NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Hikichi ni Tsuihō Sareta Utsuke Ryōshu Kantei Sukiru de Saikyō no Haika-tachi to Tomo ni Chō Taikoku o Tsukuru Volume 1 Chapter 13

Chapter 13

Perubahan Hati sang Saintess


Elsa lahir dari keluarga pengrajin, bukan dari kalangan ksatria. Dia sangat suka membuat perkakas dan menghabiskan hari-harinya membantu keluarganya membuat furnitur.

Namun, suatu ketika, sebuah insiden terjadi di keluarga ksatria kerabat jauhnya yang menyebabkan mereka kehilangan ahli waris.

Demi mempertahankan tanah kekuasaan, rapat kerabat pun digelar untuk menentukan pewaris baru.

Namun, di bawah kondisi wilayah Arcloy yang tidak stabil, tak ada seorang pun yang mau menjadi ksatria. Hasil dari aksi saling lempar tanggung jawab itu akhirnya menjatuhkan pilihan pada Elsa.

Elsa pun diadopsi agar status kasta ksatrianya tetap terjaga. Dia bergabung dengan ksatria lokal dan berusaha keras menahan diri dalam latihan, meski hari-harinya terasa berat karena ia tidak terbiasa dengan pelatihan tempur fisik.

Ketika Duke Arcloy menjabat kembali setelah puluhan tahun dan mendeklarasikan penaklukan Arcloy dengan kekuatan militer, penduduk lokal bersorak gembira, namun hati Elsa tidak ikut merasa senang.

Saat Ophelia menjabat sebagai komandan dan segera meraih prestasi militer di wilayah Kruck serta Dressen, sudah bisa ditebak, Elsa tidak memiliki kesempatan untuk unjuk gigi.

Malah, orang-orang mulai mencibirnya.

Di saat petani dan rakyat jelata saja bisa naik pangkat menjadi kapten peleton, mengapa seseorang dari kasta ksatria tidak mampu meraih prestasi?

Elsa pun dicap sebagai produk gagal oleh kerabatnya sendiri.

(Mau dibilang begitu pun, aku memang tidak berbakat mengayunkan pedang atau berlari cepat.)

Titik baliknya terjadi setelah ia dipanggil oleh Noah. Ia diperintahkan mengembangkan senjata baru dan merancang busur bersama Noah.

Proses pengembangan itu sangat menyenangkan. Menembak ternyata sangat cocok dengan kepribadiannya, dan ia bisa merasakan kemampuan memanahnya meningkat pesat dalam sekejap.

Hingga akhirnya, kesempatan pertempuran sesungguhnya tiba. Sebagai pemanah, Elsa berhasil menumbangkan Hekaton Si [Tangan Besi] dan menunjukkan kontribusi luar biasa dalam penaklukan benteng.

Kini, ia sedang dianugerahi penghargaan oleh Noah sebagai pemegang jasa kelas satu dalam penaklukan benteng tersebut.

(Tuanku……)

Awalnya ia mengira Noah adalah orang yang aneh, tapi sekarang ia hanya merasakan rasa syukur.

Setelah dipaksa menjalani pekerjaan ksatria yang tidak ia kuasai dan dicibir oleh kerabat serta tetangganya, ia akhirnya bisa membersihkan nama baiknya melalui pencapaian ini.

Semua itu berkat Noah yang berhasil menemukan bakat Development senjata dan Marksmanship miliknya.

(Aku ingin... lebih dekat lagi dengan Noah-sama.)

Sambil menerima pedang pusaka dari Noah, Elsa mulai berbicara dengan raut wajah penuh tekad.

"Anu, Noah-sama."

Elsa berbicara dengan wajah tegang. Jika ia melewatkan kesempatan ini, mungkin selamanya ia tidak akan bisa mendekati Noah.

"Penaklukan benteng kali ini... strategi Anda benar-benar luar biasa. Bisa menang dengan begitu gemilang... Anda benar-benar putra Archduke yang hebat. Anda pasti sosok yang dipilih oleh Tuhan. Aku belum pernah melihat orang yang diberkati dengan kewibawaan sebesar ini. Karena itu, anu……"

Noah terkekeh pelan.

"Kamu ternyata pandai menjilat juga ya."

Wajah Elsa memerah padam.

(Apa yang kupikirkan, sih?)

Di depannya adalah seorang pemuda bangsawan terhormat dari Archduchy Uebel.

Dia pasti punya lingkaran pergaulan kelas atas yang tak sebanding dengannya, dan sudah pasti terbiasa dengan basa-basi di dunia sosial.

(Mencoba mengambil hatinya dengan sanjungan picik seperti itu...)

Ia jadi merasa sangat sadar diri bahwa dirinya hanyalah gadis desa. Elsa tertunduk malu.

"Itu... maaf. Aku hanya berpikir bagaimana caranya agar bisa lebih dekat dengan Tuan Penguasa. Aku juga ingin dekat dengan Anda seperti Ophelia-sama. Apa yang harus kulakukan agar bisa lebih berguna bagi Anda?"

"Fumu. Begitu ya."

Faktanya, Noah pun memang ingin menaruh Elsa di dekatnya. Potensi Rank A untuk Siege, Marksmanship, dan Development. Dia jelas-jelas pemilik bakat yang sangat berguna.

"Elsa. Apakah kamu mau menjadi ajudan pribadiku juga?"

"I-iya! Dengan senang hati! Izinkan saya mengabdi di sisi Anda!"

"Baiklah. Aku akan mempekerjakanmu lebih keras dari sebelumnya."

"Siap!"

Begitu pemberian penghargaan di Kastil Luke selesai, Noah dan Ophelia segera membereskan sisa-sisa urusan pertempuran. Ophelia berdiri di hadapan para prajurit eks-wilayah Luke yang baru saja bergabung ke pasukan Arcloy dan berkata dengan lantang.

"Kalian semua sepertinya punya kaki dan pinggang yang agak lemah ya."

Maka, orang-orang Luke pun menjalani latihan neraka dari Ophelia sambil disatukan ke dalam pasukannya.

Bagi mereka yang menunjukkan tanda-tanda pembangkangan, Ophelia sengaja memberikan tugas militer di daerah yang jauh dari benteng agar mereka tidak bisa membentuk komplotan untuk memberontak.

Selain itu, diketahui bahwa banyak orang di wilayah Luke yang memiliki Skill menembak yang tinggi.

Noah memerintahkan Elsa dan pengrajin senjata untuk membagikan busur hasil pengembangan baru tersebut serta memberikan bimbingan teknis kepada mereka.

Sedangkan untuk bentengnya, diputuskan untuk dihancurkan. Noah tidak mau repot jika nanti ada yang mencoba bertahan di sana lagi.

Setelah urusan di wilayah Luke tuntas, Noah bersama Ophelia dan yang lainnya menempuh perjalanan pulang menuju Kastil Kruck.

Di tengah jalan, mereka berpapasan dengan Saintess Aemilia. Sepertinya dia memang sudah menunggu Noah lewat.

"Kudengar Anda telah menaklukkan wilayah Luke. Duke Arcloy, Tuhan pasti akan mengampuni dosa-dosa Anda. Sebagai permulaan…… ah, tunggu!"

Noah mengabaikan Aemilia dan terus berjalan maju.

"Tunggu duluuu! Kenapa Anda mengabaikanku, Noah-sama? Ah, saya tahu! Anda pasti menyimpan dendam karena kemarin saya bersikap agak dingin, kan? Aduh, ngambek begitu... manis sekali sih. Tenang saja, saya tidak akan memperlakukan Anda dengan buruk lagi, kok! Anda juga anak Tuhan. Sebagai hamba Tuhan, saya akan menerima dosa-dosa Anda dengan hati yang luas."

Ophelia merasa muak melihat perubahan sikap Aemilia yang begitu cepat.

(Begitu tahu Paus mengakui Tuanku dan Archduke tidak bisa sembarangan bergerak, dia langsung begini. Benar-benar oportunis.)

"Ophelia!"

"Siap!"

"Kemenangan kali ini adalah berkat kontribusi pasukan pemanah. Karena itu, berikan bonus pada pasukan pemanah. Ada keberatan?"

"Tidak ada, Tuanku."

"Elsa, kaulah pemegang jasa utama. Terimalah imbalanmu."

"Wah! Terima kasih banyak!"

Elsa bersorak gembira dengan polosnya.

"Selanjutnya Ophelia, kinerjamu juga luar biasa. Leadership saat pengepungan dan serangan ke markas musuh setelahnya benar-benar hebat. Kau adalah pemegang jasa kedua."

"Siap, pujian Anda terlalu berlebihan bagi saya."

"Sisanya seperti biasa. Berikan imbalan lebih bagi mereka yang pertama kali menembus benteng sesuai jasanya, dan beri hadiah pada mereka yang kinerjanya menonjol."

"Siap. Dimengerti."

"Itu saja. Sekarang, ayo cepat kembali ke Kastil Kruck."

"Siap!"

"Okeee!"

"Woi, tunggu duluuu!"

Aemilia akhirnya berteriak karena merasa benar-benar dicueki.

"Beraninya Anda mengabaikanku dengan begitu cantiknya! Ah, aku tahu! Anda pasti sedang malu, kan? Seekor anak domba malang yang seumur hidupnya belum pernah diakui oleh sosok suci. Tidak apa-apa, kok! Tuhan juga akan memaafkan rasa pemalumu itu. Ayo, larilah ke pelukanku!"

"Ophelia!"

"Siap!"

"Bagaimana pergerakan tiga negara yang tersisa di Arcloy?"

"Mereka masih belum mengirim utusan dan belum mengakui kewibawaan Tuanku."

"Kedepannya kita harus menyusun strategi untuk menghadapi ketiga negara ini. Awasi setiap pergerakan musuh, jangan sampai lengah sedikit pun."

"Siap!"

"Elsa, pertempuran pengepungan tidak akan bisa dihindari kedepannya. Aku sangat berharap pada kemampuan menembakmu. Terus asah kemampuan memanahmu, ya."

"Siap! Dimengerti!"

"Bagus. Kalau begitu, kita pulang."

"Oiii, halo?! Kenapa saya diabaikan lagi dengan begitu cantiknya?! Ah, tunggu! Tunggu duluuu!"

"Guakh! Apa-apaan..."

Sang Saintessmenerjang dan memeluk Noah hingga mereka berdua jatuh ke tanah.

"Aku punya target... Aku punya target yang harus dicapai!"

"Tar-target?"

"Aku tidak mau dipindah tugaskan ke pelosok lagi, huaaaa!"

"Santa-sama. Tolong tenanglah."

Ophelia berusaha menarik sang Saintessagar menjauh dari Noah.

"Uuu... hiks..."

"Apa maksudnya target itu? Ceritakan padaku."

"Kami para Saintess masing-masing memiliki wilayah tugas, dan kami harus menyetorkan pajak yang terkumpul dari sana kepada Paus. Ada target yang ditentukan untuk tiap wilayah, dan aku sudah gagal mencapainya sejak tahun lalu dan tahun sebelumnya lagi. Kalau terus begini, aku akan dibuang ke tempat yang lebih terpencil lagi!"

"Begitu ya. Ternyata gereja punya sistem target juga."

"Kenapa rakyat tidak mau membayar pajak padamu?"

Ophelia melontarkan pertanyaan yang sangat masuk akal.

"Itulah masalahnya, mereka semua jahat! Mereka pasti meremehkanku yang merupakan utusan Tuhan ini. Terutama orang-orang di wilayah Luke. Mereka yang terburuk! Mentang-mentang punya benteng, mereka bahkan menolakku masuk ke wilayah mereka dan bilang, 'Kami tidak butuh mengadu pada Tuhan, benteng ini yang akan melindungi kami', atau semacamnya!"




"Tapi, bukankah sebagai seorang Saintess, Kamu seharusnya bisa menghasut para pengikut untuk menekan penguasa yang tidak beriman? Kenapa Kamu tidak melakukan itu saja?"

"Itu... entah kenapa, orang-orang tidak terlalu mau mendengarkan khotbahku."

Sang Saintess menunduk lesu.

"Begitu rupanya."

(Intinya, Saintessini sama sekali tidak punya wibawa ya.)

Ophelia bergumam dalam hati.

(Ternyata dia cuma Saintessproduk gagal yang menyedihkan.)

Noah pun ikut membatin hal yang sama.

"Tapi, hari-hari penderitaanku karena target setoran itu sudah berakhir. Orang-orang Luke yang menyebalkan itu sudah hancur. Mereka menerima azab karena telah meremehkanku. Nah, Kamu tahu kan apa yang harus dilakukan sekarang? Noah, katakanlah satu patah kata pada rakyatmu. Perintahkan mereka untuk mendengarkan kata-kata sang Santa. Katakan agar mereka bersyukur pada Tuhan dan memberikan persembahan. Dengan begitu, rakyat akan dengan senang hati menyetorkan pajak padaku dan—oi, halo?! Mau ke mana, woi!"

Noah dan yang lainnya sudah mulai berjalan pergi meninggalkan sang Santa.

"Tadi itu bukannya sudah masuk alur di mana Kamu seharusnya menolongku? Kenapa Kamu malah mencoba meninggalkanku lagi?!"

"Tiba-tiba datang menyerbu, kupikir ada apa, ternyata ujung-ujungnya cuma soal duit. Aku tidak punya waktu buat meladeni itu."

"Tunggu, tunggu dulu dong! Apa Kamu tidak mau diselamatkan oleh Tuhan?"

"Terima kasih, tapi aku tidak butuh hal semacam itu sekarang."

"Ini akan menghambat urusan dalam negerimu, lho!"

"Ugh."

Noah terdiam karena ucapannya tepat mengenai sasaran. Meskipun kondisi wilayahnya tidak separah yang dikatakan putra kedua, Ian, namun karena perluasan yang terlalu cepat, penataan sistem pemerintahan memang agak sedikit keteteran. Noah mencoba menggunakan Appraisal pada Aemilia.

Aemilia

Gift: Saint

Faith: C → C

Politics: B → B

(Begitu ya. Sesuai dugaannya, kemampuan Politics miliknya lumayan tinggi.)

Karena Faith miliknya hanya Rank C, melakukan pidato untuk menghasut rakyat atau pengikut jelas mustahil baginya.

Namun, dia mungkin bisa sangat berguna sebagai pejabat administratif. Tergantung cara pemakaiannya, dia bisa diperlakukan sebagai birokrat handal yang tidak akan memicu masalah dengan menghasut simpatisan secara aneh.

"Fuu... baiklah, Saintess Aemilia. Aku akan membantumu kali ini."

"Benarkah!?"

"Ya, aku akan mengatur agar pemungutan pajak di wilayah Luke bisa berjalan lancar. Sebagai gantinya, Kamu harus membantuku dalam urusan pemerintahan."

"Horeee! Dengan begini aku bisa makan daging mahal setiap hari!"

(Benar-benar Saintessyang sangat duniawi.)

Ophelia mengernyitkan dahi melihat sisi materialistis dari sang Saintesstersebut.

"Kalau begitu, izinkan saya mengatakannya sekali lagi. Wahai Penguasa Noah, pimpinlah wilayah Luke sebagai anak Tuhan, dan bekerjalah demi Tuhan. Maka Tuhan akan mengampuni dosa-dosamu."

(Dia benar-benar tidak mau menyerah untuk tetap bersikap angkuh, ya.)

Setelah itu, Noah mengatur segalanya agar Saintess Aemilia bisa memungut pajak di bekas wilayah Luke.

Ia memerintahkan perbaikan gereja agar para penganut bisa berkunjung dengan nyaman dan memberikan donasi, serta melakukan survei untuk memetakan pendapatan rakyat.

Aemilia, dengan kemampuan Politics yang mumpuni, segera mengeluarkan kebijakan untuk memastikan pemungutan pajak berjalan efektif.

Dalam beberapa kesempatan, ia juga memberikan saran kepada Noah untuk membantu jalannya pemerintahan.

Noah sendiri mendukung penuh aktivitas Aemilia dan memberikan pidato di depan umum untuk menyokongnya, demi mendapatkan dukungan rakyat.

Di antara rakyat, ada yang mulai memandang Noah dengan cara berbeda; melihat Noah begitu antusias dalam kegiatan keagamaan, mereka sadar bahwa tuan mereka bukanlah sekadar pria kasar yang haus perang.

Namun, tetap saja khotbah Aemilia tidak populer (karena kurangnya rasa iman, ucapannya terdengar mencurigakan dan tidak menyentuh hati).

Seberapa keras pun ia mencoba menjelaskan ajaran Tuhan yang mulia, tidak banyak orang yang berkumpul. Bahkan mereka yang sudah datang pun sering kali pulang di tengah-tengah khotbah.




Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close