NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Hikichi ni Tsuihō Sareta Utsuke Ryōshu Kantei Sukiru de Saikyō no Haika-tachi to Tomo ni Chō Taikoku o Tsukuru Volume 1 Chapter 14

Chapter 14

Penyihir Ketamakan


Di kediaman Archduke, seorang pelayan terus membersihkan kamar Noah yang kini terasa sepi, seolah hanya melakukannya karena kebiasaan.

(Haaah. Apa ada gunanya terus membersihkan kamar yang penghuninya sudah tidak ada?)

Akhir-akhir ini, suasana di kediaman Archduke diselimuti oleh rasa sesak yang tak terlukiskan.

Memang sejak dulu wilayah Archduke sudah terasa stagnan akibat perang yang berkepanjangan, namun sejak kepergian Noah, udara di sana terasa semakin berat dan menyesakkan.

Sang Archduke yang mudah tersinggung kini lebih sering melampiaskan amarahnya pada para pelayan, yang tentu saja berimbas pada para pelayan senior yang ikut melampiaskannya pada bawahan mereka.

Semakin sering teguran dilontarkan, semua orang menjadi semakin ciut dan tegang, sehingga kesalahan serta kesia-siaan bukannya berkurang, malah membuat pekerjaan tidak pernah selesai.

Pelayan ini berpikir, rasa sesak ini sebagian besar disebabkan oleh hilangnya sosok Ophelia yang—bagaimanapun juga—selalu mengerjakan tugasnya dengan sempurna.

(Kalau tahu akan begini, mungkin seharusnya aku ikut Noah-sama saja waktu itu.)

Mereka yang tidak terpilih menjadi pelayan bawaan Albert, Ian, atau Rudolf, hanya punya dua pilihan: mengikuti Noah atau tetap tinggal di kediaman Archduke.

Karena masa depan Noah yang terlihat terlalu tidak menentu, ia memilih tetap tinggal, namun sekarang ia merasa keputusan itu mungkin sebuah kesalahan.

Saat ia sedang melamun sambil menopang dagu di ambang jendela, tiba-tiba muncul seorang penyihir yang mengenakan pakaian hitam longgar sambil menunggangi sapu terbang.

Si pelayan tersentak kaget.

"A-apa kamu Lucy? Kamu sudah kembali?"

"Yahhoo. Lama tidak jumpa. Apa Noah-sama ada?"

"Noah-sama sudah berangkat ke pelosok Arcloy. Beliau pergi setelah menyelesaikan upacara kedewasaannya."

"Ariya. Begitu ya. Jadi dia sudah mandiri sekarang."

"Bukan mandiri. Beliau diusir dan keluar setelah diputus hubungan keluarga."

"Ah, benar juga. Kalau tidak salah rencananya memang begitu, ya."

Lucy terkekeh dengan nada penuh arti.

Si pelayan merasa sedikit kesal dengan sikap Lucy. Seolah-olah gadis itu jauh lebih memahami urusan Noah dibandingkan dirinya yang selama ini terus berada di kediaman Archduke.

"Kenapa kamu mencari Noah-sama? Bukankah dulu kamu melayani Ian-sama, lalu diusir?"

"Benar. Aku dibenci oleh Ian-sama. Tapi sekarang, aku adalah ksatria Noah-sama."

"Hah? Apa-apaan itu. Kenapa kamu bisa jadi ksatria?"

"Tepatnya sih, rencananya akan dijadikan ksatria. Yah, pokoknya Noah-sama pergi ke Arcloy, kan? Kalau begitu, aku akan ke sana juga."




"Tunggu sebentar, Lucy!"

Suara pelayan yang mencoba menghentikannya sama sekali tidak dihiraukan. Penyihir bernama Lucy itu telah terbang jauh ke angkasa.

"Apa-apaan dia itu."

Noah memandang ke arah lahan pertanian dari balkon Kastil. Di sana, terlihat kaum Ogir sedang menunggangi kuda dan sapi, mengendalikan hewan-hewan itu untuk menarik bajak.

(Diskriminasi terhadap kaum Ogir sudah mulai berkurang ya.)

Ide Noah untuk memberikan kuda dan sapi kepada kaum Ogir agar bisa membajak sawah kini telah menyebar hingga ke bekas wilayah Kruck dan Luke.

Sekarang, justru rumah yang tidak mempekerjakan Ogir untuk membajak lah yang dianggap aneh. Hasil panen tahun depan pasti akan melonjak dua kali lipat.

Saat Noah sedang memikirkan hal itu, suara keributan terdengar dari arah taman. Seekor kuda terlihat berlari kencang mengelilingi halaman Kastil Kruck.

Di atas pelana, duduk seorang gadis kecil bertanduk yang masih sangat belia dan tampak polos.

"Kuda-kuda, lari cepat! Paka-pakaaa!"

"Uwah. Fauna?"

"Apa yang dia lakukan?"

Ternyata Fauna sedang memacu kudanya ke sana kemari, membuat para penjaga gerbang kewalahan.

Para prajurit Kastil berusaha menangkapnya, namun kuda yang ditunggangi Fauna justru melompat tinggi melewati kepala mereka.

Kuda itu terus melaju hingga akhirnya berhenti tepat di depan beranda tempat Noah dan Ophelia sedang duduk.

"Tuan Penguasaaa, aku bawa surat niih!"

Fauna melompat turun dari kuda dan menyerahkan sepucuk surat dengan cap pos dari Dressen kepada Noah.

"Hahaha. Kerja bagus."

Fauna menambatkan kudanya di tempat pengikatan, lalu dengan santai duduk di pangkuan Noah. Melihat ini, para prajurit Kastil hanya bisa angkat tangan pasrah.

Fauna

Mounted Combat: A (↖↖↖↖)

(Aduh-aduh. Dia sudah jadi penunggang kuda Rank A ya? Kecepatan belajar anak-anak memang selalu luar biasa.)

Noah telah memberikan seekor kuda pacu yang hebat kepada Fauna.

Sebagai gadis Ogir, Fauna menunjukkan bakat menungganginya secara maksimal hingga ia sanggup mengendalikan seluruh kuda yang ada di dalam Kastil.

Awalnya Noah memberinya seekor anak kuda sebagai teman bermain, namun sepertinya ia cepat merasa bosan dan merengek ingin menunggangi kuda dewasa.

Tanpa sadar, ia telah menjadi penunggang kuda terbaik di Kastil. Sekarang, bahkan kuda yang temperamennya paling liar sekalipun sanggup ia jinakkan tanpa kesulitan.

Noah menugaskan Fauna untuk menangani urusan korespondensi dengan wilayah Dressen. Melihat gadis kecil seperti Fauna bekerja giat sebagai bawahan penguasa memberikan harapan baru bagi hati rakyat Dressen yang sempat gersang.

Rencana untuk memanfaatkan kaum Ogir dari Dressen sebagai tenaga kerja dan kekuatan militer mulai berjalan mulus. Namun, di balik itu, perasaan Noah dan Ophelia sama sekali tidak tenang.

Di Arcloy, hubungan Noah dengan para penguasa wilayah lokal masih tetap tegang.

Meskipun ia telah menjatuhkan wilayah Luke dan menyatukannya, tiga penguasa lainnya—Duke Finen, Duke Kiesel, dan Duke Viek—masih tidak mau mengubah sikap bermusuhan mereka.

Sebaliknya, permusuhan mereka terhadap Noah justru semakin meruncing. Tampaknya ketiga negara tersebut berniat untuk bersekutu melawan Noah.

Mereka sering bertukar utusan dan sandera untuk memperkuat persatuan, serta menerima pelarian dari mantan pejabat tinggi wilayah Kruck dan Luke.

Para pelarian itu aktif menyebarkan teori ancaman tentang Noah; mengklaim bahwa nyawa mereka terancam jika berada di bawah Noah, menuduhnya sebagai penakluk yang kasar, tiran yang hanya mengulang penindasan dan kekejaman, serta meramalkan bahwa ia akan menjajah negara lain dengan cara yang sama.

Selain itu, ketiga negara tersebut melakukan sanksi ekonomi. Wilayah Noah yang terpencil mulai kesulitan mendapatkan pasokan garam dan besi.

Mereka memprovokasi para pedagang dengan mengatakan, "Duke Arcloy adalah tiran yang menindas pedagang keliling. Lebih baik jangan mendekati wilayahnya," dan melarang mereka masuk ke Arcloy.

Berbagai desas-desus yang merusak reputasi serta tindakan permusuhan ini sudah mencapai batas yang tidak bisa lagi diabaikan oleh Noah.

Namun, Noah masih ragu untuk menyatakan perang.

"Perang jangka panjang akan merugikan kita."

Itulah pendapat Ophelia.

"Markas ketiga musuh tersebut terpisah-pisah. Jika mereka bertahan di dalam Kastil, perang jangka panjang tidak akan bisa dihindari. Selain itu, kekuatan utama kita adalah prajurit paruh waktu yang juga petani. Karena mereka harus menggarap lahan, mereka tidak akan sanggup menjalani dinas militer dalam waktu lama. Karena itu, sebaiknya kita mengatur segalanya agar terjadi pertempuran jangka pendek."

Masalahnya, ketiga negara tersebut sepertinya memang berniat untuk bertahan di dalam benteng.

Setelah mendengar bahwa kekalahan Duke Luke disebabkan oleh kekuatan busur dan panah, mereka memperkuat pertahanan Kastil agar lebih tahan terhadap serangan panah.

Kabarnya, mereka bahkan memperoleh busur yang telah diperkuat secara mandiri dan melatih pasukan pemanah mereka.

Dalam perang jangka panjang, jumlah ksatria yang bisa bertugas sepanjang tahun adalah penentu kemenangan.

Dalam hal ini, jumlah ksatria di ketiga negara tersebut setara dengan jumlah ksatria di wilayah Arcloy.

Untuk menambah jumlah ksatria, Noah perlu meningkatkan kekuatan ekonomi dan kekayaan istana agar para prajurit bisa makan tanpa harus bertani.

Namun, saat ini distribusi barang sedang mandek akibat sanksi ekonomi. Masalah ini seolah menjadi lingkaran setan yang tak berujung.

(Apa sebaiknya kita coba menyerang saja, untung-untungan?)

Ophelia ragu apakah harus menyarankan hal itu. Jika perang benar-benar pecah, tidak ada yang tahu bagaimana ketiga negara itu akan bergerak.

Sangat diragukan apakah mereka benar-benar bisa bergerak secara serempak.

Fakta bahwa markas mereka terpisah sebenarnya bisa menjadi keuntungan bagi pihak Noah. Berkoordinasi dan menjalin komunikasi yang erat di tengah perang adalah hal yang sangat sulit.

Begitu diserang, mungkin mereka akan melupakan rencana awal dan keluar menyerang secara serampangan, atau sebaliknya, langsung ketakutan dan menyerah.

Jika satu negara saja bisa dipaksa menyerah, aliansi mereka akan hancur.

Lagi pula, meskipun jumlah prajurit dan kualitas perlengkapan mereka seimbang, pihak Noah memiliki prajurit dengan statistik tinggi yang ditemukan dan dilatih melalui kemampuan Appraisal milik Noah.

Dalam hal Leadership, Tactics, Melee, Marksmanship, Mounted Combat, Field War, dan Siege, pihak Noah seharusnya unggul telak. Ini bukanlah perang yang tidak bisa dimenangkan.

(Hanya saja, Noah-sama harus memantapkan tekadnya terlebih dahulu.)

Ophelia masih bimbang untuk memberikan usulannya. Sambil makan bersama, ia mencuri pandang ke arah wajah Noah dengan ragu-ragu.

"Jangan memasang wajah cemas begitu, Ophelia. Aku sudah menyiapkan langkah selanjutnya."

"?"

"Benar juga. Sepertinya sudah waktunya aku memberitahumu. Setelah makan selesai, kita akan keluar."

Tempat yang didatangi Noah dan Ophelia ternyata adalah sebuah gereja.

(Gereja... Apa beliau akan meminjam kekuatan Santa-sama?)

"Ophelia, sekarang akan kuberitahu alasan sesungguhnya kenapa kita menyerang wilayah Kruck. Itu adalah untuk mendapatkan gereja ini."

"Gereja ini?"

Ophelia menatap gereja itu lekat-lekat. Memang bangunan yang megah. Terbuat dari batu yang kokoh dengan menara tinggi yang menjulang.

Tanpa ragu, ini adalah gereja terbesar di seluruh wilayah Arcloy. Fasilitas gereja sebesar ini bahkan jarang ditemukan di wilayah Archduke.

(Memang gereja yang hebat, tapi apa hubungannya dengan kesulitan kita saat ini?)

"Ini bukan sekadar gereja."

"……Maksud Anda?"

"Gereja ini adalah pelabuhan bagi wilayah Arcloy kita."

(Pelabuhan!? Gereja ini? Apa maksudnya? Apa yang sebenarnya direncanakan Noah-sama?)

Ophelia kembali mengamati gereja itu dengan saksama.

(Memang benar pelabuhan adalah fasilitas penting untuk meningkatkan kekuatan negara.

Dengan pelabuhan, kita bisa mengangkut logistik dalam jumlah besar melalui laut, melakukan perdagangan, serta mempercepat mobilisasi pasukan, tapi……)

"Kamu memasang wajah bingung ya."

"Tuanku. Mohon maaf sebelumnya, tapi gereja ini tampaknya sangat jauh dari definisi pelabuhan. Memang ini gereja terbesar di Arcloy, volumenya besar dan punya ruang yang cukup untuk bongkar muat barang. Namun, syarat terpenting untuk menjadi pelabuhan adalah kapal dan laut, dan di sini tidak ada keduanya."

"Oh, analisis yang bagus. Tapi soal kapal itu masalah nanti, kalau laut... aku sudah menyiapkannya. Lihatlah menara itu."

"Menara?"

(Menara. Hanya sebuah bangunan tinggi, dan di sekelilingnya cuma ada langit... Tunggu! Langit?)

"Jangan-jangan, Tuanku..."

"Kamu menyadarinya? Benar. Jika kita bisa mengangkut barang melalui udara, maka menara itu akan menjadi pelabuhan. Sekarang tinggal menunggu dia datang saja……"

"Oiii, Tuan Muda Noah!"

Muncul seorang gadis bertopi runcing sambil memegang sapu terbang.

"Kau... Lucy!?"

Ophelia membelalakkan mata melihat teman lamanya yang sudah lama tidak bertemu.

"Ooh, aku sudah bosan menunggumu, Lucy. Dari mana saja kau?"

"Ehehe. Lama tidak jumpa. Negosiasiku dengan Penyihir Agung agak sedikit alot tadi, makanya butuh waktu lama untuk bergabung kembali."

Lucy berjalan mendekat dengan gaya jalan yang aneh dan agak terseok-seok. Sepertinya kakinya mati rasa karena terbang terlalu lama. Begitu melihat bangunan gereja, ia langsung mengernyitkan dahi.

"Tuan Muda. Cerita panjangnya nanti saja, ayo kita pergi dari sini dulu. Seperti yang Anda tahu, kami para penyihir sangat tidak disukai oleh gereja. Berjalan sampai ke sini saja sudah sangat berat bagiku, karena aku harus terbang sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan pihak gereja."

"Tenang saja. Ini wilayahku. Aku sudah menjalin hubungan baik dengan Saintessgereja ini. Aku juga berniat memberitahunya tentangmu sekarang."

"Hah. Begitu ya."

"Hei, Lucy."

Ophelia berdiri menghadang di depan Lucy.

(Ugh, dia masih tetap besar saja ya.)

Lucy merasa sedikit terintimidasi.

"Berhenti memanggilnya 'Tuan Muda'. Noah-sama sudah menjadi penguasa yang terhormat sekarang."

"Ah, benar juga. Duke Arcloy, kan?"

"Kau... apa kau benar-benar berniat mengabdi pada Tuanku? Jika kau tidak bisa bersumpah setia pada beliau, kau tidak akan bisa menjadi ksatria penguasa."

Mendengar itu, Lucy mendengus kesal.

"Sopan sedikit dong. Aku juga sudah bersumpah setia pada Noah-sama tahu! Dengan modal dari Noah-sama, aku akan memperjualbelikan barang yang menguntungkan, dan benar-benar mencari uang!"

(Isi kepalanya cuma uang saja. Masih tetap si pelit yang sama seperti dulu.)

Ophelia masih belum bisa sepenuhnya memercayai Lucy.

(Bagaimana pun aku memikirkannya, dia mendekati Tuanku pasti hanya demi uang. Jangan-jangan dia nanti akan menjual jiwanya demi emas dan mengkhianati Noah-sama begitu saja.)

"Jangan khawatir, Ophelia."

Melihat tatapan tajam Ophelia pada Lucy, Noah segera menengahi.

"Obsesi Lucy terhadap uang adalah sesuatu yang tulus. Dia tidak akan berkhianat semudah itu."

(Tuanku, justru bagian itulah yang paling membuat saya khawatir……)

Noah teringat kembali saat pertama kali ia bertemu Lucy.

Kejadian itu terjadi saat Ophelia sudah menjadi pendekar pedang terbaik di wilayahnya.

Kala itu, Noah sedang mencari sumber daya manusia yang bisa menangani kebijakan ekonomi sebagai langkah selanjutnya setelah mandiri.

Jujur saja, pada tahap ini Noah masih ragu apakah ia benar-benar harus mandiri atau tidak.

Pasalnya, di Arcloy yang tidak memiliki komoditas unggulan, kebijakan perdagangan akan sulit dijalankan dan batas aktivitasnya sudah terlihat jelas.

Di saat itulah, kakak keduanya, Ian, berkonsultasi tentang seorang suster yang memiliki tangan panjang dan sangat kikir.

"Suster yang kikir?"

"Ya. Ada seorang gadis yang pelitnya minta ampun."

Ian menghela napas panjang sambil membetulkan letak kacamatanya dengan wajah frustrasi.

"Kalau disuruh belanja bahan makanan, dia sengaja membeli barang dengan kualitas yang sangat buruk dan menyajikan makanan yang tidak enak pada tamu. Dia juga pelit soal minyak untuk kaki dian, sampai-sampai api padam di tengah upacara penting dan ruangan jadi gelap gulita. Saat disuruh memesan kayu untuk memperbaiki atap, dia memesan kayu kualitas rendah dalam jumlah sedikit, alhasil atapnya langsung bocor lagi. Pokoknya, segala sesuatu dilakukan dengan cara seperti itu."

"Begitu ya. Memang terdengar sangat pelit."

"Benar-benar parah. Gara-gara dia, gereja di bawah yurisdiksiku terus-terusan menerima keluhan."

"Kenapa suster itu bersikap sekikir itu?"

"Entahlah. Tapi ada rumor kalau dia menggelapkan uang sisa atau menjual kembali bahan-bahan yang dipesan."

"Itu... terdengar cukup berbahaya."

"Tepat sekali. Kamu, apa bisa melakukan sesuatu?"

Ian mengakui bakat Noah dalam menempatkan orang di posisi yang tepat. Noah pernah memindahkan suster yang pemalu dari bagian pelayanan tamu ke bagian administrasi internal.

Ia juga menjadikan suster yang terlalu galak sebagai juru runding. Ian telah banyak mengandalkan kekuatan Noah dalam berbagai hal.

"Baiklah. Aku akan coba menemuinya dulu."

"Ya. Aku percayakan padamu."

Begitulah, Noah memutuskan untuk menemui suster yang kikir itu, Lucy.

◆◇◆

Saat Noah mendatangi bengkel kerja Lucy, ia melihat gadis itu sedang mengumpulkan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi. Sepertinya ia sedang mengumpulkan potongan kain perca. Ia berniat menggunakan kain yang seharusnya dibuang itu untuk sesuatu.

"Lucy."

Ketika dipanggil, gadis itu menoleh. Benar saja, ia terlihat seperti gadis yang sudah terbiasa hidup melarat. Pakaian pelayannya memiliki tambalan yang tak terhitung jumlahnya, dan celemeknya sudah berubah warna jadi kecokelatan namun ia tidak mau menggantinya. Matanya yang bergerak lincah tampak sangat lihai dan penuh perhitungan. Ia menatap Noah dengan penuh kecurigaan. Noah segera menggunakan Appraisal.

(!? Ini!?)

Lucy

Flight: F → A

Storage: E → S

Resupply: C → A

Greed: C → A

(Statistik Flight dan Storage-nya sangat tinggi. Ini bakat Rare Skill. Bukan, lebih dari itu... dia bukan sekadar pelit. Motivation Skill miliknya adalah Greed, dan itu berada di Rank A.)

"Anu, Anda siapa ya?"

Lucy menatap Noah dengan curiga.

"Ah, maaf. Aku Noah. Putra keempat Archduke Uebel."

"Ah, ternyata adik dari Ian-sama."

Lucy berhenti waspada dan sikapnya berubah menjadi sangat sopan.

"Saya sudah mendengar ceritanya. Katanya Anda yang akan menentukan posisi saya. Saya sangat berterima kasih karena Anda mau menyempatkan diri datang kemari."

"Tidak apa-apa. Hanya saja, Kamu... sepertinya butuh sedikit penanganan khusus."

Noah melirik tumpukan kain perca yang sedang dikumpulkan Lucy dengan giat.

"Kamu itu... sepertinya sangat suka berhemat ya. Kenapa sampai sejauh itu?"

"Hehehe. Sudah jelas kan? Tentu saja demi uang. Jika saya mengumpulkan kain rombeng seperti ini dan menyimpannya untuk saat darurat, kalau baju sobek saya tinggal menjahitnya dan tidak perlu beli baju baru. Artinya, itu adalah penghematan biaya!"

"……Begitu ya."

Noah akhirnya mengusulkan pada Ian agar Lucy dititipkan padanya, karena sifat kikirnya tampak sudah mendarah daging. Ian pun menyetujuinya.

Begitulah, Lucy mulai bekerja sebagai pelayan Noah. Ophelia awalnya tidak suka ada orang lain selain dirinya yang mengurus Noah (dia punya sifat posesif yang cukup kuat), namun setelah dijelaskan bahwa ini adalah persiapan untuk kemandirian di masa depan, ia pun setuju meski dengan berat hati.

Lagi pula, saat itu Ophelia sudah dijadwalkan untuk dikirim ke garis depan pasukan Albert, jadi ia sadar harus ada pelayan baru yang mengurus Noah.

Sebagai pelayan Noah, Lucy sebenarnya bekerja dengan sangat serius.

Hanya saja, sifat kikirnya tidak berubah. Biaya hidup Noah berkurang drastis sampai-asampai Noah kagum bagaimana bisa seseorang terpikir cara berhemat sejauh itu.

Meski begitu, ia sama sekali tidak pernah melakukan tindakan kriminal seperti penggelapan uang yang dicurigai oleh Ian. Ia selalu melaporkan uang sisa kepada Noah dan mengembalikannya.

Kadang ia memang meminta uang jajan atau upah tambahan, tapi ia tidak pernah mengambil tanpa izin. Setidaknya sejauh pengamatan Noah, tidak ada jejak ia mencuri uang atau perlengkapan.

(Kalau begitu, berarti ada orang lain yang menggelapkan uang sisa hasil penghematan Lucy?)

Noah sempat bimbang apakah harus melaporkannya pada Ian, namun karena merasa masalahnya akan menjadi rumit, ia mengurungkan niatnya.

Jika bukan Lucy pelakunya, berarti sang pelaku asli masih bekerja di gereja bawah naungan Ian, dan cepat atau lambat Ian pasti akan menyadarinya sendiri.

Menuduh orang lain tanpa bukti di tempat kerja orang lain hanya akan mendatangkan masalah.

(Yang lebih penting adalah Lucy.)

Jika seseorang berantakan dan serakah, ia akan jatuh ke dalam kemalasan. Namun jika ia serius dan serakah, itu bukanlah keserakahan biasa, melainkan ambisi yang rajin.

 Di bawah kendali etika dan perencanaan yang teratur, ia akan terus mencari uang tanpa henti—sebuah keserakahan tanpa dasar.

Di masa depan, saat membangun negara mandiri, dia bisa menjadi jantung yang menyokong ekonomi negara tersebut.

(Tapi jika dibiarkan begini, dia hanya akan jadi orang pelit yang menyedihkan. Aku harus memicu keserakahan Lucy ke arah yang benar.)

Suatu hari, Noah memanggil Lucy dan memberitahu bahwa ada keluhan dari sesama pelayan.

Mereka merasa ngeri melihat Lucy mengais sampah di tengah malam. Faktanya, rambut dan pakaian Lucy seringkali kotor akibat aktivitas tersebut.

"Lucy, berhentilah mengais sampah."

Mendengar itu, Lucy tertunduk lesu. Sepertinya ia sadar tindakannya tidak disukai orang di sekitarnya.

"Omong-omong, Lucy. Apa kamu suka mencari uang?"

"Iya! Saya sangat suka! Lihat ini, Tuan."

Lucy mengeluarkan sekeping koin emas dari sakunya. Itu adalah aset yang ia dapatkan dari hasil mengais sampah dengan serius, menjual barang yang bisa dijual, dan berhemat sampai batas maksimal.

Jumlah yang mustahil dikumpulkan oleh pelayan biasa. Itu adalah hasil dari sifat kikir, kerja keras, dan obsesinya pada uang. Lucy memandangi koin itu sambil tersenyum licik.

"Baiklah. Kalau begitu, aku akan ajarkan cara mencari uang selain dengan berhemat."

"Hooo. Memangnya ada cara seperti itu?"

"Ada sebuah konsep bernama Kapitalisme."

"Kapitalisme? Apa itu?"

"Yah, singkatnya begini: ini adalah sistem di mana semakin banyak uang yang Kamu gunakan, semakin banyak pula uang yang bisa Kamu hasilkan."

"Apa... katamu?"

Lucy tercengang. Ia sampai tidak sengaja menjatuhkan nampan yang dipegangnya.

"Bagaimana mungkin ada hal seperti itu?"

"Tepatnya begini: ini adalah mekanisme di mana semakin besar investasi yang Kamu lakukan, semakin besar pula keuntungan yang Kamu dapatkan."

(Sesuatu... sesuatu seperti itu ternyata ada di dunia ini……)

"Nah, untuk memahami ini, mungkin Kamu harus mulai dengan memahami perdagangan lintas wilayah. Kamu akan mulai berkecimpung dalam bisnis, mau coba?"

"Saya mau!"

Lucy menjawab dengan wajah cerah. Noah memutuskan untuk memulai bisnis dengan memanfaatkan Skill Storage milik Lucy.

Skill Storage pada dasarnya adalah kotak barang ajaib. Ia bisa menyimpan sejumlah item di ruang dimensi lain tanpa mempedulikan berat atau volumenya.

Noah meminjam uang dari lintah darat atas namanya sendiri, lalu pergi melakukan perjalanan bersama Lucy.

Di pasar atau pusat produksi, mereka membeli barang sebanyak mungkin yang bisa ditampung dalam Storage, lalu menjualnya kembali.

Mereka mulai dari komoditas yang permintaannya tidak pernah mati, seperti garam, gula, alkohol, besi, gandum, rempah-rempah, dan logam mulia.

Barang yang dibawa Noah dan Lucy bisa dijual lebih murah daripada pedagang lain.

Pasalnya, berkat Skill Storage Lucy, mereka hampir tidak mengeluarkan biaya transportasi. Biaya tenaga kerja pun hanya untuk Lucy seorang. Mereka juga tidak perlu membayar biaya sewa gudang.

Lucy dengan cepat menguasai dasar-dasar menjadi pedagang. Ia menjadi peka terhadap fluktuasi harga pasar, belajar pembukuan, dan mampu mengelola modal.

Ia juga mulai memperhatikan penampilan karena sadar bahwa kepercayaan adalah hal terpenting bagi pedagang. Terinspirasi oleh pasar yang belum pernah ia sentuh sebelumnya, level Greed, Storage, dan statistik Lucy melesat dengan sangat cepat.

Lucy

Storage: C (↖↖)

Greed: B ()




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close