Chapter 20
Jenderal Cerdas
dari Wilayah Feinen
Para petinggi di Wilayah Feinen, salah satu negeri di
kawasan Arcloy, sedang dilanda kegelisahan.
Wilayah Duke Arcloy saat ini dikelilingi oleh negara-negara
musuh. Seharusnya, hanya dengan memutus jalur distribusi garam dan besi,
wilayah itu akan lumpuh dengan sendirinya. Itulah alasan mengapa Feinen, Kiesel, dan Vieek membentuk aliansi dan
mempertahankan sikap bermusuhan.
Namun, lihatlah
kemakmuran Wilayah Arcloy sekarang. Bukannya lumpuh, kesejahteraan mereka
justru meningkat dari hari ke hari.
Kini, tempat yang
dulunya pelosok itu telah berubah menjadi kota yang dipenuhi keriuhan layaknya
metropolis.
Di mata ketiga
negara tetangganya, jelas terlihat bahwa taraf hidup rakyat Arcloy telah
meningkat pesat—pakaian dan peralatan yang lebih berkualitas, menu makanan yang
lebih mewah, hingga cara mereka menikmati waktu luang.
Rakyat dari tiga
negara aliansi hanya bisa menatap pemandangan itu dengan penuh rasa iri.
Sebaliknya, bagi
ketiga negara tersebut, sanksi ekonomi justru menjadi bumerang. Para pedagang
mulai memalingkan muka, dan barang-barang semakin sulit didapat setiap harinya.
Harga-harga melonjak, dan taraf hidup rakyat terus merosot.
Keluhan dan
ketidakpuasan mulai muncul dari kalangan pedagang bahkan petani terhadap kelas
penguasa di tiga negara tersebut. Suara yang menuntut perdamaian dengan Noah
semakin nyaring terdengar.
Keretakan juga
mulai muncul dalam solidaritas aliansi. Bahkan di antara para ksatria, mulai
ada yang menyerah pada pemimpin mereka dan mencoba menjalin hubungan dengan
Noah. Kegelisahan para petinggi Feinen pun mencapai puncaknya.
"Gawat.
Kabarnya Ksatria Benard sudah membelot ke pihak Duke Arcloy."
"Benard
juga!?"
"Ini tidak
sesuai rencana! Bukankah katanya jika kita membatasi garam dan besi, Wilayah
Arcloy akan mudah dilumpuhkan?"
"Apa yang
sebenarnya dilakukan Archduke Uebel? Kapan perintah pengembalian wilayah itu
akan mulai berlaku?"
"Apa beliau
hanya ingin ikut campur dalam urusan diplomasi tanpa memberikan bantuan nyata
sama sekali?"
"Benar-benar
tidak bertanggung jawab."
"Dua negara
lainnya juga mulai ragu dengan aliansi ini. Bukankah sebaiknya kita berdamai
saja dengan Duke Arcloy sekarang?"
"Bodoh! Apa
kamu menyuruhku menundukkan kepala pada si pemuda konyol itu?"
"Kalau si
berandal itu mau memaafkan kita hanya dengan permintaan maaf sih tidak
masalah."
"Tapi aku
tidak mau wilayah kita dipangkas~"
"Cukup!
Kalau sudah begini, kita kobarkan perang total! Akan kita beri pelajaran si
bodoh itu!"
"Tapi, itu
berarti kita harus menghadapi Ophelia. Siapa yang berani berhadapan dengan monster
itu?"
"Apakah
tidak ada pahlawan di sini yang bersedia menjadi panglima tertinggi?"
Saat Duke
Feinen melontarkan pertanyaan itu, para pejabat tinggi serentak memalingkan
wajah dan bungkam. Itu adalah
tanda bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang mau melakukannya.
Di tengah
keheningan dan atmosfer canggung yang menyelimuti ruangan, seorang pria yang
duduk di kursi paling ujung mengisap pipa tembakaunya, lalu bergumam sambil
mengembuskan asap.
"Benar-benar
memalukan. Orang-orang hebat yang mewakili negara ini berkumpul, tapi semuanya
pengecut."
Semua
orang yang hadir dalam rapat itu tersentak mendengar ucapannya.
(Benar juga.
Negeri ini masih memiliki pria ini.)
Di antara deretan
pria tua yang sudah hampir pensiun, dialah satu-satunya anak muda, namun
pembawaannya adalah yang paling tenang. Meski seorang ksatria, cara
berpakaiannya agak berantakan, memberikan kesan seorang pesolek yang gemar
bersenang-senang.
"Jika para
sesepuh sekalian merasa sungkan, maka biarlah aku, Klaus, yang menjabat sebagai
panglima pasukan."
"Oh, kamu
mau melakukannya, Klaus!?"
"Benar. Kita
masih punya anak ini!"
"Klaus si
Ahli Strategi!"
"Sehebat apa
pun Ophelia dalam bertarung, jika terjebak dalam siasat Klaus, dia tidak lebih
dari ikan yang masuk ke dalam jaring!"
"Uoooo! Kami
mengandalkanmu, Klaus!"
Para petinggi
yang hadir memberikan dukungan penuh kepada Ksatria Klaus.
(Ophelia.
Seberapa kuat pun kamu, itu hanya berlaku di tempat pelosok ini. Bagiku, yang
pernah terjun dalam perang di Wilayah Demon, kamu hanyalah anak kemarin sore.)
◆◇◆
Klaus si Ahli
Strategi. Ia adalah ksatria dengan pengalaman tempur yang melimpah, bahkan
pernah berpartisipasi dalam Perang Bolda, sebuah pertempuran besar melawan
pasukan iblis.
Dengan
kecerdasannya, ia telah membawa pasukannya menuju kemenangan di berbagai
peperangan. Ia sangat mahir dalam pertempuran di luar Arcloy, sebuah bakat
langka di wilayah pelosok ini.
Sebelum Ophelia
datang ke Arcloy, namanya telah termasyhur sebagai ahli strategi nomor satu di
kawasan tersebut. Itulah sebabnya ia menjadi satu-satunya pria muda yang
diizinkan mengikuti rapat petinggi yang seharusnya hanya boleh diikuti oleh
mereka yang berusia di atas 40 tahun.
Ia juga
terkenal sebagai orang yang nyentrik. Ketika penguasa menawarkan hadiah atas
jasanya, ia menolak pemberian tanah dan justru meminta hak untuk mengisap pipa
selama rapat berlangsung.
"Kamu
terlihat sangat percaya diri, Klaus."
Salah
seorang pejabat yang paling berhati-hati membuka suara dengan berat.
"Bagaimana
rencanamu menghadapi Ophelia dan para pemanah yang berhasil meruntuhkan benteng
Wilayah Luke itu?"
"Kita
tidak perlu bertarung melawan Ophelia," jawab Klaus sambil mengembuskan
cincin asap dari mulutnya.
"Jika
Ophelia muncul, kita tinggal lari saja."
"Lari? Apa
maksudmu?"
"Mari
kujelaskan rencananya selangkah demi selangkah. Strategi yang ada di kepalaku."
Klaus
mulai berbicara sambil mengetukkan abunya ke asbak.
"Pertama,
mengapa kita—tiga negara aliansi anti-Arcloy—tidak kunjung berani memulai
perang? Padahal kekuatan
nasional kita hampir setara, dan kita mengepung mereka dari tiga sisi. Jika
kita menyerang bersamaan, peluang menang sangat besar. Masalahnya hanyalah
sulitnya koordinasi, dan fakta bahwa kalian semua ketakutan setengah mati pada
Ophelia."
Klaus menyalakan
kembali pipanya dengan tembakau baru.
"Lalu,
bagaimana jika pasukan utama Ophelia pergi meninggalkan Wilayah Arcloy? Kita
bertiga pasti akan berebut untuk menggerogoti wilayah itu, bukan?"
"Oh, tentu
saja!"
"Tapi,
bagaimana cara membuat pasukan utama Ophelia pergi...?"
"Di situlah
peran kita. Kita yang akan mengambil tugas untuk memancing Ophelia
keluar."
Klaus mengisap
pipanya dalam-dalam lalu mengembuskannya.
"Pertama,
kita lancarkan serangan kejutan ke Wilayah Arcloy. Begitu Ophelia terpancing
keluar, kita mundur. Di wilayah kita banyak terdapat jalan terjal dan celah
sempit. Seberapa hebat pun Ophelia sebagai jenderal, tidak akan mudah
menggerakkan pasukan di negara asing yang medannya tidak ia kenal. Jika kita
memancingnya ke jalur yang sulit, perang akan berlarut-larut. Sementara itu,
dua negara lainnya akan merasa berani dan ikut terjun dalam perang. Jika itu
terjadi, apa yang akan terjadi selanjutnya?"
Para
petinggi Feinen mendengarkan dengan saksama.
"Sehebat apa
pun monster bernama Ophelia itu, dia hanya punya satu tubuh. Tidak mungkin
baginya bertempur di wilayah kita sambil secara bersamaan menangani musuh yang
datang dari dua arah berbeda. Tentu saja, peluang menang tetap lima puluh
banding lima puluh. Namun, kita tidak perlu menang. Kita hanya perlu membawa
situasi ini ke hasil seri."
Di tengah ruangan
yang dipenuhi asap, pikiran para petinggi itu menjadi sangat jernih.
"Jika kita
saling membiarkan musuh masuk ke wilayah masing-masing, pihak mana yang
kerugiannya lebih besar? Tentu saja Wilayah Arcloy yang ekonominya sedang
berkembang. Meski kita tidak sampai menjatuhkan Kastilnya, jika kota bentengnya
dibakar dan perdagangannya terganggu, mereka akan kehilangan kepercayaan para
pedagang dan kekayaan negara yang sangat besar. Pedagang besar akan menarik diri, dan kekayaan
Duke Arcloy akan menguap. Saat
kerugian semakin besar, apa yang akan mereka lakukan? Mereka pasti akan
berpikir 'aku tidak ingin perang berlanjut'. Tahukah kalian apa artinya itu?
Itu adalah kesempatan bagi kita untuk mengajukan perjanjian damai yang
menguntungkan bagi pihak kita. Kita tunjukkan sikap keras bahwa kita tidak
keberatan dengan perang jangka panjang. Dengan begitu, kita bisa meraih
kemenangan tanpa harus berhadapan langsung dengan Ophelia."
"Ooooh!
Begitu rupanya! Ada cara seperti itu!"
"Strategi
yang sempurna, membaca dua-tiga langkah ke depan!"
"Benar-benar
Klaus si Ahli Strategi. Kecerdikannya setara dengan dewa!"
"Baiklah,
Klaus! Mulai hari ini, aku menunjukmu sebagai panglima tertinggi. Ambil
alih seluruh komando!"
"Sesuai perintah. Dengan rendah hati saya terima tugas
ini."
Sejak hari itu, Klaus resmi menjadi panglima tertinggi dan
mulai mempersiapkan perang.
Ia mulai menimbun persediaan makanan agar sanggup menghadapi
perang jangka panjang, serta membangun markas-markas untuk menempatkan pasukan
penyergap di titik-titik strategis.
Di saat yang sama, ia menyampaikan rencana untuk memancing
Ophelia ini kepada dua negara lainnya, Kadipaten Kiesel dan Kadipaten Vieek.
Kedua negara itu memberikan jawaban positif karena mereka merasa lega tidak
perlu bertarung langsung melawan Ophelia.
◆◇◆
Saat Klaus si Ahli Strategi sedang menjalankan siasatnya,
Noah dan Ophelia juga merasakan bahwa pertempuran menentukan dengan tiga negara
tersebut semakin dekat.
Terutama Wilayah Feinen yang jelas-jelas menunjukkan sikap
paling agresif. Informasi tentang mereka yang sedang menimbun persediaan
makanan untuk menghadapi pengepungan mulai terdengar di mana-mana.
Noah dan Ophelia pun mendiskusikan langkah yang harus
diambil. Ada tiga negara di tiga sisi, masing-masing dengan sepuluh ribu
tentara dan Kastil mereka.
Bagaimana cara mengatasinya?
"Lebih baik kita mengambil inisiatif dan menyerang
lebih dulu. Serangan pertama adalah
kunci kemenangan. Mari kita habisi penguasa Wilayah Feinen yang paling haus
perang itu," ujar Ophelia.
Noah mulai
mengumpulkan kekuatan militer di pangkalan sepanjang perbatasan Wilayah Feinen
dan menyiapkan alasan diplomasi untuk menyatakan perang.
Namun, pihak
musuh tampaknya lebih cepat dalam memperkuat pertahanan mereka. Jika mereka
melakukan perlawanan total, akan butuh waktu untuk menaklukkan mereka.
Selain itu, jika
dua negara lainnya menyerang saat mereka sedang sibuk di Feinen, itu akan
menjadi bencana. Ophelia pun mengakui kemungkinan itu.
Keduanya
mendiskusikan apa yang harus dilakukan jika musuh yang mengambil langkah
pertama.
"Jika musuh
menyerang dari tiga sisi secara bersamaan, apa yang harus kita lakukan?"
"Kita
biarkan mereka mendekat, lalu kita pecah kekuatannya dan habisi satu per
satu."
Noah merasa itu
masuk akal dan mulai mempertimbangkan rencana tersebut. Setelah diselidiki,
memecah pasukan musuh yang menyerang dari tiga sisi sepertinya mudah dilakukan.
Sangat sulit bagi
musuh untuk bergabung di dalam wilayah Arcloy. Hanya dengan menempatkan pasukan
di titik-titik penting, mereka bisa dengan mudah menghalangi penggabungan
pasukan musuh.
Noah menempatkan
prajurit di titik-titik strategis dan memperbaiki jalan-jalan sebanyak mungkin
agar Ophelia bisa bergerak dengan kecepatan tinggi di dalam wilayah.
Meskipun jalanan
di kota benteng dibuat sempit dan berliku, jalan raya lainnya dibuat lebar agar
pasukan kavaleri bisa bergerak dalam jumlah besar, dan pembangunan toko atau
rumah di sepanjang rute tersebut dilarang.
Namun, ada satu
masalah. Mereka perlu membagi pasukan menjadi dua atau lebih. Satu tim untuk
menghalangi gerak maju musuh, dan satu tim lagi untuk menghantam musuh.
Mereka
benar-benar butuh satu orang lagi, seorang jenderal selain Ophelia yang mampu
memimpin pasukan.
"Tapi,
bukankah koordinasi dan strategi musuh rendah? Bukankah jenderal dengan
kelas Command C saja sudah cukup untuk menang?"
"Belum
tentu. Di sana ada Klaus si Ahli Strategi."
Seorang
ksatria berpengalaman yang telah memimpin banyak pasukan menuju kemenangan
lewat berbagai taktik cerdik dan siasat yang tak terduga.
Noah
pernah bertemu dengannya sekali dalam sebuah pesta yang ia adakan. Saat itu,
Noah sempat menggunakan Appraisal padanya, dan status skill-nya adalah
sebagai berikut:
Klaus
Command: B
Strategy: B
Diplomacy: B
Intrigue: B
"Jenderal yang unggul dalam Command, Strategy,
Diplomacy, dan Intrigue... ya?"
"Ya. Singkatnya, dia bisa menambah sekutu lewat
diplomasi, memanipulasi musuh lewat intrik, memenangkan pertempuran lewat
strategi, dan sangat mumpuni memimpin pasukan sebagai jenderal."
"Begitu
ya. Benar-benar pantas disebut sebagai Ahli Strategi."
"Dia
adalah jenderal musuh paling merepotkan di daerah ini. Klaus si Ahli
Strategi... Ophelia, dia adalah bagianmu."
"Sesuai
perintah."
Mata
Ophelia menajam. Ia telah menetapkan Klaus sebagai target prioritas utama yang
harus dieliminasi.
"Bagaimana
dengan Duke Kiesel dan Duke Vieek?"
"Soal
itu, biar aku yang urus."
Terakhir,
mereka mempertimbangkan kemungkinan jika musuh menyerang di waktu yang
berbeda-beda.
Setelah
ditelaah, anehnya ini justru skenario yang bisa menimbulkan kerugian paling
besar bagi mereka, dan mungkin merupakan rencana yang realistis bagi pihak
musuh.
Jika
Ophelia terpancing hingga ke wilayah musuh, sementara dua negara lainnya
melakukan serangan kejutan, skenario terburuknya adalah rusaknya kediaman para
pedagang besar di kota benteng dan perang yang berlarut-larut, yang akhirnya
memaksa mereka melakukan perdamaian yang merugikan.
Melihat
pergerakan Wilayah Feinen, ada banyak jejak yang menunjukkan bahwa mereka
memang mengincar rencana ini.
(Untuk
berjaga-jaga saat Ophelia terpancing keluar wilayah, aku perlu menyiapkan satu
jenderal lagi. Seorang spesialis pertahanan yang akan menjaga wilayah sampai
Ophelia berhasil mengalahkan Duke Feinen.)
Noah mulai menyeleksi para kapten pasukan, mencari siapa yang paling cocok untuk misi ini.



Post a Comment