Penerjemah: Flykitty
Proofreader: Flykitty
Sebaiknya Rahasia Jangan Terlalu
Berlebihan
Pagi-pagi sekali di SMA Tsuwabuki.
Di
gudang gedung lama yang sepi, terlihat seorang siswi, Asagumo Chihaya dari
kelas 2-E.
Ia
mengandalkan sinar matahari pagi yang masuk dari jendela dan pantulan cahaya
dari dahinya, sambil mengintip kabel yang menjalar di balik dinding yang telah
ia kupas.
Hal
seperti ini memang sering terjadi pada bangunan tua, tetapi di gedung lama,
karena renovasi yang dilakukan berulang kali, banyak jalur kabel yang rutenya
menjadi tidak jelas. Ada kabel yang seharusnya ada di denah namun tidak
ditemukan, dan sebaliknya, ada kabel yang tidak tercantum di denah tetapi
justru terpasang.
Selain
itu, gedung lama sering digunakan untuk kegiatan ekstrakurikuler maupun
keperluan pribadi siswa, sehingga bagi dirinya yang hanyalah seorang siswi
biasa, tempat ini sangat cocok untuk menyalurkan rasa ingin tahunya.
Tiba-tiba,
cahaya dari dahi Asagumo yang sedang mengintip balik dinding semakin terang.
"...Ketemu!"
Tanpa
bisa menahan kegembiraan, suaranya pun terlepas. Ia akhirnya menemukan kabel
yang ia cari. Jika menggunakan kabel ini, ia bisa mengakses seluruh sistem
audio di gedung lama.
Karena
berkali-kali diperbaiki dan ditambah instalasi, keberadaan kabel ini bahkan
sempat tidak jelas, tetapi ternyata masih tersisa.
Selanjutnya,
ia hanya perlu memastikan sampai di mana kabel ini masih berfungsi, lalu
menyambungkan bagian yang sudah mati dengan rangkaian baru──
Saat
Asagumo menyusun rencana berikutnya di dalam kepalanya, ia menyadari ada suara
langkah kaki yang mendekati gudang.
...Lebih
dekat dari yang ia kira. Fakta bahwa ia tidak menyadarinya sampai sekarang
hanyalah kelalaian semata.
Asagumo
menyelipkan alat-alat yang ia pegang ke balik bayangan benda, lalu berbalik
menghadap pintu.
Doanya
agar orang itu hanya lewat sia-sia──pintu terbuka dengan keras.
"...Oh,
Asagumo-kun rupanya."
Tokoh
kedua yang muncul adalah mantan ketua OSIS, Hokobaru Hibari.
Sepertinya
ia tidak menyangka ada orang lain di sana. Melihat Hibari yang terkejut,
Asagumo menyapanya dengan senyum.
"Selamat
pagi. Ada keperluan apa sepagi ini?"
"Aku
sedang mengadakan kelompok belajar percakapan bahasa Inggris dengan beberapa
relawan. Ada whiteboard yang tidak terpakai di sini, jadi aku ingin
meminjamnya."
"Oh,
kalau begitu mungkin yang ini?"
Asagumo
menunjuk whiteboard di dekat dinding. Di balik tumpukan kardus, berdiri sebuah
whiteboard tua berkaki.
"Ah,
yang itu. Sepertinya bakal cukup sulit mengeluarkannya."
"Aku
bantu, silahkan jangan sungkan."
"Maaf.
Barang berat biar aku saja yang──"
"Silakan
jangan sungkan! Senpai tolong bereskan barang yang di bagian dalam."
Terdorong
oleh semangatnya, Hokobaru mengangguk lalu mulai membereskan barang di bagian
belakang.
Sambil
secara alami menutupi lubang di dinding dengan tubuhnya, Asagumo menumpuk
kardus di depannya.
"Bagian
sini sudah kupindahkan. Bagaimana di sana, Senpai?"
"Ya,
di sini juga sudah beres. Baiklah, sepertinya bisa digerakkan."
Saat
memegang whiteboard, Hokobaru menatapnya dengan rasa penasaran.
"Ngomong-ngomong
Asagumo-kun──kamu sepagi ini sedang apa?"
"Itu──"
Lawan
bicaranya adalah Hokobaru Hibari. Bukan tipe orang yang menjebak orang lain.
Setelah memutuskan begitu, Asagumo membuka mulutnya sambil memilih kata-kata
dengan hati-hati.
"Aku
juga ingin mengadakan kelompok belajar dengan teman, jadi aku mencari barang
yang bisa dipakai."
"Oh,
Asagumo-kun juga ya. Kalau butuh sesuatu, tanyakan saja padaku──"
Gerakan
Hokobaru berhenti saat menggeser whiteboard.
Ia
menyadari sejumlah alat yang muncul karena barang-barang tadi dipindahkan.
"Asagumo-kun,
ini apa?"
"...Entahlah,
ya?"
Hokobaru
mengambil sebuah papan kecil yang mirip sendok sepatu.
"Ini
alat untuk melepas panel interior. Kenapa benda seperti ini ada di sini?"
"Oh,
Senpai tahu?"
"Ada
kerabatku yang hobi mengutak-atik mobil. Aku pernah melihat pekerjaannya."
Hokobaru
memandang alat-alat yang bertumpuk secara berantakan.
"Ada
tester dan tang listrik, ya. Banyak juga yang belum pernah kulihat."
"Senpai
cukup tahu ya."
"Orang
tuaku punya lisensi teknisi listrik. Jadi sejak kecil aku sudah terbiasa."
Tiba-tiba,
pandangan Hokobaru beralih ke arah Asagumo. Lebih tepatnya, ke lubang dinding
yang terlihat sekilas di balik tumpukan kardus di belakangnya.
"Asagumo-kun,
bagaimana dengan dinding di belakangmu itu?"
"Oh,
ada lubang di sini ya."
Asagumo
berpura-pura terkejut seolah baru menyadarinya. Hokobaru memindahkan kardus
lalu mengintip lubang dinding itu.
"Siapa
yang membuat lubang seperti ini──"
"Kontraktor,
mungkin."
Asagumo
menjawab tegas.
"Mungkin
masih bagian dari pekerjaan mereka. Alat-alat yang dibiarkan di sini juga bisa
dijelaskan dengan itu."
Mendengar
penjelasan Asagumo yang penuh keyakinan, Hokobaru mengangguk jujur.
"Begitu
ya. Tapi sepertinya ada alat yang mahal juga. Tidak aman kalau dibiarkan begitu
saja. Aku akan membawanya ke kantor administrasi──"
"Aku
yang akan mengantarkannya!"
Mendengar
pernyataan Asagumo yang memotong ucapannya, Hokobaru tersenyum kecut lalu
mengangguk.
"Baiklah,
kutitipkan padamu. Kalau begitu aku pamit dulu ya."
"Ya,
terima kasih atas kerja kerasnya!"
Saat
mendorong whiteboard keluar, Hokobaru berhenti tanpa berbalik.
"...Namun
aneh juga."
Kata-kata
yang seolah mengundang.
Asagumo
sempat ragu sejenak, tetapi rasa ingin tahunya mengalahkan kewaspadaan. Ia pun
bertanya kembali.
"Aneh
dalam hal apa?"
"Waktu
aku masih kelas satu, panel distribusi listrik gedung lama pernah terbakar
karena sambaran petir. Karena sulit diperbaiki, aku dengar instalasi kabel
gedung lama kemudian disambungkan ke gedung barat."
"............"
Seolah
menanggapi keheningan Asagumo, Hokobaru melanjutkan.
"Kabel
di situ seharusnya sudah tidak digunakan sekarang. Kira-kira kontraktor sedang
mengerjakan apa, ya?"
"............Entahlah,
aku tidak tahu."
Mendengar
nada bicara Asagumo yang berhati-hati, Hokobaru melambaikan tangan tanpa
berbalik.
"Ah,
jangan dipikirkan. Hanya omong kosong saja."
"Tidak,
itu cerita yang sangat menarik."
Meskipun
pintu ruangan sudah tertutup, Asagumo tetap menatapnya dengan saksama.
──Hokobaru
Hibari. Mantan ketua OSIS SMA Tsuwabuki yang bukan hanya berhati baik.
Memang,
di sekolah ini ada banyak orang yang menarik.
"...Makanya
aku jadi ingin tahu."
Asagumo menggenggam tang listrik, lalu kembali menghadap lubang di dinding.



Post a Comment