NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Hikichi ni Tsuihō Sareta Utsuke Ryōshu Kantei Sukiru de Saikyō no Haika-tachi to Tomo ni Chō Taikoku o Tsukuru Volume 1 Chapter 11

Chapter 11

Penaklukan Benteng


Noah dan Ophelia terus mematangkan persiapan untuk menaklukkan Benteng Luke.

"Benteng itu diapit oleh tebing di kedua sisinya, dan bagian depannya terdiri dari tembok batu yang sangat kokoh. Menghancurkan tembok itu mustahil, jadi satu-satunya cara adalah menyerang dari depan menggunakan tangga. Namun, kita harus siap kehilangan ribuan nyawa dan pengepungan selama berbulan-bulan. Itu benar-benar benteng yang tidak bisa ditembus."

"Fumu. Ribuan korban dan pengepungan berbulan-bulan ya. Aku ingin menghindari perang yang berlarut-larut."

Jika terlalu lama, tidak tahu apa lagi yang akan direncanakan oleh para menteri senior Kruck yang licik itu.

"Selain itu, benteng tersebut dijaga oleh ksatria Hekaton yang dikenal sebagai pahlawan nomor satu di daerah ini."

"Hekaton?"

"Iya. Dia pria raksasa setinggi 2,2 meter, memiliki Gift Strength, dan kabarnya pernah memukul mati iblis dengan tangan kosong."

"Begitu. Itu cukup merepotkan."

Noah berpikir keras.

"Mendapatkan hasil besar dengan pengorbanan sekecil mungkin. Cara berpikir untuk situasi seperti ini hanya satu: tajamkan kelebihan kita, dan serang kelemahan lawan."

"Siap. Namun, kelebihan terbesar pasukan kita adalah Leadership untuk menggerakkan massa dan Agility untuk menyerbu dengan cepat. Karena ini adalah pertempuran pengepungan, kelebihan itu tidak bisa digunakan. Musuh juga tidak punya kelemahan yang mencolok……"

"Aku sudah punya bayangan soal kelebihan kita. Begitu juga soal kelemahan musuh."

Noah mengambil sebuah busur panah. Itu adalah busur biasa tanpa keunikan apa pun yang banyak digunakan di daerah tersebut.

◆◇◆

Keesokan harinya, Noah memanggil sekelompok orang dari pasukannya yang sudah ia incar sebelumnya. Mereka semua tampak lesu.

"Jadi, kalian adalah para kapten peleton yang sampai sekarang belum pernah meraih prestasi?"

Mendengar itu, mereka semakin menundukkan kepala. Mereka adalah orang-orang yang tidak meraih prestasi baik di pertempuran Kruck maupun di desa iblis. Bahkan, ada yang gagal tiba di medan perang tepat waktu.

(Tapi, justru karena itu ada kemungkinan mereka punya bakat yang sangat spesifik.)

Noah menggunakan Appraisal pada seorang gadis muda berpakaian ksatria.




Elsa

Leadership: D → D

Melee: D → D

Mounted Combat: D → D

(Semuanya Rank D. Fumu. Benar, dengan kemampuan seperti ini pasti akan sulit baginya untuk memenuhi ekspektasi Ophelia dalam pertempuran taktis.)

Noah mencoba mengubah sudut pandang Appraisal miliknya.

Elsa

Marksmanship: D → A

Siege: E → A

Development: E → A

Unknown: E → A

(Potensi Rank A untuk Marksmanship, Siege, Development, dan Unknown! Ternyata benar, ada permata tersembunyi seperti ini yang tercampur di antara mereka.)

"Baiklah. Aku ingin kalian mulai mengerjakan pengembangan senjata baru."

Para prajurit yang tadinya lesu seketika terperangah. Mereka mengira akan dimarahi habis-habisan, tapi ternyata malah diberi tugas penting. Noah membawa mereka menemui pengrajin senjata.

◆◇◆

"Kamu pengrajin senjata di sini?"

"Benar, Tuan. Sayalah pengrajin senjata yang konon paling hebat di wilayah ini."

"Bagus. Kalau begitu, kembangkan busur panah baru. Buat yang jauh lebih kuat dari ini."

Noah mengeluarkan busur standar yang umum digunakan di daerah tersebut.

Busur Panah

Power: D

Range: D

Handling: D

Durability: D

"Buat busur yang lebih kuat dari ini. Power, Range, Handling, dan Durability, semuanya harus melampaui busur ini."

"Tuan Penguasa, permintaan Anda itu mustahil. Busur ini adalah senjata produksi massal militer yang sangat unggul. Desainnya sangat seimbang secara keseluruhan. Jika keseimbangan itu diubah sedikit saja, pasti akan ada cacat di bagian lain. Buktinya, tidak ada satu pun negara di wilayah ini yang tidak menggunakan busur jenis ini..."

"Kamu salah. Justru busur ini levelnya terlalu rendah."

"Tapi Tuan Penguasa, meskipun Anda berkata begitu..."

"Sudah, cepat buat saja. Busur ini berada di level terendah dalam segala aspek. Rank D."

"Tapi ini hanya akan membuang-buang uang..."

"Jangan banyak cincong, buat saja! Aku yang tanggung biayanya. Nah, mulai dari Power dan Range. Gandakan tarikan senar dan panjang busurnya. Gunakan bambu yang lebih lentur sebagai bahannya. Ayo, let's challenge!"

(Cih, dasar penguasa konyol...)

"Jangan salahkan saya kalau gagal ya, Tuan. Sungguh."

Sesuai perintah Noah, sang pengrajin membuat busur dengan panjang dan tarikan senar dua kali lipat dari biasanya.

Busur Panjang Ganda

Power: C ()

Range: C ()

Handling: E ()

Durability: E ()

"Bagus. Kamu, coba tembakkan ini."

"Baik."

Begitu Elsa menarik busur ke arah target, raut wajahnya berubah. Ekspresinya yang tadinya tampak linglung berubah menjadi setajam mata elang.

(Oho, bakatnya mulai terlihat.)

(Busur ini sulit dikendalikan. Tapi...)

Anak panah pun dilepaskan.

(Tenaganya luar biasa...)

Anak panah itu meleset jauh dari sasaran. Lintasannya tidak lurus, melainkan melintir dengan hebat.

"Lihat sendiri kan, Tuan Penguasa? Sama sekali tidak berguna."

"Terlalu dini untuk menyimpulkan. Coba tembakkan sepuluh anak panah lagi."

"Baik!"

Elsa tampak cukup antusias dan menembakkan anak panah satu per satu. Pada tembakan ketiga, panahnya menyerempet sasaran.

"Oh, yang barusan lumayan juga."

"……"

Si pengrajin senjata terperangah. Setiap kali Elsa menembak, lintasannya berangsur-angsur terkoreksi, hingga akhirnya tembakan kesembilan tepat mengenai sasaran. Tembakan kesepuluh pun mendarat dengan mulus di tengah target.

Elsa

Marksmanship: C ()

Unknown: C (↗↗)

(Level Skill-nya naik juga. Tampaknya karena bersentuhan dengan kekuatan yang tak dikenal, pertumbuhannya terpacu.)

"Gimana, Elsa? Ada keluhan atau permintaan soal senjata ini?"

"Hmm. Begitu ya. Kalau bagian ini dibuat begini dan yang itu jadi begitu, aku akan lebih senang."

"Bagus. Buat persis seperti yang dia katakan!"

"Kalau semuanya sekaligus, itu agak..."

"Kalau begitu, buat satu per satu. Ciptakan beberapa prototipe dan uji coba semuanya!"

"Si-siap!"

Pengrajin senjata itu pun bergegas memulai produksi.

Dengan begini, Noah dan tim pengembangan senjata baru terus memperbaiki busur itu secara bertahap, hingga tiba harinya untuk menaklukkan Benteng Luke.

◆◇◆

Di suatu hari yang cerah, pasukan Arcloy di bawah pimpinan Ophelia telah bersiap di depan Benteng Luke.

Formasi tempur yang terdiri dari 20.000 prajurit itu terlihat sangat gagah.

Para penjaga benteng gemetar ketakutan melihat pasukan besar yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Banyak sekali jumlah mereka!"

"Tapi jangan takut! Kita punya benteng ini! Sejak dibangun, benteng ini belum pernah sekali pun jatuh ke tangan musuh!"

Ada sekitar 4.000 prajurit yang bertahan di dalam benteng. Meski jumlah pasukan Ophelia lima kali lipat lebih banyak, menembus pertahanan benteng bukanlah perkara mudah. Seberapa pun hebatnya taktik Ophelia di medan terbuka, dalam pengepungan benteng, ia harus menembus tembok yang menjulang tinggi sebelum bisa melukai musuh.

Tentu saja, musuh akan menghujani pasukan Arcloy yang memanjat tangga dengan anak panah, batu, hingga aspal panas. Pengepungan ini diprediksi akan memakan banyak korban dan waktu lama sampai amunisi musuh habis. Selama masa itu, moral pasukan harus tetap terjaga.

Masalahnya, inti pasukan Arcloy adalah petani. Menjaga moral mereka tetap tinggi di tengah jatuhnya korban yang terus bertambah adalah hal yang sangat sulit.

(Tapi aku tidak boleh mundur. Stabilitas politik Arcloy bergantung pada pertempuran ini. Yang terpenting, aku tidak akan memaafkan mereka yang telah menjebak Tuanku dengan cara licik!)

"Semuanya, dengarkan! Mereka yang bersembunyi di benteng itu adalah sekumpulan bajingan tak tahu malu yang telah menghina penguasa kita! Waktunya pembalasan telah tiba! Mari kita beri tahu mereka apa akibatnya jika berani meludahi penguasa kita!"

Langkah pertama Ophelia adalah memerintahkan pengurukan parit dalam di depan benteng. Setelah membangun gubuk pelindung dari proyektil musuh, mereka menimbun parit dengan kantong pasir dalam waktu setengah hari saja hingga mencapai jarak tempuh tangga. Di saat yang sama, mereka membangun menara pengawas agar pemanah bisa berada di ketinggian yang sejajar dengan penjaga benteng.

Persiapan pengepungan telah rampung. Yang tersisa hanyalah serangan nekat habis-habisan. Namun, saat Ophelia hendak memberikan perintah serbu, seseorang menghentikannya.

"Tunggu sebentar!"

Suara yang menggetarkan bumi terdengar dari atas benteng.

"Ugh, siapa itu?"

"Besar sekali! Berapa meter tingginya?"

"Jauh lebih besar dari Komandan Ophelia!"

"Uooooh, Hekaton-sama!"

"Hekaton-sama telah tiba!"

Melihat keguncangan di barisan Ophelia dan bangkitnya semangat para penjaga benteng, Hekaton melanjutkan provokasinya.

(Jadi itu Ophelia. Benar-benar wanita raksasa seperti rumornya. Apalagi kecantikannya luar biasa, auranya membuat orang sulit untuk tidak tunduk. Tapi, dia tetap saja cuma seorang wanita.)

Hekaton memprovokasi Ophelia.

"Heh, jadi kau yang namanya Ophelia? Aku dengar kau mengaku sebagai pahlawan nomor satu di Arcloy hanya karena berhasil mengusir penguasa Kruck dan membasmi iblis. Sungguh menggelikan! Benar-benar memalukan bagi seorang jenderal wanita rendahan sepertimu menyandang gelar pahlawan! Sepertinya di Arcloy sudah tidak ada laki-laki lagi, ya?"

Para penjaga benteng bersorak sorai, moral mereka melonjak tinggi.

"Benar! Benar!"

"Pasukan Arcloy cuma berisi perempuan!"

Ophelia menatap Hekaton dalam diam.

"Kenapa? Tidak bisa menjawab? Kalau kau tidak terima, lawan aku, Hekaton, satu lawan satu! Tidak perlu mengorbankan nyawa orang-orang di sini. Ataukah kau mau lari pulang sambil melipat ekor? Gunakan saja ranjang penguasa lembekmu itu sebagai tempat kerjamu, dasar jal—bupeh!"

Suara desingan angin yang tajam terdengar, dan seketika wajah Hekaton hancur berantakan.

Anak panah itu tidak hanya menghancurkan tengkorak Hekaton yang keras, tetapi bahkan menembus helm besi yang ia kenakan.

"Wah. Kena, Tuan Penguasa."

"Ya. Berhasil dengan sempurna."

Elsa dan Noah berbicara dari kejauhan di garis belakang, jauh di belakang menara pengawas, sambil memandangi sosok Hekaton yang ambruk.

Hekaton yang kehilangan bagian kepalanya perlahan jatuh berlutut, lalu roboh.

"U-uwaaaa! Hekaton-sama!"

"Hekaton-sama terbunuh!?"

"Bohong! Bagaimana bisa dari jarak sejauh itu..."

"Bagus! Sekarang! Serang benteng itu selagi si raksasa itu tumbang!"

Melihat para penjaga benteng yang goyah karena kematian Hekaton, Ophelia langsung memerintahkan serangan.

(Tak kusangka ini akan berjalan selancar ini. Seperti yang diharapkan dari Noah-sama. Persis seperti rencananya.)

Awalnya Ophelia yang berencana memancing Hekaton keluar, tapi karena dia sendiri yang muncul dengan sukarela, itu malah menghemat waktu. Pasukan berani mati memanjat tangga dalam sekejap sambil meneriakkan seruan perang.

Para prajurit benteng kewalahan dan terlambat merespons karena sibuk memindahkan mayat Hekaton yang sangat besar dan berat.

"Tenang! Benteng belum ditembus! Pasukan busur, maju ke depan!"

Seorang prajurit veteran berusaha membangkitkan moral pasukan. Namun, begitu pasukan panah mereka maju, mereka langsung bertumbangan satu per satu oleh panah musuh.

"Guakh!"

"Gyaakh!"

"Bodoh! Apa yang kalian lakukan? Cepat balas tembak pemanah musuh!"

Namun, anak panah yang dilepaskan pemanah benteng jatuh ke tanah bahkan sebelum mencapai posisi pemanah musuh.

(Mustahil. Kita menembak dari tempat yang lebih tinggi. Kenapa...)

"Kapten! Busur mereka aneh! Jelas berbeda dengan busur yang biasa digunakan!"

"!? Busur apa itu?"

"Sepertinya jangkauan mereka lebih jauh ya. Biar aku yang urus."

Seorang pemanah berpengalaman sengaja memancing musuh agar menembakkan panahnya, lalu segera bersembunyi di balik tembok benteng.

(Heheh. Menambah kekuatan dan jarak tembak pasti mengorbankan kemudahan penggunaan dan ketahanan. Kalau mereka sudah menembak satu kali, pasti butuh waktu lama untuk melepaskan panah berikutnya.)

"Sekarang waktunya membalas—bupeh!"

Prajurit veteran yang hendak menembak prajurit tangga itu justru tewas lebih dulu oleh anak panah kedua yang terbang jauh lebih cepat dari dugaannya.

(Luar biasa! Busur ini enak sekali digunakaaan!)

Elsa

Marksmanship: A (↗↗)

Siege: B (↗↗↗)

Development: A (↗↗↗↗)

Unknown: A (↗↗)

Busur Mudah digunakan

Power: B ()

Range: B ()

Handling: A (↗↗↗↗)

Durability: C (↗↗)

(Fuh. Fakta bahwa Handling-nya menjadi Rank A selama proses pengembangan adalah kejutan yang menyenangkan.)

Berkat Handling yang membaik, hentakan saat melepaskan panah menjadi minimal, waktu untuk memasang anak panah menjadi lebih singkat, dan stabilitas saat membidik pun meningkat pesat.

Elsa memutar-mutar busurnya sambil menembakkan anak panah secara beruntun. Setiap kali musuh melepaskan satu panah, Elsa membalasnya dengan tiga panah, menjatuhkan para penjaga benteng satu per satu.

(Mustahil! Bahkan kecepatan menembak mereka pun lebih unggul!?)

Prajurit veteran itu putus asa. Para penjaga benteng yang kalah telak dalam daya serang kehilangan semangat bertempur. Sebaliknya, pasukan berani mati yang memanjat tangga semakin bersemangat berkat bantuan tembakan perlindungan yang luar biasa dari rekan mereka.

Tak lama kemudian, pasukan pengepung berhasil merangsek masuk. Satu jam setelah pasukan Arcloy menembus pertahanan, para penjaga benteng mengibarkan bendera putih. Penaklukan benteng berakhir dengan korban yang jauh lebih sedikit dan waktu yang lebih singkat dari perkiraan semula.

"Luar biasa, benar-benar mengejutkan!"

Pengrajin senjata yang ikut dalam barisan tentara tercengang melihat kedahsyatan busur hasil pengembangan baru itu.

"Tak kusangka busur itu masih punya ruang untuk ditingkatkan sampai sejauh itu."

"Kan? Sudah kubilang busur itu bisa diperkuat lagi."

"Benar-benar... penglihatan Tuan Penguasa sungguh tidak ada duanya."

"Oho, sepertinya benteng sudah berhasil dikuasai."

Seorang prajurit di atas benteng mengibarkan bendera wilayah Arcloy dengan lebar. Itu adalah tanda bahwa bagian dalam benteng telah dikuasai sepenuhnya.

"Mari kita masuk ke dalam."

Noah dan yang lainnya pun melangkah masuk ke dalam benteng.

◆◇◆

Di dalam benteng, Ophelia tampak sibuk memberikan instruksi. Perlengkapan perang para penjaga benteng telah dilucuti, tangan mereka diikat dengan tali, dan mereka dibiarkan tergeletak di lorong-lorong.

"Ophelia, bagaimana situasinya?"

"Tuanku!"

Begitu Noah memanggil, raut wajah tegas Ophelia mencair menjadi sebuah senyuman. Namun, itu hanya sesaat sebelum ia kembali ke mode profesional dan berlutut di hadapan Noah.

"Benteng telah berhasil dikuasai sepenuhnya. Kemenangan kali ini sebagian besar berkat senjata baru yang Tuanku kembangkan. Sekali lagi, saya sangat kagum dengan kecerdasan Tuanku."

"Hahaha. Tidak juga, kok."

"Tuan Penguasaaa!"

Elsa datang sambil mendorong kereta berisi kotak-kotak penuh anak panah.

"Penyitaan seluruh anak panah di dalam benteng telah selesai!"

"Oh, kerja bagus. Gimana? Apa anak panahnya bisa dipakai?"

"Bisa! Sangat cocok untuk senjata baru kita. Wah, hebat ya busur itu. Kuat banget, tapi tetep gampang dipakai!"

"Karena Handling-nya sudah diperkuat."

Meningkatkan aspek Handling berarti orang dengan Skill Marksmanship rendah pun bisa menggunakannya dengan baik. Dengan kata lain, senjata ini bisa diproduksi massal untuk dibagikan ke seluruh pasukan.

Ophelia pun bicara pada Elsa.

"Elsa. Kemenangan ini berkat dirimu yang telah mengembangkan dan menguasai senjata baru itu. Aku pun ingin berterima kasih atas kontribusimu dalam memperkuat pasukan kita."

"Ehehe. Aduh, jadi malu."

"Tuan Penguasa masih punya banyak musuh. Teruslah berikan kekuatanmu untuk pasukan kita dan Tuan Penguasa."

"Tentu saja!"

Ophelia dan Elsa berjabat tangan dengan erat.

"Tuan Penguasa! Utusan yang ditawan telah ditemukan!"

"Oh, dia selamat?"

Terlihat pria yang dulu dikirim sebagai utusan saat kunjungan pertama ke benteng telah dibebaskan. Pipinya sedikit tirus, namun selain itu tidak ada perubahan mencolok. Sepertinya dia tidak diperlakukan terlalu buruk selama menjadi tawanan.

"Wah, saya benar-benar sial waktu itu."

"Maaf ya, aku tidak bisa segera menolongmu."

"Tidak apa-apa. Ini sudah jadi tugas seorang utusan. Lagipula, melihat prajurit kita berada di dalam benteng ini berarti kita sudah menang perang, kan?"

"Yah, begitulah. Berkat kerja keras semuanya, kita akhirnya bisa menang."

"Tidak, kali ini kekuatan Tuan Penguasalah yang paling berperan."

"Benar! Tuan Penguasa harus lebih percaya diri dan bersikap gagah!"

Ophelia dan Elsa mulai memuji-mujinya. Noah pun merasa tidak keberatan dipuji oleh dua gadis muda ini, jadi dia memutuskan untuk sedikit berlagak.

"Memang sekumpulan orang yang merepotkan. Apa mereka benar-benar berpikir benteng sekecil ini bisa menghentikanku?"

"Kyaa! Keren banget!"

"Fufu. Tuan Penguasa ini bisa saja."

Elsa bersorak riang sambil melompat, sementara Ophelia terkikik anggun sambil menutup mulutnya. Para prajurit benteng yang tertawan menatap Noah dengan wajah masam.

"Cih, bajingan itu. Padahal waktu datang sendirian dulu, dia lari terbirit-birit ketakutan karena benteng ini."

"Begitu Ophelia dan pasukan busur datang, langsung belagu."

"Hm? Kalian bilang sesuatu?"

Saat Noah menegur, para tawanan itu langsung kalang kabut.

"Ah, ti-tidak!"

"Bukan apa-apa, Tuan!"

"Iya nih, Noah-sama emang hebat banget! Lebih kuat dari yang kami dengar!"

"Sumpah, keren parah! Saya benar-benar hormat!"

"Begitu ya. Baiklah kalau begitu."

Para tawanan pun bernapas lega karena berhasil mengalihkan perhatian.

◆◇◆

Setelah itu, Ophelia meninggalkan 5.000 prajurit untuk menjaga benteng dan memimpin 15.000 sisanya menuju markas pusat Duke Luke.

Sang penguasa Luke dan para menteri seniornya sangat terkejut mengetahui benteng itu jatuh hanya dalam satu hari, serta pasukan besar yang mendekat dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Tanpa perlindungan benteng dan kehilangan Hekaton Si [Tangan Besi], tidak ada yang punya keberanian untuk melawan jenderal terkuat, Ophelia. Duke Luke akhirnya menyerah. Dengan demikian, wilayah Luke resmi menjadi bagian dari wilayah Arcloy.

Status Noah von Arcloy:

  • Kastil: 2
  • Ksatria: 600 orang
  • Kekuatan Militer: 30.000 orang
  • Pendapatan Pajak: 30.000 Gra
  • Aliansi: Tidak ada



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close