleh raungan aneh yang membahana.

"Vuuuu—aaaaaaaauuuuuuuuu!"

Itu adalah pria yang berada di samping Venetim. Pria dengan anggota tubuh yang sangat panjang itu sedang memegang sesuatu yang tampak seperti galah besi. Long Battle Axe, ya?

"Tenang saja, Kak Phidius."

Venetim meletakkan tangan di bahu Phidius seolah ingin menenangkannya.

"Ada Tatsuya, jadi Kakak pasti selamat. Percayalah pada kami."

Phidius menepis tangan itu, lalu tanpa kata, ia melayangkan tinju keras ke wajah Venetim.




Tindakan Tatsuya begitu cepat.

Sesaat, dia tampak meringkuk seperti binatang buas, lalu melesat bagaikan peluru yang meledak. Di mata Venetim, itu hanya terlihat seperti embusan angin hitam yang lewat.

"Gkh!"

Suara jeritan Tatsuya terdengar seperti memuntahkan darah dari tenggorokan. Saat satu tangannya mengayunkan kapak perang, pusaran badai salju tercipta, menggulung salju yang turun dengan deras. Di atas pagar. Penyerang yang menembakkan tongkat petir tadi seketika kehilangan bagian tubuh dari dada ke atas. Darah segar menyembur ke segala arah.

"Ka-ka-ka!"

Gerakan Tatsuya tidak berhenti, dan mustahil baginya untuk merasa ragu. Seketika dia menghabisi dua orang lagi di kiri dan kanan. Mata kapak perangnya merobek tenggorokan dan perut, mencabut nyawa mereka dalam sekejap.

(Tatsuya adalah yang terkuat di antara para Terpidana Pahlawan.)

Melihat cipratan darah dan potongan daging yang jatuh di depannya, Venetim merasa mual. Sampai sekarang dia masih belum terbiasa dengan ini.

(Dalam pertarungan murni, pasti tidak ada yang bisa menang melawannya.)

Venetim sangat yakin akan hal itu.

Ini bukan sekadar masalah adu kekuatan atau kemampuan fisik yang lincah. Pria bernama Tatsuya ini memiliki sesuatu yang mendasar yang berbeda. Dia jauh dari kata manusia. Selain itu, Venetim tahu bahwa Neely—pasangan Jace—selalu bersikap segan dan sedikit menjaga jarak terhadap Tatsuya.

Padahal terkadang Neely memperlakukan Xylo atau Rhino seperti anak kecil. Meski kata-katanya tidak dimengerti, sikapnya menunjukkan hal itu. Namun, hanya kepada Tatsuya-lah dia bersikap beda. Dia memperlakukannya seperti seorang senior tua.

Atau mungkin, seperti memberikan penghormatan kepada pohon raksasa tua yang telah hidup ratusan tahun—

"Kau, Venetim!"

Hanya sesaat Venetim membiarkan pikirannya melayang, kakaknya sudah mencengkeram kerah bajunya.

Mata Fidius memancarkan kemarahan yang membara seperti api. Sejak dulu Venetim takut pada mata ini. Karena tidak ingin dimarahi dengan tatapan ini, dia sudah berkali-kali berbohong. Meski jika kebohongannya ketahuan dia akan semakin dimarahi, tapi kalau tetap dimarahi meski tidak berbuat apa-apa, berbohong terasa lebih baik.

"…Ada hal yang tidak kumengerti…!"

Ucap Fidius dengan suara tertahan.

"Bagaimana cara kau berhubungan dengan orang-orang Faksi Simbiosis? Dan bagaimana kau menggerakkan mereka? Mereka seharusnya tahu kalau dipikir sebentar saja, bahwa tidak mungkin aku menjalin perjanjian rahasia denganmu! Apa ada orang sebodoh itu di Faksi Simbiosis?"

Saat ditanya begitu, Venetim ternganga.

Siapa sangka, kakaknya yang hebat ini pun punya hal yang tidak dia mengerti. Apalagi hal yang sesederhana dan sejelas ini. Bukan rasa superior, melainkan keterkejutan murni yang dirasakan Venetim.

"—Bahwa Ibu Agung Milose adalah anggota Faksi Simbiosis, itu sudah hampir pasti."

Entah kenapa Venetim merasa sedikit senang, tapi dia memutuskan untuk tidak menunjukkannya di wajahnya.

"Karena itulah aku mencoba menghubunginya secara rahasia, tapi aku diabaikan. Ya, itu wajar saja… Tapi setelah itu, entah kenapa aku jadi sangat dicurigai dan mereka mulai mengawasiku…"

Dalam pandangan Venetim, bayangan Tatsuya bergerak dengan sangat cepat. Setiap kali anggota tubuhnya yang panjang itu merenggang dan diayunkan, darah dan daging berhamburan. Tongkat petir memancarkan cahaya, tapi pria itu bukanlah tipe yang bisa terkena serangan seperti itu.

Dari atas pagar ke atas atap, lalu ke pohon-pohon jalanan. Di bawah bulan yang bersinar hijau, dia tampak seperti kelelawar raksasa yang terbang kian kemari.

"Aku memberikan alasan sekuat tenaga kepada orang yang mengawasiku."

"Alasan?"

"Aku bilang, aku memang anggota rendahan di Perusahaan Vercle, tapi aku sudah diusir dan tidak punya hubungan apa-apa lagi. Apalagi dengan Kak Fidius, kami punya perselisihan yang mendalam, jadi tidak mungkin kami berkomplot. Ini benar, tolong percayalah—begitu katanya."

Di tengah pembicaraan, Venetim memalingkan wajah dari Fidius. Dia tidak ingin melihat langsung raut wajah kemarahan itu. Mata yang tajam tanpa celah.

"Aku sudah memberikan alasan sekuat tenaga, tapi sepertinya mereka malah semakin curiga. Mungkin karena Xylo-kun mengusir mereka dengan kasar juga…? Semakin aku mengumpulkan bukti dan memberi alasan, justru hasilnya malah jadi begitu… Kenapa ya semua orang meragukan kata-kataku?"

"Kau, benar-benar—"

Tangan Fidius kembali menarik kerah baju Venetim dengan kuat. Karena takut, Venetim menciutkan badannya—pada saat itu, sambaran petir yang tajam menyerempet pipi Venetim.

Tidak, sebenarnya itu mengenai bahu Fidius. Bau hangus dan sensasi darah yang menetes terasa seketika.

Fidius meringis dan mengerang kesakitan. Seseorang sedang membidik dari atas atap. Sepertinya mereka menyerah menghadapi Tatsuya dan mencoba menembak dengan tongkat petir dari jauh.

Venetim tidak melakukan analisis ini dengan tenang. Dia hanya berteriak secara refleks kepada kartu as terkuat yang dia miliki saat ini.

"Tatsuya!"

Venetim menekan bahu kakaknya yang berdarah dengan kedua tangan dan berteriak.

"Kita sedang dibidik, tolong kami!"

Dalam situasi normal, orang pasti akan menilai bahwa memanggil Tatsuya pun tidak akan sempat. Karena tembakan berikutnya akan segera datang, mereka seharusnya melakukan tindakan menghindar. Namun, Venetim tidak memiliki pemikiran taktis seperti itu.

Meskipun demikian, Tatsuya mengikuti instruksi itu—dan pada akhirnya mewujudkannya.

"Jiiiii…"

Suara napas yang aneh terdengar. Tubuh Tatsuya melompat dengan kecepatan tinggi, dan kemudian, kapak perangnya menebas udara.

Paki!, sebuah suara benturan yang janggal terdengar. Terlambat sekitar satu detik, Venetim baru menyadari. Bahwa itu adalah suara saat petir yang ditembakkan ditangkis dengan akurat.

"Petir dari tongkat petir itu…"

Fidius mengerang dengan wajah yang masih meringis kesakitan.

"Dia menangkisnya? Tidak bisa dipercaya!"

"Inilah Tatsuya."

Meskipun itu adalah fenomena yang sama sekali tidak bisa dimengerti oleh Venetim, dia tidak boleh menunjukkan wajah yang tidak percaya diri di sini. Dia berpura-pura tenang dan menegaskannya. Lalu, dia mengambil langkah selanjutnya.

Venetim menyentuh segel suci di lehernya.

"…Xylo-kun. Ada penembak jitu. Kau tahu lokasinya dari serangan tadi, kan? Bi-bisa kau urus?"

Tentu saja.

Di atas atap yang tertutup salju, sebuah bayangan hitam melompat. Berbeda dengan Tatsuya. Itu adalah lompatan unik yang seolah-olah sedang terbang.

Akan kukejar dan kutangkap. Kau uruslah bagianmu dengan baik di sana.

Xylo Forbartz yang bersembunyi sepertinya telah menemukan lokasi musuh. Venetim bisa melihatnya melompat di tengah badai salju. Menangkap musuh. Ini adalah satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh Tatsuya.

"Sudah aman, Kak. Sepertinya beberapa orang berhasil melarikan diri."

Venetim merasa tubuhnya mendingin dengan cepat. Sejak berhadapan dengan kakaknya ini, dia terus mengeluarkan keringat dingin karena rasa takut dan ketegangan.

"—Sekali lagi aku mohon, Kak Fidius. Bertarunglah bersama kami melawan musuh kemanusiaan! Aku akan menunjukkan bahwa kami bisa menghancurkan Faksi Simbiosis. Tolong percayalah pada kami."

Tatsuya melompat ke arah penyerang di atas atap, membuat kapak perangnya tertancap hingga separuh dada musuh. Di saat yang sama, dia mencengkeram kepalanya dan menariknya lepas dengan paksa.

Jeritan terdengar. Isi perut berceceran, dan Tatsuya mengeluarkan raungan yang aneh.

"Ruuuuuaaaaaaaaa—aaaagaaaaaaaaa!"

Sosok itu terlalu penuh kekerasan dan kejam untuk disebut sebagai sekutu umat manusia.

"Itulah kemampuan prajurit infanteri terkuat dari Unit Terpidana Pahlawan. Kami, para Terpidana Pahlawan, akan memimpin pertempuran ini menuju kemenangan, aku berjanji! Aku ingin bertarung bersama kakak yang kuhormati!"

"Pembohong…!"

Ternyata kakaknya tidak bisa ditipu begitu saja. Namun,

"Mungkin kata-kataku bohong, tapi apa Kakak punya pilihan lain?"

Kakaknya tidak menjawab. Namun, Venetim merasakan benturan lagi di wajahnya.

Pandangannya kabur. Rasa sakit yang hebat. Ekspresi kemarahan kakaknya. Sepertinya dia dipukul dengan siku, bukan kepalan tangan. Dia merasa tulang hidungnya patah. Pandangannya menjadi gelap sesaat.

(Tapi… ini jauh lebih baik daripada diceramahi.)

Sambil memegang hidungnya, Venetim merasa lega.

Ini berakhir dengan cepat, dan ini berarti pihak lawan tidak punya pilihan selain menerima permintaan Venetim. Baginya, dipukuli hampir selalu menjadi bukti dari sebuah keberhasilan.

"Anu, itu sakit lho, Kak."

"…Sejak dulu, aku ingin menanyakan ini padamu."

Mengabaikan kata-kata Venetim, Fidius perlahan menegakkan tubuhnya.

Wajah yang menatap rendah itu mirip dengan Venetim, tapi memberikan kesan yang sangat bertolak belakang. Wajahnya seperti pahatan batu yang dingin. Tidak ada sedikit pun kelembutan.

"Venetim. Mengapa kau bisa hidup dengan menanggung rasa malu seperti itu? Apa kau tidak merasa bersalah telah menyusahkan orang lain?"

"Tidak begitu juga, kok. …Aku juga ingin menjadi manusia yang sedikit lebih benar seperti Kakak dan yang lainnya. Tapi tidak bisa."

"Bohong. Kau pasti tidak pernah berniat untuk menjadi seperti itu."

"Benar juga. …Sejak dulu aku tidak bisa memahami Kakak dan yang lain. Aku merasa sudah bersikap benar dengan caraku sendiri."

"Itu juga bohong."

"…Haha. Kakak memang tidak bisa ditipu ya. Benar. Ini adalah bentuk balas dendam. Untuk membalas dendam pada Ayah dan Kakak yang berharap padaku lalu membuangku begitu saja…"

"Cukup. Lagipula, bertanya hal seperti ini padamu adalah sebuah kesalahan."

Fidius menggelengkan kepala dan tidak lagi memedulikan Venetim.

"Aku sudah paham situasinya. Mulai dari sini, sepertinya aku harus bicara dengan siapa pun yang ada di belakangmu. Bicara denganmu tidak akan ada ujungnya."

Pria yang terus memenuhi harapan Ayah dan orang-orang di sekitarnya. Bagi Venetim, dia tampak seperti makhluk transenden yang tidak lagi bisa dipahami. Pria dengan kesabaran yang luar biasa.

(Alangkah baiknya jika aku bisa hidup seperti itu,) pikir Venetim. Pasti kakaknya memiliki jati diri yang teguh.

Venetim bahkan tidak tahu lagi apa isi hatinya yang sebenarnya. Seberapa keras pun dia mencoba menggali isi hatinya, yang keluar hanyalah kata-kata demi kepentingan sesaat untuk meyakinkan lawan bicaranya.

Lagipula, Venetim tidak pernah melakukan verbalisasi atas isi hatinya atas kemauannya sendiri. Dia selalu bergerak karena permintaan atau ancaman orang lain. Apa yang diinginkan orang lain, itulah yang menjadi prinsip tindakan Venetim. Dia tidak ingat pernah melakukan tindakan spontan untuk dirinya sendiri.

Kini, rangkaian tindakan itulah yang menjadi fakta yang terakumulasi dalam diri manusia bernama Venetim.

(Aku rasa bagian aku menghormati Kakak itu jujur… mungkin.)

Venetim menengadah ke langit. Apakah Xylo berhasil?

—Menghindari tembakan tongkat petir, menangkapnya, dan menendangnya jatuh ke jalanan.

Begitu aku berhasil mengejarnya, itu bukan hal yang sulit bagiku. Orang itu membawa pedang pendek untuk pertarungan jarak dekat, dan itu adalah barang langka yang bisa mengeluarkan api dari ujungnya menggunakan segel suci, tapi kemampuan pedangnya biasa saja.

Aku membaca lintasan bilah pedang yang diayunkan bersama dengan teriakan tajam seperti burung.

"Lambat!"

Aku merangsek masuk, menghantamkan siku, dan melancarkan getaran Low Ad. Jika terkena ini dengan output tinggi pada lengan, hampir semua manusia tidak akan bisa memegang senjatanya. Sisanya tinggal menendang pedang yang terlepas itu dan selesai.

Saat itu, aku melihat sesuatu yang terukir di pedang musuh. Sebuah lambang berbentuk baji yang sedikit mirip dengan segel suci agung. Itu adalah bukti dari sekte Gwen-Mausa.

"Jangan terlalu banyak berontak. Kau hanya akan merasa sakit."

Aku memperingatkannya. Karena lawan yang terjatuh itu mencoba mencabut pisau dan melemparkannya. Mengerikan juga dia masih punya energi seperti itu, tapi masalahnya, ada berapa banyak orang di dunia ini yang bisa menandingiku dalam hal melempar pisau?

Intinya, pisau yang kulemparkan lebih dulu menancap di bahu orang itu.

"Ada yang ingin kutanyakan."

Aku menginjak punggung penembak jitu yang tersungkur di tanah itu dan bertanya.

"Siapa yang ada di belakang kalian? Si brengsek yang mendukung kalian, para Gwen-Mausa."

Pasti ada seseorang. Ini bukan konspirasi yang bisa dilakukan oleh sekte Gwen-Mausa sendirian. Mendukung Ibu Agung Milose dan menggerakkan Perusahaan Vercle. Pasti ada orang seperti itu. Seseorang yang sangat berpengaruh.

Mungkin orang ini pun tidak tahu namanya. Tapi, asal aku bisa mendapatkan petunjuk, itu sudah cukup.

Namun—

"Ha. Haha! Xylo Forbartz! Kau… murtad yang kotor!"

Makian yang kuterima lebih kuat dari yang kubayangkan. Perasaan yang muncul di matanya bukanlah ketakutan atau kemarahan, melainkan sesuatu yang sudah melampaui itu.

"Tidak ada satu pun yang akan kuberitahukan padamu—"

Zzzt, percikan api muncul dari tubuhnya. Itu satu-satunya pertanda, tapi sudah cukup.

"—tidak akan!"

Aku tahu apa yang akan terjadi. Secara refleks, aku menggunakan Fly untuk melompat mundur.

Sesaat kemudian, tubuh orang itu meledak bersama kobaran api. Aku berhasil menghindar tepat waktu, tapi angin kencang yang tercipta membuatku terguling di tanah.

(Gila. Bom bunuh diri? Apalagi—)

Ini mirip dengan Scorched Earth versi kecil. Di depanku, pusaran api mengamuk dengan hebat. Tak lama lagi petugas investigasi atau pasukan pemadam kebakaran pasti akan berdatangan.

(Apa dia serius… menelan Scorched Earth kecil? Atau menanamnya di perut?)

Apapun itu, tekadnya luar biasa. Sepertinya dia benar-benar tidak ingin memberikan informasi apa pun. Dia juga sangat konsekuen dengan langsung memilih mati jika gagal. Jika beruntung, dia mungkin bisa meledakkanku juga.

—Meski begitu, ada hal yang bisa kupahami.

(Lawannya adalah tentara.)

Aku yakin akan hal itu.

Hanya tentara yang bisa mengumpulkan peralatan seperti ini. Tongkat sniper dan Scorched Earth. Meski mereka mendapat dukungan logistik dari Perusahaan Vercle, bengkel yang memproduksinya terbatas. Galtuille yang mengawasi, dan itu hanya boleh diproduksi di fasilitas militer. Begitu juga dengan laboratorium risetnya.

Melihat pergerakan sekte Gwen-Mausa kali ini, penggunaan senjata yang mewah ini bukan lagi di tingkat penggelapan barang secara diam-diam. Apalagi mereka sampai membawa barang seperti Scorched Earth yang butuh ketelitian luar biasa dalam penanganannya. Pengoperasian dan penyimpanan benda itu adalah salah satu rahasia terbesar di militer. Kecuali ada orang seperti Dotta, mustahil bisa mencurinya.

Kalau begitu, orang yang ada di belakang musuh adalah seseorang dengan posisi yang cukup tinggi di militer. Setidaknya di atas Gubernur Wilayah, kemungkinan besar adalah Jenderal Gubernur. Ditambah lagi dengan Unit 7110 wilayah Yutob. Jika ada hubungannya dengan unit yang menjebak kami, Korps Ksatria Suci Kelima saat itu—maka pilihannya semakin sempit.

Aku mulai menyusun daftar orang-orang yang memegang jabatan setingkat Jenderal Gubernur atau lebih tinggi, dari masa itu hingga sekarang, di dalam kepalaku.

Kuil Cikata di pagi hari dipenuhi dengan sinar matahari.

Sepertinya kuil ini memang dibangun seperti itu. Cahaya menyinari altar yang sederhana namun bersih, memberikan kilauan yang tenang dan suci.

Nikold Iburton berdiri di depannya. Lengkap dengan pakaian resmi sebagai Uskup Agung.

"…Ilmu hitam apa yang kau gunakan?"

Itulah kata pertama yang diucapkan Iburton begitu melihat wajah Venetim.

"Aku sama sekali tidak tertarik. Namun, karena lima Uskup Agung telah merekomendasikan aku, sepertinya itulah kehendak para Dewa. Berdasarkan peraturan kuil pun, aku tidak bisa menolaknya."

"Terima kasih banyak."

Venetim membungkuk dalam-dalam, tapi Iburton tidak menggerakkan alisnya sedikit pun.

"Baguslah kalau kau berminat, Tuan Uskup Agung."

Xylo berkata sambil menunjuk lehernya sendiri, sambil bersandar Santai di kursi panjang kuil.

"Kalau kau tidak menang, leher kami akan diledakkan dan kami akan berada di tempat reparasi sampai tahun baru tiba."

Venetim merasa cara bicara yang mengejek itu sangat tidak sopan, tapi Iburton sepertinya tidak terlalu peduli.

"Jika banyak orang memilihku, aku akan menjadi Uskup Agung Utama. Jika tidak, orang lain yang akan menjabat. Secara pribadi, itu lebih menguntungkan bagiku. Aku punya banyak hal yang harus dilakukan."

"Ini bukan lagi masalah pribadimu. Kami akan kesulitan kalau kau tidak melakukannya."

"Sejauh mana pun, iman adalah masalah pribadi di dalam hati. Ia ada untuk melindungi hal-hal suci yang dihormati dan dimiliki orang-orang dalam hati mereka. Pendeta seharusnya cukup menjadi pelindung ranah tersebut. Seharusnya begitu."

"…Yah, aku setuju dengan itu. Akan bagus kalau dunia menjadi seperti itu."

Venetim tidak memahami bahkan separuh dari percakapan antara Xylo dan Iburton. Dia merasa mereka sedang membicarakan hal-hal yang sulit. Bagaimanapun, Iburton merapikan kerahnya, menegakkan punggungnya, dan mulai berjalan.

"Tidak ada waktu lagi sampai Pemilihan Suci Luff-Alos. Aku akan menyelesaikan prosedurnya hari ini, tapi pasti ada komplotan yang mengincar nyawaku. Jika kalian ingin aku menduduki kursi Utama, kalian harus berhati-hati dalam mengawal."

"Jangan khawatir. Saat ini, aku sedang mengaturnya."

Venetim menjawab dengan cepat, tapi poin itu pun penuh dengan masalah. Dengan cara biasa, prajurit pengawal tidak akan terkumpul. Dia harus melakukan sesuatu. Sampai saat itu, dia terpaksa menempatkan Tatsuya dan Rhino sebagai pengawal secara bergantian. Namun itu pun ada batasnya—dia harus segera mengambil tindakan.

(Aku merasa bisa pingsan karena kelelahan,) pikir Venetim. Terlalu banyak hal yang harus dilakukan.

"Kalau begitu, mari kita pergi untuk menyampaikan pernyataan visiku."

Saat dia berjalan melewati mereka perlahan, dia menghentikan langkahnya tepat sebelum pergi. Matanya tidak menatap Venetim maupun Xylo, melainkan menatap pria yang berdiri diam di samping mereka. Tatsuya.

"Pria itu, mirip sekali."

"Ya?"

"Pahlawan dari zaman mitologi. Kau pasti pernah mendengarnya, kan? Salah satu dari Sembilan Bintang yang dipanggil oleh Goddess pertama dan berhasil menaklukkan Raja Iblis pertama. Dikatakan bahwa dia turun dengan tabung cahaya dan pedang yang bersinar, mengubah dirinya menjadi binatang suci untuk melawan fenomena Raja Iblis."

Iburton berbalik dan melirik lukisan yang terpajang di belakang altar.

Di sana digambarkan sang Goddess bersama para pejuang yang mengikutinya. Kelompok sosok manusia yang digambarkan dengan beragam warna itu, secara jelas tampak seperti sosok yang jauh dari manusia biasa. Karena ini lukisan, mungkin ada beberapa bagian yang dilebih-lebihkan.

Seperti yang dikatakan Iburton, Venetim pun pernah mendengar cerita tentang penaklukan Raja Iblis pertama. Urad sang Bijak Agung tak bertubuh sekaligus pendiri negara, Aviri sang Curse Sign, Neeg sang Greed, dan Yukihito sang Hakim. Lalu, siapa lagi sisanya—

"Kisah Sembilan Bintang dari penaklukan Raja Iblis pertama, ya. Aku juga pernah membacanya."

Tiba-tiba Xylo bergumam. Matanya tertuju pada lukisan di altar. Dengan penampilan seperti itu, dia anehnya sangat paham tentang cerita dan buku kuno. Mungkin itu adalah pendidikan sebagai bangsawan.

"Semua dokumen sepakat tentang delapan bintang pahlawan, tapi pahlawan kesembilan kabarnya telah hilang namanya. Ada juga orang-orang yang menambahkan pengaturan sesuka hati mereka."

"Benar. Nama pahlawan Bintang Kesembilan, yang mengenakan bulu binatang suci, telah hilang dari sejarah."

Iburton tidak lagi menoleh. Dia mengalihkan pandangannya dari lukisan dan Tatsuya, lalu mulai berjalan lagi.

"Pahlawan dari masa kuno yang sangat jauh. Ksatria suci yang berasal dari dunia lain dengan wujud yang aneh. Hanya itu yang disampaikan."

"Kami juga mendengar rumor bahwa Tatsuya sudah ikut bertempur sejak penaklukan Raja Iblis pertama. Tapi entah sejauh mana kebenarannya."

Xylo melirik ke arahnya. Sumber rumor itu adalah Venetim. Kenyataannya, sejak dijatuhi Hukuman Pahlawan pun dia sudah mendengar hal itu, jadi itu bukan bohong. Tapi mungkin juga tidak sepenuhnya benar.

"Sejujurnya aku tidak terlalu percaya, tapi mungkin dia memang pahlawan itu."

Meski ditunjuk oleh Xylo, Tatsuya tentu saja tidak menunjukkan reaksi apa pun—dia hanya berjalan mengikuti punggung Iburton untuk menjalankan tugasnya sebagai pengawal. Venetim merasa sosok itu entah kenapa tampak sangat suci.

"…Jadi? Apa rencana kita selanjutnya, Venetim?"

Xylo berdiri dan menguap. Sepertinya dia juga sudah bekerja semalaman bersama TTsav untuk menyudutkan sekte Gwen-Mausa. Rasa kantuknya belum hilang.

"Kalau Uskup Agung Iburton naik ke panggung pemilihan, kita punya peluang untuk menang. Ini patut dinantikan."

Seperti yang dikatakannya, Nikold Iburton sangat populer di kalangan pendeta dan umat. Ada orang-orang yang memberikan donasi untuknya. Artinya, ada potensi peningkatan pendapatan, dan suara pun bisa diharapkan. Lima orang yang disuap oleh Perusahaan Vercle pasti akan memberikan suara, dan mungkin ada orang lain yang ikut-ikutan.

(Tapi… jika pihak lawan benar-benar berniat memenangkan Ibu Agung Milose, aku rasa mereka akan mengambil cara yang lebih pasti…)

Pikir Venetim, tapi dia tidak mengatakannya. Sejak dulu Venetim sering memprediksi skenario terburuk. Namun, karena 'skenario terburuk' semacam itu sering dianggap sebagai hal yang tidak masuk akal, dia biasanya tidak menceritakannya kepada orang lain.

Kalau dia bicara, dia akan dianggap berbohong. Tidak hanya itu, terkadang jika dugaannya benar, itu justru membawa hasil yang tidak baik. Alasan dia dijatuhi Hukuman Pahlawan juga karena 'skenario terburuk' yang dipikirkan Venetim ternyata mengungkap kebenaran.

Karena itu, saat ini pun Venetim diam saja. Hal yang terbaik adalah tidak mengatakan apa yang tidak ditanyakan.

"Selain itu, yang harus kita waspadai adalah pembunuhan Uskup Agung Iburton. Kita harus segera menyewa pengawal. Mengingat mereka mungkin akan datang untuk mengacaukan pemilihan pada hari kejadian, kita butuh seratus orang di pihak kita."

"Itu berarti, intinya kita hanya perlu mengumpulkan orang, kan? Mungkin, aku… bisa mengumpulkan sekitar lima puluh orang."

"Oho, kau berani juga ya. Apa kau akan meminta bantuan kakakmu, atau Perusahaan Vercle?"

"Yah… jika diklasifikasikan secara garis besar, memang begitu."

"Ah, sekarang aku jadi sangat cemas! Katakan dengan jelas apa yang kau pikirkan. Aku jadi penasaran dengan caramu itu!"

"Anu, kalau begitu akan kukatakan. Sebenarnya, begini. Termasuk untuk perkembangan setelahnya, cara pasti untuk mengumpulkan orang dan hal yang harus dilakukan adalah—"

Lalu Venetim mengungkapkan pemikirannya kepada Xylo. Di dalam hati dia takut Xylo akan mengamuk, tapi pria itu justru ternganga.

"—Kau serius mengatakan itu?"

"Eh? Anu, iya. Dengan cara ini, aku rasa kita bisa menang dalam pemilihan, dan…"

"Parah sekali, kedengarannya seperti lelucon. Bukankah itu penipuan? Tapi,"

Xylo tampak sangat bingung apakah harus memakinya atau tidak.

"Bagaimana ya, Venetim, kau terkadang memikirkan hal yang luar biasa. Hebat juga ide itu."

"K-kau memujiku, kan? Karena aku tidak bisa memikirkan cara lain."

"Aku memujimu. Meskipun rencananya perlu sedikit dimodifikasi… Masalahnya tinggal lima puluh orang sisanya, ya. Mau tidak mau, orang yang bisa kita mintai tolong sangat terbatas."

"Iya. Sayangnya… justru bagian itu yang membuatku lebih cemas."

Venetim merasa seolah-olah ada rasa sakit di bagian lambungnya.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close