NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Kanojo no ane wa 2-shu-me no kanojo V1 Interlude 2

 Penerjemah: Taksaka

Proffreader: Manahan


Interlude 2


Aku mengintip ke dalam oven, memeriksa tingkat kematangan kue. Kue-kue berbentuk bintang yang diterangi cahaya oranye itu tampak seperti grup idola yang sedang berdiri di atas panggung.


Aku memeriksa sisa waktu yang tertera pada layar. Masih ada 30 detik dari waktu yang kuatur, tapi karena kurasa sudah pas, aku menekan tombol batal dan mengeluarkan para "idola" itu dari dalam.


Aroma khas jahe yang gurih dari kue jahe merebak ke dalam hidungku. Itu adalah aroma kesukaanku, dan juga aroma kesukaan orang yang kucintai. Karena hari ini adalah hari kunjungan ke planetarium, aku tidak bisa membawa kue jahe seperti biasanya. Jadi, aku berlatih untuk dibawa pada kesempatan berikutnya.


"Aku sudah selesai mandi."


Sayuki Onee-chan, yang hanya mengenakan pakaian dalam, mengintip ke dapur sambil mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk.


"Terima kasih. Aku akan segera masuk."


"Bikin kue jahe lagi? Sesekali ganti yang lain kenapa? Choco chip misalnya."


"Tidak apa-apa, Ryuichi-kun bilang dia suka ini!"


Kalau soal Ryuichi-kun, aku jauh lebih tahu. Dalam hal pelajaran, olahraga, maupun selera busana, aku memang tidak bisa menang dari Onee-chan, tapi kalau soal Ryuichi-kun, aku tidak akan mengalah.


Sambil menunggu kue yang baru matang menjadi dingin, aku memutuskan untuk mandi. Di ruang ganti, saat aku melepas pakaian, sosokku yang mengenakan pakaian dalam terpantul di cermin wastafel.


...Masih tetap tipis seperti biasanya. Benar-benar lapangan yang rata dan tertata. Padahal kami kembar, kenapa aku bisa begitu berbeda dengan Onee-chan?


Saat hendak memasukkan baju yang kulepas ke keranjang cucian, tanganku terhenti. Blus di dalam keranjang itu menarik perhatianku.


"Lho, Onee-chan punya baju seperti ini? Wah, bagusnya, lucu sekali."


Itu adalah blus putih kasual dengan bagian lengan yang sedikit transparan. Sejak dulu Onee-chan memang modis, tapi sepertinya aku baru pertama kali melihat baju ini. Tapi baju ini... rasanya aku baru saja melihatnya di suatu tempat belum lama ini. Kalau tidak salah, di planetarium... Wanita yang berada di sebelah Ryuichi-kun mengenakan pakaian seperti ini... Ah, mungkin hanya perasaanku saja?


Saat itu, ponsel di dalam saku rokku bergetar. Telepon dari Yuria.


『Mihare, ottsu (semangat ya). Bisa bicara sebentar?』


"Iya, semangat juga. Planetarium tadi bagus banget ya."


『Jadi latihan yang bagus buat pengamatan nanti, kan. Terlepas dari itu, gimana perkembangan hubunganmu sama Shibukawa?』


"U-um. Hari ini, untuk pertama kalinya kami pegangan tangan."


Dari seberang telepon, terdengar suara siulan.


『Boleh juga. Gimana rasanya?』


"Yah... rasanya seperti menumpukkan tanganku di atas tangan Ryuichi-kun."


『Terus, Shibukawa balas menggenggamnya?』


"Enggak. Cuma begitu saja."


『...Cuma menumpukkan tangan? Kalian bahkan nggak melakukan pegangan tangan antar kekasih/jari bertautan? Kalian ini anak SD apa?!』


"Ha-habisnya, itu kan seperti serangan mendadak yang memanfaatkan kondisi Ryuichi-kun yang sedang tidak enak badan... Mungkin saja dia malah tidak ingat."


『Hah, kalian berdua benar-benar payah ya.』


Rasanya agak aneh dikritik begini oleh Yuria yang juga tidak punya pacar, tapi untuk saat ini aku diam saja.


『Karena kalian berdua sama-sama pemalu, selanjutnya cobalah menyerang sedikit, misalnya dengan ciuman.』


"I-itu lompatannya terlalu jauh! Dari lompat jauh tanpa awalan langsung jadi lompat galah!"


『Begitu saja sudah cukup kok! Kalau kamu lamban, nanti Shibukawa direbut orang lain, lho?』


Begitu mendengar itu, bayangan buruk mulai menyebar di dalam kepalaku. Terkadang, saat Ryuichi-kun menatapku, aku merasa seolah dia sedang menatap orang lain. Apakah dia sedang memikirkan gadis lain?


Aku penasaran, tapi karena aku tidak ingin menjadi pacar yang mengekang, aku belum berani bertanya lebih detail.


"Yuria, kamu berlebihan. Ryuichi-kun itu tidak terlalu sosial, jadi tidak mungkin ada gadis lain yang dekat dengannya selain kita..."


『Misalnya... Sayuki-san?』


Begitu nama itu disebut, jantungku serasa diremas.


"I-itu lebih tidak mungkin lagi! Onee-chan sama sekali tidak tertarik pada laki-laki. Sejak SMP dia ditembak banyak laki-laki tapi semuanya ditolak, kamu tahu itu kan, Yuria?"


『Tapi dia dan Shibukawa punya kesamaan hobi soal bintang. Lagipula kalian kan kembar, bisa saja kalian menyukai orang yang sama...』


"Nggak mungkin. Kami ini saudara kembar yang paling tidak mirip di seluruh dunia."


『Apa pun itu, kalau sudah jadi pacar, menurutku kalian boleh lebih dekat lagi. Jarak yang tanggung itu yang paling buruk. Tunjukkan pada orang-orang di sekitar kalau kalian itu sepasang kekasih.』


"Iya, terima kasih, Yuria. Aku akan berjuang."


Benar juga. Ryuichi-kun adalah pacar pertamaku. Dan dia adalah satu-satunya hal yang tidak dimiliki Kakak, hanya aku yang memilikinya. Aku tidak ingin membayangkan akan kehilangannya. Apalagi... jika direbut oleh Onee-chan...


Demi Ryuichi-kun, aku harus menjadi pacar yang lebih baik lagi. Untuk itu, aku harus membuatnya semakin, semakin menyukaiku. Dan jika untuk tujuan itu... meskipun aku harus menjadi sedikit berani...


Seolah untuk memantapkan tekad, aku menggenggam ponselku erat-erat.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close