NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Elf Watanabe Volume 2 Chapter 3


Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Chapter 3

Watanabe Fuka menguatkan tekadnya


 "Pencurian… sampai sejauh itu……!?"

 

Begitu mengucapkannya, Fuka langsung terdiam, tak mampu berkata apa-apa lagi.

 

"Eh, itu serius? Keluargamu nggak apa-apa? Senpai kan tinggal cuma berdua sama ibumu, kan!?"

 

Izumi pun kali ini memasang wajah serius; nuansa bercandanya yang biasa sama sekali tidak terlihat.

 

"Tidak apa-apa kok. Terima kasih ya. Mereka masuk saat rumah kosong, dan perusahaan keamanan yang kami kontrak langsung datang, jadi selain jendela yang dipecahkan, tidak ada kerusakan lain."

 

"Oh begitu. Ya… memang bukan hal yang pantas dibilang ‘syukurlah’, tapi setidaknya itu masih keberuntungan di tengah kemalangan."

 

"…………"

 

Izumi tampak lega, tetapi wajah Fuka masih pucat seolah napasnya tertahan.

 

"Cuma ya, gara-gara itu kemarin aku sama sekali nggak sempat mengedit foto klub voli. Habis ini aku juga harus minta maaf ke Amami-senpai dan Hasegawa karena hari ini nggak bisa datang. Jadi Kotaki-san, hari ini nggak ada kegiatan klub fotografi, kamu fokus ke klub berkebun aja—"

 

"…Tidak."

 

"Hah?"

 

"…………Oki-kun sama sekali nggak perlu minta maaf!"

 

Fuka yang sejak tadi terdiam tiba-tiba berteriak dengan suara keras, seolah menarik kembali napas yang ditahannya.

 

"F-Fuka-chan!?"

 

"Aku yang akan pergi! Aku yang akan minta maaf ke Amami-senpai dan Hasegawa! Oki-kun sama sekali tidak salah!"

 

"Eh, tunggu dulu, kenapa tiba-tiba begitu? Kalau Watanabe-san yang minta maaf, pihak sana malah bakal bing—"

 

"Aku akan menjelaskannya dengan benar! Tentu saja, juga ke ibu Oki-kun!"

 

"Ke orang tuaku!? Kenapa!? Mau jelasin apa!?"

 

"Bahwa aku ini elf!"

 

Teriakan Fuka menembus Yukuto. Ia memang terkejut, tetapi di sudut hatinya ia sudah menduga Fuka akan bereaksi seperti ini.

 

"Soalnya… kalau dipikir-pikir, bukankah kemungkinan besar tim inspeksi memang mengincar kamera Oki-kun itu?"

 

"…………Belum tentu juga."

 

"Oki-kun. Kamu pernah bilang, kan? Bahwa kamu percaya diri dengan resolusi suaramu."

 

"Hah? Ah, iya. Benar."

 

"Hah? Apa itu? Nggak bisa didiemin gitu aja dong!"

 

"Izumi-chan, diam sebentar. Ini pembicaraan serius."

 

"Akupun bica-ra serius fufufu—"

 

Wajah Izumi ditekan dengan telapak tangan, tapi melihat nada suara Fuka yang kali ini benar-benar tegas, ia menutup mulutnya dan menurut.

 

"Oki-kun juga pasti sempat memikirkan itu, kan. Makanya aku juga berpikir begitu—dan aku tahu kamu akan berpikir seperti itu. Nada bicaramu barusan seperti itu."

 

"…Ah."

 

Ia memang tidak sampai merumuskannya sejelas itu di dalam pikirannya. Namun kalau dipikir ulang, memang benar ia sempat terpikir demikian.

 

"Aku juga…"

 

Dengan mata sedikit berkaca-kaca dan wajah memerah karena emosi, Fuka berbisik.

 

"Aku juga cukup percaya diri dengan resolusi suara Oki-kun."

 

"…W-Watanabe-san?"

 

"Makanya aku tahu apa yang kamu pikirkan saat menceritakan ini. Kamu sebenarnya bisa saja diam. Tapi karena kamu tidak bisa sepenuhnya menyingkirkan kemungkinan bahwa ini perbuatan tim inspeksi Natche Riviera, kamu memilih untuk berbagi informasi denganku dan khawatir bersama, daripada diam dan membuatku cemas sendirian, kan?"

 

"Tidak, itu—"

 

Penafsiran yang begitu lurus dan penuh niat baik itu justru membuat Yukuto merasa malu.

 

"Aku nggak… sampai sejauh itu memikirkannya saat bicara. Mungkin. Tapi entahlah, aku cuma… nggak ingin berbohong."

 

Tak sanggup menahan tatapan Fuka, Yukuto mengalihkan pandangannya.

 

Bukan karena rasa bersalah, melainkan karena mengatakan hal ini sambil menatap langsung mata Fuka terasa terlalu besar dan memalukan baginya.

 

"Aku memang… sempat membayangkan kamu akan berpikir begitu. Makanya ada bagian diriku yang nggak ingin bilang. Cuma… dulu, ayahku itu—"

 

"Ayahmu?"

 

"Iya, ayahku yang sudah meninggal. Dia fotografer lanskap alam, jadi sering ke luar negeri. Ada tempat-tempat yang keamanannya nggak begitu baik, dan setiap kali dia pergi ke tempat seperti itu… ayah selalu menjelaskan ke aku dan ibu, ke mana dia pergi dan risiko apa saja yang ada."

 

Fotografi alam pun bermacam-macam. Laut dan gunung tentu punya risiko berbeda; negara dan wilayah, belahan bumi utara atau selatan, daerah tropis atau dingin, keberadaan hewan berbahaya—ayahnya selalu membagikan sebanyak mungkin informasi negatif kepada keluarganya.

 

"Dan ibu selalu bertanya, langkah apa yang sudah disiapkan untuk menghadapi risiko itu. Mungkin karena ibu bekerja di perusahaan asuransi juga, tapi intinya, menyampaikan informasi negatif memang membuat khawatir. Tapi kalau kita juga menunjukkan bahwa kita sudah siap menghadapinya, justru bisa membuat orang lebih tenang. Aku juga termasuk yang merasa lebih tenang karena itu. Jadi… maksudku, ya begitu."

 

"O-Oki-kun, anu… ‘begitu’ yang kamu maksud itu apa?"

 

"Jadi… memang aku nggak ingin membuat Watanabe-san khawatir, tapi kalau dalam hubungan kita sekarang aku menyembunyikan masalah seperti ini, rasanya seperti aku nggak percaya padamu, dan itu yang nggak aku suka."

 

"Mm, mm, aku paham. Tapi maksudku bukan itu. Yang penting sekarang bukan di situ."

 

"Hah?"

 

Saat Yukuto mengangkat wajahnya, Fuka berdiri menghadap dinding kosong ruang klub, wajahnya merah padam, sementara kedua tangannya bergerak gelisah di depan dada.

 

"Anu… seperti ayah Oki-kun ke ibumu… itu berarti… kamu melakukan hal yang sama… ke aku?"

 

Sesaat Yukuto tidak mengerti apa yang sedang dipastikan.

Namun melihat Izumi di samping Fuka menatapnya dengan wajah seperti Raja Yama atau Myoo yang murka, ia segera menganalisis apa yang barusan ia katakan.

 

Baginya, ia hanya berniat menjelaskan bahwa prinsip tindakannya didasari oleh apa yang ayahnya lakukan pada ibunya.

 

Namun fakta bahwa Izumi marah berarti hubungan dirinya dan Fuka sudah berada pada jarak yang cukup dekat. Jika dirumuskan—

 

"Ah…………, itu—"

 

Ia akhirnya menyadari bahwa ia baru saja berbicara kepada Fuka dengan filosofi yang sama seperti seorang suami kepada istri.

 

"Anu, eh, a-a-anu……"

 

Suhu tubuh Yukuto melonjak drastis, dan setiap kali kata-katanya tersendat, sudut alis dan mata Izumi makin terangkat, kemiringannya seolah menyaingi tanjakan paling curam di dunia.

 

"Itu! Maksudku cuma sebagai contoh saja! Li-lihat, situasi kita sekarang ini kan sangat tidak biasa! Jadi aku pikir, apa pun yang terjadi, kita nggak boleh lalai berbagi informasi, makanya, itu—"

 

Ia sadar betul bahwa semua ini terdengar seperti alasan yang dangkal, dan semakin ia berbicara, semakin jauh suaranya dari perasaan yang sebenarnya.

 

Mungkin keguncangan itu terlihat jelas di wajahnya. Wajah Fuka sedikit meredup dari merahnya, lalu ia melangkah mendekat satu langkah.

 

"F-Fuka-chan!!!!"

 

Bahkan teriakan Izumi tak sempat menyusul, ketika Fuka mengangkat jari telunjuk kanannya dan menempelkannya ke mulut Yukuto, seolah membungkamnya.

 

"Mmnh!?"

 

"Aku… merasa sudah mengerti, kok."

 

"…!!"

 

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada sesuatu yang menyentuh bibirnya—bukan makanan, bukan minuman, bukan peralatan makan, bukan lip balm, bukan sikat gigi, bukan sapu tangan, bukan handuk, bukan masker, bukan tisu, bukan jari tangannya sendiri yang menjepit keripik kentang, bukan bantal atau guling saat tidur, dan bukan pula bagian dalam pakaian saat berganti baju.

 

"Karena Oki-kun itu orang yang baik, aku tahu kok. Bukan cuma ke aku, tapi juga ke Izumi-chan, Komiyama-kun, Amami-senpai, dan Hasegawa-san juga—kamu pasti akan mengatakan yang sebenarnya supaya tidak membuat siapa pun khawatir."

 

Itu adalah jari Fuka. Jari telunjuk seorang gadis yang benar-benar ia cintai.

 

"Apa kamu bisa mengerti… bahwa aku mengerti?"

 

"……"

 

Ia tak bisa bersuara. Tak bisa menggerakkan mulut. Rasanya, jika ia bergerak, itu akan menjadi tindakan yang sangat tidak sopan dan tak termaafkan terhadap Fuka.

 

"Aku… senang, tahu. Jadi meskipun aku sudah mengerti…"

 

Pada saat itu, jari itu menjauh.

 

"Bolehkah aku dibiarkan tetap salah paham?"

 

Baru pada saat itu Yukuto menyadari bahwa sejak tadi ia menahan napas.

 

Bahkan setelah momen itu berlalu, apa yang baru saja terjadi masih belum bisa ia cerna sepenuhnya.

 

Saat ini, sebagai hasil akhirnya, dirinya telah—

 

"F-f-f-Fukaaa-chaaan!!"

 

Sebelum pikirannya sempat sampai pada sebuah kesimpulan, Izumi—yang wajahnya memerah tak kalah dari mereka berdua—menyela masuk.

 

"Hya! I-Izumi-chan! Dingin!"

 

Dengan tangan kanan memegang cairan disinfektan alkohol, Izumi menyemprotkannya ke tangan kanan Fuka. Lalu dengan tangan kiri ia dengan cekatan mengambil tisu basah beralkohol, dan mulai menggosok tangan Fuka yang sudah disemprot itu seolah sedang mengasah pisau.

 

"T-tunggu, Izumi-chan! Itu agak sakit…!"

 

"Apa yang kamu lakukan, Fuka-chan!? Kalau kamu melakukan hal seperti itu, kalau kamu melakukan hal seperti itu! Pupil mata bisa melebar, muncul gejala muntah dan sesak napas, lalu koma! Aku! Yang akan mengalaminya!"

 

"Apa Oki-kun itu jamur beracun seperti amanita muscaria atau apa?"

 

"Buatku, dia sudah jadi musuh yang lebih berbahaya dan lebih pantas dibenci daripada jamur api!"

 

Menyebut senior dan ketua klubnya sendiri sebagai jamur beracun jelas sangat tidak sopan, tapi karena pikirannya sudah lumpuh akibat tindakan Fuka, Yukuto justru dengan mudah menerima bahwa Izumi yang melihat dari samping juga pasti sangat terkejut. Bahkan obrolan soal jamur beracun yang tiba-tiba muncul pun terasa wajar baginya.

 

"Lagian, kenapa bisa jadi begini sih!? Awalnya kan ceritanya rumah senpai kemasukan pencuri, kan!? Kalian berdua langsung memutuskan itu gara-gara tim inspeksi elf, tapi kan belum tentu begitu, kan!?"

 

"Iya sih, tapi timing-nya…"

 

"Itu dia! Aku bilang kalian sedang bias! Memang sih, tiba-tiba rumah senpai jadi korban kejahatan itu kebetulan yang berlebihan, tapi bukan berarti kebetulan seperti itu mustahil, kan!?"

 

Sambil terus bicara, Izumi tetap menggosok jari Fuka dengan tisu disinfektan.

 

"Aku ngerti kok kenapa Fuka-chan merasa bertanggung jawab, dan aku juga ngerti kalau senpai nggak ngomongin ini dengan niat buruk! Tapi! Untuk sekarang, tenang dulu! Di depan mata kita sekarang, orang Natche Riviera selain Fuka-chan itu belum ada satu pun!"

 

"!!"

 

"Ibu Fuka-chan bilang kalau tim inspeksi datang, kita nggak tahu mereka akan ngapain atau orang seperti apa yang datang. Amami-senpai dan Hasegawa-senpai terlihat mencurigakan. Rumah senpai kemasukan pencuri. Tapi sampai sekarang, kita belum melihat bukti nyata apa pun secara langsung, kan? Iya, kan?"

 

"I-iya. Benar juga. Umm, Izumi-chan, jariku sudah mulai sakit…"

 

"Fuka-chan sendiri bilang, kan. Kalau tim inspeksi benar-benar datang, paling tidak mereka akan datang ke tempatmu duluan. Aku juga mikir begitu. Kalau tiba-tiba malah masuk ke rumah senpai buat nyolong itu aneh banget. Itu bukan inspeksi, tapi penyelidikan ilegal."

 

"T-tapi hukum Natche Riviera dan hukum Jepang itu berbeda, dan mereka tahu kamera yang dimiliki anak laki-laki yang dekat denganku itu mengambil foto tersebut, jadi mungkin saja mereka ingin mengamankannya lebih dulu…"

 

"Jangan bikin cerita ngawur kayak teori konspirasi bodoh di media sosial. Sekarang, tidak ada satu pun bukti pasti yang bisa memastikan itu! Iya, kan!?"

 

"I-iya…"

 

"Lagi pula, kalau ibu senpai, atau Amami-senpai dan Hasegawa-senpai ternyata memang tidak ada hubungannya sama sekali, mau bagaimana? Tidak seperti aku dan senpai, penampilan Fuka-chan—baik secara langsung maupun di foto—di mata orang Jepang terlihat sepenuhnya seperti orang Jepang. Mau datang ke orang-orang seperti itu dan bilang, ‘Sebenarnya aku elf dari dunia lain’? Kalau kamu melakukan itu—"

 

Sambil memperlihatkan gigi seperti binatang buas, Izumi menoleh ke Yukuto dan berkata,

 

"Kamu tahu tidak, posisi senpai bisa jadi bagaimana?"

 

"Ah…"

 

"Ibu senpai bisa berpikir, ‘Anak ini baik-baik saja, kan?’ Dan Amami-senpai dan yang lain bisa saja mempertimbangkan ulang permintaan mereka ke klub fotografi. Kalau kamu mau merasa tenang meskipun harus sampai sejauh itu, ya silahkan. Tapi meskipun ada konspirasi seperti yang kamu bayangkan, itu tidak berarti keselamatan senpai atau aku akan terjamin. Kamu paham, kan?"

 

Mendengar penjelasan Izumi yang logis dan runtut, Fuka menjadi gugup dan terbata-bata, lalu akhirnya perlahan duduk terjatuh.

 

"……Maaf. Sepertinya aku agak tidak tenang."

 

"Jelas saja!"

 

"Dan juga, Izumi-chan, jariku benar-benar sakit…"

 

"Pokoknya, karena hari ini kegiatan klub fotografi libur, senpai cepat pergi ke tempat Amami-senpai dan yang lain. Dan hari ini, jangan mendekati Fuka-chan di sekolah! Aku bisa sesak napas!"

 

Tampaknya teori "Yukuto adalah jamur beracun" masih berlaku.

 

"I-iya. Mengerti. Umm… maaf ya, Watanabe-san. Aku bilang hal aneh."

 

"T-tidak apa-apa. Tolong sampaikan salamku ke Amami-senpai dan yang lain…"

 

"Kubilang cepat pergi karena aku bisa sesak napas!"

 

Tak sanggup lagi melihat Fuka dan Yukuto yang masih sama-sama memerah, Izumi melepaskan tangan Fuka, mendorong punggung Yukuto yang masih ragu-ragu, dan mengusirnya keluar dari ruang klub hortikultura.

 

"Duh! Sebenarnya kalian mikir apa sih………… F-Fuka-chan!?"

 

"Feh?"

 

"A-a-a-apa, apa yang kamu lakukan……!?"

 

"Mm? Maksudmu apa aku sedang apa? Soalnya…"

 

Dengan wajah bingung, Fuka hendak memasukkan jari telunjuknya—yang tadi digosok Izumi—ke dalam mulutnya.

 

"Setelah digosok sekeras itu, jelas sakit. Aku nggak bawa plester, jadi refleks menjilatnya…"

 

"Menjilatnya………… padahal belum sepenuhnya disterilkan!"

 

"Eh? Disinfeksi apa yang—"

 

Saat itu juga, Izumi jatuh berlutut seolah mengalami sesak napas. Melihat reaksi Izumi yang berlebihan, Fuka sempat menunjukkan ekspresi heran, lalu—

 

"Ah."

 

Ia teringat apa yang baru saja ia lakukan pada Yukuto dengan jari itu.

 

"Hau!"

 

Wajahnya memerah seperti meledak, dan ia menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu ambruk ke lantai.

 

Fuka merintih tanpa suara sambil menutupi wajahnya, sementara Izumi berlutut, menatap langit-langit dengan mata hampir terbalik dan tubuh kejang-kejang.

 

Pemandangan itu sungguh seperti dua orang yang baru saja menelan jamur beracun amanita muscaria sekaligus.

 

Sementara itu, Yukuto yang diusir keluar terus mengulang-ulang kejadian di ruang klub berkebun di dalam kepalanya, sampai-sampai ia tidak bisa berjalan lurus.

 

Tatapan lurus mata elf Watanabe Fuka, dan sensasi jari elf Watanabe Fuka yang menekan bibirnya—semuanya tertinggal dengan panas seperti luka bakar.

 

Jika sekarang ada seseorang yang akrab dengannya melihat wajahnya, mungkin mereka akan menganggap pupil matanya yang menyempit dan matanya yang terbuka lebar itu sangat menyeramkan.

 

Namun, meski ia menyadari itu, seluruh sel tubuhnya tidak mau menuruti akal sehat.

 

"Tidak, tidak, tidak………… tidak."

 

Di depan tangga menuju lantai kelas tiga, Yukuto pun akhirnya ambruk dari lutut seperti baru menelan jamur beracun, dan nyaris jatuh sebelum buru-buru membalikkan badan dan duduk di tangga.

 

"A-apa yang……"

 

Entah ia memejamkan mata, atau membuka mata lalu menundukkan wajah dan menatap lantai koridor berlapis linoleum serta ujung sepatu dalam ruangannya sendiri, tetap saja—seperti film yang sudah terpapar cahaya—wajah elf Watanabe Fuka terpatri di matanya dan tak mau pergi, berkilau seperti cahaya.

 

—Aku senang…… jadi meskipun aku sudah tahu, aku akan salah paham.

 

Apa maksud perkataan itu sebenarnya?

 

Salah paham yang bagaimana? Ia mati-matian mencoba mengingat kembali konteks tepat sebelum kejadian itu.

 

"Aku…… bilang sesuatu yang sebenarnya cuma berlaku di antara orang tuaku, lalu……"

 

Hal yang hanya berlaku di antara pasangan Oki itu, seolah-olah telah ia terapkan pada Fuka.

 

"Itu…… maksudnya…… begitu, ya?"

 

Sesaat sebelum mengetahui soal elf dan segala hal itu. Saat ia mengaku pada Watanabe Fuka yang saat itu ia kenal sebagai gadis Jepang, dan mendapat jawaban "iya", ada satu hal yang terus mengganjal pikirannya.

 

Fuka menerima perasaannya. Namun terlepas dari itu, bagaimana sebenarnya perasaan Fuka terhadap dirinya?

 

Ia memang telah dengan jelas menyatakan ingin menjalin hubungan sebagai pacar, dan fakta bahwa Fuka menyetujui situasi itu berarti setidaknya Fuka memiliki perasaan positif terhadapnya.

 

Tapi apakah Fuka "menyukainya" atau tidak—itu, tentu saja, tidak pernah ia ketahui.

 

"Rasanya…… itu masih di level ‘mulai sekarang kita berdua akan saling mengenal lebih dalam’…… ya……"

 

—Aku senang.

 

 

 

Apa yang membuatnya senang?

 

Yukuto menceritakan tentang hubungan orang tuanya, lalu menjelaskan alasan sikapnya kepada Fuka berdasarkan itu……

 

—Jadi, bolehkah aku dibiarkan tetap salah paham?

 

"Eh……"

 

Bayangan elf Watanabe Fuka yang terpatri di balik kelopak matanya menimpa ingatan tentang Watanabe Fuka—gadis Jepang yang ia temui di depan taman bunga saat ia menyatakan perasaannya—bersama dengan sensasi sentuhan jari itu, hanya sesaat seperti kilatan petir.

 

"Eh, tidak, tapi, masa sih……"

 

Kalau itu benar-benar cuma salah paham, rasanya terlalu menyakitkan.

 

Ini memang hal yang pasti terpikirkan oleh setiap anak laki-laki di masa pubertas, dan mengingat pengakuannya sendiri berhasil, sikap seperti ini juga bisa dibilang arogan.

 

"Eh…… eh?"

 

—Aku senang.

 

"Eh, Watanabe-san, eh?"

 

—Aku senang.

 

"Eh, ini, eh? Jangan-jangan……"

 

—Aku senang.

 

"Watanabe-san, apa jangan-jangan kamu benar-benar…… menyukaiku—"

 

"Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini, Oki-kun?"

 

"Huwaaah—!? Uweh!!"

 

Punggungnya yang membungkuk tiba-tiba ditepuk seseorang, membuat Yukuto meloncat sambil berteriak dan terbatuk keras.

 

"Kyaa!? A-apa!? Aku melakukan sesuatu yang mengejutkan!?"

 

"T-t-tidak, tidak! H-ha-ha, Hasegawa-san!? K-kenapa kamu di sini!?"

 

Yukuto, yang jantungnya terasa hampir meloncat keluar dari mulut karena kaget, melihat Hasegawa Yui berdiri di sana dengan ekspresi yang sama terkejutnya.

 

"Apanya yang kenapa, aku cuma pulang dari kelas Ketua Klub Amami saja! J-jangan mendekat! Wajahmu agak menyeramkan! Jijik!"

 

"Eh…"

 

Ia sendiri pun merasa isi pikirannya barusan cukup menjijikkan, dan memang benar ia telah mengejutkan Yui. Tapi meskipun ia yang salah, tetap saja mendengar kata "jijik" dari seorang gadis itu sangat melukai hati.

 

"Tapi ya, kebetulan bagus. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Hasegawa-san."

 

"Eh? Denganku?"

 

Yui lalu menoleh ke sekeliling dengan gelisah. Sambil tetap waspada, ia melangkah satu langkah mendekat ke Yukuto.

 

"Itu…… pembicaraan penting?"

 

"Kalau dibilang penting, ya, mungkin. Sedikit merepotkan, sih……"

 

"Kemari! Ke sini!"

 

"Eh?"

 

Tiba-tiba Yui meraih tangan Yukuto dan menariknya dengan paksa.

 

"Eh!? T-tunggu, Hasegawa-san!?"

 

"Sudah, ikut saja!"

 

Ia diseret ke ruang bawah tangga di ujung barat lantai satu gedung sekolah. Selain kotak hidran, tempat itu jarang terkena cahaya matahari, dan karena di sekitarnya hanya ada ruang kelas untuk mata pelajaran khusus seperti seni dan teknik, hampir tidak pernah ada siswa yang datang ke sana.

 

"Jadi…… apa?"

 

"Maksudnya apa ya…… itu seharusnya pertanyaanku. Kenapa sampai ke tempat seperti ini?"

 

"Kamu bilang ini pembicaraan penting, kan. Kalau begitu, kupikir sebaiknya di tempat yang sebisa mungkin tidak ada orang. Yang terpikir cuma tempat ini."

 

"Haa…"

 

"……Atau…… ini masih tempat yang tidak bisa dipakai bicara?"

 

"Hah?"

 

"Waktu sampai pelajaran berikutnya memang tidak banyak, tapi…… kalau sekarang, ruang klub voli di gedung klub mungkin tidak ada siapa-siapa…… kalau mau, di sana kita bisa berdua saja."

 

"Berdua saja? Tidak, eh? Kenapa harus berdua saja?"

 

"K-kamu bilang ini pembicaraan penting, kan! Jadi…… ya, kamu paham, kan?"

 

Yui menyilangkan kedua lengannya di depan tubuh seolah memeluk dirinya sendiri, lalu mengambil satu langkah menjauh dari Yukuto.

 

Wajahnya sedikit memerah. Ia memalingkan muka, tapi matanya tetap menatap wajah Yukuto dengan jelas.

 

—Jangan-jangan Hasegawa-san juga mengincar Oki-kun……

 

Saat itu, ucapan Fuka beberapa waktu lalu melintas di benak Yukuto.

 

—Oki-kun, kamu jangan lengah sama Hasegawa-san. Mungkin penilaianku keliru. Kalau jarak kalian dipersempit sekaligus, bisa berbahaya.

 

"……!"

 

Seperti kata Izumi, saat ini memang tidak ada satu pun hal yang bisa dipastikan sebagai keberadaan Natche Riviera di depan mata mereka. Namun tetap saja, Yui masih termasuk salah satu pihak yang patut dicurigai.

 

Kemungkinan bahwa ia menyeretnya ke tempat sepi untuk menggali informasi—itu tidak sepenuhnya nol.

 

"C-cepat bilang saja. Kamu bilang ada…… pembicaraan penting denganku, kan?"

 

Nada bicara Yui terdengar tegas, namun ada kesan ia sedang mengamati reaksi Yukuto.

 

"Tidak, ini bukan hal besar."

 

Sambil merasakan keringat tegang muncul di punggungnya, Yukuto menghitung posisi dirinya dan Yui.

 

Dirinya berada di sisi koridor yang terbuka. Yui berada di sisi dinding bawah tangga tanpa jalan keluar.

 

Cahaya dari luar samar-samar menyinari dari belakang Yukuto, membuat sosok Yui terlihat jelas, sementara dari posisi Yui, Yukuto pasti terlihat siluet karena cahaya belakang.

 

Jika harus melarikan diri, posisinya lebih menguntungkan. Jika Yui benar-benar anggota tim inspeksi Natche Riviera, secara logika Yukuto tidak akan punya peluang menang.

 

Justru karena itulah, sebagai manusia biasa, satu-satunya pegangan hatinya hanyalah keuntungan geografis kecil—bahwa jika terjadi sesuatu, ia berada di posisi yang relatif lebih mudah untuk kabur.

 

"Hari ini, aku jadi tidak bisa ikut pemotretan klub voli."

 

"……Oh ya? Lalu?"

 

"Ya, cuma itu sih……"

 

"Cuma itu………………………hah?"

 

"Hah?"

 

Yui, yang sejak tadi memerah sambil menunggu langkah Yukuto, membuka mata lebar-lebar dengan ekspresi kecewa.

 

"Itu bukan…… pembicaraan penting?"

 

"Penting, kok. Baru kemarin bilang mau mulai, dan hari ini sudah begini. Ini hal yang harus disampaikan dengan benar ke Ketua Klub Amami dan manajer, Hasegawa-san, kan?"

 

"…………Ya, sih. Tapi benar-benar cuma itu?"

 

"Eh? I-iya. Jadi hari ini bukan cuma aku, tapi Kotaki-san dan Watanabe-san juga tidak ikut. Tolong sampaikan itu ke semua anggota klub voli. Mulai besok, sepertinya pemotretan bisa kembali sesuai jadwal."

 

"…………Hmm. Oh begitu. Mengerti."

 

Padahal ia bersikap seolah penuh makna sebelumnya, tapi reaksinya terhadap penjelasan Yukuto justru terasa hambar.

 

"Memangnya kamu kira pembicaraan apa?"

 

"Eh, ya soalnya…… kamu mendekat dengan wajah serius dan napas berat seperti itu…… aku kira itu hal yang seperti itu."

 

"Hal yang seperti apa sih. Ya, memang sih mungkin wajahku seperti itu!"

 

Jika dilihat oleh orang lain yang sama sekali tidak tahu apa-apa, memang wajah itu mungkin terlihat seperti itu. Namun, tetap saja aku sama sekali tidak bisa memahami apa sebenarnya yang dibayangkan oleh Yui.

 

"Padahal kemarin kelihatannya kamu begitu bersemangat sampai melibatkan seluruh klub. Ada apa memangnya?"

 

"Ah, kemarin di rumah ada macam-macam masalah, jadi aku sama sekali belum sempat mengedit foto bust-up. Gara-gara ‘macam-macam’ itu juga, hari ini aku harus pulang cepat."

 

"…Macam-macam apa? Kamu kan sudah dengar soal penaklukan Raja Iblis dari klub kita? Apa alasannya sampai separah itu?"

 

Ekspresi Yui sedikit menegang. Apa dia mengira aku bolos atau semacamnya?

 

"Yah… lumayan sih. Sebenarnya, kemarin rumah kami kemasukan pencuri."

 

"Eh!? Kemasukan pencuri!?"

 

"Iya. Polisi sampai malam masih di rumah, jadi jelas aku nggak mungkin bisa ngedit apa pun kemarin. Hari ini juga jendela yang pecah masih dibiarkan begitu saja, makanya aku harus pulang lebih awal."

 

"Ka—kalau begitu bilang dari awal dong! Kalau begitu, memangnya kamu masih pantas datang ke sekolah?"

 

"Nggak juga. Sampai siang nanti ibuku ambil setengah hari libur dan tinggal di rumah, bantu penyelidikan polisi dan ngurus perbaikan jendela. Nanti setelah aku pulang, kami gantian, jadi aku yang jaga rumah."

 

"Oh begitu… itu memang berat ya. Kalau begitu, mau bagaimana lagi. Nanti aku juga bilang ke Gotou-sensei."

 

"Kalau begitu aku terbantu. Ketua Amami itu…"

 

"Oh, soal itu… hari ini Ketua Amami nggak masuk."

 

"Hah? Nggak masuk?"

 

"Aku juga baru tahu tadi. Ada urusan ke kelas, terus dikasih tahu kalau hari ini beliau absen."

 

"Oh begitu. Masuk angin atau gimana?"

 

"Tadi aku ‘menginterogasi habis-habisan’ lewat LINE—"

 

"Kamu menginterogasi habis-habisan ya…"

 

"Iya. Terus katanya dia lagi rutin ke dokter ortopedi, aku sampai kaget."

 

"Eh!? Ortopedi? Itu berarti cedera atau apa?"

 

"Kayaknya nggak sampai parah sih. Katanya tanpa sengaja jarinya terkilir di rumah, jadi buat jaga-jaga dia ke rumah sakit, tapi katanya rumah sakitnya penuh banget."

 

"Oh… semoga nggak kenapa-kenapa ya."

 

"Benar! Nggak tahu dia ngapain sih, tapi pasti melakukan hal aneh lagi. Dia itu hobinya masak dan tipe yang perfeksionis. Pernah tiba-tiba memanggang pizza buat seluruh anggota klub, lho."

 

"Memanggang pizza!? Bukan pesan antar?"

 

"Katanya pengen coba gara-gara lihat video. Dia nguleni adonan dari nol, bahkan ada video buktinya. Adonan gede diputar-putar pakai ujung jari kayak profesional."

 

"Padahal kelihatannya sibuk sama kegiatan klub…"

 

"Ketua itu tangannya cekatan dan pintar, jadi hampir semua yang mau dia lakukan bisa. Pernah juga menjahit jersey atau seragam anggota klub yang robek. Terus, main gitar juga jago."

 

Aku sama sekali nggak menyangka, di momen seperti ini lagi-lagi aku diperlihatkan betapa jauh ‘kelasnya’ Amami sebagai manusia berbeda jauh.

 

"Makanya aku pengen dia sedikit ngerem soal hobi yang pakai ujung jari. Waktu dia bawa kalian anak klub fotografi, aku sampai mikir, ‘jangan-jangan sekarang kamera juga jadi sasarannya’."

 

"Oh… begitu."

 

"Ketua juga sadar sekarang lagi masa penting, makanya dia nggak lengah dan tetap ke rumah sakit."

 

Aku nggak tahu seberapa parah jarinya terkilir atau bagaimana kejadiannya, tapi sikap untuk tidak meremehkan cedera sekecil apa pun dan tetap ke dokter benar-benar terasa seperti seorang atlet.

 

"Amami-senpai benar-benar serius soal penaklukan Raja Iblis ya."

 

Raja Iblis yang dimaksud di sini adalah SMA Ouka.

 

"Iya. Dari dulu memang begitu. Amami-senpai selalu serius soal penaklukan Raja Iblis."

 

Yui mengatakannya dengan penuh semangat, lalu seolah sadar dirinya terlalu terbawa suasana, ia tersentak dan menggelengkan kepala.

 

"Lagipula, kamu ini kan orang yang dibawa oleh ketua karena dibutuhkan untuk penaklukan Raja Iblis. Jadi ya… aku cukup percaya kok. Memang sih, sejauh ini belum banyak yang dimulai, tapi aku juga sudah cek foto-foto yang kamu ambil sejauh ini, dan menurutku kemampuanmu memang nyata."

 

"Be—benarkah?"

 

Dinilai secara tiba-tiba soal kemampuan fotografi, Yukuto justru terkejut.

 

"Aku lihat foto yang katanya dapat penghargaan di kontes beberapa waktu lalu, sama foto yang dipamerkan waktu festival budaya tahun lalu. Aku sendiri bukan ahli foto sih, tapi… ya, menurutku itu foto yang bagus."

 

"O—oh begitu. Terima kasih. Tapi foto festival budaya itu… kamu lihat dari mana?"

 

Foto-fotonya memang masih ada di ruang klub fotografi, tapi bukan sesuatu yang selalu dipamerkan. Karena itu Yukuto heran di mana Yui melihatnya.

 

"Foto kontes yang kemarin kan dipajang di luar ruang klub fotografi. Kalau yang festival budaya, aku ditunjukkan oleh Komiyama-kun."

 

"Tetsuya?"

 

"Kalian sekelas kan? Katanya dia sudah mengecek semua foto yang kamu ambil di klub fotografi. Dari kelihatannya sih, dia ternyata cukup peduli sama temannya."

 

Yukuto nggak tahu bagaimana Yui melihat Tetsuya, tapi dipuji soal temannya jelas bikin perasaannya nggak buruk. Apalagi tahu Tetsuya diam-diam mengecek fotonya tanpa bilang apa-apa, itu malah bikin senang.

 

"Kalau lihat foto-foto itu… meskipun sebelumnya aku bilang nggak mau difoto, entah kenapa aku jadi mikir, mungkin aku mau difoto juga."

 

"…Iya. Kalau kamu berubah pikiran, bilang saja kapan pun. Aku yakin Amami-senpai juga bakal senang."

 

"Benarkah? Ya… nanti kupikirkan."

 

Yui tersenyum kecil. Dalam hati, Yukuto berpikir wajah itu pasti akan terlihat bagus di foto.

 

"Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Maaf sudah menahanmu lama-lama. Kalau urusan beratmu sudah selesai dan kamu bisa mampir lagi ke klub voli, hubungi aku lagi ya. Aku tunggu."

 

Sambil berkata begitu, Yui menepuk ringan bahu Yukuto saat melewatinya dan hendak pergi dengan langkah cepat—

 

"Eh!?"

 

Begitu kakinya menginjak tangga, entah kenapa ia mengeluarkan suara ketakutan.

 

"A—ah, oh, ternyata Watanabe-san. Bikin kaget aja. Kenapa kamu berdiri di tempat gelap begitu?"

 

"Hah? Watanabe-san?"

 

Saat Yukuto mengikuti Yui, di kegelapan tangga memang terlihat Fuka berdiri hampir tak bergerak, menatap ke arah mereka.

 

"Wa—Watanabe… san?"

 

Sedikit menyeramkan.

 

"E—eh, kalau begitu aku pergi dulu ya? S—sampai nanti, Oki-kun."

 

Yui yang tampaknya gentar oleh aura tak terkatakan dari cara Fuka berdiri, mengatakannya dengan cepat lalu menaiki tangga dengan langkah tergesa.

 

"Oki-kun."

 

"Y, ya?"

 

Entah kebetulan macam apa, tapi Yukuto merasa mata kanan Fuka Watanabe—mata hijau zamrud milik sang elf—memancarkan cahaya tajam saat menatapnya dari atas.

 

Bagi Yui, seharusnya Fuka terlihat sebagai Watanabe Fuka yang orang Jepang, tapi apakah dia juga merasakan tatapan dingin yang sama?

 

"Maaf ya, aku nggak bermaksud menguping. Tapi aku melakukan hal aneh, jadi aku cari Oki-kun. Begitu ketemu, kamu malah mulai bicara dengan Hasegawa-san, jadi kupikir aku nggak boleh mengganggu."

 

"O..oh begitu. Jadi… masih ada yang mau dibicarakan?"

 

"Oki-kun? Kenapa kamu menjauh dariku? Kenapa nggak mau menatap wajahku?"

 

Sebenarnya Yukuto hanya merasa canggung menatap Fuka karena kejadian di ruang klub tadi, tapi di mata Fuka, sepertinya terlihat sebagai sesuatu yang lain.

 

"B—bukan, maksudku… sudah hampir jam pelajaran mulai, aku cuma khawatir, Watanabe-san."

 

"…Oki-kun. Sepertinya aku harus sedikit introspeksi. Mungkin di lubuk hatiku, aku sempat berpikir kalau tanpa melakukan apa pun, pada akhirnya semuanya akan berjalan baik-baik saja."

 

"H—hah? Oh… begitu."

 

Yukuto sama sekali tidak paham apa yang sedang dibicarakan Fuka. Namun satu hal pasti, posisinya sekarang jauh lebih terpojok dibanding saat ditarik Yui ke sini tadi.

 

"Aku terlalu bergantung pada Oki-kun, mengalihkan pandangan dari banyak hal yang tidak kupahami… tapi ini tidak boleh berlanjut. Bertahan di kondisi sekarang sama saja dengan mundur perlahan. Kalau begini terus, saat tim inspeksi benar-benar muncul di hadapanku… aku tidak akan bisa menatap mereka… juga Oki-kun. Karena itu…"

 

Tanpa disadari, Yukuto sudah terdesak ke dinding.

 

Punggungnya menyentuh dinding yang keras, sementara di hadapannya, Fuka sang elf menatapnya dengan sungguh-sungguh dari sudut pandang sedikit lebih rendah.

 

"Oki-kun. Aku… ingin benar-benar serius menekuni penaklukan Raja Iblis."

 

"H—eh…?"

 

Perkembangannya terlalu mendadak sampai otak Yukuto tak mampu mengikutinya. Sebenarnya, sejak awal hari ini, percakapannya dengan Fuka hampir selalu begitu.

 

Namun meski begitu, satu hal pasti: "Raja Iblis" yang dimaksud Fuka di sini jelas bukan SMA Ouka.

 

Raja Iblis yang keluar dari mulut Fuka tak lain adalah Raja Iblis misterius yang selama bertahun-tahun dilacak oleh seluruh bangsa elf di Natche Riviera.

 

"Ke—kenapa? Kenapa?"

 

Bagian mana dari kejadian hingga hari ini yang membuat Fuka merasa harus serius menaklukkan Raja Iblis?

 

Kalau dia mengkhawatirkan pencuri yang masuk ke rumah keluarga Oki, seperti kata Izumi, itu jelas terlalu terburu-buru untuk disimpulkan. Selain itu, tidak ada perubahan atau kejadian besar lain yang bisa membuat Fuka menyimpan tekad sekuat ini hanya dalam satu-dua hari.

 

"T—tunggu, Watanabe-san. Penaklukan Raja Iblis yang kamu maksud itu Raja Iblis Natche Riviera, kan? Bukan SMA Ouka, kan!?"

 

"Iya. Aku kan bukan anggota klub voli."

 

Bukan itu yang ingin kutegaskan.

 

"Kenapa… tiba-tiba penaklukan Raja Iblis… jangan-jangan, Watanabe-san…"

 

Apa dia akan menghilang dari hadapanku?

 

Menghilang ke suatu tempat di Bumi, mengejar Raja Iblis elf yang keberadaannya masih tak diketahui, dan lenyap dari hadapanku serta Izumi?

 

"Watanabe-san!"

 

"Oki-kun!"

 

"Kamu mau pergi ke suatu tempat demi penaklukan Raja Iblis…!?"

 

"Kalau begitu, ajari aku pelajaran yang tidak aku kuasai demi penaklukan Raja Iblis!"

 

"……………………Hah?"

 

"Pertama bahasa Inggris!"

 

"Tunggu."

 

"Terus sejarah dunia! Aku nggak boleh dapat nilai merah lagi di ujian akhir!"

 

"Tunggu, tunggu, tunggu."

 

"Aku payah menghafal kata-kata katakana!"

 

"Tunggu tunggu tunggu tunggu tunggu tunggu. Tunggu. Tunggu!! Maksudmu apa?"

 

"Makanya, demi penaklukan Raja Iblis, aku ingin mengatasi mata pelajaran yang lemah."

 

"Aku sama sekali nggak ngerti. Bahkan waktu kamu kelihatan seperti elf pun, rasanya ini masih lebih nggak masuk akal."

 

"Aku pernah bilang kan kalau aku lemah di bahasa Inggris dan sejarah dunia?"

 

"Bahasa Inggris pernah, tapi sejarah dunia baru dengar."

 

"Makanya aku bilang aku nggak jago hafal katakana!"

 

"Aku nggak mau bilang begini, tapi elf boleh begitu? Dan ini harus aku bilang, bahasa Inggris itu bukan katakana, lho?"

 

"A—aku tahu itu!"

 

Dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca, Fuka semakin mendekat ke Yukuto.

 

"Tolong, Oki-kun! Aku tahu ini permintaan yang tidak tahu diri… tapi aku tidak bisa meminta ini pada Izumi-chan. Tolong bantu aku… demi penaklukan Raja Iblisku!"

 

Wajah dan suaranya sepenuhnya serius.

 

Yukuto, yang sangat yakin dengan kemampuannya membaca nuansa suara seseorang, paham betul bahwa Fuka benar-benar sungguh-sungguh.

 

"Aku ingin melewati banyak pertanyaan dulu dan tanya satu hal saja."

 

"Iya. Tanya apa saja."

 

"Kenapa ‘penaklukan Raja Iblis’ itu tidak bisa kamu katakan pada Kotaki-san?"

 

"Karena Izumi-chan masih kelas satu. Aku nggak bisa minta dia mengajarkan materi kelas dua."

 

Di atas kepala Yukuto yang pusing oleh alasan yang terlalu realistis itu—

 

"Ah, bel."

 

Bel yang menandakan dimulainya pelajaran jam pertama hari itu pun berbunyi.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close