Chapter 18
Hiasan Rambut dan Gaun
Noah mengintip ke
dalam ruang istirahat Kastil. Itu adalah area yang ia buka khusus untuk para
bawahan yang tidak punya tempat tujuan saat hari libur.
Di antara para
penghuni Kastil yang sedang berkumpul, Noah merasa puas melihat Lucy sedang
bersantai di depan perapian.
(Bagus, bagus. Dia benar-benar istirahat.)
"Oh, Tuan Penguasa."
Saat Noah duduk di sudut ruang istirahat, Lucy
menghampirinya untuk menyapa.
"Yo,
Lucy. Sepertinya kamu benar-benar mengambil libur ya."
"Iya.
Akhir-akhir ini saya merasa meskipun membawa banyak barang, penghasilan tidak
bertambah drastis. Saya sudah belajar untuk menunggu."
"Sip.
Itu hal yang bagus."
"Belakangan
ini, saya juga mulai sedikit berfoya-foya, lho."
"Hoo.
Memangnya kamu beli apa?"
"Lihat ini.
Saya membeli kaus kaki baru."
Lucy sedikit
mengangkat ujung rok panjangnya, menunjukkan kaus kaki berwarna krem yang
sangat sederhana.
(Itu kan cuma
barang kebutuhan sehari-hari...)
"Kaus kaki
sebelumnya sudah agak tipis karena aus. Berkat kaus kaki baru ini, kaki saya
terasa hangat bahkan saat terbang di langit yang dingin."
(Apalagi belinya
buat dipakai kerja...)
"Lucy,
libur besok, temani aku belanja."
Pada hari
libur berikutnya, Noah dan Lucy pergi menyamar mengunjungi kios-kios yang
menjual pernak-pernik wanita.
Ternyata Lucy pun
punya rasa ketertarikan; ia melihat aksesori wanita yang dipajang di toko
dengan rasa penasaran.
Namun, pada
akhirnya pandangannya selalu tersedot ke label harga. Ia memegang label
tersebut sambil menaruh tangan di dagu, tampak asyik menghitung sesuatu dalam
kepalanya. Noah menghela napas.
Gadis ini
benar-benar gila kerja sampai ke tulang.
"Oi, Lucy. Ini hari libur, lho."
"Wa-waa. Maafkan
saya."
"Nah, coba
pakai ini."
Noah memasangkan
sebuah hiasan rambut di kepala Lucy. Hiasan bermotif bunga itu benar-benar
memberikan sentuhan manis pada penampilan Lucy yang biasanya polos. Lucy tampak
malu-malu melihat pantulan dirinya di cermin.
"A-awa-wa.
Memakai hiasan rambut begini hanya akan mengganggu saat terbang."
"Tidak
apa-apa. Kamu harus belajar sedikit cara menghamburkan uang. Pakai itu setiap
hari libur, ya."
Meski merasa
canggung, Lucy menerima hiasan rambut tersebut. Sejak saat itu, setiap hari
libur, ia akan muncul di hadapan Noah dengan hiasan rambut terpasang meski
wajahnya memerah malu.
Suatu hari,
Ophelia menyadari Lucy memakai hiasan rambut yang tidak biasa dan terlihat
manis.
(Hooo.)
"Tumben
sekali, Lucy. Kamu memakai hiasan rambut secantik itu."
"Ehehe. Ini
dibelikan oleh Tuan Penguasa."
Lucy menjawab
sambil merona. Seketika itu juga, ekspresi Ophelia berubah masam dan ia menjadi
tidak senang.
"Aku juga
sering diberi hadiah pedang atau tanah oleh Tuan Penguasa, tahu?"
"......Kenapa
Anda malah bersaing untuk hal yang tidak jelas begitu?"
Meski saat itu ia
berpisah dengan Lucy tanpa perdebatan lebih lanjut, rasa cemburu perlahan mulai
meluap di hati Ophelia. Kalau dipikir-pikir, selama ini barang yang ia terima
dari Noah hanyalah pedang, tanah, atau penghargaan yang berkaitan dengan jasa perang.
Ia belum pernah diberi sesuatu yang "khas perempuan".
Mengingat hal
itu, rasa irinya terhadap Lucy semakin membengkak.
(Tuanku juga keterlaluan. Kenapa beliau malah memberi hiasan rambut semanis itu kepada Lucy duluan daripada kepadaku?)
Selama beberapa
hari berikutnya, Ophelia mencoba memasang wajah tidak senang di depan Noah,
namun Noah sama sekali tidak menyadari kekesalannya. Karena itu, ia menyusun
sebuah rencana untuk "merayu" tuannya.
"Tuanku,
pada perjamuan malam nanti, aku juga ingin menghadirinya."
"Hm? Kamu
mau ikut juga? Tentu saja boleh."
"Hanya saja,
itu... aku tidak punya pakaian yang layak untuk dipakai," ujar Ophelia
dengan wajah yang memerah malu.
Sebenarnya, bagi
dirinya, mengajukan permintaan seperti ini kepada tuannya adalah hal yang cukup
memalukan mengingat statusnya sebagai bawahan.
Padahal ia
menerima penghasilan yang sangat cukup, namun rasa cemburu yang tak
terbendunglah yang mendorongnya melakukan ini.
"Pakaian
yang layak?"
"Iya. Itu...
sepertinya sudah saatnya aku memiliki pakaian untuk acara sosial. Bukankah
lebih baik jika aku memakai hal semacam itu sesekali?"
(Kalau
dipikir-pikir, dia memang selalu memakai seragam pelayan atau baju zirah perang
saja.)
"Apa ini?
Kamu juga sudah masuk usia di mana kamu tertarik pada hal-hal seperti itu,
ya?" tanya Noah sambil menyeringai menggoda.
"Iya.
Begitulah kira-kira. Hanya saja, aku tidak tahu harus memilih yang seperti
apa."
Pipi Ophelia
memerah padam seolah wajahnya akan mengeluarkan api.
"Jadi, jika
tidak keberatan... aku akan sangat berterima kasih jika Tuan Penguasa mau
memilihakannya untukku."
Dengan sikap
gelisah, ia akhirnya berhasil mengutarakan keinginan itu.
"Dengan
kekuasaan yang kamu miliki sekarang, bukankah kamu tinggal meminta pedagang
untuk membawakan apa pun yang kamu mau?"
"Anu,
itu..."
(Uuuh, Tuanku.
Kenapa Anda hanya bersikap jahil kepadaku saja?)
Sebenarnya,
karena jarang melihat Ophelia yang biasanya tegas menjadi sangat malu-malu
seperti ini, Noah ingin menikmati momen ini sedikit lebih lama.
"Intinya,
aku ingin Tuanku yang memilihnya! Sudah... kumohon, ampuni aku sampai di sini
saja."
Ophelia menutupi
wajahnya dengan kedua tangan lalu berjongkok karena malu.
"Baiklah,
aku mengerti. Aku yang akan memilihkan gaunmu."
"I-iya.
Terima kasih banyak."
Setelah itu, Noah
memanggil para pedagang kain dan memerintahkan mereka menyiapkan gaun yang
sesuai dengan perawakan tinggi Ophelia.
Ia menghadiahkan
sebuah gaun merah tua yang elegan serta bros emas. Ophelia sangat terharu
melihat keindahan gaun itu dan perhatian dari Noah.
Saat mengenakan
gaun tersebut, dipadukan dengan tubuhnya yang tinggi semampai, Ophelia berubah
menjadi wanita cantik yang memancarkan aura luar biasa.
Sejak saat itu,
setiap kali Noah menjamu tamu atau mengadakan acara sosial, Ophelia akan
mengenakan gaun itu dan membuat para tamu terpesona.
Beberapa tamu
pria ada yang mencoba menggoda wanita cantik yang baru mereka lihat itu, namun
begitu menyadari bahwa dia adalah Ophelia—"Pedang Kesayangan" Duke
Arcloy—wajah mereka langsung pucat pasi dan bersikap sangat hormat.
Ophelia yang
menyadari Noah sering melirik kaki jenjangnya yang terlihat dari balik belahan
gaun, sengaja mengubah posisi silangan kakinya.
Ia berusaha
memastikan paha kencangnya menjadi "pemandangan indah" bagi sang
penguasa. Setiap kali Noah menatap pahanya dengan penuh minat, ia merasa puas
karena telah berhasil membalas kejahilan tuannya sebelumnya.
Di tengah
kehangatan suasana rumah tangga yang penuh canda tawa itu, Ksatria Vernon dari
wilayah Archduke datang berkunjung.
◆◇◆
Kejadian ini
bermula saat Ophelia masih menjadi pelayan yang mengabdi pada Noah di wilayah
Archduke. Kala itu, Ophelia memperhatikan dari balik pilar dengan perasaan
gelisah saat Noah bernegosiasi dengan Albert.
"Apakah
tidak ada cara lain, Kakanda?"
"Noah, kamu
ini gigih sekali ya."
"Cara
Kakanda merampas tanah dan statusnya adalah tindakan yang tidak pantas
dilakukan oleh bangsawan tinggi. Jika hal ini sampai diketahui publik, keluarga
kita akan menjadi bahan tertawaan dunia. Ini menyangkut harga diri keluarga
Uebel. Tolong kembalikan tanahnya dan kembalikan status ksatria miliknya."
"Tapi itu
adalah keputusan Ayahanda. Membatalkannya berarti memaksa Ayahanda sebagai
Archduke untuk mengakui kesalahannya. Mengakui kesalahan dan meminta maaf
kepada seorang gadis pelayan adalah tindakan yang sangat tidak pantas bagi
seorang penguasa. Para bangsawan pengikut pasti akan menentangnya."
"Bukankah di
situlah gunanya kebijaksanaan politik? Kita tidak perlu menundukkan kepala.
Kita hanya perlu mengembalikan tanah, hak, dan status yang memang seharusnya ia
terima. Jika kita membuat alasan yang masuk akal, hal itu tidak akan sulit."
"Apa tidak
cukup jika kita menggantinya dengan uang?"
"Kakanda,
itu namanya penipuan. Tolong perlakukan dia sebagaimana layaknya seorang dari
kelas ksatria."
"Aku tidak
mengerti. Kenapa kamu begitu terobsesi pada gadis itu?"
"Dia adalah
sosok dengan kesetiaan yang murni. Semakin kita membalas kesetiaannya, semakin
kuat pula loyalitas yang akan ia berikan."
"Bagaimana
kamu bisa tahu hal seperti itu? Di zaman kekacauan ini, tidak ada yang tahu apa
yang akan terjadi di masa depan."
"Masa depan
bisa diprediksi sampai batas tertentu dari masa lalu dan masa kini. Dia tidak
pernah sekalipun mengkhianati keluarga ini maupun aku sebagai tuannya.
Sebaliknya, dia telah berkontribusi lebih dari yang bisa dibayangkan."
"Tidak bisa.
Saat ini dia hanyalah seorang pelayan. Aku tidak bisa memberinya perlakuan
istimewa."
Ophelia
mendengarkan percakapan itu sambil meneteskan air mata. Rasa sakit di dadanya
bukan karena sikap dingin Albert, melainkan karena pengabdian Noah terhadap
dirinya.
(Noah-sama
bertarung melawan kakak dan ayahnya sendiri demi hal yang sama sekali tidak
menguntungkan baginya. Semata-mata hanya untuk melindungi kehormatanku dan
orang tuaku.)
Pada akhirnya,
Noah gagal membujuk Albert dan kembali menemui Ophelia.
"Maafkan
aku, Ophelia. Sayangnya aku tidak bisa membujuk Kakanda."
"Noah-sama,
ini sudah cukup. Anda sudah berjuang keras demi saya. Sekarang giliran saya
yang memberikan kesetiaan kepada Anda. Mulai sekarang, saya adalah ksatria yang
hanya akan mengabdi demi Anda seorang."
◆◇◆
"Selamat
datang, Ksatria Vernon."
Noah menyambut
kedatangan Ksatria Vernon dengan sikap yang murah hati.
"Bagaimana
kabar Ayahanda dan Kakak-kakakku?"
"Sangat
sehat, Tuan."
"Lalu, soal
masalah dengan Kruck itu, apakah Ayahanda sudah mengoreksi keputusannya?"
"Anu...
Archduke Uebel sedang sangat sibuk dengan penaklukan benteng Anglin dan meredam
kerusuhan yang dipicu oleh negara musuh, sehingga sepertinya beliau belum
sempat mengurus hal itu."
"……Begitu
ya."
Noah menghela
napas panjang. Ia sudah tahu tentang kegagalan Albert dalam penaklukan benteng,
serta kerusuhan yang disebabkan oleh kegagalan pemerintahan Ian.
Ia juga tahu
bahwa sang Archduke sedang bersusah payah menutupi hal itu di dalam negeri.
Noah pun
menyadari bahwa kemungkinan besar ayahnya enggan mengakui kegagalan tersebut
karena masalah gengsi dan terus menundanya.
(Duh,
Ayahanda benar-benar merepotkan. Malah sibuk menyokong kegiatan Kakak-kakakku
yang tidak ada harapan, dan mengabaikan stabilitas wilayah yang sudah berhasil
dikuasai.)
Kruck
sendiri masih berada di wilayah Archduke Neagle dan masih sehat, bahkan terus
bergerak menyusun rencana untuk merebut kembali tanahnya.
Alasan
sisa tiga negara Arcloy tetap memusuhi Noah adalah karena mereka pikir mereka
bisa memanfaatkan situasi di mana sang Archduke tidak mengakui prestasi Noah.
Noah
sebenarnya ingin perintah pengembalian wilayah yang lahir dari kesalahpahaman
itu segera dicabut, namun sepertinya ia akan dibiarkan begitu saja sampai
kakak-kakaknya meraih kesuksesan tertentu.
"Ya
sudahlah. Tolong ingatkan Ayahanda untuk segera mencabutnya."
"Akan saya
usahakan semaksimal mungkin."
(Tapi
omong-omong……)
Ksatria Vernon
sangat terkejut melihat perubahan wilayah Arcloy dan kota di sekitar Kastil
yang sudah lama tidak ia lihat. Keramaiannya tidak kalah dengan wilayah pusat
Archduke Uebel.
Bahkan terasa
lebih bersemangat daripada pusat kota wilayah Archduke sendiri. Para pedagang yang keluar masuk Kastil
adalah orang-orang dari serikat dagang besar yang bahkan Vernon kenal.
(Bukan hanya
perang, ternyata Noah-sama juga sangat mahir dalam urusan pemerintahan
internal……)
Ini bukan
terlihat seperti kemakmuran sementara. Perkembangannya terasa sangat kokoh dan
stabil. Vernon tidak bisa menahan perasaan campur aduk di hatinya.
Di satu sisi ia
senang kerabat tuannya makmur, namun di sisi lain, ia harus memberikan laporan
yang mungkin akan kembali merusak suasana hati sang Archduke.
"Omong-omong
Noah-sama. Di mana Nona Ophelia?"
"Ophelia ada
di ruangan ini kok."
"Hah? Tapi
sejauh penglihatan saya, di sini tidak ada... ah!"
(Mungkinkah...
wanita anggun ini?)
Vernon kembali
tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Saat memakai seragam pelayan dia
memang manis, dan saat menjadi ksatria dia adalah wanita cantik yang berwibawa,
namun siapa sangka saat memakai gaun dia akan menjadi secantik ini.
Sebagai ksatria
berpengalaman, Vernon memang hanya melirik sekilas saat pertama masuk, namun ia
sama sekali tidak menyadari bahwa itu adalah Ophelia. Ophelia yang melihat
reaksi Vernon pun tertawa kecil.
"Saya
benar-benar pangling. Siapa sangka Nona Ophelia terlihat begitu mempesona dalam
balutan gaun. Bahkan di seluruh penjuru wilayah Archduke Uebel pun, rasanya
sulit menemukan wanita secantik ini."
"Ah, Anda
bisa saja memuji."
"Ada urusan
apa kamu menemui Ophelia?"
"Hamba
bermaksud membicarakan suatu hal secara empat mata dengan Nona Ophelia
nanti."
"? Tidak
bisakah dibicarakan di sini saja?"
"Saya menerima perintah tegas untuk menyampaikannya hanya kepada Nona Ophelia saja."
"Padahal
Ophelia adalah ksatriaku?"
"Benar. Ini
adalah perintah tegas dari Yang Mulia Albert dan Ian."
Noah menunjukkan
ekspresi masam karena bisa menebak apa isi urusan tersebut. Ophelia pun ikut
mengernyitkan dahi, merasa terganggu.
Hanya saja, akan
terasa tidak enak bagi Vernon yang sudah jauh-jauh datang. Jika mereka terlibat
perselisihan dengan tamu sang Archduke, itu hanya akan memberi angin segar bagi
tiga negara musuh yang sudah sangat memusuhi mereka.
Noah
menekan rasa tidak senangnya dan bersikap murah hati.
"Baiklah
kalau begitu. Ophelia, jangan terlalu memasang muka galak, dengarkan saja apa
yang ingin dia sampaikan nanti."
"……"
Ophelia
memalingkan wajahnya dari Vernon tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Vernon
berhasil melewati situasi sulit itu dan sukses menciptakan kesempatan untuk
berbicara empat mata dengan Ophelia.
◆◇◆
"Jadi? Apa
sebenarnya urusanmu denganku?"
Ophelia bertanya
dengan nada ketus kepada Ksatria Vernon.
Namun, ia tidak
lagi memperlihatkan balutan gaun cantiknya; ia telah berganti kembali ke
seragam ksatria.
"Saya membawa pesan dari Yang Mulia Albert dan Yang
Mulia Ian. Beliau bertanya apakah Anda memiliki niat untuk kembali ke Wilayah
Archduke. Anda diizinkan untuk bergabung sebagai staf militer pribadi Yang
Mulia Albert. Jika Anda bersedia kembali, sebagai penghargaan, tanah milik
mendiang orang tua Anda akan dikembalikan sepenuhnya."
Alis Ophelia terangkat tajam karena marah, bahunya bergetar
hebat.
(Mengembalikan tanah orang tuaku? Bukankah itu tanah yang
memang seharusnya menjadi milikku sejak awal?)
Lagipula, di Arcloy ini, Ophelia sudah menerima tanah dari
Noah sebagai penghargaan atas jasa perangnya—tanah yang luasnya berkali-kali
lipat dari milik orang tuanya.
Ia juga sudah menorehkan prestasi militer yang jauh
melampaui si Albert itu. Kenapa sekarang ia harus menjadi bawahan Albert? Jika
dipikir-pikir lagi, perlakuannya di Wilayah Archduke dulu tidak lebih dari
sebuah penghinaan.
Mengambil tanahnya secara diam-diam di tengah kekacauan
kematian orang tuanya, lalu menurunkan derajatnya menjadi seorang pelayan.
Mereka memanfaatkan kesetiaan pribadinya kepada Noah.
Sekarang, setelah ia menerima kasih sayang dan posisi
terhormat dari Noah di Arcloy, hampir tidak ada alasan baginya untuk kembali ke
sana.
Mereka memberikan syarat yang begitu meremehkan, pasti
karena jauh di dalam lubuk hati mereka, orang-orang itu masih menganggapnya
sebagai seorang pelayan.
Namun, yang paling membuatnya murka adalah fakta bahwa
mereka masih berpikir bisa memancingnya dengan materi.
Ophelia hampir saja meneriaki Ksatria Vernon, namun ia
menahan diri di detik terakhir. Tidak ada gunanya memarahi Vernon yang hanya
seorang utusan.
Lagipula, di antara pengikut Archduke, Vernon termasuk orang
yang memiliki nurani dan selalu bersikap baik kepadanya sejak ia masih di
Wilayah Archduke.
Ophelia menekan amarahnya dan hanya menyunggingkan senyum
dingin.
"Benar-benar ya. Sepertinya aku dipandang sangat rendah
oleh mereka."
Vernon terdiam, tidak mampu membalas kata-kata itu.
"Sampaikan
pada kedua Yang Mulia. Daripada membuang waktu untuk membujukku, lebih baik
mereka berusaha keras agar tidak menjadi beban bagi Noah-sama. Aku tidak punya
niat untuk meninggalkan tempat ini. Seperti yang sudah kunyatakan di kediaman
tadi, aku akan terus melayani Noah-sama selamanya."
◆◇◆
Sesuai dugaan,
pertemuan dengan Ophelia berakhir gagal. Vernon meninggalkan ruangan dengan langkah
gontai. Saat berjalan di lorong, ia berpapasan dengan seorang gadis yang
membawa sapu.
(Penyihir itu...
mungkinkah dia Lucy?)
Lucy tersenyum
ramah hingga lesung pipitnya terlihat, lalu membungkuk sopan. Penampilannya pun
berubah drastis hingga sulit dikenali.
Saat masih
melayani Ian, dia hanyalah gadis suram yang terus-menerus mengais sampah, tapi
manusia memang bisa berubah.
Sekarang ia
memakai hiasan rambut yang manis; jika saja ia tidak memegang sapu, orang pasti
percaya jika ia disebut sebagai putri bangsawan dari suatu tempat.
Meski masih
tampak agak kikuk, sepertinya ia mulai sadar akan pandangan laki-laki dan—meski
agak terlambat—mulai terbangun sisi "perempuan"-nya. Sudah jelas
pandangan siapa yang sedang ia pedulikan.
Vernon memiliki
intuisi bahwa gadis inilah yang berperan besar dalam keramaian di kota benteng
ini.
Dan juga, fakta
bahwa Noah-lah yang telah membangkitkan kekuatannya.



Post a Comment