Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Terima Kasih Atas Bantuan Waktu Itu
Pusat Masa Depan Anak Niko Niko.
Sebuah
fasilitas publik untuk anak-anak yang berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki
dari Stasiun Toyohashi.
Selain
mengadakan berbagai acara dan kelas pengalaman, tempat ini juga memiliki area
bermain untuk anak kecil.
Yang
sedang berjalan melewati pintu masuknya adalah Ketua OSIS SMA Tsubaki──Basori
Tiara. Tiara berjalan lurus menuju resepsionis lalu menyapa staf di sana.
"Permisi.
Aku Basori dari OSIS SMA Tsuwabuki, yang kemarin sudah menghubungi."
"Oh,
murid dari Tsuwabuki ya. Sudah kami dengar."
Wanita
di resepsionis menunduk melihat dokumen di tangannya.
"Umm,
Basori…"
"Ya,
Basori! Aku membawa brosur untuk acara membaca cerita bulan depan!"
Nama
depannya tidak akan dia biarkan dipanggil.
Tiara
segera melanjutkan pembicaraan dan meletakkan brosur di atas meja.
"Terima
kasih sudah repot-repot datang. Nanti langsung kami pajang──"
Tepat
saat pembicaraan hampir selesai tanpa masalah, seorang gadis bertubuh kecil
berlari ke arah konter.
Yang
muncul adalah anggota Klub Sastra SMA Tsuwabuki──Komari Chika.
"Ma,
maaf! Adikku, hilang!"
Begitu
selesai mengatakannya, dia batuk-batuk keras.
"U,
usianya 4 tahun, rambutnya sama seperti aku. Fo, fotonya──"
Komari
mencoba mengeluarkan ponsel, tapi panik hingga menjatuhkannya ke lantai.
Yang
lebih dulu mengulurkan tangan sebelum Komari mengambilnya adalah Tiara.
"Komari-san.
Kalau ada sesuatu, aku akan membantu."
"U,
ueh…"
Komari
terkejut melihat wajah yang dikenalnya, sementara Tiara menyerahkan ponsel yang
dipungutnya.
…………
………………
……………………Tidak
ada reaksi.
"Umm,
Komari-san? Aku Basori dari OSIS SMA Tsuwabuki. Kalau berkenan, aku ingin
membantu."
Wajar
kalau Komari merasa takut. Keduanya memiliki sedikit hubungan kurang baik di
rapat ketua klub tahun lalu.
Duri
rasa bersalah menusuk dada Tiara.
"……Maaf
sudah menyapamu tiba-tiba. Aku juga akan mencoba melihat-lihat sekitar."
Tiara
meletakkan ponsel Komari di atas konter lalu berbalik.
Katanya
adiknya yang berusia 4 tahun tersesat. Kalau rambutnya sama seperti kakaknya,
mungkin akan mudah dikenali.
Saat
hendak meninggalkan tempat itu, ujung bajunya ditarik seseorang.
"……Komari-san?"
"To,
tolong ba, bantu aku!"
Suara
Komari bergetar, jari yang mencengkeram bajunya juga gemetar. Melihat itu,
Tiara menggenggam tangan Komari dengan lembut.
"Ya,
biarkan aku membantu. Apakah ada tempat yang mungkin dia tuju?"
"A,
aku pergi ke toilet, dan saat kembali dia sudah tidak ada."
Komari
menarik napas dalam-dalam lalu melanjutkan.
"A,
aku sudah mencari ke seluruh gedung, tapi tidak ketemu di mana pun."
"Kalau
begitu Komari-san, tolong sampaikan ciri-ciri adikmu ke staf. Aku akan
memeriksa area luar."
"Lu,
luar?"
Komari
menatap ke luar melalui dinding kaca dengan cemas.
"Yang
paling berbahaya adalah kalau dia keluar dari area fasilitas. Untuk keluar dari
area, dia harus lewat pintu depan atau turun tangga menuju parkiran. Komari-san
tetap di pintu masuk untuk mengawasi pintu depan. Aku akan mencari di parkiran
dan sekitar luar bangunan."
Setelah
memastikan Komari mengangguk, Tiara berjalan cepat menuju tangga.
"Tu,
tunggu!"
Tiara
berbalik saat dipanggil, dan melihat Komari mengarahkan ponsel ke arahnya.
Di
layar terlihat seorang gadis kecil imut dengan rambut diikat ke satu sisi.
"I,
ini Hina. To, tolong."
"Ya.
Anak yang manis."
Tiara
tersenyum menenangkan lalu berlari menuruni tangga.
◇
Tiara
kembali dengan keringat di dahinya, dan Komari langsung berlari mendekat.
"Ba,
bagaimana?"
"Di
parkiran dan sekitar bangunan tidak ada. Aku juga bertanya pada orang yang
lewat, tapi tidak ada yang melihat."
Sambil
menepuk punggung Komari yang wajahnya pucat, Tiara menatap ke arah ruang
terbuka di tengah gedung.
"Sudah
memeriksa lantai dua?"
"Su,
sudah… tapi…"
Komari
mengikuti arah pandangan Tiara dan melihat koridor lantai dua di sepanjang
ruang terbuka itu.
Sepertinya
sebuah acara baru saja selesai. Beberapa keluarga sedang berjalan di sana.
"A,
aku belum lihat dalam ruang pelatihan."
"Baik.
Aku akan memeriksanya."
Saat
Tiara hendak menuju tangga, Komari mencoba mengikutinya.
"A,
aku juga mau mencari."
"Namun
Komari-san sebaiknya tetap di sini──"
Saat
Tiara kebingungan, staf resepsionis menyela.
"Kalau
sebentar saja, aku bisa mengawasi kalau adikmu lewat. Pergilah
mencarinya."
"Te,
terima kasih!"
Begitu
mengucapkan terima kasih, Komari langsung berlari ke tangga. Terkejut dengan
semangat tak terduga itu, Tiara pun mengejarnya.
Mereka
akhirnya menyusuri seluruh ruang pelatihan bersama, tapi tidak menemukan Hina.
Di
tengah ruangan, Komari berdiri dengan mata berkaca-kaca. Tiara memperlihatkan
brosur bangunan.
"Ayo
kita tenang dan periksa lagi. Apakah sudah melihat area berbayar di lantai
satu? Mungkin dia masuk tanpa sengaja."
"Su,
sudah. T-tapi, tidak ada."
"Kalau
begitu──bagaimana dengan tempat bernama Plaza Pengasuhan Anak ini?"
"Te,
tempat itu untuk anak sampai 3 tahun, jadi sekarang tidak digunakan."
"Dulu
Hina pernah menggunakannya?"
"I,
iya. Hina suka tempat itu──"
Belum
selesai berbicara, Komari kembali berlari.
Tiara
mengusap keringat di dahinya yang baru saja mereda, menarik napas besar, lalu
mengikuti Komari.
◇
Plaza
Pengasuhan Anak.
Tempat
interaksi untuk balita hingga usia 3 tahun dan orang tua mereka. Tersedia
berbagai permainan dan fasilitas sehingga balita bisa bermain seharian.
Di
sudut buku cerita tempat itu, terlihat Komari Hina tertidur di depan buku
terbuka.
Menjepit
Hina di antara mereka, Komari dan Basori duduk lemas di lantai.
"Syukurlah.
Kita menemukannya dengan selamat."
"I,
iya… syukurlah."
Komari
mengelus kepala Hina.
Setelah
beberapa saat, Komari menatap Tiara dengan ragu.
"Ke,
kenapa kamu mau membantu?"
"Itu
tentu saja karena kalau murid Tsuwabuki kesulitan──"
Tiara
menghentikan kata-katanya dan menunduk canggung. Percuma berpura-pura di saat
seperti ini. Dia membuka mulut dengan jujur.
"……Maaf.
Kurasa ini untuk menenangkan rasa bersalahku."
Wajah
Komari dipenuhi kebingungan mendengar jawaban tak terduga itu.
"Rapat
ketua klub tahun lalu──ingat?"
"E,
eeh…"
Komari
mencari kata-kata beberapa saat, lalu akhirnya mengangguk pelan.
"Aku
sudah lama ingin meminta maaf tentang saat itu."
Tiara
melanjutkan, seolah melepaskan beban di dadanya.
"Waktu
itu aku tidak punya kelonggaran dan hanya memikirkan soal ketepatan waktu.
Sekarang aku sadar aku sudah bersikap buruk pada Komari-san. Aku benar-benar
minta maaf."
Tiara
menundukkan kepala dalam-dalam, sementara Komari buru-buru melambaikan tangan.
"Ti,
tidak. Itu karena aku tidak memperhatikan sekitar. Jadi Basori-san tidak
salah."
──Yang
tidak memperhatikan sekitar justru aku.
Tiara
hampir mengatakan itu, tapi menelan kata-katanya saat melihat ekspresi Komari.
Komari
sekarang berbeda dari dulu. Wajah seorang gadis yang mempercayai sesuatu dan
memiliki keteguhan hati.
"……Karena
Nukumizu-san?"
Pertanyaan
mendadak itu justru paling mengejutkan Tiara sendiri.
Kenapa
nama Nukumizu muncul di sini?
Berlawanan
dengan Tiara yang kebingungan, Komari berdiri tanpa mengubah ekspresi.
"Su,
sudah waktunya keluar. Hina tidak bisa menggunakan tempat ini."
"Pengunjung
hari ini sedikit, kan. Bagaimana kalau kita minta izin agar dia boleh
menggunakan tempat ini sebentar?"
Komari
menggeleng pelan.
"Te,
tempat ini bukan lagi tempat anak ini."
Komari
mengangkat Hina yang masih tertidur.
"Hi,
Hina masih anak-anak──tapi walaupun bisa tumbuh besar, dia tidak bisa kembali
jadi kecil."
"……Ya,
benar sih."
Setelah
keluar dari Plaza Pengasuhan Anak menuju pintu masuk, Hina masih tertidur pulas
di dada Komari.
Melihat
tatapan lembut Komari pada adiknya, sudut bibir Tiara mengendur.
"──Komari-san."
"Ueh…
a, ada apa?"
Nada
bicara Tiara yang tiba-tiba formal membuat Komari mundur setengah langkah.
Kesalahan
masa lalu dan pengampunan.
Dirinya
dan Komari mungkin sedikit mirip di suatu tempat.
Penakut,
melindungi diri dengan duri. Namun setelah merasakan kebaikan orang sekitar,
mereka belajar mengulurkan tangan sendiri.
Dan
mungkin──mereka memandang orang yang sama.
Tiara
mengulurkan tangan dengan senyum.
"Lain
kali, bolehkah aku berkunjung ke ruang Klub Sastra? Bagaimana kalau kita
mengobrol bersama?"
"I,
itu… mending tidak usah."
──Jawaban
instan.
Tiara
membeku, sementara Komari menundukkan kepala kecil.
"Ha,
hari ini benar-benar terbantu. Ja, jadi aku pergi dulu."
"……Ah,
ya. Hati-hati di jalan."
Komari
keluar dari gedung sambil menggendong adiknya.
Menatap
punggung mereka, Tiara menghela napas panjang.
──Hidup
memang penuh hal yang tidak berjalan sesuai keinginan.
Entah
kenapa dengan perasaan segar, Tiara berbisik ke arah punggung kakak beradik
Komari.
"……Aku
ditolak lagi ya.”



Post a Comment