Penerjemah: Flykitty
Proffreader: Flykitty
Kelompok Belajar Sehat dan Bermoral
Suatu
hari sepulang sekolah. Aku berada di gedung utama SMA Tsuwabuki.
Sambil
menghindari pandangan orang lain, aku membuka pintu ruangan bertuliskan
"Ruang Bimbingan Siswa" dan cepat-cepat menyelinapkan tubuh ke dalam.
Saat
lampu dinyalakan, terlihat ruangan polos yang hanya berisi satu meja dan dua
kursi.
Aku
meletakkan tas di atas meja dan berdiri bengong, ketika pintu kembali terbuka
dan seorang siswi masuk tanpa suara.
Orang
yang menutup pintu dengan tangan di belakang punggungnya adalah—wakil ketua
OSIS SMA Tsuwabuki, Basori Tiara.
"Tepat
waktu, ya."
"Nukumizu-san,
dari jendela kelihatan jelas, lho."
Tiara-san
berjalan cepat ke arah jendela lalu menutup tirai.
"Waktu
masuk ke ruangan ini, tidak ada yang melihat, kan?"
"Ah,
sepertinya tidak apa-apa…"
Akhirnya
terlihat lega, Tiara-san meletakkan tasnya di meja.
Yah,
mungkin dia memang tidak ingin orang lain tahu kalau sedang bertemu diam-diam
dengan cowok suram sepertiku.
Aku
tersenyum kecut dalam hati sambil duduk di kursi.
Meski
dibilang pertemuan rahasia, tentu saja bukan untuk tujuan aneh-aneh.
Kami
hanya mengadakan kelompok belajar rahasia yang kadang-kadang Tiara-san minta
secara mendadak.
Katanya
hari ini dia ingin belajar sastra klasik, tapi sejujurnya aku juga tidak
terlalu ahli untuk mengajar…
"Maaf
sudah merepotkan. Akhir-akhir ini belajar untuk ujian tidak berjalan dengan
baik."
Tiara-san
duduk di kursi seberang dengan ekspresi canggung.
"Kamu
kan sibuk dengan urusan OSIS, wajar saja."
"Oh?
Tapi Nukumizu-san juga punya klub sastra, kan? Atau sebenarnya tidak
aktif?"
"Itu—"
Aku
hendak menjawab, tapi melihat ekspresi Tiara-san yang seperti sedang
bersenang-senang, aku mengangkat bahu.
"Aku
juga sibuk luar biasa. Jadi hari ini aku mengandalkanmu."
"Iya,
kalau ada yang tidak kamu mengerti, aku akan mengajarinya."
Katanya
sambil terkekeh kecil.
Sebenarnya,
nilai akademik Tiara-san tidak bagus.
Nilai-ku
sendiri juga belakangan menurun, tapi Tiara-san selalu berada tepat di ambang
nilai merah. Meski begitu, dibanding Yakishio yang hampir semua mata pelajaran
merah, dia masih jauh lebih baik.
Kelompok
belajar rahasia pun dimulai dengan tenang.
Kami
membuka buku catatan dan buku pelajaran, lalu meninjau ulang materi ujian dari
awal.
Untuk
sementara, yang terdengar hanyalah suara membalik halaman dan pensil mekanik
yang menggores kertas.
Kalau
di ruang klub sastra biasanya ramai suara ngemil, jadi suasana sunyi hari ini
terasa menyenangkan…
Sekitar
lima belas menit berlalu.
"…Makura
no Sōshi (Buku Bantal) sudah kita pelajari sejak SMP, ya."
Tanpa
mengalihkan pandangan dari catatan, Tiara-san bergumam pelan.
Oh
iya, benar juga.
Saat
aku berusaha mengorek ingatan samar-samar itu, Tiara-san melanjutkan dengan
nada nostalgia.
"Waktu
itu aku tidak merasa sastra klasik sesulit ini."
"Di
SMP tujuannya memang untuk membiasakan diri dengan karya klasik. Kita sering
bersenang-senang saling mengutip kalimat yang berkesan."
Mendengar
itu, Tiara-san mengangkat wajahnya dengan ekspresi terkejut.
"Oh,
jadi Nukumizu-san juga punya masa SMP seperti itu."
"Bukan
aku sih, itu cerita orang lain. Aku tidak punya teman."
"…Maaf,
lupakan saja."
Tiara-san,
ini seharusnya bagian untuk tertawa.
Dengan
suasana agak canggung, kelompok belajar kami berlanjut. Setelah beberapa saat
memeriksa catatan dalam diam, aku melirik keadaan Tiara-san.
Dia
tampak menggerakkan bibir kecilnya sambil menghafal tabel konjugasi.
…Kalau
dipikir-pikir, situasi sekarang cuma belajar bersama, kan?
Sepulang
sekolah, ruangan tertutup, laki-laki dan perempuan berdua, belajar untuk ujian—
Hah?
Jangan-jangan aku sedang menjalani masa remaja? Terlihat seperti masa muda?
…Tidak,
tunggu. Musim panas tahun lalu di museum bawah tanah, Yanami pernah bilang hal
serupa, tapi masa remaja itu lari melewatiku dengan kecepatan penuh. Yup, salah
paham.
──Tiara-san
mengenakan gaya rambut yang selalu diikat rapi.
Alisnya
yang agak tebal sedikit berkerut, sementara ujung pensilnya mengetuk-ngetuk
buku referensi.
Karena
di OSIS ada banyak gadis cantik, sering kali aku lupa, tapi wajah Tiara-san
ternyata kecil. Dengan rambut diikat, lehernya yang ramping dan putih terlihat
jelas.
Tahi
lalat di lehernya juga agak—eh, maksudku, ya… begitu.
Kalau
saja sikapnya sedikit lebih ramah, mungkin dia cukup populer.
Saat
aku melamun memikirkan hal-hal itu, entah sejak kapan Tiara-san menatapku
dengan wajah heran.
"Nukumizu-san,
ada apa?"
"Eh?
Tidak, cuma… kamu kelihatan berpikir keras, jadi aku kira ada apa."
Saat
aku asal mengelak, Tiara-san menghela napas sambil menekan keningnya dengan
jari.
"Haa…
sepertinya aku sulit sekali menghafal tabel konjugasi sastra klasik."
"Oh,
itu memang susah."
"Begitu
hafal langsung lupa. Setelah rasanya hafal sampai akhir, bagian awal jadi samar
lagi. Ada trik khusus?"
Tiara-san
mengarahkan buku referensinya ke arahku.
"Cara
standar sih—mengaitkannya dengan ingatan lain."
"Mengaitkan?"
Dia
mengedipkan mata dengan penasaran.
"Yang
terkenal itu lagu alfabet. Atau mnemonik. Kalau aku pribadi—"
Aku
mengambil bolpoin dari tempat pensil.
"Menulis
di tangan."
"Eh?
Mencontek?"
Bukan.
"Maksudnya,
kamu ingin menghafal tabel, kan? Misalnya telunjuk untuk konjugasi satu
tingkat, jari tengah untuk konjugasi tidak beraturan, lalu ditulis. Kalau
begitu, saat ujian melihat jari bisa jadi pemicu ingatan."
"Begitu…
menghafal dengan menulis di tubuh."
Tiara-san
mengangguk dalam-dalam, lalu mulai menulis di tangannya sendiri dengan bolpoin.
Oh,
langsung di sini ternyata. Meski aku yang menyarankan, rasanya aneh kalau
sekarang melarang…
Aku
menatap catatan dengan canggung, lalu tiba-tiba Tiara-san tertawa kecil.
"Entah
kenapa, jadi terasa menyenangkan."
"Menulis
di tangan sendiri rasanya seperti anak kecil. Jadi lucu."
Sambil
terkekeh sesekali, dia terus menulis di tangannya.
…Yah,
kalau dia senang, tidak apa-apa. Bahkan mulai bersenandung kecil.
Aku
mendengarkan senandung Tiara-san sambil meninjau ulang catatan pelajaran.
Sekitar
tiga puluh menit kemudian, aku akhirnya mencapai akhir materi ujian dan
meregangkan tubuh lebar-lebar.
Tiara-san,
yang kini sudah diam, membeku sambil masih memegang bolpoin.
"Basori-san,
kenapa?"
"Ehm,
tidak ada lagi tempat untuk menulis. Harus bagaimana ya?"
Tangan
kiri Tiara-san penuh dengan tulisan tabel konjugasi.
Kalau
dilihat baik-baik, lumayan menyeramkan.
"Ehm…
tulis di tangan kanan?"
"Aku
juga sempat berpikir begitu, tapi aku tangan kanan."
Ah,
benar juga.
Saat
aku mengangguk paham, Tiara-san menyodorkan bolpoin kepadaku.
"Jadi…
bisakah Nukumizu-san yang menuliskannya?"
Hah?
Menulis… di tangan Tiara-san? Aku?
"Tidak,
maksudku, hapus saja yang di tangan kiri lalu lanjutkan."
"Tapi
tujuan mengaitkan visual dengan ingatan, kan? Kalau di jari yang sama ditulis
hal berbeda, bukankah jadi membingungkan?"
Kadang-kadang
Tiara-san bicara masuk akal.
"Kalau
begitu aku harus menyentuh tanganmu, tapi—"
Maksudku
menolak halus, tapi justru membuat Tiara-san makin bersemangat.
Wajahnya
memerah saat dia bicara.
"J-jangan
salah paham! Bukan berarti aku ingin bergandengan tangan atau semacam itu,
ya?!"
"Ah,
iya. Aku paham. Murni demi belajar, kan."
"Iya!
Jadi—"
Dia
mendorong tangan kanannya ke arahku melewati meja.
"Demi
ilmu, aku tidak keberatan mengotori diri ini!"
Kalimat
yang berat sekali. Dan kalimat seperti itu sebaiknya tidak diucapkan
sembarangan.
"Yah…
kalau kamu tidak masalah, aku juga tidak."
Saat
aku mengulurkan tangan, Tiara-san memasang wajah tidak puas.
"Kalau
berhadapan begini, tulisannya terbalik, kan? Bisa duduk di sebelahku?"
"Ehm…
baik."
"Silakan
duduk di sini."
Aku
memindahkan kursi ke sampingnya, lalu perlahan menggenggam telapak tangannya.
Telapak
itu tidak punya kesan memesona seperti Shikiya-san, tapi kecil dan rapuh,
sangat seperti tangan seorang gadis.
…Tiara-san
memang perempuan, ya.
Sambil
memikirkan hal yang cukup tidak sopan itu, aku dengan hati-hati menyentuhkan
ujung bolpoin ke telapak tangannya—
"Nh!"
Begitu
ujung pena menyentuh, suara lembut keluar dari mulut Tiara-san.
"Kalau
geli—"
"T-tidak
apa-apa. Silakan lanjutkan."
Dia
menunduk, menggigit bibirnya.
Aku
mengangguk tanpa berkata apa-apa dan perlahan menuliskan tinta di telapak
tangannya.
Teknik
menghafal—bukan hal aneh—dimulai dari konjugasi dua tingkat, lalu berlanjut ke
konjugasi tidak beraturan baris na.
"N-Nukumizu-san,
jangan terlalu mengusap—"
"B-baik.
Yang kedua konjugasi baris na itu—"
"‘Nuru’,
kan."
"Ku…!"
Kata-kata
konjugasi baris na bertambah di jari kelingking tangan kanannya. Di leher
Tiara-san yang bergetar, terlihat keringat tipis.
…Bahaya.
Aku sendiri mulai merasa aneh.
Ini
murni untuk belajar. Sama sekali bukan hal lain. Benar-benar bukan. Sambil
meyakinkan diri, aku menulis huruf terakhir. Tiara-san menghela napas pelan.
"T-tolong
beri aku waktu istirahat sebentar…"
"Daripada
istirahat, bagaimana kalau lanjut ke konjugasi baris ra sekalian?"
"Konjugasi
baris ra itu…"
Tiara-san
menatap buku referensi dengan mata berkaca-kaca.
Dibanding
baris na, lengkungannya lebih sedikit.
Dengan
pipi memerah, Tiara-san mengangguk kecil.
Berikutnya
jari manis. Saat ujung pena bergerak perlahan, bahunya kembali bergetar kecil.
Tiara-san
belum menyadari.
──Sebulan
setelah ini, Tiara-san akan menyatakan perasaannya kepadaku.
Kalau
dipikir sekarang, mungkin tanda-tandanya sudah ada sejak saat itu.
Belakangan,
aku baru menyadarinya.
Prvious Chapter | ToC | End Vol 8




Post a Comment