Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Perayaan Ulang Tahun Kelahiran
Nukumizu Kaju 20○○
Suatu malam pada suatu hari menjelang pemilihan OSIS. Aku sedang sibuk mempersiapkan pelajaran untuk besok di kamarku.
Saat
membalik halaman catatan matematika, Kaju yang duduk di pangkuanku sambil
melihat kartu kosakata mengangkat wajahnya.
"Onii-sama,
sejak naik ke kelas dua, waktu persiapan belajarnya bertambah ya."
"Iya.
Kalau tidak mempersiapkan dengan benar, aku tidak bisa mengikuti
pelajaran."
Aku
memeriksa rumus di buku pelajaran sambil mencatat di buku tulis. Lalu, kepala
Kaju yang mengintip buku pelajaran menutup pandanganku.
"Hei
Kaju, aku tidak bisa melihat, jadi geser sedikit."
Aku
menggeser kepala Kaju ke samping, lalu menyadari sesuatu.
Tubuh
Kaju di atas pangkuanku, jarak antara telapak kakinya dan lantai──
"Kaju,
jangan-jangan kau bertambah tinggi?"
"Iya,
sejak awal tahun ini aku bertambah 1 cm."
Kaju
menegakkan punggungnya dengan tegap.
Aku
dengan perasaan haru menaruh telapak tanganku di kepala Kaju. Kaju yang sejak
dulu bertubuh kecil pun, seperti ini, perlahan tumbuh dewasa.
Berbeda
dengan pertumbuhan ke samping milik Yanami, ini benar-benar membahagiakan.
"Ngomong-ngomong,
hadiah ulang tahun, apa benar cukup kamus saja?"
"Iya,
sambil belajar untuk ujian masuk, aku bisa merasakan keberadaan Onii-sama.
Tidak ada hadiah yang lebih dari itu."
Kaju
menyatakannya dengan tegas.
──Akhir
pekan ini adalah ulang tahun Kaju yang ke-15.
Dia
memang meminta kamus Inggris-Jepang sebagai hadiah, tapi apa tidak bisa memberi
sesuatu lagi ya…….
Sambil
mengelus kepala Kaju, aku terus menggerakkan pensil mekanisku di buku catatan
dengan pikiran melayang.
◇
Sepulang
sekolah keesokan harinya. Rapat darurat klub sastra diadakan di ruang klub.
Dengan
wewenang sebagai ketua klub, aku mendadak mengumpulkan semua orang.
"Semua,
terima kasih sudah berkumpul."
Yanami,
Komari, dan Shiratama-san mengangguk dengan wajah serius.
"Ketua
klub, ada apa ya?"
Shiratama-san
mengangkat tangan dengan manis. Aku mengangguk dengan berat lalu memberi tahu
mereka bertiga.
"Iya,
akhir pekan ini── ulang tahun Kaju."
Entah
kenapa mereka tidak bereaksi, tapi aku menenangkan diri lalu melanjutkan
penjelasan.
"Jadi
aku berencana membuat kue sebagai kejutan, tapi aku bingung mau membuat kue
seperti apa."
Masih
tidak ada reaksi.
Tanpa
mempedulikannya, aku membagikan lembaran yang sudah kusiapkan.
"Shortcake
stroberi atau krim cokelat juga bagus, tapi mungkin tart atau chiffon teh juga
menarik. Kaju sering membuat kue jenis keju, tapi itu karena mudah disimpan
beku──"
"……Tunggu
sebentar, Nukumizu-kun."
Kali
ini Yanami mengangkat tangan dengan wajah curiga.
"Iya,
Yanami-san."
"Kami
dipanggil cuma untuk menentukan kue ulang tahun adikmu? Itu saja?"
"Kurasa
memang begitu. Boleh aku lanjutkan?"
"K-kepalamu
itu spons ya?"
Entah
kenapa Komari menyanggahku. Astaga, sepertinya perlu sedikit penjelasan.
"Dengarkan
dulu. Kali ini ulang tahun Kaju yang ke-15. Dahulu di Jepang, laki-laki
dianggap dewasa pada usia 15 tahun. Di zaman kesetaraan gender seperti
sekarang, tidak berlebihan kalau mengatakan tahun ini adalah upacara kedewasaan
Kaju."
Ahem.
Aku menatap wajah semua orang.
"Artinya
ini perayaan yang sangat membahagiakan. Mengerti, kan?"
"Aku
tidak mengerti. Aku cuma mengerti bahwa Nukumizu-kun itu terlalu bahagia dan
tidak ada kue."
Yanami
mengibaskan lembaran yang kubuat.
"Lagipula,
Nukumizu-kun, kau memang bisa memanggang kue? Aku belum pernah diberi makan
hasil buatanmu."
"Karena
ini pertama kalinya, aku memang agak khawatir."
Lagi
pula kenapa aku harus memberinya makan.
Shiratama-san
menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Aku
pernah membuat kue. Kalau untuk merayakan Kaju-chan, aku ingin sekali
membantu."
"E-eh,
iya kah. Terima kasih……"
Aku
agak tertekan hingga kata-kataku tersendat.
Sebenarnya
karena ini urusan Kaju, aku sudah memutuskan untuk melakukannya tanpa
melibatkan Shiratama-san.
Karena
itu aku memilih hari saat Shiratama-san tidak ada karena kegiatan OSIS, tapi
kenapa dia ada di sini…… kenapa ya…….
Seolah
mengetahui konflik batinku, Shiratama-san memiringkan kepalanya dengan manis.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kita membuatnya bersama di rumahku? Kalau akhir pekan,
keluargaku juga tidak ada."
"Tapi
aku berencana membuat kuenya di rumahku."
Komari
menunjukkan wajah curiga.
"I-ini
kan kejutan, tapi kau membuatnya di rumah?"
"Iya.
Di jadwal Kaju ada rencana keluar mulai siang, jadi aku pikir membuatnya
setelah itu."
"……Nukumizu-kun,
kau masih berbagi jadwal dengan adikmu ya."
Yanami
menatapku dengan tatapan bermakna. Soalnya aku tidak tahu cara mematikan fitur
itu. Lalu, Shiratama-san yang berdiri tiba-tiba duduk kembali di sebelahku.
"Kalau
pertama kali, kadang tidak berjalan lancar, jadi lebih baik punya waktu
cadangan. Di rumahku tidak ada siapa-siapa, hanya kita berdua, jadi tidak perlu
sungkan."
"B-begitu
ya……"
Saat
aku terdesak, Shiratama-san semakin mendekat.
"Begitulah.
Boleh aku membantu pengalaman pertama Ketua Klub?"
Memang
kalau pertama kali, mungkin gagal. Lagi pula Shiratama-san harum sekali.
Dan
katanya di rumahnya tidak ada siapa-siapa…… meskipun itu tidak ada hubungannya
dengan kue.
"Ehm……
aku juga laki-laki, jadi rasanya tidak baik masuk ke rumah tanpa ada orang.
Keluargamu juga mungkin khawatir."
Shiratama-san
menaruh jari telunjuk di dagunya lalu memiringkan kepala dengan manis.
"Tapi
kita kan berpacaran, jadi menurutku tidak masalah."
"!!!"
Hah?!
Apa yang kau katakan, Shiratama-san.
Merasakan
tatapan penuh niat membunuh dari Yanami dan Komari, aku menggelengkan kepala
sekuat tenaga.
"Tunggu!
Kita tidak berpacaran, kan?!"
"Ah,
aku salah. Aku cuma memperkenalkan Ketua Klub ke kakak-kakakku sebagai
pacarku."
Shiratama-san
menjulurkan lidah sambil berkata "Tehe". Imut.
Iya,
cuma itu saja. Di Aeon Mall Toyokawa, kami hanya menyebarkan kebohongan kepada
pasangan Tanaka bahwa kami berpacaran──
"Kau
belum memberi tahu mereka yang sebenarnya?!"
"Soalnya
pada hari pernikahan itu, Ketua Klub bilang supaya tetap di sampingmu──"
Shiratama-san
melirik Yanami dan Komari lalu buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Maaf,
itu rahasia kita berdua ya."
"Itu
bisa menimbulkan salah paham, jadi tolong gunakan subjek yang jelas!"
Bahaya,
kalau sampai aku dianggap pria jahat yang mendekati anggota baru. Aku menarik
napas dalam-dalam lalu menghadap dua anggota lama.
"Ehm,
boleh aku menjelaskan?"
"Kalau
itu pesan terakhir, aku mau mendengarnya."
"M-mati
saja."
Bagus,
mereka berdua seperti biasa.
"Waktu
Operasi Balas Dendam itu, aku dan Shiratama-san berbohong kepada Tanaka-sensei
dan kakaknya bahwa kami berpacaran."
Penjelasan
selesai. Sekarang mereka pasti mengerti── sepertinya bukan ekspresi itu.
Yanami
menatapku dengan mata setengah tertutup.
"Oh……
kenapa berbohong seperti itu?"
"Kenapa
ya──"
Kenapa
ya. Aku sendiri tidak begitu tahu.
Gadis
bermata setengah tertutup lainnya, Komari, juga menatap tajam ke arahku.
"K-kau
bilang supaya tetap di sampingmu?"
"Itu
pembicaraan antara Shiratama-san dan Tanaka-sensei, aku tidak ada
hubungannya!"
Aku
tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi kenapa aku disalahkan sebesar ini?
Saat
aku menahan ketidakadilan itu, Shiratama-san perlahan menyentuh lenganku.
"Ketua,
maaf sudah merepotkan. Kalau disalahpahami bahwa aku berpacaran dengan Ketua,
pasti terasa tidak enak, ya."
"Umm,
bukannya tidak enak sih, tapi……"
Mendengar
itu, Shiratama-san menampilkan senyum seindah bunga.
"Syukurlah!
Kalau begitu, ayo kita buat kue bersama di rumahku──"
"……Bawa
kue dari rumah Shiratama-chan bukannya bakal susah?"
Yanami
menyela dengan suara pelan. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, lalu mulai
mencari-cari ujung rambut bercabang dengan sikap acuh.
"Kalau
pakai sepeda bisa hancur, dan kalau naik bus sama kereta harus pindah-pindah,
jadi butuh waktu juga. Sama saja kan dengan bikin di rumah Nukumizu-kun."
Shiratama-san
sempat membeku sesaat, lalu mengangguk sambil tersenyum, seolah menenangkan
diri.
"Benar
juga. Andai ada tempat yang cocok di dekat rumah Ketua."
"Kalau
ada sih enak yaa."
Yanami
memainkan ujung rambutnya dengan jari.
Apa
ini, suasana tegang yang aneh. Komari yang tadi menatapku tajam sekarang malah
gemetar sambil menatap ponselnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi……?
Saat
itulah, seolah memecah suasana ini, pintu terbuka dengan keras.
"Capek
banget! Katanya hari ini ada rapat dadakan ya?"
Yang
masuk ke ruangan adalah Yakishio dengan pakaian olahraga.
Sambil
mengusap keringat dengan handuk yang diberikan Komari, Yakishio menatap
sekeliling ruang klub dengan bingung.
"Ada
apa sih, kalian?"
Karena
tidak ada yang membuka mulut, mau tak mau aku yang menjelaskan.
"Umm……
kita mau bikin kue ulang tahun Kaju sebagai kejutan, tapi lagi cari tempat buat
bikinnya. Kalau di rumahku, bisa ketahuan Kaju."
"Hmm."
Yakishio
meneguk minuman dari botol airnya, lalu duduk di kursi sambil menyeka mulutnya.
"Kalau
gitu, datang aja ke rumahku. Mama jago bikin kue."
◇
6
Juni──hari ulang tahun Kaju yang patut dirayakan seluruh dunia.
Aku
datang ke rumah Yakishio sambil menghindari pandangan dari Kaju.
Untuk
menghindari suasana canggung tanpa alasan, akhirnya diputuskan membuat kue di
rumah Yakishio.
Rumah
Yakishio berada dalam jarak jalan kaki dari rumahku, jadi sangat cocok
dijadikan tempat buat kue. Selain itu──
"Nukumizu-kun,
selamat datang! Ayo, jangan sungkan, silakan masuk."
"Maaf
sudah merepotkan secara mendadak."
Ibu
Yakishio yang akan mengajarkan cara membuatnya. Aku sangat senang.
Di
ruang tamu rumah Yakishio yang dipersilakan untuk kumasuki, tercium aroma dupa,
dan di dapur makan berbagai peralatan memasak tersusun rapi.
Setelah
meletakkan bahan-bahan yang sudah kubeli di meja dapur, ibu Yakishio
menyerahkan kain terlipat kepadaku.
"Nih,
pakai celemek ini ya."
"Terima
kasih. Ngomong-ngomong, Lemon-san di mana?"
Aku
melihat sekeliling, tapi tidak ada Yakishio di ruang tamu. Sambil mengenakan
celemeknya sendiri, ibu Yakishio menjawab dengan santai.
"Lemon
lagi di klub. Dia lagi semangat karena pertandingan sudah dekat."
"Eh?"
Berarti
di rumah ini cuma ada aku dan ibu Yakishio berdua? Tunggu, dia sudah menikah,
berarti suaminya mungkin ada di mana──
"Suamiku
sedang dinas luar kota, jadi tidak usah sungkan ya."
"Ah,
baik!"
Suami
dinas luar kota──anak perempuan di klub──istri orang yang masih terlihat sangat
awet muda────
Ini
apa, plot yang sering muncul di manga. Tentu saja tidak mungkin terjadi hal
aneh, tapi entah kenapa kalau berada di dekat ibu Yakishio──rasanya agak
membuat gelisah.
Saat
aku gugup mengenakan celemek, ibu Yakishio berputar ke belakangku dan
mengikatkan talinya.
"Anu,
aku bisa sendiri kok."
"Tidak
apa-apa. Di rumah ini cuma ada anak perempuan, jadi senang rasanya ada anak
laki-laki yang datang."
Ya,
aku juga senang.
……Tidak,
bukan waktunya senang-senang dengan ibu teman.
Hari
ini tujuannya membuat kue ulang tahun Kaju, bukan datang untuk berkencan dengan
istri orang. Saat aku berusaha menenangkan ekspresi wajahku dengan kekuatan
mental luar biasa,
──Klek.
Pintu ruang tamu terbuka.
Yang
masuk sambil menggosok matanya adalah seorang gadis berkacamata dengan piyama.
Ia menyeret boneka kelinci besar yang lemas. Itu adalah Yakimo-chan alias
Yakishio Nagi-chan.
Ibu
Yakishio terkejut dan menjauh dariku.
"Nagi,
kamu belum ganti baju?"
"Hmm……
semalam aku baca buku sampai larut, jadi ketiduran lagi."
Ia
berjalan pelan ke kulkas, mengambil susu, lalu duduk di meja.
Yakimo-chan
yang masih setengah mengantuk meminum susu perlahan, lalu beberapa saat
kemudian menyadari keberadaanku dan langsung membeku. Detik berikutnya,
Pffft!
Ia menyemburkan susu dengan keras.
Ibu
Yakishio buru-buru menghampiri Yakimo-chan yang tersedak. Rasanya aku melakukan
sesuatu yang salah……
Sambil
mengalihkan pandangan dari Yakimo-chan yang batuk dengan mata berkaca-kaca, aku
mengikat tali celemekku dengan erat.
Di
bawah bimbingan ibu Yakishio, pembuatan kue dimulai.
Sambil
mengayak tepung, aku melirik ke ruang tamu, dan melihat Yakimo-chan yang sudah
berganti pakaian menatapku tajam.
……Rasanya
tidak nyaman.
Bukan
berarti aku melakukan sesuatu yang mencurigakan, tapi juga tidak bisa dibilang
aku sama sekali tidak memikirkannya. Usia kelas dua SMA memang usia yang serba
sensitif.
Sambil
membela diri dalam hati, aku terus bekerja, ketika bel rumah berbunyi.
Seolah
sudah menunggu momen ibu Yakishio keluar dari ruang tamu, Yakimo-chan akhirnya
membuka suara.
"Anu,
sebenarnya hubunganmu dengan kakakku itu apa?"
……Hah?
Maksudnya?
Aku
mencoba membaca maksudnya dari ekspresinya, tapi matanya di balik kacamata
hanya dipenuhi kewaspadaan.
"Umm,
kami satu klub sastra…… kurang lebih seperti itu hubungan kami."
Aku
berusaha memberi jawaban aman, tapi Yakimo-chan menyorotkan pandangan tajam
dari balik kacamatanya.
"Kakakku
selama ini belum pernah membawa anak laki-laki dari klub atletik ke
rumah."
"Begitu
ya."
Kalau
dia punya orang yang disukai, tentu tidak akan membawa laki-laki lain ke rumah.
"Benarkah
hanya teman satu klub saja?"
"Ya,
benar."
Meskipun
aku sudah menjawab dengan tulus, Yakimo-chan tetap menatapku tajam tanpa
bergerak.
Eh……
apa aku bilang sesuatu yang aneh ya.
Di
tengah suasana canggung itu, pintu ruang tamu terbuka.
"──Aku
kira tadi kakaknya Yakishio-senpai."
"Aduh,
bukan, aku ini ibunya Lemon, ibunya!"
Yang
masuk ke ruang tamu dengan suasana ceria adalah ibu Yakishio, dan di
belakangnya──Shiratama-san dan Yanami. Kenapa mereka ada di sini.
Saat
aku terkejut, Yanami tersenyum dengan senyum jahil.
"Nukumizu-kun,
aku datang buat bantu."
──Tidak
perlu. Aku merasa hebat karena berhasil menelan kata-kata itu.
Yanami
mengencangkan tali celemeknya sambil menyenggol bahuku.
"Kenapa
diam saja? Kalau senang, bilang saja."
"Yang
akan kita buat ini kue ulang tahun, jadi tidak ada bagian untuk
Yanami-san."
"Ya
jelas dong. Aku sudah bawa bagian punyaku sendiri."
Yang
Yanami keluarkan adalah roti tawar.
……Roti
tawar? Tunggu, kalau bagian Yanami roti tawar berarti—
"Jangan-jangan
di rumah Yanami-san, kalian menancapkan lilin di roti tawar saat ulang
tahun?"
"Tidak.
Nukumizu-kun, sebenarnya kamu memandang keluargaku seperti apa sih."
Yanami
mengangkat bahu seolah berkata "ya ampun".
"Dengar
ya, krim segar biasanya tersisa di mangkuk atau piring, kan? Kalau sudah jadi
anak SMA, kita tidak menjilatinya langsung, tapi mengoleskan krim yang tersisa
ke roti lalu dimakan."
"Aku
paham maksudnya, tapi kenapa kamu sudah makan rotinya sekarang?"
"Ini
roti potong enam, makan satu lembar tidak masalah. Shiratama-chan, mau
juga?"
Dengan
mengenakan celemek berenda lucu, Shiratama-san menggeleng.
"Aku
tidak apa-apa. Aku sudah sarapan."
"Aku
juga sudah sarapan lho?"
Saat
aku menjaga jarak dan membiarkan Yanami ditangani Shiratama-san, ibu Yakishio
berdiri di sampingku sambil tersenyum.
"Wah,
Nukumizu-kun populer sekali ya."
"Tidak
kok, aku cuma selalu dijadikan bahan bercanda."
Eh?
Ibu Yakishio… entah kenapa matanya tidak tersenyum. Mungkin cuma perasaanku
saja……
Sementara
itu, pembuatan kue dilanjutkan dengan tambahan dua asisten. Yanami memasukkan
tangan ke dalam kantong bahan lalu mengaduk-aduk isinya.
"Nukumizu-kun,
menteganya di mana?"
"Mau
dimakan?"
"Tidak.
Aku mau menimbang bahan."
Walaupun
kupikir nanti pasti dimakan, tolong masukkan juga ke perhitungan jumlah bahan
ya.
"Umm,
sepertinya di kantong yang itu—"
Saat
aku hendak mencari mentega, Shiratama-san menyodorkan bungkusan dari samping.
"Kalau
tidak keberatan, bagaimana kalau pakai ini? Di rumah ada mentega yang enak,
jadi kubawa."
Melihat
itu, ibu Yakishio tampak terkejut.
"Wah,
mentega Échiré ya. Boleh dipakai?"
"Ya,
silahkan dipakai banyak-banyak. Ini kan ulang tahun Kaju-chan yang sangat
kusayangi."
Entah
kenapa Shiratama-san mengatakan itu sambil melihat ke arahku.
Kalau
memang sangat menyukai Kaju, seharusnya bisa sedikit lebih akrab dengannya,
menurutku.
◇
Di
salah satu sudut kawasan perumahan yang tenang. Di kamar pribadi Gondou Asami,
ada Kaju dan Gon-chan berdua.
"Nuku-chan,
aahn."
"Iya,
aahn~."
Kaju
memasukkan sendok yang disodorkan Gon-chan ke dalam mulutnya. Setelah menjilat
potongan telur yang menempel di bibirnya, Kaju mengangguk-angguk.
"Gon-chan,
kemampuanmu meningkat ya. Bahkan Kaju tidak bisa membuat tekstur selembut
ini."
"Tidak
baik kalau aku cuma selalu dibuatkan saja. Nuku-chan, aahn."
Gon-chan
menyendok lagi omurice dari piring, lalu mengarahkan sendok ke mulut Kaju.
"Gon-chan
tidak makan?"
"Hari
ini hari untuk memanjakan Nuku-chan. Mau makan lagi?"
"Iya,
aku mau dimanjakan lagi."
Hap.
Sambil
melihat Kaju mengunyah dengan bahagia, Gon-chan juga memakan sesuap omurice.
Omurice
lembut yang ia latih membuatnya menjadi sukses besar. Dengan ini, ia tidak akan
malu menyajikannya kepada siapa pun.
Saat
Gon-chan tersenyum puas, Kaju menatapnya dengan pandangan penuh arti.
"Hmm?
Jangan-jangan ini latihan untuk membuat seseorang mencicipinya ya?"
"…………"
Gon-chan
tanpa berkata apa-apa menarik pipi Kaju ke kiri dan kanan.
"Gon-chan
bilang mau memanjakanku."
"Memanjakan
juga ada batasnya."
Setelah
beberapa saat menikmati pipi Kaju, Gon-chan melepaskannya sambil tertawa.
"Padahal
ulang tahun, tidak apa-apa tidak membeli kue?"
"Ehehe,
hari ini Onii-sama akan memanggangkan kue untuk Kaju. Jadi Kaju
menantikannya."
"Hmm,
Onii-sama juga perhatian ya."
Gon-chan
menatap wajah Kaju yang tampak bahagia.
Selama
ini, hadiah ulang tahun Kaju biasanya adalah Onii-sama menghabiskan hari
bersamanya.
Namun
tahun ini mereka beraktivitas terpisah, dan Onii-sama bahkan mencoba membuat
kue—yang merupakan bidang Kaju.
──Nukumizu
Kaju, 15 tahun.
Temannya
yang selama ini memenuhi pikirannya dengan Onii-sama, perlahan mulai berubah.
Mungkin
yang lebih dulu berubah adalah Onii-sama, dan Kaju tidak punya pilihan selain
ikut berubah. Namun Kaju sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda seperti
itu……
"Kamu
tahu, Onii-sama berusaha menanyakan kue kesukaan Kaju secara tidak langsung,
dan bagian canggung seperti itu justru imut sekali. Padahal kalau melihat
riwayat pencarian dan jadwal, kejutannya sudah kelihatan jelas, tapi Kaju
sedang memikirkan harus bereaksi kaget seperti apa sejak kemarin—"
Melihat
Kaju yang terus berbicara dengan ceria, Gon-chan menggeleng kecil.
──Andai
Nuku-chan bisa tetap seperti sekarang sedikit lebih lama lagi.
Gon-chan
menyendok omurice lalu memasukkannya ke mulut Kaju yang masih terus berbicara.
◇
Aku
memegang loyang adonan sponge melalui sarung tangan oven, lalu memasukkannya ke
dalam oven yang sudah dipanaskan hingga 170 derajat.
Setelah
menutup pintu dan mengatur timer, tinggal menunggu saja. Ibu Yakishio melirik
jendela oven sebentar, lalu menoleh ke arah kami.
"Baik,
selama menunggu, mari kita siapkan krimnya."
Ibu
Yakishio membagi tugas dengan cekatan.
Saat
aku merasa tenang dengan aura keibuan istri orang, aku melihat Yanami menatap
tajam kemasan krim segar.
"Itu
mau dipakai, jadi jangan diminum."
"Aku
tidak minum. Aku cuma berpikir ini krim segar asli ya."
Eh,
memang ada krim palsu? Jangan-jangan krim yang selama ini kupikir krim segar
ternyata bulu babi putih atau cairan perasan hewan……?
Saat
aku gemetar menghadapi keberadaan yang tidak kukenal, Shiratama-san memungut
lap yang jatuh di lantai.
"Ada
yang namanya whipped cream berbahan minyak nabati. Harganya sekitar
setengahnya, jadi lebih mudah dipakai."
"Oh
begitu. Terima kasih lapnya."
"Iya.
Nih, sekalian aku lap tangan Ketua."
Gosok
gosok gosok. Entah kenapa Shiratama-san mengelap tanganku.
"……Kalian
berdua tolong bekerja. Ayo kita buat krim segarnya."
"Yanami-san,
kenapa roti tawarnya tinggal satu lembar?"
"Karena
batas konsumsi hari ini, jadi harus cepat dimakan."
"Bukannya
kamu tidak peduli soal begituan?"
Yanami
mengibaskan jarinya.
"Nukumizu-kun,
tanggal kedaluwarsa dan batas konsumsi itu beda. Batas konsumsi itu… lebih
ketat."
Begitu
ya. Tidak ada gunanya terlalu memikirkan Yanami, lebih baik fokus pada
pekerjaanku……
Saat
aku menyiapkan stroberi, ibu Yakishio yang sedang mencuci peralatan melihat jam
di dinding.
"Wah,
sudah jam segini. Kalian mau makan siang, kan?"
"Tidak,
kami tidak perlu sampai merepotkan—"
"Iya,
kami makan!"
Yanami
menjawab dengan penuh semangat.
Pemandangan
yang pernah kulihat di suatu tempat. Selama aku tidak dijatuhkan, kurasa sudah
cukup bagus.
Ibu
Yakishio tertawa kecil sambil mengelap tangannya dengan handuk.
"Tidak
usah sungkan. Ada mie somen pemberian orang, bagaimana kalau kita rebus?"
"Somen—"
Senyum
Yanami langsung membeku. Setahun telah berlalu, tapi lukanya masih belum
sembuh.
Di
samping ibu Yakishio yang menyiapkan makan siang, Yanami mengaduk krim segar
dengan tatapan mata kosong seperti ikan mati.
……Yanami.
Silakan jilat krim segarnya sepuasmu.
◇
Saat
Yanami menghabiskan porsi somen keenam, sponge kue akhirnya selesai dipanggang.
Setelah mengoleskan krim dan menaruh stroberi terakhir di atasnya, kue itu pun
selesai.
Aku
menjauh sedikit untuk memastikan keseimbangan keseluruhannya, lalu menyesuaikan
sudut stroberi dengan ringan.
"Baiklah──segini
sepertinya sudah pas."
Akhirnya
kuenya selesai. Saat aku mengangguk puas, Yanami dan Shiratama-san bertepuk
tangan.
"Wah,
keren! Kelihatannya enak banget!"
"Seperti
yang diharapkan dari Ketua Klub."
"Ya,
benar-benar jadi dengan bagus."
Tingkat
mengembang sponge, kekentalan krim segar, serta dekorasinya. Hasilnya sama
sekali tidak terlihat seperti kue yang dibuat untuk pertama kalinya. Ini pasti
berkat kemampuan seorang ibu rumah tangga.
"Bagus
sekali… Kelihatannya benar-benar enak deh…"
"Iya,
tapi Yanami-san jangan dimakan dulu, ya?"
Saat
aku menarik Yanami yang tanpa sadar mendekati kue, ibu Yakishio mulai menata
sisa bahan.
"Banyak
sekali yang tersisa ya. Boleh aku bungkus ulang?"
"Itu
bahan cadangan, jadi kalau berkenan silakan diambil."
"Boleh?
Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat satu kue lagi? Semua juga akan
makan, kan?"
"Ya,
tentu saja!"
Yanami
menjawab dengan penuh semangat, lalu mulai bersiap membuat kue kedua bersama
Shiratama-san. Sambil melirik mereka, aku memasukkan kue yang sudah jadi ke
dalam kotak.
"──Semoga
adikmu senang."
Entah
sejak kapan, ibu Yakishio sudah berdiri di sampingku dan berbicara.
"Iya.
Dia selalu yang mengurusku, jadi kupikir sesekali aku ingin membalasnya."
"Adikmu
juga sekolah di Momozono seperti Nagi, ya? Kalian dua bersaudara saja? Kamu
anak pertama, Nukumizu-kun?"
"A-ah,
iya. Benar."
"Bagus
sekali. Aku juga ingin anakku punya kakak seperti Nukumizu-kun. Orang tuamu
bekerja apa? Apakah sering dipindah tugaskan ke seluruh negeri?"
Ibu
Yakishio terasa semakin agresif bertanya.
Aku
tidak begitu mengerti, tapi mungkin inilah yang disebut obrolan khas ibu rumah
tangga.
"Orang
tuaku pegawai kantoran biasa, dan kalaupun ada mutasi, sepertinya masih dalam
prefektur."
"Begitu
ya. Belakangan ini semakin panas, jadi aku khawatir karena tekanan darah
suamiku agak tinggi. Keluargamu tidak ada yang sakit? Ada penyakit
bawaan?"
"Eh…
keluarga kami semuanya justru sangat sehat."
"Wah,
bagus sekali."
…
obrolan macam apa ini? Kenapa ibu Yakishio begitu ingin tahu tentang
keluargaku?
Saat
aku selesai menceritakan profil keluarga Nukumizu, pintu ruang tamu terbuka
dengan keras.
"Aku
pulang! Harumnya enak banget ya!"
Putri
pertama keluarga Yakishio pun pulang. Sambil menyeka keringat, dia mengintip
dapur.
"Lho,
baru mau mulai masak?"
Yanami
menyeringai sambil memegang mentega.
"Lemon-chan,
yang mau kita buat sekarang itu tambahan. All you can eat."
"Mau
ikut membuat juga, Senpai?"
Mendengar
ajakan Shiratama-san, Yakishio menunjukkan wajah gembira.
"Boleh!
Aku juga mau bikin!"
Saat
Yakishio hendak mengulurkan tangan, ibu Yakishio menaruh handuk di kepalanya.
"Lemon,
bersihkan keringatmu dengan benar lalu ganti baju."
"Baik.
Nukkun, tunggu ya."
"Tidak,
aku sudah mau pulang."
"Eeh,
tinggal sebentar lagi dong."
Yakishio
entah kenapa mengedipkan mata padaku sebelum keluar dari ruang tamu. Seperti
biasa, dia memang energik.
Sambil
mengaguminya, aku memasukkan kotak kue ke dalam tas. Lalu ibu Yakishio berbisik
pelan padaku.
"Maaf
ya. Biasanya dia lebih rapi kok. Meski begitu, sebenarnya dia cukup keibuan dan
kupikir dia akan jadi istri yang baik."
"Ah…
begitu ya."
Aku
tidak tahu harus menjawab apa selain itu.
Ngomong-ngomong,
Yakishio bisa masak tidak ya? Katanya waktu perkemahan tahun lalu, dia hampir
menyebabkan bencana saat menyalakan bara barbeque sampai api hampir menyebar…
Sambil
mendengarkan ibu Yakishio yang terus memuji putrinya, aku tanpa sadar
membayangkan kehidupan rumah tangga bersama Yakishio.
◇
Dalam
perjalanan pulang dari rumah Yakishio. Entah sudah berapa kali, aku menatap
kotak kue yang kugenggam.
Aku
bisa membayangkan wajah Kaju yang terkejut melihat kue buatan tangan.
Saat
berjalan hati-hati agar tidak mengguncangnya, terdengar suara langkah kaki
seseorang berlari mendekat dari belakang.
Langkah
kaki ini──
"Onii-sama.
Sudah pulang?"
Itu
Kaju. Kaju berjalan sejajar di sampingku lalu mengintip kotak kue.
"Kamu
membelikan kue ya? Dari toko mana?"
"Rahasia.
Kaju pergi dengan siapa?"
"Kalau
begitu itu juga rahasia."
Dia
berkata begitu sambil tersenyum riang. Entah kenapa, senyum polosnya terlihat
sedikit lebih dewasa dari biasanya.
Di
rambut hitam Kaju yang kulihat dari atas, terpasang hiasan rambut berbentuk
bunga.
"Hiasan
rambut itu lucu."
Saat
aku mengatakannya tanpa sengaja, wajah Kaju langsung bersinar dan dia
menatapku.
"Iya,
ini hadiah ulang tahun dari Gon-chan! Onii-sama memang selalu tahu segalanya
tentang Kaju!"
"Oh,
jadi kamu main dengan Gondo-san."
Kaju
yang rahasianya terbongkar langsung memonyongkan bibir secara berlebihan.
"Onii-sama
jahat."
"Maaf,
maaf."
Saat
aku tertawa dan meminta maaf, Kaju mengulurkan tangan.
"Kalau
begitu, Kaju akan memaafkan kalau kita bergandengan tangan."
Dalam
situasi seperti ini, aku tidak mungkin menolak. Saat aku menggenggam tangannya
dengan jujur, Kaju tersenyum sambil berkata,
"Kaju,
maafkan Onii-sama."
"Ya,
terima kasih."
Kami
bergandengan tangan, tertawa bersama sambil berjalan pulang.
──Belakangan
ini, rasanya waktu seperti ini semakin berkurang.
Kaju
sedang mempersiapkan ujian masuk, dan aku juga semakin sering pulang terlambat
karena klub sastra.
Suatu
hari nanti, mungkin kami tidak akan lagi merayakan ulang tahun bersama seperti
ini.
Hari
ini dia memang pergi bermain ke rumah Gondo-san, tapi suatu saat nanti──Sambil
melihat Kaju bersenandung di sampingku, aku bergumam dalam hati.
Sepertinya
masih terlalu cepat bagi Kaju untuk punya pacar.
Setidaknya
setelah dia masuk SMA──
Tunggu
dulu, meskipun sudah SMA, kemampuan dalam percintaan tiap orang berbeda-beda.
……
…………
………………Mungkin
masih sekitar 5 tahun, atau 10 tahun lagi.



Post a Comment