Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Chapter
2
Watanabe
Fuka belum terbiasa dengan suasana klub olahraga
Suara sol sepatu karet yang bergesek nyaring di lantai kayu, bercampur dengan suara bola yang menghantam lantai dan otot para anggota, menggema memenuhi seluruh ruangan.
"Hei!
Kakimu berhenti tuh! Jangan takut, anak kelas satu! Jangan lepaskan pandangan
dari bolanya!!"
Sehari
setelah Yukuto dan klub fotografi menerima permintaan dari kapten klub voli
putra, Amami Rio—"tolong pinjamkan kekuatanmu demi penaklukan Raja
Iblis"—isi gedung olahraga tempat mereka diundang dipenuhi semangat dan
suara klub voli putra.
"Sini,
sini. Diam-diam saja ya."
Sambil
diberi isyarat tangan oleh kapten klub voli putra, Amami Rio, Yukuto, Izumi,
dan Fuka yang membawa tas sekolah menyelinap di sisi latihan klub voli putra,
lalu dengan cepat masuk ke ruang persiapan olahraga.
"L-luar
biasa ya. Aku baru pertama kali melihat latihan klub olahraga yang serius dari
jarak sedekat ini."
Dengan
tangan menutup mulut dan mata terbelalak, Fuka mendengarkan suara bola yang
terdengar menembus pintu ruang persiapan.
Tiba-tiba
terdengar suara bola menghantam keras pintu logam, membuat Fuka terkejut dan
refleks mundur selangkah menjauhi pintu.
"Bagus!
Seperti itu, kejar terus dengan agresif! Jangan pedulikan kesalahan! Pokoknya
terus tempel dan kumpulkan pengalaman demi penaklukan Raja Iblis! Ganti! Jangan
kalah sama semangat barusan!"
Bola
yang barusan menimbulkan suara itu tampaknya adalah bola hasil kesalahan dalam
suatu permainan.
Namun
suara pembinaan dari guru pembimbing klub voli putra, Gotou-sensei, terdengar
cerah—bahkan seolah memuji kesalahan itu.
Mendengar
itu, Fuka tanpa sadar saling pandang dengan Yukuto, lalu dengan ragu bertanya
pada Rio.
"Bahkan
gurunya juga bilang ‘penaklukan Raja Iblis’ ya……"
"Iya.
Lawan yang harus kami kalahkan untuk bisa ke nasional, SMA Ouka, adalah Raja
Iblis absolut yang terus membuat klub voli Tokyo putus asa."
SMA
Ouka Afiliasi Universitas Mabuchiyama.
Dalam
dunia voli SMA, sekolah ini adalah raja mutlak Tokyo. Mereka juga merupakan
kekuatan dominan yang berhasil bertahan hingga Best 4 pada Haruko Volley
terakhir, saat SMA Minami Itabashi sedang naik daun.
Di
tiga turnamen nasional utama voli SMA—Haruko Volley, Inter-High, dan Kokutai
Volley—mereka telah lolos ke tingkat nasional selama lima belas tahun
berturut-turut, bahkan pernah meraih gelar juara nasional. Sebuah sekolah elite
sejati.
Klub
voli putra SMA Minami Itabashi bertemu Mabuchiyama Ouka di semifinal turnamen
Tokyo, sempat mengejar hingga selisih satu set sebelum akhirnya kehabisan
tenaga dan kalah.
Meski
begitu, sebagai peringkat tiga Tokyo dan sekolah yang nyaris menaklukkan Raja
Iblis, nama SMA Minami Itabashi pun melambung tinggi di Haruko Volley terakhir.
"Di
turnamen musim panas pun, hampir pasti kami akan bertemu Mabuzakura lagi.
Makanya Gotou-sensei dan kami berpikir, demi penaklukan Raja Iblis, sekarang
kami ingin melakukan segala hal yang bisa kami lakukan. Itulah sebabnya kami
mengundang klub fotografi."
Permintaan
Rio kepada klub fotografi adalah pengambilan tiga jenis foto: foto setengah
badan untuk daftar anggota baru, foto suasana latihan, dan—jika
memungkinkan—foto candid.
Rio
selaku kapten dan Gotou-sensei selaku pembina tampaknya percaya bahwa meminta
klub fotografi yang pernah meraih prestasi lomba untuk mengambil foto-foto
tersebut adalah hal penting demi penaklukan Raja Iblis di Inter-High musim
panas mendatang, serta untuk meningkatkan kekuatan dasar klub ke depannya.
"Begitu
ya…… meski aku bilang ‘oh begitu’, jujur aku masih belum sepenuhnya paham
bagaimana memotret kegiatan klub di momen yang kelihatannya penting seperti ini
bisa berkontribusi pada penguatan tim…… dan satu lagi—"
"Hm?
Ada apa, Oki-kun?"
"Ah,
nggak, nggak apa-apa."
Yukuto
sempat merasa sedikit heran karena Fuka ikut begitu saja dalam kegiatan klub
fotografi, tapi ia sendiri tidak keberatan berada bersama Fuka, jadi keraguan
itu pun ia kubur dalam hatinya.
"Kalau
begitu, Kotaki-san, bisa tolong pasang dulu peralatan lampu yang kita
bawa?"
"Siap,
dimengerti~"
Mungkin
karena ada Rio dan Fuka di dekatnya, Izumi untuk sekali ini dengan patuh
mengikuti instruksi Yukuto dan mulai memasang peralatan pencahayaan sederhana
di tripod untuk menerangi objek foto dengan baik.
"Ngomong-ngomong,
Amami-senpai. Bukannya jumlah orangnya agak sedikit? Dari yang kulihat, selain
guru pembina, sepertinya cuma ada anak kelas satu."
Sambil
dengan cekatan merakit peralatan yang meski tidak rumit namun hanya diajarkan
sekali, Izumi bertanya pada Rio.
"Oh,
anak kelas dua dan tiga lagi lari di luar sekarang. Di klub kami saat ini,
kelas satu latihan di lapangan dulu, senior menyusul belakangan."
"Begitu
ya? Biasanya kan di klub olahraga, justru senior yang latihan dulu."
Ketika
Yukuto bertanya demikian, Rio langsung tersenyum lebar, seolah berkata
"pertanyaan bagus," lalu mulai menjelaskan dengan semangat.
"Oki-kun,
jangan-jangan yang kamu bayangkan itu seperti di klub baseball atau tenis, di
mana junior cuma disuruh ambil bola?"
"Y-ya,
kira-kira begitu……"
Ditekan
dengan jarak sedekat itu, Yukuto refleks sedikit mundur.
"Kurang
lebih begitu. Aku sih nggak tahu detail klub baseball atau tenis di sekolah
ini, tapi waktu SMP, memang seperti itu."
"Begitu
ya. Kalau begitu, Oki-kun, apa kamu pernah merasa ada sedikit ketidakadilan
dari sudut pandang junior? Jangan-jangan, waktu SMP kamu juga anak klub
olahraga?"
"Eh?
Oki-kun, memangnya begitu?"
"Senpai
anak klub olahraga? Nggak mungkin, deh!"
"Iya.
Sebenarnya waktu SMP aku di klub voli."
"Eh!
Serius!?"
"Hah!?
Bohonggg!"
Fuka
dan Izumi menunjukkan reaksi yang benar-benar berlawanan.
Dari
mata Fuka terlihat ketertarikan dan kekaguman yang tulus terhadap masa lalu
Yukuto yang belum pernah ia ceritakan, sedangkan dari mata Izumi tampak
kecurigaan.
"Serius
kok. Aku bisa akrab sama Tetsuya juga gara-gara itu."
"Eh~?
Beneran? Terus kenapa di SMA malah masuk klub fotografi?"
"E-eh,
itu juga sedikit bikin aku penasaran. Selama ini belum pernah dengar
soalnya……"
Dihadapkan
pada pertanyaan itu, Yukuto melirik Rio sekilas, lalu dengan canggung
mengalihkan pandangan dari semua orang.
"Gampangnya
sih, karena aku nggak cukup jago, jadi nggak kepikiran buat lanjut. Di SMP-ku,
anggota klub voli banyak banget, persaingan jadi pemain inti juga ketat.
Badanku juga nggak terlalu kuat, skill-ku juga biasa saja, jadi aku cuma sempat
main di turnamen kelas B—tingkat cadangan—dan itu pun jumlahnya bisa dihitung
dengan satu tangan."
"Begitu
ya……"
Fuka
dan Izumi tampak menunggu kelanjutan ceritanya, tapi Rio seolah sudah menebak
akhirnya dan mengangguk kecil.
"Tentu
saja aku masih lebih jago dibanding yang benar-benar pemula, dan sampai
sekarang aku masih suka nonton pertandingan. Tapi klub olahraga SMA itu jauh
lebih keras dibanding SMP. Aku nggak punya kepercayaan diri atau kemampuan
untuk bertahan di situ, jadi aku memilih masuk klub fotografi—yang memang sudah
menarik perhatianku dan nggak ada waktu SMP—tanpa ragu."
"Hmm.
Ya, perasaannya sih bisa dimengerti, tapi kenapa selama ini nggak pernah
bilang?"
"Aku
sama sekali nggak menyesal berhenti voli dan masuk klub fotografi. Tapi,
tergantung sudut pandang, itu bisa dibilang pengalaman kegagalan juga…… dan
selain itu—"
Yukuto
sedikit terdiam, lalu dengan wajah canggung melirik Fuka dan segera mengalihkan
pandangannya lagi.
"Sebagai
cowok, bilang ‘aku berhenti klub olahraga SMA karena kelihatannya berat’ itu
agak… memalukan, kan."
Sebagai
seorang remaja laki-laki yang jatuh cinta pada seorang gadis, fakta bahwa
dirinya bukan anggota klub olahraga—bahkan gagal bertahan di dalamnya—menjadi
rasa rendah diri, terlepas dari idealisme apa pun.
Setidaknya,
suasana dunia memang cukup untuk membuat seseorang merasa rendah diri karena
hal itu.
Karena
itu, sebisa mungkin Yukuto tidak ingin Fuka mengetahui hal ini. Namun justru di
depan kapten ace yang membawa klubnya ke tingkat nasional, ia harus
mengaku—sebuah ironi tersendiri.
"Tapi
berkat itu aku bisa bertemu Oki-kun dan difoto olehnya…… mungkin buat Oki-kun
perasaannya rumit, tapi aku senang Oki-kun masuk klub fotografi."
Entah
sadar atau tidak akan perasaan Yukuto, Fuka duduk di sampingnya begitu saja dan
mengatakan itu dengan nada santai.
Sambil
mengeluarkan kamera yang akan digunakan hari ini dari tas sekolahnya, Yukuto
merasa malu dan tidak bisa menatap wajah Fuka.
"……Begitu
ya. Kalau Watanabe-san bilang begitu, ya… aku senang."
"Iya.
Menurutku juga begitu."
"Kotaki-san.
Dua orang itu pacaran, ya?"
"Bukan
begitu kok. Serius, beneran bukan."
Berbeda
dengan Rio yang memandang Yukuto dan Fuka dengan senyum hangat, Izumi justru
mulai memancarkan aura suhu nol mutlak, sampai-sampai rasanya ia bisa berubah
menjadi wanita salju di tempat.
"Ah,
lalu… itu, kita tadi membicarakan apa, ya?"
"Kita
sedang membicarakan kenapa mengambil foto bisa berguna bagi klub, dan kenapa di
klub voli kami justru siswa tahun pertama yang lebih dulu melakukan latihan di
lapangan."
Menyadari
perubahan suasana di sekitar klub fotografi akibat atmosfer Izumi, Rio dengan
cepat mengembalikan topik pembicaraan.
"Misalnya
begini. Menurut kalian, untuk apa sih di klub bisbol ada tugas memungut
bola?"
"Pekerjaan
kasar, mungkin. Sama buat menanamkan hierarki senior–junior, kan?"
Pendapat
Izumi yang blak-blakan itu memang tak berperasaan, tapi Yukuto pun tak
sepenuhnya bisa menyangkalnya.
"Aku
tidak menyangkal bahwa ada sekolah atau klub yang membutuhkan pengelolaan
seperti itu. Tapi pada dasarnya, memungut bola itu bertujuan melatih kekuatan
kaki dan pinggang, serta mempelajari dasar paling dasar dalam pertahanan, yaitu
menangani bola ground. Tapi kalau anak-anak yang baru sebulan lalu masih SD,
lalu masuk SMP karena ingin main bisbol, malah merasa ‘dipaksa kerja kasar’,
maka potensi perkembangan klub itu sendiri akan tertutup…"
Rio
memberi jeda cukup lama, lalu melanjutkan.
"Itulah
cara berpikirku sekarang, bersama Gotou-sensei. Foto-foto yang akan kalian
ambil mulai hari ini bertujuan agar siswa kelas satu dan dua yang belum menjadi
pemain inti bisa menyadari bahwa mereka juga dibutuhkan oleh klub. Begitu sudah
masuk klub, aku tidak ingin mereka merasakan hal seperti yang tadi dirasakan
Oki-kun."
"Yang
tadi aku rasakan?"
"Kisahmu
tentang merasa tidak sanggup mengikuti kerasnya klub olahraga di SMA. Orang
seperti itu memang banyak, tapi di sisi lain, mereka yang tetap masuk klub
olahraga SMA adalah orang-orang yang sudah berjuang tiga tahun di SMP dan
datang dengan keyakinan bahwa mereka bisa bersaing. Kalau orang-orang seperti
itu malah diperlakukan hanya sebagai ‘anak kelas satu yang harus mengabdi pada
senior’, ya jelas mereka bakal berpikir, ‘buat apa capek-capek’."
"Ah…
iya juga."
"Kalau
mereka sudah berusaha keras, aku ingin mereka terus mempertahankan usaha itu
dan tidak menyerah untuk merebut posisi inti. Hal yang sama berlaku juga untuk
siswa kelas dua dan tiga yang belum jadi reguler. Untuk itu, yang dibutuhkan
adalah alat yang bisa menunjukkan secara objektif dan cepat bahwa ‘aku diakui
sebagai anggota klub’ dan ‘aku terlihat keren’. Kami pikir, foto adalah alat
yang paling tepat."
Rio
melanjutkan penjelasannya dengan penuh semangat.
"Kalau
video, kekurangan juga ikut terekam, dan butuh waktu lama untuk mengeceknya.
Lagi pula, dalam latihan sehari-hari mereka sudah dipaksa sadar akan ‘hal-hal
yang belum bisa mereka lakukan’. Jadi justru dengan melihat foto diri mereka
yang terlihat keren, mereka bisa berpikir, ‘oh, mungkin aku tidak seburuk itu’,
dan meningkatkan rasa percaya diri mereka."
"Tekanannya
besar sekali buat kami, ya" kata Yukuto sambil tersenyum kecut. Ia paham
maksud Rio, tapi yang akan mengambil foto itu adalah mereka.
"Tapi
sebagai orang yang pernah gagal, aku bisa mengerti perasaan itu. Senpai
benar-benar menghargai siswa tahun pertama, ya."
"Ya.
Soalnya meskipun siswa kelas dua dan tiga sekarang kuat, kalau tidak membina
generasi berikutnya, kekuatan klub akan langsung menurun. Wajar kalau kelas dua
dan tiga lebih kuat dari kelas satu. Kalau sebagai tradisi klub kita menaruh
fokus terbesar pada pembinaan kelas satu, kekuatan klub bisa terus
terjaga."
"Tapi
dari ceritanya, sepertinya budaya itu baru mulai dibangun oleh Senpai dan guru
pembina sekarang. Tidak ada keluhan dari kelas dua dan tiga karena mereka harus
latihan setelah kelas satu?"
Padahal
sehari-hari Izumi sama sekali tidak memperlakukan Yukuto sebagai senior, tapi
rupanya ia cukup peduli soal hubungan hierarki dalam klub.
Menanggapi
pertanyaan Izumi, Rio mengangguk dengan bangga.
"Kalau
kelas satu latihan di lapangan lebih dulu, itu berarti semua persiapan yang
diperlukan untuk latihan lapangan juga ditangani oleh kelas satu."
"Oh!
Kalau begitu, secara alami kelas satu yang mengerjakan tugas-tugas
persiapan."
"Benar.
Karena setelah itu senior yang memakai lapangan, mereka pasti menyiapkan
lapangan dengan sungguh-sungguh, kan? Selain itu, di klub kami, saat pergantian
latihan lapangan antara kelas satu dan senior, kami menyediakan waktu lima
belas menit untuk saling mengamati latihan masing-masing, yang kami sebut
‘waktu observasi’."
"Waktu
observasi?"
"Kami
menentukan tema tiap hari, lalu mengamati kelebihan dan kekurangan rekan satu
tim. Setelah itu, kami main satu set pertandingan, lalu berganti giliran
latihan lapangan. Itulah rutinitas klub voli putra kami di paruh pertama tahun.
Di paruh kedua, siswa kelas tiga pensiun dan di antara kelas satu mulai muncul
pemain-pemain berbakat, jadi ceritanya akan berbeda lagi."
"Wah,
ternyata dipikirkan matang-matang ya. Aku kira klub olahraga itu default-nya
senior memperlakukan junior seperti budak."
"Kamu
cukup pedas juga ngomongnya, ya."
Mendengar
ucapan Izumi yang tanpa basa-basi, Rio pun tak bisa menahan senyum kecut.
"Meskipun
menyebutnya budak itu berlebihan, memang ada klub yang merasa perlu menjaga
ketertiban dengan menekan junior secara keras. Ada juga yang menganggap cara
kami terlalu lembek. Saat ini, cara ini cocok untuk klub kami—itu saja.
Beberapa tahun lalu, senior-senior kami juga katanya cukup keras. Beberapa
tahun ke depan, mungkin saja klub yang lebih kuat justru klub yang melatih
junior dengan sangat keras. Tapi masa lalu tetap masa lalu, sekarang adalah
sekarang, dan masa depan adalah masa depan."
"Masa
lalu… adalah masa lalu, dan sekarang… adalah sekarang."
Tanpa
disadari, Fuka mendengarkan ucapan Rio dengan sangat serius.
"Masa
depan… adalah masa depan."
"Ya.
Dan demi masa depan yang sangat dekat itu, kami butuh kekuatan klub fotografi.
Kami ingin klub fotografi mengambil foto wajah untuk daftar anggota, foto saat
latihan, dan kalau bisa juga foto-foto santai di luar waktu latihan."
"Baik."
"Kami
akan berusaha sebaik mungkin, Senpai!"
"Aku
juga akan membantu sebisaku!"
Fuka
menjawab dengan sikap seolah ia benar-benar anggota klub fotografi. Saat itu,
suasana di luar ruang persiapan mulai sedikit ramai.
"Baik,
setelah ini kita latihan observasi lalu satu set pertandingan. Susunan pemain
hari ini Komiyama-kun, Katou-kun, Shimizu-senpai, dan…"
Di
tengah keramaian itu, ada suara yang terdengar jelas—suara perempuan.
"Sepertinya
mereka sudah kembali. Baiklah, ayo kita keluar!"
Dengan
suara paling bersemangat dibanding siapa pun dari klub fotografi, Rio berkata
demikian, lalu membuka pintu ruang persiapan dengan kedua tangan, seolah
seorang pahlawan membuka gerbang kastil.
Pintu
logam yang berat itu terbuka dengan tenaga yang nyaris berbahaya, seakan
membuktikan hasil latihan Rio. Suaranya membuat semua orang di dalam gedung
olahraga menoleh ke arah Yukuto dan yang lainnya.
"Baik!
Semua, perhatian!"
Meski
kemunculannya jelas tidak biasa, begitu semua orang menyadari bahwa itu Rio,
mereka langsung berdiri tegap.
""""Ketua!
Terima kasih atas kerja kerasnya!""""
Sapaan
yang terdengar seperti teriakan perang itu hampir membuat Fuka terpental hanya
oleh tekanan suaranya.
"Hah?
Itu Yukuto, Watanabe-san, dan Kotaki-san?"
Di
tengah semua itu, Tetsuya—yang jelas habis latihan lari serius, terlihat dari
keringat di dahinya—menemukan Yukuto dan Fuka.
"Ketua
Amami? Siapa mereka?"
Yang
memasang wajah curiga kemungkinan besar adalah pemilik suara perempuan yang
terdengar tadi.
Rambut
panjangnya diikat rapi ke depan dan belakang, berkacamata, membawa buku catatan
dan pena, mengenakan setelan training atas-bawah, serta stopwatch tergantung di
lehernya.
Tak
perlu dikonfirmasi lagi, ia pasti manajer klub voli putra.
"Hasegawa.
Hari ini aku memasukkan jadwal yang tidak biasa. Gotou-sensei juga sudah
menyetujuinya, jadi aku minta kerja samamu."
"Begitu…
jadwal tidak biasa, ya."
Di
balik kacamatanya yang besar, gadis bernama Hasegawa itu memandang Yukuto
dengan semakin curiga.
"Ehm…
anu?"
Terutama
Fuka, yang dipandangnya nyaris seperti ditatap tajam.
"Kalau
tidak salah, kamu Watanabe dari klub berkebun, kan? Kelas B."
"Eh…
i-iya. Benar."
"Ketua,
sebenarnya ada keperluan apa anggota klub berkebun ke sini?"
"Hasegawa.
Watanabe-san datang untuk membantu klub fotografi."
"Hah?
Klub fotografi?"
"Dan
ketiga orang ini adalah tamu klub yang aku bawa. Gotou-sensei juga sudah
mengetahuinya. Kalau begitu, sikapmu barusan agak kurang pantas."
"……Sebagai
orang yang mengatur jadwal klub, wajar kalau sikap saya seperti ini jika tidak
diberi tahu apa pun."
Sepertinya
manajer Hasegawa memang tidak terlalu menyambut kehadiran mereka, namun
tampaknya ia juga tidak berniat membantah ucapan ketua klub. Setelah menarik
napas untuk menenangkan diri, ia meluruskan postur tubuhnya dan menatap Yukuto
tanpa ragu.
"Maaf
atas sikap saya sebelumnya. Saya Hasegawa Yui, kelas dua F. Saya manajer klub
voli putra. Kamu Oki-kun dari kelas B, kan? Ketua klub fotografi."
"Ah,
iya. Benar."
"Maaf
atas sikap saya yang kurang sopan. Tapi tolong pahami, sekarang ini adalah masa
yang penting bagi klub. Mengubah jadwal tanpa pemberitahuan sebelumnya bukanlah
hal yang baik bagi para anggota."
"Kami
sendiri juga belum tahu pasti sampai sejauh mana dan apa saja yang harus kami
lakukan… Tapi Ketua Amami bilang ini demi masa depan klub, jadi aku pikir kami
bisa mempercayainya dan bekerja sama."
"Kalau
memang begitu, saya juga ingin mempercayainya. Jadi, Ketua? Apa yang akan
diminta dari klub fotografi?"
Mengabaikan
tatapan Yui yang masih sedikit dingin, Rio menarik perhatian seluruh anggota
klub dan mulai berbicara.
"Sebelumnya,
ada satu hal yang perlu kusampaikan. Berkat pencapaian kita di kualifikasi
Spring High tingkat Tokyo tempo hari, kali ini klub voli putra akan dibuatkan
situs web resmi khusus untuk keperluan publikasi oleh sekolah!"
"Eh?!"
Bahkan
Yui yang tadinya berwajah datar pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Mendapatkan
halaman publikasi khusus di situs resmi sekolah berarti klub tersebut diakui
dan didukung secara resmi oleh sekolah. Selain menambah prestise, hal itu juga
akan sangat membantu dalam perekrutan anggota baru di kemudian hari.
Lebih
lagi, karena pengelolaan halaman itu dilakukan oleh klub sendiri, jika
disediakan kontak khusus, klub dapat melakukan komunikasi eksternal secara
langsung tanpa harus selalu melalui sekolah.
Tentu
saja, tetap membawa nama sekolah berarti tanggung jawab yang menyertainya juga
besar.
Namun,
saat ini di SMA Minami Itabashi, klub yang memiliki situs publikasi khusus
hanyalah klub karate yang rutin meraih prestasi di tingkat Kanto dan klub brass
band yang pernah sekali tampil di kejuaraan nasional lebih dari sepuluh tahun
lalu. Artinya, klub voli putra akan meninggalkan jejak besar dalam sejarah
sekolah.
"Untuk
foto-foto yang akan dimuat di situs itu, kami meminta bantuan klub fotografi.
Selama beberapa hari ke depan, anggota klub fotografi akan keluar masuk saat
latihan, jadi mohon kerja samanya!"
"""Baik!
Mohon kerja samanya!"""
Dihujani
semangat khas klub olahraga dan teriakan penuh hormat, Yukuto dan Fuka refleks
membungkuk canggung di tempat, sementara Izumi tampak mengangguk dengan
ekspresi yang tidak sepenuhnya keberatan.
"Sebelum
pembuatan situs dimulai, hari ini kita akan mengambil ulang foto setengah badan
untuk daftar anggota klub. Foto ini tidak akan dipublikasikan, tapi jika kita
berhasil lolos ke tingkat nasional, foto inilah yang akan diserahkan ke panitia
turnamen. Jadi anggap saja seperti foto resmi dan berpose dengan serius!"
"""Baik!"""
"Selain
itu, karena situs web akan terbuka untuk umum, siapa pun yang tidak ingin
fotonya dipasang harap melapor padaku atau kepada Ketua Klub Fotografi, Oki,
setelah sesi foto daftar anggota selesai!"
"""Baik!"""
Mendengar
perhatian seperti itu, Yukuto sedikit terkesan.
Di
dunia ini ada cukup banyak orang yang tidak suka difoto. Alasannya beragam,
namun sebagai seseorang yang bergelut di dunia fotografi, Yukuto percaya bahwa
keinginan orang yang menolak difoto harus selalu dihormati.
Justru
orang seperti Fuka—yang bersedia menjadi model foto lomba hanya dengan
diminta—adalah pengecualian yang sangat langka.
"Kalau
begitu, saya sampaikan sekarang saja. Selain untuk daftar anggota, tolong
jangan memotret saya. Saya ingin tetap berada di balik layar sebagai staf
pendukung."
Manajer
Yui pun langsung mengangkat tangan dan menolak untuk menjadi objek foto.
"Eh?
Benarkah?"
Rio
menatap Yui dengan wajah terkejut.
"Aku
menganggap manajemen Hasegawa adalah kunci klub ini, jadi sebenarnya aku ingin
membuat halaman khusus untukmu."
"Eh…
b-benar begitu? I-itu sih… umm…"
Mungkin
karena penilaian Rio itu di luar dugaan, meski tadi ia yang paling cepat
menolak difoto, kini matanya terbelalak dan wajahnya memerah, jelas terlihat
gugup.
"…Oh?"
Sampai
saat itu, Izumi—yang sejak tadi diam karena ia orang luar sekaligus siswa kelas
satu—melihat reaksi Yui sambil mengangguk kecil dan tersenyum samar.
"T-tetap
tidak! Kalau memang harus memuat saya, lebih baik jadikan saja halaman itu
sebagai halaman perkenalan anggota yang berganti setiap hari!"
"Begitu
ya? Sayang sekali. Aku sudah membayangkan bagaimana Hasegawa akan terlihat
menarik di foto."
"T-tolong
jangan mengatakan hal seperti itu! Itu benar-benar tidak perlu!"
"Hmm~"
Melihat
Yui kembali memalingkan wajahnya dari Rio, Izumi kembali tersenyum geli.
"L-lebih
baik kita kembali ke topik! Kalau begitu, waktunya terbatas, jadi kita mulai
dari foto daftar anggota, kan!"
"Ah,
tidak—tunggu sebentar."
Yang
angkat suara kali ini adalah Yukuto.
"Kalau
tidak keberatan, bukankah lebih baik foto daftar anggota diambil sebelum
latihan? Semua orang sudah cukup berkeringat, dan mungkin ingin merapikan
rambut."
"……"
Mendengar
itu, Rio tetap menatap lurus ke depan tanpa menoleh.
"Ehm,
Amami-senpai? Kamu dengar? Selain itu, pakaian semua orang juga berbeda-beda.
Kalau ada kemungkinan foto ini dipakai untuk turnamen, bukankah sebaiknya
diseragamkan juga…"
"…Ah."
"Amami-senpai."
"…………Benar
juga!"
"Eh,
tunggu sebentar?!"
Melihat
Gotou-sensei juga memasang ekspresi yang sama dengan Rio, Yukuto yakin bahwa
mereka berdua sengaja merencanakan semua ini demi mengejutkan para anggota
klub.
Yui
menatap Rio dan Yukuto bergantian dengan wajah curiga, dan para anggota klub
voli—termasuk Tetsuya—mulai tampak gelisah. Setelah berpikir sejenak, Yukuto
berbicara kepada Rio, namun dengan suara yang cukup keras agar semua orang
mendengarnya.
"Ehm…
kalau begitu, bagaimana kalau begini. Aku sendiri belum lama mengambil alih
jabatan ketua klub, dan ini pertama kalinya kami menerima permintaan resmi dari
klub lain. Anggota klub kami juga baru satu orang dan belum terbiasa dengan
peralatan, jadi kami anggap ini sebagai latihan mengambil foto. Sementara itu,
dari pihak kalian, bagaimana kalau dianggap sebagai waktu latihan untuk
difoto?"
"Latihan…
difoto?"
"Iya."
Yukuto
mengangguk, lalu memandang sekeliling gedung olahraga dan menunjuk ke arah
dinding dengan latar yang relatif polos.
"Untuk
sementara, latarnya di sana. Dari kalian semua, ada yang menyesal dengan foto
kartu pelajar kalian?"
Mendengar
pertanyaan itu, para anggota klub saling berpandangan dengan ragu.
"Aku!
Aku nyesel banget!"
Tetsuya
langsung mengangkat tangan.
"Aku
kira aku bakal kelihatan keren, tapi malah jadi kelihatan mata tiga
putih!"
Pernyataan
Tetsuya menjadi pemicu, dan beberapa orang lain mulai mengeluhkan hal yang
sama.
"Kalau
kita mau membuat daftar anggota klub tingkat nasional, kami juga ingin
mengambil foto yang layak. Jadi kami ingin memperhatikan waktu pengambilan dan
latarnya, dan kalian juga pasti tidak mau terlihat aneh di foto, kan?"
"Bener!
Aku pengen kelihatan keren!"
Tetsuya
dengan bersemangat menanggapi dan mendorong Yukuto untuk melanjutkan.
"Jadi
hari ini, aku ingin menjadikannya hari di mana klub fotografi mencocokkan wajah
dan nama kalian, sekaligus mengumpulkan bahan untuk foto-foto selanjutnya.
Bagaimana?"
"Oh,
itu ide bagus."
"Selain
itu, menurutku foto yang diambil nanti sebaiknya tidak langsung diberikan
sebagai data mentah. Kita perlu melakukan sedikit penyuntingan. Akan lebih
mudah kalau ada data contoh untuk nantinya berdiskusi soal arah penyuntingan
dengan Amami-senpai dan Hasegawa-san."
"Eh?
Aku? Kenapa aku?"
Tiba-tiba
disebut namanya, Yui terlihat terkejut.
"Kenapa…
ya karena Hasegawa-san manajer klub, kan? Tentu saja keputusan akhir tetap di
tangan ketua klub dan guru. Tapi Gotou-sensei tidak mengajar di kelasku, dan
dengan senior kelas tiga kadang sulit mencocokkan waktu. Jadi akan sangat
membantu kalau ada rekan seangkatan yang bisa jadi tempat berdiskusi."
"Eh?
Ah… itu, maksudku, tapi aku…"
Yui
entah kenapa semakin lama semakin memerah wajahnya dan mulai panik.
"Se-segitu
terguncangnya memangnya?"
Sampai-sampai
Izumi tak punya pilihan selain menimpali, karena jelas reaksi Yui terasa aneh.
"So-soalnya,
itu, aku…"
Dengan
wajah yang sudah memerah sampai tak bisa disembunyikan lagi, Yui melirik
Yukuto, lalu entah kenapa sekilas menoleh ke arah Fuka.
"A-aku
belum pernah tukeran kontak dengan cowok selain urusan klub…!"
"Cuma
gara-gara itu?"
Izumi
sudah memasang wajah heran setengah jengkel.
"Ah,
sama lagi… Oki-kun dan Watanabe-san itu, bukannya kalian pacaran ya?"
"Eh!?"
"B-bukan
begitu—!"
"Kenapa
sih salah paham itu nyebar ke mana-mana!?"
Ucapan
itu membuat Yukuto dan Fuka sama-sama memerah wajahnya, Izumi jadi kesal, dan
kemudian—
"Yukuto…
nanti kita ngobrol, ya?"
Tetsuya
dan beberapa anggota klub voli putra mulai memancarkan aura membunuh yang
misterius.
Jangan-jangan,
sebagian dari apa yang disebut "penggemar rahasia Watanabe" yang
jumlahnya sekitar dua puluh orang di sekolah ini, ternyata termasuk Tetsuya dan
para anggota klub voli putra itu?
"Soalnya
kalau mikirin foto yang menang lomba itu, wajar dong kalau mikir begitu! Foto
kayak gitu kan nggak mungkin diambil tanpa hubungan kepercayaan yang kuat
antara fotografer dan model!"
"A-apa
iya? Hasegawa-san juga mikir begitu?"
"Fuka-chan,
jangan ketipu! Itu cuma karena kemampuan kamera Senpai lumayan bagus aja, bukan
karena ada hubungan kepercayaan khusus di antara mereka!"
"Oh?
Kalau menurut pengamatanku, Kotaki-san itu gimana ya? Jangan-jangan kamu
menaruh perasaan pada Oki-kun sang ketua klub, dan menganggap Watanabe-san
sebagai saingan cinta?"
"Amami-senpai,
Amami-senpai, Amami-senpai, Amami-senpai? Walaupun senior kelas tiga, ada hal
yang boleh dan tidak boleh diucapkan. Salah paham itu jelas tidak bisa
dimaafkan. Aku suka Senpai? Mustahil. Aku seumur hidup cuma setia sama
Fuka-chan!"
"Oh
begitu? Kalau pendengaranku tidak salah, sepertinya kamu mengakui kemampuan
kamera Oki-kun dengan baik, kan?"
"…Yukuto.
Sudah cukup menyebalkan kamu dekat-dekat sama Watanabe-san, sekarang malah sama
Kotaki-san juga… Lagipula kalau dipikir-pikir, aku bahkan nggak tahu kalau
Kotaki-san masuk klub fotografi. Aku nggak pernah dengar soal itu."
"Amami-senpai,
a-aku benar-benar harus tukeran kontak dengan Oki-kun ya? K-kalau Senpai bilang
harus, ya aku akan lakukan sih, tapi…"
"Aku
sudah nggak tahu lagi harus menanggapi dari mana… Tukeran kontak sama aku
segitu nggak sukanya?"
"…Oki-kun,
kamu pengen banget tukeran kontak sama Hasegawa-san?"
"Watanabe-san!
Fokus kerja! Ini masalah pekerjaan antar klub!"
Saat
api konflik aneh bermunculan di mana-mana dan situasi makin tak terkendali—
"Oke,
kalian semua, tenang dulu! Stop, stop!"
Pembina
mereka, Gotou, yang sejak tadi mengamati akhirnya turun tangan, tetapi—
"Ini
semua karena guru dan ketua klubnya sama-sama nggak punya rencana matang,
sih!!"
Ia
langsung kena omelan serentak dari semua orang kecuali Rio.
"E-eh…
nggak usah marah segitunya ke guru juga, kan…"
Tidak
seperti pembina klub olahraga pada umumnya, Gotou benar-benar terlihat
ketakutan oleh amarah para murid.
◇
"Watanabe-san,
untuk sementara aku mau ambil foto contoh buat mempertimbangkan pencahayaan.
Bisa berdiri lurus membelakangi dinding itu?"
"Hmm,
kayak gini?"
"Terima
kasih. Kalau begitu Kotaki-san, coba intip viewfinder dan ambil foto dengan
posisi sekitar tulang selangka Watanabe-san sebagai pusatnya, ya."
"Sekitar
tulang selangka? Bukan wajah?"
"Foto
untuk daftar nama itu foto setengah badan. Kalau diambil tepat dari depan
wajah, bagian atas frame jadi kosong dan area dari tulang selangka ke bawah
nggak masuk. Di mesin foto formal atau bilik foto di game center juga, posisi
awal kameranya biasanya sedikit lebih rendah dari wajah."
"Oh,
begitu… jadi itu alasannya. Oke, kira-kira begini?"
Izumi,
yang kali ini menerima instruksi Yukuto jauh lebih patuh dari biasanya,
membidik Fuka sesuai arahan dan menekan tombol rana beberapa kali.
"Senpai,
hasilnya kira-kira begini sih… tapi kenapa Fuka-chan kelihatan gemukan? Mukanya
besar, nggak?"
Izumi
menyodorkan kamera DSLR dengan stiker keras bertuliskan "Klub Fotografi
SMA Minami Itabashi" di bodinya.
Di
monitor terlihat foto setengah badan Fuka dalam wujud orang Jepang, berdiri
dengan pose alami, tetapi Izumi tampak kurang puas.
"Eh!?
N-nggak mungkin, kan!? Nggak begitu, kan!?"
Fuka
yang difoto membelalakkan mata karena dibilang wajahnya besar.
"Bukan.
Bukan berarti Watanabe-san gemukan. Maaf ya, tapi ini sengaja aku ambil sebagai
contoh foto yang gagal supaya mudah dipahami anak-anak voli… nanti aku
hapus."
Setelah
berkata begitu pada Fuka yang tampak tidak puas, Yukuto menunjukkan foto Izumi
itu kepada para siswa kelas tiga yang berbaris.
"Alasan
kenapa di foto formal atau album kelulusan sering dibilang ‘turunkan dagu’ itu
ya karena ini. Posisi lensa sedikit lebih rendah dari wajah, jadi fotonya jadi
sudut agak menengadah. Akibatnya dagu dan pipi terlihat mengembang, atau lubang
hidung kelihatan aneh dan besar. Tapi…"
Sambil
berbicara, Yukuto menarik dagunya terlalu kuat sebagai contoh.
"Kalau
cuma fokus menurunkan dagu, tanpa sadar dada akan terdorong ke depan, lemak
atau kulit di antara dagu dan leher tertekan, leher terlihat tebal, wajah jadi
kelihatan panjang, dan pandangan mata terlalu ke atas sampai jadi mata tiga
putih. Bahkan tanpa difoto pun, kalian bisa lihat wajahku sekarang kelihatan
aneh, kan?"
"Wah,
lucu."
"Kotaki-san,
ini lagi serius."
Izumi
tertawa sambil memotret contoh pose buruk itu, dan Yukuto menegurnya dengan
lembut.
"Triknya
supaya dagu bisa diturunkan tanpa wajah jadi aneh saat berdiri adalah: pertama,
bayangkan menaikkan diafragma dan kempiskan perut. Setelah itu, jangan
membusungkan dada, tapi turunkan tulang belikat ke bawah dengan kuat. Baru
setelah itu, turunkan dagu sedikit saja. Dengan menaikkan diafragma, punggung
akan tegak. Dengan menurunkan tulang belikat, garis leher jadi jelas, dan dagu
serta leher tidak tertekan. Setelah itu, arahkan pandangan hanya dengan mata ke
lensa kamera. Watanabe-san, bisa coba lakukan seperti yang barusan aku
jelaskan?"
"Eh?
Iya. Umm… begini? Perut dikempiskan, bahu diturunkan…"
"Ah,
kalau begitu bahunya malah ke belakang, da—tulang rusuknya jadi maju."
Saat
disuruh menurunkan bahu, Fuka tanpa sadar menggerakkan siku ke belakang dan
malah membusungkan dada.
"Coba
bayangkan menarik siku lurus ke bawah, bukan ke belakang. Itu lebih mudah buat
memahami cara menurunkan tulang belikat… iya! Nah, itu! Sekarang turunkan dagu
sedikit saja… Kotaki-san, sekarang!"
"I-iya!"
Izumi
menekan tombol rana sesuai aba-aba.
"Kalau
dibandingkan foto yang tadi dan yang ini kelihatan jelas, tapi… Kotaki-san,
tolong hapus foto wajah anehku yang di tengah itu, ya?"
"Cih,
sayang banget."
Meski
terlihat sedikit enggan, Izumi tetap menuruti instruksi. Ia menyusun dua foto
setengah badan Fuka berdampingan, lalu menunjukkan monitornya pada anggota klub
voli.
"Ooh,
seriusan."
"Eh?
Bisa berubah sejauh itu?"
Meski
diambil dengan komposisi yang sama, foto kedua jelas lebih sesuai dengan kesan
alami Fuka.
"Sebaliknya,
kalau nggak sampai segini, hasil fotonya justru bakal jauh dari bayangan wajah
diri sendiri yang biasa kita lihat di cermin. Watanabe-san juga tadi cukup
kesulitan soal posisi bahu, tapi karena menggerakkan tulang belikat itu bukan
gerakan yang biasa dilakukan sehari-hari, awalnya memang susah
membayangkannya."
Namun
Yukuto melanjutkan sambil menoleh ke jaring yang terpasang di gedung olahraga.
"Tapi
pemain voli biasanya jago menggerakkan tulang belikat. Orang yang bagus saat
posisi set, spike, atau block, biasanya sudah terbiasa menggunakan bahu dengan
cara seperti ini."
Ucapan
itu memang khas orang yang pernah berpengalaman bermain voli, meski akhirnya
sempat mengalami kegagalan.
"Meski
begitu, untuk hari ini silahkan berfoto dengan santai saja. Untuk sementara
kita akan melakukan pemotretan percobaan dengan latar dinding tempat
Watanabe-san tadi berdiri. Aku dan Kotaki-san akan memotret secara bergantian,
jadi tolong berbaris dua lajur. Saat itu, sebutkan tingkat kelas, kelas, dan
nama kalian kepada Watanabe-san."
Peran
Fuka hari ini adalah mencatat di buku nomor foto yang diambil oleh Yukuto dan
Izumi, beserta nama para anggota klub.
"Kotaki-san,
tolong pasang reflektor dan payung putihnya di posisi kiri bawah supaya cahaya
mengenai wajah dari arah sana, lalu— …eh."
Saat
ia menoleh, seluruh siswa kelas tiga yang berjajar ternyata semuanya berdiri di
barisan sisi Izumi.
"……………………………………"
Perasaannya
sebenarnya bisa dimengerti, tapi dia sama sekali tidak ingin memahaminya.
Bagaimanapun mereka semua adalah senior, jadi Yukuto ragu harus berkata
bagaimana, ketika—
"Buang-buang
waktu saja! Setengah yang di belakang, pindah dan berbaris di sisi
Oki-kun!"
Yui
membentak tanpa basa-basi sedikit pun. Berkat itu, meski tampak enggan, barisan
siswa yang menunggu giliran foto akhirnya terbagi dua dengan seimbang.
"A-ah,
terima kasih, Hasegawa-san…"
Melihat
sikapnya yang sama sekali tidak gentar meski berhadapan dengan siswa kelas
tiga, Yukuto sampai setengah merasa kagum, tetapi—
"Kamu
juga."
Yui
mengernyitkan dahi dan menatap tajam ke arah Yukuto.
"Eh?"
"Kalau
kamu ketua klub, jangan ikut terbawa sikap ceroboh Ketua Amami. Buat rencana
yang jelas sejak awal. Aku memang belum sepenuhnya setuju, tapi kalau kamu
sendiri tidak bersikap tegas, pemotretan ini juga tidak akan jalan, kan?"
"Ha-ha,
benar juga. Aku minta maaf."
"Kalau
ketua klub tidak bisa diandalkan, yang susah ya anggota klubnya."
Kalimat
itu terdengar sarat dengan perasaan dan pengalaman nyata.
"D-dan
juga… aku masih belum sepenuhnya paham sejauh apa kamu sudah memikirkan semua
ini, tapi kamu bukan tipe orang yang melakukan hal yang tidak bermanfaat bagi
klub. Jadi… itu sebabnya…"
Masih
dengan wajah agak memerah, Yui memperlihatkan ponselnya kepada Yukuto.
"Setelah
kegiatan klub selesai, um… ayo tukeran kontak."
"Itu
sangat membantu. Sepertinya nanti komunikasi dasarnya akan lewat grup bertiga
dengan Amami-senpai."
"Baik.
Kalau begitu, bisa kita cepat selesaikan jatah hari ini? Jadwalku setelah ini
juga padat, dan aku harus mengatur ulang rencana ke depan, jadi… aku juga ingin
berdiskusi."
Pada
saat itu, Fuka yang berdiri di sisi Izumi menjatuhkan buku catatannya dengan
bunyi bukk, tetapi Yukuto tidak menyadarinya.
"Baik,
kalau begitu, tolong ingat hal-hal yang sudah kita bahas tadi, lalu kita akan
ambil tiga foto per orang secara bergiliran. Setelah selesai, sebutkan kelas
dan nama kalian kepada Watanabe-san yang berdiri di tengah…"
Setelah
itu, semuanya berjalan lancar.
Seperti
yang Yukuto perkirakan, semakin senior anggotanya, semakin halus pula kontrol
bahu mereka. Hampir semua anggota, jika saja tidak ada syarat bahwa foto itu
mungkin akan diajukan ke lomba, hasilnya sudah cukup layak langsung dipakai
sebagai foto daftar nama.
Dan
Fuka, yang karena berbagai keadaan jadi sangat paham soal marga orang Jepang,
tidak pernah lalai mengecek penulisan kanji yang mudah tertukar.
Sungguh
mengejutkan bahwa di klub voli putra ada begitu banyak anggota dengan marga
yang perlu dibedakan sedetail itu, tetapi bagaimanapun pemotretan berjalan
mulus, hingga—
"Baik,
berikutnya giliranku! Dari mana saja silahkan!"
Giliran
Ketua Klub Rio, yang berdiri di barisan sisi Yukuto.
"Baik,
silahkan berdiri di situ… bagaimana kalau coba duduk di kursi?"
"Hmm,
oke."
Jika
posisi pemotretan membuat fotografer harus mendongak ke subjek, biasanya solusi
yang umum adalah fotografer naik ke pijakan atau posisi subjek diturunkan.
Namun—
"…Kalau
begitu, lebih baik berdiri saja. Aku yang naik kursi."
Mungkin
karena kakinya panjang, saat Rio duduk di kursi pipa seadanya di gym, lututnya
terangkat dan membuat postur tubuh bagian atas terlihat kurang rapi.
"Hmm…
eh? Hmm…"
"Oki-kun?
Kenapa?"
Sepertinya
barisan Izumi sudah selesai. Fuka, yang memegang buku catatan berisi daftar
nama anggota, mendekat dari belakang Yukuto dengan penuh rasa ingin tahu.
"Bukan
apa-apa, cuma… fokusnya susah banget dapet. Maaf, Senpai. Bisa tunggu
sebentar?"
"Pelan-pelan
saja, tidak apa-apa."
Sambil
berpikir bahwa suaranya tetap terdengar keren meski sedang menunggu, Yukuto
kembali mengarahkan lensa ke Rio, tetapi entah kenapa sosok Rio di dalam
viewfinder tetap terlihat buram.
"Aneh.
Jangan-jangan auto fokusnya rusak pas di saat begini? Repot juga. Kotaki-san,
maaf, bisa pinjam kameramu sebentar?"
"Iya,
iya. Kenapa, rusak?"
"Makasih.
Entahlah, tapi auto fokusnya agak… eh? Yang ini juga?"
Saat
ia mengintip viewfinder kamera milik Izumi, sosok Rio tetap terlihat buram.
"Aneh
juga. Kotaki-san, waktu kamu pakai kamera ini tadi, nggak ada masalah?"
"Biasa
saja kok? Autofokus kan cuma fitur buat fokus, kan? Nggak ada masalah sejauh
yang aku lihat."
"Eh,
begitu ya… repot juga. Maaf, Senpai. Aku coba ambil beberapa foto dulu—
…wah."
Ia
berharap autofokus akan bekerja saat rana ditekan, tetapi setelah tiga atau
empat kali memotret, tepat saat rana terpicu, sosok Rio di dalam viewfinder
dipenuhi noise digital, seperti gambar yang diberi efek mosaik.
"Eh!?
Kenapa bisa jadi begini?"
Padahal
sebelumnya pemotretan berjalan lancar, tetapi tepat di akhir justru tersendat.
Fuka, Izumi, Yui yang sejak tadi mengamati, bahkan Tetsuya yang sudah selesai
difoto dan melihat dari kejauhan, semuanya mendekat ke Yukuto.
"Maaf
sebentar. Tetsuya, boleh aku ambil beberapa fotomu?"
"Hm?
Boleh saja."
Saat
ia memotret Tetsuya yang berada di dekatnya, kali ini autofokus bekerja normal,
dan postur Tetsuya yang agak santai terlihat terekam jelas—setidaknya sekilas
tampak begitu, tetapi—
"Hah?
Apaan ini?"
Tetsuya
memang terlihat jelas, tetapi kedalaman bidang di sekitarnya berubah tanpa
disengaja, sehingga Fuka dan Yui yang berdiri di kanan-kirinya menjadi
benar-benar buram.
Fuka
yang buram itu adalah Watanabe Fuka dalam wujud orang Jepang, tetapi yang jelas
kondisi kamera memang tiba-tiba memburuk.
"Maaf,
Senpai. Sepertinya kamera ini mendadak bermasalah."
"Oh
begitu? Masalahnya seperti apa? Jangan-jangan karena aku terlalu tampan sampai
silau?"
Candaan
ringan seperti itu malah tidak terdengar menyebalkan—itulah yang menyebalkan.
"Bukan,
entah kenapa fokusnya sama sekali tidak mau pas. Kalau dipaksakan memotret,
sosoknya tidak tertangkap dengan benar."
"Aduh.
Kamera yang ada hari ini cuma itu? Kan cuma percobaan, tidak bisa pakai kamera
lain?"
"Hmm…
kalau begitu sementara pakai kamera ponsel saja—"
"Tunggu
dulu, Senpai. Masa sih kamera bisa tiba-tiba rusak begitu? Coba sini."
Saat
Yukuto terpaksa hendak berkompromi dengan kamera ponsel, Izumi merampas kamera
dari tangannya, menyuruh Yukuto turun dari kursi pijakan, lalu membidik Rio
sendiri.
"Lho?
Ini normal-normal saja kok."
"Eh?
Serius?"
"Serius.
Amami-senpai, tolong diam sebentar ya. Oke. Oke. Beres. …Tuh kan, Senpai,
hasilnya bagus-bagus saja."
"Wah,
seriusan? Eh? Kok bisa?"
Di
layar kamera yang disodorkan Izumi, memang terlihat jelas foto Rio yang
tertangkap dengan tajam.
"Bukannya
ini cuma karena kemampuan Senpai yang jelek?"
Izumi
menyeringai, tetapi Yukuto sudah cukup memahami maksud Izumi. Ia memang sudah
menduga Izumi akan berkata begitu, jadi ia menampilkan beberapa foto dirinya
yang diambil sebelumnya.
"Sejelek
apa pun kemampuanku, hasilnya nggak mungkin jadi seperti ini, kan."
"Eh?
Wah—iya juga, ya."
Izumi
yang tadinya sedang dalam mode bercanda pun mengernyitkan wajahnya dengan
perasaan tak nyaman saat melihat gambar aneh itu—latar dinding di belakang
terlihat normal, tetapi hanya Rio saja yang tampak seperti diberi efek mosaik
dengan sangat rapi.
"Foto
Tetsuya juga begitu. Mungkin memang sudah mulai usang ya. Lemari anti-lembap
klub juga sudah tua, dan perawatannya juga nggak sampai detail banget."
"Duka
cita klub kecil, gitu ya? …Tapi tetap saja, walaupun kondisinya buruk,
Fuka-chan tetap kelihatan seperti itu, ya."
Sambil
menatap dengan sedikit rasa iba ke arah Fuka versi Jepang yang terlihat buram
di sebelah Tetsuya, Izumi berbisik pelan, cukup agar hanya Yukuto yang bisa
mendengarnya.
"Tapi
ya sudahlah, yang penting masih bisa dipakai motret, kan? Terus, bagaimana
dengan Hasegawa-senpai?"
"Eh?
A-aku…"
Yui
yang tiba-tiba disebut namanya tampak panik, tetapi Rio yang baru saja berdiri
dari kursi mendorongnya dengan sikap santai.
"Difoto
saja. Ini perintah ketua klub."
"P-perintah
itu keterlaluan…"
"Aku
paham kalau kamu nggak mau difoto off-shot, tapi ini foto daftar nama. Semua
wajib. Kamu juga anggota klub, Hasegawa, jadi difoto yang rapi."
Yui
masih tampak ragu, tetapi—
"Ayo!
Jangan buang waktu! Cepat-cepat!"
"B-baik!
Aku bisa jalan sendiri kok, Ketua! Jangan dorong-dorong, hei!"
Dengan
wajah memerah, Yui didorong ke posisi subjek foto oleh ketua klub.
"Oke,
setting selesai! Oki-kun! Tolong fotokan Hasegawa!"
"A-ah,
iya! T-tunggu sebentar, boleh?"
Karena
Izumi sudah berada di posisi pemotretan, Yukuto yang sedang memeriksa kamera
satunya jadi panik sampai hampir menjatuhkannya.
"Ngapain
sih, Senpai. Aku saja yang motret?"
"I-iya.
Maaf, tolong. Hati-hati supaya kacamatanya nggak memantul cahaya."
"Iya
iya. Kalau begitu, Hasegawa-senpai, cahayanya terlalu kuat, jadi tolong geser
sedikit ke kanan…"
"I-iya."
Yui
mengikuti arahan Izumi dengan patuh, tetapi ia melirik Yukuto yang sibuk
memeriksa kamera dengan ekspresi yang tampak rumit.
Pada
akhirnya, bahkan guru pembina Gotou-sensei pun difoto oleh Izumi. Meski cukup
ribut, keseluruhan pemotretan selesai dalam waktu kurang dari satu jam.
"Terima
kasih atas kerja kerasnya. Untuk sementara foto-foto ini akan kami bawa kembali
ke klub dan lakukan beberapa koreksi, lalu nanti kami ingin berdiskusi lagi
dengan Sensei, Amami-senpai, dan Hasegawa-san soal rencana pemotretan
selanjutnya. Terima kasih banyak hari ini."
"Terima
kasih. Oki-kun, maaf sudah merepotkan karena kecerobohanku. Ke depannya mohon
kerja samanya. Oke! Semua, berbaris!"
"Te-ri-ma
ka-sih ba-nyak!!"
"Haha,
terima kasih juga."
Masih
tertekan sampai akhir oleh gaya salam khas klub olahraga, mereka membereskan
peralatan dan meninggalkan gedung olahraga.
"Ahh,
capek juga. Ini pakai saraf dan otot yang benar-benar beda sama berkebun."
Di
pintu keluar gedung olahraga, Izumi menggerak-gerakkan tangannya sambil
mengeluh.
Biasanya
ia cukup sering melakukan kerja fisik di klub berkebun, tetapi memegang mesin
berat dengan kedua tangan dan mempertahankan posisi yang sama dalam waktu lama
ternyata juga merupakan pekerjaan berat tersendiri.
"Kamera
klub fotografi memang agak tua, jadi besar dan berat. Lebih baik stretching
dulu."
"Memang
setua itu ya? Sama sekali nggak kelihatan sih, tapi memang tadi sempat
bermasalah."
Yui
mendekatkan wajahnya ke kamera yang tergantung di leher Yukuto, dan melihat
itu, Fuka mengeluarkan suara kecil dari tenggorokannya yang hanya bisa didengar
Izumi.
"Iya.
Aku juga cuma dengar dari senior, tapi seharusnya itu model dari sekitar
sepuluh tahun lalu."
"Barang
setua itu masih bisa dipakai?"
"Tentu
saja kalau dibandingkan fitur-fiturnya dengan model terbaru, pasti kalah di
banyak hal. Tapi secara realistis, hasil fotonya sendiri sama sekali nggak
bermasalah… atau setidaknya, seharusnya begitu."
Dikatakan
bahwa pada kamera DSLR, perbedaan fungsi yang paling jelas antar generasi
adalah pada sistem autofokus.
Selain
itu, dibandingkan model terbaru, ada jeda waktu yang menjengkelkan dari saat
dinyalakan hingga siap dipakai, atau noise yang mencolok jika salah mengatur
cahaya saat pemotretan sensitivitas tinggi. Jika terlalu tua, media penyimpanan
pun bisa sulit didapat dan kemampuan foto beruntunnya lambat.
Namun,
semua itu bukan masalah "hasil foto", melainkan masalah
"kenyamanan pengoperasian". Bahkan, ada banyak kasus di mana kamera
lama justru menghasilkan foto dengan karakter yang lebih menarik.
Baik
dari pengalaman Yukuto sendiri, ajaran para senior, maupun wejangan ayahnya
yang seorang fotografer profesional, selama tidak mencetak foto hingga ukuran
lebih besar dari A3, seharusnya tidak perlu terlalu terpaku pada kamera
terbaru.
""Ohh,
begitu ya.""
Tanpa
disengaja, suara Izumi dan Yui keluar bersamaan.
"Aku
kan sudah jelaskan soal itu waktu mengajari Kotaki-san pakai kamera
kemarin."
"Kalau
Senpai mulai cerita, pasti langsung ngomong banyak hal sekaligus, jadi nggak
bisa nginget semuanya."
Izumi
mengerucutkan bibir. Di sampingnya, Fuka melirik Izumi dengan tatapan seolah
ingin mengatakan sesuatu, tetapi posisinya tepat berada di balik bayangan Izumi
dan Yui, sehingga Yukuto tidak menyadarinya.
"Yah,
aku sendiri sama sekali nggak paham soal kamera, jadi cuma bisa menantikan
hasil akhirnya saja sih…"
Saat
itu, Rio yang sejak tadi diam mendengarkan penjelasan panjang Yukuto, ikut
masuk ke dalam percakapan dengan senyum kecut.
"M-maaf.
Entahlah, ini mungkin sudah dorongan otaku-ku atau semacamnya…"
"Tidak
apa-apa. Aku juga punya sisi seperti itu. Terutama soal voli dan kegiatan klub.
Sama saja, kan?"
"Sama…
ya? Entahlah, aku kurang yakin."
"Menurutku
sama. Itu artinya Oki-kun punya gairah dan pengalaman yang terakumulasi soal
kamera dan fotografi. Dan karena itulah kemampuanmu juga benar-benar terbentuk,
sampai akhirnya foto Watanabe-san itu bisa menang di kontes, kan?"
Lalu
tiba-tiba, ia menyinggung foto kontes Fuka yang diambil oleh Yukuto.
"Foto
itu juga diambil dengan kamera ini?"
"Tidak,
yang itu…"
Karena
alur pembicaraannya terasa alami, Yukuto hampir saja menjawab secara spontan.
Ia
pun tanpa sadar melirik ke arah Fuka sesaat, tetapi karena sudah terlanjur
berbicara sejauh ini, apa pun reaksi Fuka, berpura-pura atau mengelak justru
akan jadi langkah terburuk.
"Aku
mengambil foto itu dengan kamera film."
"Wah,
kamera film? Aku belum pernah pegang sama sekali."
Menanggapi
jawaban Yukuto, Rio tidak menunjukkan reaksi yang aneh apa pun.
"Aku
pernah pakai, sih. Yang sekali pakai, dijual di minimarket," justru Yui
yang berkata begitu.
"Kamera
film itu kan beda sama ponsel atau kamera digital—hasil fotonya nggak bisa
langsung dilihat, dan buat cuci filmnya juga mahal, kan? Kalau Oki dari klub
fotografi sih masih masuk akal, tapi kenapa Hasegawa?"
"Itu
tentu saja, karena ketua—………… eh,"
Yui
hampir menjawab dengan sangat alami, lalu mendadak membelalakkan mata, menutup
mulut sejenak, kemudian membukanya lagi.
"Itu,
apa ya… kadang memang lagi tren. Di kalangan cewek. Sensasi judinya—nggak tahu
hasilnya bakal seperti apa—itu seru, dan kameranya juga banyak yang desainnya
lucu."
"Ooh.
Dari penjelasan itu aja masih agak susah dibayangin sih. Kalau Oki, pernah
pakai juga?"
"Pernah.
Tapi yang Hasegawa maksud itu sebenarnya bukan kamera, melainkan jenis yang
disebut film dengan lensa terpasang—"
"Senpai.
Membetulkan istilah yang sudah umum dipakai orang dan sebenarnya nggak masalah
itu kebiasaan otaku yang kurang baik, lho. Sebaiknya dihentikan."
"Jangan
ngomong gitu dong, kamu kan anggota klub fotografi! Aku cuma menjawab
pertanyaan yang ditanya dari sudut pandang klub fotografi!"
"Oooh,
begitu ya. Maaf banget deh~"
"Hadeh…
baik kamera film maupun film dengan lensa, meski resolusinya lebih rendah
dibanding kamera mirrorless terbaru, justru bisa menghasilkan nuansa lembut
yang sekarang malah sulit didapat tanpa editing. Untuk foto kontes sebelumnya,
kupikir nuansa itu lebih cocok."
Tentu
saja, itu bukan satu-satunya alasan, tapi untuk berbagai hal, ini bukan saat
yang tepat untuk membahasnya.
"Oh,
begitu ya. Jadi untuk pemotretan kali ini kamu nggak pakai kamera film
itu?"
"Terus
terang, kamera film sama sekali nggak cocok buat memotret olahraga di zaman
sekarang. Dan kalau harus minta senior mengecek hasilnya, lalu harus keluar
uang buat cuci film dan segala macam, bakal makan waktu dan biaya besar."
"Ya,
masuk akal sih. Tapi tetap agak disayangkan."
Rio
mengatakannya dengan nada biasa saja, tetapi itu sudah cukup untuk membuat
Yukuto kembali memikirkan situasi yang mengelilingi Fuka.
"Aku
pengen lihat kamera yang dipakai buat ambil foto itu."
"…Kalau
setelah pekerjaan ini selesai ada kesempatan, aku akan membawanya."
Orang
yang menunjukkan ketertarikan pada kamera Yukuto tetap harus diwaspadai,
setidaknya sedikit.
Justru
karena itu, kalau Rio benar-benar tertarik murni pada kamera atau fotografi,
Yukuto malah merasa agak bersalah.
"Yah,
toh ke depannya kami akan minta bantuanmu untuk menaklukkan Raja Iblis, jadi
nggak enak juga kalau maksa. Maaf ya."
"Tidak…"
Setelah
bertukar kontak dengan Yui, Yukuto dan yang lain meninggalkan gedung olahraga,
diantar oleh Rio dan Yui.
◇
"Serius
deh, menurut kalian itu masuk akal nggak?"
Di
ruang klub berkebun.
Di
ruangan yang agak gelap, sejuk, dan sedikit berbau tanah serta jamur itu, Izumi
mendengus pelan sambil mendekatkan wajahnya ke Yukuto dan Fuka.
"Kalau
dipikir secara normal, memangnya orang bakal peduli foto itu diambil pakai
kamera apa? Pasti mencurigakan! Ketua klub itu, Amami, jelas aneh.
Jangan-jangan itu yang namanya tim inspeksi atau semacamnya?"
Soal
Fuka akan diawasi oleh tim inspeksi manusia yang dikirim dari Natche Riviera
tentu saja sudah dibagikan juga ke Izumi.
"Dari
awal dia sudah mendekati Fuka dengan cara nggak alami sambil mengandalkan
ketampanannya, terus ke Senpai juga sok baik dan sok pengertian kayak senior
idaman. Jelas-jelas dia mau bikin Fuka dan Senpai lengah supaya mereka
keceplosan!"
"Tunggu,
Izumi, tenang dulu. Apa maksudnya ‘mengandalkan ketampanan’? Ketampanan itu
bisa dipakai kayak payung gitu?"
"Justru
karena bisa dipakai kayak payung makanya dia disebut ganteng! Semua cowok
ganteng itu predator yang mikir kalau mereka pakai ketampanan, cewek-cewek
bakal langsung berdatangan! Jadi jangan lengah ya, Fuka-chan!"
"Bias
Izumi terhadap cowok ganteng terlalu parah sampai aku, untuk pertama kalinya
dalam hidup, merasa ingin membela para cowok ganteng di dunia ini."
Mengesampingkan
sejenak tuduhan absurd Izumi bahwa cowok ganteng itu pasti bersalah, Yukuto pun
menyampaikan pendapatnya.
"Menurutku
sih, itu masih di garis batas. Memang nggak banyak, tapi selama ini ada juga
beberapa orang yang tertarik sama kamera setelah melihat fotoku."
"Hah?
Serius?"
"Watanabe-san
sendiri salah satunya."
"Hah!?
Kok bisa!?"
"Ehm…
Izumi, aku pernah cerita, kan? Waktu Oki-kun memotret karya yang kupamerkan di
Festival Krisan. Waktu itu aku memang nggak langsung, tapi setelahnya aku
merasa itu foto yang nggak mungkin bisa kuambil sendiri. Jadi aku bertanya ke
Oki-kun, bagaimana cara dia memotretnya, dan pakai kamera apa. Yang Oki-kun
maksud barusan, kurasa itu tentang hal itu."
"Ke-kenapa
kamu bisa mikir begitu?"
"Mungkin
karena aku sudah lama nggak melihat foto cetakan ukuran L. Biasanya kan kita
jarang lihat foto di atas kertas, ya?"
"Ah,
iya juga. Paling cuma waktu foto purikura di game center?"
"Iya.
Ngomong-ngomong, itu juga sudah lama banget."
"Kalau
gitu, lain kali kita foto purikura lagi yuk! Tapi tanpa Senpai."
Tanpa
sadar ia dikeluarkan dari rencana jalan-jalan mereka, tetapi Yukuto juga tidak
berniat ikut campur dalam agenda Fuka dan Izumi. Lebih dari itu, fakta bahwa
Fuka pergi ke game center untuk berfoto purikura justru membuatnya terkejut
secara sederhana.
Bukan
berarti Yukuto sama sekali tidak pernah menggunakan mesin stiker foto semacam
itu, tetapi jumlahnya benar-benar bisa dihitung dengan jari. Karena itu, ia
jadi penasaran seberapa sering dan dalam situasi seperti apa Fuka pernah
menggunakannya.
"Pokoknya,
dalam kasusku, hal terbesarnya adalah karena ada sesuatu yang sangat berharga
bagiku bisa difoto dengan indah. Itu sebabnya aku jadi makin penasaran,"
kata Fuka.
"Hmmm.
Kalau begitu sih masih bisa dimengerti, tapi kali ini beda, kan? Amami-senpai
bahkan belum lihat hasil fotonya."
"Menurutku,
masa depan kegiatan klub itu hal yang sangat penting bagi Amami-senpai. Kalau
dia berpikir Oki-kun akan bekerja sama dengan sungguh-sungguh demi itu, wajar
saja kalau dia penasaran dengan aktivitas Oki-kun selama ini dan detailnya.
Setidaknya, menurutku begitu."
"Hmm…
kalau dibilang begitu sih… mungkin ada benarnya juga…"
"Daripada
itu, justru aku lebih penasaran sama manajernya, Hasegawa Yui. Bukankah dia
kelihatannya sangat dekat dengan Oki-kun?"
Walaupun
tidak sampai menganggap "cowok ganteng pasti bersalah", jika memang
ada manusia dari Natche Riviera yang mendekati mereka sambil menyembunyikan
identitas, Fuka semula mengira Rio-lah kandidat terkuat.
Namun
kenyataan bahwa Fuka—seorang elf yang berada di posisi diawasi—justru
mewaspadai Yui, bukan Rio, terasa mengejutkan sekaligus pendapat yang patut
didengarkan.
"Dekat
denganku, ya… Aku dan Kotaki-san fokus ke pemotretan, jadi mungkin Watanabe-san
yang sedikit mundur bisa menyadarinya. Hasegawa memang kelihatan sedekat itu
denganku?"
"Oki-kun
benar-benar nggak sadar? Padahal untuk ukuran pertama kali bertemu, Hasegawa
cukup jelas berusaha mendekatimu."
"Benarkah?
Aku nggak merasa seperti itu sih…"
"Waktu
tukar kontak, sikapnya agak menggoda tanpa alasan jelas, terus dia juga
mendekatkan wajahnya ke kamera Oki-kun lebih dari yang perlu."
"Aku
nggak lihat— Fuka?"
"Terus
waktu ngobrol sama Oki-kun, dia kelihatan aneh, grogi, kayak nggak bisa menatap
wajahmu. Jangan-jangan Hasegawa memang mengincar Oki-kun…"
"Hah!?
Mengincarku!? Kalau Hasegawa itu tim inspeksi, berarti dia melewati Watanabe
dan langsung menargetkanku atau kameraku!?"
"Aku
harus mulai menanggapi dari bagian yang mana, ya…"
Melihat
Fuka dan Yukuto yang makin memanas, Izumi mengernyitkan wajah.
"Memang
belum pasti, tapi Oki-kun, kamu nggak boleh lengah sama Hasegawa. Mungkin
penilaianku tadi terlalu naif. Kalau dia tiba-tiba mendekatkan jarak, bisa
repot!"
"Ah,
iya, aku mengerti. Selama aku nggak datang langsung ke klub voli, sepertinya
aku nggak akan ketemu berdua dengan Amami-senpai atau Hasegawa, tapi aku bakal
tetap waspada!"
"Iya.
Lakukan itu. Amami-senpai juga sih, tapi terutama jangan sampai kamu berdua
saja dengan Hasegawa!"
"Kalau
Senpai dan Hasegawa jadi kelihatan cocok, mungkin mata Fuka-chan bakal
terbuka…"
"Izumi-chan!?
Barusan kamu bilang sesuatu yang nggak beres, kan!?"
"Nggak
kok~ aku nggak bilang apa-apa~"
"Aduh!
Ini penting, tahu! Pastikan Oki-kun dan Hasegawa nggak berdua saja!"
"Mana
mungkin aku yang anak kelas satu bisa begitu~. Sekarang saja aku sudah
kewalahan sama hal-hal yang diminta Senpai. Kalau soal rasa krisis, Fuka-chan
saja yang urus."
"Mmufuu!"
"Mmufuu
apaan sih. Aku bukan ngomong buat nyebelin, lho. Di pihakku juga cukup tegang.
Mengurus urusan orang lain itu ternyata lumayan bikin capek."
Sambil
berkata begitu, Izumi melirik Yukuto dengan tatapan tajam.
"Ya
mau bagaimana lagi. Sebagai gantinya, Kotaki-san boleh bebas melakukan apa pun.
Tapi ya, itu nanti saja."
"Mmufuu."
"Sebagai
permintaan pemotretan dari klub lain, nggak ada yang terasa janggal. Untuk saat
ini, kecurigaan kita ke Amami-senpai atau Hasegawa masih sebatas prasangka.
Belum lama sejak kita dengar cerita dari ibu Watanabe, dan aku maupun
Kotaki-san juga nggak bisa melawan kalau sesuatu terjadi. Jadi untuk sekarang,
kita cuma bisa menjalani hari dengan normal."
"Mmufuu!"
Karena
Fuka sudah hanya mengucapkan "mmufuu" dan pembicaraan ini tidak akan
berkembang lebih jauh, mereka pun membubarkan diri hari itu.
Begitu
keluar dari ruang klub berkebun, ternyata mereka sudah mengobrol cukup
lama—langit bahkan mulai gelap.
"Kalau
begitu, jadwal pemotretan selanjutnya akan tergantung seberapa jauh aku bisa
mengedit fotonya setelah sampai rumah. Nanti malam atau besok pagi aku
hubungi."
"Oke."
"Iya,
aku mengerti. Oki-kun, Izumi-chan, hati-hati di jalan. Kalau aku dengar hal
baru dari ibu, aku juga akan menghubungi."
Setelah
saling melambaikan tangan dan berpisah dengan Fuka serta Izumi, Yukuto berjalan
pulang menyusuri jalan yang biasa, dengan sedikit ketegangan di dadanya.
Jalan
dari sekolah ke rumah memang agak menjauh dari jalan utama, tetapi lalu lintas
pejalan kaki cukup ramai.
Dari
cerita Fuka, tim inspeksi bukanlah penjahat, jadi meskipun mereka ingin
mengetahui kebenaran di balik foto wujud asli ibu dan anak Watanabe, kecil
kemungkinan mereka menculik Yukuto atau merampas barang-barangnya.
Lagipula,
kalau mereka tipe orang seperti itu, ibu Fuka pasti tidak akan membiarkan
Yukuto dan yang lain tanpa perlindungan.
"Meski
begitu… aku memang belum pernah bertemu langsung dengan ‘manusia’ dari Natche
Riviera."
Yang
pernah ditemui Yukuto hanyalah para elf dari desa Ierefu.
Semua
memang berpenampilan seperti manusia—lebih tepatnya orang Jepang—tetapi di
antara mereka tidak ada yang bukan elf San-Alf.
Dan
karena kampung halaman Fuka, desa Ierefu, berada di pulau ‘penjara’ yang
melayang, serta semua elf ditahan di sana, jelas pihak yang memaksakan keadaan
itu bukanlah elf, melainkan ras lain.
Di
antara mereka, tak sulit membayangkan manusia sebagai kelompok terbesar.
"Aku
nggak mau kalau yang datang itu orang yang seenaknya mendiskriminasi elf atau
meremehkan dunia lain."
Masalah
pasti akan muncul, tetapi identitas pihaknya tidak jelas—kecemasan yang terlalu
samar ini sangat menguras mental.
"Lagipula,
kasus fotoku—atau lebih tepatnya foto Watanabe—yang tiba-tiba diunggah ke forum
aneh juga belum ada petunjuk sama sekali."
Berkat
pergantian hari, hari ini jumlah orang yang menatap Fuka dengan rasa ingin tahu
sudah jauh berkurang. Namun teman-teman sekelas yang sudah lama bergaul
dengannya, dan makin akrab setelah insiden foto itu, tetap berada di sekitarnya
seperti kemarin.
Mereka
ini, kalau mau dicurigai, bisa saja dicurigai setara dengan Rio atau Yui—tapi
kalau dibilang mencurigakan, juga tidak sepenuhnya.
"Aku
juga nggak tahu semua hubungan pertemanan Watanabe dari dulu. Mencurigai teman
atau kenalannya justru terasa tidak adil buat Watanabe… Hah, capek…"
Sambil
menunggu lampu lalu lintas, Yukuto mengeluarkan ponselnya dari saku.
"Ah,
males masak makan malam… Masih harus mengedit foto dan mencocokkan daftar nama
serta file juga. Nggak enak sama ibu sih, tapi hari ini mungkin aku makan di
luar saja—eh? Hah!? Apa ini!?"
Layar
ponsel yang lama tak disentuh sejak rapat klub berkebun dan kegiatan klub voli
dipenuhi oleh puluhan panggilan tak terjawab dan pesan LINE—semuanya dari
ibunya.
Waktunya
persis saat mereka sedang rapat "siapa yang mencurigakan" di klub
berkebun. Demi berjaga-jaga agar tidak mengganggu kegiatan klub voli, ia
mengaktifkan mode senyap penuh, dan itu malah jadi bumerang.
Pesan
terakhir berbunyi singkat namun mendesak:
[Kalau
sudah lihat, segera hubungi dan pulang]
Yukuto
buru-buru menelepon balik, dan seolah sudah menunggu, ibunya langsung
mengangkat.
"Kamu
ngapain saja sih! Ibu telepon berkali-kali!"
Bentakan
itu membuat Yukuto refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.
Bentakannya
memang terasa tidak adil, tetapi lebih dari itu, nada suara ibunya jelas
terdengar panik.
Ditambah
lagi, terdengar suara banyak orang bergerak di latar belakang, membuat Yukuto
menenangkan diri sebelum bertanya.
"Aku
lagi kegiatan klub, ponsel di mode senyap. Maaf. Ada apa? Ibu sudah di
rumah?"
"Di
rumah! Ibu pulang terburu-buru! Sebenarnya…!"
Apa
yang ibunya ceritakan selanjutnya jauh melampaui bayangan Yukuto.
"Hah…
eh? Serius?"
"Makanya
ibu panik! Ada hal yang cuma kamu yang bisa tahu, jadi cepat pulang sekarang
juga!"
"O-oke.
Sepuluh menit lagi aku sampai…!"
Begitu
menutup telepon, lampu lalu lintas tepat berubah hijau, dan Yukuto langsung
berlari tanpa sadar.
Ia
harus pulang secepat mungkin. Namun, karena masih sulit mempercayai ucapan
ibunya, jantung Yukuto yang sudah gelisah kini berdebar makin keras, napas dan
langkahnya pun tidak teratur.
Meski
begitu, dengan tubuh bermandikan keringat, ia terus memaksakan kakinya
bergerak. Saat melewati sudut jalan yang seharusnya rumahnya sudah terlihat—
"Tidak
mungkin…"
Di
depan rumahnya, ada satu mobil patroli dengan lampu berputar, satu kendaraan
polisi tipe van, dan satu skuter milik perusahaan pengelola sistem keamanan
yang dipasang sejak ayahnya meninggal. Di depan pintu, ibunya berbicara dengan
polisi sambil menunjuk sesuatu, wajahnya tampak sangat serius.
"…Aku
pulang…"
Saat
ia mendekat dengan ragu dan menyapa, ibu dan polisi itu menoleh dengan
kecepatan luar biasa, membuat Yukuto refleks mundur selangkah.
"Apakah
Anda putra beliau? Yukuto Oki?"
"Iya.
Dia tadi di sekolah— Yukuto, masuk dulu. Terutama kamar ayahmu… ada hal yang
hanya kamu yang bisa mengenalinya."
"I-iya,
mengerti. Tapi…"
Dipandu
oleh polisi dan ibunya, Yukuto masuk ke dalam rumah. Bahkan setelah melihat
banyak orang yang tampak seperti petugas forensik mondar-mandir di dalam, ia
masih sulit mempercayainya.
"Serius…
rumah kami kemasukan pencuri?"
Lampu kuning milik perusahaan keamanan di samping pintu masuk—penanda adanya gangguan keamanan—tanpa ampun menegaskan kenyataan itu kepada Yukuto.



Post a Comment