NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Hikichi ni Tsuihō Sareta Utsuke Ryōshu Kantei Sukiru de Saikyō no Haika-tachi to Tomo ni Chō Taikoku o Tsukuru Volume 1 Chapter 20

Chapter 20

Jenderal Cerdas dari Wilayah Feinen


Para petinggi di Wilayah Feinen, salah satu negeri di kawasan Arcloy, sedang dilanda kegelisahan.

Wilayah Duke Arcloy saat ini dikelilingi oleh negara-negara musuh. Seharusnya, hanya dengan memutus jalur distribusi garam dan besi, wilayah itu akan lumpuh dengan sendirinya. Itulah alasan mengapa Feinen, Kiesel, dan Vieek membentuk aliansi dan mempertahankan sikap bermusuhan.

Namun, lihatlah kemakmuran Wilayah Arcloy sekarang. Bukannya lumpuh, kesejahteraan mereka justru meningkat dari hari ke hari.

Kini, tempat yang dulunya pelosok itu telah berubah menjadi kota yang dipenuhi keriuhan layaknya metropolis.

Di mata ketiga negara tetangganya, jelas terlihat bahwa taraf hidup rakyat Arcloy telah meningkat pesat—pakaian dan peralatan yang lebih berkualitas, menu makanan yang lebih mewah, hingga cara mereka menikmati waktu luang.

Rakyat dari tiga negara aliansi hanya bisa menatap pemandangan itu dengan penuh rasa iri.

Sebaliknya, bagi ketiga negara tersebut, sanksi ekonomi justru menjadi bumerang. Para pedagang mulai memalingkan muka, dan barang-barang semakin sulit didapat setiap harinya. Harga-harga melonjak, dan taraf hidup rakyat terus merosot.

Keluhan dan ketidakpuasan mulai muncul dari kalangan pedagang bahkan petani terhadap kelas penguasa di tiga negara tersebut. Suara yang menuntut perdamaian dengan Noah semakin nyaring terdengar.

Keretakan juga mulai muncul dalam solidaritas aliansi. Bahkan di antara para ksatria, mulai ada yang menyerah pada pemimpin mereka dan mencoba menjalin hubungan dengan Noah. Kegelisahan para petinggi Feinen pun mencapai puncaknya.

"Gawat. Kabarnya Ksatria Benard sudah membelot ke pihak Duke Arcloy."

"Benard juga!?"

"Ini tidak sesuai rencana! Bukankah katanya jika kita membatasi garam dan besi, Wilayah Arcloy akan mudah dilumpuhkan?"

"Apa yang sebenarnya dilakukan Archduke Uebel? Kapan perintah pengembalian wilayah itu akan mulai berlaku?"

"Apa beliau hanya ingin ikut campur dalam urusan diplomasi tanpa memberikan bantuan nyata sama sekali?"

"Benar-benar tidak bertanggung jawab."

"Dua negara lainnya juga mulai ragu dengan aliansi ini. Bukankah sebaiknya kita berdamai saja dengan Duke Arcloy sekarang?"

"Bodoh! Apa kamu menyuruhku menundukkan kepala pada si pemuda konyol itu?"

"Kalau si berandal itu mau memaafkan kita hanya dengan permintaan maaf sih tidak masalah."

"Tapi aku tidak mau wilayah kita dipangkas~"

"Cukup! Kalau sudah begini, kita kobarkan perang total! Akan kita beri pelajaran si bodoh itu!"

"Tapi, itu berarti kita harus menghadapi Ophelia. Siapa yang berani berhadapan dengan monster itu?"

"Apakah tidak ada pahlawan di sini yang bersedia menjadi panglima tertinggi?"

Saat Duke Feinen melontarkan pertanyaan itu, para pejabat tinggi serentak memalingkan wajah dan bungkam. Itu adalah tanda bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang mau melakukannya.

Di tengah keheningan dan atmosfer canggung yang menyelimuti ruangan, seorang pria yang duduk di kursi paling ujung mengisap pipa tembakaunya, lalu bergumam sambil mengembuskan asap.

"Benar-benar memalukan. Orang-orang hebat yang mewakili negara ini berkumpul, tapi semuanya pengecut."

Semua orang yang hadir dalam rapat itu tersentak mendengar ucapannya.

(Benar juga. Negeri ini masih memiliki pria ini.)

Di antara deretan pria tua yang sudah hampir pensiun, dialah satu-satunya anak muda, namun pembawaannya adalah yang paling tenang. Meski seorang ksatria, cara berpakaiannya agak berantakan, memberikan kesan seorang pesolek yang gemar bersenang-senang.

"Jika para sesepuh sekalian merasa sungkan, maka biarlah aku, Klaus, yang menjabat sebagai panglima pasukan."

"Oh, kamu mau melakukannya, Klaus!?"

"Benar. Kita masih punya anak ini!"

"Klaus si Ahli Strategi!"

"Sehebat apa pun Ophelia dalam bertarung, jika terjebak dalam siasat Klaus, dia tidak lebih dari ikan yang masuk ke dalam jaring!"

"Uoooo! Kami mengandalkanmu, Klaus!"

Para petinggi yang hadir memberikan dukungan penuh kepada Ksatria Klaus.

(Ophelia. Seberapa kuat pun kamu, itu hanya berlaku di tempat pelosok ini. Bagiku, yang pernah terjun dalam perang di Wilayah Demon, kamu hanyalah anak kemarin sore.)

◆◇◆

Klaus si Ahli Strategi. Ia adalah ksatria dengan pengalaman tempur yang melimpah, bahkan pernah berpartisipasi dalam Perang Bolda, sebuah pertempuran besar melawan pasukan iblis.

Dengan kecerdasannya, ia telah membawa pasukannya menuju kemenangan di berbagai peperangan. Ia sangat mahir dalam pertempuran di luar Arcloy, sebuah bakat langka di wilayah pelosok ini.

Sebelum Ophelia datang ke Arcloy, namanya telah termasyhur sebagai ahli strategi nomor satu di kawasan tersebut. Itulah sebabnya ia menjadi satu-satunya pria muda yang diizinkan mengikuti rapat petinggi yang seharusnya hanya boleh diikuti oleh mereka yang berusia di atas 40 tahun.

Ia juga terkenal sebagai orang yang nyentrik. Ketika penguasa menawarkan hadiah atas jasanya, ia menolak pemberian tanah dan justru meminta hak untuk mengisap pipa selama rapat berlangsung.

"Kamu terlihat sangat percaya diri, Klaus."

Salah seorang pejabat yang paling berhati-hati membuka suara dengan berat.

"Bagaimana rencanamu menghadapi Ophelia dan para pemanah yang berhasil meruntuhkan benteng Wilayah Luke itu?"

"Kita tidak perlu bertarung melawan Ophelia," jawab Klaus sambil mengembuskan cincin asap dari mulutnya.

"Jika Ophelia muncul, kita tinggal lari saja."

"Lari? Apa maksudmu?"

"Mari kujelaskan rencananya selangkah demi selangkah. Strategi yang ada di kepalaku."

Klaus mulai berbicara sambil mengetukkan abunya ke asbak.

"Pertama, mengapa kita—tiga negara aliansi anti-Arcloy—tidak kunjung berani memulai perang? Padahal kekuatan nasional kita hampir setara, dan kita mengepung mereka dari tiga sisi. Jika kita menyerang bersamaan, peluang menang sangat besar. Masalahnya hanyalah sulitnya koordinasi, dan fakta bahwa kalian semua ketakutan setengah mati pada Ophelia."

Klaus menyalakan kembali pipanya dengan tembakau baru.

"Lalu, bagaimana jika pasukan utama Ophelia pergi meninggalkan Wilayah Arcloy? Kita bertiga pasti akan berebut untuk menggerogoti wilayah itu, bukan?"

"Oh, tentu saja!"

"Tapi, bagaimana cara membuat pasukan utama Ophelia pergi...?"

"Di situlah peran kita. Kita yang akan mengambil tugas untuk memancing Ophelia keluar."

Klaus mengisap pipanya dalam-dalam lalu mengembuskannya.

"Pertama, kita lancarkan serangan kejutan ke Wilayah Arcloy. Begitu Ophelia terpancing keluar, kita mundur. Di wilayah kita banyak terdapat jalan terjal dan celah sempit. Seberapa hebat pun Ophelia sebagai jenderal, tidak akan mudah menggerakkan pasukan di negara asing yang medannya tidak ia kenal. Jika kita memancingnya ke jalur yang sulit, perang akan berlarut-larut. Sementara itu, dua negara lainnya akan merasa berani dan ikut terjun dalam perang. Jika itu terjadi, apa yang akan terjadi selanjutnya?"

Para petinggi Feinen mendengarkan dengan saksama.

"Sehebat apa pun monster bernama Ophelia itu, dia hanya punya satu tubuh. Tidak mungkin baginya bertempur di wilayah kita sambil secara bersamaan menangani musuh yang datang dari dua arah berbeda. Tentu saja, peluang menang tetap lima puluh banding lima puluh. Namun, kita tidak perlu menang. Kita hanya perlu membawa situasi ini ke hasil seri."

Di tengah ruangan yang dipenuhi asap, pikiran para petinggi itu menjadi sangat jernih.

"Jika kita saling membiarkan musuh masuk ke wilayah masing-masing, pihak mana yang kerugiannya lebih besar? Tentu saja Wilayah Arcloy yang ekonominya sedang berkembang. Meski kita tidak sampai menjatuhkan Kastilnya, jika kota bentengnya dibakar dan perdagangannya terganggu, mereka akan kehilangan kepercayaan para pedagang dan kekayaan negara yang sangat besar. Pedagang besar akan menarik diri, dan kekayaan Duke Arcloy akan menguap. Saat kerugian semakin besar, apa yang akan mereka lakukan? Mereka pasti akan berpikir 'aku tidak ingin perang berlanjut'. Tahukah kalian apa artinya itu? Itu adalah kesempatan bagi kita untuk mengajukan perjanjian damai yang menguntungkan bagi pihak kita. Kita tunjukkan sikap keras bahwa kita tidak keberatan dengan perang jangka panjang. Dengan begitu, kita bisa meraih kemenangan tanpa harus berhadapan langsung dengan Ophelia."

"Ooooh! Begitu rupanya! Ada cara seperti itu!"

"Strategi yang sempurna, membaca dua-tiga langkah ke depan!"

"Benar-benar Klaus si Ahli Strategi. Kecerdikannya setara dengan dewa!"

"Baiklah, Klaus! Mulai hari ini, aku menunjukmu sebagai panglima tertinggi. Ambil alih seluruh komando!"

"Sesuai perintah. Dengan rendah hati saya terima tugas ini."

Sejak hari itu, Klaus resmi menjadi panglima tertinggi dan mulai mempersiapkan perang.

Ia mulai menimbun persediaan makanan agar sanggup menghadapi perang jangka panjang, serta membangun markas-markas untuk menempatkan pasukan penyergap di titik-titik strategis.

Di saat yang sama, ia menyampaikan rencana untuk memancing Ophelia ini kepada dua negara lainnya, Kadipaten Kiesel dan Kadipaten Vieek. Kedua negara itu memberikan jawaban positif karena mereka merasa lega tidak perlu bertarung langsung melawan Ophelia.

◆◇◆

Saat Klaus si Ahli Strategi sedang menjalankan siasatnya, Noah dan Ophelia juga merasakan bahwa pertempuran menentukan dengan tiga negara tersebut semakin dekat.

Terutama Wilayah Feinen yang jelas-jelas menunjukkan sikap paling agresif. Informasi tentang mereka yang sedang menimbun persediaan makanan untuk menghadapi pengepungan mulai terdengar di mana-mana.

Noah dan Ophelia pun mendiskusikan langkah yang harus diambil. Ada tiga negara di tiga sisi, masing-masing dengan sepuluh ribu tentara dan Kastil mereka.

Bagaimana cara mengatasinya?

"Lebih baik kita mengambil inisiatif dan menyerang lebih dulu. Serangan pertama adalah kunci kemenangan. Mari kita habisi penguasa Wilayah Feinen yang paling haus perang itu," ujar Ophelia.

Noah mulai mengumpulkan kekuatan militer di pangkalan sepanjang perbatasan Wilayah Feinen dan menyiapkan alasan diplomasi untuk menyatakan perang.

Namun, pihak musuh tampaknya lebih cepat dalam memperkuat pertahanan mereka. Jika mereka melakukan perlawanan total, akan butuh waktu untuk menaklukkan mereka.

Selain itu, jika dua negara lainnya menyerang saat mereka sedang sibuk di Feinen, itu akan menjadi bencana. Ophelia pun mengakui kemungkinan itu.

Keduanya mendiskusikan apa yang harus dilakukan jika musuh yang mengambil langkah pertama.

"Jika musuh menyerang dari tiga sisi secara bersamaan, apa yang harus kita lakukan?"

"Kita biarkan mereka mendekat, lalu kita pecah kekuatannya dan habisi satu per satu."

Noah merasa itu masuk akal dan mulai mempertimbangkan rencana tersebut. Setelah diselidiki, memecah pasukan musuh yang menyerang dari tiga sisi sepertinya mudah dilakukan.

Sangat sulit bagi musuh untuk bergabung di dalam wilayah Arcloy. Hanya dengan menempatkan pasukan di titik-titik penting, mereka bisa dengan mudah menghalangi penggabungan pasukan musuh.

Noah menempatkan prajurit di titik-titik strategis dan memperbaiki jalan-jalan sebanyak mungkin agar Ophelia bisa bergerak dengan kecepatan tinggi di dalam wilayah.

Meskipun jalanan di kota benteng dibuat sempit dan berliku, jalan raya lainnya dibuat lebar agar pasukan kavaleri bisa bergerak dalam jumlah besar, dan pembangunan toko atau rumah di sepanjang rute tersebut dilarang.

Namun, ada satu masalah. Mereka perlu membagi pasukan menjadi dua atau lebih. Satu tim untuk menghalangi gerak maju musuh, dan satu tim lagi untuk menghantam musuh.

Mereka benar-benar butuh satu orang lagi, seorang jenderal selain Ophelia yang mampu memimpin pasukan.

"Tapi, bukankah koordinasi dan strategi musuh rendah? Bukankah jenderal dengan kelas Command C saja sudah cukup untuk menang?"

"Belum tentu. Di sana ada Klaus si Ahli Strategi."

Seorang ksatria berpengalaman yang telah memimpin banyak pasukan menuju kemenangan lewat berbagai taktik cerdik dan siasat yang tak terduga.

Noah pernah bertemu dengannya sekali dalam sebuah pesta yang ia adakan. Saat itu, Noah sempat menggunakan Appraisal padanya, dan status skill-nya adalah sebagai berikut:

Klaus

Command: B

Strategy: B

Diplomacy: B

Intrigue: B

"Jenderal yang unggul dalam Command, Strategy, Diplomacy, dan Intrigue... ya?"

"Ya. Singkatnya, dia bisa menambah sekutu lewat diplomasi, memanipulasi musuh lewat intrik, memenangkan pertempuran lewat strategi, dan sangat mumpuni memimpin pasukan sebagai jenderal."

"Begitu ya. Benar-benar pantas disebut sebagai Ahli Strategi."

"Dia adalah jenderal musuh paling merepotkan di daerah ini. Klaus si Ahli Strategi... Ophelia, dia adalah bagianmu."

"Sesuai perintah."

Mata Ophelia menajam. Ia telah menetapkan Klaus sebagai target prioritas utama yang harus dieliminasi.

"Bagaimana dengan Duke Kiesel dan Duke Vieek?"

"Soal itu, biar aku yang urus."

Terakhir, mereka mempertimbangkan kemungkinan jika musuh menyerang di waktu yang berbeda-beda.

Setelah ditelaah, anehnya ini justru skenario yang bisa menimbulkan kerugian paling besar bagi mereka, dan mungkin merupakan rencana yang realistis bagi pihak musuh.

Jika Ophelia terpancing hingga ke wilayah musuh, sementara dua negara lainnya melakukan serangan kejutan, skenario terburuknya adalah rusaknya kediaman para pedagang besar di kota benteng dan perang yang berlarut-larut, yang akhirnya memaksa mereka melakukan perdamaian yang merugikan.

Melihat pergerakan Wilayah Feinen, ada banyak jejak yang menunjukkan bahwa mereka memang mengincar rencana ini.

(Untuk berjaga-jaga saat Ophelia terpancing keluar wilayah, aku perlu menyiapkan satu jenderal lagi. Seorang spesialis pertahanan yang akan menjaga wilayah sampai Ophelia berhasil mengalahkan Duke Feinen.)

Noah mulai menyeleksi para kapten pasukan, mencari siapa yang paling cocok untuk misi ini.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close