NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Elf Watanabe Volume 2 Chapter 1

Penerjemah : Flykitty

Proofreader: Flyykitty


Chapter 1

Watanabe Fuka adalah gadis yang diakui semua orang sangat imut


 

Kesan pertama yang lembut dan pendiam memang sulit dihapus, tetapi kenyataannya dia memiliki kepribadian yang sangat teguh dan selalu berjalan di jalannya sendiri.

 

Itulah penilaian kepribadian Yukuto Oki terhadap Fuka Watanabe.

 

"Eh? Aku memang kelihatan sekeras itu, ya?"

 

Yukuto dan Fuka, siswa kelas dua SMA Minami Itabashi. Pertengahan bulan Juni, musim ketika bekerja di bawah sinar matahari saat kegiatan berkebun membuat keringat tak berhenti mengalir.

 

Sambil membantu ketua Klub Berkebun, Fuka Watanabe, mencabuti rumput liar di petak bunga, Yukuto tiba-tiba ditanya oleh Fuka tentang bagaimana pendapatnya mengenai kepribadian Fuka sendiri.

 

"Bukan keras kepala sih. Tapi lebih ke… kalau sudah memutuskan sesuatu, kamu langsung bertindak dulu sebelum berpikir. Dan baru berpikir atau berhenti setelah menabrak masalah, begitu kesannya."

 

"Uuuh… yah, aku nggak bilang itu sama sekali nggak benar sih."

 

Mendengar jawaban Yukuto, Fuka tampak bisa menerimanya, tetapi entah kenapa masih terlihat kurang puas dan memonyongkan bibirnya.

 

Namun sepertinya dia tak bisa merangkai rasa tidak puas itu menjadi kata-kata, dan hanya menggumamkan keluhannya dengan suara pelan yang tak terdengar oleh Yukuto.

 

"Bukannya kamu ceroboh atau apa. Tapi kalau kamu merasa ingin melakukan sesuatu atau merasa harus melakukannya, kamu nggak terlalu peduli walaupun itu sedikit menyimpang dari kebiasaan umum atau standar masyarakat, kan?"

 

"Ya… bisa dibilang begitu."

 

"Itu yang bikin aku merasa kamu tipe yang benar-benar mandiri."

 

"Kalau Oki-kun mengatakannya seperti itu, entah kenapa aku merasa itu nggak buruk."

 

Kalau dibilang "nggak buruk", berarti sebenarnya kata itu sendiri kurang berkenan di hatinya?

 

Mungkin karena kesan tajam dari kanji "mandiri sepenuhnya", atau karena kata yang ritmenya dimulai dengan bunyi "do" terasa kurang imut baginya?

 

Sambil memandangi raut wajah samping Fuka yang tampak rumit, Yukuto memikirkan hal-hal tak penting semacam itu, ketika—

 

"Hum!"

 

"Bahaya!"

 

Aura dingin penuh niat membunuh menyerang dari belakang, membuat Yukuto memutar tubuhnya di atas tanah. Tepat di tempat yang ia tinggalkan sesaat sebelumnya, telapak sepatu yang kotor oleh tanah melintas.

 

"Tunggu, Izumi-chan! Kamu ngapain!? Itu berbahaya!"

 

Fuka yang panik menoleh ke belakang. Di sana berdiri Izumi Kotaki, mengenakan sarung tangan kerja dan memeluk karung baru berisi tanah humus, menatap punggung Yukuto dengan mata dingin setelah gagal menendangnya.

 

"Kalau senpai memandang Fuka-chan dengan tatapan mesum, ya harus dihukum dong."

 

"Tidak boleh dihukum begitu dong! Oki-kun, kamu nggak apa-apa!?"

 

"Tenang, aku berhasil menghindar tepat waktu."

 

"Izumi-chan! Kalau saat kegiatan klub ada anggota yang sengaja mencederai orang lain, seluruh klub bisa dihentikan kegiatannya, tahu!"

 

"Eh? Yang itu yang dipermasalahkan?"

 

Korban dan pelaku percobaan penganiayaan itu bersamaan menoleh ke arah yang sama sambil berseru.

 

Di sana berdiri seorang elf dengan pipi menggembung, mengenakan jaket olahraga sekolah yang boleh kotor untuk kegiatan klub, dengan bordir nama "Watanabe".

 

Rambut emas, telinga panjang, dan mata hijau zamrud.

 

Elf bernama Fuka Watanabe itu, dengan sikap tegas khas ketua Klub Berkebun SMA Minami Itabashi, bertolak pinggang sambil membimbing para anggota.

 

"Ngomong-ngomong, soal klub yang dihentikan kegiatannya tadi, aku jadi kepikiran. Klub Berkebun sih baru naik status jadi klub resmi, tapi bagaimana dengan Klub Fotografi? Dengan kekurangan anggota, apa mereka nggak bakal diturunkan jadi klub hobi?"

 

Seolah tak mendengar ceramah Fuka, Izumi berkata dengan santai.

 

"Padahal kalau anggota klub menendang ketua dari belakang sampai cedera, sebenarnya Klub Fotografi sudah pasti kena penghentian kegiatan, lho?"

 

Yukuto berusaha membalas dengan keras kepala.

 

"Kan cuma percobaan. Lagi pula, selama senpai diam saja, nggak akan jadi masalah."

 

"Di era Reiwa masih ada orang yang terang-terangan membawa logika perundung sekejam ini…"

 

Di mata Izumi terlihat tatapan dingin seorang gadis yang cintanya pada Fuka terlalu berat. Yukuto tanpa sadar menarik napas ketakutan di tenggorokannya.

 

Bahkan Fuka pun tak bisa membiarkan argumen keterlaluan itu begitu saja, dan menegur Izumi dengan suara tegas.

 

"Izumi-chan."

 

"Eh, maksudku Fuka-chan…"

 

"Izumi-chan."

 

"……maaf, Senpai. Aku nggak akan menendang dari belakang lagi kalau ada kesempatan."

 

"Jangan nyiapin celah dalam pilihan katanya!"

 

Ucapan "kalau ada kesempatan" membuat Yukuto merinding, membayangkan jenis tendangan lain yang mungkin akan dilakukan.

 

"Izumi-chan juga anggota Klub Fotografi, jadi kamu harus tetap menunjukkan rasa hormat pada ketua klub!"

 

"Iyaaa…"

 

"Barusan itu ada hormatnya di mana?"

 

Tanggapan Yukuto membuat telinga elf itu bereaksi dengan jelas.

 

"Oki-kun. Kekurangan Izumi-chan itu nggak bisa diperbaiki sekaligus. Kita harus terus memuji hal-hal kecil seperti ini supaya bisa membimbing Izumi-chan sedikit demi sedikit menjadi manusia yang layak."

 

"Fuka-chan, itu bukan sesuatu yang seharusnya kamu katakan sambil memelukku."

 

Kali ini Izumi yang menyela, tetapi Fuka tidak menanggapinya dan langsung mengganti topik.

 

"Lalu, alasan kenapa Klub Fotografi tidak diturunkan statusnya."

 

"Fuka-chan yang menjelaskan, ya."

 

"Semua ketua klub diberi tahu peraturan sekolah mengenai status klub. Ada beberapa syarat agar kegiatan ekstrakurikuler yang tidak berhubungan langsung dengan pelajaran bisa diakui sebagai klub resmi. Selain kegiatannya harus diakui sekolah, jumlah anggota organisasi harus minimal enam orang secara keseluruhan, atau minimal dua orang di tiap angkatan. Kalau syarat ini tidak terpenuhi, tetapi klub berhasil mencatat prestasi yang diakui sekolah dalam kurun satu tahun sebelum atau sesudah kekurangan anggota itu, maka masa tenggang sebelum diturunkan menjadi klub hobi diperpanjang satu setengah tahun sejak saat itu."

 

"…Agak rumit sih, tapi berarti karena senpai pernah lolos seleksi lomba sebelumnya, Klub Fotografi setidaknya bisa tetap jadi klub resmi sampai semester dua tahun depan?"

 

"Benar. Memang karena kegiatannya lebih sedikit, dana klub juga berkurang. Tapi untuk Klub Fotografi, semua senior kelas tiga sudah lulus, jadi klubnya sempat tinggal satu orang. Itu keadaan yang tak terhindarkan, jadi sampai Oki-kun naik ke kelas tiga, statusnya tetap klub resmi tanpa syarat."

 

"Ooh, begitu. Di manga biasanya begitu anggota berkurang, OSIS langsung datang memberi peringatan penurunan status. Kukira lebih ketat. Kalau begitu, mungkin aku nggak perlu memaksakan diri ikut dua klub."

 

"Bisa dibilang iya, tapi juga bisa dibilang tidak."

 

"Hah?"

 

"Awalnya aku sempat berpikir Izumi-chan curang karena ikut dua klub sendirian."

 

Sambil berkata begitu, Fuka melirik Yukuto sekilas, lalu segera memalingkan pandangannya dengan senyum samar penuh rasa malu.

 

"Kalau dipikir-pikir, secara pribadi hasil akhirnya memuaskan."

 

"Hah…"

 

Izumi merasa ada sesuatu yang tidak beres dari isyarat mata Fuka, dan kembali memperlihatkan sikap seolah siap menendang Yukuto lagi.

 

"Ngomong-ngomong, Oki-kun. Hari ini mau foto bagaimana? Dari sisi Klub Berkebun, sepertinya setelah menaburkan tanah yang dibawa Izumi-chan, kegiatan hari ini selesai."

 

"Ah, kalau begitu Kotaki-san. Mau latihan komposisi dengan subjek di tengah hari ini?"

 

Ditanya begitu, Yukuto menarik tas kamera SLR yang diletakkannya di atas blok tepi petak bunga dan menyerahkannya pada Izumi.

 

"……aku masih agak takut sama kamera itu."

 

"Kontes berikutnya juga sudah ditentukan. Kamu masuk Klub Fotografi meski ada orang yang kamu benci sampai ingin menendangnya dari belakang, kan?"

 

"Senpai, serius deh, kebiasaan kamu ngomong begitu."

 

Sambil mengerutkan wajah, Izumi menerima tas itu dari tangan Yukuto dan dengan hati-hati mengeluarkan kamera di dalamnya.

 

Sebuah kamera film SLR yang tampak biasa saja, sedikit kuno.

 

"Fuka-chan, tolong ya."

 

"Iya. Sedikit saja, ya."

 

Saat Izumi menyerahkan kamera kepada Fuka, Fuka hanya mengintip ke dalam viewfinder kamera itu sesaat.

 

Pada saat itu, terdengar suara samar seperti kaca tipis yang retak entah dari mana, dan seluruh tubuh Fuka tampak berkilau sangat tipis untuk sesaat.

 

Karena masih berada di bawah sinar matahari sore awal musim panas, tidak jelas apakah dia benar-benar bercahaya atau itu hanya perasaan Izumi saja.

 

Ketika Fuka mengembalikan kamera itu dengan hati-hati kepada Izumi, Izumi pun dengan ragu-ragu melihat Fuka melalui viewfinder.

 

"Gimana, Kotaki-san. Kelihatan sesuatu?"

 

"Fuka-chan kelihatan… seperti sedikit bercahaya… mungkin? Kalau Senpai gimana?"

 

Bersamaan dengan jawaban Izumi yang terdengar ragu, kamera itu kembali ke tangan Yukuto. Dan saat Yukuto mengintip melalui viewfinder dan melihat Fuka—

 

"Reproduksinya sempurna sampai sejauh ini."

 

Tak seperti jawaban Izumi yang samar, di mata Yukuto, seluruh tubuh Fuka terlihat bersinar dengan sangat jelas.

 

Bukan berarti Fuka benar-benar memancarkan cahaya, tetapi itu adalah cahaya subjek luar biasa yang hanya bisa dilihat oleh fotografer yang memandang dunia melalui viewfinder kamera tersebut.

 

Cahaya yang ditunjukkan kamera—kamera yang pernah digunakan untuk mengambil foto peraih penghargaan juara dua dalam Tokyo Student Usual Life Photo Contest, sekaligus merupakan peninggalan mendiang ayah Yukuto—tampaknya berkaitan dengan sesuatu yang seharusnya tidak ada di Bumi maupun Jepang: "kekuatan sihir".

 

Dan kamera yang telah menyimpan kekuatan sihir elf di dalamnya itu memiliki kemampuan untuk menembus "sihir penyamaran wujud" yang ada dalam diri Fuka Watanabe.

 

 

Mengungkapkan perasaan pada gadis yang disukai, lalu dia menampakkan wujud aslinya sebagai elf. Itulah kejadian yang menimpa Yukuto Oki.

 

Yukuto Oki, ketua sekaligus satu-satunya anggota Klub Fotografi SMA Minami Itabashi, meminta Fuka Watanabe—ketua Klub Berkebun sekaligus teman sekelasnya—untuk menjadi model foto yang akan ia kirimkan ke lomba.

 

Melihat Fuka yang dengan sungguh-sungguh menekuni kegiatan klub setelah menyetujui permintaan itu, perasaan yang selama ini dipendam pun tanpa sengaja terucap, dan perasaan itu diterima.

 

Namun tepat setelah merasa diterima, Fuka Watanabe yang polos dan lembut sebagai gadis Jepang berubah menjadi seorang elf berambut pirang dan berparas cantik.

 

Di mata Yukuto, dia hanya bisa terlihat sebagai elf, tetapi ketika difoto melalui kamera, wujudnya tetap seperti Fuka Watanabe yang biasa.

 

Setelah berdiskusi berulang kali, Yukuto mengulang pengakuan perasaannya, dan mereka berdua sepakat untuk terus saling mengenal lebih dalam, serta memastikan bahwa Fuka akan tetap menjadi model foto Yukuto.

 

Namun, di hadapan Yukuto yang masih bimbang sejauh mana ia harus melangkah lebih dalam ke dunia "elf", muncul Izumi Kotaki—teman masa kecil Fuka yang juga bisa melihat wujud asli Fuka.

 

Izumi, yang sejak kecil mengetahui kebenaran tentang Fuka, menunjukkan ketidaksukaannya pada sikap setengah-setengah Yukuto dan memusuhinya dengan keras. Namun justru itulah yang menjadi pemicu bagi Yukuto untuk semakin ingin mengenal elf lebih dalam.

 

Menanggapi perasaan itu, Fuka mengundang Yukuto dan Izumi ke kampung halaman para elf, dunia lain bernama Natche Riviera.

 

Di sana, Yukuto dan Izumi mengetahui bahwa Fuka sendiri tidak bisa melihat wujud elf miliknya.

 

Dari ibu Fuka, Suzuka, terungkap bahwa kamera yang selama ini digunakan Yukuto berasal dari Natche Riviera, dan dengan menyalurkan kekuatan sihir ke dalamnya, kamera itu dapat mematahkan "sihir penyamaran wujud" yang menyerupai kutukan pada ras elf—tetapi hanya di dalam foto.

 

Sejak saat itu, Yukuto, Fuka, dan Izumi mulai memikirkan kembali apa sebenarnya "wujud sejati Fuka Watanabe", dan makna menghabiskan waktu bersama seorang gadis yang berwujud elf namun tidak dapat melihat wujud aslinya sendiri—semua itu melalui satu-satunya foto di dunia yang berhasil menangkap wujud sejatinya.

 

Peristiwa itu terjadi pada pertengahan bulan Juni.

 

 

"Bagus~ Fuka-chan imut~! Coba sedikit condong ke depan lagi!"

 

"Eh? B-begini?"

 

"Oh! Bagus, itu! Tetap begitu, sekarang taruh jari di dagu, lalu julurkan lidah sedikit, kayak lagi pengen sesuatu."

 

"L-lidah? Eh… b-begini?"

 

"…Ah, bagus! Fuka-chan lucu banget! Keringat di leher Fuka-chan itu—ngugh!"

 

Suara Izumi yang terdengar penuh semangat tiba-tiba terhenti oleh bunyi tumpul yang ringan, disertai suara lain.

 

"…Senpai, barusan kepalaku…"

 

Dengan bagian datar, Yukuto menjatuhkan reflektor lipat tepat ke puncak kepala Izumi yang rambut poninya terbelah rapi.

 

"Berikutnya kena sudutnya. Kotaki-san, jangan teriak hal-hal yang menurunkan martabat Klub Fotografi."

 

"Tapi! Fuka-chan yang kelihatan dari viewfinder itu benar-benar imut! Pengen nyuruh dia pose macem-macem!"

 

"Dari mana sih meme pemotretan gravure mesum itu berasal? Ini latihan untuk lomba foto pelajar, lho. Pose yang terlalu dibuat-buat itu NG!"

 

"Di-bu-at?"

 

"Maksudnya pose yang terlalu disengaja! Kalau kamu nyuruh pose kayak di photobook gravure idol, bisa-bisa kita dilarang ikut lomba berikutnya!"

 

"Apa sih, itu sama aja menolak semua gravure idol!"

 

"Bukan begitu maksudnya… dan Watanabe-san juga, jangan terus-terusan pakai pose itu."

 

"Eh? Sudah cukup?"

 

"Iya… lomba kali ini bukan yang seperti itu… dan juga, itu…"

 

Fuka yang dengan patuh mempertahankan pose ‘khas’ yang disuruh Izumi itu membuat Yukuto refleks memalingkan pandangannya.

 

"Berbahaya buat mata…"

 

Celana training-nya digulung sampai betis, resleting atasannya diturunkan sedikit di bawah dada, kancing pertama blus di dalamnya terbuka, lengannya disilangkan agak kuat di depan perut, duduk di tepi petak bunga dengan kaki terulur tak beraturan—jika ada elf cantik seperti itu di depan mata, siapa pun siswa SMA laki-laki pasti bereaksi sama.

 

"O-oh begitu… hmm…"

 

Mungkin terkejut dengan reaksi Yukuto, Fuka sedikit membelalakkan mata, lalu dengan ekspresi senang sekaligus agak enggan, ia melepas pose itu.

 

"Senpai, jangan-jangan barusan kamu lihat pose Fuka-chan dengan pikiran mesum—"

 

"Yang nyuruh pose begitu kan kamu, Kotaki-san! Jangan nendang! Jangan nendang!"

 

Sambil menahan Izumi yang hendak melancarkan tendangan berkelahi dengan memperlihatkan telapak sepatunya, Yukuto menahan wajah dan perasaannya yang hampir memerah, lalu menatap Fuka yang sudah berdiri.

 

"Kotaki-san. Menurutmu, dari 5W1H fotografi yang pernah aku jelaskan, apa yang paling dipentingkan dalam gravure idol?"

 

"Ya jelas Who, kan. Gravure idol itu difoto dalam berbagai situasi, tapi intinya tetap idol itu sendiri."

 

"Mungkin ini pertama kalinya aku dengar kalian ngobrol kayak anak Klub Fotografi."

 

Fuka yang mendengarkan percakapan mereka dengan penuh minat menangkupkan tangan di depan wajahnya dan mengalihkan pandangan antara keduanya.

 

5W1H fotografi adalah ajaran turun-temurun Klub Fotografi, yang menyesuaikan konsep 5W1H dalam bahasa Inggris: kapan, di mana, siapa, apa, mengapa, dan bagaimana—mana yang paling ditekankan dalam foto yang akan diambil.

 

"Betul. Tema fotonya sangat bergantung pada individu. Kalau orang lain disuruh pose sama, tema fotonya langsung runtuh. Karena itu, untuk lomba kali ini, nggak bisa."

 

"Eeh? Masa sih?"

 

Izumi memprotes dengan wajah tidak puas, lalu mengeluarkan ponselnya, mengoperasikannya, dan menyodorkannya ke Yukuto.

 

"Kalau begitu kirim aja foto Fuka-chan yang super imut pakai seragam. Beres, kan? Masalahnya apa?"

 

Student Uniform Photo Contest.

 

Itulah lomba yang Yukuto dan Izumi putuskan untuk ikuti sebagai Klub Fotografi.

 

Nuansanya mirip dengan Tokyo Student Usual Life Photo Contest tempat Yukuto meraih juara dua, tetapi bedanya, lomba ini berskala nasional dan mengangkat "seragam" sebagai tema utama.

 

"Masalahnya segunung."

 

"Lah, emangnya kenapa sih!"

 

Sekilas, foto "Fuka-chan Super Imut Berseragam" yang dimaksud Izumi memang tampak sesuai dengan tema, tetapi Yukuto menggeleng dengan ekspresi serius dan berkata tegas:

 

"Karena yang bisa menganggap foto itu ‘super imut’ cuma aku dan Kotaki-san!"

 

"Huh!?"

 

Mendengar jawaban itu, tubuh Fuka bergetar seolah melompat, matanya terbelalak lebar.

 

"Hah?"

 

Entah kenapa, dengan tatapan mata kesal, Izumi kembali bersiap menendang Yukuto, mulai menggesekkan telapak kakinya ke tanah seperti banteng yang hendak menyeruduk.

 

"Hah? Maksudmu apa, Senpai? Mau bilang kalau yang ngerti betapa imutnya Fuka-chan cuma kamu sendiri, gitu?"

 

"Enggak, aku juga masukin kamu kok, Kotaki-san. Lagipula selain kita, katanya di sekolah ini masih ada setidaknya dua puluh orang lagi."

 

"Ngomongin apa sih?"

 

"Ngomongin keberadaan tersembunyi yang bahkan aku sendiri nggak begitu paham. Pokoknya, kita nggak boleh menganggap kalau yang menyadari betapa spesialnya imut dan menariknya Watanabe-san itu cuma kita berdua."

 

"Oki-kun!? A-anu, itu—!"

 

"Hah? Imutnya Fuka-chan itu level nasional, tahu!?"

 

"Walaupun begitu, tetap nggak bisa. Pada akhirnya, buat orang yang nggak kenal karakter ‘Watanabe Fuka’ sebagai pribadi, fotonya cuma akan terlihat seperti ‘gadis imut yang meniru gravure’."

 

"……Hah? Eh?"

 

"Seimut apa pun pakaian yang dikenakan Watanabe-san, kekuatan subjek akan terlalu berat di ‘siapa’ dari 5W1H. Alasan kenapa harus berseragam juga jadi lemah, jadi nggak cocok dengan tema yang diajukan."

 

"Eeh? Aku masih nggak puas. Emangnya ‘gadis imut pakai seragam’ separah itu?"

 

"Kita boleh saja menganggap itu foto yang bagus. Faktanya, bagaimanapun cara memotretnya, Watanabe-san tetap imut menurutku. Tapi kemungkinan besar juri lomba nggak akan berpikir begitu—kalau lihat foto-foto pemenang tahun-tahun sebelumnya, harusnya kamu juga bisa paham."

 

"Hm… ya sih."

 

Saat Izumi menggulir halaman portal lomba, beberapa karya terpilih tahun lalu terpampang di halaman utama.

 

"Jadi foto yang kelihatan banget ‘ma-sa mu-da!’ kayak gini yang laku?"

 

Foto pemenang utama tahun lalu menampilkan tiga siswi SMA yang membawa kotak alat musik dengan bentuk berbeda, masing-masing memegang payung warna berbeda namun mengenakan syal dengan warna yang sama, sedang mendaki jalan menanjak di kota bersalju.

 

Dalam ulasan juri tertulis:

 

—Di tengah keheningan, terasa gairah yang kokoh dan ikatan persahabatan dalam menghadapi kesulitan—sebuah pemandangan yang tak tergantikan. Ada tanjakan di sini yang, setelah dewasa, tak akan pernah bisa dinaiki lagi, seberapa besar pun tekad atau uang yang dikeluarkan.

 

"Beneran foto sebagus ini bisa keambil secara kebetulan? Pasti yang motret ngasih arahan dan nyuruh mereka pose, kan?"

 

"Di syarat lomba juga nggak dibilang kalau subjek nggak boleh diarahkan. Tapi terlepas dari kebenarannya, blur mobil yang melintas di depan kamera memberi kesan bahwa ini mungkin pemandangan yang kebetulan terlihat dari seberang jalan. Bahkan kalau sebenarnya mereka disuruh menunggu dengan pose itu sampai mobil lewat, fotonya tetap punya kedalaman cerita dan aliran waktu yang membuat kita nggak merasa dibuat-buat. Rasa penasaran tentang isi kotak alat musik, apakah ini daerah bersalju, apakah latihan mereka berat, apakah karena musim dingin ini mungkin lomba terakhir—semua itu membangkitkan ketertarikan pada tokoh-tokohnya. Menurutku ini foto yang luar biasa."

 

"Haa… oh… ya, kalau dibilang begitu sih."

 

"Kalau begitu, menembus lomba cuma dengan foto yang menampilkan imutnya Watanabe-san di level nasional bakal sulit. Kalau tetap mau bertaruh di situ, kita harus menampilkan tema atau latar yang juga mengeluarkan pesona Watanabe-san selain sekadar imut. Di lomba Usual Life Photo Contest kemarin, kita bisa menang karena itu."

 

"Uuuuh… nyebelin. Aku kalah debat secara logika sama Senpai. Jadi… imutnya Fuka-chan doang nggak cukup, ya."

 

"Kalau Kotaki-san secara pribadi mau motret dengan tema ‘Watanabe-san yang imut’, itu sama sekali nggak masalah. Kalau kamu bilang itu fotonya dan nunjukin ke aku, aku juga pasti bakal bilang dia imut dan itu foto yang bagus. Tapi kalau mau menyampaikannya ke orang yang nggak kenal Watanabe-san, dibutuhkan faktor kuat lain yang makin menonjolkan keimutannya… hm?"

 

Di samping Yukuto dan Izumi yang sedang berdebat panas, terdengar suara benda berat jatuh ke tanah.

 

Saat menoleh, mereka melihat Fuka terjatuh di tanah sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya menggeliat pelan.

 

"F-Fuka-chan!?"

 

"Watanabe-san! Ada apa!? Kamu nggak apa-apa!?"

 

"A-aku nggak apa-apa! Nggak apa-apa, jadi tolong! Umm, Oki-kun, bisa tolong diam sebentar!?"

 

Wajah Fuka di balik kedua tangannya merah menyala, menggeliat seperti cacing yang terdampar di aspal panas musim panas. Seberapa kuat pun dia menutupi wajahnya, erangan kecil tetap lolos dari sela-sela jarinya.

 

Melihat keadaan yang tak biasa itu, Yukuto dan Izumi hanya bisa menahan napas dan memperhatikannya. Tak lama kemudian, gerakannya berhenti, dan dari sela jarinya, mata Fuka—yang tampak benar-benar goyah—menatap Yukuto.

 

"Oki-kun, kamu ngomong gitu sengaja, ya?"

 

"Hah? Eh, nggak, anu…"

 

Setelah jeda sesaat, Yukuto tersadar.

 

"A! …e-enggak… bukan sengaja, tapi karena ini soal foto, dan… ya… tapi… itu memang perasaanku…"

 

Menyadari bahwa dengan nada tegas dia sudah berulang kali secara tidak langsung menyebut Fuka "imut", otaknya terasa seperti boiler yang meledak.

 

Satu terkapar di tanah, satu lagi berdiri kaku dengan wajah merah padam seperti pose Sandai Otani Oniji no Yatsuko Edobei karya Sharaku—Fuka dan Yukuto sama-sama membeku.

 

"…………Hmph!"

 

"Adduh!"

 

Kesal melihat mereka berdua, Izumi akhirnya benar-benar melayangkan tendangan tepat ke bokong Yukuto.

 

 

Karena Yukuto sempat "mati fungsi" dan Fuka pun punggung serta bokongnya penuh debu pasir, akhirnya setelah itu mereka hampir tidak bisa memotret dengan benar.

 

Satu-satunya foto Fuka yang diambil Izumi menggunakan kamera Yukuto yang telah diisi sihir Fuka pun belum bisa diketahui hasilnya sebelum dicuci.

 

"Haaah… ya ampun… kalian berdua… benar-benar…"

 

Dalam perjalanan pulang dari sekolah, Fuka mendinginkan pipinya yang panas—bukan hanya karena cuaca—dengan botol teh rooibos yang dibelinya di minimarket.

 

"Itu tuh, kebiasaanmu, Oki-kun…"

 

Saat menempelkan botol ke dahinya, tangannya yang menyentuh poni merasakan ada benda asing di rambutnya.

 

Ketika diambil, itu hanyalah butiran pasir kecil—mungkin masuk ke rambutnya saat tadi menggeliat di tanah.

 

Sambil berpikir bahwa hari ini dia harus mencuci rambut dan mencuci jaket training dengan saksama, Fuka memasukkan botol ke dalam tas sekolah, lalu mengeluarkan ponselnya. Ia menyalakan kamera depan untuk mengecek apakah poninya kotor.

 

"Oki-kun, benar-benar deh…"

 

Meskipun ia berpikir ini hanya karena matahari sore atau cuaca, wajahnya masih terasa agak merah, membuatnya kembali merasa malu sendiri.

 

Karena tidak menemukan hal mencolok pada poninya, Fuka menutup aplikasi kamera. Yang kemudian muncul di matanya adalah—

 

"Oki-kun…"

 

Gambar layar kunci: foto dirinya bersama sang ibu.

 

Foto yang diambil Yukuto, yang menampilkan wujud asli dirinya dan ibunya.

 

Foto aslinya adalah foto analog yang diambil dengan kamera film itu, lalu dipindai dengan printer rumahan dan disesuaikan ukurannya untuk wallpaper ponsel.

 

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat wujud sejatinya sendiri. Sosok elf itu sesuai dengan "rasa diri" yang ia miliki, tetapi sama sekali tidak mirip dengan sosok gadis Jepang biasa yang tadi muncul di kamera depan.

 

"Hey, Oki-kun…"

 

Meskipun tadi sampai terjatuh ke tanah karena terlalu senang, kini Fuka justru merasa sedikit membenci dirinya sendiri karena memikirkan hal seperti ini. Namun tetap saja, ia tak bisa menahan pertanyaan itu di dalam hatinya.

 

"Yang mana, ya…"

 

Aku yang mana yang kamu bilang imut, sampai seseru itu bersama Izumi?

 

Langkah kaki Fuka melambat sedikit, ponsel masih digenggam erat.

 

Belum lama sejak pengakuan mengejutkan Yukuto.

 

Tentu saja, bagi Yukuto, kenyataan bahwa Fuka adalah makhluk dari ras lain mungkin lebih mengejutkan daripada pengakuannya sendiri.

 

Dan setidaknya sampai momen itu, tak diragukan lagi bahwa yang Yukuto anggap "imut" adalah Fuka Jepang—yang muncul di kamera depan ponsel ini dan yang setiap pagi ia lihat di cermin rumahnya.

 

Namun sekarang, di mata Yukuto, wujud Jepang itu tidak lagi terlihat.

 

Meski begitu, ketika Yukuto mengatakan ia imut—apakah itu ditujukan pada dirinya yang kini terlihat olehnya?

 

Ataukah pada dirinya yang ada di dalam foto?

 

"…Aku bodoh. Memikirkan hal seperti ini sekarang."

 

Jika pertanyaan seperti ini benar-benar dilontarkan kepada Yukuto, pasti dia akan kebingungan.

 

Fuka ingin menepis semua perasaan negatif yang terlanjur ia miliki terhadap Yukuto, lalu mempercepat langkahnya yang sempat melemah dan segera menyusuri jalan pulang. Namun, tepat saat itu, ponsel yang digenggam erat di tangannya berdering menandakan ada panggilan masuk.

 

"Eh? Ibu? Ibu hari ini di sini?"

 

Yang tertera di layar panggilan masuk adalah nama ibunya, Suzuka.

 

Ibu Fuka, Watanabe Suzuka, menjabat sebagai pejabat administrasi di Desa Ierefu yang menguasai Hutan Raya Timur, sebuah desa yang berada di dalam Pulau Penjara Terapung tempat seluruh elf dari dunia lain Natche Riviera ditahan.

 

Karena itu, ia hanya menginap di rumah sisi Jepang saat hari libur di sana, dan setidaknya hari ini seharusnya tidak ada rencana untuk pulang.

 

"Halo? Ada apa, Bu? Aku nggak nyangka ibu di sini hari ini, jadi aku belum nyiapin makan malam sama sekali—eh? A, ada apa?"

 

Suara ibunya di seberang telepon terdengar suram, dipenuhi rasa cemas.

 

"Aku? Aku sudah keluar dari sekolah, lima menit lagi juga sampai rumah kok… iya, mengerti. Kalau begitu, tunggu ya."

 

Langkah kakinya yang tadi melambat kini berubah menjadi langkah cepat, nyaris berlari.

 

Ibunya, Suzuka, adalah prajurit terkuat di Desa Ierefu, seseorang yang terlatih baik secara fisik maupun mental. Sejak Fuka kecil, rasanya ia belum pernah melihat ibunya memperlihatkan kecemasan sedalam ini.

 

Akhirnya, setelah berlari pulang, pemandangan yang Fuka lihat di ruang tamu adalah sosok ibunya yang begitu gelisah hingga terasa asing—duduk di meja makan sambil meminum teh dengan tangan yang tak tenang.

 

"Aku pulang… Ibu, ada apa? Ibu nggak apa-apa?"

 

"Oh, Fuka. Selamat datang. Ibu baru saja menyeduh teh. Kamu mau juga?"

 

"Aku nggak usah. Yang penting itu, ada apa? Terjadi sesuatu, kan?"

 

Di telepon, ibunya mengatakan bahwa ada hal yang harus dibicarakan langsung, sehingga Fuka diminta pulang secepat mungkin. Ini jelas bukan masalah sepele.

 

Berbagai firasat buruk melintas di benak Fuka.

 

Hal pertama yang terpikir adalah kecelakaan atau penyakit yang menimpa kerabat. Atau mungkin bencana alam yang terjadi di Desa Ierefu—sesuatu yang tak bisa ia tangani sendiri, tetapi tetap harus dibagikan informasinya sebagai elf Natche Riviera, San-Alf.

 

"Jangan-jangan ada sesuatu yang terjadi di Ierefu? Atau… ada anggota keluarga yang kenapa-kenapa?"

 

"Ah, itu… tenang saja. Bukan masalah besar yang menyangkut nyawa seseorang."

 

Kata-kata itu mungkin dimaksudkan untuk menenangkan Fuka, tetapi nada suara ibunya yang berat sama sekali tidak membuatnya merasa lega.

 

"Hanya saja, ada sedikit masalah yang merepotkan, dan mungkin akan melibatkanmu juga. Karena itu, ibu pikir lebih baik memberitahumu lebih awal, jadi ibu ambil setengah hari cuti sore dan menunggumu."

 

Disebut "sedikit masalah", tapi sejauh ingatan Fuka, ibunya belum pernah sekalipun mengambil cuti kerja dengan alasan seperti ini.

 

Ditambah lagi, ibunya yang biasanya selalu bersikap tegas pada Fuka, sejak percakapan dimulai sama sekali tidak berani menatap matanya.

 

Padahal pembicaraan yang sebenarnya bahkan belum dimulai, tapi kecemasan Fuka sudah mencapai puncaknya.

 

"Pendahuluannya nggak usah. Ada apa sebenarnya? Ini bukan pembicaraan yang bisa dilakukan sambil makan, kan?"

 

"Itu, eh…"

 

Setelah ragu-ragu dengan sikap yang tidak seperti biasanya, Suzuka akhirnya mengatakannya dengan suara sekecil nyamuk.

 

"……ke…lihat, gitu."

 

"Hah? Apa?"

 

"J-jadi, itu… ke-li-hat, gitu!"

 

"Apa sih, Bu!? Ada orang ngapain ibu!?"

 

"Makanya!"

 

Suzuka akhirnya menyerah dan berteriak keras.

 

"Ketahuan dilihat!"

 

"Dilihat apanya!?"

 

"Foto itu!"

 

"Foto itu yang mana—………………………………eh."

 

Waktu seakan berhenti.

 

Karena ibunya menyampaikan pengakuan mengejutkan itu dengan terburu-buru, Fuka sempat tak bisa mencerna maksudnya dan belum langsung memahami betapa seriusnya situasi ini.

 

Namun, tak lama kemudian nalurinya menyadari bahwa pengakuan sang ibu adalah masalah yang benar-benar tak terbayangkan dalam hidupnya selama ini. Wajahnya pucat, keringat dingin mengalir, dan kakinya mulai gemetar hebat.

 

"Ibu… Ibu bercanda, kan. Foto itu maksudnya…"

 

"……"

 

"Fo-foto itu… jangan-jangan foto yang itu? Siapa yang lihat? Foto siapa, dilihat oleh siapa, dan apa yang mereka lihat!? Jelasin yang jelas!"

 

Ditekan oleh pertanyaan putrinya, Suzuka mengatupkan gigi, lalu mulai berbicara perlahan.

 

"Beberapa waktu lalu, Oki-kun dan Kotaki-san datang ke Ierefu, kan. Saat itu, dengan kamera itu, sihir Jalan Tersesat berhasil ditembus, kan. Karena kejadian itu, pihak pemerintahan mengirim tim inspeksi. Dan dari situ… semuanya jadi ketahuan."

 

"Nggak nyambung! Cara Oki-kun menembus sihir itu memang mencurigakan karena kameranya, tapi hubungan sebab-akibatnya belum terbukti, dan masih dalam penyelidikan, kan! Kalau nggak ada yang ngomong soal kamera itu, mana mungkin nyambung ke foto!?"

 

"Ada yang bicara. Seseorang dari pasukan penjaga desa bilang kalau belakangan ini ada manusia dari Bumi yang membawa benda aneh."

 

"Eh—ah!"

 

Fuka tersentak. Saat pertama kali ia mengundang Yukuto ke Natche Riviera, karena sebuah kecelakaan, Fuka sempat kehilangan kesadaran sehingga Yukuto dan Izumi tidak bisa kembali ke Jepang.

 

Izumi mencoba meminta bantuan Suzuka di Desa Ierefu, tetapi jalan mereka terhalang oleh sihir Jalan Tersesat—sistem pertahanan yang mencegah orang yang tidak diundang memasuki desa.

 

Pada akhirnya, bidikan kamera Yukuto memantulkan dan menampakkan jalan tersebut. Saat itulah pasukan penjaga Ierefu langsung dikerahkan dan mengepung mereka.

 

"Lalu, pengelola manusia yang mengatur Pulau Penjara Terapung mengirim tim inspeksi, dan… sebagai desa, kami tidak punya pilihan selain mengatakan yang sebenarnya."

 

"T-tim inspeksi? Sampai segitunya!?"

 

Pulau Penjara Terapung berada di bawah yurisdiksi Pemerintahan Aliansi Penakluk Raja Iblis yang dibentuk oleh manusia Natche Riviera. Pada prinsipnya, semua elf wajib mematuhi hukum yang ditetapkan oleh pemerintah aliansi tersebut, termasuk misi penaklukan Raja Iblis.

 

Karena itulah, tim inspeksi tidak akan melewatkan tanda-tanda pemberontakan sekecil apa pun di kalangan elf.

 

Tim inspeksi hanyalah sebutan umum; nama resminya adalah ‘Tim Inspeksi dan Inspeksi Khusus Penaklukan Raja Iblis’.

 

"Akibatnya, semua anggota pasukan penjaga Ierefu yang bertugas hari itu diperiksa mendadak—loker dan barang bawaan mereka digeledah, ponsel disita, dan dari ponsel ibu ditemukan data bermasalah, yaitu foto itu. Karena itu, ibu dikenai sanksi skorsing."

 

"Pemeriksaan tim inspeksi tuh kayak razia barang sekolah SMP gitu? Terus, ibu pakai foto itu sebagai wallpaper ponsel?"

 

"Kamu sendiri yang mengirimkannya, dan kamu juga pakai sebagai wallpaper, kan."

 

"I-it sih iya, tapi…"

 

"Pokoknya! Untuk elf yang tetap tinggal di Pulau Penjara, sudah diputuskan akan ada wawancara tatap muka, pemeriksaan perilaku, dan dalam kasus terburuk, skorsing. Tapi masalahnya itu kamu dan Oki-kun."

 

Begitu nama Yukuto disebut, ekspresi Fuka langsung menegang.

 

"Apakah…tim  audit juga bakal datang ke sini?"

 

"Fakta bahwa kamera itu dibawa olehmu dan teman sekelasmu yang laki-laki sudah jelas. Tapi ibu sendiri tidak tahu bagaimana bentuk audit terhadap anggota yang ditempatkan di Bumi. Bahkan, dalam dua puluh tahun terakhir, tidak ada catatan elf asal Ierefu yang ditempatkan di Bumi pernah diaudit. Jadi mungkin saja hanya ada seseorang yang datang untuk memberi kalian pembinaan… tapi lingkungan tempat bertugas itu berbeda-beda tergantung negara dan wilayah, kan?"

 

"Y-ya, memang."

 

"Karena itu, ibu rasa audit terhadap elf di Jepang dan elf di Venezuela pasti tidak sama."

 

"Venezuela yang katanya paling rawan kejahatan di Bumi itu? Masa disamain?"

 

"Bisa saja kamu bilang begitu, tapi Fuka, kamu bisa langsung menunjuk letak Venezuela di peta dunia? Bisa sebutkan ibu kotanya? Bisa bilang negara apa yang berbatasan di sebelah timurnya?"

 

"Kenapa sih ibu ngotot banget soal Venezuela. Ya jelas aku nggak tahu."

 

"Orang-orang dari pemerintah aliansi itu menganggap seluruh Bumi sama saja, disatukan sebagai ‘dunia lain’. Aku sudah sering bertemu pejabat yang cuma bilang, ‘Bumi itu banyak tempat berbahaya, serem ya,’ begitu saja. Huh!"

 

"O-oh… begitu."

 

"Yah, mereka nggak akan sampai datang dengan persenjataan lengkap, tapi tetap saja, tidak ada yang tahu seperti apa audit itu akan berdampak padamu dan Oki-kun. Tentu saja mereka tidak akan memberi tahu kita sebelumnya… jadi, Fuka!"

 

Meski tampak letih dan kelelahan, dengan sorot mata yang tajam menyala, ia berdiri, mencondongkan tubuhnya dari seberang meja dan mencengkeram bahu Fuka dengan kuat.

 

"Penaklukan Raja Iblis… kamu benar-benar mengerjakannya dengan serius, kan!?"

 

"Uh…"

 

Fuka mengerang. Ia masih bisa menahan diri untuk tidak memalingkan pandangan.

 

"Kamu mengerti, kan!? Dinding pun punya telinga, pintu geser pun punya mata. Lakukan yang terbaik…! Mengerti!?"

 

"I-iya… aku mengerti… aku mengerti sih, tapi…"

 

Tatapan tajam yang membuat Fuka merasa seolah ibunya sendiri bisa berubah menjadi Raja Iblis itu memaksanya untuk mengangguk.

 

Namun, sikap dan kemampuan penyelidikan tim inspeksi terhadap para elf adalah sesuatu yang, bagi siapa pun yang terlahir sebagai elf, sudah lebih akrab di telinga daripada kisah Momotaro.

 

Setelah kembali ke kamarnya, Fuka menjatuhkan diri di atas tatami dan memegangi kepalanya.

 

"Gimana caranya aku harus menjelaskan ini ke Oki-kun…"

 

Lalu ia melirik ke arah lemari geser yang terhubung dengan padang rumput di sekitar Ierefu.

 

"Untuk sementara… ditutup saja."

 

Ia menyelipkan pel lantai sebagai palang di sisi seberang selimut tebal, lalu mengunci dengan kunci seadanya pintu yang terhubung ke dunia lain lewat sihir.

 

 

"J-jadi, begitulah kejadiannya…"

 

Pilihan Fuka bahkan tidak menunggu sampai keesokan hari, apalagi waktu makan malam. Ia langsung menceritakan semuanya tanpa sisa kepada Yukuto lewat panggilan video, lalu menyampaikan bahwa kemungkinan besar ia akan merepotkan dirinya ke depan, sambil bersujud meminta maaf.

 

"J-jadi audit, ya… kedengarannya berat juga. Eh, bisa tolong angkat kepalamu dulu nggak?"

 

Di sisi lain, Yukuto sendiri panik karena tiba-tiba menerima panggilan tanpa peringatan dari Fuka. Ia buru-buru duduk di meja belajarnya, menelan ludah, mengecek apakah kerah baju santainya tidak melorot aneh, lalu menekan tombol terima. Namun wajar saja jika ia terkejut—yang memenuhi layar ponselnya hanyalah bagian atas kepala Fuka.

 

Saat akhirnya Fuka mengangkat wajahnya, raut wajahnya terlihat sangat letih hingga justru membuat Yukuto merasa kasihan.

 

"Kalau begitu… aku harus gimana? Misalnya kalau ada yang nanya soal Natche Riviera atau kamera itu, lebih baik aku jawab jujur saja?"

 

"Itu nggak apa-apa. Aku rasa tim inspeksi juga nggak akan langsung melewatiku dan tiba-tiba mendatangi Oki-kun atau Izumi-chan. Data yang bisa mengidentifikasi wajah kalian nggak ada di sana, termasuk di ponsel ibuku. Lagi pula, mengganggu manusia Bumi juga melanggar aturan. Jadi kalaupun ada yang akan dikenai tindakan lebih dulu, itu aku. Soal itu, tenang saja."

 

"Kalau kamu bilang ‘yang kena dulu aku’, mana mungkin aku bisa tenang."

 

Ucapan Fuka yang terlalu mengkhawatirkan membuat Yukuto ikut tegang.

 

"Jadi benar-benar nggak tahu apa yang bakal terjadi? Bahkan di catatan lama pun nggak ada contohnya?"

 

"Benar-benar nggak tahu. Katanya sudah sangat lama tidak ada audit terhadap elf tipe penugasan tetap seperti aku di Ierefu."

 

"Penugasan tetap…"

 

Yukuto tak menyangka dunia elf punya klasifikasi pekerjaan yang terdengar seperti perusahaan penyalur tenaga kerja.

 

"Tapi cepat atau lambat, pasti akan ada seseorang yang langsung menghubungiku. Jadi mungkin tiba-tiba akan ada orang asing mondar-mandir di sekitarku. Tapi jangan khawatir, ya. Aku juga akan bilang hal yang sama ke Izumi-chan."

 

"Siapa juga yang bisa nggak khawatir setelah dengar begitu!?"

 

"Lalu, karena penyebab langsungnya adalah foto kita dan kamera Oki-kun itu, mungkin sebaiknya untuk sementara kamera itu jangan dibawa ke sekolah. Ini skenario terburuk, tapi walaupun mereka tidak berniat menyakitimu secara langsung, kalau kamera itu dinilai sebagai benda yang berasal dari Raja Iblis, tidak aneh kalau mereka memutuskan menyitanya dengan alasan pencegahan krisis."

 

"Itu keterlaluan banget, kan?"

 

"Penaklukan Raja Iblis adalah keadilan mutlak di Natche Riviera."

 

Sambil berkata begitu, Fuka tersenyum sedih.

 

"Lagipula, nggak apa-apa. Akhir-akhir ini aku memang agak malas, tapi kalau aku menjadikan ini sebagai kesempatan untuk benar-benar serius menjalani ‘Penaklukan Raja Iblis’, kurasa tidak akan ada hukuman."

 

"Penaklukan Raja Iblis… jangan-jangan, Watanabe-san, kamu bakal berhenti sekolah atau semacamnya…!?"

 

"Bukan! Bukan begitu! Aku tetap akan sekolah kok! Hanya saja… mungkin hari-hari di mana aku bisa membantu klub fotografi akan berkurang, atau akan lebih sering ada urusan yang tidak bisa kuceritakan pada Oki-kun dan Izumi-chan. Mungkin… akan jadi seperti itu. Padahal aku tidak ingin begitu."

 

"Watanabe-san…"

 

"Pokoknya, kalau kamu melihat aku berbicara dengan orang yang tidak kamu kenal, bisa saja itu anggota tim inspeksi yang menyamar sebagai orang Jepang. Jadi tolong jangan terlalu dipikirkan, ya."

 

"Aku juga nggak tahu semua relasi pertemananmu, dan aku nggak akan asal menyela hanya karena kamu ngobrol dengan orang yang aku nggak kenal."

 

"Iya."

 

"Meski begitu… aku memang nggak tahu bisa berbuat apa, tapi kalau ada hal sekecil apa pun yang bisa kubantu… bilang saja, ya?"

 

"Iya. Terima kasih, Oki-kun."

 

Fuka mengucapkannya dengan senyum yang lembut.

 

Namun senyum itu justru membuktikan bahwa satu kalimat Yukuto barusan sama sekali belum mampu menjadi kekuatan bagi kondisi Fuka saat ini.

 

Penaklukan Raja Iblis.

 

Kata itu beberapa kali muncul selama panggilan ini. Namun ketika Fuka—seorang San-Alf dari Natche Riviera, dunia yang seluruhnya bersatu menghadapi keberadaan bernama Raja Iblis—benar-benar harus menanganinya, apa yang bisa dilakukan oleh Yukuto, seorang siswa SMA laki-laki biasa yang bahkan bukan anggota klub olahraga? Tak perlu dipikirkan lagi, mungkin sama sekali tidak ada.

 

"Aku ingin sebisa mungkin tidak menjadi beban bagi Oki-kun, tapi kalau aku benar-benar kesulitan, mungkin aku akan meminta bantuanmu. Jadi… maaf ya, tiba-tiba menelepon."

 

"Iya. Sampai besok… besok kita masih bisa bertemu, kan?"

 

"Tenang saja. Aku akan tetap ke sekolah. Maaf sudah bikin kamu khawatir. Sampai besok."

 

Fuka melambaikan tangan, lalu menutup panggilan dengan senyum.

 

"Repot juga…"

 

Yukuto memasukkan ponselnya ke saku dan merebahkan tubuhnya di atas meja belajar.

 

Panggilan dari Fuka membuatnya tegang dan cukup menguras tenaga.

 

Isi pembicaraannya jelas mengejutkan, tetapi yang paling mengguncang Yukuto adalah—

 

"Rasanya sudah lama sekali aku nggak melihat itu."

 

Sosok Fuka yang tampil di panggilan video adalah Watanabe Fuka versi manusia Jepang.

 

Baik secara digital maupun analog, wujud Fuka yang terekam melalui mesin akan selalu dikenai sihir penyamaran, sehingga tercatat sebagai sosok manusia Jepang.

 

Kamera yang biasa digunakan Yukuto adalah kamera film; saat ia mengintip melalui viewfinder, yang terlihat adalah wujud elf, tetapi foto yang dicetak menampilkan wujud manusia Jepang.

 

Sejak Izumi bergabung dengan klub fotografi, mereka sudah beberapa kali memotret Fuka sebagai model. Karena itu, bukan sekadar melihat "wujud manusia Jepang", melainkan melihat sosok yang dulu pernah ia cintai—bergerak dan berbicara dengan rupa yang sama persis seperti saat dulu ia jatuh cinta—membuat hatinya terguncang hebat.

 

Yukuto tidak mencintai Watanabe Fuka hanya karena penampilannya. Namun, tak terbantahkan bahwa setelah jatuh cinta, ia juga menyukai penampilannya.

 

Soal jarak batin antara dirinya dan Fuka, Yukuto merasa—bukan karena terlalu percaya diri—bahwa justru setelah mengetahui kebenaran tentang elf, ia bisa lebih dekat dengannya.

 

Karena itu, ia tanpa sadar mengira bahwa sosok "Watanabe Fuka si manusia Jepang yang bergerak" tidak akan pernah ia lihat lagi.

 

Fakta bahwa ia bisa bertemu lagi dengan sosok itu begitu mudah membuat hatinya bergejolak hebat.

 

Singkatnya, di dalam hati Yukuto, "Watanabe Fuka si Elf" dan "Watanabe Fuka si Manusia Jepang" tanpa sadar dibandingkan satu sama lain.

 

"Ughhh…"

 

Baru saja ia ingin terus memotret wujud asli Fuka dari dekat, kini ia dihadapkan pada situasi ini—terlebih lagi di tengah cerita bahwa Fuka sedang berada dalam kondisi krisis. Tak heran Yukuto terjerumus ke dalam rasa muak pada dirinya sendiri.

 

Kejahatan dan gosip memang seolah tidak pernah ada jika tidak terbongkar, tetapi meskipun begitu, Yukuto benar-benar ingin bersikap tulus terhadap Fuka. Dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah—

 

"Setidaknya aku harus benar-benar mendengarkan apa yang Watanabe-san katakan, dan tidak menjadi penghalang baginya."

 

Ia tidak akan membawa kamera film itu ke sekolah.

 

Dan saat Fuka berinteraksi dengan orang-orang yang tidak ia kenal, kecuali jika ia dipanggil secara langsung, ia tidak akan pernah ikut campur.

 

 

Padahal ia sudah memutuskan begitu.

 

"Kok hari ini orang-orang di sekitar Watanabe-san banyak, ya?"

 

"A-ah, iya…"

 

Keesokan harinya di sekolah, di setiap jam istirahat selalu ada seseorang yang datang menghampiri Fuka.

 

Situasinya tidak berubah bahkan saat jam makan siang. Sampai-sampai terlihat pemandangan langka di mana ia duduk mengelilingi meja bersama teman sekelas sambil menggigit sandwich dari kantin sekolah.

 

Yang mengelilingi Fuka pada dasarnya adalah para siswi dari kelas yang sama, tetapi kadang-kadang ada juga siswi dari kelas lain yang tidak dikenalnya, bahkan siswi kelas satu dengan dasi berwarna khas angkatan mereka.

 

Padahal, biasanya waktu makan siang Fuka dihabiskan dengan bersembunyi di ruang klub berkebun sambil makan dalam porsi besar untuk memulihkan energi sihir yang tersedot oleh sihir penyamaran.

 

Namun, sejauh yang dilihat Yukuto, hari itu Fuka bahkan tidak makan sepersepuluh dari biasanya.

 

Saat Yukuto mulai khawatir apakah dia baik-baik saja, di waktu istirahat singkat antara jam pelajaran kelima dan keenam, Fuka keluar dari kelas dan berlari entah ke mana.

 

Mungkin ia pergi untuk mengisi perutnya dengan sisa makan siang yang kurang.

 

"Harusnya sih nggak apa-apa, tapi…"

 

Konon, sihir penyamaran menghabiskan energi sihir dalam jumlah yang sangat besar, dan jika energi itu benar-benar habis, elf bisa mati.

 

Tentu saja, melewatkan satu kali makan tidak akan langsung membuatnya tewas, tetapi membayangkan jika kondisi seperti ini berlangsung setiap hari tetap membuatnya cemas.

 

"Bukan berarti aku bisa begitu saja bilang ‘ayo makan bareng’…"

 

Bagaimanapun juga, mustahil semua wajah baru yang mengelilingi Fuka hari ini adalah anggota tim inspeksi dari Natche Riviera. Dan meski ingin membantu, Yukuto jelas tidak mungkin menunggu di ruang klub lalu menyuapi Fuka makanan atau minuman tinggi kalori seperti membuat foie gras.

 

Kalau Fuka benar-benar nekat, memang ada pilihan untuk sedikit membuat kelas heboh dengan mempertontonkan kotak makan tiga tingkat dan menggigit apel utuh di dalam kelas.

 

Tapi kalau ia bisa melakukan itu, sejak awal Fuka pasti sudah melakukannya. Selain itu, sesuai dugaan awal, ada risiko popularitasnya sebagai "food fighter" melonjak dan ia akan dikelilingi oleh jenis orang yang berbeda dari sekarang.

 

Lagipula, mereka sudah berjanji bahwa Yukuto tidak akan ikut campur sebelum Fuka sendiri mengirimkan sinyal SOS.

 

Di sudut pandang Yukuto yang gelisah tak bisa tenang, Fuka kembali ke kelas sambil mengunyah, lalu melambaikan tangan kecil seolah ingin menenangkannya sebelum kembali ke tempat duduknya.

 

"Mana bisa aku tenang…"

 

Baru kembali ke kelas saja mulutnya sudah dipenuhi butiran nasi seperti anak TK. Bisa dibayangkan betapa tergesa-gesanya ia makan.

 

"Eh—fu-chan, kenapa wajahmu begitu!?"

 

"Hah? Ada yang nempel? Kayaknya tadi makannya kurang, jadi aku agak lapar…"

 

Siswi yang duduk di depan dan belakangnya menyadari kumpulan nasi itu dan menegurnya dengan santai. Fuka memerah sambil mengambil butiran nasi itu dengan jari, lalu memasukkannya satu per satu ke dalam mulut kecilnya.

 

"Hah? Wah! Aduh, malu banget. Maaf… ahm…"

 

"Wah, fu-chan, gerakanmu barusan agak erotis, loh."

 

Siswi di belakangnya berkata dengan suara rendah sambil tersenyum.

 

Terus terang, Yukuto juga merasakan hal yang sama. Tapi di luar itu, panggilan "fu-chan" terasa tidak cocok baginya, dan ia juga khawatir dengan reaksi sekelompok cowok penggemar rahasia Watanabe yang entah bersembunyi di mana.

 

Ia ingin mereka berhenti bicara sembarangan. Yang paling penting, kalau ini terjadi setiap hari, perut Fuka pasti tidak akan tahan.

 

"Memang sih, tadi agak erotis."

 

"Berisik."

 

Kalau Yukuto bisa mendengarnya, berarti Tetsuya juga pasti mendengarnya. Ia menimpali tanpa pikir panjang. Namun berbincang dengan Tetsuya di tempat duduk berarti telinga elf Fuka juga bisa mendengarnya, dan Yukuto sama sekali tidak ingin memulai percakapan yang diawali kata "erotis".

 

"Ngomong-ngomong, tadi aku sempat nanya kenapa hari ini Watanabe-san begitu populer," kata Tetsuya.

 

"Hah? Serius?"

 

"Kepikiran, ya?"

 

"Jangan senyum aneh. Tolong jelasin."

 

Tetsuya sebenarnya hanya ingin menggoda Yukuto yang sering terlihat dekat dengan Fuka, tapi bagi Yukuto, ini adalah kondisi darurat sehari setelah peringatan krisis. Wajar saja kalau ia benar-benar serius.

 

"Setengahnya sih… katanya gara-gara kamu."

 

"Hah? Aku? Kenapa?"

 

Karena sama sekali tidak merasa bersalah, Yukuto kebingungan. Namun Tetsuya malah mengangkat bahu dengan ekspresi tak kalah bingung.

 

"Tadi aku dengar dari anak kelas sebelah, Oki, kamu tahu ‘Tochitoku’?"

 

"Nggak. Baru dengar. Tochitoku? Apa itu, bahasa Jepang?"

 

"Katanya singkatan dari ‘Papan Diskusi Anonim Wilayah Tokyo’. Ada papan anonim besar, terus di dalamnya ada papan khusus Tokyo, dan bahkan ada lagi yang lebih spesifik seperti distrik Itabashi atau Nerima."

 

"Heeh…"

 

"Terus, di papan distrik Nerima itu ada thread tentang ‘gadis cantik di wilayah ini’."

 

"Hah?"

 

Arah pembicaraan tiba-tiba terasa berbahaya, dan wajah Yukuto langsung menegang.

 

"Di situ ada fotonya. Foto Watanabe-san yang menang kontes itu."

 

"HAAAAAA!?"

 

Yukuto tanpa sadar berteriak keras hingga menarik perhatian sekitar, lalu buru-buru mengecilkan suaranya.

 

"Aku sudah milih fotonya dengan sangat hati-hati supaya bordiran nama di jersey nggak kelihatan!"

 

"Ya tapi, buat orang yang kenal langsung Watanabe-san atau tahu jersey sekolah kita, bukan hal sulit buat menebaknya."

 

"M-menebak…?"

 

Yukuto memang tahu secara teori betapa mengerikannya identitas pribadi bisa terungkap di forum anonim, tapi ia sama sekali tak menyangka Fuka akan terseret ke dalamnya karena dirinya. Darahnya langsung terasa surut.

 

"Ah, entah ini bisa bikin tenang atau nggak, tapi thread-nya sendiri hampir nggak ada pengguna aktif, jadi sepertinya nggak bakal langsung menyebar ke SNS. Lagipula resolusi fotonya juga cukup rendah."

 

"Kalau resolusinya rendah, berarti kamu juga lihat?"

 

"Iya. Kupikir kita bakal ngobrol soal ini, jadi aku minta URL-nya. Nih."

 

Yukuto merebut ponsel Tetsuya. Di layar memang terpampang foto Fuka yang memenangkan Tokyo Student Usual Life Photo Contest.

 

Sumbernya jelas dari halaman portal kontes yang memajang karya pemenang. Namun tentu saja, pihak penyelenggara tidak menyediakan format yang bisa langsung disimpan ke PC atau ponsel.

 

Rasio dan potongan fotonya sedikit berbeda dari ingatan Yukuto, dan meski masih standar zaman sekarang, kualitas gambarnya memang kasar. Kemungkinan besar, seseorang mengambil tangkapan layar dari tampilan situs dan memotong bagian fotonya saja.

 

"Terus, ada orang sekolah kita yang nemuin itu, nunjukin ke orang lain, dan bilang, ‘Eh, di sekolah kita ada gadis secantik ini?’ Lalu, ‘Lho, foto ini kayaknya pernah aku lihat deh… bukannya klub fotografi pernah menang pakai foto begini?’ Dari situ banyak orang mengaitkan fotomu dengan Watanabe-san. Terus rame lagi: fotonya bagus, Watanabe-san imut, dan akhirnya jadi kayak sekarang."

 

"Entah kenapa… aku nggak bisa jelasin, tapi cara menyebarnya nggak enak banget."

 

Yukuto, sebagai anak zaman sekarang, pernah melihat foto gadis seumuran yang tak jelas asal-usulnya tersebar di SNS dengan kalimat provokatif yang jauh dari kata sopan.

 

Masalah di Natche Riviera yang kini dihadapi "Watanabe si Elf" pun, jika dipikir-pikir, juga bermula dari foto yang diambil Yukuto dan akhirnya menjadi masalah besar melalui berbagai rangkaian sebab.

 

Di sini, dilihat dari sikap orang-orang yang berkumpul dan reaksi Fuka sendiri, meski sumbernya forum anonim, penilaiannya masih sebatas memuji penampilan Fuka dan belum sampai membahayakan dirinya. Namun rasa cemas yang tak terjelaskan tetap tidak bisa dihapus.

 

"Ya… salah langkah sedikit saja bisa langsung jadi bahan bakar drama besar. Dan setidaknya, ini berarti ada seseorang di sekolah yang rutin membuka forum itu, dan tipe orang yang suka menyebarkannya ke mana-mana."

 

"Bukan cuma itu. Bisa saja ada orang lain yang sengaja repot-repot memotong gambar lalu mengunggahnya ke forum. Artinya, mungkin ada dua orang di sekolah yang ceroboh soal urusan internet. Kalau dipikir begitu, rasanya benar-benar nggak enak, dan selain itu…"

 

"Selain itu?"

 

"………………nggak, nggak apa-apa."

 

Yukuto mati-matian menelan kata-kata yang hampir saja terlepas dari mulutnya.

 

Jika Tetsuya saat ini sama sekali tidak merasakan kejanggalan atau keraguan, maka ini adalah pertanyaan yang tidak boleh diajukan oleh Yukuto.

 

Mengapa foto Fuka diposting di papan anonim wilayah "Nerima"?

 

Dalam kaitannya dengan foto itu, satu-satunya nama yang muncul hanyalah Yukuto. Dan jika informasi tentang Fuka atau Yukuto bocor ke publik luas, selain dari identifikasi lewat jaket olahraga yang terlihat di foto, satu-satunya kemungkinan lain adalah fakta bahwa Yukuto menerima penghargaan di sekolah bocor secara spesifik.

 

Artinya, jika seseorang dari kalangan tidak dikenal atau seorang siswa yang berada di luar lingkar pertemanan Yukuto dan Fuka menemukan foto Fuka di lautan internet lalu mulai melakukan proses identifikasi, secara normal mereka seharusnya mempostingnya di papan wilayah "Itabashi", yaitu lokasi sekolah.

 

Namun kenyataannya, foto itu diposting di papan wilayah "Nerima". Dan rumah Fuka sendiri berada bukan di Itabashi, melainkan di Nerima.

 

Jika dugaan Yukuto benar, maka meskipun alamat rumah Fuka diketahui hingga nomor rumah, itu tetap bukan tempat yang bisa dijangkau orang biasa. Tapi, apakah boleh menganggap semua ini hanya kebetulan dan membiarkannya begitu saja?

 

"Yah… sekarang aku paham alasannya. Terima kasih."

 

"Oke."

 

Setelah mengembalikan ponsel kepada Tetsuya, Yukuto kembali menghadap ke papan tulis.

 

"Duh… baru soal penaklukan Raja Iblis saja sudah bikin kepalaku penuh…"

 

Ia menggumam pelan sambil memegangi kepalanya.

 

Tepat pada saat itu bel berbunyi menandakan pelajaran berikutnya dimulai, sehingga kegaduhan di kelas dan percakapan Yukuto dengan Tetsuya pun berakhir.

 

Namun, Tetsuya menatap punggung Yukuto dengan ekspresi heran, lalu bergumam pelan dengan volume yang hampir sama dengan gumaman Yukuto.

 

"Kenapa kamu tahu soal penaklukan Raja Iblis…?"

 

 

"Hei, Yukuto…!"

 

"Maaf, kalau ada apa-apa nanti habis kegiatan klub saja!"

 

"Eh, tunggu! …Hah, sudah pergi."

 

Begitu pelajaran keenam selesai, Yukuto mengabaikan panggilan Tetsuya dan langsung berlari keluar dari kelas.

 

Tak perlu dijelaskan lagi—tujuannya adalah bergabung dengan Fuka di klub berkebun untuk memastikan kondisi dan situasinya.

 

Kamera biasanya ia tinggalkan sesuai permintaan Fuka, tetapi hari ini sebagai gantinya ia membawa kamera DSLR digital lama model standar yang dulu ditinggalkan oleh para senior klub fotografi.

 

Fuka memang tidak mengatakan apakah ia harus datang atau tidak ke klub berkebun, tetapi jika alasannya adalah untuk mengajari Izumi soal fotografi, itu masih bisa dijadikan alasan yang masuk akal seperti biasa.

 

Sambil memikirkan hal itu, di pintu masuk terdekat dengan taman klub berkebun, ia kembali berpapasan dengan Izumi yang seperti biasa berwajah masam.

 

"Ah, Senpai. Sebenarnya itu semua apa sih?"

 

Pertanyaan pembuka itu keluar begitu saja, tapi tanpa perlu penjelasan rinci pun, Yukuto langsung paham apa yang dimaksud Izumi dengan "itu".

 

"Sejauh mana kamu tahu, Kotaki-san? Tentang papan anonim itu dan semacamnya?"

 

"Yang soal foto itu diunggah ulang tanpa izin ke papan anonim regional, kan?! Kayaknya aku sudah tahu hampir semua yang Senpai tahu! Huh! Siapa sih orang bodoh yang melakukan hal seperti itu! Pakai foto itu untuk hal semacam itu!"

 

Karena Izumi biasanya selalu menunjukkan sikap bermusuhan pada Yukuto, reaksi ini justru terasa agak mengejutkan.

 

"Apa sih dengan wajahmu itu?"

 

"Enggak, cuma… kupikir kalau Kotaki-san, kamu bakal marah besar karena aku memotret Watanabe-san sebagai model sejak awal."

 

"Hah? Foto itu sendiri tidak bersalah, kan. Memang aku tidak suka fakta bahwa Senpai memotret Fuka-chan seperti menjilat-jilat dengan kamera, tapi hasil fotonya sendiri bagus, dan Fuka-chan juga menyukainya, kan. Aku tidak sebodoh itu sampai tidak bisa mengakui kualitas foto hanya karena aku tidak suka Senpai."

 

"Hah?"

 

"Makanya, apa sih wajah itu?!"

 

"Bukan apa-apa, cuma… aku agak terkejut Kotaki-san menilai foto itu sejujur itu, dan tanpa sadar aku jadi senang…"

 

"Hah?! ………Ah!"

 

"Eh?"

 

"B-bukan, maksudnya, itu…"

 

Tidak seperti biasanya, Izumi menepuk-nepuk ujung rok seragamnya dengan kedua tangan, wajahnya sedikit memerah karena kesal, lalu akhirnya menatap Yukuto dengan pandangan tajam dari bawah.

 

"Bukan berarti aku menerima senpai memotret Fuka-chan, jadi jangan besar kepala! Tapi… yah, kalau hasilnya bagus ya aku anggap bagus saja! Mengerti?!"

 

Ia menggertakkan gigi seakan ingin menarik kembali fakta bahwa ia barusan mengakui tindakan Yukuto.

 

"Ya, ya, aku mengerti. Kalau Kotaki-san bilang begitu, itu cukup menyemangatkan. Tapi untuk sekarang, ayo kita lihat dulu keadaan Watanabe-san."

 

"Hey! Bukan itu maksudku!"

 

Takut ditendang lagi dari belakang, Yukuto mempercepat langkah menuju taman klub berkebun—

 

"!?"

 

Melihat pemandangan di depannya, ia spontan menghentikan napas dan langkahnya.

 

"Uwah!"

 

Izumi yang tadinya tertinggal malah menabrak punggung Yukuto dengan tubuhnya.

 

"Hei, Senpai! Kenapa tiba-tiba berhenti— …hah?"

 

Namun Izumi pun terdiam setelah mengikuti arah pandangan Yukuto dan melihat apa yang ada di depan.

 

"Apa… itu?"

 

Taman klub berkebun dulunya adalah kebun mawar dari era Showa. Baru-baru ini mereka menanam berbagai benih bunga dan sayuran, jadi belum ada tanaman indah yang bermekaran.

 

Namun, Yukuto dan Izumi benar-benar melihat mawar ilusi di sana.

 

Tak peduli pria atau wanita, ketika seseorang yang cantik berdiri di suatu tempat, di sana akan lahir sebuah "aura".

 

Di samping taman bunga, Fuka Watanabe sedang berbincang sambil tersenyum dengan seorang siswa laki-laki kelas tiga yang bahkan Yukuto dan Izumi tidak kenal.

 

Dan dia bukan siswa biasa.

 

Bahkan dari sudut pandang Yukuto sebagai sesama pria, dalam sekali lihat saja sudah jelas bahwa pria itu berada di "kelas" yang berbeda.

 

Tingginya satu kepala lebih tinggi dari Yukuto, kakinya panjang, dan wajahnya tampan.

 

Ditambah lagi, meskipun tertutup kemeja seragam, terlihat jelas otot bahu dan lengannya—ramping namun padat dan berisi.




Ketika seorang pria dengan tubuh sempurna sebagai jantan manusia berdiri berdampingan dengan seorang elf yang merupakan kecantikan tiada tara, lalu keduanya tersenyum sambil berbincang, pemandangan itu sudah seperti sampul manga atau poster promosi film.

 

Terlalu sempurna untuk disebut kebetulan. Terlalu "jadi gambar".

 

Tentu saja, hanya karena Fuka sedang berbicara dengan pria tampan yang tidak dikenal, bukan berarti bisa langsung disimpulkan bahwa hubungan mereka dekat. Itu terlalu tergesa-gesa.

 

Namun, iblis bodoh yang mulai tumbuh dan bersarang di hati Yukuto sejak ia melakukan panggilan video dengan Fuka semalam, kini seolah mendapatkan kekuatan. Iblis itu berbisik, menanamkan benih niat jahat dan kecurigaan di benaknya.

 

Bagaimana jika dirinya yang berdiri di samping pria itu, lalu dibandingkan dan dinilai lebih rendah?

 

Kebodohan karena tanpa sadar membandingkan Watanabe Fuka si elf dengan Watanabe Fuka si manusia Jepang, lalu mencerminkan perasaan itu kembali kepada Fuka.

 

Meski sadar itu bodoh, sebagai naluri makhluk hidup, Yukuto sudah merasa kalah dari siswa kelas tiga yang tak dikenalnya itu—bahkan sebelum melakukan apa pun.

 

Dan lebih parahnya lagi, begitu Fuka menyadari keberadaan mereka, ia berteriak dengan wajah panik.

 

"Ah! B-bukan! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan!"

 

Kalimat yang benar-benar terdengar seperti ucapan seseorang yang ketahuan berselingkuh.

 

Yukuto hampir saja ambruk berlutut, tetapi—

 

"Humph!"

 

Tiba-tiba Izumi menghantam bagian belakang lutut Yukuto dengan lututnya sendiri. Sebelum sempat benar-benar jatuh lemas, Yukuto terkena knee tap dan hampir terduduk di tanah.

 

"H-hey, Kotaki-san!?"

 

"Humph! Payah sekali! Halo~ Selamat siang, Watanabe-senpai. Terima kasih atas kerja kerasnya~"

 

Di depan siswa laki-laki yang tidak dikenal, Izumi langsung berubah sikap, memasang wajah manis dan menyapa dengan nada ceria.

 

Namun melihat wajah Izumi, Fuka justru tampak ketakutan dan berbicara seolah sedang membela diri.

 

"T-tunggu, Izumi-chan! Makanya aku bilang ini bukan begitu! Kamu salah paham lagi, kan!"

 

"Eh~? Maksudnya bagaimana, senpai? Aku kan belum bilang apa-apa?"

 

"Aku baru pertama kali bicara dengan Amami-senpai tadi, dan dia juga bukan datang untuk menemuiku."

 

"Amami-senpai… Amami… eh? Jangan-jangan Amami-senpai itu…?"

 

"Oh, kamu tahu aku?"

 

Untuk pertama kalinya, pria yang dipanggil Amami-senpai membuka mulutnya.

 

Tak disangka, suaranya bernuansa androgini, namun tetap memiliki serak lembut yang justru semakin menegaskan kesan elegan secara keseluruhan.

 

"Kalau tidak salah… Senpai adalah kapten klub voli putra, kan? Tahun lalu, di kualifikasi Haruko Volley, memimpin tim dan langsung mengangkat klub ke tingkat nasional…"

 

"Ah, tidak, itu berlebihan. Masa cerita seperti itu sudah sampai ke siswa kelas satu? Itu benar-benar hasil kerja keras semua orang dan kebetulan yang beruntung. Sama sekali bukan karena kekuatanku sendiri."

 

Kerendahan hati itu jelas tulus dan faktual—dan justru karena itulah terasa menyebalkan.

 

"Walau begitu, kalau dibilang aku datang untuk menemui Watanabe-san, ya memang benar. Untuk melakukan apa yang ingin kulakukan, mendekati Watanabe-san adalah jalan tercepat."

 

"Hah… lalu, sebenarnya Amami-senpai sedang membicarakan apa dengan Fuka-chan?"

 

"Kami sedang membicarakan foto ini."

 

"Ah!"

 

Di ponsel yang Amami sodorkan ke Izumi, terpampang foto Fuka yang bocor—foto yang seharian ini terus membuat Yukuto dan Izumi gelisah.

 

Menyadari perubahan ekspresi Izumi yang menegang, Amami buru-buru melambaikan tangan.

 

"Tidak, tidak, jangan salah paham. Aku justru ingin bertemu dengan orang yang mengambil foto ini, dan berniat meminta Watanabe-san mengenalkanku."

 

"Hah?"

 

Tanpa sadar Izumi menoleh ke arah Yukuto, dan Yukuto yang tiba-tiba jadi pusat pembicaraan pun terbelalak.

 

"Oh, jadi dia orangnya."

 

Dari arah pandangan Izumi, Amami tampaknya langsung menyadari bahwa Yukuto adalah orang yang ia cari.

 

"Baru saja aku mendengar dari Watanabe-san bagaimana proses foto ini diambil. Sepertinya Watanabe-san benar-benar senang dengan hasilnya dan bangga bisa menjadi model."

 

"T-tunggu, Amami-senpai! Jangan bilang itu…!"

 

Rahasia yang tiba-tiba terbongkar membuat Fuka memerah dan memalingkan wajahnya, seolah ingin menghindari tatapan Yukuto.

 

"Jadi, tenang saja. Aku tidak datang untuk menggoda Watanabe-san."

 

"T-tidak ada yang bilang begitu…"

 

Izumi menjawab canggung, karena sebenarnya ia memang sempat berpikir seperti itu.

 

"Justru aku datang untuk mengajak dia. Bisa berdiri?"

 

Yukuto, yang sejak tadi jatuh akibat knee tap, refleks meraih tangan Amami yang diulurkan dan ditarik berdiri.

 

Kekuatan di tangan itu hampir membuatnya merasa kalah lagi, tapi kali ini yang ia rasakan justru kebingungan.

 

Di saat banyak siswa lain mendatangi Fuka setelah melihat foto itu, mengapa orang ini justru mencari dirinya—si fotografer?

 

"Biar kuperkenalkan diri dengan benar. Aku Amami Rio, kelas tiga A. Kapten klub voli putra. Hari ini aku datang untuk secara resmi meminta kerja sama kepada ketua klub fotografi, Yukuto Oki, atas nama klub voli putra."

 

"Ah… salam kenal. Aku Oki, kelas dua. Um, permintaan kerja sama resmi itu… jangan-jangan soal pemotretan kegiatan klub, ya?"

 

"Yup, pada dasarnya memang begitu."

 

"Itu memang sudah dilakukan para senior sebelumnya, jadi tentu saja aku bersedia. Tapi kalau klub voli putra, kenapa tidak lewat Tetsuya—Komiyama Tetsuya?"

 

"Ketua Oki satu kelas dengan Komitetsu ya. Itu aku tidak tahu. Tapi meski tahu pun, aku memang ingin merahasiakan permintaan ini dari para anggota sampai saat pemotretan benar-benar dimulai. Kalau dibuat kejutan, semangat mereka pasti lebih naik."

 

"Begitu ya…"

 

Dari cara bicara dan gesturnya yang berlebihan, Yukuto bisa merasakan bahwa Amami sedang memikirkan sesuatu yang besar—tapi gambaran besarnya masih belum jelas.

 

Namun melihat kebingungan Yukuto, Amami sedikit membungkuk mendekat, lalu tersenyum nakal sambil berkata,

 

"Aku ingin kamu meminjamkan kekuatanmu… untuk penaklukan Raja Iblis."



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close