NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Elf Watanabe Volume 2 Chapter 2

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Chapter 2

Watanabe Fuka belum terbiasa dengan suasana klub olahraga


Suara sol sepatu karet yang bergesek nyaring di lantai kayu, bercampur dengan suara bola yang menghantam lantai dan otot para anggota, menggema memenuhi seluruh ruangan.

 

"Hei! Kakimu berhenti tuh! Jangan takut, anak kelas satu! Jangan lepaskan pandangan dari bolanya!!"

 

Sehari setelah Yukuto dan klub fotografi menerima permintaan dari kapten klub voli putra, Amami Rio—"tolong pinjamkan kekuatanmu demi penaklukan Raja Iblis"—isi gedung olahraga tempat mereka diundang dipenuhi semangat dan suara klub voli putra.

 

"Sini, sini. Diam-diam saja ya."

 

Sambil diberi isyarat tangan oleh kapten klub voli putra, Amami Rio, Yukuto, Izumi, dan Fuka yang membawa tas sekolah menyelinap di sisi latihan klub voli putra, lalu dengan cepat masuk ke ruang persiapan olahraga.

 

"L-luar biasa ya. Aku baru pertama kali melihat latihan klub olahraga yang serius dari jarak sedekat ini."

 

Dengan tangan menutup mulut dan mata terbelalak, Fuka mendengarkan suara bola yang terdengar menembus pintu ruang persiapan.

 

Tiba-tiba terdengar suara bola menghantam keras pintu logam, membuat Fuka terkejut dan refleks mundur selangkah menjauhi pintu.

 

"Bagus! Seperti itu, kejar terus dengan agresif! Jangan pedulikan kesalahan! Pokoknya terus tempel dan kumpulkan pengalaman demi penaklukan Raja Iblis! Ganti! Jangan kalah sama semangat barusan!"

 

Bola yang barusan menimbulkan suara itu tampaknya adalah bola hasil kesalahan dalam suatu permainan.

 

Namun suara pembinaan dari guru pembimbing klub voli putra, Gotou-sensei, terdengar cerah—bahkan seolah memuji kesalahan itu.

 

Mendengar itu, Fuka tanpa sadar saling pandang dengan Yukuto, lalu dengan ragu bertanya pada Rio.

 

"Bahkan gurunya juga bilang ‘penaklukan Raja Iblis’ ya……"

 

"Iya. Lawan yang harus kami kalahkan untuk bisa ke nasional, SMA Ouka, adalah Raja Iblis absolut yang terus membuat klub voli Tokyo putus asa."

 

SMA Ouka Afiliasi Universitas Mabuchiyama.

 

Dalam dunia voli SMA, sekolah ini adalah raja mutlak Tokyo. Mereka juga merupakan kekuatan dominan yang berhasil bertahan hingga Best 4 pada Haruko Volley terakhir, saat SMA Minami Itabashi sedang naik daun.

 

Di tiga turnamen nasional utama voli SMA—Haruko Volley, Inter-High, dan Kokutai Volley—mereka telah lolos ke tingkat nasional selama lima belas tahun berturut-turut, bahkan pernah meraih gelar juara nasional. Sebuah sekolah elite sejati.

 

Karena prestasi dan kekuatannya yang terasa begitu mustahil dilawan, nama kanji awal universitas dan SMA-nya—"" (Mabuchi) dan "" (Ouka)—diplesetkan, hingga akhirnya klub voli putra di Tokyo menjuluki mereka sebagai "SMA Raja Iblis."

 

Klub voli putra SMA Minami Itabashi bertemu Mabuchiyama Ouka di semifinal turnamen Tokyo, sempat mengejar hingga selisih satu set sebelum akhirnya kehabisan tenaga dan kalah.

 

Meski begitu, sebagai peringkat tiga Tokyo dan sekolah yang nyaris menaklukkan Raja Iblis, nama SMA Minami Itabashi pun melambung tinggi di Haruko Volley terakhir.

 

"Di turnamen musim panas pun, hampir pasti kami akan bertemu Mabuzakura lagi. Makanya Gotou-sensei dan kami berpikir, demi penaklukan Raja Iblis, sekarang kami ingin melakukan segala hal yang bisa kami lakukan. Itulah sebabnya kami mengundang klub fotografi."

 

Permintaan Rio kepada klub fotografi adalah pengambilan tiga jenis foto: foto setengah badan untuk daftar anggota baru, foto suasana latihan, dan—jika memungkinkan—foto candid.

 

Rio selaku kapten dan Gotou-sensei selaku pembina tampaknya percaya bahwa meminta klub fotografi yang pernah meraih prestasi lomba untuk mengambil foto-foto tersebut adalah hal penting demi penaklukan Raja Iblis di Inter-High musim panas mendatang, serta untuk meningkatkan kekuatan dasar klub ke depannya.

 

"Begitu ya…… meski aku bilang ‘oh begitu’, jujur aku masih belum sepenuhnya paham bagaimana memotret kegiatan klub di momen yang kelihatannya penting seperti ini bisa berkontribusi pada penguatan tim…… dan satu lagi—"

 

"Hm? Ada apa, Oki-kun?"

 

"Ah, nggak, nggak apa-apa."

 

Yukuto sempat merasa sedikit heran karena Fuka ikut begitu saja dalam kegiatan klub fotografi, tapi ia sendiri tidak keberatan berada bersama Fuka, jadi keraguan itu pun ia kubur dalam hatinya.

 

"Kalau begitu, Kotaki-san, bisa tolong pasang dulu peralatan lampu yang kita bawa?"

 

"Siap, dimengerti~"

 

Mungkin karena ada Rio dan Fuka di dekatnya, Izumi untuk sekali ini dengan patuh mengikuti instruksi Yukuto dan mulai memasang peralatan pencahayaan sederhana di tripod untuk menerangi objek foto dengan baik.

 

"Ngomong-ngomong, Amami-senpai. Bukannya jumlah orangnya agak sedikit? Dari yang kulihat, selain guru pembina, sepertinya cuma ada anak kelas satu."

 

Sambil dengan cekatan merakit peralatan yang meski tidak rumit namun hanya diajarkan sekali, Izumi bertanya pada Rio.

 

"Oh, anak kelas dua dan tiga lagi lari di luar sekarang. Di klub kami saat ini, kelas satu latihan di lapangan dulu, senior menyusul belakangan."

 

"Begitu ya? Biasanya kan di klub olahraga, justru senior yang latihan dulu."

 

Ketika Yukuto bertanya demikian, Rio langsung tersenyum lebar, seolah berkata "pertanyaan bagus," lalu mulai menjelaskan dengan semangat.

 

"Oki-kun, jangan-jangan yang kamu bayangkan itu seperti di klub baseball atau tenis, di mana junior cuma disuruh ambil bola?"

 

"Y-ya, kira-kira begitu……"

 

Ditekan dengan jarak sedekat itu, Yukuto refleks sedikit mundur.

 

"Kurang lebih begitu. Aku sih nggak tahu detail klub baseball atau tenis di sekolah ini, tapi waktu SMP, memang seperti itu."

 

"Begitu ya. Kalau begitu, Oki-kun, apa kamu pernah merasa ada sedikit ketidakadilan dari sudut pandang junior? Jangan-jangan, waktu SMP kamu juga anak klub olahraga?"

 

"Eh? Oki-kun, memangnya begitu?"

 

"Senpai anak klub olahraga? Nggak mungkin, deh!"

 

"Iya. Sebenarnya waktu SMP aku di klub voli."

 

"Eh! Serius!?"

 

"Hah!? Bohonggg!"

 

Fuka dan Izumi menunjukkan reaksi yang benar-benar berlawanan.

 

Dari mata Fuka terlihat ketertarikan dan kekaguman yang tulus terhadap masa lalu Yukuto yang belum pernah ia ceritakan, sedangkan dari mata Izumi tampak kecurigaan.

 

"Serius kok. Aku bisa akrab sama Tetsuya juga gara-gara itu."

 

"Eh~? Beneran? Terus kenapa di SMA malah masuk klub fotografi?"

 

"E-eh, itu juga sedikit bikin aku penasaran. Selama ini belum pernah dengar soalnya……"

 

Dihadapkan pada pertanyaan itu, Yukuto melirik Rio sekilas, lalu dengan canggung mengalihkan pandangan dari semua orang.

 

"Gampangnya sih, karena aku nggak cukup jago, jadi nggak kepikiran buat lanjut. Di SMP-ku, anggota klub voli banyak banget, persaingan jadi pemain inti juga ketat. Badanku juga nggak terlalu kuat, skill-ku juga biasa saja, jadi aku cuma sempat main di turnamen kelas B—tingkat cadangan—dan itu pun jumlahnya bisa dihitung dengan satu tangan."

 

"Begitu ya……"

 

Fuka dan Izumi tampak menunggu kelanjutan ceritanya, tapi Rio seolah sudah menebak akhirnya dan mengangguk kecil.

 

"Tentu saja aku masih lebih jago dibanding yang benar-benar pemula, dan sampai sekarang aku masih suka nonton pertandingan. Tapi klub olahraga SMA itu jauh lebih keras dibanding SMP. Aku nggak punya kepercayaan diri atau kemampuan untuk bertahan di situ, jadi aku memilih masuk klub fotografi—yang memang sudah menarik perhatianku dan nggak ada waktu SMP—tanpa ragu."

 

"Hmm. Ya, perasaannya sih bisa dimengerti, tapi kenapa selama ini nggak pernah bilang?"

 

"Aku sama sekali nggak menyesal berhenti voli dan masuk klub fotografi. Tapi, tergantung sudut pandang, itu bisa dibilang pengalaman kegagalan juga…… dan selain itu—"

 

Yukuto sedikit terdiam, lalu dengan wajah canggung melirik Fuka dan segera mengalihkan pandangannya lagi.

 

"Sebagai cowok, bilang ‘aku berhenti klub olahraga SMA karena kelihatannya berat’ itu agak… memalukan, kan."

 

Sebagai seorang remaja laki-laki yang jatuh cinta pada seorang gadis, fakta bahwa dirinya bukan anggota klub olahraga—bahkan gagal bertahan di dalamnya—menjadi rasa rendah diri, terlepas dari idealisme apa pun.

 

Setidaknya, suasana dunia memang cukup untuk membuat seseorang merasa rendah diri karena hal itu.

 

Karena itu, sebisa mungkin Yukuto tidak ingin Fuka mengetahui hal ini. Namun justru di depan kapten ace yang membawa klubnya ke tingkat nasional, ia harus mengaku—sebuah ironi tersendiri.

 

"Tapi berkat itu aku bisa bertemu Oki-kun dan difoto olehnya…… mungkin buat Oki-kun perasaannya rumit, tapi aku senang Oki-kun masuk klub fotografi."

 

Entah sadar atau tidak akan perasaan Yukuto, Fuka duduk di sampingnya begitu saja dan mengatakan itu dengan nada santai.

 

Sambil mengeluarkan kamera yang akan digunakan hari ini dari tas sekolahnya, Yukuto merasa malu dan tidak bisa menatap wajah Fuka.

 

"……Begitu ya. Kalau Watanabe-san bilang begitu, ya… aku senang."

 

"Iya. Menurutku juga begitu."

 

"Kotaki-san. Dua orang itu pacaran, ya?"

 

"Bukan begitu kok. Serius, beneran bukan."

 

Berbeda dengan Rio yang memandang Yukuto dan Fuka dengan senyum hangat, Izumi justru mulai memancarkan aura suhu nol mutlak, sampai-sampai rasanya ia bisa berubah menjadi wanita salju di tempat.

 

"Ah, lalu… itu, kita tadi membicarakan apa, ya?"

 

"Kita sedang membicarakan kenapa mengambil foto bisa berguna bagi klub, dan kenapa di klub voli kami justru siswa tahun pertama yang lebih dulu melakukan latihan di lapangan."

 

Menyadari perubahan suasana di sekitar klub fotografi akibat atmosfer Izumi, Rio dengan cepat mengembalikan topik pembicaraan.

 

"Misalnya begini. Menurut kalian, untuk apa sih di klub bisbol ada tugas memungut bola?"

 

"Pekerjaan kasar, mungkin. Sama buat menanamkan hierarki senior–junior, kan?"

 

Pendapat Izumi yang blak-blakan itu memang tak berperasaan, tapi Yukuto pun tak sepenuhnya bisa menyangkalnya.

 

"Aku tidak menyangkal bahwa ada sekolah atau klub yang membutuhkan pengelolaan seperti itu. Tapi pada dasarnya, memungut bola itu bertujuan melatih kekuatan kaki dan pinggang, serta mempelajari dasar paling dasar dalam pertahanan, yaitu menangani bola ground. Tapi kalau anak-anak yang baru sebulan lalu masih SD, lalu masuk SMP karena ingin main bisbol, malah merasa ‘dipaksa kerja kasar’, maka potensi perkembangan klub itu sendiri akan tertutup…"

 

Rio memberi jeda cukup lama, lalu melanjutkan.

 

"Itulah cara berpikirku sekarang, bersama Gotou-sensei. Foto-foto yang akan kalian ambil mulai hari ini bertujuan agar siswa kelas satu dan dua yang belum menjadi pemain inti bisa menyadari bahwa mereka juga dibutuhkan oleh klub. Begitu sudah masuk klub, aku tidak ingin mereka merasakan hal seperti yang tadi dirasakan Oki-kun."

 

"Yang tadi aku rasakan?"

 

"Kisahmu tentang merasa tidak sanggup mengikuti kerasnya klub olahraga di SMA. Orang seperti itu memang banyak, tapi di sisi lain, mereka yang tetap masuk klub olahraga SMA adalah orang-orang yang sudah berjuang tiga tahun di SMP dan datang dengan keyakinan bahwa mereka bisa bersaing. Kalau orang-orang seperti itu malah diperlakukan hanya sebagai ‘anak kelas satu yang harus mengabdi pada senior’, ya jelas mereka bakal berpikir, ‘buat apa capek-capek’."

 

"Ah… iya juga."

 

"Kalau mereka sudah berusaha keras, aku ingin mereka terus mempertahankan usaha itu dan tidak menyerah untuk merebut posisi inti. Hal yang sama berlaku juga untuk siswa kelas dua dan tiga yang belum jadi reguler. Untuk itu, yang dibutuhkan adalah alat yang bisa menunjukkan secara objektif dan cepat bahwa ‘aku diakui sebagai anggota klub’ dan ‘aku terlihat keren’. Kami pikir, foto adalah alat yang paling tepat."

 

Rio melanjutkan penjelasannya dengan penuh semangat.

 

"Kalau video, kekurangan juga ikut terekam, dan butuh waktu lama untuk mengeceknya. Lagi pula, dalam latihan sehari-hari mereka sudah dipaksa sadar akan ‘hal-hal yang belum bisa mereka lakukan’. Jadi justru dengan melihat foto diri mereka yang terlihat keren, mereka bisa berpikir, ‘oh, mungkin aku tidak seburuk itu’, dan meningkatkan rasa percaya diri mereka."

 

"Tekanannya besar sekali buat kami, ya" kata Yukuto sambil tersenyum kecut. Ia paham maksud Rio, tapi yang akan mengambil foto itu adalah mereka.

 

"Tapi sebagai orang yang pernah gagal, aku bisa mengerti perasaan itu. Senpai benar-benar menghargai siswa tahun pertama, ya."

 

"Ya. Soalnya meskipun siswa kelas dua dan tiga sekarang kuat, kalau tidak membina generasi berikutnya, kekuatan klub akan langsung menurun. Wajar kalau kelas dua dan tiga lebih kuat dari kelas satu. Kalau sebagai tradisi klub kita menaruh fokus terbesar pada pembinaan kelas satu, kekuatan klub bisa terus terjaga."

 

"Tapi dari ceritanya, sepertinya budaya itu baru mulai dibangun oleh Senpai dan guru pembina sekarang. Tidak ada keluhan dari kelas dua dan tiga karena mereka harus latihan setelah kelas satu?"

 

Padahal sehari-hari Izumi sama sekali tidak memperlakukan Yukuto sebagai senior, tapi rupanya ia cukup peduli soal hubungan hierarki dalam klub.

 

Menanggapi pertanyaan Izumi, Rio mengangguk dengan bangga.

 

"Kalau kelas satu latihan di lapangan lebih dulu, itu berarti semua persiapan yang diperlukan untuk latihan lapangan juga ditangani oleh kelas satu."

 

"Oh! Kalau begitu, secara alami kelas satu yang mengerjakan tugas-tugas persiapan."

 

"Benar. Karena setelah itu senior yang memakai lapangan, mereka pasti menyiapkan lapangan dengan sungguh-sungguh, kan? Selain itu, di klub kami, saat pergantian latihan lapangan antara kelas satu dan senior, kami menyediakan waktu lima belas menit untuk saling mengamati latihan masing-masing, yang kami sebut ‘waktu observasi’."

 

"Waktu observasi?"

 

"Kami menentukan tema tiap hari, lalu mengamati kelebihan dan kekurangan rekan satu tim. Setelah itu, kami main satu set pertandingan, lalu berganti giliran latihan lapangan. Itulah rutinitas klub voli putra kami di paruh pertama tahun. Di paruh kedua, siswa kelas tiga pensiun dan di antara kelas satu mulai muncul pemain-pemain berbakat, jadi ceritanya akan berbeda lagi."

 

"Wah, ternyata dipikirkan matang-matang ya. Aku kira klub olahraga itu default-nya senior memperlakukan junior seperti budak."

 

"Kamu cukup pedas juga ngomongnya, ya."

 

Mendengar ucapan Izumi yang tanpa basa-basi, Rio pun tak bisa menahan senyum kecut.

 

"Meskipun menyebutnya budak itu berlebihan, memang ada klub yang merasa perlu menjaga ketertiban dengan menekan junior secara keras. Ada juga yang menganggap cara kami terlalu lembek. Saat ini, cara ini cocok untuk klub kami—itu saja. Beberapa tahun lalu, senior-senior kami juga katanya cukup keras. Beberapa tahun ke depan, mungkin saja klub yang lebih kuat justru klub yang melatih junior dengan sangat keras. Tapi masa lalu tetap masa lalu, sekarang adalah sekarang, dan masa depan adalah masa depan."

 

"Masa lalu… adalah masa lalu, dan sekarang… adalah sekarang."

 

Tanpa disadari, Fuka mendengarkan ucapan Rio dengan sangat serius.

 

"Masa depan… adalah masa depan."

 

"Ya. Dan demi masa depan yang sangat dekat itu, kami butuh kekuatan klub fotografi. Kami ingin klub fotografi mengambil foto wajah untuk daftar anggota, foto saat latihan, dan kalau bisa juga foto-foto santai di luar waktu latihan."

 

"Baik."

 

"Kami akan berusaha sebaik mungkin, Senpai!"

 

"Aku juga akan membantu sebisaku!"

 

Fuka menjawab dengan sikap seolah ia benar-benar anggota klub fotografi. Saat itu, suasana di luar ruang persiapan mulai sedikit ramai.

 

"Baik, setelah ini kita latihan observasi lalu satu set pertandingan. Susunan pemain hari ini Komiyama-kun, Katou-kun, Shimizu-senpai, dan…"

 

Di tengah keramaian itu, ada suara yang terdengar jelas—suara perempuan.

 

"Sepertinya mereka sudah kembali. Baiklah, ayo kita keluar!"

 

Dengan suara paling bersemangat dibanding siapa pun dari klub fotografi, Rio berkata demikian, lalu membuka pintu ruang persiapan dengan kedua tangan, seolah seorang pahlawan membuka gerbang kastil.

 

Pintu logam yang berat itu terbuka dengan tenaga yang nyaris berbahaya, seakan membuktikan hasil latihan Rio. Suaranya membuat semua orang di dalam gedung olahraga menoleh ke arah Yukuto dan yang lainnya.

 

"Baik! Semua, perhatian!"

 

Meski kemunculannya jelas tidak biasa, begitu semua orang menyadari bahwa itu Rio, mereka langsung berdiri tegap.

 

""""Ketua! Terima kasih atas kerja kerasnya!""""

 

Sapaan yang terdengar seperti teriakan perang itu hampir membuat Fuka terpental hanya oleh tekanan suaranya.

 

"Hah? Itu Yukuto, Watanabe-san, dan Kotaki-san?"

 

Di tengah semua itu, Tetsuya—yang jelas habis latihan lari serius, terlihat dari keringat di dahinya—menemukan Yukuto dan Fuka.

 

"Ketua Amami? Siapa mereka?"

 

Yang memasang wajah curiga kemungkinan besar adalah pemilik suara perempuan yang terdengar tadi.

 

Rambut panjangnya diikat rapi ke depan dan belakang, berkacamata, membawa buku catatan dan pena, mengenakan setelan training atas-bawah, serta stopwatch tergantung di lehernya.

 

Tak perlu dikonfirmasi lagi, ia pasti manajer klub voli putra.

 

"Hasegawa. Hari ini aku memasukkan jadwal yang tidak biasa. Gotou-sensei juga sudah menyetujuinya, jadi aku minta kerja samamu."

 

"Begitu… jadwal tidak biasa, ya."

 

Di balik kacamatanya yang besar, gadis bernama Hasegawa itu memandang Yukuto dengan semakin curiga.

 

"Ehm… anu?"

 

Terutama Fuka, yang dipandangnya nyaris seperti ditatap tajam.

 

"Kalau tidak salah, kamu Watanabe dari klub berkebun, kan? Kelas B."

 

"Eh… i-iya. Benar."

 

"Ketua, sebenarnya ada keperluan apa anggota klub berkebun ke sini?"

 

"Hasegawa. Watanabe-san datang untuk membantu klub fotografi."

 

"Hah? Klub fotografi?"

 

"Dan ketiga orang ini adalah tamu klub yang aku bawa. Gotou-sensei juga sudah mengetahuinya. Kalau begitu, sikapmu barusan agak kurang pantas."

 

"……Sebagai orang yang mengatur jadwal klub, wajar kalau sikap saya seperti ini jika tidak diberi tahu apa pun."

 

Sepertinya manajer Hasegawa memang tidak terlalu menyambut kehadiran mereka, namun tampaknya ia juga tidak berniat membantah ucapan ketua klub. Setelah menarik napas untuk menenangkan diri, ia meluruskan postur tubuhnya dan menatap Yukuto tanpa ragu.

 

"Maaf atas sikap saya sebelumnya. Saya Hasegawa Yui, kelas dua F. Saya manajer klub voli putra. Kamu Oki-kun dari kelas B, kan? Ketua klub fotografi."

 

"Ah, iya. Benar."

 

"Maaf atas sikap saya yang kurang sopan. Tapi tolong pahami, sekarang ini adalah masa yang penting bagi klub. Mengubah jadwal tanpa pemberitahuan sebelumnya bukanlah hal yang baik bagi para anggota."

 

"Kami sendiri juga belum tahu pasti sampai sejauh mana dan apa saja yang harus kami lakukan… Tapi Ketua Amami bilang ini demi masa depan klub, jadi aku pikir kami bisa mempercayainya dan bekerja sama."

 

"Kalau memang begitu, saya juga ingin mempercayainya. Jadi, Ketua? Apa yang akan diminta dari klub fotografi?"

 

Mengabaikan tatapan Yui yang masih sedikit dingin, Rio menarik perhatian seluruh anggota klub dan mulai berbicara.

 

"Sebelumnya, ada satu hal yang perlu kusampaikan. Berkat pencapaian kita di kualifikasi Spring High tingkat Tokyo tempo hari, kali ini klub voli putra akan dibuatkan situs web resmi khusus untuk keperluan publikasi oleh sekolah!"

 

"Eh?!"

 

Bahkan Yui yang tadinya berwajah datar pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

 

Mendapatkan halaman publikasi khusus di situs resmi sekolah berarti klub tersebut diakui dan didukung secara resmi oleh sekolah. Selain menambah prestise, hal itu juga akan sangat membantu dalam perekrutan anggota baru di kemudian hari.

 

Lebih lagi, karena pengelolaan halaman itu dilakukan oleh klub sendiri, jika disediakan kontak khusus, klub dapat melakukan komunikasi eksternal secara langsung tanpa harus selalu melalui sekolah.

 

Tentu saja, tetap membawa nama sekolah berarti tanggung jawab yang menyertainya juga besar.

 

Namun, saat ini di SMA Minami Itabashi, klub yang memiliki situs publikasi khusus hanyalah klub karate yang rutin meraih prestasi di tingkat Kanto dan klub brass band yang pernah sekali tampil di kejuaraan nasional lebih dari sepuluh tahun lalu. Artinya, klub voli putra akan meninggalkan jejak besar dalam sejarah sekolah.

 

"Untuk foto-foto yang akan dimuat di situs itu, kami meminta bantuan klub fotografi. Selama beberapa hari ke depan, anggota klub fotografi akan keluar masuk saat latihan, jadi mohon kerja samanya!"

 

"""Baik! Mohon kerja samanya!"""

 

Dihujani semangat khas klub olahraga dan teriakan penuh hormat, Yukuto dan Fuka refleks membungkuk canggung di tempat, sementara Izumi tampak mengangguk dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya keberatan.

 

"Sebelum pembuatan situs dimulai, hari ini kita akan mengambil ulang foto setengah badan untuk daftar anggota klub. Foto ini tidak akan dipublikasikan, tapi jika kita berhasil lolos ke tingkat nasional, foto inilah yang akan diserahkan ke panitia turnamen. Jadi anggap saja seperti foto resmi dan berpose dengan serius!"

 

"""Baik!"""

 

"Selain itu, karena situs web akan terbuka untuk umum, siapa pun yang tidak ingin fotonya dipasang harap melapor padaku atau kepada Ketua Klub Fotografi, Oki, setelah sesi foto daftar anggota selesai!"

 

"""Baik!"""

 

Mendengar perhatian seperti itu, Yukuto sedikit terkesan.

 

Di dunia ini ada cukup banyak orang yang tidak suka difoto. Alasannya beragam, namun sebagai seseorang yang bergelut di dunia fotografi, Yukuto percaya bahwa keinginan orang yang menolak difoto harus selalu dihormati.

 

Justru orang seperti Fuka—yang bersedia menjadi model foto lomba hanya dengan diminta—adalah pengecualian yang sangat langka.

 

"Kalau begitu, saya sampaikan sekarang saja. Selain untuk daftar anggota, tolong jangan memotret saya. Saya ingin tetap berada di balik layar sebagai staf pendukung."

 

Manajer Yui pun langsung mengangkat tangan dan menolak untuk menjadi objek foto.

 

"Eh? Benarkah?"

 

Rio menatap Yui dengan wajah terkejut.

 

"Aku menganggap manajemen Hasegawa adalah kunci klub ini, jadi sebenarnya aku ingin membuat halaman khusus untukmu."

 

"Eh… b-benar begitu? I-itu sih… umm…"

 

Mungkin karena penilaian Rio itu di luar dugaan, meski tadi ia yang paling cepat menolak difoto, kini matanya terbelalak dan wajahnya memerah, jelas terlihat gugup.

 

"…Oh?"

 

Sampai saat itu, Izumi—yang sejak tadi diam karena ia orang luar sekaligus siswa kelas satu—melihat reaksi Yui sambil mengangguk kecil dan tersenyum samar.

 

"T-tetap tidak! Kalau memang harus memuat saya, lebih baik jadikan saja halaman itu sebagai halaman perkenalan anggota yang berganti setiap hari!"

 

"Begitu ya? Sayang sekali. Aku sudah membayangkan bagaimana Hasegawa akan terlihat menarik di foto."

 

"T-tolong jangan mengatakan hal seperti itu! Itu benar-benar tidak perlu!"

 

"Hmm~"

 

Melihat Yui kembali memalingkan wajahnya dari Rio, Izumi kembali tersenyum geli.

 

"L-lebih baik kita kembali ke topik! Kalau begitu, waktunya terbatas, jadi kita mulai dari foto daftar anggota, kan!"

 

"Ah, tidak—tunggu sebentar."

 

Yang angkat suara kali ini adalah Yukuto.

 

"Kalau tidak keberatan, bukankah lebih baik foto daftar anggota diambil sebelum latihan? Semua orang sudah cukup berkeringat, dan mungkin ingin merapikan rambut."

 

"……"

 

Mendengar itu, Rio tetap menatap lurus ke depan tanpa menoleh.

 

"Ehm, Amami-senpai? Kamu dengar? Selain itu, pakaian semua orang juga berbeda-beda. Kalau ada kemungkinan foto ini dipakai untuk turnamen, bukankah sebaiknya diseragamkan juga…"

 

"…Ah."

 

"Amami-senpai."

 

"…………Benar juga!"

 

"Eh, tunggu sebentar?!"

 

Melihat Gotou-sensei juga memasang ekspresi yang sama dengan Rio, Yukuto yakin bahwa mereka berdua sengaja merencanakan semua ini demi mengejutkan para anggota klub.

 

Yui menatap Rio dan Yukuto bergantian dengan wajah curiga, dan para anggota klub voli—termasuk Tetsuya—mulai tampak gelisah. Setelah berpikir sejenak, Yukuto berbicara kepada Rio, namun dengan suara yang cukup keras agar semua orang mendengarnya.

 

"Ehm… kalau begitu, bagaimana kalau begini. Aku sendiri belum lama mengambil alih jabatan ketua klub, dan ini pertama kalinya kami menerima permintaan resmi dari klub lain. Anggota klub kami juga baru satu orang dan belum terbiasa dengan peralatan, jadi kami anggap ini sebagai latihan mengambil foto. Sementara itu, dari pihak kalian, bagaimana kalau dianggap sebagai waktu latihan untuk difoto?"

 

"Latihan… difoto?"

 

"Iya."

 

Yukuto mengangguk, lalu memandang sekeliling gedung olahraga dan menunjuk ke arah dinding dengan latar yang relatif polos.

 

"Untuk sementara, latarnya di sana. Dari kalian semua, ada yang menyesal dengan foto kartu pelajar kalian?"

 

Mendengar pertanyaan itu, para anggota klub saling berpandangan dengan ragu.

 

"Aku! Aku nyesel banget!"

 

Tetsuya langsung mengangkat tangan.

 

"Aku kira aku bakal kelihatan keren, tapi malah jadi kelihatan mata tiga putih!"

 

Pernyataan Tetsuya menjadi pemicu, dan beberapa orang lain mulai mengeluhkan hal yang sama.

 

"Kalau kita mau membuat daftar anggota klub tingkat nasional, kami juga ingin mengambil foto yang layak. Jadi kami ingin memperhatikan waktu pengambilan dan latarnya, dan kalian juga pasti tidak mau terlihat aneh di foto, kan?"

 

"Bener! Aku pengen kelihatan keren!"

 

Tetsuya dengan bersemangat menanggapi dan mendorong Yukuto untuk melanjutkan.

 

"Jadi hari ini, aku ingin menjadikannya hari di mana klub fotografi mencocokkan wajah dan nama kalian, sekaligus mengumpulkan bahan untuk foto-foto selanjutnya. Bagaimana?"

 

"Oh, itu ide bagus."

 

"Selain itu, menurutku foto yang diambil nanti sebaiknya tidak langsung diberikan sebagai data mentah. Kita perlu melakukan sedikit penyuntingan. Akan lebih mudah kalau ada data contoh untuk nantinya berdiskusi soal arah penyuntingan dengan Amami-senpai dan Hasegawa-san."

 

"Eh? Aku? Kenapa aku?"

 

Tiba-tiba disebut namanya, Yui terlihat terkejut.

 

"Kenapa… ya karena Hasegawa-san manajer klub, kan? Tentu saja keputusan akhir tetap di tangan ketua klub dan guru. Tapi Gotou-sensei tidak mengajar di kelasku, dan dengan senior kelas tiga kadang sulit mencocokkan waktu. Jadi akan sangat membantu kalau ada rekan seangkatan yang bisa jadi tempat berdiskusi."

 

"Eh? Ah… itu, maksudku, tapi aku…"

 

Yui entah kenapa semakin lama semakin memerah wajahnya dan mulai panik.

 

"Se-segitu terguncangnya memangnya?"

 

Sampai-sampai Izumi tak punya pilihan selain menimpali, karena jelas reaksi Yui terasa aneh.

 

"So-soalnya, itu, aku…"

 

Dengan wajah yang sudah memerah sampai tak bisa disembunyikan lagi, Yui melirik Yukuto, lalu entah kenapa sekilas menoleh ke arah Fuka.

 

"A-aku belum pernah tukeran kontak dengan cowok selain urusan klub…!"

 

"Cuma gara-gara itu?"

 

Izumi sudah memasang wajah heran setengah jengkel.

 

"Ah, sama lagi… Oki-kun dan Watanabe-san itu, bukannya kalian pacaran ya?"

 

"Eh!?"

 

"B-bukan begitu—!"

 

"Kenapa sih salah paham itu nyebar ke mana-mana!?"

 

Ucapan itu membuat Yukuto dan Fuka sama-sama memerah wajahnya, Izumi jadi kesal, dan kemudian—

 

"Yukuto… nanti kita ngobrol, ya?"

 

Tetsuya dan beberapa anggota klub voli putra mulai memancarkan aura membunuh yang misterius.

 

Jangan-jangan, sebagian dari apa yang disebut "penggemar rahasia Watanabe" yang jumlahnya sekitar dua puluh orang di sekolah ini, ternyata termasuk Tetsuya dan para anggota klub voli putra itu?

 

"Soalnya kalau mikirin foto yang menang lomba itu, wajar dong kalau mikir begitu! Foto kayak gitu kan nggak mungkin diambil tanpa hubungan kepercayaan yang kuat antara fotografer dan model!"

 

"A-apa iya? Hasegawa-san juga mikir begitu?"

 

"Fuka-chan, jangan ketipu! Itu cuma karena kemampuan kamera Senpai lumayan bagus aja, bukan karena ada hubungan kepercayaan khusus di antara mereka!"

 

"Oh? Kalau menurut pengamatanku, Kotaki-san itu gimana ya? Jangan-jangan kamu menaruh perasaan pada Oki-kun sang ketua klub, dan menganggap Watanabe-san sebagai saingan cinta?"

 

"Amami-senpai, Amami-senpai, Amami-senpai, Amami-senpai? Walaupun senior kelas tiga, ada hal yang boleh dan tidak boleh diucapkan. Salah paham itu jelas tidak bisa dimaafkan. Aku suka Senpai? Mustahil. Aku seumur hidup cuma setia sama Fuka-chan!"

 

"Oh begitu? Kalau pendengaranku tidak salah, sepertinya kamu mengakui kemampuan kamera Oki-kun dengan baik, kan?"

 

"…Yukuto. Sudah cukup menyebalkan kamu dekat-dekat sama Watanabe-san, sekarang malah sama Kotaki-san juga… Lagipula kalau dipikir-pikir, aku bahkan nggak tahu kalau Kotaki-san masuk klub fotografi. Aku nggak pernah dengar soal itu."

 

"Amami-senpai, a-aku benar-benar harus tukeran kontak dengan Oki-kun ya? K-kalau Senpai bilang harus, ya aku akan lakukan sih, tapi…"

 

"Aku sudah nggak tahu lagi harus menanggapi dari mana… Tukeran kontak sama aku segitu nggak sukanya?"

 

"…Oki-kun, kamu pengen banget tukeran kontak sama Hasegawa-san?"

 

"Watanabe-san! Fokus kerja! Ini masalah pekerjaan antar klub!"

 

Saat api konflik aneh bermunculan di mana-mana dan situasi makin tak terkendali—

 

"Oke, kalian semua, tenang dulu! Stop, stop!"

 

Pembina mereka, Gotou, yang sejak tadi mengamati akhirnya turun tangan, tetapi—

 

"Ini semua karena guru dan ketua klubnya sama-sama nggak punya rencana matang, sih!!"

 

Ia langsung kena omelan serentak dari semua orang kecuali Rio.

 

"E-eh… nggak usah marah segitunya ke guru juga, kan…"

 

Tidak seperti pembina klub olahraga pada umumnya, Gotou benar-benar terlihat ketakutan oleh amarah para murid.

 

 

"Watanabe-san, untuk sementara aku mau ambil foto contoh buat mempertimbangkan pencahayaan. Bisa berdiri lurus membelakangi dinding itu?"

 

"Hmm, kayak gini?"

 

"Terima kasih. Kalau begitu Kotaki-san, coba intip viewfinder dan ambil foto dengan posisi sekitar tulang selangka Watanabe-san sebagai pusatnya, ya."

 

"Sekitar tulang selangka? Bukan wajah?"

 

"Foto untuk daftar nama itu foto setengah badan. Kalau diambil tepat dari depan wajah, bagian atas frame jadi kosong dan area dari tulang selangka ke bawah nggak masuk. Di mesin foto formal atau bilik foto di game center juga, posisi awal kameranya biasanya sedikit lebih rendah dari wajah."

 

"Oh, begitu… jadi itu alasannya. Oke, kira-kira begini?"

 

Izumi, yang kali ini menerima instruksi Yukuto jauh lebih patuh dari biasanya, membidik Fuka sesuai arahan dan menekan tombol rana beberapa kali.

 

"Senpai, hasilnya kira-kira begini sih… tapi kenapa Fuka-chan kelihatan gemukan? Mukanya besar, nggak?"

 

Izumi menyodorkan kamera DSLR dengan stiker keras bertuliskan "Klub Fotografi SMA Minami Itabashi" di bodinya.

 

Di monitor terlihat foto setengah badan Fuka dalam wujud orang Jepang, berdiri dengan pose alami, tetapi Izumi tampak kurang puas.

 

"Eh!? N-nggak mungkin, kan!? Nggak begitu, kan!?"

 

Fuka yang difoto membelalakkan mata karena dibilang wajahnya besar.

 

"Bukan. Bukan berarti Watanabe-san gemukan. Maaf ya, tapi ini sengaja aku ambil sebagai contoh foto yang gagal supaya mudah dipahami anak-anak voli… nanti aku hapus."

 

Setelah berkata begitu pada Fuka yang tampak tidak puas, Yukuto menunjukkan foto Izumi itu kepada para siswa kelas tiga yang berbaris.

 

"Alasan kenapa di foto formal atau album kelulusan sering dibilang ‘turunkan dagu’ itu ya karena ini. Posisi lensa sedikit lebih rendah dari wajah, jadi fotonya jadi sudut agak menengadah. Akibatnya dagu dan pipi terlihat mengembang, atau lubang hidung kelihatan aneh dan besar. Tapi…"

 

Sambil berbicara, Yukuto menarik dagunya terlalu kuat sebagai contoh.

 

"Kalau cuma fokus menurunkan dagu, tanpa sadar dada akan terdorong ke depan, lemak atau kulit di antara dagu dan leher tertekan, leher terlihat tebal, wajah jadi kelihatan panjang, dan pandangan mata terlalu ke atas sampai jadi mata tiga putih. Bahkan tanpa difoto pun, kalian bisa lihat wajahku sekarang kelihatan aneh, kan?"

 

"Wah, lucu."

 

"Kotaki-san, ini lagi serius."

 

Izumi tertawa sambil memotret contoh pose buruk itu, dan Yukuto menegurnya dengan lembut.

 

"Triknya supaya dagu bisa diturunkan tanpa wajah jadi aneh saat berdiri adalah: pertama, bayangkan menaikkan diafragma dan kempiskan perut. Setelah itu, jangan membusungkan dada, tapi turunkan tulang belikat ke bawah dengan kuat. Baru setelah itu, turunkan dagu sedikit saja. Dengan menaikkan diafragma, punggung akan tegak. Dengan menurunkan tulang belikat, garis leher jadi jelas, dan dagu serta leher tidak tertekan. Setelah itu, arahkan pandangan hanya dengan mata ke lensa kamera. Watanabe-san, bisa coba lakukan seperti yang barusan aku jelaskan?"

 

"Eh? Iya. Umm… begini? Perut dikempiskan, bahu diturunkan…"

 

"Ah, kalau begitu bahunya malah ke belakang, da—tulang rusuknya jadi maju."

 

Saat disuruh menurunkan bahu, Fuka tanpa sadar menggerakkan siku ke belakang dan malah membusungkan dada.

 

"Coba bayangkan menarik siku lurus ke bawah, bukan ke belakang. Itu lebih mudah buat memahami cara menurunkan tulang belikat… iya! Nah, itu! Sekarang turunkan dagu sedikit saja… Kotaki-san, sekarang!"

 

"I-iya!"

 

Izumi menekan tombol rana sesuai aba-aba.

 

"Kalau dibandingkan foto yang tadi dan yang ini kelihatan jelas, tapi… Kotaki-san, tolong hapus foto wajah anehku yang di tengah itu, ya?"

 

"Cih, sayang banget."

 

Meski terlihat sedikit enggan, Izumi tetap menuruti instruksi. Ia menyusun dua foto setengah badan Fuka berdampingan, lalu menunjukkan monitornya pada anggota klub voli.

 

"Ooh, seriusan."

 

"Eh? Bisa berubah sejauh itu?"

 

Meski diambil dengan komposisi yang sama, foto kedua jelas lebih sesuai dengan kesan alami Fuka.

 

"Sebaliknya, kalau nggak sampai segini, hasil fotonya justru bakal jauh dari bayangan wajah diri sendiri yang biasa kita lihat di cermin. Watanabe-san juga tadi cukup kesulitan soal posisi bahu, tapi karena menggerakkan tulang belikat itu bukan gerakan yang biasa dilakukan sehari-hari, awalnya memang susah membayangkannya."

 

Namun Yukuto melanjutkan sambil menoleh ke jaring yang terpasang di gedung olahraga.

 

"Tapi pemain voli biasanya jago menggerakkan tulang belikat. Orang yang bagus saat posisi set, spike, atau block, biasanya sudah terbiasa menggunakan bahu dengan cara seperti ini."

 

Ucapan itu memang khas orang yang pernah berpengalaman bermain voli, meski akhirnya sempat mengalami kegagalan.

 

"Meski begitu, untuk hari ini silahkan berfoto dengan santai saja. Untuk sementara kita akan melakukan pemotretan percobaan dengan latar dinding tempat Watanabe-san tadi berdiri. Aku dan Kotaki-san akan memotret secara bergantian, jadi tolong berbaris dua lajur. Saat itu, sebutkan tingkat kelas, kelas, dan nama kalian kepada Watanabe-san."

 

Peran Fuka hari ini adalah mencatat di buku nomor foto yang diambil oleh Yukuto dan Izumi, beserta nama para anggota klub.

 

"Kotaki-san, tolong pasang reflektor dan payung putihnya di posisi kiri bawah supaya cahaya mengenai wajah dari arah sana, lalu— …eh."

 

Saat ia menoleh, seluruh siswa kelas tiga yang berjajar ternyata semuanya berdiri di barisan sisi Izumi.

 

"……………………………………"

 

Perasaannya sebenarnya bisa dimengerti, tapi dia sama sekali tidak ingin memahaminya. Bagaimanapun mereka semua adalah senior, jadi Yukuto ragu harus berkata bagaimana, ketika—

 

"Buang-buang waktu saja! Setengah yang di belakang, pindah dan berbaris di sisi Oki-kun!"

 

Yui membentak tanpa basa-basi sedikit pun. Berkat itu, meski tampak enggan, barisan siswa yang menunggu giliran foto akhirnya terbagi dua dengan seimbang.

 

"A-ah, terima kasih, Hasegawa-san…"

 

Melihat sikapnya yang sama sekali tidak gentar meski berhadapan dengan siswa kelas tiga, Yukuto sampai setengah merasa kagum, tetapi—

 

"Kamu juga."

 

Yui mengernyitkan dahi dan menatap tajam ke arah Yukuto.

 

"Eh?"

 

"Kalau kamu ketua klub, jangan ikut terbawa sikap ceroboh Ketua Amami. Buat rencana yang jelas sejak awal. Aku memang belum sepenuhnya setuju, tapi kalau kamu sendiri tidak bersikap tegas, pemotretan ini juga tidak akan jalan, kan?"

 

"Ha-ha, benar juga. Aku minta maaf."

 

"Kalau ketua klub tidak bisa diandalkan, yang susah ya anggota klubnya."

 

Kalimat itu terdengar sarat dengan perasaan dan pengalaman nyata.

 

"D-dan juga… aku masih belum sepenuhnya paham sejauh apa kamu sudah memikirkan semua ini, tapi kamu bukan tipe orang yang melakukan hal yang tidak bermanfaat bagi klub. Jadi… itu sebabnya…"

 

Masih dengan wajah agak memerah, Yui memperlihatkan ponselnya kepada Yukuto.

 

"Setelah kegiatan klub selesai, um… ayo tukeran kontak."

 

"Itu sangat membantu. Sepertinya nanti komunikasi dasarnya akan lewat grup bertiga dengan Amami-senpai."

 

"Baik. Kalau begitu, bisa kita cepat selesaikan jatah hari ini? Jadwalku setelah ini juga padat, dan aku harus mengatur ulang rencana ke depan, jadi… aku juga ingin berdiskusi."

 

Pada saat itu, Fuka yang berdiri di sisi Izumi menjatuhkan buku catatannya dengan bunyi bukk, tetapi Yukuto tidak menyadarinya.

 

"Baik, kalau begitu, tolong ingat hal-hal yang sudah kita bahas tadi, lalu kita akan ambil tiga foto per orang secara bergiliran. Setelah selesai, sebutkan kelas dan nama kalian kepada Watanabe-san yang berdiri di tengah…"

 

Setelah itu, semuanya berjalan lancar.

 

Seperti yang Yukuto perkirakan, semakin senior anggotanya, semakin halus pula kontrol bahu mereka. Hampir semua anggota, jika saja tidak ada syarat bahwa foto itu mungkin akan diajukan ke lomba, hasilnya sudah cukup layak langsung dipakai sebagai foto daftar nama.

 

"Baik. Saitou-senpai dari kelas 3-A… huruf ‘Sai’-nya yang mana? Ah, yang ini ya. Huruf ‘齊藤’ ini katanya merupakan bentuk keempat paling umum untuk marga Saitou. Oke, berikutnya Hirota-senpai… huruf ‘Hiro’-nya, ah iya, yang dengan radikal madare dan ‘’ ya. Sawamura-senpai… huruf ‘Sawa’-nya…"

 

Dan Fuka, yang karena berbagai keadaan jadi sangat paham soal marga orang Jepang, tidak pernah lalai mengecek penulisan kanji yang mudah tertukar.

 

Sungguh mengejutkan bahwa di klub voli putra ada begitu banyak anggota dengan marga yang perlu dibedakan sedetail itu, tetapi bagaimanapun pemotretan berjalan mulus, hingga—

 

"Baik, berikutnya giliranku! Dari mana saja silahkan!"

 

Giliran Ketua Klub Rio, yang berdiri di barisan sisi Yukuto.

 

"Baik, silahkan berdiri di situ… bagaimana kalau coba duduk di kursi?"

 

"Hmm, oke."

 

Jika posisi pemotretan membuat fotografer harus mendongak ke subjek, biasanya solusi yang umum adalah fotografer naik ke pijakan atau posisi subjek diturunkan. Namun—

 

"…Kalau begitu, lebih baik berdiri saja. Aku yang naik kursi."

 

Mungkin karena kakinya panjang, saat Rio duduk di kursi pipa seadanya di gym, lututnya terangkat dan membuat postur tubuh bagian atas terlihat kurang rapi.

 

"Hmm… eh? Hmm…"

 

"Oki-kun? Kenapa?"

 

Sepertinya barisan Izumi sudah selesai. Fuka, yang memegang buku catatan berisi daftar nama anggota, mendekat dari belakang Yukuto dengan penuh rasa ingin tahu.

 

"Bukan apa-apa, cuma… fokusnya susah banget dapet. Maaf, Senpai. Bisa tunggu sebentar?"

 

"Pelan-pelan saja, tidak apa-apa."

 

Sambil berpikir bahwa suaranya tetap terdengar keren meski sedang menunggu, Yukuto kembali mengarahkan lensa ke Rio, tetapi entah kenapa sosok Rio di dalam viewfinder tetap terlihat buram.

 

"Aneh. Jangan-jangan auto fokusnya rusak pas di saat begini? Repot juga. Kotaki-san, maaf, bisa pinjam kameramu sebentar?"

 

"Iya, iya. Kenapa, rusak?"

 

"Makasih. Entahlah, tapi auto fokusnya agak… eh? Yang ini juga?"

 

Saat ia mengintip viewfinder kamera milik Izumi, sosok Rio tetap terlihat buram.

 

"Aneh juga. Kotaki-san, waktu kamu pakai kamera ini tadi, nggak ada masalah?"

 

"Biasa saja kok? Autofokus kan cuma fitur buat fokus, kan? Nggak ada masalah sejauh yang aku lihat."

 

"Eh, begitu ya… repot juga. Maaf, Senpai. Aku coba ambil beberapa foto dulu— …wah."

 

Ia berharap autofokus akan bekerja saat rana ditekan, tetapi setelah tiga atau empat kali memotret, tepat saat rana terpicu, sosok Rio di dalam viewfinder dipenuhi noise digital, seperti gambar yang diberi efek mosaik.

 

"Eh!? Kenapa bisa jadi begini?"

 

Padahal sebelumnya pemotretan berjalan lancar, tetapi tepat di akhir justru tersendat. Fuka, Izumi, Yui yang sejak tadi mengamati, bahkan Tetsuya yang sudah selesai difoto dan melihat dari kejauhan, semuanya mendekat ke Yukuto.

 

"Maaf sebentar. Tetsuya, boleh aku ambil beberapa fotomu?"

 

"Hm? Boleh saja."

 

Saat ia memotret Tetsuya yang berada di dekatnya, kali ini autofokus bekerja normal, dan postur Tetsuya yang agak santai terlihat terekam jelas—setidaknya sekilas tampak begitu, tetapi—

 

"Hah? Apaan ini?"

 

Tetsuya memang terlihat jelas, tetapi kedalaman bidang di sekitarnya berubah tanpa disengaja, sehingga Fuka dan Yui yang berdiri di kanan-kirinya menjadi benar-benar buram.

 

Fuka yang buram itu adalah Watanabe Fuka dalam wujud orang Jepang, tetapi yang jelas kondisi kamera memang tiba-tiba memburuk.

 

"Maaf, Senpai. Sepertinya kamera ini mendadak bermasalah."

 

"Oh begitu? Masalahnya seperti apa? Jangan-jangan karena aku terlalu tampan sampai silau?"

 

Candaan ringan seperti itu malah tidak terdengar menyebalkan—itulah yang menyebalkan.

 

"Bukan, entah kenapa fokusnya sama sekali tidak mau pas. Kalau dipaksakan memotret, sosoknya tidak tertangkap dengan benar."

 

"Aduh. Kamera yang ada hari ini cuma itu? Kan cuma percobaan, tidak bisa pakai kamera lain?"

 

"Hmm… kalau begitu sementara pakai kamera ponsel saja—"

 

"Tunggu dulu, Senpai. Masa sih kamera bisa tiba-tiba rusak begitu? Coba sini."

 

Saat Yukuto terpaksa hendak berkompromi dengan kamera ponsel, Izumi merampas kamera dari tangannya, menyuruh Yukuto turun dari kursi pijakan, lalu membidik Rio sendiri.

 

"Lho? Ini normal-normal saja kok."

 

"Eh? Serius?"

 

"Serius. Amami-senpai, tolong diam sebentar ya. Oke. Oke. Beres. …Tuh kan, Senpai, hasilnya bagus-bagus saja."

 

"Wah, seriusan? Eh? Kok bisa?"

 

Di layar kamera yang disodorkan Izumi, memang terlihat jelas foto Rio yang tertangkap dengan tajam.

 

"Bukannya ini cuma karena kemampuan Senpai yang jelek?"

 

Izumi menyeringai, tetapi Yukuto sudah cukup memahami maksud Izumi. Ia memang sudah menduga Izumi akan berkata begitu, jadi ia menampilkan beberapa foto dirinya yang diambil sebelumnya.

 

"Sejelek apa pun kemampuanku, hasilnya nggak mungkin jadi seperti ini, kan."

 

"Eh? Wah—iya juga, ya."

 

Izumi yang tadinya sedang dalam mode bercanda pun mengernyitkan wajahnya dengan perasaan tak nyaman saat melihat gambar aneh itu—latar dinding di belakang terlihat normal, tetapi hanya Rio saja yang tampak seperti diberi efek mosaik dengan sangat rapi.

 

"Foto Tetsuya juga begitu. Mungkin memang sudah mulai usang ya. Lemari anti-lembap klub juga sudah tua, dan perawatannya juga nggak sampai detail banget."

 

"Duka cita klub kecil, gitu ya? …Tapi tetap saja, walaupun kondisinya buruk, Fuka-chan tetap kelihatan seperti itu, ya."

 

Sambil menatap dengan sedikit rasa iba ke arah Fuka versi Jepang yang terlihat buram di sebelah Tetsuya, Izumi berbisik pelan, cukup agar hanya Yukuto yang bisa mendengarnya.

 

"Tapi ya sudahlah, yang penting masih bisa dipakai motret, kan? Terus, bagaimana dengan Hasegawa-senpai?"

 

"Eh? A-aku…"

 

Yui yang tiba-tiba disebut namanya tampak panik, tetapi Rio yang baru saja berdiri dari kursi mendorongnya dengan sikap santai.

 

"Difoto saja. Ini perintah ketua klub."

 

"P-perintah itu keterlaluan…"

 

"Aku paham kalau kamu nggak mau difoto off-shot, tapi ini foto daftar nama. Semua wajib. Kamu juga anggota klub, Hasegawa, jadi difoto yang rapi."

 

Yui masih tampak ragu, tetapi—

 

"Ayo! Jangan buang waktu! Cepat-cepat!"

 

"B-baik! Aku bisa jalan sendiri kok, Ketua! Jangan dorong-dorong, hei!"

 

Dengan wajah memerah, Yui didorong ke posisi subjek foto oleh ketua klub.

 

"Oke, setting selesai! Oki-kun! Tolong fotokan Hasegawa!"

 

"A-ah, iya! T-tunggu sebentar, boleh?"

 

Karena Izumi sudah berada di posisi pemotretan, Yukuto yang sedang memeriksa kamera satunya jadi panik sampai hampir menjatuhkannya.

 

"Ngapain sih, Senpai. Aku saja yang motret?"

 

"I-iya. Maaf, tolong. Hati-hati supaya kacamatanya nggak memantul cahaya."

 

"Iya iya. Kalau begitu, Hasegawa-senpai, cahayanya terlalu kuat, jadi tolong geser sedikit ke kanan…"

 

"I-iya."

 

Yui mengikuti arahan Izumi dengan patuh, tetapi ia melirik Yukuto yang sibuk memeriksa kamera dengan ekspresi yang tampak rumit.

 

Pada akhirnya, bahkan guru pembina Gotou-sensei pun difoto oleh Izumi. Meski cukup ribut, keseluruhan pemotretan selesai dalam waktu kurang dari satu jam.

 

"Terima kasih atas kerja kerasnya. Untuk sementara foto-foto ini akan kami bawa kembali ke klub dan lakukan beberapa koreksi, lalu nanti kami ingin berdiskusi lagi dengan Sensei, Amami-senpai, dan Hasegawa-san soal rencana pemotretan selanjutnya. Terima kasih banyak hari ini."

 

"Terima kasih. Oki-kun, maaf sudah merepotkan karena kecerobohanku. Ke depannya mohon kerja samanya. Oke! Semua, berbaris!"

 

"Te-ri-ma ka-sih ba-nyak!!"

 

"Haha, terima kasih juga."

 

Masih tertekan sampai akhir oleh gaya salam khas klub olahraga, mereka membereskan peralatan dan meninggalkan gedung olahraga.

 

"Ahh, capek juga. Ini pakai saraf dan otot yang benar-benar beda sama berkebun."

 

Di pintu keluar gedung olahraga, Izumi menggerak-gerakkan tangannya sambil mengeluh.

 

Biasanya ia cukup sering melakukan kerja fisik di klub berkebun, tetapi memegang mesin berat dengan kedua tangan dan mempertahankan posisi yang sama dalam waktu lama ternyata juga merupakan pekerjaan berat tersendiri.

 

"Kamera klub fotografi memang agak tua, jadi besar dan berat. Lebih baik stretching dulu."

 

"Memang setua itu ya? Sama sekali nggak kelihatan sih, tapi memang tadi sempat bermasalah."

 

Yui mendekatkan wajahnya ke kamera yang tergantung di leher Yukuto, dan melihat itu, Fuka mengeluarkan suara kecil dari tenggorokannya yang hanya bisa didengar Izumi.

 

"Iya. Aku juga cuma dengar dari senior, tapi seharusnya itu model dari sekitar sepuluh tahun lalu."

 

"Barang setua itu masih bisa dipakai?"

 

"Tentu saja kalau dibandingkan fitur-fiturnya dengan model terbaru, pasti kalah di banyak hal. Tapi secara realistis, hasil fotonya sendiri sama sekali nggak bermasalah… atau setidaknya, seharusnya begitu."

 

Dikatakan bahwa pada kamera DSLR, perbedaan fungsi yang paling jelas antar generasi adalah pada sistem autofokus.

 

Selain itu, dibandingkan model terbaru, ada jeda waktu yang menjengkelkan dari saat dinyalakan hingga siap dipakai, atau noise yang mencolok jika salah mengatur cahaya saat pemotretan sensitivitas tinggi. Jika terlalu tua, media penyimpanan pun bisa sulit didapat dan kemampuan foto beruntunnya lambat.

 

Namun, semua itu bukan masalah "hasil foto", melainkan masalah "kenyamanan pengoperasian". Bahkan, ada banyak kasus di mana kamera lama justru menghasilkan foto dengan karakter yang lebih menarik.

 

Baik dari pengalaman Yukuto sendiri, ajaran para senior, maupun wejangan ayahnya yang seorang fotografer profesional, selama tidak mencetak foto hingga ukuran lebih besar dari A3, seharusnya tidak perlu terlalu terpaku pada kamera terbaru.

 

""Ohh, begitu ya.""

 

Tanpa disengaja, suara Izumi dan Yui keluar bersamaan.

 

"Aku kan sudah jelaskan soal itu waktu mengajari Kotaki-san pakai kamera kemarin."

 

"Kalau Senpai mulai cerita, pasti langsung ngomong banyak hal sekaligus, jadi nggak bisa nginget semuanya."

 

Izumi mengerucutkan bibir. Di sampingnya, Fuka melirik Izumi dengan tatapan seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi posisinya tepat berada di balik bayangan Izumi dan Yui, sehingga Yukuto tidak menyadarinya.

 

"Yah, aku sendiri sama sekali nggak paham soal kamera, jadi cuma bisa menantikan hasil akhirnya saja sih…"

 

Saat itu, Rio yang sejak tadi diam mendengarkan penjelasan panjang Yukuto, ikut masuk ke dalam percakapan dengan senyum kecut.

 

"M-maaf. Entahlah, ini mungkin sudah dorongan otaku-ku atau semacamnya…"

 

"Tidak apa-apa. Aku juga punya sisi seperti itu. Terutama soal voli dan kegiatan klub. Sama saja, kan?"

 

"Sama… ya? Entahlah, aku kurang yakin."

 

"Menurutku sama. Itu artinya Oki-kun punya gairah dan pengalaman yang terakumulasi soal kamera dan fotografi. Dan karena itulah kemampuanmu juga benar-benar terbentuk, sampai akhirnya foto Watanabe-san itu bisa menang di kontes, kan?"

 

Lalu tiba-tiba, ia menyinggung foto kontes Fuka yang diambil oleh Yukuto.

 

"Foto itu juga diambil dengan kamera ini?"

 

"Tidak, yang itu…"

 

Karena alur pembicaraannya terasa alami, Yukuto hampir saja menjawab secara spontan.

 

Ia pun tanpa sadar melirik ke arah Fuka sesaat, tetapi karena sudah terlanjur berbicara sejauh ini, apa pun reaksi Fuka, berpura-pura atau mengelak justru akan jadi langkah terburuk.

 

"Aku mengambil foto itu dengan kamera film."

 

"Wah, kamera film? Aku belum pernah pegang sama sekali."

 

Menanggapi jawaban Yukuto, Rio tidak menunjukkan reaksi yang aneh apa pun.

 

"Aku pernah pakai, sih. Yang sekali pakai, dijual di minimarket," justru Yui yang berkata begitu.

 

"Kamera film itu kan beda sama ponsel atau kamera digital—hasil fotonya nggak bisa langsung dilihat, dan buat cuci filmnya juga mahal, kan? Kalau Oki dari klub fotografi sih masih masuk akal, tapi kenapa Hasegawa?"

 

"Itu tentu saja, karena ketua—………… eh,"

 

Yui hampir menjawab dengan sangat alami, lalu mendadak membelalakkan mata, menutup mulut sejenak, kemudian membukanya lagi.

 

"Itu, apa ya… kadang memang lagi tren. Di kalangan cewek. Sensasi judinya—nggak tahu hasilnya bakal seperti apa—itu seru, dan kameranya juga banyak yang desainnya lucu."

 

"Ooh. Dari penjelasan itu aja masih agak susah dibayangin sih. Kalau Oki, pernah pakai juga?"

 

"Pernah. Tapi yang Hasegawa maksud itu sebenarnya bukan kamera, melainkan jenis yang disebut film dengan lensa terpasang—"

 

"Senpai. Membetulkan istilah yang sudah umum dipakai orang dan sebenarnya nggak masalah itu kebiasaan otaku yang kurang baik, lho. Sebaiknya dihentikan."

 

"Jangan ngomong gitu dong, kamu kan anggota klub fotografi! Aku cuma menjawab pertanyaan yang ditanya dari sudut pandang klub fotografi!"

 

"Oooh, begitu ya. Maaf banget deh~"

 

"Hadeh… baik kamera film maupun film dengan lensa, meski resolusinya lebih rendah dibanding kamera mirrorless terbaru, justru bisa menghasilkan nuansa lembut yang sekarang malah sulit didapat tanpa editing. Untuk foto kontes sebelumnya, kupikir nuansa itu lebih cocok."

 

Tentu saja, itu bukan satu-satunya alasan, tapi untuk berbagai hal, ini bukan saat yang tepat untuk membahasnya.

 

"Oh, begitu ya. Jadi untuk pemotretan kali ini kamu nggak pakai kamera film itu?"

 

"Terus terang, kamera film sama sekali nggak cocok buat memotret olahraga di zaman sekarang. Dan kalau harus minta senior mengecek hasilnya, lalu harus keluar uang buat cuci film dan segala macam, bakal makan waktu dan biaya besar."

 

"Ya, masuk akal sih. Tapi tetap agak disayangkan."

 

Rio mengatakannya dengan nada biasa saja, tetapi itu sudah cukup untuk membuat Yukuto kembali memikirkan situasi yang mengelilingi Fuka.

 

"Aku pengen lihat kamera yang dipakai buat ambil foto itu."

 

"…Kalau setelah pekerjaan ini selesai ada kesempatan, aku akan membawanya."

 

Orang yang menunjukkan ketertarikan pada kamera Yukuto tetap harus diwaspadai, setidaknya sedikit.

 

Justru karena itu, kalau Rio benar-benar tertarik murni pada kamera atau fotografi, Yukuto malah merasa agak bersalah.

 

"Yah, toh ke depannya kami akan minta bantuanmu untuk menaklukkan Raja Iblis, jadi nggak enak juga kalau maksa. Maaf ya."

 

"Tidak…"

 

Setelah bertukar kontak dengan Yui, Yukuto dan yang lain meninggalkan gedung olahraga, diantar oleh Rio dan Yui.

 

 

"Serius deh, menurut kalian itu masuk akal nggak?"

 

Di ruang klub berkebun.

 

Di ruangan yang agak gelap, sejuk, dan sedikit berbau tanah serta jamur itu, Izumi mendengus pelan sambil mendekatkan wajahnya ke Yukuto dan Fuka.

 

"Kalau dipikir secara normal, memangnya orang bakal peduli foto itu diambil pakai kamera apa? Pasti mencurigakan! Ketua klub itu, Amami, jelas aneh. Jangan-jangan itu yang namanya tim inspeksi atau semacamnya?"

 

Soal Fuka akan diawasi oleh tim inspeksi manusia yang dikirim dari Natche Riviera tentu saja sudah dibagikan juga ke Izumi.

 

"Dari awal dia sudah mendekati Fuka dengan cara nggak alami sambil mengandalkan ketampanannya, terus ke Senpai juga sok baik dan sok pengertian kayak senior idaman. Jelas-jelas dia mau bikin Fuka dan Senpai lengah supaya mereka keceplosan!"




"Tunggu, Izumi, tenang dulu. Apa maksudnya ‘mengandalkan ketampanan’? Ketampanan itu bisa dipakai kayak payung gitu?"

 

"Justru karena bisa dipakai kayak payung makanya dia disebut ganteng! Semua cowok ganteng itu predator yang mikir kalau mereka pakai ketampanan, cewek-cewek bakal langsung berdatangan! Jadi jangan lengah ya, Fuka-chan!"

 

"Bias Izumi terhadap cowok ganteng terlalu parah sampai aku, untuk pertama kalinya dalam hidup, merasa ingin membela para cowok ganteng di dunia ini."

 

Mengesampingkan sejenak tuduhan absurd Izumi bahwa cowok ganteng itu pasti bersalah, Yukuto pun menyampaikan pendapatnya.

 

"Menurutku sih, itu masih di garis batas. Memang nggak banyak, tapi selama ini ada juga beberapa orang yang tertarik sama kamera setelah melihat fotoku."

 

"Hah? Serius?"

 

"Watanabe-san sendiri salah satunya."

 

"Hah!? Kok bisa!?"

 

"Ehm… Izumi, aku pernah cerita, kan? Waktu Oki-kun memotret karya yang kupamerkan di Festival Krisan. Waktu itu aku memang nggak langsung, tapi setelahnya aku merasa itu foto yang nggak mungkin bisa kuambil sendiri. Jadi aku bertanya ke Oki-kun, bagaimana cara dia memotretnya, dan pakai kamera apa. Yang Oki-kun maksud barusan, kurasa itu tentang hal itu."

 

"Ke-kenapa kamu bisa mikir begitu?"

 

"Mungkin karena aku sudah lama nggak melihat foto cetakan ukuran L. Biasanya kan kita jarang lihat foto di atas kertas, ya?"

 

"Ah, iya juga. Paling cuma waktu foto purikura di game center?"

 

"Iya. Ngomong-ngomong, itu juga sudah lama banget."

 

"Kalau gitu, lain kali kita foto purikura lagi yuk! Tapi tanpa Senpai."

 

Tanpa sadar ia dikeluarkan dari rencana jalan-jalan mereka, tetapi Yukuto juga tidak berniat ikut campur dalam agenda Fuka dan Izumi. Lebih dari itu, fakta bahwa Fuka pergi ke game center untuk berfoto purikura justru membuatnya terkejut secara sederhana.

 

Bukan berarti Yukuto sama sekali tidak pernah menggunakan mesin stiker foto semacam itu, tetapi jumlahnya benar-benar bisa dihitung dengan jari. Karena itu, ia jadi penasaran seberapa sering dan dalam situasi seperti apa Fuka pernah menggunakannya.

 

"Pokoknya, dalam kasusku, hal terbesarnya adalah karena ada sesuatu yang sangat berharga bagiku bisa difoto dengan indah. Itu sebabnya aku jadi makin penasaran," kata Fuka.

 

"Hmmm. Kalau begitu sih masih bisa dimengerti, tapi kali ini beda, kan? Amami-senpai bahkan belum lihat hasil fotonya."

 

"Menurutku, masa depan kegiatan klub itu hal yang sangat penting bagi Amami-senpai. Kalau dia berpikir Oki-kun akan bekerja sama dengan sungguh-sungguh demi itu, wajar saja kalau dia penasaran dengan aktivitas Oki-kun selama ini dan detailnya. Setidaknya, menurutku begitu."

 

"Hmm… kalau dibilang begitu sih… mungkin ada benarnya juga…"

 

"Daripada itu, justru aku lebih penasaran sama manajernya, Hasegawa Yui. Bukankah dia kelihatannya sangat dekat dengan Oki-kun?"

 

Walaupun tidak sampai menganggap "cowok ganteng pasti bersalah", jika memang ada manusia dari Natche Riviera yang mendekati mereka sambil menyembunyikan identitas, Fuka semula mengira Rio-lah kandidat terkuat.

 

Namun kenyataan bahwa Fuka—seorang elf yang berada di posisi diawasi—justru mewaspadai Yui, bukan Rio, terasa mengejutkan sekaligus pendapat yang patut didengarkan.

 

"Dekat denganku, ya… Aku dan Kotaki-san fokus ke pemotretan, jadi mungkin Watanabe-san yang sedikit mundur bisa menyadarinya. Hasegawa memang kelihatan sedekat itu denganku?"

 

"Oki-kun benar-benar nggak sadar? Padahal untuk ukuran pertama kali bertemu, Hasegawa cukup jelas berusaha mendekatimu."

 

"Benarkah? Aku nggak merasa seperti itu sih…"

 

"Waktu tukar kontak, sikapnya agak menggoda tanpa alasan jelas, terus dia juga mendekatkan wajahnya ke kamera Oki-kun lebih dari yang perlu."

 

"Aku nggak lihat— Fuka?"

 

"Terus waktu ngobrol sama Oki-kun, dia kelihatan aneh, grogi, kayak nggak bisa menatap wajahmu. Jangan-jangan Hasegawa memang mengincar Oki-kun…"

 

"Hah!? Mengincarku!? Kalau Hasegawa itu tim inspeksi, berarti dia melewati Watanabe dan langsung menargetkanku atau kameraku!?"

 

"Aku harus mulai menanggapi dari bagian yang mana, ya…"

 

Melihat Fuka dan Yukuto yang makin memanas, Izumi mengernyitkan wajah.

 

"Memang belum pasti, tapi Oki-kun, kamu nggak boleh lengah sama Hasegawa. Mungkin penilaianku tadi terlalu naif. Kalau dia tiba-tiba mendekatkan jarak, bisa repot!"

 

"Ah, iya, aku mengerti. Selama aku nggak datang langsung ke klub voli, sepertinya aku nggak akan ketemu berdua dengan Amami-senpai atau Hasegawa, tapi aku bakal tetap waspada!"

 

"Iya. Lakukan itu. Amami-senpai juga sih, tapi terutama jangan sampai kamu berdua saja dengan Hasegawa!"

 

"Kalau Senpai dan Hasegawa jadi kelihatan cocok, mungkin mata Fuka-chan bakal terbuka…"

 

"Izumi-chan!? Barusan kamu bilang sesuatu yang nggak beres, kan!?"

 

"Nggak kok~ aku nggak bilang apa-apa~"

 

"Aduh! Ini penting, tahu! Pastikan Oki-kun dan Hasegawa nggak berdua saja!"

 

"Mana mungkin aku yang anak kelas satu bisa begitu~. Sekarang saja aku sudah kewalahan sama hal-hal yang diminta Senpai. Kalau soal rasa krisis, Fuka-chan saja yang urus."

 

"Mmufuu!"

 

"Mmufuu apaan sih. Aku bukan ngomong buat nyebelin, lho. Di pihakku juga cukup tegang. Mengurus urusan orang lain itu ternyata lumayan bikin capek."

 

Sambil berkata begitu, Izumi melirik Yukuto dengan tatapan tajam.

 

"Ya mau bagaimana lagi. Sebagai gantinya, Kotaki-san boleh bebas melakukan apa pun. Tapi ya, itu nanti saja."

 

"Mmufuu."

 

"Sebagai permintaan pemotretan dari klub lain, nggak ada yang terasa janggal. Untuk saat ini, kecurigaan kita ke Amami-senpai atau Hasegawa masih sebatas prasangka. Belum lama sejak kita dengar cerita dari ibu Watanabe, dan aku maupun Kotaki-san juga nggak bisa melawan kalau sesuatu terjadi. Jadi untuk sekarang, kita cuma bisa menjalani hari dengan normal."

 

"Mmufuu!"

 

Karena Fuka sudah hanya mengucapkan "mmufuu" dan pembicaraan ini tidak akan berkembang lebih jauh, mereka pun membubarkan diri hari itu.

 

Begitu keluar dari ruang klub berkebun, ternyata mereka sudah mengobrol cukup lama—langit bahkan mulai gelap.

 

"Kalau begitu, jadwal pemotretan selanjutnya akan tergantung seberapa jauh aku bisa mengedit fotonya setelah sampai rumah. Nanti malam atau besok pagi aku hubungi."

 

"Oke."

 

"Iya, aku mengerti. Oki-kun, Izumi-chan, hati-hati di jalan. Kalau aku dengar hal baru dari ibu, aku juga akan menghubungi."

 

Setelah saling melambaikan tangan dan berpisah dengan Fuka serta Izumi, Yukuto berjalan pulang menyusuri jalan yang biasa, dengan sedikit ketegangan di dadanya.

 

Jalan dari sekolah ke rumah memang agak menjauh dari jalan utama, tetapi lalu lintas pejalan kaki cukup ramai.

 

Dari cerita Fuka, tim inspeksi bukanlah penjahat, jadi meskipun mereka ingin mengetahui kebenaran di balik foto wujud asli ibu dan anak Watanabe, kecil kemungkinan mereka menculik Yukuto atau merampas barang-barangnya.

 

Lagipula, kalau mereka tipe orang seperti itu, ibu Fuka pasti tidak akan membiarkan Yukuto dan yang lain tanpa perlindungan.

 

"Meski begitu… aku memang belum pernah bertemu langsung dengan ‘manusia’ dari Natche Riviera."

 

Yang pernah ditemui Yukuto hanyalah para elf dari desa Ierefu.

 

Semua memang berpenampilan seperti manusia—lebih tepatnya orang Jepang—tetapi di antara mereka tidak ada yang bukan elf San-Alf.

 

Dan karena kampung halaman Fuka, desa Ierefu, berada di pulau ‘penjara’ yang melayang, serta semua elf ditahan di sana, jelas pihak yang memaksakan keadaan itu bukanlah elf, melainkan ras lain.

 

Di antara mereka, tak sulit membayangkan manusia sebagai kelompok terbesar.

 

"Aku nggak mau kalau yang datang itu orang yang seenaknya mendiskriminasi elf atau meremehkan dunia lain."

 

Masalah pasti akan muncul, tetapi identitas pihaknya tidak jelas—kecemasan yang terlalu samar ini sangat menguras mental.

 

"Lagipula, kasus fotoku—atau lebih tepatnya foto Watanabe—yang tiba-tiba diunggah ke forum aneh juga belum ada petunjuk sama sekali."

 

Berkat pergantian hari, hari ini jumlah orang yang menatap Fuka dengan rasa ingin tahu sudah jauh berkurang. Namun teman-teman sekelas yang sudah lama bergaul dengannya, dan makin akrab setelah insiden foto itu, tetap berada di sekitarnya seperti kemarin.

 

Mereka ini, kalau mau dicurigai, bisa saja dicurigai setara dengan Rio atau Yui—tapi kalau dibilang mencurigakan, juga tidak sepenuhnya.

 

"Aku juga nggak tahu semua hubungan pertemanan Watanabe dari dulu. Mencurigai teman atau kenalannya justru terasa tidak adil buat Watanabe… Hah, capek…"

 

Sambil menunggu lampu lalu lintas, Yukuto mengeluarkan ponselnya dari saku.

 

"Ah, males masak makan malam… Masih harus mengedit foto dan mencocokkan daftar nama serta file juga. Nggak enak sama ibu sih, tapi hari ini mungkin aku makan di luar saja—eh? Hah!? Apa ini!?"

 

Layar ponsel yang lama tak disentuh sejak rapat klub berkebun dan kegiatan klub voli dipenuhi oleh puluhan panggilan tak terjawab dan pesan LINE—semuanya dari ibunya.

 

Waktunya persis saat mereka sedang rapat "siapa yang mencurigakan" di klub berkebun. Demi berjaga-jaga agar tidak mengganggu kegiatan klub voli, ia mengaktifkan mode senyap penuh, dan itu malah jadi bumerang.

 

Pesan terakhir berbunyi singkat namun mendesak:

[Kalau sudah lihat, segera hubungi dan pulang]

 

Yukuto buru-buru menelepon balik, dan seolah sudah menunggu, ibunya langsung mengangkat.

 

"Kamu ngapain saja sih! Ibu telepon berkali-kali!"

 

Bentakan itu membuat Yukuto refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.

 

Bentakannya memang terasa tidak adil, tetapi lebih dari itu, nada suara ibunya jelas terdengar panik.

 

Ditambah lagi, terdengar suara banyak orang bergerak di latar belakang, membuat Yukuto menenangkan diri sebelum bertanya.

 

"Aku lagi kegiatan klub, ponsel di mode senyap. Maaf. Ada apa? Ibu sudah di rumah?"

 

"Di rumah! Ibu pulang terburu-buru! Sebenarnya…!"

 

Apa yang ibunya ceritakan selanjutnya jauh melampaui bayangan Yukuto.

 

"Hah… eh? Serius?"

 

"Makanya ibu panik! Ada hal yang cuma kamu yang bisa tahu, jadi cepat pulang sekarang juga!"

 

"O-oke. Sepuluh menit lagi aku sampai…!"

 

Begitu menutup telepon, lampu lalu lintas tepat berubah hijau, dan Yukuto langsung berlari tanpa sadar.

 

Ia harus pulang secepat mungkin. Namun, karena masih sulit mempercayai ucapan ibunya, jantung Yukuto yang sudah gelisah kini berdebar makin keras, napas dan langkahnya pun tidak teratur.

 

Meski begitu, dengan tubuh bermandikan keringat, ia terus memaksakan kakinya bergerak. Saat melewati sudut jalan yang seharusnya rumahnya sudah terlihat—

 

"Tidak mungkin…"

 

Di depan rumahnya, ada satu mobil patroli dengan lampu berputar, satu kendaraan polisi tipe van, dan satu skuter milik perusahaan pengelola sistem keamanan yang dipasang sejak ayahnya meninggal. Di depan pintu, ibunya berbicara dengan polisi sambil menunjuk sesuatu, wajahnya tampak sangat serius.

 

"…Aku pulang…"

 

Saat ia mendekat dengan ragu dan menyapa, ibu dan polisi itu menoleh dengan kecepatan luar biasa, membuat Yukuto refleks mundur selangkah.

 

"Apakah Anda putra beliau? Yukuto Oki?"

 

"Iya. Dia tadi di sekolah— Yukuto, masuk dulu. Terutama kamar ayahmu… ada hal yang hanya kamu yang bisa mengenalinya."

 

"I-iya, mengerti. Tapi…"

 

Dipandu oleh polisi dan ibunya, Yukuto masuk ke dalam rumah. Bahkan setelah melihat banyak orang yang tampak seperti petugas forensik mondar-mandir di dalam, ia masih sulit mempercayainya.

 

"Serius… rumah kami kemasukan pencuri?"

 

Lampu kuning milik perusahaan keamanan di samping pintu masuk—penanda adanya gangguan keamanan—tanpa ampun menegaskan kenyataan itu kepada Yukuto.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close