NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Make Heroine ga Oosugiru Volume 8.5 Chapter 5

Penerjemah: Flykitty

Proofreader: Flykitty

Perayaan Ulang Tahun Kelahiran Nukumizu Kaju 20○○


Suatu malam pada suatu hari menjelang pemilihan OSIS. Aku sedang sibuk mempersiapkan pelajaran untuk besok di kamarku.

 

Saat membalik halaman catatan matematika, Kaju yang duduk di pangkuanku sambil melihat kartu kosakata mengangkat wajahnya.

 

"Onii-sama, sejak naik ke kelas dua, waktu persiapan belajarnya bertambah ya."

 

"Iya. Kalau tidak mempersiapkan dengan benar, aku tidak bisa mengikuti pelajaran."

 

Aku memeriksa rumus di buku pelajaran sambil mencatat di buku tulis. Lalu, kepala Kaju yang mengintip buku pelajaran menutup pandanganku.

 

"Hei Kaju, aku tidak bisa melihat, jadi geser sedikit."

 

Aku menggeser kepala Kaju ke samping, lalu menyadari sesuatu.

 

Tubuh Kaju di atas pangkuanku, jarak antara telapak kakinya dan lantai──

 

"Kaju, jangan-jangan kau bertambah tinggi?"

 

"Iya, sejak awal tahun ini aku bertambah 1 cm."

 

Kaju menegakkan punggungnya dengan tegap.

 

Aku dengan perasaan haru menaruh telapak tanganku di kepala Kaju. Kaju yang sejak dulu bertubuh kecil pun, seperti ini, perlahan tumbuh dewasa.

 

Berbeda dengan pertumbuhan ke samping milik Yanami, ini benar-benar membahagiakan.

 

"Ngomong-ngomong, hadiah ulang tahun, apa benar cukup kamus saja?"

 

"Iya, sambil belajar untuk ujian masuk, aku bisa merasakan keberadaan Onii-sama. Tidak ada hadiah yang lebih dari itu."

 

Kaju menyatakannya dengan tegas.

 

──Akhir pekan ini adalah ulang tahun Kaju yang ke-15.

 

Dia memang meminta kamus Inggris-Jepang sebagai hadiah, tapi apa tidak bisa memberi sesuatu lagi ya…….

 

Sambil mengelus kepala Kaju, aku terus menggerakkan pensil mekanisku di buku catatan dengan pikiran melayang.

 

 

Sepulang sekolah keesokan harinya. Rapat darurat klub sastra diadakan di ruang klub.

 

Dengan wewenang sebagai ketua klub, aku mendadak mengumpulkan semua orang.

 

"Semua, terima kasih sudah berkumpul."

 

Yanami, Komari, dan Shiratama-san mengangguk dengan wajah serius.

 

"Ketua klub, ada apa ya?"

 

Shiratama-san mengangkat tangan dengan manis. Aku mengangguk dengan berat lalu memberi tahu mereka bertiga.

 

"Iya, akhir pekan ini── ulang tahun Kaju."

 

Entah kenapa mereka tidak bereaksi, tapi aku menenangkan diri lalu melanjutkan penjelasan.

 

"Jadi aku berencana membuat kue sebagai kejutan, tapi aku bingung mau membuat kue seperti apa."

 

Masih tidak ada reaksi.

 

Tanpa mempedulikannya, aku membagikan lembaran yang sudah kusiapkan.

 

"Shortcake stroberi atau krim cokelat juga bagus, tapi mungkin tart atau chiffon teh juga menarik. Kaju sering membuat kue jenis keju, tapi itu karena mudah disimpan beku──"

 

"……Tunggu sebentar, Nukumizu-kun."

 

Kali ini Yanami mengangkat tangan dengan wajah curiga.

 

"Iya, Yanami-san."

 

"Kami dipanggil cuma untuk menentukan kue ulang tahun adikmu? Itu saja?"

 

"Kurasa memang begitu. Boleh aku lanjutkan?"

 

"K-kepalamu itu spons ya?"

 

Entah kenapa Komari menyanggahku. Astaga, sepertinya perlu sedikit penjelasan.

 

"Dengarkan dulu. Kali ini ulang tahun Kaju yang ke-15. Dahulu di Jepang, laki-laki dianggap dewasa pada usia 15 tahun. Di zaman kesetaraan gender seperti sekarang, tidak berlebihan kalau mengatakan tahun ini adalah upacara kedewasaan Kaju."

 

Ahem. Aku menatap wajah semua orang.

 

"Artinya ini perayaan yang sangat membahagiakan. Mengerti, kan?"

 

"Aku tidak mengerti. Aku cuma mengerti bahwa Nukumizu-kun itu terlalu bahagia dan tidak ada kue."

 

Yanami mengibaskan lembaran yang kubuat.

 

"Lagipula, Nukumizu-kun, kau memang bisa memanggang kue? Aku belum pernah diberi makan hasil buatanmu."

 

"Karena ini pertama kalinya, aku memang agak khawatir."

 

Lagi pula kenapa aku harus memberinya makan.

 

Shiratama-san menyatukan kedua tangannya di depan dada.

 

"Aku pernah membuat kue. Kalau untuk merayakan Kaju-chan, aku ingin sekali membantu."

 

"E-eh, iya kah. Terima kasih……"

 

Aku agak tertekan hingga kata-kataku tersendat.

 

Sebenarnya karena ini urusan Kaju, aku sudah memutuskan untuk melakukannya tanpa melibatkan Shiratama-san.

 

Karena itu aku memilih hari saat Shiratama-san tidak ada karena kegiatan OSIS, tapi kenapa dia ada di sini…… kenapa ya…….

 

Seolah mengetahui konflik batinku, Shiratama-san memiringkan kepalanya dengan manis.

 

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuatnya bersama di rumahku? Kalau akhir pekan, keluargaku juga tidak ada."

 

"Tapi aku berencana membuat kuenya di rumahku."

 

Komari menunjukkan wajah curiga.

 

"I-ini kan kejutan, tapi kau membuatnya di rumah?"

 

"Iya. Di jadwal Kaju ada rencana keluar mulai siang, jadi aku pikir membuatnya setelah itu."

 

"……Nukumizu-kun, kau masih berbagi jadwal dengan adikmu ya."

 

Yanami menatapku dengan tatapan bermakna. Soalnya aku tidak tahu cara mematikan fitur itu. Lalu, Shiratama-san yang berdiri tiba-tiba duduk kembali di sebelahku.

 

"Kalau pertama kali, kadang tidak berjalan lancar, jadi lebih baik punya waktu cadangan. Di rumahku tidak ada siapa-siapa, hanya kita berdua, jadi tidak perlu sungkan."

 

"B-begitu ya……"

 

Saat aku terdesak, Shiratama-san semakin mendekat.

 

"Begitulah. Boleh aku membantu pengalaman pertama Ketua Klub?"

 

Memang kalau pertama kali, mungkin gagal. Lagi pula Shiratama-san harum sekali.

 

Dan katanya di rumahnya tidak ada siapa-siapa…… meskipun itu tidak ada hubungannya dengan kue.

 

"Ehm…… aku juga laki-laki, jadi rasanya tidak baik masuk ke rumah tanpa ada orang. Keluargamu juga mungkin khawatir."

 

Shiratama-san menaruh jari telunjuk di dagunya lalu memiringkan kepala dengan manis.

 

"Tapi kita kan berpacaran, jadi menurutku tidak masalah."

 

"!!!"

 

Hah?! Apa yang kau katakan, Shiratama-san.

 

Merasakan tatapan penuh niat membunuh dari Yanami dan Komari, aku menggelengkan kepala sekuat tenaga.

 

"Tunggu! Kita tidak berpacaran, kan?!"

 

"Ah, aku salah. Aku cuma memperkenalkan Ketua Klub ke kakak-kakakku sebagai pacarku."

 

Shiratama-san menjulurkan lidah sambil berkata "Tehe". Imut.

 

Iya, cuma itu saja. Di Aeon Mall Toyokawa, kami hanya menyebarkan kebohongan kepada pasangan Tanaka bahwa kami berpacaran──

 

"Kau belum memberi tahu mereka yang sebenarnya?!"

 

"Soalnya pada hari pernikahan itu, Ketua Klub bilang supaya tetap di sampingmu──"

 

Shiratama-san melirik Yanami dan Komari lalu buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan.

 

"Maaf, itu rahasia kita berdua ya."

 

"Itu bisa menimbulkan salah paham, jadi tolong gunakan subjek yang jelas!"

 

Bahaya, kalau sampai aku dianggap pria jahat yang mendekati anggota baru. Aku menarik napas dalam-dalam lalu menghadap dua anggota lama.

 

"Ehm, boleh aku menjelaskan?"

 

"Kalau itu pesan terakhir, aku mau mendengarnya."

 

"M-mati saja."

 

Bagus, mereka berdua seperti biasa.

 

"Waktu Operasi Balas Dendam itu, aku dan Shiratama-san berbohong kepada Tanaka-sensei dan kakaknya bahwa kami berpacaran."

 

Penjelasan selesai. Sekarang mereka pasti mengerti── sepertinya bukan ekspresi itu.

 

Yanami menatapku dengan mata setengah tertutup.

 

"Oh…… kenapa berbohong seperti itu?"

 

"Kenapa ya──"

 

Kenapa ya. Aku sendiri tidak begitu tahu.

 

Gadis bermata setengah tertutup lainnya, Komari, juga menatap tajam ke arahku.

 

"K-kau bilang supaya tetap di sampingmu?"

 

"Itu pembicaraan antara Shiratama-san dan Tanaka-sensei, aku tidak ada hubungannya!"

 

Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi kenapa aku disalahkan sebesar ini?

 

Saat aku menahan ketidakadilan itu, Shiratama-san perlahan menyentuh lenganku.

 

"Ketua, maaf sudah merepotkan. Kalau disalahpahami bahwa aku berpacaran dengan Ketua, pasti terasa tidak enak, ya."

 

"Umm, bukannya tidak enak sih, tapi……"

 

Mendengar itu, Shiratama-san menampilkan senyum seindah bunga.

 

"Syukurlah! Kalau begitu, ayo kita buat kue bersama di rumahku──"

 

"……Bawa kue dari rumah Shiratama-chan bukannya bakal susah?"

 

Yanami menyela dengan suara pelan. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, lalu mulai mencari-cari ujung rambut bercabang dengan sikap acuh.

 

"Kalau pakai sepeda bisa hancur, dan kalau naik bus sama kereta harus pindah-pindah, jadi butuh waktu juga. Sama saja kan dengan bikin di rumah Nukumizu-kun."

 

Shiratama-san sempat membeku sesaat, lalu mengangguk sambil tersenyum, seolah menenangkan diri.

 

"Benar juga. Andai ada tempat yang cocok di dekat rumah Ketua."

 

"Kalau ada sih enak yaa."

 

Yanami memainkan ujung rambutnya dengan jari.

 

Apa ini, suasana tegang yang aneh. Komari yang tadi menatapku tajam sekarang malah gemetar sambil menatap ponselnya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi……?

 

Saat itulah, seolah memecah suasana ini, pintu terbuka dengan keras.

 

"Capek banget! Katanya hari ini ada rapat dadakan ya?"

 

Yang masuk ke ruangan adalah Yakishio dengan pakaian olahraga.

 

Sambil mengusap keringat dengan handuk yang diberikan Komari, Yakishio menatap sekeliling ruang klub dengan bingung.

 

"Ada apa sih, kalian?"

 

Karena tidak ada yang membuka mulut, mau tak mau aku yang menjelaskan.

 

"Umm…… kita mau bikin kue ulang tahun Kaju sebagai kejutan, tapi lagi cari tempat buat bikinnya. Kalau di rumahku, bisa ketahuan Kaju."

 

"Hmm."

 

Yakishio meneguk minuman dari botol airnya, lalu duduk di kursi sambil menyeka mulutnya.

 

"Kalau gitu, datang aja ke rumahku. Mama jago bikin kue."

 

 

6 Juni──hari ulang tahun Kaju yang patut dirayakan seluruh dunia.

 

Aku datang ke rumah Yakishio sambil menghindari pandangan dari Kaju.

 

Untuk menghindari suasana canggung tanpa alasan, akhirnya diputuskan membuat kue di rumah Yakishio.

 

Rumah Yakishio berada dalam jarak jalan kaki dari rumahku, jadi sangat cocok dijadikan tempat buat kue. Selain itu──

 

"Nukumizu-kun, selamat datang! Ayo, jangan sungkan, silakan masuk."

 

"Maaf sudah merepotkan secara mendadak."

 

Ibu Yakishio yang akan mengajarkan cara membuatnya. Aku sangat senang.

 

Di ruang tamu rumah Yakishio yang dipersilakan untuk kumasuki, tercium aroma dupa, dan di dapur makan berbagai peralatan memasak tersusun rapi.

 

Setelah meletakkan bahan-bahan yang sudah kubeli di meja dapur, ibu Yakishio menyerahkan kain terlipat kepadaku.

 

"Nih, pakai celemek ini ya."

 

"Terima kasih. Ngomong-ngomong, Lemon-san di mana?"

 

Aku melihat sekeliling, tapi tidak ada Yakishio di ruang tamu. Sambil mengenakan celemeknya sendiri, ibu Yakishio menjawab dengan santai.

 

"Lemon lagi di klub. Dia lagi semangat karena pertandingan sudah dekat."

 

"Eh?"

 

Berarti di rumah ini cuma ada aku dan ibu Yakishio berdua? Tunggu, dia sudah menikah, berarti suaminya mungkin ada di mana──

 

"Suamiku sedang dinas luar kota, jadi tidak usah sungkan ya."

 

"Ah, baik!"

 

Suami dinas luar kota──anak perempuan di klub──istri orang yang masih terlihat sangat awet muda────

 

Ini apa, plot yang sering muncul di manga. Tentu saja tidak mungkin terjadi hal aneh, tapi entah kenapa kalau berada di dekat ibu Yakishio──rasanya agak membuat gelisah.

 

Saat aku gugup mengenakan celemek, ibu Yakishio berputar ke belakangku dan mengikatkan talinya.

 

"Anu, aku bisa sendiri kok."

 

"Tidak apa-apa. Di rumah ini cuma ada anak perempuan, jadi senang rasanya ada anak laki-laki yang datang."

 

Ya, aku juga senang.

 

……Tidak, bukan waktunya senang-senang dengan ibu teman.

 

Hari ini tujuannya membuat kue ulang tahun Kaju, bukan datang untuk berkencan dengan istri orang. Saat aku berusaha menenangkan ekspresi wajahku dengan kekuatan mental luar biasa,

 

──Klek. Pintu ruang tamu terbuka.

 

Yang masuk sambil menggosok matanya adalah seorang gadis berkacamata dengan piyama. Ia menyeret boneka kelinci besar yang lemas. Itu adalah Yakimo-chan alias Yakishio Nagi-chan.

 

Ibu Yakishio terkejut dan menjauh dariku.

 

"Nagi, kamu belum ganti baju?"

 

"Hmm…… semalam aku baca buku sampai larut, jadi ketiduran lagi."

 

Ia berjalan pelan ke kulkas, mengambil susu, lalu duduk di meja.

 

Yakimo-chan yang masih setengah mengantuk meminum susu perlahan, lalu beberapa saat kemudian menyadari keberadaanku dan langsung membeku. Detik berikutnya,

 

Pffft! Ia menyemburkan susu dengan keras.

 

Ibu Yakishio buru-buru menghampiri Yakimo-chan yang tersedak. Rasanya aku melakukan sesuatu yang salah……

 

Sambil mengalihkan pandangan dari Yakimo-chan yang batuk dengan mata berkaca-kaca, aku mengikat tali celemekku dengan erat.

 

Di bawah bimbingan ibu Yakishio, pembuatan kue dimulai.

 

Sambil mengayak tepung, aku melirik ke ruang tamu, dan melihat Yakimo-chan yang sudah berganti pakaian menatapku tajam.

 

……Rasanya tidak nyaman.

 

Bukan berarti aku melakukan sesuatu yang mencurigakan, tapi juga tidak bisa dibilang aku sama sekali tidak memikirkannya. Usia kelas dua SMA memang usia yang serba sensitif.

 

Sambil membela diri dalam hati, aku terus bekerja, ketika bel rumah berbunyi.

 

Seolah sudah menunggu momen ibu Yakishio keluar dari ruang tamu, Yakimo-chan akhirnya membuka suara.

 

"Anu, sebenarnya hubunganmu dengan kakakku itu apa?"

 

……Hah? Maksudnya?

 

Aku mencoba membaca maksudnya dari ekspresinya, tapi matanya di balik kacamata hanya dipenuhi kewaspadaan.

 

"Umm, kami satu klub sastra…… kurang lebih seperti itu hubungan kami."

 

Aku berusaha memberi jawaban aman, tapi Yakimo-chan menyorotkan pandangan tajam dari balik kacamatanya.

 

"Kakakku selama ini belum pernah membawa anak laki-laki dari klub atletik ke rumah."

 

"Begitu ya."

 

Kalau dia punya orang yang disukai, tentu tidak akan membawa laki-laki lain ke rumah.

 

"Benarkah hanya teman satu klub saja?"

 

"Ya, benar."

 

Meskipun aku sudah menjawab dengan tulus, Yakimo-chan tetap menatapku tajam tanpa bergerak.

 

Eh…… apa aku bilang sesuatu yang aneh ya.

 

Di tengah suasana canggung itu, pintu ruang tamu terbuka.

 

"──Aku kira tadi kakaknya Yakishio-senpai."

 

"Aduh, bukan, aku ini ibunya Lemon, ibunya!"

 

Yang masuk ke ruang tamu dengan suasana ceria adalah ibu Yakishio, dan di belakangnya──Shiratama-san dan Yanami. Kenapa mereka ada di sini.

 

Saat aku terkejut, Yanami tersenyum dengan senyum jahil.

 

"Nukumizu-kun, aku datang buat bantu."

 

──Tidak perlu. Aku merasa hebat karena berhasil menelan kata-kata itu.

 

Yanami mengencangkan tali celemeknya sambil menyenggol bahuku.

 

"Kenapa diam saja? Kalau senang, bilang saja."

 

"Yang akan kita buat ini kue ulang tahun, jadi tidak ada bagian untuk Yanami-san."

 

"Ya jelas dong. Aku sudah bawa bagian punyaku sendiri."

 

 

Yang Yanami keluarkan adalah roti tawar.

 

……Roti tawar? Tunggu, kalau bagian Yanami roti tawar berarti—

 

"Jangan-jangan di rumah Yanami-san, kalian menancapkan lilin di roti tawar saat ulang tahun?"

 

"Tidak. Nukumizu-kun, sebenarnya kamu memandang keluargaku seperti apa sih."

 

Yanami mengangkat bahu seolah berkata "ya ampun".

 

"Dengar ya, krim segar biasanya tersisa di mangkuk atau piring, kan? Kalau sudah jadi anak SMA, kita tidak menjilatinya langsung, tapi mengoleskan krim yang tersisa ke roti lalu dimakan."

 

"Aku paham maksudnya, tapi kenapa kamu sudah makan rotinya sekarang?"

 

"Ini roti potong enam, makan satu lembar tidak masalah. Shiratama-chan, mau juga?"

 

Dengan mengenakan celemek berenda lucu, Shiratama-san menggeleng.

 

"Aku tidak apa-apa. Aku sudah sarapan."

 

"Aku juga sudah sarapan lho?"

 

Saat aku menjaga jarak dan membiarkan Yanami ditangani Shiratama-san, ibu Yakishio berdiri di sampingku sambil tersenyum.

 

"Wah, Nukumizu-kun populer sekali ya."

 

"Tidak kok, aku cuma selalu dijadikan bahan bercanda."

 

Eh? Ibu Yakishio… entah kenapa matanya tidak tersenyum. Mungkin cuma perasaanku saja……

 

Sementara itu, pembuatan kue dilanjutkan dengan tambahan dua asisten. Yanami memasukkan tangan ke dalam kantong bahan lalu mengaduk-aduk isinya.

 

"Nukumizu-kun, menteganya di mana?"

 

"Mau dimakan?"

 

"Tidak. Aku mau menimbang bahan."

 

Walaupun kupikir nanti pasti dimakan, tolong masukkan juga ke perhitungan jumlah bahan ya.

 

"Umm, sepertinya di kantong yang itu—"

 

Saat aku hendak mencari mentega, Shiratama-san menyodorkan bungkusan dari samping.

 

"Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau pakai ini? Di rumah ada mentega yang enak, jadi kubawa."

 

Melihat itu, ibu Yakishio tampak terkejut.

 

"Wah, mentega Échiré ya. Boleh dipakai?"

 

"Ya, silahkan dipakai banyak-banyak. Ini kan ulang tahun Kaju-chan yang sangat kusayangi."

 

Entah kenapa Shiratama-san mengatakan itu sambil melihat ke arahku.

 

Kalau memang sangat menyukai Kaju, seharusnya bisa sedikit lebih akrab dengannya, menurutku.

 

 

Di salah satu sudut kawasan perumahan yang tenang. Di kamar pribadi Gondou Asami, ada Kaju dan Gon-chan berdua.

 

"Nuku-chan, aahn."

 

"Iya, aahn~."

 

Kaju memasukkan sendok yang disodorkan Gon-chan ke dalam mulutnya. Setelah menjilat potongan telur yang menempel di bibirnya, Kaju mengangguk-angguk.

 

"Gon-chan, kemampuanmu meningkat ya. Bahkan Kaju tidak bisa membuat tekstur selembut ini."

 

"Tidak baik kalau aku cuma selalu dibuatkan saja. Nuku-chan, aahn."

 

Gon-chan menyendok lagi omurice dari piring, lalu mengarahkan sendok ke mulut Kaju.

 

"Gon-chan tidak makan?"

 

"Hari ini hari untuk memanjakan Nuku-chan. Mau makan lagi?"

 

"Iya, aku mau dimanjakan lagi."

 

Hap.

 

Sambil melihat Kaju mengunyah dengan bahagia, Gon-chan juga memakan sesuap omurice.

 

Omurice lembut yang ia latih membuatnya menjadi sukses besar. Dengan ini, ia tidak akan malu menyajikannya kepada siapa pun.

 

Saat Gon-chan tersenyum puas, Kaju menatapnya dengan pandangan penuh arti.

 

"Hmm? Jangan-jangan ini latihan untuk membuat seseorang mencicipinya ya?"

 

"…………"

 

Gon-chan tanpa berkata apa-apa menarik pipi Kaju ke kiri dan kanan.

 

"Gon-chan bilang mau memanjakanku."

 

"Memanjakan juga ada batasnya."

 

Setelah beberapa saat menikmati pipi Kaju, Gon-chan melepaskannya sambil tertawa.

 

"Padahal ulang tahun, tidak apa-apa tidak membeli kue?"

 

"Ehehe, hari ini Onii-sama akan memanggangkan kue untuk Kaju. Jadi Kaju menantikannya."

 

"Hmm, Onii-sama juga perhatian ya."

 

Gon-chan menatap wajah Kaju yang tampak bahagia.

 

Selama ini, hadiah ulang tahun Kaju biasanya adalah Onii-sama menghabiskan hari bersamanya.

 

Namun tahun ini mereka beraktivitas terpisah, dan Onii-sama bahkan mencoba membuat kue—yang merupakan bidang Kaju.

 

──Nukumizu Kaju, 15 tahun.

 

Temannya yang selama ini memenuhi pikirannya dengan Onii-sama, perlahan mulai berubah.

 

Mungkin yang lebih dulu berubah adalah Onii-sama, dan Kaju tidak punya pilihan selain ikut berubah. Namun Kaju sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda seperti itu……

 

"Kamu tahu, Onii-sama berusaha menanyakan kue kesukaan Kaju secara tidak langsung, dan bagian canggung seperti itu justru imut sekali. Padahal kalau melihat riwayat pencarian dan jadwal, kejutannya sudah kelihatan jelas, tapi Kaju sedang memikirkan harus bereaksi kaget seperti apa sejak kemarin—"

 

Melihat Kaju yang terus berbicara dengan ceria, Gon-chan menggeleng kecil.

 

──Andai Nuku-chan bisa tetap seperti sekarang sedikit lebih lama lagi.

 

Gon-chan menyendok omurice lalu memasukkannya ke mulut Kaju yang masih terus berbicara.

 

 

Aku memegang loyang adonan sponge melalui sarung tangan oven, lalu memasukkannya ke dalam oven yang sudah dipanaskan hingga 170 derajat.

 

Setelah menutup pintu dan mengatur timer, tinggal menunggu saja. Ibu Yakishio melirik jendela oven sebentar, lalu menoleh ke arah kami.

 

"Baik, selama menunggu, mari kita siapkan krimnya."

 

Ibu Yakishio membagi tugas dengan cekatan.

 

Saat aku merasa tenang dengan aura keibuan istri orang, aku melihat Yanami menatap tajam kemasan krim segar.

 

"Itu mau dipakai, jadi jangan diminum."

 

"Aku tidak minum. Aku cuma berpikir ini krim segar asli ya."

 

Eh, memang ada krim palsu? Jangan-jangan krim yang selama ini kupikir krim segar ternyata bulu babi putih atau cairan perasan hewan……?

 

Saat aku gemetar menghadapi keberadaan yang tidak kukenal, Shiratama-san memungut lap yang jatuh di lantai.

 

"Ada yang namanya whipped cream berbahan minyak nabati. Harganya sekitar setengahnya, jadi lebih mudah dipakai."

 

"Oh begitu. Terima kasih lapnya."

 

"Iya. Nih, sekalian aku lap tangan Ketua."

 

Gosok gosok gosok. Entah kenapa Shiratama-san mengelap tanganku.

 

"……Kalian berdua tolong bekerja. Ayo kita buat krim segarnya."

 

"Yanami-san, kenapa roti tawarnya tinggal satu lembar?"

 

"Karena batas konsumsi hari ini, jadi harus cepat dimakan."

 

"Bukannya kamu tidak peduli soal begituan?"

 

Yanami mengibaskan jarinya.

 

"Nukumizu-kun, tanggal kedaluwarsa dan batas konsumsi itu beda. Batas konsumsi itu… lebih ketat."

 

Begitu ya. Tidak ada gunanya terlalu memikirkan Yanami, lebih baik fokus pada pekerjaanku……

 

Saat aku menyiapkan stroberi, ibu Yakishio yang sedang mencuci peralatan melihat jam di dinding.

 

"Wah, sudah jam segini. Kalian mau makan siang, kan?"

 

"Tidak, kami tidak perlu sampai merepotkan—"

 

"Iya, kami makan!"

 

Yanami menjawab dengan penuh semangat.

 

Pemandangan yang pernah kulihat di suatu tempat. Selama aku tidak dijatuhkan, kurasa sudah cukup bagus.

 

Ibu Yakishio tertawa kecil sambil mengelap tangannya dengan handuk.

 

"Tidak usah sungkan. Ada mie somen pemberian orang, bagaimana kalau kita rebus?"

 

"Somen—"

 

Senyum Yanami langsung membeku. Setahun telah berlalu, tapi lukanya masih belum sembuh.

 

Di samping ibu Yakishio yang menyiapkan makan siang, Yanami mengaduk krim segar dengan tatapan mata kosong seperti ikan mati.

 

……Yanami. Silakan jilat krim segarnya sepuasmu.

 

 

Saat Yanami menghabiskan porsi somen keenam, sponge kue akhirnya selesai dipanggang. Setelah mengoleskan krim dan menaruh stroberi terakhir di atasnya, kue itu pun selesai.

 

Aku menjauh sedikit untuk memastikan keseimbangan keseluruhannya, lalu menyesuaikan sudut stroberi dengan ringan.

 

"Baiklah──segini sepertinya sudah pas."

 

Akhirnya kuenya selesai. Saat aku mengangguk puas, Yanami dan Shiratama-san bertepuk tangan.

 

"Wah, keren! Kelihatannya enak banget!"

 

"Seperti yang diharapkan dari Ketua Klub."

 

"Ya, benar-benar jadi dengan bagus."

 

Tingkat mengembang sponge, kekentalan krim segar, serta dekorasinya. Hasilnya sama sekali tidak terlihat seperti kue yang dibuat untuk pertama kalinya. Ini pasti berkat kemampuan seorang ibu rumah tangga.

 

"Bagus sekali… Kelihatannya benar-benar enak deh…"

 

"Iya, tapi Yanami-san jangan dimakan dulu, ya?"

 

Saat aku menarik Yanami yang tanpa sadar mendekati kue, ibu Yakishio mulai menata sisa bahan.

 

"Banyak sekali yang tersisa ya. Boleh aku bungkus ulang?"

 

"Itu bahan cadangan, jadi kalau berkenan silakan diambil."

 

"Boleh? Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat satu kue lagi? Semua juga akan makan, kan?"

 

"Ya, tentu saja!"

 

Yanami menjawab dengan penuh semangat, lalu mulai bersiap membuat kue kedua bersama Shiratama-san. Sambil melirik mereka, aku memasukkan kue yang sudah jadi ke dalam kotak.

 

"──Semoga adikmu senang."

 

Entah sejak kapan, ibu Yakishio sudah berdiri di sampingku dan berbicara.

 

"Iya. Dia selalu yang mengurusku, jadi kupikir sesekali aku ingin membalasnya."

 

"Adikmu juga sekolah di Momozono seperti Nagi, ya? Kalian dua bersaudara saja? Kamu anak pertama, Nukumizu-kun?"

 

"A-ah, iya. Benar."

 

"Bagus sekali. Aku juga ingin anakku punya kakak seperti Nukumizu-kun. Orang tuamu bekerja apa? Apakah sering dipindah tugaskan ke seluruh negeri?"

 

Ibu Yakishio terasa semakin agresif bertanya.

 

Aku tidak begitu mengerti, tapi mungkin inilah yang disebut obrolan khas ibu rumah tangga.

 

"Orang tuaku pegawai kantoran biasa, dan kalaupun ada mutasi, sepertinya masih dalam prefektur."

 

"Begitu ya. Belakangan ini semakin panas, jadi aku khawatir karena tekanan darah suamiku agak tinggi. Keluargamu tidak ada yang sakit? Ada penyakit bawaan?"

 

"Eh… keluarga kami semuanya justru sangat sehat."

 

"Wah, bagus sekali."

 

… obrolan macam apa ini? Kenapa ibu Yakishio begitu ingin tahu tentang keluargaku?

 

Saat aku selesai menceritakan profil keluarga Nukumizu, pintu ruang tamu terbuka dengan keras.

 

"Aku pulang! Harumnya enak banget ya!"

 

Putri pertama keluarga Yakishio pun pulang. Sambil menyeka keringat, dia mengintip dapur.

 

"Lho, baru mau mulai masak?"

 

Yanami menyeringai sambil memegang mentega.

 

"Lemon-chan, yang mau kita buat sekarang itu tambahan. All you can eat."

 

"Mau ikut membuat juga, Senpai?"

 

Mendengar ajakan Shiratama-san, Yakishio menunjukkan wajah gembira.

 

"Boleh! Aku juga mau bikin!"

 

Saat Yakishio hendak mengulurkan tangan, ibu Yakishio menaruh handuk di kepalanya.

 

"Lemon, bersihkan keringatmu dengan benar lalu ganti baju."

 

"Baik. Nukkun, tunggu ya."

 

"Tidak, aku sudah mau pulang."

 

"Eeh, tinggal sebentar lagi dong."

 

Yakishio entah kenapa mengedipkan mata padaku sebelum keluar dari ruang tamu. Seperti biasa, dia memang energik.

 

Sambil mengaguminya, aku memasukkan kotak kue ke dalam tas. Lalu ibu Yakishio berbisik pelan padaku.

 

"Maaf ya. Biasanya dia lebih rapi kok. Meski begitu, sebenarnya dia cukup keibuan dan kupikir dia akan jadi istri yang baik."

 

"Ah… begitu ya."

 

Aku tidak tahu harus menjawab apa selain itu.

 

Ngomong-ngomong, Yakishio bisa masak tidak ya? Katanya waktu perkemahan tahun lalu, dia hampir menyebabkan bencana saat menyalakan bara barbeque sampai api hampir menyebar…

 

Sambil mendengarkan ibu Yakishio yang terus memuji putrinya, aku tanpa sadar membayangkan kehidupan rumah tangga bersama Yakishio.

 

 

Dalam perjalanan pulang dari rumah Yakishio. Entah sudah berapa kali, aku menatap kotak kue yang kugenggam.

 

Aku bisa membayangkan wajah Kaju yang terkejut melihat kue buatan tangan.

 

Saat berjalan hati-hati agar tidak mengguncangnya, terdengar suara langkah kaki seseorang berlari mendekat dari belakang.

 

Langkah kaki ini──

 

"Onii-sama. Sudah pulang?"

 

Itu Kaju. Kaju berjalan sejajar di sampingku lalu mengintip kotak kue.

 

"Kamu membelikan kue ya? Dari toko mana?"

 

"Rahasia. Kaju pergi dengan siapa?"

 

"Kalau begitu itu juga rahasia."

 

Dia berkata begitu sambil tersenyum riang. Entah kenapa, senyum polosnya terlihat sedikit lebih dewasa dari biasanya.

 

Di rambut hitam Kaju yang kulihat dari atas, terpasang hiasan rambut berbentuk bunga.

 

"Hiasan rambut itu lucu."

 

Saat aku mengatakannya tanpa sengaja, wajah Kaju langsung bersinar dan dia menatapku.

 

"Iya, ini hadiah ulang tahun dari Gon-chan! Onii-sama memang selalu tahu segalanya tentang Kaju!"

 

"Oh, jadi kamu main dengan Gondo-san."

 

Kaju yang rahasianya terbongkar langsung memonyongkan bibir secara berlebihan.

 

"Onii-sama jahat."

 

"Maaf, maaf."

 

Saat aku tertawa dan meminta maaf, Kaju mengulurkan tangan.

 

"Kalau begitu, Kaju akan memaafkan kalau kita bergandengan tangan."

 

Dalam situasi seperti ini, aku tidak mungkin menolak. Saat aku menggenggam tangannya dengan jujur, Kaju tersenyum sambil berkata,

 

"Kaju, maafkan Onii-sama."

 

"Ya, terima kasih."

 

Kami bergandengan tangan, tertawa bersama sambil berjalan pulang.

 

──Belakangan ini, rasanya waktu seperti ini semakin berkurang.

 

Kaju sedang mempersiapkan ujian masuk, dan aku juga semakin sering pulang terlambat karena klub sastra.

 

Suatu hari nanti, mungkin kami tidak akan lagi merayakan ulang tahun bersama seperti ini.

 

Hari ini dia memang pergi bermain ke rumah Gondo-san, tapi suatu saat nanti──Sambil melihat Kaju bersenandung di sampingku, aku bergumam dalam hati.

 

Sepertinya masih terlalu cepat bagi Kaju untuk punya pacar.

 

Setidaknya setelah dia masuk SMA──

 

Tunggu dulu, meskipun sudah SMA, kemampuan dalam percintaan tiap orang berbeda-beda.

 

……

…………

………………Mungkin masih sekitar 5 tahun, atau 10 tahun lagi.




Previous Chapter | Next Chapter

0

Post a Comment

close