Chapter 19
Raungan Harimau
Setelah
menyelesaikan pertemuan yang tidak menyenangkan dengan Ksatria Vernon dan
mengusirnya dalam keadaan babak belur secara mental, amarah Ophelia masih belum
kunjung reda.
Ia terus
memikirkan ke mana harus meluapkan kejengkelan ini. Akhirnya, ia memutuskan
untuk melampiaskan stresnya dengan bermanja-manja pada Noah.
Saat Ophelia tiba
di Kastil dengan seragam ksatrianya, Noah kebetulan sedang berjalan di lorong
sambil berbincang dengan seorang pedagang.
Ophelia segera
berlutut dengan satu kaki di depan Noah untuk memberi salam formal seorang
bawahan, lalu mengecup punggung tangan tuannya.
Noah merasa lega
karena bisa menebak bahwa Ophelia telah menolak tawaran Vernon.
Namun, melihat
Ophelia tidak kunjung melepaskan tangannya dan terus mengusapkan pipinya di
sana, Noah memiringkan kepala dengan heran.
"Ada
apa?" tanya Noah, namun Ophelia hanya terus mengulang kalimat,
"Semoga Tuan Penguasa selalu dalam keadaan sehat dan bahagia."
Setelah tiga kali
mengulang percakapan yang sama, Noah akhirnya sadar bahwa ksatrianya ini sedang
dalam mode "ingin bermanja".
Ia segera
berbalik ke arah pedagang yang tadi menemaninya bicara.
"Sepertinya
Ophelia membawa urusan yang sangat mendesak. Bisakah kita sudahi pertemuan hari
ini?"
Melihat pedagang
itu pergi dengan wajah bingung, Noah segera membawa Ophelia masuk ke ruangan
dalam.
Di antara para
bawahan, Ophelia memang menerima kasih sayang yang spesial, bahkan ia diizinkan
masuk ke kamar pribadi Noah.
Noah mulai
membelai lembut leher Ophelia. Seketika itu juga, Ophelia merebahkan dirinya
mengikuti sentuhan sang penguasa, sambil mengerang pelan dan meringkuk di atas
tempat tidur.
Sang Harimau
Arcloy pun akan berubah menjadi seperti kucing jika diperlakukan begini.
Setelah itu, Noah
terus membelai bagian-bagian sensitif Ophelia. Sebagai tuan dalam berbagai
arti, Noah tahu persis bagaimana cara membuat harimau ini mengeluarkan suara
erangan yang manis.
◆◇◆
Keesokan harinya,
Noah, Ophelia, dan Lucy—trio yang berasal dari Wilayah Archduke—berkumpul untuk
mendiskusikan urusan Ksatria Vernon.
"Jadi
begitu. Intinya, mereka bilang mau mengembalikan tanah yang mereka curi itu
asal kamu mau mengabdi pada Kakak, ya?"
Noah tidak bisa
menahan diri untuk tidak menghela napas setelah mendengar detail pertemuan dari
Ophelia.
"Bukankah
itu benar-benar meremehkan? Berani-beraninya mencoba memancingku dengan
imbalan sekecil itu. Padahal masih banyak hal lain yang ingin kumaki dari
mereka."
"Sepertinya
Kak Albert maupun Kak Ian sudah mulai kehilangan ketajaman mereka."
"Entah siapa
yang mencetuskan ide konyol ini. Padahal Tuan Vernon tampak merasa sungkan
sepanjang waktu..."
"Yah, pasti
itu ide Kak Ian."
"Mencoba memancing Ophelia-dono dengan bayaran
setingkat ksatria magang. Ian-sama memang pelitnya tidak berubah ya," ujar
Lucy sambil menyeruput tehnya dengan bunyi sluurp.
"Ternyata ada juga orang yang sampai dipanggil pelit
olehmu, ya."
Ophelia menyahut
sambil merasa pening. Sejak masih di kediaman Archduke, ia memang tahu Ian
adalah orang yang sangat perhitungan, tapi ia tidak menyangka bakal separah
ini.
"Yah,
intinya yang ingin kukatakan adalah ini. Tidak peduli seberapa menggiurkan
tawaran yang diberikan Kakak-kakakku, aku tidak akan pernah melepaskan Ophelia.
Bahkan jika Kakak tertua memimpin seluruh pasukan Archduke untuk menyerang
Arcloy, atau Kakak kedua mengerahkan seluruh kekayaan gereja sekalipun."
"Tuan
Penguasa..."
Hati
Ophelia berdesir mendengar deklarasi Noah. Ia merasa mendengarkan tawaran
menjengkelkan dari Vernon ada gunanya juga jika itu bisa memancing kata-kata
ini dari mulut Noah.
"Tuntutan
Ayahanda untuk mengembalikan wilayah juga belum dicabut. Aku yakin ke depannya
akan ada lagi tawaran tidak menyenangkan dan bermusuhan dari Wilayah Archduke,
jadi kuharap kalian berdua bisa bersabar."
"Apa pun
tawaran yang datang dari sana, aku berniat untuk terus mengikuti Noah-sama ke
mana pun sebagai ksatria Anda."
"Aku juga
akan terus menghasilkan uang untuk Anda sebagai ksatria Noah-sama."
Begitulah,
ketiganya kembali bersumpah untuk menjaga solidaritas yang tak tergoyahkan.
◆◇◆
Sekembalinya ke
Wilayah Archduke Uebel, Vernon menyampaikan jawaban Ophelia kepada Albert dan
Ian. Mendengar laporan Vernon, keduanya tampak lesu.
Vernon tentu saja
tidak menyampaikan ejekan Ophelia secara mentah-mentah dan memilih untuk
menghaluskan kata-katanya, namun tetap saja laporan itu cukup untuk membuat
mereka kecewa.
"Begitu ya.
Ternyata Ophelia tidak tergoda dengan tawaran kita."
"Apa
maksudnya ini, Vernon? Kenapa Ophelia menolak kehormatan ini?"
"Anu... Nona
Ophelia tidak mengatakannya secara gamblang, namun sepertinya beliau tidak puas
dengan tawaran pengembalian tanah tersebut."
"Dengar itu,
Ian? Sepertinya dia tidak puas hanya dengan tanah sekecil itu. Bukankah
seharusnya kita menyiapkan posisi dan imbalan yang lebih terhormat?"
Mendengar ucapan
Albert, Ian langsung memasang wajah masam.
"Kakanda,
jangan terburu-buru. Menurutku, dia hanya sedang mabuk karena kesuksesan
sementaranya di pelosok itu. Ayahanda juga bilang, kan? Dia pasti akan segera
sadar bahwa keberuntungan Noah hanyalah kebetulan semata. Cepat atau lambat,
keretakan akan muncul di antara mereka berdua. Saat itulah kesempatan
kita."
"Tapi tetap
saja, kalau kita tidak membawanya kembali secepatnya..."
"Jangan
panik. Ini hanyalah taktik negosiasi dasar untuk menaikkan harga. Tidak ada
habisnya kalau kita terus menuruti kemauannya. Ksatria Vernon, Anda juga jangan
bicara yang macam-macam. Masalah imbalan untuknya adalah keputusan kami."
"I-iya.
Mohon maafkan saya."
(Padahal
kalian sendiri yang bertanya...)
Vernon
ingin sekali membalas begitu, namun ia memilih untuk bungkam.
"Lagipula,
sekarang dia sedang berada di atas angin. Dia tidak akan mau mengangguk meski kita menaikkan
tawaran sekarang."
(Yah, itu memang
benar.)
Tidak peduli
seberapa tinggi mereka menaikkan nilai imbalannya, Vernon yakin Ophelia tidak
akan pernah kembali ke Wilayah Archduke.
Hanya saja,
Vernon tidak bisa setuju dengan pendapat Ian yang meyakini bahwa kejayaan Noah
akan meredup dan Ophelia pasti akan meninggalkannya.
Kesetiaan Ophelia
kepada Noah terlihat sangat nyata, dan lewat negosiasi kali ini, rasa tidak
percaya Ophelia terhadap sang Archduke justru tampak semakin memuncak.
Ophelia akan
tetap mengikuti Noah tidak peduli seberapa jatuh tuannya itu nanti, dan tidak
akan pernah berpaling ke Wilayah Archduke tidak peduli seberapa banyak uang
yang ditawarkan.
Terlebih lagi,
sejauh pengamatannya di Arcloy, ia tidak melihat adanya celah dalam
pemerintahan internalnya. Sebaliknya, ekonomi di sana justru semakin pesat.
Tidak, bukan
hanya itu. Noah tidak hanya mengaktifkan ekonomi, tapi juga merangkul para
pedagang untuk mengumpulkan informasi dari berbagai daerah.
Bukankah itu
pertanda bahwa ia sedang mengincar perluasan wilayah lebih lanjut?
Faktanya,
kebijakan yang dijalankan Noah terlihat sangat kokoh dan realistis. Vernon
menyimpan pemikiran itu dalam hati dan memilih untuk tidak menyampaikannya
kepada mereka berdua.
Menjawab dengan
jujur saja ia sudah kena semprot. Jika ia berani memberi saran tentang hal yang
tidak ditanyakan, entah berapa banyak kemarahan yang akan ia terima.



Post a Comment