Chapter 21
Jenderal dari Sepuluh Ribu Pasukan
Malam
itu, saat Ophelia sedang terlelap dengan tenang di samping Noah, tiba-tiba
suara tiupan terompet tanduk memecah kesunyian.
Ophelia
langsung melompat dari tempat tidur, mengenakan pakaian tempurnya, dan bergegas
menuju menara pengintai.
Sesampainya
di sana, ia mengamati posisi bintang-bintang dan memperkirakan waktu saat itu
sekitar tengah malam.
Api
berkobar di sebelah barat, ke arah wilayah Feinen. Arah lainnya masih terlihat tenang tanpa ada
kejanggalan.
(Ternyata
Duke Feinen yang mulai bergerak duluan.)
Persis
seperti prediksi sebelumnya, mereka berencana menyerang secara terpisah.
Kemungkinan besar setelah Ophelia berangkat, dua negara lainnya akan
melancarkan serangan mereka.
"Serangan
musuh tengah malam begini?"
Tak lama
kemudian, Noah muncul sambil menguap lebar.
"Siapa
keparat yang berani cari gara-gara?"
"Sejauh
ini api hanya terlihat dari arah Wilayah Feinen. Dua negara lainnya belum menunjukkan
pergerakan."
"Begitu
ya. Jadi mereka benar-benar datang sendiri-sendiri."
Noah
mengucek matanya, berusaha keras mengusir rasa kantuk yang masih menggelayut.
Ophelia terkekeh kecil melihat tingkah tuannya.
"Anda
boleh kembali tidur. Melihat kondisinya, mereka tidak akan menyerang sampai ke
sini. Ini hanya pancingan agar aku keluar. Pertempuran yang sesungguhnya baru
akan dimulai besok."
"Oh,
ya sudah kalau begitu. Aku
tidur lagi ya."
"Tentu,
selamat istirahat."
Noah kembali ke
kamarnya. Ophelia sempat terpaku sejenak memandangi cahaya oranye yang membara
di kegelapan malam sebelum akhirnya ia pun ikut kembali ke kamar.
Para prajurit
penjaga Kastil hanya bisa melongo melihat betapa santainya kedua pemimpin
mereka. Namun karena sang tuan sudah tidur, tidak ada gunanya mereka terjaga
dengan tegang.
Kecuali mereka
yang bertugas malam, para prajurit pun memutuskan untuk tidur dan memulihkan
tenaga.
◆◇◆
Keesokan paginya,
tepat saat matahari mulai menyingsing, Ophelia langsung terjaga. Setelah
menyantap makan pagi dengan cepat, ia memacu kudanya untuk berangkat.
Kabar
keberangkatannya menyebar cepat; para prajurit di dalam Kastil segera berpencar
ke desa-desa untuk mengumpulkan para petani ksatria yang sudah bersiap, lalu
menyusul di belakangnya.
Tak butuh waktu
lama bagi pasukan Ophelia untuk membengkak hingga berjumlah 15.000 personel
saat mereka mencapai perbatasan.
Begitu rumor
tentang pecahnya perang menyebar ke kota benteng, benar saja, kediaman Noah
langsung dibanjiri keluhan dari para pedagang besar.
"Kami
tidak dengar kalau perang akan dimulai!"
"Akan sangat
gawat kalau Anda tidak bisa melindungi aset kami!"
"Kenapa
tidak segera mengusir musuh secepat mungkin?"
Noah menghadapi
setiap pertanyaan para pedagang itu satu per satu, menenangkan sekaligus
menyemangati mereka.
"Ophelia
sudah berangkat menuju perbatasan untuk menghalau musuh. Kota ini tidak akan
tersentuh api peperangan. Kalian tetaplah fokus pada aktivitas dagang dengan
tenang. Namun, berhati-hatilah saat mengirim barang di dekat perbatasan karena
bisa saja diserang musuh. Selain itu, kurangi pengangkutan menggunakan kereta
kuda skala besar agar tidak menghambat mobilitas pasukan di jalan raya. Jika
kalian melanggar ini, keamanan barang kalian tidak bisa dijamin."
Begitulah cara
Noah meladeni para pedagang hingga hari berakhir.
Keesokan harinya,
saat Noah sedang memberikan instruksi kepada para kapten peleton untuk
menghadapi dua negara lainnya, datang kabar bahwa Ophelia telah melewati
perbatasan dan merangsek masuk ke Wilayah Feinen.
Klaus, yang telah
menginvasi Wilayah Arcloy, mulai membumihanguskan ladang dan pemukiman, serta
menjarah kereta barang dan gudang yang diduga milik para pedagang besar.
Bagi Noah yang
merangkul para pedagang, ia pasti tidak akan bisa tinggal diam melihat kerugian
mereka. Klaus yakin, dengan mengancam keuntungan para pedagang, ia bisa
memancing Ophelia keluar.
Namun, meski
telah melakukan penjarahan sepanjang malam, Ophelia tak kunjung menampakkan
batang hidungnya.
Saat Klaus
bimbang apakah harus merangsek lebih dalam ke jantung wilayah, mata-matanya
melaporkan bahwa terlihat panji pasukan di bawah komando Ophelia di arah Kastil
Kruck.
Hebatnya,
mereka sedang mencoba memutar ke belakang Klaus. Ini jelas niat untuk menutup jalan pulang dan
membinasakan pasukannya tanpa sisa.
(Cukup sampai di
sini.)
Klaus segera
memutar balik pasukannya dan lari tunggang langgang menuju perbatasan. Ia
nyaris terkejar oleh unit pengejar Ophelia, namun berhasil lolos dan masuk
kembali ke Wilayah Feinen.
Begitu menyadari
bahwa orang yang menginvasi wilayahnya adalah Klaus, Ophelia mencambuk kudanya
dan memacu pasukannya lebih cepat.
(Dia datang,
Ophelia. Dengan ini tahap pertama berhasil.)
Klaus merasakan
tekanan luar biasa dari arah belakangnya. Permainan kejar-kejaran dengan sang
harimau telah dimulai.
Karena Klaus tahu
betapa "cepat kilat" gerakan Ophelia, ia memerintahkan anak buahnya
untuk menanggalkan zirah berat mereka dan berlari secepat mungkin menuju titik
yang telah ditentukan.
(Sisanya
tergantung pada dua negara lainnya. Kumohon, berjuanglah.)
Dengan perasaan
penuh doa, Klaus melangkah masuk ke jalan setapak yang sempit. Di depan sana,
ia telah menempatkan 500 pasukan penyergap untuk menyerang dan menahan laju
pasukan Ophelia.
◆◇◆
Lewat tengah
hari, Klaus mencoba untuk beristirahat sejenak.
(Apa kami sudah
berhasil menjaga jarak?)
Mereka telah
berlari sekuat tenaga tanpa zirah. Terlebih lagi, pasukannya sebenarnya hanya
berjumlah sekitar 2.000 orang.
Mustahil bagi
Ophelia yang mengejar dengan lebih dari 10.000 orang untuk bisa menangkap
mereka secepat itu.
Belum lagi
serangan dari pasukan penyergap tadi seharusnya memberikan kerugian. Ophelia
pasti akan menjadi waspada dan memajukan pasukannya dengan sangat hati-hati.
Namun, anehnya,
ia sama sekali tidak mendengar suara pertempuran dari pasukan penyergap yang
seharusnya sedang mengacaukan barisan Ophelia.
(Apa aku kabur
terlalu cepat?)
Akan gawat jika
ia kabur terlalu cepat dan membuat Ophelia memutuskan untuk pulang. Klaus
mengirim pengintai ke belakang. Tak sampai sepuluh menit, pengintai itu kembali
dengan wajah pucat pasi. Pasukan Ophelia sudah berada tepat di belakang mereka.
"Apa!?"
Klaus yang
terperanjat segera menghentikan makan siangnya dan kembali berlari sekuat
tenaga.
(Mustahil. Jumlah
pasukannya jauh lebih banyak. Kenapa mereka bisa bergerak secepat ini? Dan apa
yang dilakukan para penyergap itu!?)
Ternyata, Ophelia
mampu mendeteksi keberadaan penyergap dari bentuk medan, dan memajukan
pasukannya dengan kavaleri di garda depan.
Pasukan kavaleri
Ophelia adalah orang-orang pilihan dengan skill pengintaian tinggi yang telah
diseleksi oleh Noah.
Ksatria dengan
skill pengintai tinggi memiliki peluang besar untuk membongkar jebakan.
Begitu menemukan
musuh yang bersembunyi di semak-semak, mereka langsung menghujani dengan panah
atau menusuknya dengan tombak sebelum sempat menyerang. Setelah itu, mereka
kembali mengejar unit utama Klaus.
Sekarang,
kavaleri terdepan sudah berada tepat di belakang ekor pasukan Klaus. Suara
ringkikan kuda dan derap langkahnya bahkan sudah terdengar di telinga Klaus.
(Gawat.
Apa mereka mau langsung menyerang?)
Wajah
Klaus memucat. Jika bertempur sekarang, ia tidak punya peluang menang. Jumlah
musuh setidaknya lima kali lipat, sementara pasukannya tidak memakai zirah demi
kelincahan. Setidaknya ia harus bisa melarikan diri sampai ke titik penyergapan
berikutnya.
(Haruskah
aku mengorbankan barisan belakang untuk kabur?)
Saat
Klaus ragu, ia menyadari tanah di bawah kakinya mulai berlumpur.
Klaus bernapas
lega. Ini pasti akan memperlambat kavaleri musuh. Sehebat apa pun kavaleri
Ophelia, mereka tidak akan bisa berlari kencang di tanah berlumpur.
Hari itu, ia
nyaris terkejar namun berhasil meloloskan diri ke titik penyergapan kedua saat
senja tiba.
Tampaknya Ophelia
pun, meskipun hebat, tidak ingin memaksakan pertempuran di tengah kegelapan
malam di wilayah yang asing baginya. Tekanan dari arah belakang mereda, dan
Klaus akhirnya merasa bisa bernapas kembali.
Klaus tertidur
lelap dengan rasa lelah yang luar biasa menjalar di bahu dan kakinya.
Dikejar oleh
Ophelia ternyata benar-benar menguras kesehatan mentalnya. Begitu fajar mulai
menyingsing, permainan kejar-kejaran hidup dan mati itu dimulai kembali tanpa
ampun.
◆◇◆
Setelah itu, unit
Klaus terus-menerus terpapar pengejaran Ophelia.
(Sial. Masih
belum bisa lepas juga.)
Derap kaki dan
suara teriakan manusia di belakangnya tidak kunjung menghilang.
(Apa musuh-musuh
ini berlari tanpa makan dan minum?)
Klaus melirik
jumlah pasukannya. Dari 2.000 prajurit, kini hanya tersisa 1.500 orang.
Mereka bukan
gugur dalam pertempuran, melainkan tumbang karena kram otot, kelaparan, atau
hilang kendali karena panik dan ketakutan. Klaus sendiri sudah mencapai
batasnya.
Terus-menerus
berada dalam kondisi ekstrem selama beberapa hari membuat pipinya cekung dan
lingkaran hitam tebal menghiasi matanya.
Rasanya ia tidak
benar-benar "hidup" selama beberapa hari terakhir ini. Selama
matahari terbit, ia selalu dikejar. Semua penyergapnya berhasil dibongkar.
Musuh yang ia
pikir mudah disesatkan justru semakin tajam dalam melakukan pengejaran.
"Jika sampai
ke titik itu, kita akan selamat!"
"Kali ini
kita pasti bisa melepaskan diri!"
Ia terus
memberikan kata-kata motivasi untuk membangkitkan semangat prajuritnya.
Namun setiap kali
mereka mencapai titik tujuan, ia segera sadar bahwa itu belum cukup untuk
lolos, lalu ia menetapkan titik tujuan yang lebih jauh lagi. Begitu seterusnya.
Bukan hanya
prajurit yang kelelahan, mental Klaus sendiri hampir gila. Bahkan, ada saat di
mana ia tidak ingat sudah hari keberapa mereka melarikan diri.
Beruntung ia
hafal medan sehingga masih bisa tahu posisi mereka saat ini. Rencana awalnya
untuk melakukan gerak mundur di jalan terjal wilayah sendiri demi keuntungan
tempur telah hancur berkeping-keping.
(Pokoknya aku
harus mengulur waktu! Jika aku bisa mengulur waktu, dua negara lainnya pasti
akan bertindak!)
Dengan mata merah
membara, Klaus terus berlari sekuat tenaga menghindari derap langkah kuda yang
terus mendekat.
◆◇◆
Hari kelima
pengejaran musuh. Ophelia mulai merasa kagum pada jenderal musuh itu.
(Dikejar sejauh
ini tapi masih belum tertangkap juga. Lumayan hebat.)
Pasukan penyergap
yang ditempatkan untuk menghambat. Jumlah pasukan yang disesuaikan dengan
kemampuannya sendiri, yaitu 2.000 orang. Infanteri ringan yang menanggalkan
zirah agar mudah melarikan diri. Serta pemilihan rute melalui jalan pegunungan
dan hutan yang sulit untuk melancarkan pertempuran terbuka.
Dengan strategi
seperti ini, secepat apa pun gerakan pasukannya, memang sulit untuk benar-benar
menyusul. Bahkan memasukkan mereka ke dalam jarak tembak pemanah pun terasa
sulit.
(Menghancurkan
kelebihanku dan memanfaatkan kelebihannya sendiri. Formasi dan strategi yang dipikirkan dengan
sangat matang. Klaus si Ahli Strategi... ternyata kecerdikannya melebihi
reputasinya.)
Ophelia
mengunyah kue pemberian Noah sambil terus memacu kudanya.
(Ah, kue
ini enak sekali. Noah-sama...)
Merasakan
hubungan dengan Noah meski sedang terpisah di medan perang membuat sudut bibir
Ophelia sedikit terangkat. Namun sedetik kemudian, ekspresinya kembali
menegang.
——Klaus
si Ahli Strategi, dia adalah bagianmu, Ophelia.——
(Perintah
Noah-sama adalah mutlak...)
"Kepala
Klaus si Ahli Strategi... hari ini juga aku akan mengambilnya. Persiapan sudah matang, bukan?"
Saat Ophelia
meneriakkan perintah itu, hawa dingin menjalar di antara para perwira dan
prajuritnya.
Jika mereka gagal
mengambil kepala Klaus hari ini, tidak terbayang betapa mengerikannya kemarahan
Ophelia nanti.
Jika Ophelia
bilang hari ini, maka harus hari ini.
Bagi para
prajurit, Ophelia jauh lebih menakutkan daripada musuh mana pun.
(Memang benar dia
punya Command dan Strategy kelas B. Tapi pada akhirnya, itu hanya
kelas B...)
Ternyata sejak
beberapa hari lalu, Ophelia sudah membagi pasukannya menjadi tiga bagian dan
menyusun siasat.
◆◇◆
Klaus menyadari
bahwa tekanan dari belakang sedikit berkurang.
(Tiba-tiba sepi
sekali...)
Saat ia merasa
curiga, laporan dari pengintai di depan masuk.
"Lapor! Dua
ribu tentara musuh sudah bersiaga menunggu di depan kita!"
"Apa!?"
Ternyata, sembari
berpura-pura mengejar dengan seluruh pasukan dari belakang, Ophelia secara
diam-diam telah mengirim unit terpisah untuk mendahului mereka.
Ia memilih
orang-orang yang terbiasa bergerak di malam hari dan memaksa mereka melakukan forced
march siang malam untuk memutar arah. Dengan ini, posisi jepit telah
sempurna.
(Sial, apa ini
akhir dari segalanya?)
"Begitu
ya..."
Anehnya,
Klaus justru merasa sedikit lega mendengar laporan ini. Meski terlihat seperti
terjepit, sebenarnya di tengah rute ini terdapat jalan setapak kecil yang hanya
diketahui penduduk lokal.
Jalan itu hanya
bisa dilewati satu orang dan sangat sulit disadari jika hanya dilihat sekilas.
(Tampaknya
Ophelia yang hebat sekalipun tidak menyadari keberadaan jalan ini.)
Jika musuh
menunggu di depan, maka melarikan diri melalui jalan setapak ini berarti ia
telah berhasil mengakali rencana Ophelia. Gadis itu pasti akan bingung dan
kehilangan jejak mereka.
Dalam waktu itu,
ia bisa bergabung dengan pasukan utama Feinen berjumlah 8.000 orang untuk
mengulur waktu lebih lama.
Klaus segera
berlari masuk ke jalan setapak itu, menoleh ke belakang untuk memastikan tidak
ada pengejar, dan menghela napas lega.
(Bagus. Jika
keluar dari sini, kami akan sampai di tanah lapang yang luas. Hm? Tanah lapang
yang luas?)
Tiba-tiba Klaus
merasa ada yang salah dengan kata-kata di pikirannya sendiri.
Tanah lapang yang
luas. Bukankah itu medan yang paling menguntungkan bagi Ophelia untuk
melancarkan serangan terbuka?
Namun, Klaus
sudah telanjur memerintahkan pasukannya melewati jalan setapak itu.
Barisan prajurit
tidak bisa berhenti. Begitu mereka keluar dari jalan setapak dan menarik napas
lega, yang terlihat di depan mata mereka adalah tanah lapang luas yang sudah
ditempati oleh unit yang dikirim Ophelia secara rahasia. Terlebih lagi, unit
itu didominasi oleh pasukan pemanah.
Elsa telah
menggelar unit pemanahnya sedemikian rupa hingga seluruh area tanah lapang
masuk dalam jarak tembak mereka.
"Hieee!"
Pasukan Klaus
hanyalah infanteri ringan. Mustahil bagi mereka untuk menahan hujan panah dari
pasukan pemanah yang sudah bersiap.
Bayangan masa
lalu mendadak melintas di benak Klaus. Itu adalah saat ia berhasil melakukan
serangan kejutan di Perang Bolda.
"Hahaha!
Kita benar-benar beruntung karena di pasukan musuh tidak ada Jenderal Iblis
Zekiel."
Atasan Klaus
berkata demikian waktu itu.
"Jenderal
Iblis Zekiel? Siapa itu?"
"Dia adalah
jenderal pasukan iblis yang mengancam umat manusia sepuluh tahun lalu. Dia
memimpin 100.000 prajurit, membagi mereka menjadi tiga unit dan
mengendalikannya dengan bebas untuk menggilas pasukan manusia. Dia merebut dua
puluh persen wilayah kita. Karena terlalu kuat, ia bahkan ditakuti oleh Raja
Iblis sendiri dan akhirnya dipenjara. Dia adalah Jenderal Iblis legendaris."
"Anda
bercanda? Mengendalikan 100.000 prajurit seperti itu? Mana mungkin ada jenderal seperti itu."
"Oh, dia
nyata. Yah, pokoknya kita selamat. Jika ada dia, rencana serangan kejutanmu
pasti akan terbongkar seketika, dan mungkin sekarang nyawamu sudah
melayang."
Klaus hanya
menganggap itu sebagai bualan orang tua saat itu.
◆◇◆
Kini, Klaus
menyaksikan bualan itu menjadi nyata tepat di depan matanya.
(Ternyata
dia benar-benar ada. Kemampuan Command dan Strategy untuk
mengendalikan ribuan pasukan secara bebas... kekuatan yang setara dengan
Jenderal Iblis Zekiel. Inilah
kekuatan kelas terkuat A...)
Anak panah mulai
dilepaskan.
"Tiaraaap!"
Meskipun pasukan
Klaus berhasil menghindari hujan panah pertama dengan tiarap di tanah, suara
derap langkah pasukan besar dari belakang menyadarkannya akan kekalahan.
Jika kavaleri
datang dari belakang saat mereka sedang tiarap, mereka hanya akan
terinjak-injak sampai mati.
Tidak ada celah lagi untuk menang. Klaus pun menyerah.



Post a Comment